[Minichapter] Twisted Heart (Chapter 1)

Title        : Twisted Heart
Type       :Minichapter
Chapter  : 1
Author    : Dinchan Tegoshi & Irene Angelina
Genre      : Romance, Shounen Ai agak Yaoi *my first warning!!*
Ratting    : PG-15 nyerempet NC
Fandom   : JE, HSJ
Starring    : Yabu Kota, Inoo Kei, Hikaru Yaotome, Takaki Yuya (HSJ)
Disclaimer    : We don’t own all character here. All HSJ members are belong to JE. We just own the plot!!! Pure Shounen Ai dan Yaoi *my second warning!!* COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
Don’t Like, Don’t Read…
Please Don’t Be A Silent Reader… 🙂

TWISTED HEART
~ Chapter 1 ~

Rapat hari ini sangat membosankan untuk seorang Kei Inoo. Ia tak punya pilihan lain selain duduk disitu mendengarkan para staffnya berbicara soal kemajuan dan kemunduran perusahaan yang dikelolanya.

Bukan miliknya, tapi tanggung jawab atas perusahaan ini sepenuhnya ada pada dirinya. Ayahnya memutuskan bahwa anak semata wayangnya segera terjun di masyarakat setelah menamatkan kuliahnya.

“Baiklah…rapat hari ini selesai…” kata seorang staff yang dikenal sebagai tangan kanan dari Inoo, Hikaru Yaotome.

Inoo menguap lalu beranjak dari kursi empuknya, “Thanks Hikka…” ucapnya sambil menepuk pelan bahu sahabatnya itu.

Hikaru mengangguk.

“Hari ini kemana yaaa??” ucap Inoo setelah semua staff keluar dari ruang rapat.

“Sumimasen Kei-sama… saya tidak bisa menemani anda malam ini…” jika bukan karena Ibunya memintanya pulang cepat, pantang bagi seorang Hikaru untuk tak menemani bosnya itu.

“Un… wakatta… aku pergi sendiri saja…” kata Inoo mennghadiahkan sebuah senyum pada Hikaru, “Ngomong-ngomong… jangan panggil Kei-sama terus… kan sudah kubilang..kita ini teman…” tambah Inoo.

Hikaru tak menjawab dan hanya menunduk sekilas pada Inoo.

Tak seperti biasanya seorang Inoo pergi sendiri. Ia tak ingin diantar supirnya juga malam ini dan memutuskan untuk pergi ke bar langganannya saat kuliah dulu. Saat kuliah, ia nyaris jarang di rumah karena mengerjakan tugas dan setelahnya pasti menghabiskan waktu di bar itu.

“Hoy!” Inoo masuk ke bar itu dan menyapa salah seorang bartender di tempat itu yang sudah sangat ia kenal, Takaki Yuya.

“Kei-chan!! Sudah lama kau tak kesini!! Hahaha~” sapa Yuya lalu bersalaman dengan Inoo.

“Maa ne… aku sedikit sibuk akhir-akhir ini…” jawab Inoo.

“Masih minuman yang sama?” tanya Yuya memastikan langganannya ini tak ganti selera.

Inoo mengangguk, “Mochiron…”

Pemuda itu memperhatikan ruangan bar yang sedikit berubah. Beberapa hiasan sudah diganti, lampu juga sudah berganti sebagian. Sesaat kemudian pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk tak jauh dari dirinya.

Pria itu duduk sendirian, dengan martini di hadapannya. Tampak memikirkan sesuatu.

“Anou… Yabu-san desu ka?” tanya Inoo ketika menyadari siapa yang ada di sebelahnya itu.

Pria yang dipanggil Yabu itu menoleh, mengerenyitkan dahinya karena tak menyadari siapa yang disampingnya.

Yabu memiringkan kepalanya, “Anou… dochira sama desuka? (Anda siapa ya?)”

“Inoo Kei desu!! Masih ingat? Kita satu klub waktu kuliah!!” ucap Inoo bersemangat.

Seakan disadarkan, wajah Yabu berubah cerah lalu menyambar tangan Inoo yang terulur, “Hisashiburi desu!! Waaahh… sudah lama tak bertemu… apa kabar?” tanya Yabu.

Inoo mengangguk, “Baik sekali… Yabu-san apa kabar?”

“Lumayan…hahaha..”

Inoo memandangi wajah Yabu yang belum berubah sama sekali, hanya beberapa kerutan yang menjadi tanda bahwa seorang Yabu juga sudah bertambah umurnya.

Bukan tanpa alasan Inoo memandangi sosok yang kini duduk di hadapannya.

Yabu Kota.

Jika ia mengingat apa yang telah ia lewati di kampus selama masa studinya, mungkin hal yang terbaik adalah bertemu dengan Yabu. Sebagai seorang pemuda kurus yang kadang tak terurus, sosok Yabu yang dua tahun di bawahnya dalam hal menempuh pendidikan itu adalah sosok humoris yang pandai bergaul dengan siapapun. Memang umur Yabu lebih tua darinya, namun Yabu mengambil kuliahnya lebih telat dari Inoo.

Alasan paling tepat untuk menggambarkan sikap Inoo hanyalah satu hal, Inoo tertarik pada Yabu sejak dulu. Tapi hubungan mereka tak pernah lebih dari sekedar hubungan kakak kelas dan adik kelas di sebuah klub musik. Dimana Inoo menjadi pianis dan Yabu sebagai gitaris.

Tak lebih dari itu.

Ya, sebenarnya Inoo sering berharap bahwa Yabu bisa lebih dari sekedar adik kelasnya yang pintar bermain gitar. Tapi Inoo tak pernah berani bertanya.

“Bagaimana klub musik?” tanya Inoo, setelah berhasil mengendalikan dirinya.

Yabu berdehem sejenak, “Baik… tapi aku sedang vakum… mengurusi tugas yang semakin menumpuk…” jawabnya lalu meminta bartender mengambilkan minuman lain untuknya.

“Sou ne…” bibir Inoo kelu. Tak yakin dirinya ingin menanyakan apa lagi pada Yabu.

“Kau sendiri? Setelah lulus bagaimana?” kini Yabu yang bertanya.

“Bekerja di perusahaan ayahku…” tak mungkin ia menyebutkan “aku jadi Vice President di salah satu anak cabang perusahaan ayahku…” Dia bukan orang yang suka menonjolkan diri macam itu. Beruntung ia tak bersama Hikaru yang selalu memanggilnya dengan sebutan Kei-sama.

“Ii ne…” gumam Yabu tak jelas.

“Eh? Kenapa?”

Yabu menggeleng, “Nani mo nai… hahaha…”

Percakapan itu pun berlangsung lebih lama dari yang mereka kira. Tak bertemu selama setahun membuat mereka banyak bertanya tentang kehidupan masing-masing. Inoo baru sadar kalau Yabu memang enak diajak mengobrol. Ia tak pernah menyangka akan hal itu karena Yabu yang ia kenal dulu nyaris tak pernah sendirian, banyak adik kelas bahkan kakak kelas yang selalu mengerubunginya dimana pun ia berada.

“Ah… jam satu pagi…” ujar Yabu sambil melihat ke arah jam dinding yang terletak di belakang meja bar.

“Sou ne…” demi apapun Inoo tak rela percakapan ini berakhir.

“Aku pulang dulu deh…” ucap Yabu.

“Pulang… naik apa?” tanya Inoo pelan, takut pertanyaannya ini menyinggung Yabu.

“Bis kota seperti biasa…hahaha…”

“Bareng saja, gimana? Aku bawa mobil…kebetulan mau pulang juga…” dalam hati Inoo komat-kamit semoga Yabu menerima ajakannya.

“Boleh juga…” jawab Yabu ringan.

Sorakan di dalam hati Inoo pun tak bisa ia pungkiri lagi.

“Ini gedung apatemenmu?” tanya Inoo ketika Yabu bilang mereka sudah sampai di depan bangunan tua di pinggiran kota Tokyo.

Yabu mengangguk, “Maaf membuatmu mengantarku sampai kesini…” Yabu hendak turun dari mobil, “Mau mampir?” tanyanya, kembali menoleh pada Inoo.

Inoo menggeleng, “Sudah terlalu malam… pagi maksudku…hahaha…” ucapnya canggung.

“Baiklah…”

Cup.

Sebuah kecupan mendarat di bibir Inoo yang kini terserang shock akibat gerakan Yabu yang tiba-tiba, “Sankyu… Kei-chan…”

Kalau saja Inoo bisa menghentikan waktu, ia pasti sudah melakukannya. Tak merelakan pria itu pergi begitu saja. Ketika tersadar ia melihat Yabu melambaikan tangan padanya.

“Aku menuliskan nomorku di situ… telepon aku kapan-kapan…” katanya sedikit berteriak karena jaraknya cukup jauh.

Sebuah tissue di atas jok penumpang bertuliskan nomor telepon dan alamat e-mail milik Yabu Kota.

“Uso…” gumamnya.

Inoo tak punya definisi mengenai apa yang dialami jantungnya yang rasanya berdetak dua ratus kali lipat dari biasanya.

============

“Kei-sama… ini berkas yang anda minta,” ucapan Hikaru yang masuk ke kantornya membuat Inoo yang sejak tadi memandangi tissue itu pun tersadar.

“Ah! Iya! Sankyu!!” Inoo mengambilnya dan tanpa pikir panjang menandatanganinya.

Tak ada pekerjaan yang harus diperiksa ulang oleh seorang Inoo Kei. Jika pekerjaan tersebut dikerjakan oleh orang kepercayaannya, Hikaru Yaotome.

“Ada yang mengganggu pikiran anda? Kei-sama?” Hikaru memperhatikan bosnya itu sedikit berbeda hari ini.

Inoo menggeleng dan memasukkan tissue itu ke dalam saku celananya, “Betsu ni…” menambahkan senyumnya yang manis seperti biasa.

“Kei-sama… mau kopi? Atau teh?”

Inoo menoleh ke arah jam dan melihat sudah menunjukkan pukul sepuluh. Jam dimana Hikaru akan membawakan snack untuknya.

“Teh boleh juga…”

Hikaru mengangguk sekilas dan keluar dari ruangan itu.

Apa yang tertulis di tissue tadi ya? Sepanjang perjalanannya ke pantry Hikaru menebak-nebak hal itu. Ada hal yang aneh lagi. Semalam Hikaru tak bisa menghubungi Inoo.

Ia menghembuskan nafas berat.

Kei-sama nya yang sejak awal ia bertemu adalah satu-satunya orang yang ingin ia lindungi di dunia ini.

Jika saja seornag Kei Inoo menyadarinya.

Tapi dia hanyalah anak buah Kei Inoo yang selama ini mendampingi bossnya. Sejak Inoo masih duduk di SMP. Mereka tumbuh bersama dan tanpa Hikaru perlu bertanya, ia tahu seorang Inoo hanya menganggapnya sebagai sahabat saja.

Hikaru membawakan teh dan sekaleng biskuit kesukaan Inoo ketika dilihatnya si pemuda kurus itu sedang memandangi ponselnya dengan pandangan agak bingung.

“Ini teh nya Kei-sama…” Hikaru menyimpannya di atas meja kerja Inoo.

“Ah ya… terima kasih…” jawab Inoo yang pandangannya masih tertuju pada layar ponselnya.

“Ada apa Kei-sama? Ada sesuatu yang aneh?” tanya Hikaru.

Inoo mengangguk pelan, “Yabu-san mengirimiku e-mail…” ucapnya tak percaya.

Siapapun yang bernama Yabu itu, Hikaru tahu ia kini punya rival yang nyata karena Inoo memandnagi ponselnya dengan berbeda.
==============

To : Kei-chan
Subject : Hello
Hello Kei-chan… 🙂
Kaget aku mengirimu e-mail?
Aku bertanya pada Yuya, dan ia memberikan nomermu.. 🙂
Kuharap aku tidak mengganggu…
Mau makan siang bersama?
-Yabu Kota-

“Kau bercanda soal Kei-chan kan?” tanya Yuya yang sedang beres-beres di belakang meja bar.

“Soal apa?”

“Orang bodoh juga tahu kau mendekatinya…” kata Yuya lagi, “Sampai meminta nomornya segala padaku… Hahaha!”

“Haha… liat saja nanti… sudahlah, aku ada janji…” Yabu pun beranjak dari bar itu lalu menuju ke restauran yang sudah mereka sepakati.

Sebuah restauran keluarga.

Ternyata ia datang lebih awal dari Inoo. Ia pun sibuk melihat menu ketika seseorang menyapanya.

“Maaf aku sedikit telat Yabu-san…”

Yabu menatap jam yang ada di tempat itu, “Tidak…kau tepat waktu kok…”

“Aku sedikit tersesat… tak pernah ke daerah sini,” ujar Inoo dengan jujur.

Yabu terkekeh pelan. Tentu saja, daerah pinggiran Tokyo macam ini bukan daerah bergaulnya seorang Inoo Kei.

“Tidak apa-apa… ngomong-ngomong terima kasih sudah menerima ajakan anehku ini…hahaha..”

“Hah? Maksudmu?”

“Iya…makan siang… bukan makan malam…” tambah Yabu mengingatkan.

Seakan baru tersadar, Inoo tertawa canggung karena merasa perasaannya sudah terbaca oleh Yabu.

“Kebetulan saja aku…memang ingin makan diluar..hehe..” alasan bodoh yang tidak akan dipercayai siapapun.

Yabu menyadari kegugupan Inoo, namun mencoba mencairkan suasana yang mendadak menjadi canggung dan tidak menyenangkan.

“Kita seperti sedang kencan, kan?” tanya Yabu.

Inoo berharap pipinya tidak memerah dan akan ketahuan bahwa ia menyukai Yabu. Padahal ia tahu, Yabu adalah pria normal. Bukankah beberapa kali ia melihat Yabu berkencan dengan wanita-wanita di kampus mereka?

Sisa waktu makan siang pun terasa lebih lama dari biasanya. Seakan detik-detik bertambah dan jarum jam tidak bergerak seperti biasanya bagi seorang Kei Inoo yang merasakan kegugupannya.

“Terima kasih ya…” Yabu yang diantar kembali oleh Inoo ke apartemennya setelah makan siang itu.

“Un! Sama-sama…” Inoo belum bergerak sementara ia melihat punggung Yabu menjauh dari mobilnya.

Tanpa pikir panjang Inoo membuka kaca mobilnya, “Yabu-san!!” teriaknya memanggil si pria yang sudah hampir masuk ke gedung tua itu.

Yabu berbalik, “Ya?!”

Inoo turun dari mobilnya, mendadak mendapatkan ide bodoh karena malam sebelumnya ia dicium oleh Yabu. Kini ia yang menyambar bibir si pria lebih tua itu.

“Eh? Gomen… aku…”

Seketika Yabu terkekeh pelan, “Ini masih siang Kei-chan…”

“Bukan..itu…soalnya semalam…” bibir Inoo kelu, otaknya buntu. Punya IP bagus kini tidak membantunya sama sekali.

“Persetan dengan waktu!” umpat Yabu lalu menarik wajah Inoo, melumat bibir pria itu, memberikan ciuman yang cukup lama dan membuat keduanya terengah saat berhenti.

“Aku sudah menyukaimu sejak kita di satu klub…” kata Yabu masih memegangi wajah Inoo dengan kedua tangannya.

“Uso…” mata Inoo melebar tak percaya.

Yabu menjawabnya dengan mendaratkan lagi ciumannya pada Inoo.

==============

“Apa? Jadi kamu beneran sudah jadian dengan Inoo? As in Inoo Kei?” tanya Yuya.

“Ya….” jawab Yabu sambil menyodok bola bilyard dengan tongkat di tangannya.

“Haha…” Yuya tersenyum hambar dan melirik Yabu yang sedang tersenyum penuh arti.

“Hikaru-kuu~~n” panggil Inoo ke bilik tempat Hikaru bekerja.

“Ada apa Kei-sama?” jawaban Hikaru membuat Inoo merengut. “Hmmm…baiklah… maksudnya Kei-chan…” entah kenapa panggilan sesimpel itu bisa membuat jantung Hikaru berdetak lebih cepat. Untung dirinya memiliki warna kulit yang agak gelap sehingga rona di pipinya tersamarkan.

“Hari ini temani aku makan siang ya, habis itu temani aku juga mencari kado….” kedip Inoo.

“Oke,” seorang Hikaru tak pernah punya alasan untuk menolak ajakan Inoo.

“Terima kasih.” Inoo tersenyum dan meninggalkan Hikaru. Pemuda itu melihat kalender dan langsung menepuk dahinya, “Kenapa dengan aku ini. Besok hari valentine, tapi kenapa aku belum mencari hadiah untuk Kei? Lagipula apa yang bisa kuberikan ke dia? Dia sudah punya segalanya. Aaah! Bakaa!” Hikaru menepuk-nepuk dahinya berpikir keras.

Siang harinya saat jam makan siang, Inoo sudah bertengger di pintu bilik ruang kerja Hikaru dan menggandeng Hikaru untuk pergi. Mereka pergi ke cafe yang dekat pusat perbelanjaan agar sehabis makan siang mereka bisa langsung berbelanja.

“Kamu mau beli untuk siapa, Kei-sama?”

“Sepertinya panggilan tadi pagi lebih bagus…” Inoo berdehem sesaat, “Kei-chan…iya kan?”

“Tapi… Kei-sama…maafkan aku tak bisa memanggilmu seperti itu,”

“Aaah!! Itu lucu sekali….” pertanyaan Hikaru tidak digubris karena perhatian Inoo beralih ke pedagang yang menjajakan aksesori kalung dan gelang yang bagus, “Tapi sepertinya dia tidak suka benda begitu. Ayo pergi kesana!” ajak Inoo ke suatu tempat. Tapi saat Inoo berjalan, Hikaru menyempatkan dirinya untuk beli barang yang ditunjuk Inoo barusan sebelum berjalan mengikuti Inoo.

Setelah mencari barang sekitar sejam, mereka baru berjalan lagi ke kantor dengan harapan besok, barang yang mereka beli akan diterima dan disukai oleh si penerima hadiah.

Besoknya, Inoo mempunyai janji untuk makan siang bersama dengan Yabu Kota sekaligus untuk memberikan hadiah yang telah ia beli kemarin. “Hikaru… Masalah proposal yang dirapatkan tadi, aku serahkan kepadamu ya. Aku keluar dulu sebentar,” kata Inoo kepada Hikaru saat jam makan siang.

Hikaru mengangguk, “Anoo…Kei-sama…” tetapi orang yang dipanggil sudah keburu melangkah pergi. Hikaru tersenyum, “Mungkin nanti saja saat jam pulang,”

“Kou-chan…. Kamu ingat ini hari apa?”

“Hari Rabu?”

“Bukan itu!” Inoo cemberut.

“Hari mencintai Kei-chan?” kata Yabu menggoda.

“Baka!” Inoo menjitak dahi Yabu dengan bercanda.

“Aku tahu, Kei… Ini hari valentine dimana seharusnya nanti malam kita menghabiskan waktu dengan makan malam romantis, lalu berdansa romantis selanjutnya dan…” Yabu membungkukkan badan berbisik di telinga Inoo, “have a rough sex at midnight…”

Inoo merasakan wajahnya memanas tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain tertawa dan menjitak dahi Yabu lagi, “Ah… Aku ada sesuatu untukmu,”

“Apa ini?” Yabu membuka kotak kecil dari Inoo. Yabu melihat ada cincin polos berukirkan huruf ‘K’.

“K untuk Kei?” tanya Yabu.

“Untuk Kota…” protes Inoo tapi tak bisa menutupi maksudnya memberikan huruf itu.

Yabu mengecup bibir Inoo mesra, “Kou… Orang-orang memperhatikan kita..” kata Inoo disela-sela ciumannya dengan Yabu.

“Memangnya aku pernah peduli?” Yabu melanjutkan ciuman mesranya dengan Inoo sampai mereka melepas ciuman untuk mengambil nafas.

“Semoga kamu suka…” Yabu menunjuk pergelangan tangan Inoo yang sudah ia pakaikan gelang perak.

“Kireii naa~” Yabu mendapat bonus ciuman dari Inoo.

“Aku harus balik ke kantor. Malam ini kamu datang ke apartmenku kan?”

“Tentu.” Yabu mengangguk dan melemparkan kiss bye ke Inoo yang berjalan kembali ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari cafe.

=============

“Kei-sama… Ini berkas yang anda perlukan,” Hikaru bernapas lega karena bisa sempat bertemu dengan atasannya, Inoo. Ia mengorbankan jam makan siangnya untuk mengerjakan berkas proposal yang diminta Inoo agar ia bisa menyelesaikannya tepat waktu dan memiliki kesempatan untuk memberikan hadiah valentine untuk Inoo.

“Hikka… Cepat sekali! Terima kasih!” Inoo tersenyum takjub melihat hasil kerja Hikaru. Tidak salah dirinya memberikan jabatan kepada Hikaru sebagai anak buahnya.

“Sama-sama Kei-sama…”

Inoo terkekeh. “Hikaru lihat ini! Yabu memberikanku gelang…” Hikaru terpana melihat aksesori yang menghiasi pergelangan tangan Inoo. Seharian ini ia berkutat di ruangan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaanya sehingga ia tidak menyadari apa yang berbeda dari Inoo, “Ah…. Tadi siang, kamu manggil aku ya? Ada apa Hikaru?”

Hikaru mengantongi kado valentine berisi gelang dengan pendant bertuliskan ‘love u’ yang ingin ia berikan kepada Inoo. Tapi melihat Yabu sudah mengambil start memberikan gelang kepada Inoo, secara Yabu sudah resmi menjadi kekasih Inoo maka Hikaru memutuskan untuk mundur teratur, tidak ada lagi kesempatan untuk dia mendapatkan hati Inoo.

“Hikka??”

“Ah! Tidak ada apa-apa, tadi aku mau tanya kalau pekerjaanku ini apa bisa memberikannya besok pagi ternyata sekarang sudah selesai.” Jawab Hikaru dengan canggung.

“Oh itu… Kukira ada apa. Oh ya… Ini..” Inoo memberikan sebungkus cokelat bertuliskan ‘happy valentine’, “Selamat hari kasih sayang,”

“Kenapa kau memberikan coklat untuk pria sepertiku? Haha..” padahal coklat itu berarti banyak untuknya.

“Karena…aku membeli untuk Yabu, tapi karena kebanyakan…aku berikan padamu juga deh…” ucap Inoo enteng, “Jya nee Hikka!” Inoo melambaikan tangan ke Hikaru yang masih terpana. Hikaru melihat sepotong kartu yang melingkar di batang cokelat. ‘Terima kasih Hikaru-kun atas kebersamaan kita selama ini. Love, Inoo.’

I love you Inoo Kei…..

Inoo sudah siap di apartmennya, apartmen ini sebenarnya bukan miliknya. Milik orang tuanya tapi karena orang tuanya sangat jarang menempati apartmen itu, jadi Inoo lah yang tinggal di apartment itu. Inoo sudah menyiapkan makan malam romantis, dengan lilin aroma yang sudah siap dinyalakan saat Yabu tiba.

Tapi seolah penantian Inoo sia-sia, sampai 3 jam dari waktu yang ditentukan tiba, kekasihnya belum juga datang. Telepon Inoo tidak dijawab, saat ia bertanya dengan Yuya, pria berambut pirang itu juga tidak tahu menahu soal keberadaan Yabu.

Makanan yang Inoo siapkan sudah dingin, saat jam 12 sudah berdentang, dengan kecewa Inoo memasukkan makanan yang disiapkannya kedalam kulkas. Saat dirinya masuk ke kamar tidur, terdengar ketukkan di pintu, hatinya melonjak.

Tetapi dahi Inoo mengerut melihat siapa yang berada didepan pintunya. Yabu yang digotong oleh beberapa perempuan yang berada di sekelilingnya.

“Ada apa ini?” tapi mereka mengabaikan Inoo. Yabu dengan perempuan-perempuan yang tidak Inoo kenal berjalan ke ruang tamu. Setelah Yabu duduk di sofa, Inoo menyadari bahwa Yabu tengah mabuk.

“Kamu mabuk Kou-chan??” Suara Inoo meninggi.

“Ah diam!” Yabu mengibaskan tangannya ke Inoo. Inoo habis kesabarannya, kekasihnya tidak datang di waktu yang dijanjikan, tidak mengabari apa-apa dan sekarang datang ke apartmennya dengan membawa  perempuan sembarangan.

“Keluar sekarang juga!!” Inoo menarik perempuan-perempuan berbusana minim itu.

Perempuan itu bersungut-sungut meninggalkan apartmen Inoo. “Ah Kei-chan…” Yabu mengalungkan lengannya di leher Inoo.

“Dan kamu! Kamu tidak bisa menepati janjimu…!” teriak Inoo pada Yabu.

“Janji apa Kei-chan!” tanya Yabu berkata dengan sempoyongan.

“Lepaskan aku Kou!” Inoo berusaha melepaskan diri dari pelukan Yabu. Bau alkohol tercium dari jarak yang pendek seperti itu, dan Inoo tidak menyukainya.

“Ah… Aku ingat… Untuk sex kan?” Yabu nyengir hentai.

“Tidak ada seperti itu! Kamu mabuk Kou… Lebih baik kamu tidur…” Inoo menuntun Yabu yang masih bergelayutan di badan Inoo.

Tapi saat Yabu mendarat di ranjang tempat tidur tamu, Yabu menarik lengan Inoo. “Lepaskan aku, Kou!” tetapi yabu tidak memperdulikan Inoo, ia mencium Inoo dengan liar dan mulai membuka baju Inoo.

Tenaga Inoo tidak sebanding dengan tenaga Yabu. “Kou…” bahkan jeritan protes tidak diindahkan Yabu, malam ini menjadi malam ‘penyiksaan’ untuk Inoo baik secara fisik maupun mental.

===================

Keesokan harinya Yabu melihat keadaan disekitarnya. “Dimana ini?” Yabu menoleh kesampingnya dimana terdapat tubuh kekasihnya yang tidak berbusana. Dan juga dirinya. “Ah… Aku telah melakukannya dengan Kei?”

Kei mengerang disampingnya. Yabu mengubah raut muka dan memeluk figur Inoo yang terlihat ringkih, “Kei… Maafkan aku..”

“Kou-chan…. Hidoi…” Inoo terisak.

“Maafkan aku Kei. Aku lepas kendali semalam,”

Inoo menatap nanar Yabu.

“Gomenasai…” ucap Yabu pelan.

Inoo melihat wajah Yabu yang penuh dengan penyesalan, segala apapun yang diperlakukan kepada dirinya semalaman, terlupakan sudah. Inoo menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan perminta-maafan “Tapi hangatkan makanan yang ada di kulkas. Itu makanan buatanku, aku lapar sekarang…”

Yabu mengangguk dan mengambilkan Inoo handuk sebelum berjalan menuju dapur dan mengeluarkan sisa makanan yang seharusnya sudah ludes malam sebelumnya.

=============

“Hei orang bodoh!! Kamu gila membawa perempuan sewaanmu ke apartment Inoo? Lalu sekarang bagaimana, baka? Ia memutuskanmu?” tanya Yuya saat Yabu mampir di Bar tempat langganannya setelah ia pulang dari apartment Inoo.

“Ck… aku kelewatan asik menghabisi botol Jack semalam dan tanpa sadar menyruruh pelacur itu mengantarku ke apartmen Kei. Lalu disaat aku mabuk berat tanpa sadar aku memaksa Inoo untuk tidur denganku.”

“WHAAAA…”

Teriakan Yuya tertahan karena isyarat yang dilemparkan Yabu.

Yuya menggeleng, “Kamu memang gila. Tidak heran dia memutuskanmu.”

“Tidak! Dia masih memaafkanku…. Ck! Kuso… Kenapa bisa kecolongan malam tadi? Untung saja si bodoh Kei masih mempercayaiku…”

“Lain kali kau harus lebih berhati-hati, walau begitu Inoo tidak bodoh. Kalau kau ceroboh bisa-bisa bukan hanya kamu yang diputuskannya tapi juga dihajar sama bodyguardnya.”

“Yah… tentulah aku akan berhati-hati, karena targetku ini Kei… Inoo Kei.”

==============

Dua hari setelah hari valentine, Inoo merasa rindu dengan kekasihnya karena setelah insiden itu, besoknya ia harus terbang ke kota lain untuk mengadakan rapat dengan rekan bisnis perusahaannya dan baru hari ini ia pulang.

Sore itu Inoo menyempatkan diri untuk mengunjungi bar tempat ia bertemu lagi dengan Yabu, biasanya di jam-jam itu Yabu sering berada di café itu. Saat dirinya sudah beberapa meter dari tempat kafe, Inoo melihat sesosok figur yang ia kenal berjalan keluar dari café sambil menggandeng perempuan disampingnya. Mereka tampak sedang mengobrol diselingi tawa yang keluar dari mulut Yabu atau mulut wanita itu.

Inoo yakin kali ini Yabu dalam keadaan sadar, tidak mabuk seperti malam sebelumnya. “Yabu?”

Dan pandangan mereka berdua berpautan.

=================

TBC~ alias To Be Continued

Menambah kegilaan saia dengan Irene..
My Partner In Crime… Ayey!!
Hahahaha~
COMMENTS ARE LOVE~
Please Don’t Be A Silent Reader…
We do love comments!!! Yeeeeaaaahhh!!!
YABUNOO FTW!! #plakk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s