[Oneshot] FLASHBACK

Title        : Flashback
Type          : Oneshot
Author    : Opi Yamashita
Genre        : ?????
Ratting    : G
Fandom    : JE
Starring    : Takaki Yuya (Hey!Say!JUMP), Hideyoshi Sora (OC), yang selentingan ga perlu disebut
Disclaimer : Tidak ada yang aku miliki dari semua chara. Yuya milik JE dan orang tua nya. Hideyoshi Sora pinjem sama Din ehehehhee….
maaf kalau rada aneh dan ga nyambung dan ngebosenin.mungkin ini bentuk kegalauan saia #ah ngomong ajah…
Please Don’t Be A Silent Reader~ ^^

FLASHBACK

Aku melangkah dengan santai. Sesaat kulihat jam tangan yang melingkar di tangan kananku.

“Terlambat 5 menit,” gumamku sangat pelan.

Orang normal mungkin akan berlari terburu-buru setelah tahu dirinya terlambat. Tapi tidak denganku siang ini. Aku merasa tidak perlu berjalan cepat atau pun berlari. Aku cukup berjalan santai sambil memandang orang-orang yang berlalu lalang melewatiku. Aku sendiri tidak percaya hari ini akan terjadi. Atau mungkin ini hanya mimpi atau permainan hidup. Karena aku yakin ini hanya rencana Tuhan yang ingin membuat hidupku sedikit menantang. Tapi apa benar hanya itu?

Aku mendongakkan kepala sehingga menatap lurus ke depan. Tepat setelah itu, kulihat laki-laki itu. Laki-laki yang mungkin hanya ada di dalam mimpiku. Masih sangat jelas ada di ingatanku. Kejadian hari itu.

——————–

“Kau? Sora?”

Aku menoleh saat ada orang yang memanggilku di acara ulang tahun sahabatku.

“Kau Hideyoshi Sora kan?”

Tubuhku serasa meleleh saat dia dengan jelas mengingatku. Rasanya ini terlalu membuatku bahagia. Padahal aku sudah meyakinkan diriku agar tidak menyapanya saat kulihat dia di pintu masuk.

“Yuya? Takaki Yuya?” kata-kata itu seharusnya tidak kuucapkan. Yang ada dihadapanku ini benar-benar laki-laki itu. Laki-laki yang membuatku terpesona selama 3 tahun.

“Ternyata benar,” ucapnya senang. Dan melihatnya seperti itu, membuatku jauh lebih senang. “Sedang apa di sini?”

Aku memaksakan untuk tersenyum. Menggunakan kata terpaksa sepertinya tepat untuk keadaanku sekarang. Karena sebenarnya aku ingin segera pergi dan menangis sekeras-kerasnya untuk mengutuk kebodohanku di masa lalu dan sekarang.

“Tentu saja menikmati pesta. Pemilik acara ini adalah temanku.”

“Souka. Jadi kau temannya Miki. Kei, pacarnya Miki adalah sahabatku. Jadi aku di sini,” katanya tanpa kutanya. Tapi itu yang membuatku begitu mengaguminya.

“Rasanya kita sudah lama tidak bertemu. Sekitar…..”

“Dua tahun,” selaku. “Sudah dua tahun kita tidak bertemu.”

Yuya mengangguk. “Begitukah? Rasanya lebih dari itu.”

“Tidak. Karena aku sangat mengingatnya. Hari perpisahan kita,” gumamku dalam hati.

“Kau terlihat berubah,” ucap Yuya membuatku heran. Apa yang berubah dariku?

“Kau terlihat lebih manis,” lanjutnya.

Aku terpaku. Yang tadi dia katakan itu tidak salah kan? Dia bilang aku manis? Tanpa sadar aku tersenyum.

“Kau sendiri tidak berubah.” Kau tetap mengagumkan untukku.

“Benarkah? Rasanya aku terlihat lebih keren sekarang,” Yuya bergurau. Dan berhasil membuatku tertawa. Seperti biasanya.

“Kau sendirian?” tanya Yuya padaku.

Aku mengangguk. Sebenarnya aku datang bersama seseorang. Tapi aku tidak ingin merusak momen indah ini. “Kau?”

“Aku datang bersama pacarku. Tadi dia menghilang begitu saja. Saat aku akan mencarinya, tidak sengaja aku bertemu denganmu,” jelasnya. Sangat jelas kurasakan perasaan kecewa. Ternyata dia sudah mempunyai kekasih. Aku mengepal erat tanganku untuk mencoba menenangkan diriku. Kenapa kejadian seperti ini selalu terulang?

“Sora, rasanya aku harus mencarinya. Sebenarnya aku masih ingin mengobrol denganmu. Tapi….”

Entah kenekatan dari mana yang datang padaku, aku menarik tangan Yuya untuk mencegahnya pergi.

“Kenapa Sora?” tanya Yuya sambil menatap wajahku. Membuatku merasa malu karena tindakanku yang tiba-tiba. Tapi sudah terlanjur kulakukan dan tidak ada salahnya aku melanjutkan.

“Kita…bisa bertemu lagi?” tanyaku ragu. Aku memejamkan mataku. Mencoba menerima jika dia menolak.

“Tentu saja.” Dengan cepat aku mengangkat kepalaku.

“Minggu depan.”

“He?”

“Bisakah kita bertemu lagi minggu depan?”

—————

“Yuya,” aku memanggil sambil setengah berlari. “Maaf aku terlambat.”

Yuya menoleh padaku lalu tersenyum ramah. Senyum yang sanggup menghipnotis wanita manapun yang melihatnya.

“Tidak. Aku baru saja sampai.”

Setelah itu, aku dan Yuya berjalan berdampingan untuk menuju perjalanan pertama, yaitu bioskop.

“Maaf aku memintamu untuk bertemu di saat kau sedang sibuk,” kataku.

Yuya menggeleng. “Aku sedang tidak sibuk. Tapi aku sempat kaget karena kau tiba-tiba ingin bertemu denganku minggu ini.”

Aku tersenyum masam sambil merutuki diriku sendiri yang selalu berbicara spontan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

“Rasanya ini pertama kalinya kita pergi berdua sejak kita SMA. Dulu kita selalu pergi beramai-ramai,” kenang Yuya.

Aku mengangguk. Dulu aku tidak hanya berteman dengan Yuya. Tapi ada 5 orang lainnya yang merupakan teman dekat kita. Kemanapun kita pergi, pasti selalu pergi bersama.

“Kau benar. Dan rasanya aku sangat gugup,” ucapku.

Yuya tertawa lepas. “Santai saja. Kita kan ingin bersenang-senang.”

Aku tersenyum dan tiba-tiba teringat sesuatu yang kupikirkan tadi malam. “Yuya..boleh aku meminta sesuatu?”

“Hmm? Nani?”

“Bolehkah….” aku menyelipkan jari-jariku di antara jari-jari tangan kanan Yuya dengan gugup. “…seperti ini hanya untk hari ini?”

Aku dapat melihat dengan jelas wajah Yuya yang kaget. Tapi dia tidak menarik tangannya dan menolakku. Yuya hanya tersenyum padaku dan berkata, “tentu saja.”

Jika kau pernah merasakan terbang di udara dengan perasaan yang ringan, mungkin sekarang itu yang kurasakan sekarang. Perasaanku terlalu ringan dan bahagia.

Aku tahu permintaanku egois. Aku tidak berhak melakukannya karena aku bukan siapa-siapa untuk Yuya. Aku hanya temannya dan dia juga sudah memiliki kekasih. Tapi aku ingin merasakannya. Memiliki Yuya walaupun hanya untuk sehari.

Lima tahun yang lalu saat aku pertama kali bertemu dengannya, aku sudah sangat mengagumi Yuya. Dia baik dan sangat ramah. Aku tidak pernah menyangka, setelah beberapa bulan berada di kelas yang sama, aku dan Yuya –beserta temanku yang lainnya- menjadi dekat. Walaupun bukan hanya denganku, tapi aku merasa sangat senang Yuya selalu bersamaku.

“Kau mau menonton apa?” tanya Yuya saat kami sudah ada di dalam gedung, membuyarkan lamunanku.

“Aku ingin menonton ini,” aku menunjuk sebuah poster film dengan tangan kiriku. Kalian tidak lupa kan kalau sejak tadi tangan kananku berada di genggaman tangan Yuya?

“Baiklah. Ayo kita beli tiketnya,” ajak Yuya sambil menarik pelan tanganku.

Aku ingin sekali Yuya menyadari perasaanku tidak berubah sejak 5 tahun yang lalu.

Aku tidak pernah melupakannya saat aku menyatakan perasaanku saat kami kelas 2. Yuya terlihat kaget dan bingung lalu menunduk.

“Gomen. Aku juga menyukaimu. Tapi hanya sebagai teman dekatku saja,” jawab Yuya hari itu setelah mengatakan aku menyukainya.

Saat itu aku ingin sekali menangis walaupun aku sudah mempersiapkan hatiku jika ditolak oleh Yuya. Tapi tetap saja aku tidak dapat menahan rasa kesedihanku. Untuk mengatisipasi agar air mataku tidak turun, aku menatap langit yang tepat di atas kepalaku.

“Souka. Aku tahu kau akan mengatakannya,” ucapku dengan senyum yang jelas sangat terpaksa.

“Gomen ne,” ulang Yuya.

Aku melangkah mendekati Yuya. “Kau tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang harus meminta maaf karena tiba-tiba mengatakannya.”

Yuya tidak menjawab apapun. Dia hanya menatapku dengan penuh penyesalan.

“Kita masih berteman kan?” tanyaku pada Yuya.

Yuya mengangguk lalu tersenyum. Senyuman yang sangat kusukai.

————-

“Ternyata film tadi seru sekali,” Yuya berkata saat kami sudah keluar dari gedung bioskop dan berjalan menuju restoran yang jaraknya tak jauh dari gedung. Itu yang dikatakan Yuya padaku.

“Iya. Ternyata memang seru seperti yang orang-orang bilang,” timpalku.

Yuya berkata di sekitar sini ada restoran yang makanannya sangat enak. Kebetulan itu adalah tempat milik temannya yang kini berada di luar negeri. Jika berada di sekitar sini, Yuya selalu makan di tempat itu.

“Kau pasti suka dengan makanan di sini,” ucap Yuya riang saat kami masih berjalan.

Aku mengangguk dan sekilas melihat tanganku. Padahal aku berpikir Yuya akan melupakan kata-kataku, tapi sejak keluar dari gedung, Yuya tetap menggenggam tanganku. Tidak pernah dia lepaskan.

“Kita sudah sampai.”

Aku mendongak. Le Petit Chou. Restoran ala Prancis.

“Astaga Yuya. Kau tahu aku suka makanan Prancis?”  ucapku tidak percaya.

“Tentu saja. Dulu kau selalu berkata sampai-sampai aku hapal kesukaanmu,” sahut Yuya.

Tanpa berbasa basi lagi, aku menarik tangan Yuya untuk segera masuk. Aku sangat senang Yuya mengingatnya tanpa sepengetahuanku. Apa selama ini aku terlalu memperlihatkan dengan berlebihan atau memang Yuya memperhatikanku?

Sora…apa yang kaupikirkan? Tentu saja ini hanya kebetulan. Jika dia memang memperhatikanku, pasti hanya sebagai seorang teman.

“Kau senang kuajak ke sini?” Yuya bertanya padaku setelah pelayan pergi untuk mengambil pesanan kami.

“Tentu saja,” mataku berkilat. “Aku selalu ingin ada seseorang yang mengajakku ke sini. Oia, aku dengar ini tempat yang sangat terkenal. Aku iri kau selalu datang ke sini karena temanku pemilik tempat ini.”

“Kenapa tidak ada yang mengajakmu ke sini?”

“Karena tidak semua temanku menyukai makanan Prancis.”

Yuya tertawa pelan. “Aku pikir ada alasan lain.”

“He?”

“Aku ingat tempat ini 2 hari yang lalu. Aku sangat tahu kau sangat menyukainya. Jadi tanpa pikir panjang aku mengajakmu ke sini,” jelas Yuya.

“Kau baik sekali, Yuya. Aku ingat saat kita berjalan-jalan bersama yang lain dulu. Aku sangat tergiur dengan makanan Prancis sampai-sampai yang lainnya memarahiku karena aku lama sekali,” kenangku.

“Dan hanya aku saja yang menghiburmu untuk mengajakmu ke restoran Prancis lain kali,” timpal Yuya.

Aku mengangguk. Memang hanya Yuya yang mengerti.

“Tapi hal itu tidak pernah terjadi,” suaraku berubah menjadi sangat pelan.

Setelah kejadian pernyataan itu, aku dan Yuya tidak sedekat seperti sebelumnya. Ada rasa canggung yang menghampiri kami. Aku maupun Yuya jarang bersama lagi kecuali ada sesuatu yang penting. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku baru menyesali tentang kata-kata yang sudah kuucapkan. Seharusnya aku tidak pernah mengatakannya.

“Gomenasai,” gumam Yuya. Aku merasakan ada nada penyesalan di kata-katanya.

“Sudahlah. Itu masa lalu. Sekarang kita nikmati saja hari ini,” sahutku mencairkan suasana.

Beruntung makanan yang kami pesan sudah datang. Sehingga aku tidak perlu bersusah payah merubah keadaan.
Dan benar saja. Setelah kami menyantap makanan, suasana yang sempat menegang menjadi cair dengan sendirinya. Aku terlalu menikmati hidangan yang ada di hadapanku. Begitu juga dengan Yuya. Dan kami kemudian terhanyut dengan percakapan yang begitu menenangkan hatiku.

———————

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore saat kami keluar dari restoran Prancis itu.

“Aku kenyang sekali. Arigatou.”

Yuya menggeleng. “Aku senang kau menikmatinya.”

“Ah..” Aku tiba-tiba berteriak saat kulihat ada penjual permen kapas di tempat yang tak jauh dari posisiku. “Tunggu sebentar,” ucapku kemudian pada Yuya.

Kutinggalkan Yuya yang masih heran dengan sikapku. Dengan berlari kecil, aku menghampiri penjual permen kapas itu. Lalu membeli dua buah yang berwarna merah dan biru.

“Ini untukmu,” ucapku sambil menyodorkan permen kapas yang berwarna merah.

Yuya sejenak tertawa pelan lalu mengambil permen kapas dari tanganku,”Arigatou.”

“Mmm…Yuya,” panggilku.

“Hmm?”

“Kita duduk sebentar di sana,” aku menunjuk sebuah taman kecil yang tak jauh dari tempatku.

“Baiklah.”

Aku menarik tangan Yuya agar dia mengikutiku. Dan aku memilih sebuah bangku panjang yang berada di dekat kolam ikan.

“Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini,” ujar Yuya.

“Hmm?”

Yuya lalu berkata sambil melipat setiap jarinya seperti orang sedang berhitung. “Menonton, makan siang dengan tenang, makan permen kapas dan duduk di taman. Rasanya seperti mimpi saja.”

“Pekerjaanmu sibuk?”

Yuya mengangguk. “Acara televisi, menyanyi di setiap acara, konser, latihan. Aku sangat sibuk sampai-sampai tidak memiliki waktu seperti ini.”

Aku tersenyum. “Aku juga. Aku bisa menghabiskan waktu denganmu yang seorang artis, membuatku merasa seperti bermimpi.”

“Jadi menurutmu, kencan kita hari ini adalah mimpi?”

Aku sedikit terkesiap. “Kau menyebut ini kencan? Aku tersanjung sekali, Yuya. Tapi kau benar. Kencan hari ini seperti mimpi saja.”

“Berarti kita sama-sama sedang bermimpi hari ini.”

Kau benar. Setelah hari ini berakhir, semua kembali ke kehidupan nyata masing-masing.

Karena asyik mengobrol, aku tidak menyadari langit sudah menjadi gelap. Itu artinya kencan hari ini berakhir.

“Aku harus pulang,” sahutku pada Yuya seraya berdiri.

Aku menoleh sebentar pada Yuya. “Arigatou untuk hari ini. Aku sangat senang. Terlalu senang sampai-sampai aku tidak ingin mengakhirinya.”

“Sora…”

“Dan maaf aku sudah begitu egois memintamu untuk kencan hari ini. Dan menggenggam tanganku sepanjang hari lalu melupakan jika kau sudah mempunyai kekasih.” Suaraku bergetar tanpa kusadari. Aku menahan diriku untuk tidak mengatakannya. Jika aku masih mencintainya.

“Tapi aku pastikan, hari ini adalah salah satu hari terbaikku. Arigatou,” lanjutku.

Lalu aku berbalik untuk meninggalkan Yuya. Pria yang berhasil membuatku mencintainya selama 3 tahun dan tidak pernah melupakannya hingga sekarang.

“Sora…”

Panggilan Yuya sontak membuatku berhenti melangkah. Tapi aku tidak ingin berbalik. Jika berbalik, keyakinanku untuk melupakan Yuya akan hancur.

“Kita bisa bertemu lagi?” tanya Yuya sedikit berteriak.

Aku berusaha untuk mengatur nafasku yang mulai terasa sesak karena menahan untuk tidak menangis.

“Kita bisa bertemu lagi…” sahutku. “Karena kita teman.”

Aku tercengang saat aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di leherku dan pipinya menempel di telingaku. Takaki Yuya memelukku, Hideyoshi Sora.

“Aku tidak ingin hari ini berakhir. Aku ingin kita bertemu lagi. Bukan sebagai teman.” Ucapan Yuya terdengar jelas tepat di telingaku. Membuat tubuh maupun hatiku bergetar.

Mungkin saja aku luluh dengan kata-kata Yuya. Mengingat perasaanku yang selalu bisa menerima kehadiran Yuya selama 5 tahun. Tapi jika aku menyadari sesuatu yang menungguku, hal ini adalah salah dan tidak boleh terjadi.

“Tidak, Yuya,” aku melepaskan pelukan Yuya lalu berjalan beberapa langkah untuk menjauhi Yuya. “Bukankah kau sudah….”

“Aku sudah berpisah dengannya,” sela Yuya. “..beberapa jam setelah kita bertemu minggu lalu.”

Ada perasaan lega yang muncul. Tapi rasa sesak tetap terasa olehku.

“Aku sudah berjanji. Aku hanya ingin memilikimu hari ini. Setelah kencan berakhir, aku akan melupakanmu. Itu janjiku.”

“Tapi kau tidak perlu melakukannya..”

“Aku akan menikah bulan depan,” ucapku akhirnya.

“He?”

“Aku akan menikah bulan depan, Yuya,” aku berbalik menatap Yuya dengan pandangan nanar.

Yuya terdiam. Menyesalkah kau? Atau merasa sedih? Tapi aku tahu, Yuya tidak akan mempercayainya.

“Jadi…ini hari terakhir aku bersamamu?” Yuya bertanya.

“Anggap saja begitu. Dan selanjutnya, kita hanya teman.”

Yuya tidak berkata apapun. Dia hanya melangkah pelan mendekatiku lalu melingkarkan tangannya di sekeliling tubuhku.
Yuya kembali memelukku.

“Kalau begitu, anggap saja ini pelukan terakhir yang bisa kuberikan untukmu..” ucap Yuya pelan sambil memelukku erat.

Aku membiarkannya. Memang ini yang kubutuhkan. Pelukan hangat Yuya yang dulu sangat kuinginkan. Tanpa kusadari, aku terisak menangis. Tangisan yang sudah kutahan sejak pertama kali aku mengatakan perasaanku.

“Jangan menangis,” Yuya melepaskan pelukannya lalu mengusap air mataku dengan jarinya. “Semoga kau bahagia.”

Aku berbalik. Meninggalkan masa laluku, cintaku dan segalanya yang berhubungan dengan Yuya.

Dan kenanganku serta perasaanku tentang Yuya, kupastikan kututup mulai sekarang.
================

OWARI~
agak aneh…mungkin sangat aneh…
tapi tetep komen ajah ahahahaha #ga mau rugi
makasih yang udah baca ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s