[Minichapter] TRUTH (Chapter 1)

Title        : Truth
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Type          : Minichapter
Chapter    : Satu
Genre        : Family, Romance *apalagi sih??hahaha*
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (Hey!Say!JUMP), Nikaido Takashi (Kis-My-Ft2), Suzuki Saifu, Suzuki Sora (OC), dan beberapa orang lewat – lewat~ dan belom terlihat jati dirinya.. #Plakk
Disclaimer    : We don’t own all character here. Arioka Daiki and Nikaido Takashi are belongs to Johnnys & Association. Suzuki Saifu and Suzuki Sora are our OC. it’s just a fiction, read it happily, and we do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

TRUTH
~Chapter 1~

“Ne..Okaa-chan..” panggil suara manis yang keluar dari mulut gadis kecil berumur enam tahun itu sambil menatap ibunya yang menggandeng tangannya di sebelahnya. Sang ibu tersenyum sambil menatap gadis kecilnya yang menunjuk sebuah boneka anjing kecil yang dipajang disebuah toko yang sedang mereka kunjungi.

“Kau mau itu?” tanya Ibu sambil mengambilkan boneka anjing itu, dan menaruhnya dipelukan Saifu, nama gadis kecil itu, yang sudah memeluk erat boneka anjing tersebut sambil tersenyum.

“Arigatou Okaa-chan..” kata-kata yang selalu diucapkan dengan manis oleh Saifu ketika permintaannya dikabulkan orang tuanya.

Suzuki Saifu, anak tunggal dari keluarga Suzuki. Salah satu orang yang masuk ke dalam jajaran orang terkaya di Jepang, tak pernah kekurangan materi dan kasih sayang. Membuat Saifu sejak kecil sudah menjadi egois dan juga manja.

“Ne, Fu-chan…ibu ada hadiah lain untukmu,” kata Ibu sambil menatap Saifu.

“Hontou??” Saifu tersenyum senang, “Arigatou !” kata Saifu lagi.

“Nah ayo sekarang pulang, hadiahnya menunggu dirumah..” kata Ibu sambil menggandeng tangan Saifu yang berjalan riang.

Mobil mewah yang ditumpangi Saifu dan Ibunya masuk kedalam pekarangan Rumah mereka yang sangat mewah, dengan halaman yang luas dan tanaman juga bunga yang terawat.

“Okaa-chan, hadiahnya apa sih?” tanya Saifu penasaran.

“Saifu tak sabar ya?” goda Ibunya dan dijawab dengan anggukan oleh Saifu, “Ayo turun dulu,”

Saifu menurut, lalu turun dari mobil mengikuti Ibunya yang berjalan ke arah ruang tamu rumahnya. Saifu melihat kepala pelayan dengan seorang gadis yang nampak lebih besar darinya, Saifu berlindung di belakang Ibunya sambil menarik-narik baju Ibunya.

“Okaa-chan… Siapa dia?” tanya Saifu, memandang heran pada Ibunya.

“Dia Kakak barumu..Kau senang?” tanya Ibu.

“APA??? seru Saifu tak percaya sambil menatap Gadis yang nampak canggung itu dengan kesal. Tak terima nantinya perhatian ibunya terbagi untuk gadis asing itu.

“Okaa-chan tapi aku…”

“Namanya Suzuki Sora ..” kata Ibu Saifu sambil tersenyum ke arah Sora yang membungkuk sopan.

“Yoroshiku onegaishimasu…” kata Sora dengan sopan.

Saifu menatap ibunya tak percaya, memang seingatnya seminggu yang lalu dia mengatakan mungkin akan asik jika dia memeiliki seorang kakak perempuan.Tapi masa iya secepat itu ibunya mengabulkan permohonannya itu?

“Ne, Saifu. Bagaimana kau senang kan? Sekarang kau punya seorang nee-chan…” kata ibunya sambil sedikit menunduk menatap Saifu kecil yang mukanya nampak bingung dengan senyum.

“Fu-chan nande? Kau tak senang?” tanya ibunya dengan nada kecewa.

Saifu buru buru menggeleng, “Iie Okaa-chan, arigatou ne..” kata Saifu sambil melirik kepada Sora yang hanya menunduk saja.

“Ayo perkenalkan dirimu..” kata Ibu lagi.

Saifu menghela nafas, ini keinginannya maka dari itu dia harus menerima kenyataan bahwa permohonannya sekarang dikabulkan, “Suzuki Saifu..yoroshiku onegaishimasu…”

==============

14 years after

“Nona, sudah saatnya anda bangun Nona..”  seorang pelayan memanggil manggil Saifu yang masih tertidur, si pelayan dengan takut-takut membangunkan Saifu. Karena pelayan itu sangat tau bagaimana sifat Saifu.

“Biar aku saja..” kata Sora yang menepuk pelan pundak pelayan itu. Pelayan itu mengangguk, lalu menunduk dan berlalu pergi dari kamar Saifu.

Sora menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Saifu yang masih tertidur padahal jam sudah menunjukkan jam 9 pagi, dan jam 10 nanti dia sudah harus ada di kampusnya. Sora berjalan, menyibak tirai kamar Saifu. Membuat sinar matahari masuk ke kamar Saifu.

“Bangunlah…kau ada kuliah jam sepuluh, kan?” ucap Sora lembut, seperti biasa.

Jenis sapaan yang Saifu paling benci.

“Ukh..apa-apaan sih?!! Tutup tirainya pelayan brengsek ..” gumam Saifu kesal sambil menutupi mukanya dengan selimutnya.

“Saifu…” kata Sora sambil menyibak selimut Saifu.

Saifu menatap Sora berang.

“Kau!!Sudah kukatakan aku tak mengizinkan kau masuk ke kamarku!! Harus kubilang berapa kali hah?? Kau tuli??” Seru Saifu kesal.

Sora menahan amarahnya, setiap kali Saifu marah kepadanya. Membentaknya, memakinya dan mengatakan apapun yang membuat Sora sakit hati.

“Tapi kau harus bangun Saifu, kau akan terlambat jika kau tak bangun sekarang..” kata Sora lagi.

“Aku tau, keluar kau!! Sekarang!!” seru Saifu tanpa menatap Sora.

Sora tak punya pilihan lagi selain keluar, kalau tidak dia hanya akan membuat Saifu makin marah dan makin membuatnya sakit hati dengan apa yang akan dikatakan gadis itu nanti.

“Jangan pernah masuk kamarku lagi!!!” seru Saifu.

Sora menghela nafasnya. Menguatkan diri dan memaksakan dirinya tersenyum. Ia tak boleh kalah dengan egonya. Sedikit banyak, semua yang terjadi pada Saifu adalah kesalahannya. Lagipula, siapa dia di rumah ini? Hanya anak miskin tak punya orang tua yang akhirnya menjadi bagian dari keluarga ini. Mungkin sampai hari itu, dimana Sora menyesalinya seumur hidup.

Ponselnya berbunyi, Sora mengangkatnya tanpa melihat nama si penelepon. Karena sudah terbiasa dengan nada dering yang sengaja ia bedakan.

“Moshi-moshi? Nika?” angkat Sora.

“Aku di jalan…sebentar lagi sampai…”

“Un!”

Satu-satunya orang yang bisa membuatnya tetap hidup dan tersenyum, Nikaido Takashi.

“Maaf lama… tadi aku ambil bentou dulu…tertinggal di meja…” ucap Sora sambil menutup gerbang di belakangnya.

Ia memutuskan untuk tidak memakai fasilitas rumah ini kecuali sangat membutuhkannya. Ia merasa berhutang terlalu banyak, dan baginya dibiayai hingga kuliah sudah membuatnya tak enak pada Suzuki-san yang mengangkatnya anak.

Maka seperti biasa, ia dan Nikaido berangkat ke kampus dan tempat kerja mereka menggunakan kereta. Padahal Suzuki-san, yang biasa ia panggil ‘Ayah’ memberikannya sebuah mobil mewah. Tapi ia menolak memakainya kecuali dalam keadaan darurat.

“Ada bagianku juga, tidak?” tanya Nikaido menatap Sora dan menggenggam tangan si gadis.

Sora mengangguk, “Tentu saja!!”

“Yosh! Kalau begitu kita bertemu saat makan siang!” kata Nikaido.

“Un!”

Nikaido sudah bekerja di sebuah bengkel, sementara Sora masih berkuliah. Keduanya seumuran, namun Sora lebih beruntung karena bisa melanjutkan kuliah, sementara Nikaido harus bekerja selepas SMA. Namun tempat kerja Nikaido berada di dekat kampus Sora sehingga keduanya sering bertemu.

“Ada kemajuan dari sikap Saifu-chan?” tanya Nikaido, pertanyaan yang sering ia ajukan karena prihatin kepada kekasihnya. Bahkan Saifu tak pernah segan untuk memaki Sora dihadapan orang lain.

Sora menggeleng sedih, “Ia tak akan bisa mengerti…”

“Salah. Dia akan mengerti… suatu hari.. oke?”

Sora menatap Nikaido. Pemuda itu selalu optimis, dan Nikaido pula yang mencegah Sora keluar dari rumahnya. Jika ingin tinggal dengan Nikaido, tentu saja akan mudah sekali ia pergi dari rumah keluarga Suzuki. Tapi Nikaido tak mau gadisnya melarikan diri dari masalah, itu sebabnya Sora masih bertahan.

“Semoga…” jawab Sora akhirnya.

“Ganbarimashou!!!” seru Nikaido sambil berlari berputar-putar dihadapan Sora sambil mengepalkan tangan ke udara.

Sora tersenyum menatap kelakuan Nikaido, mengejar si pemuda sambil ikut tertawa-tawa.

“Kawaii na… aku suka senyummu…hehehe..” Nikaido kembali meraih tangan Sora dan menggenggamnya, berjalan beriringan menuju stasiun kereta.

“Fu-chan kau nampak agak berantakan pagi ini..” kata Karen yang tiba-tiba duduk disamping Saifu yang tengah sarapan dikantin kampusnya.

“Betsu ni..” jawab Saifu sambil memakan roti panggangnya.

“Kau tau? Itu bukan jawaban, tapi sudahlah..” Karen menatap ponselnya, “Ne Fu, kau mau ikut aku nanti malam?” tanya Karen.

“Kemana?” Saifu nampak tertarik, daripada dia harus pulang ke rumah yang hanya ada para pembantunya dan orang yang paling dia benci, Sora. Dia fikir lebih baik dia pergi bersama Karen.

“Club,”  jawab Karen singkat sambil membalas pesan di ponselnya.

“Baiklah..” kata Saifu lalu menelungkupkan wajahnya di meja,tak jauh dari tempat Saifu duduk seseorang memperhatikan dengan hati berdebar-debar hanya saja belum ada keberanian untuk sekedar menyapa Saifu karena perbedaan yang membuat si laki-laki tak berani mencoba lebih dekat dengan gadis yang disukainya.

“Masaka, aku ini tak akan mungkin bisa..” gumam laki-laki itu sambil tersenyum getir.

================

“Nika-chaaann~” panggil Sora siang itu, memperlihatkan sekotak bento di tangannya.

Nikaido yang sibuk dibawah kap mobil muncul sebentar, lalu tersenyum, “Sebentar ya…aku selesaikan ini dulu…” ucap Nikaido.

Sora mengangguk dan menunggu Nikaido di tempat biasa, tempat para pekerja istirahat.

Beberapa saat kemudian Nikaido datang dengan wajah dan tangan yang sudah bersih dari oli.

“Huhuhu~ enaknya kau Nikaido! Setiap siang dibawakan makanan oleh pacarmu…” seru seorang teman Nikaido.

Nikaido hanya tertawa dan melemparkan handuk pada temannya itu, “Berisik kau!!”

Sora hanya terkekeh melihat tingkah Nikaido.

“Kuliahmu bagaimana?”

“Baik-baik saja… aku mulai project kelompokku…salah satu syarat tugas akhir… jadi, mungkin akan sedikit sibuk…” jelas Sora sambil menyerahkan kotak bento untuk Nikaido.

Nikaido mengangguk-angguk, lalu membuka kotak tersebut, “Uwaaa~ oishii sou. Kelihatannya enak…” kata Nikaido.

“Pasti lebih enak dari yang kemarin…hari ini aku dibantu pelayanku..hehe..” kata Sora.

Nikaido menatap Sora, “Sou? Tak apalah…asal dibuatkan oleh Sora…ehehe…”

Setiap siang, Sora selalu menantikan makan siang bersama dengan Nikaido. Ia tak begitu akrab dengan teman kuliahnya. Selain karena Sora memang sedikit sulit berbaur, kebanyakan teman Sora hanya memanfaatkannya karena dirinya termasuk putri keluarga Suzuki.

Ia tak suka dengan gelar yang di sandangnya. Apalagi sebenarnya dia tak bahagia juga berada di sana. Pertengkaran yang terus menerus di rumah itu dengan Saifu, Ayah yang tak pernah pulang sejak hari itu. Hanya datang sesekali dan itu pun dalam setahun kurang dari 4 kali ada di rumah.

Seandainya saja, Saifu bisa bersikap lebih manis kepadanya, ia pasti tidak akan mengeluh akan tempatnya tinggal, tapi Sora tahu akan sulit sekali membuat Saifu menjadi gadis yang manis. Ia yang menyebabkan hal itu terjadi. Sayangnya, Sora tak bisa pergi ke masa lalu dan membenarkan segalanya.

“Sora-chan… ayo melamun apa??!” panggil Nikaido.

Sora menggeleng dan mulai memakan bagiannya. Kata-kata yang selalu terucap dari bibir Sora ketika berdua dengan Nikaido, “Aku beruntung bisa bertemu Nika-chan…” ucap Sora lirih.

“Lagi? Kau sudah mengatakannya beratus-ratus kali Sora… dan aku juga selalu merasa beruntung… sudahlah… jangan sedih di siang cerah begini…” kata Nikaido sambil mengelus pelan rambut Sora yang panjang sebahu itu, membenarkan letak poni si gadis.

Sora mengangguk pelan.

=================

Bising suara musik, lampu-lampu club, dan banyaknya orang orang yang mulai turun ke stage menari membuat Saifu hanya bisa menopang dagunya sambil menatap yang ada dihadapannya dengan malas.

Karen sendiri malah sibuk dengan pacarnya, membiarkan Saifu sendiri disampingnya. Saifu sendiri tak tertarik untuk menari, tak ingin sembarangan laki-laki menyentuh tubuhnya.

“Fu-chan,kau menarilah…” kata Karen .

“Tidak, “ tolak Saifu tegas, “Kau urusi saja pacarmu itu…” kata Saifu.

Karen tertawa, “Baiklah…” kata Karen lalu pergi dengan pacarnya meninggalkan Saifu yang asik dengan minumannya.

“Daiki!!Daiki !!Daiki !!” seru orang –orang yang berdiri di stage DJ sambil memanggil manggil nama seseorang dengan sangat bersemangat.

“Kenapa sih mereka begitu berisik?” keluh Saifu kesal sambil memerhatikan kerumunan yang ribut itu, tak beberapa lama seorang laki-laki berdiri dibelakang DJ set sambil tersenyum dan memakai headphonenya.

Laki-laki itu tersenyum lalu mulai memainkan lagu dengan DJ setnya, Saifu memerhatikan laki-laki itu. Tampan, tidak …manis. Manis lebih tepat untuk menggambarkan fisik laki-laki itu, dia bahkan terlihat sangat manis.

“Kakkoi na…” gumam Saifu sambil menopang dagunya dan memperhatikan laki-laki itu sampai dia selesai dengan performance nya.

“Fu-chan!” Karen menepuk bahu Saifu, menyadarkannya dari lamunannya.

“Ah, kau..” gumam Saifu malas, “Mana pacarmu?” tanya Saifu karena tak melihat dimana pacar Karen.

“Dia sedang bicara dengan temannya, mau kukenalkan? Dia belum punya pacar, kau berminat Saifu?” tanya Karen.

Baru Karen selesai dengan perkataannya pacar Karen, Nozomu, datang bersama seseorang dibelakangnya.

“Saifu ayo kukenalkan dengan Daiki, dia Arioka Daiki..” kata Karen sambil menunjuk seorang laki-laki yang tersenyum ramah disamping Nozomu.

Saifu seolah terpaku dibangkunya, entah sejak kapan jantungnya bisa bekerja secepat ini saat dia melihat Daiki.

“Saifu, daijobu ka?” tanya Karen.

“Eh??” Saifu mengangguk canggung, “Daijobu desu…” jawab Saifu pelan.

“Daiki dia temanku, Suzuki Saifu..” kata Karen memperkenalkan Saifu.

Saifu sedikit menunduk, “Yoroshiku..” katanya pelan.

“Yoroshiku…” jawab Daiki bersemangat.

“Daiki dia belum punya pacar loh…” kata Nozomu, “Kau mau dengannya?” tawar Nozomu lagi.

“Hei!!” Saifu protes, namun dalam hatinya dia ingin juga lebih dekat dengan Daiki.

Daiki terkekeh pelan melihat ekspresi Saifu, “Ne..kami kan baru kenal. Aku tak bisa mengelak kalau Saifu sangat manis, tapi sepertinya kami harus berteman dulu… ne Saifu?”

“Eh..Hai…” jawab Saifu sambil mengangguk malu.

Saifu tak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama, tapi kenapa perasannya bisa begitu kacau hanya dengan melihat Daiki yang bahkan baru dikenalnya kurang dari satu jam??

“Saifu kau baik-baik saja?” tanya Daiki sambil menatap Saifu yang berkeringat banyak padahal ruangan club itu full AC.

Saifu menggeleng, “Daijobu…” Saifu berusaha tersenyum ke arah Daiki, “Daijobu desu…”

Sora menatap jam di dinding rumahnya. Sudah hampir pagi, dan belum ada tanda-tanda kepulangan Saifu. Sebenarnya ini sudah biasa dan seperti biasa juga Sora akan mendengar mobil Saifu datang, setelahnya ia akan segera ke kamarnya agar tidak ketahuan sedang menunggu adiknya itu.

Ia selalu menganggap Saifu sebagai adik kandungnya. Walaupun tentu saja Saifu tak pernah menganggapnya sebagai kakak. Paling tidak, menjaga Saifu adalah salah satu janjinya pada dirinya sendiri.

Sora masih mengerjakan tugasnya di depan laptop, hingga sebuah suara mobil terdengar di teras luar.

“Eh? Dia sudah pulang!” Sora membereskan kertas-kertas yang berhamburan di meja tamu itu lalu mengangkut laptopnya untuk menuju ke lantai atas.

“Aduh… Fu-chan…jalan yang benar…”

Deg.

Suara laki-laki.

Sora bergegas ke kamarnya, menunggu suara langkah kaki laki-laki itu dan suara langkah Saifu yang diseret mendekat ke arah kamar Saifu yang berbeda beberapa ratus meter dari kamarnya.

Dengan perlahan Sora mengintip siapa yang mengantar Saifu.

“Haaa?!” Sora membekap mulutnya kaget ketika melihat siapa yang memapah Saifu yang benar-benar sedang teler itu.

“Dai-chan jangan pulang dulu yaaa…” gumam Saifu tak jelas.

“Iya…iya…ini kamarnya?” tanya Daiki pada pelayan yang mengantar Daiki ke kamar Saifu.

Pelayan itu mengangguk dan membukakan pintu untuk Daiki.

“Ngapain dia disini?!” bisik Sora tak percaya.

=================

TBC alias To Be Continued~

🙂
Wuaaahhh~ berasa aneh gak sih??
Ini project yang terbengkalai dan harus saia selesaikan…
Hehehe~
Silahkan…silahkan di komen…
COMMENTS ARE LOVE…
Please Don’t Be A Silent Reader.. 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s