[Oneshot] Journey To Life

Title           : Journey To Life
Type          : Oneshot, SongFic
Author        : Dinchan Tegoshi
Song        : Arashi – Hatenai Sora
Genre         : Romance
Ratting        : PG-13
Fandom      : JE
Starring        : Chinen Yuuri (Hey!Say!JUMP), Satou Shori (Sexy Zone), Narahashi Hani (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Chinen Yuuri and Satou Shori are belongs to JE, Hani saia pinjem dari yang request… 🙂
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Journey To Life

Hani mengumpulkan nafasnya setelah berlari cukup jauh dari rumahnya. Ia berada di sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir sebuah sungai kecil.

Hani membuka ikatan rambutnya dan membiarkan angin yang cukup kencang menerpa rambutnya, ia pun menghirup udara pagi itu.

“Haaannniii~” panggil seseorang.

Tanpa perlu berbalik ia tahu siapa yang memanggilnya. Seseorang yang selalu memanggilnya dengan intonasi seperti memanggil “Honey” bukan “Hani”.

“Ne~ Haaannniii… kok gak jawab, sih?”

Hani tak menggubrisnya. Ia mengangkat gaunnya yang cukup panjang dan berjalan menjauh dari si pemuda.

“Oujou-sama…” sebuah suara kembali terdengar, namun kali ini dari seseorang yang sangat ia kenal.

“Chinen-kun!!” teriak Hani sambil berlari ke arah Chinen.

“Kenapa melarikan diri? Calon tunanganmu sudah menunggu, kan?” kata Chinen ketika Hani sudah berdiri di hadapannya dan menunjuk ke arah belakang tempat si pemuda yang dikatakan sebagai ‘calon tunangannya’.

“Aku gak mau dijodohkan dengan siapapun!! Aku masih terlalu muda Chinen-kun!” seru Hani kesal.

Walaupun ia seorang putri, ini bukan lagi tahun ketika ayah dan ibunya menikah. Ia harusnya tidak diperlakukan sama dengan ayah atau ibunya. Ia ingin menikahi pria yang ia cintai nantinya.

“Iya Oujo-sama… saya mengerti…tapi tidakkah Oujou-sama berfikir bahwa dengan mengenalnya lebih awal, Oujou-sama bisa jatuh cinta pada pangeran Satou…” ucap Chinen dengan bijaksana.

Hani manyun dan berbalik tepat ketika Shori Satou, calon tunangannya itu menghampirinya.

“Ne~ Haaannii… aku kan sudah bilang aku akan menerima perjodohan ini…” ucapnya dengan ceria, seperti biasanya.

“Aku sudah bilang tak mau!!” balas Hani.

“Kau pasti bisa menyukaiku!!” seru Shori lagi, tak mau kalah.

“Aku tidak suka padamu!!”

Hani berlari meninggalkan Chinen dan Shori, menjauh karena merasa tak ada yang mau membelanya. Biasanya Chinen selalu membelanya. Bagaimanapun ia adalah pelayan setia Hani. Yang sudah bersama dengan dirinya selama 13 tahun ini. Selama hidupnya.

Everyday is smeared with mud
but it’s too late to be worrying about that now
It’s so surprising that it’s awkward
but I have a dream my heart is sworn to

“Oujou-sama…” bersamaan dengan suara itu, sebuah ketukan terdengar dari luar kamar Hani.

Sejak tadi ia hanya berbaring dengan mata setengah tertutup dan pikiran yang kacau.

“Oujou-sama…” panggil Chinen sekali lagi.

Dengan enggan Hani berjalan menuju pintu lalu membukakan pintunya, “Apa?!” tanya Hani dengan wajah marah.

“Saya punya kabar gembira untukmu, Oujou-sama…” ucap Chinen lalu tersenyum memamerkan senyumnya yang manis itu.

“Apa?!” ternyata tak bisa meluluhkan hati sang putri.

“Raja bilang kau bisa pergi ke desa untuk bertemu dengan Ibumu…”

Wajah Hani berubah seketika, “Uso!! Hontou?!”

Chinen mengangguk, “Syaratnya kau harus pergi bersama dengan Pangeran Satou…”

Kini wajah Hani kembali menjadi masam, “Nande?! Kenapa gak sama Chinen-kun aja?”

“Tentu saja saya akan ikut, Oujou-sama…tapi ini perintah langsung dari baginda Raja…” jelas Chinen. Menunjukkan bahwa itu benar-benar perintah dan harus ia laksanakan.

Ia memang sangat ingin bertemu dengan Ibunya.

Ayahnya berjanji bahwa saat ia berumur tiga belas, ia boleh pergi ke desa untuk bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya.

Ibunya adalah orang dari kalangan biasa, rakyat yang dicintai oleh Ayahnya. Namun keadaan berkata lain, setelah memaksakan kehendak untuk menikah dengan Ibunya, keluarga kerajaan tidak setuju dan memutuskan untuk menutup-nutupi pernikahan itu. Hingga Ibunya diusir dari kerajaan, lalu Ayahnya menikah lagi dengan putri negeri lain, yang kini menjadi ratu kerajaan.

Bukan Hani tidak menyayangi Ibu tirinya itu. Ibunya sangat baik, tapi ia sangat ingin bertemu dengan Ibu kandungnya.

“Kenapa harus pengeran Satou?” tanya Hani lagi.

“Karena ia adalah calon tunanganmu, Oujou-sama… baginda Raja berpesan, jika kau tak mau pergi bersamanya, kau tak boleh turun ke desa…”

“Mou!! Terserahlah…yang penting aku bisa pergi!” seru Hani lalu membanting pintu kamarnya di hadapan Chinen.

Beberapa menit kemudian sebuah kertas muncul di bawah pintu itu.

Anggaplah kita sedang berpiknik, Oujou-sama.. 🙂
Aku menantikan perjalan kita…
-Chinen-

“Are??” Hani tersenyum melihat tulisan Chinen yang menuliskan dirinya sendiri sebagai ‘boku’ karena biasanya ia mengucapkannya dengan ‘watakushi’, panggilan diri sendiri yang sangat sopan.

“Chinen-kun…masih di depan pintu kan?” teriak Hani yang yakin pelayan setianya itu masih menunggu balasannya.

“Ya? Oujou-sama?”

“Memanggilku Hani-chan juga tidak apa-apa kok…” seru Hani lalu kembali ke ranjangnya tanpa menunggu jawaban dari Chinen.

Sementara itu Chinen hanya tersenyum getir di luar, “Saya tak mungkin memanggilmu seperti itu…” jawabnya pelan lalu berbalik meninggalkan kamar itu.

==============

Belum sampai setengah perjalanan, tapi Hani sudah mulai kesal dengan pendamping yang tidak ia inginkan. Sepanjang perjalanan Shori menurutnya sangat menyebalkan.

“Kalau ayah tidak memaksaku, aku tidak akan mengajakmu!!” seru Hani pada Shori yang kini duduk di sebelahnya sementara Chinen berjalan ke dalam hutan untuk mencari kayu.

“Kenapa kau terus menolakku? Apa karena aku terlalu tampan?”

Hani mencibir, tak disangka selain menyebalkan, pemuda itu juga sangat percaya diri, “Masih banyak pangeran lain yang lebih tampan darimu…kau juga tahu kau tidak akan bisa mengalahkan mereka…”

“Siapa yang kau maksud? Pangeran Ryosuke yang memenangkan kontes pangeran paling tampan? Kalau aku sudah cukup umur, kupastikan ia tak akan bisa mengalahkan aku…” seru Shori kesal.

“Kau bahkan tidak bisa mengalahkan Chinen-kun jika ia seorang pangeran!” balas Hani.

“Chinen-kun… Chinen-kun… maa~ kenapa kau terus mengungkitnya? Kau menyukai pelayanmu sendiri?!”

“Dia bukan sekedar pelayan!!” karena emosi, Hani berdiri, bergitu pula dengan Shori.

“Kenapa kau menyukainya? Apa karena kau juga setengah rakyat biasa?!” Shori tentu saja tahu soal Ibunya yang berada di desa, bukankah ia ikut dalam perjalanan ini?

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Shori.

“Kau tak tahu apa-apa soal Ibuku!!” air mata Hani lalu mengalir tanpa bisa ia bendung, sang putri pun berlari meninggalkan Shori yang langsung menyesali apa yang ia katakan.

“Are? Mau kemana Putri Hani?” Chinen yang baru saja datang dengan setumpuk batang kayu kaget melihat Hani berlari ke arah hutan.

“Wakannai…” jawab Shori acuh. Dirinya masih sangat kesal.

Chinen meletakkan kayu yang ia bawa dan segera berlari mengejar Hani ke dalam hutan.

“Oujou-sama!! Oujou-sama!!” teriak Chinen hingga berhasil meraih tangan Hani, “Chotto… Oujou-sama… ada apa?”

Hani tak mau berbalik dan memperlihatkan tangisnya pada Chinen, menggeleng pelan.

“Ada sesuatu yang Pangeran Satou katakan?” tanya Chinen lagi kini dengan nada lebih lembut.

“Ne…Chinen-kun… apa Ayahku tidak mencintai Ibu kandungku? Sehingga ia mengusirnya dan hidup di desa sendirian.

Chinen menarik tubuh Hani hingga menghadap ke arahnya, lalu menggelng pelan, “Tidak mungkin Oujou-sama…semuanya hanya keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mempertahankan hubungan mereka…” jawabnya lembut.

Hani tak menjawab, masih terisak pelan.

Chinen mengeluarkan sapu tangan dari jasnya, lalu memberikannya pada Hani.

“Kita sudah berjalan seharian, Oujou-sama… lebih baik kita kembali dan makan siang… oke?” ajak Chinen.

Hani mengangguk sambil menutupi mukanya dengan sapu tangan milik Chinen.

The unreachable stars are twinkling
Wishing to touch them, I softly asked them a question
If hope is restored to my heart,
I’ll just chase after them

Mereka masih harus berjalan lebih dari seharian untuk sampai di desa. Baik Shori maupun Hani tak mau membuka pembicaraan. Chinen sudah berusaha agar putri Hani mau berbicara pada Shori, tapi Hani menolaknya mentah-mentah.

Ia masih sakit hati atas perkataan Shori yang menurutnya sangat tidak sopan dan tidak memikirkan perasaannya.

“Oujou-sama… memaafkan adalah salah satu sifat dari seorang putri, kan? Kenapa tak coba memaafkannya?” ucap Chinen yang berjalan di sebelah Hani.

“Tidak…aku tidak mau bicara lagi dengannya!!” seru Hani sambil berlari menjauh.

Memang mereka sengaja berpergian seperti orang biasa. Karena ini adalah perjalanan rahasia. Tidak boleh ada yang tahu kalau putri Hani ke desa untuk menemui Ibunya. Sehingga mereka hanya di antar sampai batas hutan dengan kereta kencana. Setelahnya mereka harus berjalan sendiri.

PLETAK!

Sebuah batu tepat mengenai tangan Chinen. Seketika pemuda itu bersiap dan melihat ke segala arah.

“Kawanan bandit!” seru Shori sambil menghampiri Chinen dan Hani.

“Hah?” tanya Chinen bingung.

“Aku bertemu dengan mereka beberapa kali saat sedang berburu dengan ayahku!” jelas Shori lagi.

Kini Shori mengeluarkan pedangnya dan berkata pada Chinen, “Pergilah! Bawa Hani-chan ke batas desa. Tunggu aku disana!” perintah Shori dengan sedikit berbisik.

“Tapi… Pangeran Shori…bagaimana jika anda…”

“Pergilah! SEKARANG!!”

Chinen menarik tangan Hani dan ketika gadis itu menoleh, sekawanan orang sedang mengerubuni Shori. Sementara itu Shori berusaha melawan mereka.

“Chinen-kun…apa Shori akan baik-baik saja?!” air mata Hani mulai mengalir. Ia takut terjadi apa-apa pada Shori.

“Ia meminta kita menunggu di batas desa, mudah-mudahan ia akan baik-baik saja!!” seru Chinen sambil terus berlari menjauh dari kawanan itu.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?” gumam Hani sambil masih terus menangis.

Chinen tak mampu menjawabnya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang adalah membawa Hani ke tempat yang aman.

“An endless sky is there”
Just now a confident voice could be heard
Shall we change that we can’t fly and go?
Let’s start over by taking a step forward,
however many times
Energetically

Chinen membuka jasnya dan memakaikannya pada Hani yang sejak tadi hanya berlutut, memikirkan nasib Shori.

Sudah lewat beberapa jam, tapi Shori tak muncul di batas desa.

Pikiran jelek mulai menghantuinya, sendirian melawan puluhan orang tampaknya mustahil. Walaupun Hani tahu sebagai pangeran, Shori punya kemampuan bertarung yang hebat.

Hujan mulai turun dan Hani menolak untuk masuk desa lalu berteduh. Ia masih ingin menunggu Shori datang.

“Oujou-sama… saya akan menunggu Pangeran Satou disini… bagaimana jika anda tunggu di desa saja?” bujuk Chinen.

Hani menggeleng, ia merasa berhutang budi pada Shori. Dan hatinya tak bisa tenang sampai Shori muncul id hadapannya.

“Perbekalan kita tertinggal, Oujou-sama…”

Ya, tadi saat berlari, mereka baru sadar kalau perbekalan mereka, termasuk jas hujan pun tertinggal bersama Shori.

“Pangeran!!” seru Chinen kaget melihat Shori berjalan terpincang-pincang dengan wajah lebam, darah mengalir dari pelipis kanannya dan tangan kanannya yang juga mengeluarkan darah. Namun sebelah tangan lainnya membawa tas mereka.

Hani beranjak dan menatap Shori dengan takjub.

“Maaf…uang kita tersita…” ucapnya menahan sakit dan terjatuh tepat di hadapan mereka.

“Shori!!” Hani berlari dan memeluk Shori, “Yokatta…yokatta kau masih hidup…” kini Hani kembali menangis, tapi bukan karena sedih kini ia lega sekali melihat Shori.

Chinen menghampiri mereka dan membantu Shori bangun, “Ayo…kita harus ke klinik secepatnya…”

More than the piled-up excuses
Let’s try believing in the truth
More than a happiness full of lies
Let’s smile honestly
If one more star falls,
I’ll reach out my hand so that I might catch it
Because a pure white future can continue anywhere,
I just want to make sure

“Pangeran Satou orang yang kuat…dia akan segera sembuh…” kata Chinen menenangkan Hani yang masih terisak di bangku ruang tunggu klinik itu.

“Aku merasa bersalah padanya… terakhir kali kami bicara, kami malah bertengkar…” kata Hani terbata-bata.

Chinen tak menjawab dan hanya diam mendampingi sang putri.

Beberapa saat kemudian Shori dinyatakan telah selesai diobati. Chinen dan Hani dipersilahkan masuk ke ruang perawatan.

“Douzo Oujou-sama…” ucap Chinen membukakan pintu.

“Eh? Chinen-ku  tak ikut?” Hani bertanya dengan bingung.

“Tidak Oujou-sama… silahkan…” Chinen tahu bahwa mereka butuh waktu berdua.

Hani masuk dan melihat nafas teratur Shori yang sudah mulai tenang. Tapi ia belum tidur, matanya masih terbuka ketika Hani menghampiri pemuda itu.

“Shori…kau… baik-baik saja?” tanya Hani takut-takut.

“Jelas kan? Aku tidak baik-baik saja hanniii~” katanya, namun berusaha tersenyum pada Hani.

Hani menyeka air mata leganya, “Yokatta…”

“Waaa~ Putri Hani menangis untukku?” Shori terkekeh pelan sambil menahan sakit.

Hani memukul pelan lengan Shori, “Aku benar-benar khawatir!!” balas Hani.

“Tahun-tahun berikutnya, aku akan jadi lebih kuat… aku akan bisa melindungimu…” ucap Shori kini dengan wajah serius.

Hani tak mampu menjawab.

“Anou… Hannniii..” lagi-lagi Shori memanggilnya dengan ‘Honey’, “Soal perkataanku padamu, maaf ya…aku tak bermaksud jahat…setelahnya aku sangat menyesal mengatakan hal itu…”

Hani mengangguk, “Aku telah memaafkanmu… maaf juga aku menamparmu…” ujar Hani pelan.

Shori tersenyum, “Aku memang pantas mendapatkan tamparan itu…” mata Shori sedikit demi sedikit seperti akan tertutup, sepertinya efek obat mulai mempengaruhinya.

“Aku akan keluar agar kau bisa istirahat…” kata Hani hendak beranjak ketika tangan Shori menahanya.

“Tetap disini….haaannii~” dan Shori pun tertidur sambil masih menggenggam tangan Hani yang membuat gadis itu tak berani beranjak dari sisi Shori.

“Yokatta na… Putri Hani sudah berbaikan dengan Pangeran Satou…” ucap Chinen yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari balik pintu.

Chinen menutup matanya sekilas, menyesap udara yang terasa menyesakkan dadanya, “Aku tak akan melanggar peraturan…aku tak akan jatuh cinta pada Putri Hani…” ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.

“There is nothing that you can’t see”
That confident song can be heard
These feelings that won’t disappear are right here
No matter when,
let’s try to stand up one more time
Energetically

Beberapa hari kemudian Shori sudah bisa bergerak. Mereka memutuskan untuk memulai pencarian terhadap Ibu dari Hani. Walaupun Shori masih sedikit lemah, tapi ia sudah bisa berjalan dengan normal dan lukanya masih sedikit sakit.

“Chinen-kun… kau yakin ini rumahnya?” tanya Hani sambil menatap Chinen.

“Yakin Oujou-sama… saya sudah mencarinya selama pangeran Shori di klinik… dan menurut orang-orang, inilah rumahnya…”

Hani menelan ludah, ia merasa tiba-tiba keringat dingin keluar dari badannya. Ia tiba-tiba merasa tak siap dengan ini semua. Padahal ia sudah mempersiapkan ini dari sejak ia tahu bahwa pada umurnya ke-13, ia boleh datang ke tempat ini.

Dengan sangat hati-hati Hani mengetuk pintu itu, beberapa saat kemudian sebuah wajah muncul, seorang gadis kecil membukakan pintu.

“Cari siapa?” tanyanya manis.

“Anou…hmmm… Minagawa Suzu-san ada?” ketika menyebut nama Ibunya, ia sedikit canggung.

“Sebentar…” si gadis menoleh dan berteriak, “Okaaa-saaann!! Ada yang mencarimu…”

Langkah kaki terdengar, si gadis kecil meninggalkan pintu, sementara seorang wanita muncul di pintu.

Hani terdiam.

Ibunya kini berdiri di hadapannya, sama-sama tak bisa berbicara.

“Ma….ma…” ucap Hani pelan.

Wanita itu tak bisa mengatakan apapun, ia menutup mulutnya tak percaya, air matanya mengalir dan terlihat di matanya kerinduan yang sama seperti yang Hani rasakan.

“Hani?! Hani?” tanya si wanita tak percaya.

“Iya Mama…ini Hani…” jawab Hani yang kini berurai air mata juga.

“Hani!!” wanita itu memeluk Hani dengan erat.

==============

Perjalanan terasa terlalu panjang bagi Hani. Ia terus terdiam setelah pulang dari rumah Ibunya. Hatinya terasa terlalu sakit hingga hujan pun tak terasa dingin lagi di tubuhnya.

“Oujou-sama…” bisik Chinen lirih, ia bermaksud menghampiri Hani ketika Shori sudah terlebih dahulu menghampiri Hani.

“Kenapa Hani?” tanya Shori yang berjalan di sebelahnya.

Hani menoleh, menatap Shori dan menggeleng pelan.

“Apa karena bertemu dengan Ibumu?”

Hani tersenyum, “Iya… aku ingin sekali membawa Mama kembali ke istana…tapi ternyata aku salah…” ucapnya lirih.

“Salah? Karena?”

“Aku selalu berfikir bahwa Mama kesepian dan ingin kembali ke istana… tapi aku salah, Mama sudah punya kehidupan yang baru…aku lah yang selama ini tidak maju dengan terus memikirkan kemungkinan Mama akan kembali bersama-sama dengan kami…”

Ya, Ibunya sudah punya suami dan anak di desa. Hani sebenarnya senang mengetahui ia punya adik, tapi ia tahu dengan kenyataan ini, Ibunya mustahil akan kembali ke istana seperti angan-angannya selama ini.

Shori tak menjawab, hanya menepuk pelan kepala Hani, “Ganbatte ne… Hani-chan…”

“Ngomong-ngomong… baru kali ini kau benar-benar memanggilku Hani…” ujar Hani lalu terkekeh pada Shori.

Wajah Shori tiba-tiba saja berubah merah padam, “Ah! Lewat sini!!” katanya mengalihkan pembicaraan sambil berjalan mendahului Hani.

Perjalanan pulang kali ini memang dipandu oleh Shori. Ia tahu jalan mana yang tidak akan bertemu dengan bandit-bandit yang kemarin menangkap mereka.

“Oujou-sama…” panggil Chinen, “Yokatta putri sudah bisa tersenyum lagi, karena pangeran Satou kah?” tanya si pemuda pelan.

Hani memiringkan kepalanya, “Maa ne…entahlah…”

“Putri harus bersyukur satu hal dari perjalanan kita kali ini,”

“Hah? Apa?”

“Dengan melihat langsung ke kediaman Ibu, kini Putri pasti akan bisa melanjutkan hidupnya dengan tersenyum… karena tahu bahwa Ibu Putri baik-baik saja dan bahagia, kan?” ucap Chinen.

Hani mengangguk, “Betul sekali!! Kau memang pintar… coba Chinen-kun seorang pangeran juga…”

Chinen menatap Hani kaget, “Memangnya kenapa?”

“Pasti Chinen-kun akan keren sekali… hehehe…”

Chinen hanya mengangguk sekilas dan kembali berjalan di sebelah Hani. Ia membatin dalam hati, ‘Kalau aku pangeran, aku tidak akan membiarkan Shori menjadi tunanganmu…’. Namun tentu saja Chinen tak mungkin mengungkapnya pada gadis itu.

If my tear tracks dry, then I’ll call out for you again
Answer me
And we’ll go to a future we haven’t seen before
I’ve realized I’m not alone
Let’s aim for that shining door together
================

“Terima kasih atas semuanya, Haaannnii…” ucap Shori pagi itu.

Mengejutkan tiba-tiba saja Shori datang. Tapi kali ini bukan untuk menggodanya seperti biasa, tapi Shori berpamitan untuk berkelana.

“Anou… memangnya kenapa kau mau berkelana?” tanya Hani bingung.

Shori tersenyum, “Saat di hutan dan kita diserang bandit, aku sadar banyak hal yang belum aku pelajari, dan aku belum sekuat apa yang aku kira. Karena itulah, aku akan pergi untuk menjadi lebih kuat… dan maksudku berpamitan….” Shori menggantung kalimatnya, membenarkan letak kerahnya karena gugup, “Aku ingin Hani-chan menungguku…”

“Hah?” Hani merasa pipinya menjadi panas, dan dadanya berdetak lebih cepat saat Shori mengatakan hal itu.

“Setelah aku pergi, dan saat kembali aku bisa jadi pendamping Hani-chan yang lebih pantas…”

Chinen yang berdiri di sebelah Hani hanya terkekeh pelan, “Hati-hati Pangeran Satou… kalau terlalu lama, aku bisa saja merebut Hani-chan darimu…”

Muka Shori berubah masam, “Beberapa tahun ke depan aku akan lebih keren darimu! Dan Hani-chan tetap akan jadi milikku…” ucap Shori lantang.

Chinen menunduk dan mengiyakan ucapan Shori dengan anggukan kecil.

“Jya! Aku pergi dulu Haaannniii~” kata Shori sambil membuka topinya dan menunduk sekilas.

“Hmmm… hati-hati di jalan…” ucap Hani gugup.

Saat Shori sudah pergi, Hani menatap Chinen dengan pandangan aneh, “Kenapa Chinen-kun berkata seperti itu?”

“Mungkin Oujou-sama akan mengerti suatu saat nanti… jangan terburu-buru Oujou-sama… saya tetap akan mendampingimu hingga nanti…”

Hani mengerutkan dahinya tak mengerti. Tapi ia setuju pada Chinen. Entah berapa tahun lagi saat Shori pulang, ia mungkin akan mengerti apa yang Chinen maksudkan. Hidupnya masih panjang dan ia masih bisa memilih siapapun nantinya.

“Chinen-kun…” panggil Hani.

“Ya?”

“Panggil aku Hani-chan saja, ya?”

“Soal itu….” Chinen menatap Hani, “Belum bisa Oujou-sama…”

“An endless sky is there”
Just now a confident voice could be heard
Shall we change that we can’t fly and go?
Let’s start over by taking a step forward,
however many times

“There is nothing that you can’t see”
That confident song can be heard
These feelings that won’t disappear are right here
No matter when, let’s try to stand up one more time
(Arashi- Hatenai Sora)
================

OWARI~
Maaf kalo geje, maaf kalau tidak sesuai harapan…
Akhirnya satu request beres…
#lapkeringet…
COMMENTS ARE LOVE… 🙂
Please don’t be a silent reader…
I DO LOVE COMMENTS… 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Journey To Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s