[Multichapter] Treasure Hunting (Chap 2) ~Sesi Latihan~

Title        : Treasure Hunting ~Sesi Latihan~
Type          : Multichapter
Chapter     : 2
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Fantasy, a little bit romance 😛 *teuteup* #Plakk
Ratting    : PG-13 *untuk sekarang*
Fandom    : JE, HSJ, Arashi
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Morimoto Miyako (OC), Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC), and all member of Arashi… (yeah who doesn’t know them?) lol
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members and Arashi’s members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Yoko charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Natsuru pinjem juga punya Irene, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
And saia banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~ 

 

Treasure Hunting
~ Chapter 2 ~
~Sesi Latihan~

Miki pulang dengan sedikit kebingungan. Ia baru tahu kalau rasanya terpilih itu sangat sedih dan bahkan kini ia merasa sangat merana. Miki diantar hingga ke pintu rumahnya, seorang anggota pasukan pengamanan memberi tahunya ia diperbolehkan untuk berpamitan selama satu jam saja, setelahnya ia harus mengikuti seluruh rangkaian acara lainnya.

Mama dan Papa serentak memeluknya ketika ia pulang.

“Mama…Papa… Aku…” Miki menangis karena terlalu takut.

“Maafkan Papa tidak bisa menolongmu nak…” pria paruh baya itu terlihat sangat sedih melihat putri semata wayangnya yang bahkan baru berumur empat belas tahun harus terjun ke arena Treasure Hunting.

Mama tak berkata apapun, hanya terus memeluk putrinya itu sambil menangis tak henti.

Papa membuka kepalan tangannya, memperlihatkan sebuah kalung emas yang indah dan berliontin kupu-kupu mungil, “Semoga ini bisa menjagamu…”

Miki terus menangis dan mengangguk hingga sesenggukan.

Sejam kemudian seorang pasukan pengamanan menarik si gadis mungil itu kembali masuk ke mobil. Bersiap menuju arena.

Daiki masuk ke rumahnya saat melihat Ibunya menunduk di kursi yang menghadap ke jendela langsung. Ibunya kembali jatuh ke jurang yang sama ketika Kakaknya terpilih. Selama pertandingan berlangsung, Daiki ingat setiap tangisan ibunya yang terus merasa sedih dan hampir bunuh diri karena kakaknya adalah kebanggaan baginya. Dan saat kakaknya terbunuh, hampir seminggu Ibunya hanya minum air putih, sakit dan merasa sudah mati.

Selanjutnya Ibunya selalu berpura-pura bahwa kakaknya masih hidup, berbicara sendiri dan bahkan merasa bahwa kakaknya pulang setiap sore, ribut meminta makan seperti biasanya.

Setelah tiga tahun ini kehidupan mereka berangsur berjalan normal kembali, Daiki malah harus berangkat ke arena yang sama.

“Okaa-san…” panggil Daiki pelan.

Ibunya tak bergeming, hanya Daiki mendengar isakan pelan dari mulut Ibunya itu.

Daiki menghampiri Ibunya, “Aku akan pulang Bu…aku akan mencoba apa saja untuk bertahan hidup…” katanya lagi sambil menggenggam tangan Ibunya.

Wanita paruh baya itu menatap mata Daiki yang menunjukkan kesungguhan, “Daiki…”

“Dengarkan aku! Kau tak boleh begini…doakan aku terus…aku tahu aku bisa hidup bu…” kini Daiki memeluk Ibunya, mencoba menenangkannya.

Keito berdiri di depan kamar Natsuki yang terus-terusan menangis sejak tadi.

“Natsuki…berhenti menangis begitu…” alasan Keito sebenarnya ia tak tega melihat Natsuki terus menerus menangis.

“Tapi Keito…aku takut…” ucapnya sambil masih membereskan bajunya ke dalam sebuah tas besar.

Keito menghampiri Natsuki, meraih tangan si gadis yang tampak gemetar.

“Aku juga akan ada disana… asal kau tak jauh-jauh dariku… kau akan baik-baik saja,” ucap Keito meyakinkan gadis itu.

“Janji?”

Sejak kecil Natsuki memang tinggal bersama keluarga Okamoto. Karena kedua orang tua Natsuki sudah tidak ada. Walaupun statusnya hanya sepupu, tapi Keito sendiri terkadang merasa Natsuki seperti adik kandungnya.

“Aku janji…sekarang berhenti menangis…” ucap Keito lalu mengusap air mata Natsuki.

===============

Perjalanan menuju pusat kota terasa terlalu panjang bagi Saifu. Menurut seorang pasukan pengamanan, mereka akan tiba di pusat kota sekitar besok pagi. Sehingga mereka punya waktu sekitar lima jam lagi di dalam kereta ekspress itu.

Peserta yang terpilih dari kota mereka ada tiga orang. Saifu, Yamada, dan seorang gadis bernama Opi yang sejak kemarin hanya mengurung diri di kamar, meminta makanannya di antar ke kamar dan Saifu hanya melihatnya sekilas saat mereka hendak masuk ke dalam kereta.

Saifu memandangi video yang di siapkan oleh pihak penyelenggara. Seluruh cuplikan video Treasure Hunting yang sudah berlangsung selama 21 kali.

Matanya kembali basah oleh air mata. Mengingat sebentar lagi setidaknya ia harus membunuh beberapa orang jika ia ingin kembali ke kota nya, berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai.

Tapi sejak kecil, yang Saifu pelajari hanya tetek bengek soal kewanitaan saja. Jika disuruh memasak atau merajut mungkin ia bisa, tapi tidak dengan membunuh orang. Ia tak pernah belajar soal itu.

Sebuah ketukan terdengar dari luar kamarnya. Saifu membukanya, dan mendapati Yamada berdiri di depan pintu.

“Tak bisa tidur juga?” tanya Yamada memandang mata Saifu yang kantung matanya terlihat sedikit mengerikan. Tidak tidur dan menangis terus bukan padanan yang baik.

“Mimpi buruk terus…” jawab Saifu.

Saifu sudah mencoba tidur, namun hasilnya ia terus terbangun beberapa menit sekali dengan sangat letih karena mimpi buruk yang menghantuinya.

“Kemarilah…” Yamada mematikan video yang masih menyala, lalu menarik Saifu ke atas tempat tidur.

Tangan Yamada merengkuh tubuh ringkih Saifu yang masih saja gemetaran dan tampak rapuh itu.

“Mungkin aku bisa membantumu…” Saifu tak punya alasan untuk menolak pelukan Yamada malam itu.

“Kau lihat gadis yang di kamar sebelah?” tanya Inoo pada Sora yang sibuk menajamkan pisaunya.

“Empat belas tahun, namanya Miki…” jawab Sora acuh.

“Dia baru empat belas…apa kau pikir kita harus mengajaknya masuk dalam lingkaran kita? Toh dia juga satu kota dengan kita…” kata Inoo lagi.

Sora memandang Inoo, “Aku mengerti kau pasti merasa ia seperti adik-adikmu…tapi ini permainan yang keras. Tidak bijak membawanya sementara ia hanya akan merepotkan kita…” tolak Sora lalu kembali konsentrasi pada pisaunya.

“Tapi Sora… kau juga tidak akan tega melihatnya mati begitu saja karena ia sama sekali tak bisa apapun, kan?”

“Baiklah…berhenti merengek… tapi saat ia mulai merepotkan, kuharap kau tega meninggalkannya begitu saja…” putus Sora akhirnya.

“Wakatta…” Inoo tak mungkin meninggalkan Miki sendirian jika tidak sangat terpaksa. Gadis kecil itu mirip sekali dengan adiknya di rumah.

===============

Ke dua puluh peserta sudah berkumpul di sebuah ruangan besar. Semuanya memakai baju yang mirip satu sama lain. Baju yang sudah disiapkan oleh pihak panitia.

Natsuru menyenggol bahu Yoko, “Itu…pria itu tampan…” ucapnya menunjuk ke arah Yamada yang berdiri tak jauh dari mereka, pemuda itu menggenggam tangan Saifu dengan sikap protektif.

“Natsu… ini bukan tempat untuk cuci mata!” bentak Yoko sedikit berbisik.

“Yoko gak asik nih…padahal kan banyak cowok ganteng…itu tuh! Yang di pojok itu juga ganteng…” kata Natsuru menunjuk ke arah Yuya dan Yabu yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu.

“Natsu!” Yoko menurunkan tangan Natsuru yang masih menunjuk ke arah orang-orang itu, “Bisakah kau berhenti mengoceh…”

Natsuru manyun dan mulai menatap setiap orang yang ada di tempat itu. Kalau Yoko tak mau, biarkan dia yang menikmati pemandangan para pria tampan disitu.

Sementara itu di sudut lain seorang Riisa sedang mencoba menenangkan dirinya, berharap ini hanyalah mimpi yang sesaat kemudian bisa membuatnya terbangun.

“Tenang saja Rii-chan…” bisik Yuto yang sejak mereka berangkat selalu terlihat tegar dan tak gugup.

“Yuto-kun tidak takut?”

“Sedikit…bohong jika aku tidak takut…tapi, ini sudah nasib kita kan? Jadi kenapa tidak kita nikmati dulu saja ini semua…”

Beberapa menit kemudian terdengar sebuah hentakan. Beberapa kamera masuk, diikuti lima orang berjubah hitam dan pembawa acara yang sudah terkenal dan membawakan acara Treasure Hunting setiap tahunnya, Shingo Murakami. Hanya Tuhan yang tahu kenapa pria itu tak pernah terlihat tua. Beberapa spekulasi mengatakan Shingo hanyalah sebuah robot yang diciptakan Presiden Akanishi. Tapi hal itu tak pernah terbukti kebenarannya.

“Selamat datang para peserta!!!” teriakan itu terdengar dari depan mimbar tempat Shingo berdiri sambil menyunggingkan senyum khasnya.

“Treasure Hunting ke dua puluh dua akan segera dimulaaaaiii!!!” setelah itu terdengar lagu kebangsaan negara Nipon menggema di ruangan itu.

“Tahun ke dua puluh dua yang sangat menggembirakan…aku bisa mengatakan peserta kali ini pasti dipilih dari yang terbaik…” ia bertepuk tangan seorang diri sementara para peserta hanya kebingungan.

“Aku tak akan buang waktu lagi. Sebelum kalian turun ke arena, tentu saja kalian akan berlatih selama seminggu di tempat ini!! Kalian akan dibagi menjadi kelompok-kelompok dan dilatih oleh pemenang Treasure Hunting sebelumnya…”

Satu persatu orang-orang berjubah itu membuka jubah hitamnya. Betapa kagetnya Opi ketika orang ke lima, Sakurai Sho berdiri di depan.

Itu kakaknya.

Sakurai Sho.

Ia tak akan salah lihat. Setelah beberapa tahun ini Sho selalu menolak untuk menjadi mentor. Sho memang tidak memenangkan Treasure Hunting, tapi berhasil kembali dengan selamat walaupun membuat ia kehilangan sebelah tangannya. Sakurai Sho ditawari menjadi mentor karena ia berhasil selamat, bisa dibilang ia pemenang kedua di tahun itu.

Mata Opi membulat tak percaya. Ia berusaha mengendalikan dirinya.

“Tepuk tangan untuk mentor kitaaa!!” seru Shingo dengan heboh.

“Baiklah…aku akan membacakan nama kelompok kalian yang sudah di tentukan secara acak… empat orang setiap kelompoknya…”

Shingo mengklik layar yang ada di hadapannya, “Takaki Yuya! Hideyoshi Sora! Morimoto Miyako! Yamada Ryousuke!” keempat orang yang disebut namanya pun maju.

“Jangan panik…” bisik Yamada pelan pada Saifu yang berusaha tegar ketika Yamada melepaskan genggamannya, berjalan ke depan.

“Kalian kelompok satu… dengan mentor Ohno Satoshi!!” seorang pria yang Sora tahu sebagai pemenang tahun ke delapan. Sudah beberapa tahun ini menjadi mentor, dan Sora ingat ia menonton video saat pria itu menang. Gadis itu tahu ia bisa menang dibawah pelatihan seorang Ohno yang bisa membunuh tiga orang tanpa ampun dalam sekali waktu.

“Kelompok kedua dengan mentor Ninomiya Kazunari…” pria yang disebut Ninomiya berjalan maju, “Okamoto Keito! Sakura Natsuru! Yaotome Hikaru! Yanagi Riisa!!”

Kelompok kedua pun maju.

“Selanjutnyaaa… Sugawara Ichiko! Morimoto Ryutaro! Yabu Kota! Sakamoto Yoko! Bersama mentor Aiba Masaki!!”

Ichiko bergidik ketika mengetahui mentornya Aiba. Pria yang pura-pura lemah di awal pertarungan, lalu saat-saat terakhir ia berhasil menemukan cara untuk mengelabui seorang gadis yang hampir menemukan harta karunnya dan membunuh beberapa orang dengan keji sebelum mengambil hadiahnya.

“Kelompok empat bersama Sakurai Sho… Inoo Kei!! Chinen Yuuri! Kanagawa Miki! Sakurai Opi!!”

Sho memandang Opi yang berjalan ke arahnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membantu gadis itu paling tidak melewati trainingnya. Mencoba menjelaskan apa saja yang bisa ia beri tahu sebelum melepaskan Opi ke arena yang mengerikan. Ia hanya ingin adiknya kembali pulang.

“Kelompok terakhir tentu saja Nakajima Yuto! Arioka Daiki! Yajima Natsuki dan Suzuki Saifu!! Bersama mentor tampan kita, Matsumoto Jun!!”

Pemenang yang paling terkenal selain Aiba Masaki adalah Matsumoto Jun. Pria itu tampan sekali sehingga para penduduk pusat kota memberikan banyak sponsor dan pria itu menang dengan mudah. Jun menyeringai lalu menyambut keempat anak didiknya yang baru.

“Pasti kalian sudah tak sabar belajar menangkap binatang atau mungkin membuat jerat!! Tapi sebelumnya, kita akan mengenalkan dua lawan kalian yang akan kalian temui di arena nanti…”

Sebuah gambar muncul.

Inoo mengetahuinya sebagai Nakajima Kento. Pemuda yang menang di umur enam belas tahun, ia cerdik dan licik. Bahkan berhasil membunuh dua orang dewasa berumur dua puluh dua yang salah satunya adalah pemenang tahun-tahun sebelumnya.

“Nakajima Kento… pemenang dua tahun lalu…”

Setelah beberapa saat, sebuah gambar muncul lagi. Kini giliran Riisa yang terkesiap. Itu temannya. Riisa ingat setelah kemenangannya, ia tak pernah bertemu dengan temannya itu.

“Takahashi Nu…” sahut Shingo, “Pemenang tahun lalu!!”

Pandangan gadis itu polos namun semua orang tahu bagaimana gadis itu menghabisi setengah dari peserta dengan tangannya sendiri. Bahkan berhasil mengalahkan seorang bersenjata api dan pria tinggi besar yang mati di tangan seorang Nu.

Walaupun Riisa mengenalnya, ia merasa asing melihat Nu yang sekarang. Seakan gadis itu tak lagi punya belas kasihan. Berbeda dengan Nu yang menangis saat namanya terpilih tahun lalu.

“Baiklaaahh!! Latihan dimulaaaiii!!” seru Shingo.

================

“Kenapa Nii-chan ada disini?” tanya Opi bingung.

Sho menyiapkan tali untuk ke empat anak didiknya. Sementara yang lain mulai mencoba membuat jerat yang dicontohkan oleh Sho, Opi menghampiri kakaknya itu.

Pria itu tak menjawab, tapi memandangi adiknya lama.

“Nii-chan…” panggil Opi lagi.

“Aku memutuskan untuk menerima tawaran untuk menjadi mentor…” jawab Sho akhirnya.

“Kenapa? Karena aku ada disini?”

Sho beralih ke Miki yang tampak kesulitan. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Opi karena terlalu rumit untuknya. Ia disini untuk mengantar Opi ke arena dan mungkin itu artinya mengantar adiknya itu ke kematiannya. Ia harus mempersiapkan Opi sebaik mungkin.

“Nii-chan…” panggil Opi lagi.

“Baiklah…kita mulai membuat jerat selanjutnya!!” seru Sho sambil menginstruksikan caranya tanpa menggubris Opi yang masih terlihat bingung.

“Kita bicarakan nanti…nona Sakurai…” kata Sho dingin.

“Gadis cantik tak seharusnya melempar pisau seperti itu…” ucap Yuya menghampiri Sora yang sedang melempar pisau lipat ke sasaran di depannya.

“Maaf tuan Takaki… anda mengganggu…” kata Sora tak menggubris si pemuda yang berusaha berteman dengannya.

“Kau dan Inoo itu pacaran ya? Aku melihat tayangan ulang semalam…dan sepertinya kalian sangat dekat…” tanya Yuya sambil ikut melempar pisau yang langsung kena sasaran.

Sora menatapnya dengan kesal, “Bukan urusanmu!”

BRUGH!

Pisau milik Yuya jatuh dihantam oleh pisau yang Sora lemparkan.

“Waw…gadis berbahaya…” ucap Yuya sambil mengangkat tangannya dan meninggalkan Sora sendirian.

Sementara itu di sudut lain, Daiki sedang mengajari Saifu berkamuflase dengan berbagai cat yang tersedia di tempat itu.

“Kau akan tak terlihat dengan beberapa polesan…” ucap Daiki lalu mengecat tangan Saifu yang kini hampir terlihat seperti dedaunan.

“Sugoooii!” seru Saifu yang akhirnya bisa tersenyum.

“Kau ternyata bisa tersenyum, ya?” kata Daiki memperhatikan Saifu.

“Ini menyenangkan…” untuk pertama kalinya sejak ia terpilih dan maju ke panggung, Saifu bisa merasakan sedikit kesenangan yang membuatnya lupa pada statusnya sebagai peserta Treasure Hunting.

“Kau bisa tambahkan sedikit warna ini agar terlihat lebih alami…” ucap Daiki lagi-lagi membantu Saifu mengecat tangannya.

===============

Latihan hari pertama berakhir pukul empat sore. Semua peserta kembali ke asrama masing-masing. Gedung asrama terdiri dari lima lantai yang mewakili kelompok mereka masing-masing bersama mentor mereka.

“Hal pertama yang harus kalian waspadai adalah kenali musuh kalian…” ucap Aiba saat mereka tiba di lantai tiga, tempat asrama mereka.

Asrama ini terlihat sangat mewah, segala fasilitas terpenuhi. Di ruang tengah terdapat TV layar datar yang hanya bisa memutar siaran ulang Treasure Hunting atau melihat pengumuman-pengumuman penting berkaitan dengan lomba ini.

“Musuh kita? Maksudnya?” tanya Ryutaro bingung.

Aiba tak menggubris pertanyaan Ryutaro, “Dari sekilas kulihat latihan tadi, setidaknya ada beberapa orang yang harus kalian waspadai…”

“Siapa saja?” tanya Yoko penasaran.

“Kau lihat gadis di kelompok satu. Sora pandai menggunakan pisau…jangan berada terlalu dekat dengannya. Ia sangat jitu dalam melempar pisau dan ku tebak ia juga bisa memanah dan berkelahi…lihat matanya sangat berbahaya…” kata Aiba.

“Hmmm…” Yabu ogah-ogahan mendengarnya.

“Lalu di kelompok dua ada Hikaru yang sepertinya punya ambisi yang besar… ia bisa jadi berbahaya saat keadaan tak bersahabat dengannya. Kalian harus hati-hati…”

“Kurasa pria bernama Inoo juga berbahaya…” kata Ichiko tiba-tiba menimpali.

“Ia punya teknik yang hampir mirip dengan Sora…” tambah Aiba, “Kau benar…”

“Di kelompok lima… kalian tidak akan mengira…tapi kurasa gadis bernama Saifu itu cukup berbahaya…”

“Kenapa?” tanya Yoko bingung. Padahal yang ia lihat gadis itu sangat lemah.

“Karena ia mirip denganku…” jawab Aiba yang langsung dimengerti oleh Ichiko.

============

Latihan hari-hari selanjutnya setiap peserta dibekali banyak pengetahuan soal bagaimana caranya bertahan hidup. Setiap peserta sepertinya mulai mencoba hal-hal baru yang belum pernah mereka coba sebelumnya.

“Besok kalian akan melakukan wawancara dengan Shingo…pastikan kalian menjawab pertanyaannya dengan bagus…” ucap Ninomiya pada anak didiknya.

“Karena kita harus bisa mendapatkan sponsor, kan?” tanya Riisa memastikan.

Ninomiya mengangguk, “Ini menentukan kalian akan bertahan hidup atau tidak…”

Sementara yang lainnya sedang makan dan berdiskusi, Keito menunduk memikirkan hal lain. Sejak beberapa hari ini ia tidak bertemu Natsuki. Padahal dirinya sangat mengkhawatirkan gadis itu. Memang Natsuki bersama Daiki, tapi ia tak yakin kalau Daiki bisa memperhatikan gadis itu.

“Kenapa kita tak boleh ke asrama lain?” tanya Keito pada mentornya yang sibuk mengoleskan selai ke rotinya.

“Tidak ada yang spesial…kau boleh ke asrama lain kalau kau mau…” ucapnya masa bodoh.

Keito langsung beranjak dari ruang makan, ia masuk lift dan menuju ke lantai lima. Tidak peduli dengan pandangan aneh dari orang-orang lain di ruang makan.

“Dia lagi jatuh cinta ya?” tanya Natsuru pada Hikaru yang juga sibuk makan.

“Hah? Bukan urusanku…” jawab Hikaru malas.

Hampir lima hari ia bersama teman satu kelompoknya, dan menyadari bahwa Natsuru adalah orang yang sangat ceria bahkan di saat genting seperti malam ini ada tes terakhir. Hikaru menyadari bahwa walaupun Natsuru ceria, gadis itu memiliki aura yang cukup berbahaya.

“Tapi kalian berdua kamarnya bersebelahan kan? Ia pernah mengigau nama gadis?”

“Kenapa? Kau menyukai Keito?” tembak Hikaru langsung.

Natsuru bersungut-sungut lalu membalas dengan manyun malas untuk menjawab pertanyaan Hikaru yang langsung terbahak melihat wajah gadis itu.

Keito tiba di lantai lima dan segera menemukan pintu setelah pintu liftnya terbuka. Ia mengecheck sekitarnya sebelum yakin tidak ada kamera disitu. Lalu segera mengetuk pintu itu.

Seraut wajah muncul, “Cari siapa?”

Keito mengenalnya sebagai Nakajima Yuto. Beberapa hari ini pemuda itu memperlihatkan kemampuan berlari yang luar biasa di tempat latihan.

“Hmmm… Natsuki… Yajima Natsuki…” jawab Keito gugup.

“Baiklah…masuk dulu… kau satu kota dengan Natsuki?” satu hal lagi yang Keito tahu, seorang Yuto akrab dengan siapapun.

Keito mengangguk.

“Sebentar ya…aku panggil Natsuki-chan dulu…” serunya dengan tak lupa memberikan sebuah senyuman pada Keito.

Natsuki muncul beberapa saat kemudian.

“Keito!!” tanpa aba-aba Natsuki mengambur ke pelukan Keito.

“Kau baik-baik saja?” tanya Keito.

Walaupun mereka bertemu di tempat latihan, mereka jarang sekali bertatap muka dan mendekat karena biasanya mentor Natsuki, Matsumoto Jun, membawa anak didiknya ke lapangan.

“Tinggal sehari…setelah ini kita akan bersama-sama di arena, kau mengerti?”

Natsuki mengangguk, “Wakatta…”

“Kau ingat apa yang harus kau katakan?” tanya Yabu pada Yoko yang duduk di sebelahnya.

Malam ini adalah sesi wawancara dengan Shingo.

Setelah kemarin mereka di tes kemampuan yang menentukan akan mendapatkan sponsor atau tidak, malam ini juga cukup menentukkan bagi semua peserta. Hasil tes menunjukkan bahwa nilai tertinggi didapatkan oleh Sora dan Inoo, serta Yuto yang tidak disangka-sangka.

“Ingat…kau tak harus mengulangnya terus…” jawab Yoko.

“Aiba-san sudah memercayakannya pada kita…dan kita harus jadikan ini senjata kita mendapat sponsor terbanyak…mengerti?”

“Yabu Kota…kalau kau ngomong lagi, aku bersumpah sepatuku akan mampir di mulutmu!!” seru Yoko mulai kesal.

Yabu hanya terkekeh.

Orang pertama yang muncul di layar adalah Takaki Yuya. Pria itu cukup disukai oleh rakyat pusat kota. Caranya melucu dan tersenyum membuat gadis-gadis senang, ditambah ceritanya soal gadis yang ia cintai yang ia tinggalkan dan ia harus pulang untuk menikah dengan gadis itu.

Selanjutnya Yamada muncul. Tak kalah dengan Yuya, pemuda berusia sembilan belas tahun itu membuat rakyat pusat kota berteriak karena ketampanannya.

“Aku melihat beberapa cuplikan ketika kau terpilih, dan aku melihat kau sangat dekat dengan teman se-kotamu… siapa namanya itu…” Shingo mencoba mengingat nama si gadis.

“Suzuki Saifu…” jawab Yamada cepat.

“Iya! Saifu-chan… apa ada hubungan spesial antara kalian berdua?” tanya Shingo.

“Aku hanya….” Yamada menunduk sekilas, memperlihatkan wajahnya yang sedih, “Aku berharap bisa melindunginya di arena nanti…”

“Waaahh… apa ada kemungkinan kalian saling mencintai?”

“Aku tak bisa menjawabnya…hahaha…” jawab Yamada lagi.

Setelah itu Yamada turun dari panggung. Berturut-turut Sora, Natsuru dan Hikaru juga diwawancarai. Penonton menyukai bagaimana Sora yang cuek dan menjawab pertanyaan seadanya, lalu Natsuru yang ceria dan Hikaru yang biasa saja, tapi cukup menarik perhatian.

Sesi wawancara yang menarik juga ditampilkan oleh Inoo yang menunjukkan tekad yang kuat dan menceritakan soal keluarganya yang membutuhkan harta karun yang dapat menghidupi keluarganya.

Suasana lebih memanas ketika anak kembar yang baru kali ini tampil di acara Treasure Hunting, Miyako dan Ryutaro membuat sebagian penonton iba. Apalagi melihat kepolosan dua anak kembar yang sepertinya tak mengerti apapun soal Treasure Hunting.

“Yanagi Riisa…kudengar kau mengenal salah satu pemenang yang akan bergabung dengan kalian?”

Riisa mengangguk, “Takahashi Nu adalah teman satu sekolahku…dulu…”

“Kalau begitu kau cukup mengetahui bagaimana cara ia bertarung, mungkin?”

“Hmmm…” Riisa diam sebentar dan tak bisa menjawab karena ia merasa tak mengenal lagi sosok Nu yang ia lihat di Treasure Hunting.

“Mungkin kau masih ingat bagaimana ia membunuh setengah peserta tahun lalu… kau pikir ia akan berkoalisi denganmu?”

Riisa ingat tangis Nu saat namanya terpanggil, ia ingat bagaimana perpisahannya dengan Nu saat itu. Lalu gadis itu menjelma menjadi iblis pencabut nyawa setelah berada di arena.

“Aku…tak yakin…” jawab Riisa akhirnya.

Riisa terlihat masih gugup ketika kembali ke tribun peserta. Ia yakin Ninomiya akan memarahinya setelah acara ini selesai.

“Sekarang kita sambut Yabu Kota!!!”

Yabu mempersiapkan dirinya, lalu naik ke panggung, bersalaman dengan Shingo Murakami.

“Kau tampak tak begitu bersemangat Yabu-kun…ada apa ini? Besok kalian akan masuk ke arena, kan?” tanya Shingo yang memerhatikan ekspresi wajah Yabu yang serius dan cenderung terlihat sedih.

“Aku tidak mau ke arena…” jawabnya. Diikuti koor protes dari beberapa penonton yang tak menyukai pria lemah macam Yabu.

“Wah…jawaban yang sangat tidak percaya diri…kenapa kau berkata begitu?”

“Karena aku tidak mau harus melukai orang yang aku sayangi…kami memang baru saja bertemu, tapi buatku dia sudah merebut hatiku…” jawab Yabu tambah terlihat sedih, sementara penonton mulai terlihat berempati.

“Jangan bilang kau jatuh cinta pada lawanmu…boleh ku tahu siapa dia?”

“Sakamoto Yoko…teman satu kelompokku…”

Sesaat kemudian kamera mengambil wajah Yoko yang duduk di tribun tempat peserta menunggu giliran wawancara. Yoko menunduk dan terisak terlihat sangat sedih, membuat sebagian penonton ikut menitikkan air mata.

Yoko merutuki dirinya sendiri. Untung ia sempat membubuhkan tetes mata sebelum kamera menangkap gambar dirinya. Rakyat pusat kota suka adegan macam ini, dan mereka harus menjualnya agar sponsor dapat mereka terima. Mereka tak sekuat Sora atau Inoo, dan tak secerdik Hikaru, jadi ini yang bisa mereka jual. Roman picisan tentang cinta pandangan pertama dan kesakitan karena tak bisa bersama.

==============

Chinen duduk di beranda menatap lampu yang berkelap-kelip di hadapannya. Pemandangan pusat kota yang sangat indah. Ketika ia mendengar sebuah isakan di ruangan sebelah.

Pemuda itu berjinjit-jinjit mendekati sumber suara. Lalu mendapati Miki memeluk bonekanya, terisak cukup keras walaupun mencoba meredam suaranya.

“Kanagawa-san…” panggil Chinen memastikan.

Miki menoleh, “Eh.. Chinen-san…”

“Kau gugup?” tanya Chinen lalu menyerahkan segelas air pada Miki yang masih terisak-isak.

“Aku paling muda…dan pasti semua orang akan mengincarku terlebih dahulu…” ucapnya sedih.

“Buktikan kalau kau bisa bertahan…kulihat kau cukup pandai memanjat…bersembunyilah…” kata Chinen yang sebenarnya cukup takut juga menghadapi esok pagi.

“Chinen-san juga pandai berlari ya? Itu kemampuanmu?”

Chinen menunduk, “Aku tidak punya keahlian lain…dan sepertinya hanya itu yang bisa kuandalkan…”

“Semoga kita bisa berhasil bertahan hidup…” kata Miki akhirnya.

“Kau tahu apa yang ayahku katakan sebelum aku berangkat?”

Miki diam menunggu jawaban dari Chinen.

“Ia bilang… kau tahu kan surga itu lebih indah daripada di dunia… intinya, ia sudah merelakan aku tidak kembali lagi…”

Miki kembali terisak sambil memegangi jaket kuning Chinen, dadanya terasa sesak jika memikirkan kedua orang tuanya di rumah yang pasti berbagi eksedihan yang sama dengannya. Setelah hari ini, setiap hari mereka harus menonton tayangan Treasure Hunting, harap-harap cemas agar putrinya tidak terbunuh.

“Aku baru tahu kalau Dai-chan kakaknya juga pernah masuk Treasure Hunting?” Saifu mendekatkan diri pada Daiki yang duduk di sofa sambil minum secangkir coklat panas.

“Ya, dan ibuku hampir gila. Tapi setelah kakakku terbunuh, pihak Nipon tak pernah lagi mengurusi Ibuku. Sehingga aku lah yang menjadi harapan barunya. Sampai aku juga dipanggil kesini…. licik sekali kan mereka? Mereka pikir ini akan menarik…” jawab Daiki dengan raut wajah penuh kebencian.

Wajah yang selalu pemuda itu tampakkan ketika membicarakan Nipon.

“Jadi kau ingin pulang dan memenangkan permainan ini?” tanya Saifu.

Daiki menggeleng, “Aku akan mencari cara untuk menemukan presiden Akanishi…aku ingin membunuhnya…”

Saifu kaget mendengarnya, memang selama permainan berlangsung, beberapa kali presiden Akanishi akan hadir dan memantau dari sebuah pos. Tapi tentu saja akan sulit menemukan tempat itu di arena sebesar pulau itu.

“Ngomong-ngomong…maafkan aku merepotkanmu selama latihan ini…” ucap Saifu yang tak enak hati selalu menempel pada Daiki selama sesi latihan berlangsung.

“Karena kau tak bisa menemukan pacarmu di tempat latihan?” tanya Daiki.

“Hah? Yamada-san?”

Daiki mengangguk, “Bukankah jawaban bocah itu saat wawancara menunjukkan kalau kalian ada hubungan?”

Saifu hanya menggeleng, “Tidak…mungkin ia hanya iba padaku…”

“Kalau begitu… kalau ia tak memenuhi janjinya untuk menjagamu, kau bisa menempel terus bersamaku…”

Daiki berjanji dalam hati bahwa di permainan kali ini, ia tidak akan membunuh siapapun. Walaupun memang ia tak bisa mengontrol peserta lain, tapi setidaknya ia akan menghasut yang lain untuk menjalankan misinya, yaitu membunuh presiden Akanishi.

================

Pagi yang cukup sibuk.

Semua peserta bersiap-siap menggunakan pakaian mereka yang seragam. Yaitu celana hitam dan kaos hitam serta sebuah jaket yang bisa memantulkan panas tubuh sehingga mereka tak perlu takut kedinginan pada malam hari. Kecuali dengan kebodohan mereka kehilangan jaket itu.

Selain itu mereka tidak dibekali apapun.

Semuanya tersedia di arena nanti. Tinggal secepat apa mereka mengambil hal yang diperlukan ketika peluit di bunyikan dan permainan dimulai.

Dua puluh peserta di dalam pesawat kecil itu.

Tiga orang berbajukan perawat menyuntikkan sesuatu ke tangan mereka.

“Apa ini?!” protes Miyako ketika jarum menusuk ke tangannya dengan cepat.

Si perawat tak membalas dan berlalu dari hadapan Miyako. Gadis itu langsung merasa tangannya berdenyut-denyut tak nyaman seakan ada sesuatu yang mencengkram tangannya untuk beberapa saat.

“Ini pelacak. Kau tak akan bisa kabur kemanapun karena alat pelacak di tanam dalam tubuhmu…” jawab Sora yang duduk tepat di sebelahnya.

“Hontou? Ittai…” keluh Miyako memegangi tangannya.

Sora menangkap tangan Miyako dan menekan daerah yang tadi disuntikkan. Perlahan rasa sakit di tangan Miyako menghilang.

“Kalau banyak bergerak sakitnya akan mebekas agak lama…” kata Sora lagi.

“Arigatou Neechan..”

“Aku tak mengerti kenapa kau tak tahu apa-apa soal Treasure Hunting… tapi kuharap kau akan selamat di arena nanti…” ucap Sora pelan.

Miyako yang selama di asrama tak pernah berbicara pada Sora walaupun mereka satu kelompok, sedikit tercengang mendengar ucapan Sora. Lalu mengangguk.

Tak sampai dua puluh menit kemudian, pesawat mendarat dan seluruh peserta turun menuju ke ruangan yang ada mentor mereka sudah menunggu.

Seluruh tubuh Opi bergetar hebat. Kurang dari lima menit lagi ia akan benar-benar berada di arena.

Sho memberitahukan hal-hal penting terakhir yang harus mereka lakukan di arena. Berusaha memberikan wejangan berarti yang mungkin di butuhkan.

Ketiga anak didiknya berjalan menuju piringan yang akan membawa mereka ke arena. Sementara Sho memandangi Opi yang berdiri gemetaran di hadapannya.

“Tetap hidup…kumohon tetap hidup…” ucap Sho lirih.

“Niichan…”

“Jangan menangis… ingatlah aku akan selalu mencoba mencari sponsor untukmu…” Sho menarik Opi ke dalam pelukannya.

Dengan satu tangannya Sho menepuk-nepuk kepala gadis itu.

“Peserta silahkan naik ke piringan…” ucap sebuah suara dari pengeras.

Sho melepaskan Opi lalu mendorong gadis itu, “Berusalah tetap hidup…”

Opi tak menjawab lalu naik ke piringan yang beberapa detik kemudian menutup seperti tabung yang membawa mereka ke atas.

Sebuah padang luas terlihat setelah dua puluh dua peserta berada di atas piringan yang menunjukkan mereka diatur dengan formasi keliling.

Dua peserta tambahan, Nakajima Kento dan Takahashi Nu juga sudah bergabung.

Semuanya menatap ke arah padang yang luasnya cukup lumayan, dan ditengah-tengahnya terdapat sebuah bangunan dengan berbagai barang berserakan di tengah padang itu.

Semua mata berkilat-kilat tampaknya memikirkan barang apa yang akan mereka ambil. Semuanya akan bertarung pada saat peluit pertama dinyalakan.

“Selamat datang di Treasure Hunting ke dua puluh duaaa!!!” terdengar suara Shingo menggema di padang itu.

“Setiap orang sudah dibekali oleh sebuah peta…” semuanya langsung mencari-cari dan ternyata ada di dalam saku jaket mereka.

Karena peta ini tidak selalu ada di tangan mereka. Ada tahun dimana peserta harus susah payah mencari peta dulu sehingga permainan menjadi terlalu lama dan membosankan. Atau ada juga yang mereka hanya diberi tanda-tanda alam untuk mencari harta karun tersebut.

“Modal untuk mencari harta karun kalian…hohoho~ baiklah…kita mulai saja… Treasure Hunting ke dua puluh dua…. DIMULAI!!!”

Sebuah peluit panjang berbunyi. Tabung terbuka dan ke dua puluh dua peserta berlarian ke tengah padang.

Treasure Hunting benar-benar dimulai.

================

TBC alias To Be Continued

Maafkan lama karena real world memanggil saia.. #bow
Hahaha… 😛
Maaf juga kalau tidak sesuai harapan…LOL
Silahkan di komen…
Please Don’t Be A Silent Reader…
COMMENTS ARE LOVE.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s