[Multichapter] Treasure Hunting (Chap 3) ~Awal Pertarungan~

Title        : Treasure Hunting ~Awal Pertarungan~
Type          : Multichapter
Chapter     : 3
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Fantasy, a little bit romance 😛 *teuteup* #Plakk
Ratting    : PG-15 *naek rating* 😛
Fandom    : JE, HSJ, Sexy Zone
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Nakajima Kento (Sexy Zone), Morimoto Miyako (OC), Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members and Nakajima Kento are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Yoko charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Natsuru pinjem juga punya Irene, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
And saia banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~

Treasure Hunting
~ Chapter 3 ~
~ Awal Pertarungan~

“Treasure Hunting ke dua puluh dua…. DIMULAI!!!”

Sebuah peluit panjang berbunyi. Tabung terbuka dan ke dua puluh dua peserta berlarian ke tengah padang.

Sora berlari ke arah sebuah katana yang terletak di pinggir bangunan yang merupakan pusat arena. Ia menarik lengan Inoo yang berlari tak kalah cepat dengannya. Sora melihat Hikaru yang sudah lebih dulu di lapangan itu menyabet sebuah trisula dan mengayunkannya pada Sora.

Beruntung Sora menunduk, namun Hikaru belum puas. Pemuda itu mengayunkan kembali trisulanya, dan menghantam betis Sora.

“Kyaaa!!” Sora berteriak membuat Inoo sadar temannya dalam bahaya.

Inoo menerjang tubuh Hikaru dan memukulinya beberapa kali hingga Hikaru berhasil mendorong tubuh Inoo lalu kabur bersama trisulanya.

“Itte…” keluh Sora, namun gadis itu berdiri lagi, mengambil katana yang sejak tadi ingin ia ambil.

“Ayo!” Inoo memapah Sora masuk ke dalam hutan.

Di lapangan masih terjadi saling rebut antara Yoko dan Ichiko. Keduanya menginginkan sebuah tas. Ichiko yang sudah memegang sebuah bumerang sejak tadi lalu mengantam wajah Yoko dengan bumerang tersebut, membuat Yoko dalam beberapa detik kelimpungan sementara Ichiko berlari membawa tas tersebut.

“Sialan!!” seru Yoko.

Yabu menyambar tangan Yoko dan membawanya berlari ke dalam hutan.

“Bahaya!! Nu ngamuk!!” seru Yabu yang terlihat samar oleh Yoko berdarah di bagian pelipis kanannya.

Natsuki mematung di tempatnya. Bingung apa yang harus ia lakukan. Matanya bergerak-gerak mencari Keito di tengah lapangan yang mulai berkurang orangnya. Sebagian sudah berlari ke dalam hutan setelah mengambil hal yang dibutuhkan.

“Natsuki!! Ikou!!” sebelum ia sadar siapa yang membawanya, Natsuki ikut berlari hingga ke dalam hutan yang lebat.

“Are? Nakajima-kun?!” seru Natsuki kaget.

“Abunai yo ne… nanka… Kento sangat kuat…” ucap Yuto sambil mengatur nafasnya.

Di lapangan tersisa Kento dan Nu yang saling menatap dengan wajah tak senang.

“Takahashi Nu… gadis gila yang membunuh setengah peserta… kau berencana membunuh siapa duluan?” tanya Kento mencibir, menyiapkan rantainya untuk menyerang Nu jika diperlukan.

“Cih! Bocah tau apa?!” Nu bergeming lalu menyiapkan panah dan busurnya, melepaskan busur tepat ke arah kepala Kento, namun pemuda itu mengelak dan panah itu menyerempet pipi Kento hingga berdarah.

“Aku menawarkan persekutuan…” ucap Kento mendekati Nu dengan cepat.

Nu menyeringai sementara Kento menjabat tangan Nu, “Partner?”

Gadis itu mengangguk pelan, “Partner…”

==============

Miki langsung berbalik ke arah hutan ketika peluit dibunyikan. Ia tak ingin ambil resiko harus bertarung dengan orang-orang di lapangan. Terlalu mudah dibunuh jika ia melakukannya.

Gadis itu terus berlari tanpa melihat ke belakang. Miki sendiri tak tahu ia mengarah kemana, yang penting ia menjauh dari peserta lain.

Namun akhirnya Miki berhenti karena mulai haus dan kehabisan tenaga untuk berlari. Kali ini ia baru memperhatikan kalau ia berada jauh di dalam hutan dengan keadaan yang dingin dan mencekam walaupun matahari bersinar, namun terhalang oleh pepohonan yang begitu lebat menaunginya.

Tiba-tiba saja gadis itu ingin menangis. Ia tak pernah merasa sendirian seperti ini. Apalagi di tengah hutan yang tidak ia kenal macam ini.

“Minum?” sapa seseorang, membuat Miki terlonjak dan dengan refleks berbalik sambil memukul orang di belakangnya itu.

BUGH!

“Aduh… sakit…” keluh orang itu.

“Are? Gomen Chinen-kun…aku pikir siapa…” ucap Miki kaget ketika yang ada di hadapannya ternyata Chinen Yuuri.

Chinen kembali menyodorkan botol minumannya, “Aku menemukan sumber air di sebelah sana…” tunjuk Chinen ke sebuah arah, “Sudah ku bersihkan dengan iodine…minum saja…”

Miki mengangguk lalu meneguk air itu dengan cepat.

“Kenapa bisa menemukanku?” tanya Miki.

“Aku tadi mengikutimu…ne, Miki-chan… sebaiknya kita memanjat sebelum ada yang menemukan kita…” ucap Chinen menengadah ke atas, menimbang-nimbang apakah pohon ini aman.

Miki mengangguk dan mulai memanjat, diikuti Chinen setelahnya.

Di tempat lain di hutan yang sama, Yamada merebahkan tubuh Saifu di antara akar pohon besar. Saifu hampir tak sadarkan diri setelah jatuh dari jurang yang tak terlalu dalam, terpeleset dan berguling ke dasar jurang itu, namun tubuh Saifu sempat menghantam batu dan akar-akar pohon.

“Saifu!!” Yamada mengguncang tubuh Saifu, namun gadis itu sedikit demi sedikit menutup matanya.

Yamada menampar pipi Saifu agar gadis itu sadar kembali.

Saifu membuka matanya sedikit, “Kaki…ku…kaki…” keluh Saifu.

Yamada beralih melihat kaki Saifu yang tampaknya tidak apa-apa, “Sebelah mana yang sakit?” tanya Yamada pelan.

“Itu…” Saifu tak mampu menjelaskan karena kakinya begitu sakit, ia juga merasakan kepalanya sakit.

Yamada kembali menoleh dan saat itulah ia sadar kaki Saifu berdarah. Yamada merobek celana Saifu hingga lukanya di lutut itu terlihat. Lututnya memar dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.

“Chotto…” Yamada mengeluarkan barang-barang dari tas yang ia ambil, tapi tidak menemukan satu pun kain atau perban yang bisa membersihkan luka Saifu. Ia juga tidak mendapat air minum.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur, merobek sisa celana Saifu yang tadi pertama kali di robek oleh Yamada.

Yamada menoleh, mendapati Daiki yang melakukannya.

“Tidak ada waktu untuk mencari barang yang tak ada…” seru Daiki lalu membebat kaki Saifu dengan kain celana itu.

“Gomen…aku panik…” keluh Yamada menyesal karena ia terlalu panik hingga tak memanfaatkan barang yang ada.

“Saifu… mana lagi yang sakit?” tanya Daiki mendekati wajah Saifu agar gadis itu bisa mendengarnya dengan jelas.

“Ini…” Saifu memegang belakang kepalanya dan saat itu mereka tahu kalau belakang kepala Saifu juga berdarah.

Daiki membuka jaketnya, melepaskan kaosnya dan merobek kaos itu jadi bagian yang lebih kecil, lalu mencegah pendarahan lagi dengan kaos itu.

“Kita bawa ke tempat lain, disini tak aman…” ucap Daiki yang hendak menarik tangan Saifu namun Yamada bergerak lebih cepat dengan mengangkat tubuh Saifu dan menggendongnya.

“Saifu… bertahan lah…” bisik Yamada pelan.

================

Inoo membawa Sora jauh ke dalam hutan, mereka masih berjalan dengan Sora bertumpu pada Inoo hingga menemukan dua orang lain yang sedang duduk di dalam hutan.

“Kenapa dia?!” seru Yuya membantu Inoo membawa Sora duduk di dekat pohon.

“Kei…kakiku…”

Inoo merobek celana Sora di bagian betis dan melihat campuran memar parah dan daging yang terkoyak karena trisula milik Hikaru sempat menancap pada kakinya.

“Aku punya alkohol…mau?” ternyata itu Opi, ia mengeluarkan botol alkohol dari tasnya yang tadi ia ambil sebelum berlari ke dalam hutan.

“Bagus sekali…” ucap Inoo lalu mengambil alkohol itu dari tangan Opi.

“Tapi…tidak ada kapas…” kata Opi mencari-cari di dalam tasnya, namun tidak ketemu.

Tubuh Sora bergetar hebat karena lukanya sangat menyakitkan dan berdenyut-denyut tanpa ampun.

“Takaki! Pegang tubuh Sora!!” perintah Inoo sambil menatap Sora, “Tahan sedikit, Sora…”

Yuya menahan bahu Sora sementara Inoo membuka botol alkohol itu lalu menyiramkannya pada luka di kaki Sora.

“Aaaarrrggghhh!!” Sora mengerang hebat, mencengkram kuat pada lengan Yuya yang menahan bahunya. Yuya menarik tubuh Sora, mendekapnya agar jeritan gadis itu tertahan oleh tubuhnya. Bagaimanapun juga diketahui orang lain bukan hal yang baik.

Opi menarik baju Inoo agar menjauh dan membuka tas yang sejak tadi ia bawa.

“Takaki… tahan agar ia tak menjerit… aku tak punya obat bius…jadi kurasa ini akan lebih menyakitkan,” jelas Opi lalu mengambil alat menjahit yang sepertinya memang untuk luka.

“Kau yakin?” tanya Inoo ngeri melihat Opi menyiapkannya untuk menjahit luka Sora yang terbuka.

“Ini harus dilakukan atau dia akan kena infeksi…” ucap Opi lagi.

Opi mengambil jarumnya dan memasukkannya ke dalam air mendidih yang memang tadi Yuya siapkan untuk minum.

Sementara Opi bersiap, Yuya menatap mata Sora yang berkedip-kedip tak fokus. Yuya menyibakkan rambut yang menutupi wajah Sora, membelai pelan wajah itu dan mengusap keringat yang mengucur deras dari wajah gadis itu.

“Sakit…” keluh Sora menahan nyeri yang dihasilkan oleh alkohol yang tadi disiramkan oleh Inoo.

Yuya menoleh ke belakang, dan Opi sudah siap dengan jarum dan benangnya.

“Kita lakukan dengan cepat…” ujar Opi.

Yuya kembali menoleh ke arah Sora, tepat saat Sora mulai menjerit kesakitan, Yuya meraih bibir Sora, menyibukkan gadis itu dengan ciumannya.

==============

Natsuru menunduk memperhatikan garis-garis yang ada di peta nya. Ada yang salah dengan peta ini. Rasanya ganjil dan tidak alami.

Ia sendirian di dalam hutan setelah berhasil membawa tas berisikan makanan ringan. Ia tak punya senjata lain, tapi tidak membuatnya takut. Natsuru berhenti sejenak ketika mendengar langkah kaki dari kejauhan.

Natsuru menoleh, dan waspada akan apa yang datang menghampirinya. Kalaupun ia harus mati, setidaknya ia tak mau tanpa perlawanan.

“Natsu…” sosok itu mendekati Natsuru, membawa trisula di genggamannya.

“Hikaru!!” seru Natsuru kaget.

“Jadi kau memutuskan untuk membunuhku sekarang?” tanya Natsuru kembali melipat petanya dan memasukkannya ke dalam tas.

Hikaru terkekeh pelan, “Menurutmu? Apa kau cukup berharga untuk jadi sekutuku?”

“Tergantung kau melihatku dari sudut mana?” tanya Natsuru mulai berdiri dan berjalan menjauh dari Hikaru.

“Hmmm… aku tidak melihat keistimewaanmu…” ucap Hikaru lalu melesat berlari menghampiri Natsuru dan memojokkannya ke batang pohon hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

Natsuru mengerenyit karena merasa punggungnya sakit, “Aku punya banyak keistimewaan…asal kau tahu saja…”

“Seperti apa? Kau cantik? Atletis? Apa lagi?” seru Hikaru tepat di telinga Natsuru.

“Peta itu…peta!!” seru Natsuru ketika Hikaru mengacungkan trisula besarnya itu di dekat leher Natsuru.

“Peta?” gerakan Hikaru terhenti.

“Peta itu terdiri dari potongan-potongan…dan aku yakin kita harus mengumpulkannya dari peserta lain!!” seru Natsuru.

“Lalu? Dengan informasi seperti itu kau yakin aku tidak akan membunuhmu?” tanya Hikaru lagi.

“Tidak…karena aku punya GPS yang bisa mendeteksi keberadaan peserta lain!!” seru Natsuru sambil mengacungkan sebuah benda dari sakunya yang berkedip-kedip dengan nomor.

Hikaru melepaskan Natsuru. Ia tak pandai dengan barang-barang elektronik. Satu-satunya yang bisa ia operasikan hanya radio butut milik almarhum ayahnya.

“Baiklah…kini kau sekutuku…” ucap Hikaru.

=============

Semakin dalam ia masuk ke hutan, tak ada tanda-tanda dari Natsuki. Keito mulai putus asa. Padahal ia sudah berjanji dengan Natsuki dan gadis itu pun berjanji akan menunggunya dan mereka akan melarikan diri bersama.

Ia menatap langit yang segera berubah menjadi sore hari. Perutnya terasa lapar dan haus menderanya dengan cepat.

Ia tak bawa apapun dari pusat arena. Hanya sebuah pisau dan sebuah senapan yang ia temukan. Selebihnya ia tak berfikir banyak untuk mengambil makanan.

“Psstt…pssttt…” Keito menoleh, seorang gadis keluar dari gua yang cukup sempit di sebelah kanannya.

“Kau?” Keito kenal dia sebagai Riisa, teman sekelompoknya.

“Masuk sini…” bisik Riisa.

Keito tak punya pilihan lain dan menuruti apa yang Riisa mau. Gua ini cukup pengap, namun bisa menampung paling tidak lima orang. Bagian atas gua sangat lembab dan dibelakang mereka mengalir sebuah mata air yang airnya terus keluar, namun tidak membuat gua itu banjir.

“Ini…” Riisa menyodorkan sebuah kaleng yang ketika Keito perhatikan ternyata makanan kaleng seperti yang pernah mereka lihat di tempat latihan. Di perkenalkan sebagai makanan darurat.

“Kau mengambil ini di lapangan?” tanya Keito sebelum membuka kalengnya dengan pisau yang ia bawa.

Riisa mengangguk, “Hanya beberapa kaleng… kita harus menghematnya untuk beberapa hari ini jika kita bertahan,”

“Kita?” dahi Keito bertautan.

“Ya..karena kau sudah ada disini… lagipula aku takut sendirian…” kata Riisa mencoba menjelaskan keadaan mereka.

Keito setuju dan tak punya penjelasan lain dengan keadaan mereka. Lalu tiba-tiba terdengar gemerisik jalanan dan orang-orang bicara. Keito mengibaskan tangan menyuruh Riisa diam, lalu menajamkan kupingnya.

“Miya…bertahan ya…kita pasti akan menemukan air sebentar lagi…”

“Si anak kembar…” desis Keito dan menahan tubuh Riisa yang hendak keluar menghampiri mereka.

“Kenapa?” tanya Riisa tanpa mengeluarkan suara.

Keito hanya menggeleng dan membiarkan keduanya lewat begitu saja.

“Aku haus sekali Ryuu..” keluh Miyako menggenggam tangan Ryutaro lebih kuat lagi, seakan ia tak punya tenaga untuk berjalan lurus.

Lelah dan tidak punya tempat tujuan adalah hal yang menyedihkan bagi mereka.

“Sabar ya…kita akan menemukan air…”

“Aku…” Miyako tiba-tiba terkulai lemas di tanah.

Ryutaro mengguncang tubuh Miyako pelan, “Miya…kumohon…”

Miyako kini menangis, kini ia berfikir akan segera mati karena haus yang menderanya membuat otaknya tak bekerja dengan baik. Kemarahan pada dirinya mulai merasuki.

Ryutaro menarik tubuh Miyako lalu menggendong saudara kembarnya itu di punggungnya. Pemuda itu juga tak bisa menenangkan Miyako lebih lagi. Ia juga capek, sama juga haus, tapi ia tak punya pilihan. Harus ada yang bertahan diantara mereka berdua, jika keduanya sudah menyerah, maka yang satunya pun tak mungkin bisa hidup.

“Ah! Ichiko!!” seru Ryutaro ketika melihat seorang gadis duduk di antara pepohonan. Ryutaro mengenal gelang karet berwarna-warni yang dipakai Ichiko.

Ichiko berdiri dan segera melemparkan pisau lipat yang ia bawa. Beruntung meleset jauh dari Ryutaro.

“Ichiko-san punya minum?” tanya Ryutaro ketika merebahkan Miyako di dekat Ichiko, setelah gadis itu kembali mengambil pisau yang sempat ia lemparkan tadi.

“Ada…ini…” ucap Ichiko memberikan sebotol minuman pada Ryutaro.

“Boleh aku meminumnya? Dan Miyako?”

Ichiko hanya mengangguk. Baginya, Ryutaro dan Miyako bukanlah ancaman berarti. Walaupun ia tidak membunuhnya, kedua orang ini akan segera sekarat. Paling lama lima hari mereka bisa bertahan. Apalagi dengan segala ketidaktahuan mereka soal Treasure Hunting.

“Baiklah…aku pergi dulu…” ucap Ichiko smabil beranjak.

“Chotto!! Mau kemana?!” seru Ryutaro kaget.

“Ya pergi… aku tidak punya urusan lagi dengan kalian, kan? Botol minum itu boleh buat kalian…” ucap Ichiko masa bodoh.

“Chotto!! Doko iku no? Bagaimana jika kami ikut denganmu?!” ucap Ryutaro lagi. Memohon pada Ichiko.

Ichiko menoleh sekilas. Ia tak punya rencana untuk merepotkan diri sendiri, apalagi dengan dua anak merepotkan itu.

“Maaf…aku punya rencana lain…” kata Ichiko dan meninggalkan keduanya.

“Kau tidak baik-baik saja Kou…” kata Yoko sambil kembali menekan luka yang ada di pelipis kiri Yabu.

“Aku baik-baik saja…sudah berhenti kan pendarahannya…” elak Yabu, “Kau sendiri masih pusing, tidak?”

Yoko menggeleng, “Kurasa kepalaku memar, tapi sudah tidak pusing…”

“Jadi kita tak mendapatkan apa-apa kecuali senter, sleeping bag dan sekaleng biskuit kecil…sial!” umpat Yabu kesal.

“Tadi memangnya ada apa dengan Takahashi?”

“Ia mulai menyerang dan amukannya luar biasa. Kau harus lihat ia adu kekuatan dengan Kento tadi…”

“Malam ini akan ada kembang api tidak, ya?” gumam Yoko menengadah menatap langit yang sudah mulai temaram.

Kembang api adalah tanda terbunuhnya peserta. Satu ledakan menunjukkan satu peserta. Lalu setelahnya mereka akan mendengar pengumuman dari Shingo tentang siapa yang meninggal, dan jam berapa.

“Kuharap tidak…” ucap Yabu pelan.

Yoko menghela nafas dan membuka kaleng biskuit yang ada di kantong Yabu. Lalu mengambil satu potong biskuit, membaginya menjadi dua.

“Ini…kita harus hemat…tak ada jaminan kita akan dapat makanan besok..” ucap Yoko.

Yabu mengangguk dan mulai makan biskuit itu.

Yabu menarik Yoko mendekat, lalu dengan cepat merangkul Yoko, “Kita harus bertahan…dan jika pun kau tidak bertahan, aku juga tidak yakin bisa bertahan tanpamu…”

Yoko mendelik dan menyadari ini adalah salah satu akting Yabu.

Tapi gadis itu akhirnya mengangguk dan merebahkan kepalanya di pundak Yabu. Ia sadar kamera mengawasi mereka 24 jam. Itu berarti ia dan Yabu akan jadi kekasih selama 24 jam tanpa terkecuali.

Seperti yang sudah direncanakan mentor mereka, Aiba Masaki. Sementara mentornya itu sedang melobby pada orang-orang kaya di pusat kota agar memberi mereka sponsor.

===============

“Waaa…omoshiroi…” seru Yuto memperhatikan apa yang kini ia pakai.

“Apanya yang menarik?” tanya Natsuki bingung.

Yuto membukanya, lalu memakaikan kacamata itu pada Natsuki.

“Semuanya terlihat jelas padahal gelap sekali…” ucap Natsuki kaget.

“Un! Makanya kubilang menarik!!hehehe… sepertinya ini kacamata yang bisa melihat di kegelapan…” kata Yuto lagi. Senang mendapatkan barang berarti yang bisa membantu mereka.

Natsuki membuka kembali kacamata itu, lalu memandangi Yuto dengan sedikit aneh.

“Yuto-kun dalam keadaan seperti ini masih bisa tertawa, ya?” tanya Natsuki yang sejak tadi bersama Yuto, dan tak melihat tanda-tanda panik atau takut pada diri pemuda itu.

“Maa ne… nikmati saja, Natsuki-chan…” kata Yuto ringan, lalu merebahkan diri, menatap langit yang kini dipenuhi bintang.

“Tapi…”

“Aku takut…kalau kau bertanya soal itu…” Natsuki kaget karena Yuto seperti bisa membaca pikirannya.

“Tapi… menjadi takut dan akhirnya tak melakukan apa-apa juga tidak ada artinya… maka aku memutuskan untuk berjalan terus…menghadapi esok hari…hehehe..”

“Sou ne… nanka urayamashii… aku iri pada sikapmu yang seperti ini…”

Yuto hanya tersenyum.

“Tidurlah…aku akan berjaga…”

“Selamat malam para peserta Treasure Hunting!!!” suara Shingo menggema di seluruh arena.

Setiap orang disana mendengarnya.

“Keadaan hari ini aman dan menyenangkan…” kata suara itu lagi.

Inoo mencibir dan tahu maksudnya tidak ada yang mati hari ini dan itu pasti membosankan bagi penduduk pusta kota. Sehingga maksud Shingo sendiri adalah menyuruh kami cepat-cepat saling membunuh.

“Yokatta malam ini aman…” kata Opi lalu mematikan api sebelum ia mengangkat sup yang ia buat dari beberapa bahan yang bisa ia temukan. Dibantu oleh Inoo yang memburu kelinci tadi.

“Sou ne…” jawab Inoo pelan, “Ngomong-ngomong, aku belum pernah bertanya soal tadi…kau… menjahit luka Sora…”

“Oh… hanya spontan. Dan aku sudah bertahun-tahun merawat luka kakakku… lagipula aku memang tertarik pada bidang kedokteran…” jawab Opi.

“Sou ka… tadi keren sekali…” kata Inoo terkekeh pelan.

Opi hanya menggeleng-geleng pelan, “Ini…bawakan untuk Takaki-san…” ucapnya menyodorkan semangkuk kecil sup itu.

Inoo menghampiri Yuya yang masih saja memeluk Sora karena sejak tadi Sora belum sadarkan diri dan mencengkram kuat tubuh Yuya.

“Douzo…” kata Inoo sambil meletakkan sup itu di dekat Yuya.

“Aku tak tega membangunkannya…” gumam Yuya lirih.

“Masa mau aku suapi?” tanya Inoo heran.

Yuya mencibir, “Aku bisa makan dengan satu tangan…” serunya membalas Inoo.

Inoo menatap keempat peta yang sudah mereka satukan tadi. Pasti peserta lainnya sudah sadar bahwa peta itu terdiri dari potongan-potongan seperti puzzle. Dan cepat atau lambat semua orang akan mulai memburu peta ini satu sama lain.

Sambil makan, Inoo memikirkan betapa beruntungnya ia bertemu dengan dua orang lain selain Sora. Jika sedang sehat, Sora adalah petarung handal dan gadis yang kuat. Inoo baru saja menyadari kemampuan Opi dibidang obat dan masak bisa diandalkan. Yuya sendiri cukup lihai dalam berkelahi, levelnya tak jauh beda dengan Sora, ditambah lagi senjata yang Yuya bawa adalah sebuah senapan angin.

“Good team…” gumam Inoo sambil menyeringai pelan. Ia yakin bisa pulang dengan membawa hadiah selama mereka berempat terus bersama.

==============

“Saifu-chan…” panggil Daiki.

Saifu yang masih merebahkan diri di punggung Yamada hanya membuka matanya sedikit, memberikan tanda kehidupannya.

Sejak tadi siang mereka bergantian membawa Saifu dan berhenti beberapa kali. Namun Daiki memutuskan untuk terus berjalan, berharap menemukan sebuah tempat berlindung yang lebih layak. Apalagi Saifu terluka parah.

“Itu!!” seru Yamada menemukan sebuah bangunan tua tak terawat yang berjarak beberapa ratus meter di depan mereka.

Pintu bangunan itu tampak mengerikan dan kegelapan yang mencekam langsung terasa.

Daiki menengadah dan menyadari tulisan yang tertera disitu, “Klinik…” gumam Daiki.

“Bagus! Kita pasti bisa menemukan setidaknya perban untuk Saifu!!” seru Yamada lalu masuk ke dalam tanpa pikir panjang.

Daiki mengikutinya, dan menemukan sebuah ruang periksa lengkap dengan kasur, dan peralatan-peralatan medis tak terurus. Karatan, berbau tak sedap serta pengap.

Daiki membersihkan kasur itu lalu membantu Yamada merebahkan tubuh Saifu di kasur. Yamada melepaskan jaket Saifu karena gadis itu terus berkeringat sejak tadi, lalu menyampirkan jaket miliknya di tubuh Saifu.

“Perban…perban…” gumam Daiki sambil mencari di laci atau lemari yang ada disitu. Tak berapa lama, ia menemukannya lalu mengganti perban asal-asalan tadi namun sebelumnya membersihkan luka Saifu dengan air bersih.

“Semoga kita bisa dapat obat untuk luka Saifu…” Yamada bergumam lirih, meraih dahi Saifu yang lagi-lagi berkeringat. Menatap gadis itu yang tertidur dengan gelisah, namun sedikit lebih baik daripada tadi.

“Chotto…” tangan Daiki terangkat, ia sepertinya mendengar sesuatu di luar.

Suara tembakan ke udara.

“Sial!” Daiki berlari ke arah tirai dan mengintip sedikit keluar, “Kento…dan Nu!!” seru Daiki mulai panik.

“Maji ka yo?!”

“Konbanwaaaaa~ ada orang disiniiii?!” seru Kento sambil tertawa yang dibuat-buat.

“Ini bahaya!! Mereka pasti datang untuk mengambil bagian peta!!” seru Daiki.

Pintu depan klinik terdengar dibuk paksa dan suara tembakan kembali terdengar.

“Daiki!! Bawa Saifu ke tempat yang aman!! Sekarang!!” Yamada membantu Saifu beranjak dan menyerahkannya pada Daiki.

Daiki memandang Yamada tak yakin.

“Pergi!!” Yamada berlari membuka pintu belakang klinik itu.

“Aku akan mengalihkan perhatian mereka!!” seru Yamada lalu mendorong Daiki dan Saifu dan menutup pintu dengan cepat.

“Horaaaa~ ada cowok kakkoi nih, Nu!!” panggil Kento terbahak melihat Yamada yang terpojok seorang diri.

Nu ikut masuk, lalu menyeringai dan terkekeh pelan.

“Mau dihabisi langsung apa kita bersenang-senang dulu?” tanya Nu pada Kento.

================

TBC alias To Be Continued…

Wahahahaha…
Chapter ini maafkan kalau masih banyak kekurangan…
Dan gak yakin bagus juga… #bow
Douzo di komen…
🙂
Please leave some comments…
And do’t be a silent reader… 😛
COMMENTS ARE LOVE..

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Treasure Hunting (Chap 3) ~Awal Pertarungan~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s