[Oneshot] I’ll Wait You Come Home

Title           : I’ll Wait You Come Home (Sequel of “It Just Wasn’t Enough”)
Type          : Oneshot
Author        : Dinchan Tegoshi
Genre         : Romance *I bet you know!!LOL*
Ratting        : PG
Fandom      : JE
Starring        : Yabu Kota, Arioka Daiki (Hey!Say!JUMP), Deguchi Mayumi (OC), sama orang lewat-lewat.. 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Yabu Kota and Arioka Daiki are belongs to JE, Yuli saia pinjem dari yang request… 🙂
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

I’ll Wait You Come Home
(Sequel of ‘It Just Wasn’t Enough)

“Mayu!!” sebuah sapaan nyaring terdengar di pintu apartemen kecil itu.

Pintu terbuka dan seorang pemuda kurus masuk dengan cepat.

“Mayu!!” panggilnya lagi.

Beberapa saat kemudian ia sudah sampai di kamar Mayumi. Gadis itu masih saja tertidur pulas, tak peduli dengan suara nyaring yang bermaksud membangunkannya.

“Deguchi Mayumi…” pemuda itu duduk di pinggir ranjang milik Mayumi dan membisikkan kata-kata itu.

“Hmmm…” Mayumi menggeliat malas.

“Mayumi…” panggil si pemuda lagi kini menepuk pelan pipi si gadis.

Beberapa detik kemudian Mayumi membuka matanya perlahan, namun bukannya bangun, Mayumi malah merebahkan kepalanya di paha si pemuda.

“Ah~ Cuma Kou-chan…” katanya pelan.

“Hari ini hari pertunangan kita, Mayu…ayo bangun…” kata Yabu pelan.

Mayumi akhirnya berhasil membuka matanya dan terduduk dengan rambut acak-acakan serta mata setengah tertutup.

“Ini…” Yabu menyerahkan segelas air mineral yang langsung diteguk habis oleh Mayumi.

“Sudah saatnya…ayo…”

Mayumi beranjak dan bersiap-siap seperti apa yang diinginkan kekasihnya itu. Hubungan mereka berjalan baik selama hampir setahun. Tiba-tiba saja Yabu ingin bertunangan dengannya. Alasannya adalah karena Ibunya menginginkan hal itu sebelum mereka tinggal bersama.

Saat mengutarakan niatnya untuk tinggal bersama dengan Mayumi, Yabu bilang ingin memperkuat ikatan mereka sebagai pasangan. Bukan hanya sebagai kekasih, tapi sekaligus tunangan.

Mayumi yang kini bergandengan tangan dengan seorang Yabu Kota, tak pernah menyangka kalau kemajuan hubungan mereka akan secepat ini. Jika ingat bagaimana awal mereka bertemu di Goukon, lalu Yabu yang sama sekali tak yakin akan hubungan mereka, kini malah Yabu yang terlihat sangat serius dengannya. Ia sebenarnya bersyukur akan hal itu, tapi sesekali ia merasa terlalu terbebani.

“Kau sudah siap?” tanya Ayah melihat ke arah putrinya yang sudah siap dengan gaun sederhananya.

Mayumi mengangguk dan berjalan keluar menghampiri Yabu.

Ia sudah siap.

Begitulah yang ada di otaknya, berusaha menenangkan hatinya yang sejak ia tiba di hotel tempat acara pertunangannya, sama sekali tak bisa tenang.

===============

“Ojamashimasu…” ucap Mayumi yang membawa serta kopernya ke apartemen milik Yabu.

“Okaeri…” Yabu tersenyum dan mengambil koper milik Mayumi, “Harusnya kau bilang ‘Tadaima’, ya kan?”

Mayumi tersenyum, “Tadaima…Kou-chan…”

Mayumi duduk di sofa, menatap ke sekeliling apartemen dengan perasaan yang sedikit berbeda. Ia sudah sering berada di sini, beberapa kali bahkan menginap. Tapi kali ini ia akan tinggal disini, menjadi pendamping bagi Yabu.

“Douzo…” Yabu menghampirinya dan menyimpan secangkir teh di hadapan Mayumi.

“Cangkir pasangan?” tanya Mayumi menatap cangkir yang dipegang oleh Yabu sama persis dengan miliknya, hanya warnanya yang berbeda.

Yabu mengangguk, “Pulang kerja aku menemukan cangkir ini dan berfikir bahwa membelinya tak buruk juga…kita akan tinggal bersama kan mulai sekarang?”

Mayumi mengangguk dan tersenyum canggung. Yabu menyampirkan lengannya di bahu Mayumi dan menarik si gadis lebih dekat dengannya. Membuat muka Mayumi berubah merah padam karena malu.

“Mulai malam ini kita tidur seranjang loh…” ucap Yabu menggoda Mayumi.

“Uhuk…” tiba-tiba saja Mayumi merasa tenggorokannya gatal, dan ia pun terbatuk.

Walaupun memang ia sering bermalam, tapi Yabu tak pernah menyentuhnya lebih dari berpelukan atau berciuman. Itulah kenapa Mayumi merasa sangat nyaman dengan Yabu. Pemuda itu tak pernah memaksanya.

Yabu terkekeh pelan, “Tak usah gugup… aku tidak akan memaksamu…” lalu Yabu mencium pipi Mayumi dan beranjak dari sofa, “Aku mandi duluan!! Atau kau mau duluan?”

Pipi Mayumi kembali memerah, “Kau saja…yang…duluan…” ucapnya tercekat.

“Baiklah…”

Yabu meninggalkan Mayumi dalam keadaan dada yang bergemuruh dan tidak tenang. Apakah ini saatnya merka masuk step selanjutnya dalam hubungan mereka? Bukankah sudah setahun mereka menjalin hubungan ini? Sebagian pikiran Mayumi menolak gagasan itu. Ia masih sedikit bimbang.

===============

“Jadi hari ini rapatnya?” tanya Mayumi ketika Natsuko terlihat kelelahan di sampingnya.

“Iya jadi dong… aku semalaman membuat bahan rapat… pastikan kau datang, ya!” seru Natsuko mengingatkan.

Jurusan teknik dan MIPA akan membuat sebuah acara pentas seni. Kebetulan mereka ikut dalam kepanitiaan. Sayangnya bagi Mayumi, Yabu tidak bisa ikut karena kesibukannya menjelang kelulusan dan kerja sampingannya.

“Iya Natsuko…” jawab Mayumi.

Maka rapat sore itu dihadiri hampir semua panitia. Karena acara akan segera dilaksanakan dua bulan lagi.

Natsuko yang menjabat sebagai sekretaris berada di depan sebagai pemimpin rapat, sementara itu Mayumi duduk di bangku peserta rapat dengan wajah muram karena bosan.

“Bosan, ya?” tanya seseorang yang duduk di sebelahnya.

Mayumi menoleh, “Eh… Arioka-senpai…” ucap Mayumi mengenali siapa yang memanggilnya.

Arioka Daiki adalah salah satu teman Yabu. Walaupun mereka jarang bertemu karena berbeda jurusan, tapi Myumi sempat dikenalkan pada Daiki oleh Yabu. Selain itu Mayumi ingat mereka pernah Goukon bersama.

“Sedikit bosan…hehehe… habis aku sudah tahu isi rapatnya karena Natsuko mengoceh sepanjang hari soal itu…” ucap Mayumi dengan nada sedikit berbisik.

“Hahaha… sou ne…”

Mayumi mengangguk-angguk meyakinkan si pemuda.

“Ngomong-ngomong, Yabu apa kabar?” tanya Daiki.

“Baik…dia sibuk dengan tugas akhirnya,” jawab Mayumi, “Memangnya Arioka-senpai jarang bertemu dengannya?”

“Iya… karena Kou sibuk sekali. Ia jarang ada di kampus, atau seharian di lab…” jawab Daiki.

“Selanjutnya penjelasan dari penanggung jawab publikasi… Arioka Daiki, silahkan!” ucap Natsuko di depan.

Daiki mengangguk dan berjalan ke depan, membuat Mayumi menatap kertas yang dibagikan sebagai bahan rapat dan menyadari Daiki akan jadi partnernya selama acara kepanitiaan ini. Ia baru menyadarinya.

================

“Ngerjain apa sih, Mayuuu?” tanya Yabu yang merebahkan diri di kasur sementara Mayumi sibuk di depan laptopnya.

Mayumi menoleh, “Ini.. aku ngedit pamflet buat disebarkan…” jawab Mayumi, “Kenapa?”

“Tidur yuk~” ajak Yabu dengan nada manja.

Mayumi mencibir pelan, “Tidur saja duluan…”

“Aku mau sama kamu…” rengek Yabu lagi.

“Gomen… ini harus beres besok soalnya…” tolak Mayumi lagi.

“Sekalinya aku ada waktu berduaan, kenapa kau malah sibuk sendiri?!” Yabu tiba-tiba terdengar marah.

“Hah?!” Mayumi menoleh, “Kenapa jadi salahku?!”

“Aku berharap malam ini kita bisa berduaan karena aku tidak punya tugas berarti… tapi kau malah sibuk…”

“Kenapa Kou-chan egois banget sih?!!” Mayumi jadi ikut kesal karena sikap Yabu yang tiba-tiba terasa terlalu kekanakan.

Yabu tak menjawab lalu beranjak dan keluar dari kamar. Mayumi masih bisa mendengar Yabu keluar dari apartemen, meninggalkannya dalam keadaan kesal. Padahal status hubungan mereka sudah meningkat menjadi tunangan. Tapi kenapa Yabu justru terasa seperti orang asing bagi Mayumi?

Yabu keluar dan menghirup udara malam yang cukup dingin. Ia menghela nafas berat, ia memang egois. Ia hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya sekarang pada Mayumi.

Entah sejak kapan Mayumi jadi orang paling penting buatnya. Semenjak ia mencoba mencntai gadis itu, sejak itu pula sosok Mayumi jadi bagian paling penting untuk hidupnya.

Yabu ingin segera menikahi Mayumi, tapi tentu saja itu tak bisa ia lakukan. Gadisnya masih terlalu muda, ia akan menolaknya. Lalu Yabu memutuskan untuk mengajak gadis itu tinggal bersama dengannya. Tanpa ia sangka, Mayumi menyanggupi hal itu.

Sejak kejadiannya dengan Hitomi, Yabu merasa dirinya sedikit takut jika kehilangan lagi orang yang disayanginya. Tapi kenapa ia sekarang berlaku seperti orang brengsek? Manja dan egois terhadap Mayumi? Rasa sesal mampir di dada Yabu. Ia harus segera pulang untuk minta maaf, tapi gengsinya juga ikut berkata bahwa gadis itu juga tak bisa memahami dirinya.

“Mendokusai!” Yabu menggeleng dan memutuskan untuk bermalam di tempat lain. Mendinginkan suasana sepertinya tidak buruk juga.

==============

Mayumi berjalan menuju kampus dengan mata sembab. Karena bertengkar, semalam ia menangis hingga kelelahan. Beruntung pamfletnya sudah hampir selesai ia kerjakan sehingga tadi pagi ia berhasil merampungkannya.

“Ini pamfletnya, senpai…” kata Mayumi sambil menyerahkan setumpuk pamflet pada Daiki.

“Ah! Sankyu!! Are…” Daiki tiba-tiba memperhatikan mata Mayumi, “Kau habis menangis?”

Mayumi menggeleng, “Aku tidak apa-apa senpai…” jawab gadis itu cepat.

“Sou ka… ayo kita sebar pamflet ini di jurusan-jurusan lain…” ucap Daiki menggamit lengan Mayumi seperti anak kecil.

Mayumi tak punya kekuatan untuk melawan. Otaknya dan perasaannya secara bersamaan terasa terlalu lelah. Ia hanya mengikuti langkah Daiki ke setiap jurusan, menempelkan pamflet-pamflet itu di lokasi-lokasi yang strategis.

Ketika seluruh pamflet sudah beres mereka tempelkan, Mayumi duduk di bangku taman, menunggu Daiki membelikannya minuman kaleng seperti yang baru saja ia janjikan.

“Ini…” Daiki menyodorkan sekaleng minuman rasa jeruk pada Mayumi.

“Sankyu Senpai…” jawab Mayumi, namun tak meminumnya, hanya memandangi kaleng itu dan tersadar kalau minuman ini adalah kesukaan Yabu.

“Eh… maaf kalau aku lancang… apa kau ada masalah dengan Kou?” tanya Daiki sambil menyesap tehnya yang tadi ia beli.

Mayumi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan klise macam itu. Ia tak suka harus menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Terlalu rumit, terlalu menyedihkan.

“Karena saat menerima minuman itu, wajahmu berubah murung, dan aku tahu persis itu adalah minuman kesukaan Kou…” kata Daiki berasumsi.

Daiki bisa membaca tiap gerakan Mayumi yang tiba-tiba terlihat panik mencari jawaban.

Tanpa aba-aba yang jelas Daiki menarik tubuh Mayumi mendekat padanya, menyentuhkan bibirnya pada bibir Mayumi yang kini terlihat sangat shock dengan perbuatan pemuda itu.

Mayumi secara refleks mendorong tubuh Daiki, “Senpai!!”

Bukannya menjauh, Daiki merengkuh wajah Mayumi dan memberikan ciuman yang lebih dalam. Tangan Mayumi mencoba mendorong lagi tubuh Daiki, tapi reaksi spontan macam itu sudah di antisipasi oleh si pemuda. Daiki masih bertahan dnegan posisi itu hingga ia melepaskan ciumannya.

“Aku sudah memperhatikanmu sejak kita Goukon tempo hari… sayangnya langkahku keduluan Kou…” katanya lalu beranjak meninggalkan Mayumi yang dalam keadaan kaget setengah mati.

“Uso…” gumam Mayumi menatap punggung Daiki yang menjauh dari tempat itu.

================

Yabu meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah duduk seharian di depan komputer. Ia butuh sedikit gerakan untuk menyembuhkan otot-ototnya.

“Nih… kebetulan tadi bikin kopi…” ucap Inoo memberikan secangkir kopi di hadapan Yabu.

“Arigatou… belum pulang?” tanya Yabu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.

“Sedikit lagi rancanganku selesai…” ucap Inoo menanggapi pertanyaan Yabu.

“Kau biasanya pulang cepat kan?” mereka memang bekerja di perusahaan kecil yang sama. Sementara Inoo mengurusi soal rancangan, Yabu mengurusi soal lingkungannya.

Perusahaan ini mereka dirikan sebagai konsultan kecil-kecilan. Beberapa teman mereka di jurusan-jurusan berbeda juga membantu.

“Apa karena Opi lagi pulang ke rumahnya?” tanya Yabu menanyakan soal pacar Inoo yang sudah lebih dari dua tahun ini ia pacari.

Inoo terkekeh, “Tak ada yang menarik jika aku pulang dan dia tidak ada di apartemenku..”

Yabu menatap Inoo, “Apa saat kita tinggal bersama, rasanya harusnya lebih nyaman?”

Pemuda yang ditanyai itu mengangguk, “Tentu saja… segalanya lebih terasa nyaman saat ia bersama kita, kan?”

Yabu menghela nafas panjang. Ia memang lebih nyaman ketika Mayumi berada di sekitarnya, tapi entah kenapa gadis itu terasa malah menjauh sekarang. Jika ia bisa menggambarkan apa yang terjadi antara dirinya dengan Mayumi, seakan gadis itu belum sepenuhnya mempercayai Yabu dan tak nyaman dengan keadaan mereka sekarang.

Ia benci membuat kesimpulan sendiri, tapi dalam keadaan ini ia tak punya pilihan lain. Mayumi-nya sulit sekali diajak bicara.

“Pulang saja Kou… ajak dia bicara… satu hal yang harus kau ingat… jangan memperpanjang masalah. Diam dan menghindar bukan jawabannya…”

Yabu terkekeh canggung dan memutuskan untuk menghadapi Mayumi.

“Tadaima…” Yabu membuka pintu apartemen itu dan mendapati Mayumi duduk di sofa, menonton televisi.

Mayumi menoleh, “Hmm.. okaeri…” jawabnya pelan.

Yabu duduk di sofa semnetara Mayumi beranjak dengan canggung, “Aku membuatkan spageti… sudah makan malam?” tanyanya.

Yabu menggeleng, “Arigatou…”

Mayumi mengambilkan sepiring spageti dan menyerahkannya pada Yabu. Ruangan itu terasa kosong dan hanya terdengar dentingan garpu dari Yabu yang sedang makan, serta suara televisi yang sama sekali tak diperhatikan oleh keduanya.

“Anou… Mayu…” panggil Yabu akhirnya.

“Hmm?”

“Soal malam kemarin…aku minta maaf…” ucap Yabu pelan.

Mayumi menggeleng, “Aku juga salah…maafkan aku juga…” bersamaan dengan perkataannya, tiba-tiba Mayumi ingat soal ciumannya dengan Daiki, membuatnya merasa bersalah pada Yabu.

Ia tak bisa mengatakannya. Bukankah Daiki dan Yabu itu teman? Apapun alasannya, ia tak bisa menutupi bagaimana ia menikmati ciuman itu walaupun sebagian dari pikirannya menolak hal itu.

“Kou-chan…” Mayumi tersentak karena Yabu memeluknya dengan erat.

“Suki dakara… jangan lari dariku ya…” ucap Yabu menumpahkan apa yang ia rasakan.

Ini romantis, seperti khayalan Mayumi selama ini. Tapi ia lagi-lagi merasa terbebani dengan semua ini. Tiba-tiba ia menyangsikan perasaannya pada Yabu.

==============

“Tak usah senpai…tak usah mengantarku pulang…” tolak Mayumi malam itu.

Persiapan terakhir sebelum pentas seni dilakukan, dan sekarang sudah hampir tengah malam. Daiki bilang akan mengantar Mayumi walaupun gadis itu tak mau.

Sebenarnya beberapa waktu ini Daiki terang-terangan mengungkapkan kalau ia tertarik pada Mayumi. Walaupun gadis itu sebenarnya menolak, dalam hati kecilnya ada sedikit perasaan jika Daiki juga membuatnya nyaman. Yabu sangat mencintainya, tapi perasaan itu justru membebaninya, seakan Yabu membelenggunya. Di tambah dengan sikap protektif yang Yabu tunjukkan akhir-akhir ini.

“Sudahlah…halte rumahku juga sudah lewat…jadi lebih baik aku mengantarmu sampai apartemen, kan?” kata Daiki lagi.

Mayumi hanya tersenyum canggung, tak bisa menjawab lagi.

“Arigatou, senpai…” ucap Mayumi ketika mereka sampai di depan gedung apartemen itu.

“Aaahh~ karena kau tinggal dengan Kou? Jadi kau tak mau aku mengantarmu?” Daiki mensejajarkan matanya dengan mata Mayumi, menunduk sedikit mendekati wajah si gadis.

“Mayu!!” sebuah suara terdengar ketika mereka menoleh, Yabu yang juga baru pulang memergoki mereka.

“Yo! Kou!!” sapa Daiki pada Yabu dengan mengangkat sebelah tangannya.

“Dai-chan? Apa yang kau lakukan disini?!” seru Yabu bingung.

“Mengantar Mayu… apa lagi?”

“Sejak kapan kau repot-repot mengantar Mayu?!” Yabu yang berdiri agak jauh dari mereka masih menampakkan wajah bingung.

“Aku tak perlu menjawab itu…” dan dengan cepat Daiki menatap Mayumi, lalu mencium gadis itu tepat di hadapan Yabu.

Sebelum Yabu sempat tersadar Daiki berjalan ke arahnya, “Ini perang terbuka… aku tak akan bermain curang sepertimu…” Daiki menepuk bahu Yabu dan berlalu dari tempat itu.

“Jya na Mayu-chan!!” seru Daiki dari kejauhan.

Meninggalkan suasana mencekam diantara Yabu dan Mayumi.

“Sejak kapan kau…dan Dai-chan?” tanya Yabu ketika mereka sudah berhasil masuk ke apartemen tanpa sepatah kata pun keluar dari keduanya.

“Kami…satu divisi di acara pentas seni…” jawab Mayu takut-takut.

“Sou ka… kalian sering bersama? Bukan sekali saja kan ia mengantarmu?!” tanya Yabu lagi.

Mayumi menunduk, tak punya kata yang tepat untuk menjawab semuanya.

===============

“Wah…ada Yabu Kota disini…mezurashii na…” ucap Daiki ketika menemukan Yabu di Bar langganannya.

Yabu berdiri dan meraih kerah Daiki, tangannya mengepal sudah siap untuk memukul Daiki. Tapi Daiki melepaskan tangan Yabu dan mendorong Yabu menjauh, membereskan kaosnya.

“Kalau kau datang hanya untuk merusuh, silahkan pergi…” kata Daiki acuh lalu duduk di belakang meja bar.

Yabu merasakan denyut kemarahan yang sudah memuncak hampir terasa seperti kepalanya akan pecah.

“Mayu mengakui kalau itu bukan ciuman pertama kalian…” kata Yabu masih saja berdiri dengan tatapan marah pada Daiki.

“Sou yo… kita juga pernah berciuman tempo hari. Hanya tidak di depanmu…”

Yabu menarik baju Daiki dan menyeretnya keluar dari Bar, sesaat setelah mereka diluar, Yabu menghantamkan tinjunya yang sejak tadi ia tahan hingga Daiki tersungkur.

Daiki bangkit lalu tertawa pelan, “Itu balasanku… kau perlu tahu aku menyukai Mayu saat kita bertemu di Goukon…”

“Itu… bukan urusanku!!” seru Yabu.

“Memang… tapi kalau kau lupa, biar kuingatkan soal Hitomi yang kau rebut dariku…”

Rahang Yabu mengendur, ia ingat. Bohong kalau tidak.

Dulu sekali, Hitomi dan Daiki adalah sahabat sejak SMA. Orang buta saja bisa melihat bagaimana Daiki menyukai gadis itu. Daiki pernah mengungkapkannya, Hitomi menerimanya tapi tak pernah ada batasan jelas soal hubungan mereka. Walaupun saat akhirnya mereka kuliah, Hitomi bertemu dengan Yabu dan mulai menyukai pemuda itu. Daiki saat itu menjelaskan keadaannya dengan Hitomi pada Yabu, tapi pada akhirnya Yabu berpacaran dengan Hitomi dibelakang Daiki. Saat terbongkar, Yabu meminta maaf pada Daiki. Sejak saat itu Daiki menjauh dari keduanya, walaupun masih berada di dalam lingkaran teman yang sama.

“Soal itu…”

“Aku sudah melupakannya? Mungkin… tapi kau harus tahu rasa sakitku melihat gadisku dicium oleh temanku sendiri… di depan mataku…”

Yabu mendesah pelan, “Aku sudah meminta maaf padamu!!” seru Yabu mulai kesal.

“Kalau begitu…aku juga minta maaf… selesai, kan?”

“Mayu itu pacarku!! Bukan sahabatku!!” Yabu kembali naik pitam dan hendak memukul Daiki.

“Apa bedanya?!!” Daiki mendorong Yabu, “Kalau kau tak ada, Hitomi tak akan meninggalkan aku!!”

Daiki mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, dan berlalu dari Yabu, “Kali ini… aku serius… aku tak akan mundur…”

Yabu menoleh ke arah Daiki, “Mayu hanyalah objek balas dendam mu!! Iya kan?”

“Maa… awalnya begitu… tapi gadis itu menarik juga…” Daiki memandang Yabu dengan pandangan meremehkan, “Kita lihat saja siapa yang gadis itu pilih… beres, kan? Bukankah dulu juga kau bilang Hitomi memilihmu?”

Belum sempat Yabu menjawab, Daiki masuk lagi ke Bar.

==============

Yabu mencari Mayumi di kerumunan orang yang memadati tempat berlangsungnya pentas seni itu. Tapi gadis itu tak juga kelihatan.

Semalam Mayumi tak pulang dan kemungkinan berada di tempat Natsuko.

Sementara itu Mayumi yang sedang berdiri di sekitar panggung, mencoba menikmati sajian hiburan yang ada di hadapannya, namun ia merasa tak begitu menikmatinya.

“Mayu!!”

Mayumi menoleh dan menatap Yabu yang sepertinya kehabisan nafas habis berlari.

“Kou-chan?”

“Aku…hmmm…”

“Mayu! Bantu aku disini!!” suara lain memanggilnya. Kini ia mendapati Daiki yang membawa beberapa tumpukan kertas.

Mayumi kembali menoleh ke arah Yabu, “Gomen…aku masih harus kerja…” katanya. Namun baru beberapa detik ia berbalik, Yabu menahan tangan Mayumi.

“Pulanglah… aku akan menunggu Mayu pulang…” ucap Yabu dengan tatapan yang serius.

Mayumi berjalan menuju Daiki dan mengambil sebagian tumpukan kertas itu. Berjalan beriringan dengan Daiki sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Yabu tadi. Kenapa pemuda itu bersikeras agar ia pulang? Kejadian setelah ia dicium Daiki dan membiarkan Mayumi tanpa sepatah katapun saat itu.

“Malam ini mau mampir ke rumahku?” tanya Daiki.

“Hah?!” pertanyaan yang terlalu mendadak.

“Bukankah Kou tidak memperlakukanmu dengan baik? Atau mungkin kita bisa jalan-jalan ke tempat lain?” tanya Daiki lagi.

“Hmmm….”

“Yosh! Berarti kau mau, kan?” Daiki memandang Mayumi yang terlihat bingung.

“Arioka-senpai…ada yang ingin kutanyakan…” Mayumi berhenti melangkah, membuat Daiki juga berhenti, “Kenapa… Arioka-senpai mendekatiku, bahkan menyatakan kalau kau berperang dengan Kou-chan? Bukankah…bukankah… kau teman Kou-chan?”

Daiki menyimpan tumpukan kertas yang ia bawa di sebuah bangku yang ada di dekat mereka, lalu duduk di situ.

“Jawabannya adalah karena aku tak bisa memaafkan Kou-chan… belum bisa…”

“Maksud Senpai?”

Daiki menceritakan garis besar masalahnya dengan Yabu. Ia merasa menyembunyikannya dari Mayumi pun tak ada gunanya.

PLAK!

Mayumi menampar Daiki dengan keras.

“Apa maksudmu?!” seru Daiki kaget.

“Tak heran Hitomi-san tidak menyukaimu!! Sikapmu seperti anak kecil!!” seru Mayumi pada Daiki.

“Haaa?! Itu ulah Yabu yang merebut Hitomi dariku!!”

Mayumi mencibir, “Kau tidak akan pernah mendapatkan siapapun jika sikapmu begini!!”

Daiki terpekur dan duduk di bangku menunduk tak berdaya.

Sementara itu Mayumi berlari ke kerumunan, berharap Yabu masih ada disana dan belum pergi kemanapun.

“Kou-chan!!” Mayumi berteriak pada Yabu yang sedang berjalan hendak keluar dari kampus. Mayumi memeluk Yabu dari belakang, merebahkan kepalanya di punggung di pemuda.

“Mayu?”

“Aku akan pulang… aku… akan pulang pada Kou-chan…” tiba-tiba Mayumi ingin menangis dan merasa bodoh sudah bimbang gara-gara ulah Daiki.

Yabu tersenyum, “Okaeri… Mayumi…”

Semua keraguannya terhapus. Sikap Yabu yang mengejarnya, memaafkan kesalahannya. Terlalu bodoh jika ia melepaskan kekasihnya itu.

================

OWARI~

Another request… #plakk
Maaf kalo ceritanya aneh… #bow
Saya agak bingung juga apa ini bisa dibilang bagus ato gak…
Tapi…inilah… hahaha..
Untuk Yuli.. 🙂
Enjoy and please leave some comments…
COMMENTS ARE LOVE…
Please don’t be a silent reader…
😛

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] I’ll Wait You Come Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s