[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 10) ~Love Isn’t~

Title        : Jumping To My Heart ~Love Isn’t~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter
Chapter     : Ten
Genre        : Romance *ah yeah~*
Ratting    : PG-13 tapi nyerempet NC-17 kayaknya~ mengandung unsur2 berbahaya.. maafkan… #bow
Fandom    : JE
Starring    : Takaki Yuya (HSJ), Ikuta Din (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own Takaki Yuya which is belong to Johnny’s & Association and so do all HSJ members. Ikuta Din is my own OC… :). And I own the plot!! Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… please comments… Thanks.. ^^

Don’t Like, Don’t Read and Flame… 😛

JUMPING TO MY HEART
~ Chapter 10 ~
~ Love Isn’t ~

“Ittai!!” Din mengerang saat tubuhnya terkena sundutan rokok dari orang yang ia anggap ‘pacar’nya itu.

“Makanya kubilang juga jangan melawan…” ucapnya dengan nada santai.

Pria itu beranjak dari ranjang, meninggalkan Din yang masih mengusap-usap tangannya yang masih terasa perih. Sudah lama Din ingin putus dengan pria itu. Tapi keadaan hidupnya yang sekarang tak memungkinkan untuk meninggalkan pria itu.

Ia tak punya rumah, atau pekerjaan tetap. Selama ini pekerjaannya yang menghasilkan uang tidak seberapa tentu saja tidak memungkinkannya untuk melepaskan diri dari orang itu. Selain itu Din punya hutang yang cukup besar padanya. Menyebalkan memang, tapi ia tak punya pilihan lain.

“Gomen…” ucap Din lalu menutupi dirinya dengan baju dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Din kembali memandang wajahnya di cermin. Memar di bawah matanya terlihat tampak mengerikan pagi ini. Semalam karena mabuk, Kaito memukulnya tanpa sadar. Din membersihkan dirinya, lalu mengambil bedak tabur untuk menutupi memar itu, “Yah… not bad…” ucap Din masa bodoh.

Ia hanya berharap Opi tidak akan mengomentarinya terlalu banyak.

“Aku pergi dulu Kai…” kata Din sambil melambaikan tangannya pada Kaito dengan sembarangan.

“Pulang tidak malam ini?” tanyanya dengan pandangan nanar, seperti biasa pagi pun pria itu masih saja mabuk-mabukkan.

“Tergantung…mungkin aku akan ke rumah Opichi…” jawab Din dengan acuh.

Kaito tidak menjawab.

Din melangkahkan kakinya dengan malas ke kampus.

“Ohha~” Din menelungkupkan wajahnya di meja sesaat setelah ia sampai di kampus.

“Mabuk lagi atau tidak tidur lagi? Atau apa lagi sekarang?” pertanyaan yang sama yang selalu Opi lontarkan ketika ia kesal dengan sahabatnya yang berubah drastis setelah pindah ke Tokyo dan hidup sendiri.

“Menurutmu?” wajah Din muncul dari balik tangannya.

“Hmmm….” mata Opi tertuju pada bekas rokok yang kini terlihat jelas di tangan Din, “Tuh kan!!” Opi menatap Din dengan gusar, “Cari cowok yang bener Dinchan!!!”

“Dia benar… hanya aku tak sengaja menjatuhkan rokokku…” ucap Din asal.

“Terserah kau!! Aku tak mau mengurusimu lagi nanti,” Opi kembali membuka buku desainnya. Tentu saja itu bohong. Berapa kalipun Opi berkata tidak akan mengurusi sahabatnya itu, tapi berkali-kali juga Opi tetap ada untuk Din disaat gadis itu bahkan terpuruk sekalipun.

“Nanti sore mau minum teh?”

Din mendelik karena tahu itu artinya ia akan disidang habis-habisan oleh Opi.

“Gomen naa… aku ada baito…”

“Baiklah…besok sore…” putus Opi.

Ucapannya terputus saat dosen mereka masuk. Din mengacak rambutnya dan kesal karena ia sangat pusing hari itu. Entah obat apalagi yang diberikan Kaito semalam.

============

“Menjaga kulit itu penting Dinchan!!” ucap Hana yang berdiri di sebelah Din, menarik tangan Din yang terundut rokok.

“Gomen Hana-chan… ini tidak akan terjadi lagi…” ucap Din sambil menunduk.

“Baiklah…berharap saja tamu mu malam ini tak mempermasalahkan hal ini…” Hana keluar dari ruang ganti, “Jangan lupa tutupi memar matamu itu dengan benar!” tambah Hana dengan sinis.

Din menyalakan rokoknya lalu duduk di salah satu kursi sambil memandangi dirinya di cermin. Ia tersenyum pada dirinya sendiri dan mencoba terlihat se-natural mungkin. Pekerjaannya sebagai hostess menuntut penampilan sempurna setiap saat. Menemani pria-pria di malam hari tentu saja beresiko tinggi, namun terpaksa ia jalani karena sebelum hutangnya lunas pada Kaito, ia tak yakin bisa lepas dari pria brengsek itu.

“Din… meja dua puluh dua…” ucap seorang pelayan pada Din.

Din mempersiapkan dirinya lalu berjalan ke luar ruang ganti dengan senyum manisnya seperti biasa. Ia menemani tamu itu dengan sabar, walaupun sudah mabuk, tamu itu minta minum terus dan Din tak punya alasan untuk menolaknya.

“Sora-chan… sekali-sekali kau ikut pulang denganku dong…”

Nama hostess Din memanglah Sora. Yang memberikan nama itu adalah Hana, salah satu hostess tertua di tempatnya bekerja.

“Kapan-kapan ya Hatori-san…” tolak Din dengan nada sehalus mungkin.

Tiba-tiba tangan Hatori merangkul bahu Din, dan dengan cepat pria paruh baya itu hendak mencium Din.

“Anou… Hatori-san…jangan begini…” Din mendorong pelan bahu Hatori.

“So~ ra~ daisukiii!!” ucapnya dengan bau alkohol yang menyengat dari mulutnya.

Din secara refleks mendorong dengan kuat tubuh Hatori karena merasa terganggu.

Minuman tumpah karena Hatori menabrak meja saat terlepas dari Din, mengotori baju dan lantai sekitarnya.

Hatori terlihat marah, dan saat itu Din tahu ia dalam masalah besar.

Hana menatap Din dengan kecewa. Sudah beberapa kali hal ini terjadi karena Din tak bisa mengontrol emosinya.

“Aku sudah tak tahan, Din-chan… maafkan aku… tapi kurasa, kau tak cocok bekerja sebagai hotess…” ucap Hana yang kini berdiri di hadapan Din dengan tangan terlipat di dada.

“Aku sudah berusaha untuk selalu memahami keadaanmu…tapi maaf… kau dipecat…ini bayaranmu hari ini. Kau tak perlu datang lagi besok…”

==============

Malam itu Din tak punya rencana lain lagi. Ia tak mau ke rumah Opi dan mengacaukan pikiran gadis itu di tengah malam hampir pagi ini, ia juga merasa terlalu menyedihkan sehingga memutuskan untuk menghabiskan gaji terakhirnya itu di sebuah bar mewah yang hanya bisa ia datangi sekali-sekali, itu pun jika si pacar sedang peduli padanya.

Star Zone.

Nama bar itu berkelap-kelip seakan mengundangnya masuk. Din pun masuk tanpa pikir panjang, urusan ia makan apa besok, ia tak peduli lagi.

Meja di depan bartender telah diisi oleh beberapa orang. Din menghempaskan tubuhnya di sebuah bangku tinggi yang hampir berada di pojok, dan memesan minuman yang cukup mahal walaupun ia sendiri tak hapal dengan nama minuman itu.

“Kau yakin akan minum itu?” tanya laki-laki disebelahnya.

Din menoleh dan hanya mengangguk, percakapan kecil macam ini memang biasa terjadi di sebuah bar. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu, tapi malas berfikir lebih jauh lalu membiarkan saja perasaan itu berlalu.

“Mungkin kau akan mabuk hanya karena satu teguk saja…” tambahnya lagi.

“Baguslah kalau begitu. Aku bisa melupakan masalahku…” ucap Din asal.

Tak lama minuman itu pun benar-benar diberikan pada Din. Ia minum satu teguk dan efek minuman itu ternyata memang dahsyat. Tak hanya membuatnya pusing, tapi lumayan membuatnya sedikit berhalusinasi tentang hal-hal aneh. Ia memang sering minum alkohol. Pekerjaannya sebagai hostess, dan pergaulannya dengan Kaito membuatnya sering berhadapan dengan minuman macam itu. Tapi ini beda, ia mulai pusing dan tak yakin bisa mengendalikan diri. Namun bukannya berhenti, Din meminum lagi hingga gelas itu tandas.

==============

“Ugh…” Din mengeluh karena sinar matahari yang cukup membuatnya menyipitkan mata.

Ditambah hangovernya yang dihasilkan karena minuman semalam.

“Jadi namamu… Ikuta Din?” kata seseorang yang kini duduk di pinggir ranjang sambil memegang sesuatu di tangannya, kartu pengenal milik Din.

“Melihat barang orang tanpa izin itu kriminal…” balas Din sambil memijat-mijat kepalanya yang pusing.

Pemuda itu tertawa lalu beranjak dan memberikan Din segelas air mineral, “Kau butuh ini sepertinya…”

Din memperhatikan sekelilingnya yang terasa asing, “Kita ke hotel? Maji ka yo…” umpat Din yang menyadari bahwa ia tanpa sadar melakukan hal aneh lagi dengan orang yang tidak ia kenal.

“Karena kau memaksa…” jawabnya dengan enteng.

Din hanya mencibir tak menjawab.

“Aku pergi duluan… nanti ku telepon…” ucapnya sambil menunjukkan ponselnya lalu membawa barang-barangnya dan menghilang di balik pintu.

“Siapa pula dia? Huh~”

Karena masih terlalu pusing, ia memutuskan untuk berbaring sejenak. Ia pun menyalakan televisi ketika sebuah berita entertainment muncul di layar.

“Hmmm.. Hey! Say! JUMP…” Din tahu karena itu adalah salah satu boyband kesukaan Opi yang menyangkut keberadaan seorang Inoo Kei yang kebetulan satu fakultas dengan mereka.

“USO!!” Din menarik selimutnya dan berlari ke depan layar televisi ketika gambar beralih ke gambar salah satu anggotanya.

Orang yang tidur dengannya semalam.

Bukan orang sembarangan.

Itu Takaki Yuya, salah satu anggota Hey!Say!JUMP.

Din baru menyadari ia tidak berada di hotel kelas murahan yang biasanya disinggahi seseorang yang melakukan ‘One Night Stand’. Ini hotel bintang lima.

“USSSOOOO!!!” teriak Din karena shock.

================

Sudah dua hari sejak peristiwa itu. Din tak berani menceritakannya pada siapapun mengenai apa yang terjadi malam itu. Lagipula Yuya tak menghubunginya, jadi jelas ini hanya kebetulan saja dan Din pun tak punya nomer Yuya. Bohong jika Din tidak mengharapkan pemuda itu kembali menghubunginya.

Bukan karena alasan ia seorang Takaki Yuya, tapi karena ada sesuatu yang sebenarnya Din rasakan malam itu. Kenyamanan yang sudah lama tak ia rasakan selama berpacaran dengan Kaito.

“Din-chan…” panggil Asuka membuyarkan lamunan gadis itu.

“Ya?” jawab Din.

“Maaf ya…membuat Din-chan harus menunggui aku dijemput…” kata Asuka merasa tidak enak.

“Ini sudah hampir tengah malam…aku tak tega membiarkanmu sendirian…” jawab Din.

Karena sebuah acara training menulis, Asuka dan Din pulang larut malam. Sebenarnya Asuka akan dijemput oleh Hikaru katanya, namun pemuda itu belum datang juga. Din tak tega meninggalkan Asuka sendirian di kampus malam – malam begini. Sehingga ia memutuskan untuk menemani gadis itu.

“Tapi…nanti Din-chan gimana?” tanya Asuka.

“Tenang saja…aku sudah biasa pulang malam kok…”

Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Memang kedua gadis ini menunggu Hikaru di halte bis depan kampus agar mudah ditemukan.

Asuka secara refleks bersembunyi di balik tubuh Din. Ia tak kenal mobil ini, bukan mobil milik Hikaru.

Namun ketika kaca mobil terbuka, seraut wajah muncul, yang ternyata adalah Hikaru.

“Asuka-chan…gomeeenn~ mobilku di bengkel…aku terpaksa nebeng pada Yuya…” kata Hikaru.

“Eh…Takaki-san…” Asuka menunduk sekilas.

“Ya sudah…ayo masuk…” ajak Hikaru pada Asuka.

“Hikka-kun… keberatan jika mengantar Din-chan dulu?” tanya Asuka.

Din menggeleng, “Tidak perlu!! Aku bisa pulang sendiri!!” tolak gadis itu sedikit panik karena yang kini ia hadapi adalah Takaki Yuya.

“Ii yo!” jawab Yuya dari dalam mobil.

“Tuh kaaann~ ayolah Din-chan…aku khawatir kalau kau pulang sendirian…” keluh Asuka lagi.

“Baiklah…” jawab Din karena tak enak pada Asuka.

Din benar-benar tak bisa menikmati perjalanan itu.

Pertama, ia tak tahu kalau yang Asuka sebut sebagai ‘Hikaru’ adalah ‘Yaotome Hikaru’ salah satu anggota Hey!Say!JUMP.

Dan kedua, benar-benar kebetulan kini ia berada di dalam mobil seorang Takaki Yuya yang sebenarnya sudah dua hari ini ia tunggu.

Yang terakhir, Din bisa merasakan lirikan Yuya di spion tengah mobil itu kepadanya. Membuatnya sedikit tak nyaman.

“Sudah sampai ouji-sama…” kata Yuya ketika mereka berhenti di depan sebuah gedung mansion.

“Gomen na Yuyan… semoga besok pagi mobilku sudah beres…” ucap Hikaru sambil turun dan membukakan pintu untuk Asuka.

“Ii yo…”

“Anou…Takaki-san…mohon diantar ya Din-chan nya…” pesan Asuka pada Yuya.

Yuya hanya mengangguk dan menoleh ke belakang, “Pindah ke depan…aku ini bukan supirmu…” kata Yuya.

“Wakatta…” Din dengan enggan pindah ke kursi depan.

“Dimana rumahmu?” tanya Yuya.

Din menyebutkan alamat apartemen Kaito karena malam ini Kaito memintanya untuk pulang kesana.

“Atau mau ke hotel lagi?” ucap Yuya sambil terkekeh.

Mendadak Din merasa pipinya menjadi panas dan dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas.

“Malam itu aku hanya mabuk…” Din tiba-tiba saja memberikan alasan.

“Kau tak ingat kalau kau yang mengajakku? Hahaha..” Yuya tertawa tanpa melirik Din.

“Berhenti sekarang!” seru Din tiba-tiba.

“Hah?”

“Kubilang berhenti sekarang!!!” bentak Din lagi.

Yuya menepikan mobilnya dan membiarkan Din keluar pintu mobil itu tanpa berusaha mencegahnya. Tiba-tiba saja ia merasa kesal dan meninggalkan Din di jalanan.

Ia tak perlu merasa begini, namun hari ini ia merasa terlalu tertekan sehingga tak merasa harus bersikap baik pada siapapun. Pacarnya membuatnya telat latihan, manajer memarahinya dan sekarang gadis itu membuatnya kesal juga.

“Cih!” umpat Yuya dengan raut wajah tak bersahabat.

Mungkin malam ini tempat yang akan disinggahinya lagi-lagi bar langganannya. Yuya membelokkan mobilnya dan menuju Bar itu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Yuya mengangkatnya tanpa melihat nama di layar tersebut.

“Yuya-kun…katanya mau pulang cepat?” suara manja itu mampir di telinganya, ia langsung tahu siapa yang meneleponnya.

“Aku sibuk Kana…” jawab Yuya.

“Ayolaaahh~ pulang…”

Klik.

Yuya memacu mobilnya lebih cepat ke Star Zone dan mematikan ponselnya.

==============

“Kenapa lagi?” tanya Opi melirik sahabatnya yang terlihat lesu dan tak bersemangat.

“Capek…” ucap Din menelungkupkan mukanya di meja.

“Kali ini apa lagi?” tanya Opi lagi.

Din menunjukkan wajahnya, lalu menggeleng. Ia tak mau cerita soal bagaimana ia ditinggalkan di jalan lalu harus berjuang ke halte terdekat dengan keadaan kaki lecet dan menggigil akibat udara dingin.

“Cowok gila…” umpat Din dalam hati. Kalau dia laki-laki, harusnya ia tak membiarkan Din di jalan dan kembali mengajak Din masuk mobil.

Sayangnya ini bukan film atau dorama, ia tak bisa mengharapkan cerita shoujo manga  macam itu.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi dan ia menemukan nomor tidak dikenal muncul di layar. Namun akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya.

“Haaai? Moshi-moshi?” angkat Din.

“Kukira kau tidak berhasil pulang semalam…”

BRUK! Karena kaget Din tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya yang segera ia ambil kembali, sementara itu Opi memandangnya dengan aneh.

“Ngapain kau meneleponku?!” seru Din sambil menjauh dari Opi.

“Ada yang mau kubicarakan nanti malam…datanglah ke Star Zone..” ucap Yuya diseberang sana.

Din mengerenyitkan dahinya, “Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Aku tahu kau tak akan begitu…” ucapnya enteng lalu menutup sambungan telepon itu.

“Cowok gila!!” umpat Din berbicara sendiri pada ponselnya.

Namun malam itu Din akhirnya datang ke Star Zone. Entah kenapa ia benar-benar mendatangi tempat itu. Ia tahu sebenarnya ia penasaran pada Yuya dan tentang apa yang ingin pemuda itu bicarakan.

Din ingat dia lupa menanyakan jam berapa mereka janjian. Sehingga Din menunggu hampir setengah jam sebelum Yuya datang dan menunjukkan wajah puasnya.

“Kubilang juga kau akan datang…” ungkapnya sesaat setelah ia datang, “Ayo!” Yuya menarik tangan Din tanpa memberikan penjelasan apapun.

“Kita mau kemana?!” seru Din kaget.

“Hmmm…biar kupikirkan nanti…” Yuya masih menarik Din hingga masuk ke mobilnya.

“To the point saja…apa yang ingin kau bicarakan?” terdengar nada tak sabar keluar dari mulut Din.

“Betsu ni…aku hanya ingin bertemu kau saja…” ucap Yuya dan tak lama kemudian membawa mobilnya ke sebuah gedung mansion mewah yang tak seberapa jauh dari Star Zone.

“Hah? Kau gila?!” tanya Din.

Apa benar ini shoujo manga? Sebentar lagi Yuya akan bilang kalau ia menyukai Din sejak mereka pertama kali bertemu. Tanpa Din sadari kini dadanya dag-dig-dug tak karuan.

“Ayo…” Yuya turun dan menunggu Din juga turun dari mobil.

Keduanya masuk dan langsung menuju ke lantai 18. Entah apa ini maksudnya. Tapi Din belum berniat untuk melarikan diri.

“Kurasa lebih baik disini saja…” kata Yuya, “Ini mansionku…masuk saja…” kata Yuya mempersilahkan gadis itu masuk ke mansionnya yang bisa dibilang cukup mewah.

“Jadi, maksudmu apa?” tanya Din masih heran karena tiba-tiba Yuya mengajaknya ke tempat ini.

Yuya tak menjawab namun memojokkan Din ke sofa, membuat si gadis setengah berbaring di sofa empuk itu.

“Kalau sadar, kau tetap mau kan?”

“Hah?” Din tak sempat lagi menjawab karena bibir Yuya sudah menginvasi bibirnya.

“Chotto!” Din mendorong bahu Yuya, “Apa maksudmu?”

“Aku ingin melakukannya denganmu…” ucap Yuya dengan tenang.

“Kalau kau hanya ingin melakukannya… kau tak perlu mengajakku!!” ya, masih banyak gadis yang bersedia menyerahkan tubuhnya pada Yuya, Din tahu itu.

“Sayangnya aku ingin kamu…” kini Yuya tak membiarkan Din protes lagi.

“Apa otakmu sudah rusak?” tanya Din sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

Yuya berbaring disebelahnya, terkekeh pelan, “Anggap saja begitu…” Yuya duduk dan menarik Din, “Tatto di pinggulmu ini bagus juga…” ucap Yuya menyentuh pinggul kanan Din yang berhiaskan sebuah tatoo bergambar bunga lily.

“Oleh-oleh dari Kaito…” jawab Din.

“Kaito?”

“Pacarku…” Din berbaring menelungkupkan badan sehingga tatto itu kini terlihat jelas oleh Yuya.

Yuya menunggu penjelasan selanjutnya.

“Ia suka sekali bermain kasar, dan salah satunya, ia pernah ingin melihatku berdarah, hasilnya… ia menyobek pinggulku dengan sebuah pecahan kaca… itulah hasilnya, aku menutupinya dengan sebuah tatto…”

“Sekarang aku tahu, masih ada gadis bodoh yang bertahan dengan pacarnya yang suka memukul…kau salah satunya…” kata Yuya sedikit mencibir.

“Anggaplah begitu…”

“Sini…kau mau aku peluk?” Yuya menarik Din ke dalam pelukannya.

“Tak usah menawarkan jika kau sudah melakukannya…” balas Din, namun masih juga merebahkan diri di pelukan Yuya hingga keduanya tertidur pulas.

“Hai??” Yuya mengangkat telepon itu setengah sadar.

“KAU DIMANA??!! LATIHAN AKAN DI MULAI!!!” teriak Yabu tak sabar.

Yuya menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan Yabu, “Eh? sudah waktunya ya?” Yuya mengacak rambutnya yang sebenarnya sudah acak – acakan itu.

“CEPAT DATANG!!”

“Wakatta..” Yuya menutup flip ponselnya, mengguncang tubuh di sebelahnya.

Din menggeliat sebentar, “Apa?” ia merasa terganggu.

“Aku harus latihan Dinchan… nanti ku telepon… oh iya, ini kunci cadangan…” Yuya memaksa tubuhnya beranjak dari kasur.

Din menguap, menutupi tubuhnya yang tak memakai apapun saat itu.

“Tak keberatan kan aku merokok disini?” tanya Din.

“Ii yo…” Yuya masuk ke kamar mandi dan bersiap – siap untuk pergi.

“Yuya… aku lapar…” keluh Din.

“Ada makanan di lemari…ambil saja… jya! Aku berangkat dulu…” Yuya merapikan sedikit rambutnya dan mengambil kunci mobil.

Din mengepulkan asap rokoknya, sedikit pusing karena semalam ia minum cukup banyak. Mansion yang cukup mahal, pikir Din. Ia tak pernah tinggal di mansion semewah ini.

Din mengambil pakaiannya yang di lucuti Yuya semalam. Ia memakainya kembali dan mencari makanan di dapur.

“Tak buruk…” Din mengambil mie instan dan mulai memasaknya. Sambil menunggu, ia menemukan sebuah pesan dari sahabatnya.

From : Opichi~
Subject : doko?
Kau dimana sih?
Kenapa teleponku tak diangkat?
Besok siang kita ada presentasi…

Din menepuk dahinya karena lupa akan presentasi siang ini. Ia sama sekali belum membaca bahan untuk presentasi. Sambil makan, ia mencoba membaca sedikit bahan presentasinya.

“Ah!” karena rasa malas, ia segera berhenti dan mengambil lipstik di tasnya, beranjak masuk kembali ke kamar.

Thanks for last night~

Ia terkikik membaca tulisannya sendiri di kaca kamar Yuya. Ia tahu selamanya ia hanya akan jadi teman dengan Yuya, tapi paling tidak memiliki Yuya untuk beberapa malam tidak buruk juga.

=================

Sejak saat itu tak terhitung berapa kali mereka bertemu secara diam-diam selama beberapa bulan ini. Keduanya tak pernah mempermasalahkan status mereka. Baik Yuya dan Din masih bertahan dengan pacar mereka masing-masing.

Din menatap ponselnya yang baru saja menerima sebuah e-mail dari Yuya. Pemuda itu bilang ingin bertemu, namun Din tak bisa karena sedang berada di apartemen Kaito. Namun beberapa kali Yuya bilang akan menjemputnya. Yuya memang pernah menjemput Din di sekitar tempat itu.

“Selingkuhanmu lagi?” tanya Kaito dengan nada tajam seperti biasanya.

“Aku tidak punya selingkuhan…” elak Din yang langsung meneguk segelas air di hadapannya.

“Aku sih tak akan curiga kalau kau tidak menghindar dariku terus… sudah empat bulan ini… memangnya aku bodoh?!”

Din memang selalu punya alasan untuk menghidar dari Kaito. Entah itu bermalam di tempat Opi atau Yuya, tidak mengangkat telepon Kaito, dan jika terpaksa ia datang, ia akan menghindar untuk diam di tempat itu. Ia lelah sekali dengan sikap Kaito, dan sejak bertemu Yuya, ia kini bekerja di sebuah restauran yang gajinya lumayan. Sehingga sedikit demi sedikit ia bisa mengumpulkannya untuk membayar hutangnya pada Kaito.

“Tak perlu khawatir..aku akan mengembalikan hutangmu…setelah itu…” Din menelan ludahnya karena merasa gugup akan mengatakan hal itu, “Kumohon kau tidak menggangguku… kita putus saja…” ucap Din akhirnya.

“Jangan bercanda gadis bodoh! Kau itu milikku…kau tak akan bisa membayar semua hutangmu padaku…” nada bicara Kaito meremehkan yang selalu jadi sumber ketakutan seorang Din.

“Sudahlah Kai…” Din beranjak dan hendak pergi dari tempat itu ketika Kaito menahan lengannya, melemparkan tubuh Din ke lantai.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Din. Hingga sebuah tanda merah berbekas di pipi gadis itu.

“Jangan bodoh!!” kini Kaito terlihat tambah marah padanya.

Din mendorong Kaito namun sia-sia karena tenaga Kaito tentu lebih besar darinya. Pria itu membuka ikat pinggangnya dan memukulkan ikat pinggang itu ke tubuh Din.

“Kyaaa!!” Din berteriak dan berhasil menghindar. Dengan cepat ia menuju pintu dan berlari keluar.

Namun Kaito mengejarnya. Din masih berlari hingga ia rasakan tangannya tertangkap oleh tangan Kaito.

“Gadis tak tahu malu!! Kau tidak bisa hidup jika waktu itu aku tidak membantumu!!!” suara Kaito menggema dan membuat tangis Din kini mengalir karena ketakutan yang ia rasakan.

Kaito kembali mengayunkan ikat pinggang itu dan kali ini tepat sasaran. Tentu saja rasanya sakit sekali. Apalagi Kaito mengayunkannya sekuat tenaga. Din mulai merasakan perih di tubuh bagian kanannya.

Din masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Kaito yang semakin keras.

“Kumohon Kaito!! Kumohon…” Din masih berlinangan air mata.

Kaito melemparkan ikat pinggangnya, lalu mendorong Din hingga terjatuh ke aspal. Pria itu mengunci tubuh Din dan memukuli wajah Din tanpa ampun hingga gadis itu berdarah di beberapa tempat.

“Baiklah kalau itu yang kau inginkan…” cibiran Kaito terdengar jelas walaupun Din merasa pandangannya sangat kabur karena pusing di kepalanya setelah dipukuli oleh Kaito.

“Transferkan uangnya ke rekeningku… jumlahnya…” Kaito memungut ikat pinggangnya dari jalan lalu menatap si gadis dengan pandangan meremehkan, “150 ribu yen… besok siang…”

Seakan tak peduli, Kaito berbalik dan meninggalkan Din yang berbaring di jalan dengan air mata bercucuran. Dari mana ia dapatkan uang sebanyak itu? Padahal tabungannya belum cukup sama sekali.

Din berusaha mengangkat tubuhnya dari jalan, tertatih-tatih karena pusing dan darah segar masih mengalir dari sudut bibir dan hidungnya. Sebuah cahaya terang tiba-tiba membuatnya menyipitkan mata karena silau.

Perlahan cahaya itu meredup dan seorang pria turun dari mobilnya, “Din-chan!!” Yuya kaget melihat Din bersimbah darah.

“Ayo ke rumah sakit!!” seru Yuya cepat.

Din tak punya tenaga lagi untuk melawan, beberapa detik kemudian ia terjatuh di pelukan Yuya.

===============

“Jadi kenapa kau bisa dipukuli?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Yuya sesaat setelah Din sudah sadar dan bahkan kini sudah dalam perjalanan pulang.

Wajah Din di perban di beberapa tempat, dan tangannya yang sempat tergores karena jatuh di aspal juga sudah diobati. Namun setelah ini Din harus rawat jalan agar lukanya bisa sembuh total.

“Betsu ni…” Din membuang pandangannya ke luar kaca mobil.

“Atau kau memang sering dipukuli begitu?”

Din tak menjawab, dan dengan bahasa tubuhnya saja Yuya tahu bahwa itu adalah tebakan yang tepat.

“Yuya…boleh aku minta tolong padamu?” setelah berfikir, Din merasa bahwa tidak ada jalan lain lagi. Ia harus meminjam uang pada Yuya.

“Apa?”

“Bisa kau pinjamkan aku uang?”

Yuya mengerenyitkan dahi karena heran, “Kau berhutang pada pacarmu itu?”

“Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk melepaskan diri darinya…” kata Din tanpa menjawab apa yang ditanyakan Yuya.

“Wakatta…aku akan menolongmu…”

“Anggap saja kau membayarku selama ini…” Din tahu itu sangat memalukan, tapi ia tak punya pilihan lain.

Yuya terdiam tak bisa menjawab. Sebenarnya ia tak pernah berfikir bahwa Din adalah wanita murahan yang ia bayar untuk menemaninya.

Bukan.

Din hanya seorang gadis yang sama-sama kesepian seperti dirinya, dan membuatnya nyaman selama ini.

Itu saja.

“Kau boleh mengembalikannya kapan saja…jika kau sudah punya uang…” putus Yuya pada akhirnya, “Aku tak pernah berniat membayarmu untuk menemaniku…” tambahnya.

================

“Kau baik-baik saja?” tanya seorang pelayan yang sama-sama bekerja di restauran itu.

Melihat Din sangat pucat dan berjalan tidak seimbang hingga hampir jatuh membuatnya khawatir. Tapi gadis itu menggeleng sambil tersenyum, berkata bahwa ia baik-baik saja. Din memang merasakan tubuhnya akhir-akhir ini terasa aneh. Ditambah lagi ia cepat sekali capek.

“Kau harus ke dokter, Ikuta-san… biar saya yang mengantar…” katanya lagi.

“Tapi Nakame-san…aku hanya kecapean kok…” tolak Din pada gadis yang hampir seumur dengannya itu.

“Tidak bisa begitu Ikuta-san…”

Akhirnya pada hari itu Din pergi ke rumah sakit, dan itulah alasannya kini duduk di apartemen Yuya. Ia harus mengatakannya.

“Kau dapat shift pagi?” tanya Yuya yang kaget melihat Din datang tiba-tiba sebelum tengah malam. Biasanya gadis itu mendatanginya setelah larut malam.

“Hmmm…tidak…aku memang sedang tidak bekerja…” jawab Din.

“Souka… ada apa kau tiba-tiba kesini?”

Din tak mau banyak menjelaskan, akhirnya menyerahkan sebuah kertas pada Yuya. Sesaat pemuda itu tertegun, namun lama-lama ia pun mengerti.

“Chotto…kau…hah?!”

“Iya…aku hamil Yuya…”

Yuya tiba-tiba kalut dan panik karena informasi yang datang terlalu cepat membuat otaknya tak bisa berfikir cepat, “Kau yakin itu anakku? Maksudku…kau masih punya pac…”

PLAK!

Din menampar Yuya dengan sangat keras, “Aku tak pernah disentuh oleh Kaito hampir empat bulan ini… mana mungkin aku hamil anak orang lain sementara usia kandunganku baru lima minggu!!” seru Din dengan suara keras, rahangnya mengeras dan ia berdiri dengan wajah memeraha karena marah.

“Maksudku….” Yuya tak bisa menjawab apapun.

Ia tak bisa memikirkan apapun lagi. Segalanya terlalu rumit. Ia baru dua puluh dua, dan jelas karirnya masih sangat panjang.

“Kau ingin kita…menikah?” tanya Yuya dengan suara sangat pelan.

“Bukankah harusnya begitu?”

Yuya menunduk, pikirannya kalut. Sejak dulu ia memang ingin jadi ayah muda, punya istri di usia muda. Dan kalau Yuya boleh jujur, ia sangat senang mendapat berita dari Din. Tapi ini bukan masalah dirinya saja, ketika ia memutusakn untuk menikah, maka tidak hanya popularitasnya yang terancam, Hey! Say! JUMP sendiri akan mendapat masalah, penggemaranya akan kecewa. Semuanya jadi terlalu rumit, apalagi dia masih sangat muda.

“Tidak lebih baik kalau kita….kau tahu kan Din…kita masih terlalu muda…”

“Yappari…” Din tak kuat lagi menahan tangisnya, “Sejak dulu kau hanya menganggapku cewek murahan yang bisa kau tiduri seenaknya kan?”

“Bukan begitu!!” bantah Yuya, “Aku hanya tak siap jika harus menikah sekarang…aku…”

“Kau memang tak pernah siap untuk apapun!!!” bentak Din, “Sudahlah…ini percuma saja… kau tak perlu khawatir. Aku akan menghidupi anak ini sendiri… dan aku juga tak akan buka mulut pada siapapun!!!” dengan ucapan itu, Din berlari keluar dari mansion itu, meninggalkan Yuya.

Namun sesaat kemudian Din berbalik, “Aku juga akan mengembalikan uangmu…tak perlu khawatir!!!” tambahnya.

Sementara itu Yuya tak bergerak dari tempatnya, memandangi hasil tes kehamilan milik Din. Itu bayinya, dan seharusnya ia bertanggung jawab atas kehidupan janin kecil yang kini ada di tubuh Din.

Tapi beberapa keegoisan yang muncul di benaknya juga mengganggu dirinya. Ia tak punya jawaban, ia terlalu pengecut untuk memperjuangkan ini.

==============

4 months later~

Bohong jika Yuya sudah melupakan masalahnya dengan Din. Ia selalu kepikiran dan sulit untuk tidur tenang selama empat bulan ini. Mimpi buruk sering sekali mendatangi dirinya.

Tapi Yuya tak berani bercerita pada siapapun, termasuk Ibunya. Ah, jika memikirkan Ibunya, ia jadi merasa bersalah pada Din. Akhir-akhir ini ia memikirkan kemungkinan bila ia mengundurkan diri dari Johnnys dan menikah dengan Din, membangun keluarga dengan gadis itu.

Jika saja ia tidak terlalu egois.

“Melamun di sore hari itu tidak baik…” ucap Inoo yang baru datang sore ini ketika mereka akan mengambil gambar untuk majalah seperti biasanya.

“Betsu ni…” jawab Yuya tersenyum canggung pada Inoo.

Inoo menyerahkan sebuah kertas dengan tulisan sebuah alamat rumah.

“Apa ini?” tanya Yuya bingung.

“Kupikir kau lebih baik kesana untuk melihat Din-chan…” jawab Inoo.

“Hah? Untuk apa?”

“Kau tak perlu mengelak. Kalau kau belum tahu, kini aku berpacaran dengan sahabat Din, Opi, jadi kau tak perlu memberitahu pun aku tahu kau ada masalah dengan Din. Beberapa bulan ini Opi juga terlihat sangat khawatir pada Din-chan…” jelas Inoo dengan santai.

“Jadi…kau tahu? Aku…”

“Aku tak bisa menjawab apapun, tapi kau harus tahu gadis itu berjuang sendirian…aku tak ingin sahabatku menjadi tidak bertanggung jawab macam ini…datangilah dia,” kata Inoo lagi.

Yuya memandangi kertas itu, ia sudah memutuskan, dan seharusnya apapun yang terjadi ini sudah keputusan terbaiknya.

Maka malam itu Yuya membawa mobilnya berjalan ke alamat rumah yang tertera disitu. Sebuah rumah sederhana yang di depannya bertuliskan nama keluarga Din, ‘Ikuta’.

Pemuda itu menarik nafas panjang sebelum memutuskan untuk memencet bel rumah itu, hingga seorang gadis membuka pintu itu.

Din.

Dengan sweater hijau yang menutupi tubuhnya.

“Ada apa kau kesini?” seru Din kaget.

“Aku….”

Din menarik Yuya keluar dari pekarangan, menariknya ke sebuah taman kecil yang ada di sekitar perumahan itu.

“Hisashiburi da ne…” ucap Yuya.

Din hanya mengangguk-angguk canggung.

“Apa kabar?” tanya si pemuda dengan tak kalah canggung.

“Seperti yang bisa kau lihat…” jawab Din sambil menunduk.

Yuya menarik nafas panjang, sudah saatnya ia mengatakan maksudnya, “Din… ku tahu kau mungkin sekarang membenciku. Tapi, aku ingin menunjukkan bahwa aku tak lari dari kenyataan…aku…”

“Maksudmu?”

“Aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Kita akan menikah dan aku tak peduli jika aku harus dikeluarkan dari Johnnys. Setelah ini aku akan memberitahu manajerku, dan jimusho juga…” ucap Yuya dengan mantap.

Din tiba-tiba terisak pelan, “Arigatou…Yuya…tapi kau tak perlu melakukan itu…”

“Kenapa?! Kau akan menikah dengan orang lain?! Jangan bilang itu Kaito!!” Yuya menarik bahu Din hingga si gadis menatap ke arahnya langsung, “Jawab aku!! Din!! Aku tak rela jika anakku harus dibesarkan oleh orang macam itu!!”

Din melepaskan tangan Yuya di bahunya, “Tidak… anak kita sudah tak ada…” Din menyentuh perutnya lalu terisak lebih keras.

“Hah?! Kau menggugurkannya?” Yuya merasa ia penyebab Din melakukannya, mungkin gadis itu putus asa sehingga memutuskan hal itu.

Din menggeleng, “Aku terjatuh di kamar mandi saat usia kandunganku dua bulan… ternyata janinnya tidak kuat dan aku harus kehilangannya… gomen… gomen…” ucap Din sambil terisak makin dalam.

Yuya tak bisa menutupi kekagetannya, “Uso… kau… keguguran?! Dan kau tak bilang padaku?!”

Din menyentuh lengan Yuya, “Gomen…maafkan aku…aku… bukankah dengan begini Yuya bisa hidup tenang? Aku…” Din masih terisak hebat

“Baka!” Yuya menarik Din ke pelukannya, “Maafkan aku tidak mencarimu selama ini…bahkan aku tidak tahu kalau kau keguguran…aku…” kini Yuya juga berurai air mata karena merasa bersalah.

Din melepaskan pelukan itu, “Sudahlah…semuanya sudah terjadi,” Din tersenyum menatap Yuya, “Sekarang Yuya bisa tenang, dan kita bisa menganggap bahwa kita tidak pernah kenal… iya kan?”

Yuya terdiam. Ini tidak ada dalam skenario otaknya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi gadis ini, ia sudah menyiapkan dirinya untuk dibenci semua orang dan berjuang untuk Din dan anaknya. Kini semuanya tiba-tiba terselesaikan dengan cara yang tidak ia inginkan.

“Yuya bisa hidup dengan tenang, dan aku juga…”

“Kalau…aku tidak peduli kau punya anak atau tidak?”

“Hah?”

“Mungkin alasan pertamaku mencarimu adalah karena anak itu…tapi, aku sadar walaupun tidak ada dia, aku ingin bersamamu…” ucap Yuya sambil menggenggam tangan Din.

“Tapi…bukankah kita hanya… sex partner?”

“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu…” Yuya menyentuh bibir Din dengan bibirnya, mengecup pelan bibir Din, “Kita mulai dari awal… ya?”

“Yuya…”

“Aku berubah karenamu…dan aku tak ingin kau meninggalkan aku…”

Din kembali berurai air mata, “Yuya tak boleh menyentuh siapapun kecuali aku…”

“Wakatta…” Yuya menarik Din ke dalam pelukannya.

Ia tahu bahwa setelah ini semuanya akan berbeda. Walaupun tidak mau mengakuinya, memang Din lah yang bisa membuatnya nyaman. Yuya tidak mendapatkannya dari gadis lain.

“Ini akan jadi perjanjian panjang…kuharap kau sabar hingga kita bisa meresmikan hubungan ini di catatan sipil…” kata Yuya sambil memandangi Din.

“Hahaha… kau berfikir terlalu jauh, Yuya!”

“Terserah kau bilang apa…” lalu Yuya berbisik pelan di telinga Din, “Daisuki da…”

===============

Jumping To My Heart ~Love Isn’t~ END

To Be Continued….

Maapkan jadi lama karena adalah saia lagi sibuk… 😛
COMMENTS ARE ALWAYS LOVE… 🙂
Hehehe…
Maaf juga kalo aneh dan tidak sesuai harapan…hehehe..
#Bow
Please Don’t Be A Silent Reader…
I LOVE COMMENTS!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s