[Multichapter] Treasure Hunting (chap 1) ~Hari Seleksi~

Title        : Treasure Hunting ~Hari Seleksi~
Type          : Multichapter
Chapter     : 1
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Fantasy
Ratting    : PG-13 *untuk sekarang*
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Morimoto Miyako (OC), Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Yoko charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Natsuru pinjem juga punya Irene, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
And saia banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~

Treasure Hunting
Chapter 1
~Hari Seleksi~

Sebuah tangan tertumbuk satu sama lain. Yuya menyeringai kepada Yabu. Ia kalah lagi bermain kartu macam ini.

“Kau kalah Bakaki…” ucap Yabu tenang.

“Urusee! Ayo tanding fisik kalau kau berani…” ucap Yuya tak mau kalah.

Yabu mengibaskan tangannya dan mengatakan bahwa itu tidak perlu.

“Ah…sebentar lagi ya…” ucap Yabu memandangi jam tangannya yang terlihat berkilat.

“Tahun ini tahun terakhir kita…setelahnya…kita hidup bebas…” ucap Yuya sumringah. Ia bisa mencium aroma kebebasan yang sudah di depan mata.

Hikaru yang menjadi pelayan di restauran 24 jam itu menatap kedua pelanggannya dan menyadari bahwa dirinya juga mengalami tahun terakhirnya kali ini. Tak sadar ia tersenyum dan mengingat bahwa ia akan bisa menjadi lebih baik setelah semuanya berakhir.

Keinginan Yuya untuk menikahi kekasihnya mungkin sebentar lagi akan terwujud. Sementara Yabu tak sabar untuk bisa keluar dari negara ini dan menetap di negara lain.
=============

Tayangan televisi pagi itu di seluruh negeri Nipon pasti sama. Mengumumkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hari seleksi. Opi menggigit sarapannya dengan tak selera.

Dua hari lagi.

Seperti biasa hari itu akan datang. Ia melepaskan celemeknya dan berjalan keluar dari rumah untuk mengambil jemuran. Terlihat pasukan pengamanan berjaga-jaga di setiap rumah untuk memastikan seluruh warga menonton tayangan televisi itu.

Opi urung keluar dan menatap lagi layar cembung yang seakan memberikannya ketakutan tersendiri.

Kakaknya baru keluar dari kamar ketika menatap layar itu.

“Tahun ini kau masih ikut ya?” tanya sang kakak sambil duduk di meja makan. Pandangannya lurus dan terlihat sangat khawatir pada adik semata wayangnya itu.

Opi mengangguk dengan bibir terkunci rapat. Kini di televisi, seorang pria nyentrik dengan busana serba ungunya membacakan ketentuan seleksi yang sebenarnya tak perlu lagi dibacakan. Setiap orang di negeri itu tahu dan hapal diluar kepala.

“Berusia tiga belas hingga dua puluh dua tahun!!” ucapnya dengan gaya yang memuakkan.

Opi tahu nama si pembawa acara adalah Shingo Murakami, pria aneh yang berpakaian serba ungu dan terlihat dibuat-buat bicaranya.

“Sehat jasmani dan rohani… berpenampilan cukup menarik…”

Bohong.

Pernah ada peserta yang pincang dan wajahnya sama sekali tidak menarik.

“Bersedia membela negara Nipon sepenuh hati…”

Opi tahu kini saatnya ia muntah.

===============

“Natsu! Ambilkan remote…” seru Yoko dengan suara parau.

“Percuma bodoh! Kau mau mengalihkan kemanapun tayangannya akan tetap sama…” ucap Natsuru lalu duduk di sofa yang juga diduduki Yoko.

Kedua gadis ini adalah teman satu kamar apartemen. Negara mereka ekonominya sedang tidak stabil, sehingga mereka memutuskan untuk tinggal bersama.

“Bagaimana jika kita masuk ke Treasure Hunting ini!! Pasti menarik, kan?” tanya Natsuru dengan wajah sumringah, “Kalau menang kita akan bisa hidup layak hingga tujuh turunan…”

“Itu kalau kita tidak terbunuh atau dibunuh…” ucapan Yoko ada benarnya, tapi Natsuru yang selalu melihat sesuatu dari sisi positif itu hanya mengangkat bahunya dengan santai.

Baginya hidup atau mati akan sama saja. Ia tak punya keluarga lagi, semua keluarganya mati dalam kecelakaan. Jadi tidak buruk jika ia harus mati di arena juga.

=============

“Terima kasih atas sarapannya Arioka-san…” ucap Keito sopan sambil menunduk sekilas pada Ibunya Keito.

Nyonya Arioka segera menyingkir dan membiarkan anaknya berduaan dengan sahabatnya.

“Pagi-pagi begini Keito-chan… kau tak pernah datang di waktu yang normal, ya?” Daiki berguling ke pinggir dan saat itulah ia terjatuh dari kasurnya.

BRUGH!

“Aaaww~” lantai marmer memang bukan tempat yang bagus untuk jatuh.

“Acara sudah mulai dari tadi…” ucap Keito sambil menunjuk ke arah televisi yang memang selalu nyala secara otomatis di hari pengumuman.

“Aku ngantuk…” keluh Daiki, “Kau sih…tidak ikut pesta semalam…” ucapnya lagi.

Sebagai anak bangsawan, keduanya memang biasanya ikut pesta di berbagai tempat dan pekerjaan mereka tak lebih dari sekedar menghabiskan uang orang tua mereka.

“Aku ada urusan lain, bodoh!” seru Keito kesal.

“Berduaan dengan si Natsuki itu ya?” kata Daiki mencibir.

“Dia itu sepupuku!!” elak Keito

“Di kota ini tidak ada larangan untuk menikahi sepupu…” ucap Daiki lagi.

Keito mengunci mulutnya dan malas berkomentar lagi, kembali fokus pada acara yang sedang berlangsung.

“Siapa peduli? Aku hapal semua peraturannya,” Ya, karena kakaknya meninggal di acara itu tiga tahun yang lalu.

==============

Treasure Hunting adalah acara tahunan di negara Nipon. Terdiri dari 22 peserta yang dipilih dengan cara seleksi setiap tahunnya. Semua peserta tersebar dari setiap bagian negara Nipon. Umurnya rata-rata 13-22 tahun. Acara televisi populer yang diselenggarakan oleh negara ini adalah acara hiburan yang ratingnya selalu tinggi setiap tahunnya.

Yang istimewa, kali ini Treasure Hunting memasuki tahunnya yang ke dua puluh dua. Sehingga event akbar ini akan diselenggarakan besar-besaran untuk kali ini, berbeda dari biasanya.

“Ryu! Stop bertengkar dengan Miya dan cepat habiskan sarapan kalian!!” seru Ibu memarahi Ryutaro dan Miyako, anak kembar yang selalu ribut setiap harinya.

Ibu menatap kedua anaknya yang dua hari lagi akan ikut seleksi. Bagaimana jika keduanya harus masuk ke arena? Padahal mereka berdua lah satu-satunya tumpuan harapan si Ibu.

Ia menggeleng dan tak membiarkan pikiran jelek itu merasuki otaknya.

Acara selesai. Seluruh pasukan pengamanan terdengar bergerak menjauh dari komplek.

“Okaa-chan… apa kita masih harus ikut?” tanya Miyako sambil menatap Ibunya.

“Sampai umurmu 22, nak…bersabarlah..” kata Ibu membelai pelan rambut Miyako.

Ibu memang tak pernah mebiarkan kedua anaknya membicarakan masalah Treasure Hunting ini. Bahkan ia mengurung kedua anaknya di rumah, membuat keduanya jarang sekali keluar dan menghirup udara bebas. Ia takut sekali anaknya akan terpilih jika itu terjadi. Satu-satunya yang Miyako dan Ryutaro tahu hanyalah bahwa Hunting Treasure ini disiarkan setiap malam ketika berlangsung event besar ini. Tapi mereka tidak boleh menontonnya, Ibu mengurung mereka di bawah agar mereka tidak tahu apa saja yang terjadi di permainan itu.

=============

“Kalau kau terpilih, kau akan senang kan?” tanya Inoo sambil mengorek tanah dengan sebilah pisau yang ia pegang sejak tadi.

Sora memejamkan mata, “Entahlah… aku sendiri tidak yakin…” jawabnya dengan santai.

“Aku ingin masuk dan menang untuk adik-adikku…” keluh Inoo, “Dan tahun ini adalah tahun terakhirku… siapa yang tahu komposisi seperti apa yang Nipon inginkan tahun ini?”

Setiap tahunnya Treasure Hunting tak lebih dari sekedar rekayasa saja. Ada tahun dimana semua peserta adalah anak berumur 13 tahun yang akhirnya semua mati karena kehabisan makanan. Tahun itu tidak ada pemenangnya. Atau dimana semua peserta terlalu tua sehingga permainan menjadi sangat seru untuk dilihat.

Judulnya memang Treasure Hunting, dan permainannya memang mencari harta karun. Tapi setiap tahunnya, hanya dua hingga satu orang saja yang tersisa dari 22 kontestan. Entah itu ada kebakaran hutan yang menyebabkan separuh peserta mati, atau ada yang saling membunuh untuk memperebutkan makanan. Dan itu sudah biasa terlihat di layar televisi setiap harinya.

Tidak banyak yang tahu, atau mungkin menyadarinya namun terlalu takut untuk bahkan sekedar memikirkannya. Tapi bagi Sora dan Inoo adalah hal yang biasa mereka utarakan berdua.

Lama permainan tidak ditentukan. Bisa berjalan sebulan penuh atau bahkan hanya beberapa minggu jika permainan tidak menarik dan akhirnya peserta yang menang akan mendapatkan harta karun nya, yaitu harta yang sangat berlimpah.

“Lihat saja dua hari lagi…” ucap Sora mengikat rambutnya dan mulai berlari menembus hutan, diikuti Inoo.

=============

Hari seleksi tiba. Seluruh negeri bagaikan tersihir dan terjaga rapi di setiap tikungan yang ada untuk melaksanakan perhelatan terpenting selama setahun. Saifu berdoa semoga seleksi kali ini sulit dan ia akan menjawab semua soal itu dengan kacau dan tidak benar.

Setiap tahun soal seleksi sama sekali tidak bermutu. Setiap anak pasti bisa menjawabnya. Tentu saja karena ini semua hanya rekayasa dan tidak berpengaruh apapun. Lagi-lagi tidak banyak orang yang menyadari hal itu. Padahal sebenarnya pemilihan hanya berdasarkan kesukaan hati presiden Akanishi saja.

Saifu memejamkan matanya lagi, ia merasakan aula besar mulai hampir hening. Seleksi diadakan di setiap kota di tempat yang berbeda-beda. Seluruh remaja berumur 13 hingga 22 tahun berkumpul di tempat yang telah ditentukan untuk mengikuti seleksi tersebut.

“Kau gugup?”

Saifu serta merta membuka matanya karena mendengar bisikan itu, seorang laki-laki menyapanya.

“Namaku Yamada Ryousuke…kau siapa?” tanyanya dengan senyum nya yang sedikit membuat Saifu agak tenang karena ada yang mau mengajaknya bicara saat sedang gugup seperti sekarang.

“Suzu…Suzuki Saifu…” jawab Saifu pelan.

“Baru kali ini aku ikut seleksi di kota ini…biasanya aku mengikutinya di kotaku yang lama..aku baru pindah…” kata Yamada lagi.

Saifu hanya mengangguk-angguk.

“Sudahlah jangan tegang begitu…” Yamada menepuk sekilas bahu Saifu, “Semuanya akan baik-baik saja…” ucapnya lagi.

============

“Seleksi hari ini pasti menarik…” kata Yuto mengedarkan pandangannya dan menemukan seseorang yang ia kenal.

“Rii-chan!!” sapa Yuto dengan bersemangat.

“Hei…” jawab Riisa dengan sedikit gugup.

“Aku biasanya melihatmu di depan sana tuh…” menunjuk sebuah bangku yang diisi oleh seorang pemuda berbaju kuning mencolok.

Riisa menggeleng, “Hari ini aku telat…” katanya dengan senyum terpaksa.

Sementara itu pemuda yang ditunujk Yuto menyentuh kakinya yang gemetaran sambil memegangi perutnya yang sakit. Chinen memang seperti ini jika sedang gugup, dan ia tak berharap dengan begini semuanya akan lebih mudah dan ia tak harus masuk mengikuti permainan gila itu.

==============

Untuk seorang Sugawara Ichiko, seleksi tahun ini punya makna tersendiri. Sudah saatnya ia menganggap seleksi ini bukan main-main. Bahkan jika ia tidak diterima, ia akan berlari ke kantor Presiden Akanishi untuk meminta agar ia dimasukkan ke dalam list peserta. Konyol memang, tapi ia tak peduli. Demi apapun ia harus mendapatkan hadiah permainan ini untuk Ayahnya yang sedang sakit.

“Dimulai!!” suara Presiden Akanishi yang disiarkan langsung di semua kota pun bergema.

Ichiko membuka kertas seleksi dan menjawb semuanya dengan hati-hati. Memastikan tidak ada yang salah dari jawabannya.

“Tenang ayah…semuanya akan baik-baik saja…” ucap Ichiko dalam hati.

=============

Pengumuman seleksi dilakukan hari yang sama. Setelah istirahat selama beberapa jam, setelah itu nama-nama akan ditayangkan di layar televisi seleuruh negeri, setelahnya akan ada pidato dari Presiden Akanishi seperti biasanya.

Setiap nama yang ditunjuk, wajib mengikuti permainan ini. Jika menolak, akibatnya tidak tanggung-tanggung. Seluruh keluarganya akan mati beberapa jam setelah itu. Dulu sekali, di Treasure Hunting pertama, seorang gadis dengan histeris menjerit dan menolak mengikuti permainan itu. Beberapa jam setelahnya, gadis itu beserta seluruh anggota keluarganya ditemukan tak bernyawa. Sejak saat itu, tidak ada yang berani melakukan apapun mengenai penolakan.

Dua jam setelah istirahat, tiba-tiba semua televisi menyala. Seluruh remaja yang sudah mengikuti seleksdi pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. Jarang sekali ada yang berharap dirinya masuk ke arena. Karena itu berarti penyiksaan diri akan dimulai.

Hideyoshi Sora.

Nama pertama muncul. Sora menelan ludahnya sesaat sebelum menatap Inoo yang duduk beberapa kursi dari dirinya.

Inoo nyengir bodoh kepadanya, namun tak lama Sora berdiri dan berjalan ke depan panggung sementara beberapa kamera pengintai mulai mengambil gambarnya. Kamera ini adalah hasil ciptaan paling muthakir di Nipon. Hanya berukuran sebesar capung dan bisa bergerak sendiri dengan dibantu oleh pengendali di pusat.

Okamoto Keito.

Seorang pemuda yang berasal dari kota lain tiba-tiba muncul di layar. Ia berjalan gugup ke arah panggung di kota itu.

“Wah! Dari kota itu!!” bisik-bisik sampai di telinga Inoo dan ia tahu itu kota kaya yang jauh dari kota mereka.

Suzuki Saifu.

Saifu tak percaya dengan apa yang ia lihat. Namanya terpampang jelas di layar. Ia mencoba mengucek lagi matanya, namun nama itu tak berubah, bahkan beberapa saat kemudia wajahnya berada di layar besar membuatnya kaget setengah mati.

“Ayo kesana!!” bisik Yamada yang memang duduk disebelahnya.

Saifu menyeret langkahnya seraya berdoa ia tidak pingsan di atas panggung yang kini masih kosong itu.

Arioka Daiki

Daiki menatap ke seluruh penjuru tempat itu. Ia tahu di rumah Ibunya pasti terpukul sekali karena anaknya lagi-lagi harus terpanggil di permainan itu. Daiki benci sekali dengan Nipon dan jika suatu saat ia bisa menang, ia tahu saatnya akan tiba untuk mebalas dendam.

Yanagi Riisa

Gambar seorang gadis kini yang muncul di layar, gadis itu tampak ketakutan namun akhirnya dengan langkah pasti menaiki panggung.

Sakura Natsuru

“Namaku!! Namaku Yoko!!” seru Natsuru heboh.

Yoko memicingkan matany heran pada sahabatnya itu.

Sakamoto Yoko

“Hah?!” nama itu muncul cepat setelahnya. Tak seperti biasanya.

Yoko menatap Natsuru bingung, namun akhirnya berhasil mengendalikan diri ketika melihat nama itu benar- benar terpempang dan beberapa saat kemudian wajah mereka muncul di televisi.

“Mendokusai…” umpat Yoko kesal.

Chinen Yuuri

Kini wajah yang muncul terlihat seperti remaja berusia lima belas tahun. Menaiki tangga dengan cepat karena ia memang berada di depan.

Chinen mengelap peluhnya sambil menunduk berharap ia bisa tenang karena giginya beradu cepat sekali dan merasakan dadanya berdetak keras sekali ia berharap ia tidak pingsan.

Yamada Ryousuke

Pemuda itu sekali lagi menatap layar dan akhirnya sadar bahwa itu adalah namanya. Ia berjalan dengan sedikit pelan namun pasti. Di atas panggung ia melihat Saifu menunduk dalam dan dengan cepat Yamada meraih tangan Saifu, menggenggamnya.

“Tenanglah…jangan menangis… apapun yang terjadi…jangan menangis…” ucap Yamada dengan sedikit berbisik.

Saifu mengangguk pelan.

Morimoto Ryutaro

Morimoto Miyako

Semua orang berdecak heran. Baru kali ini ada satu keluarga diambil dua anaknya.

Ibu yang menyaksikannya di layar televisi, langsung merosot dari tempat duduknya. Mimpi buruknya menjadi kenyataan. Ia menangis namun tak mengerti bagaimana caranya agar anaknya bisa kembali dengan selamat.

“Nee-chan…kita?” Ryutaro menatap Miyako dengan bingung.

Miyako berdiri dan menarik lengan kembarannya itu, “Iya!! Ayo!!” serunya sambil berjalan ke panggung sementara semua mata memandangi mereka.

Yabu Kota

Seorang pria kurus maju, beringsut-ingsut dengan tatapan tak rela. Ini tahun terakhirnya, dan Yabu tak pernah berfikiran ia akan dipilih setelah sekian lama keinginannya untuk hidup normal hampir terwujud jika ia berhasil melewati tahun ini.

“Sialan!!’ umpatnya mendesah kesal tak karuan.

Sakurai Opi

Deg.

Opi menelan ludah dan tahu ia akan segera maju kesana untuk jadi bintang selanjutnya. Bintang kematian di televisi.

Sementara itu Sakurai Sho yang sedang menonton di kantornya, mendadak menjatuhkan kopi yang sedang ia pegang.

“Opi…” ucapnya lirih tak percaya, adik semata wayangnya akan mengadu nasib di tempat yang sama saat ia mempertahankan hidupnya 10 tahun yang lalu.

Inoo Kei

Sora tak bisa melihat nama siapa yang selanjutnya tertulis, ia hanya bisa melihat wajahnya setelah terosorot kamera pengintai. Dan betapa kagetnya ketika ia menemukan  wajah Inoo yang terlihat sumringah berjalan ke atas panggung, bergabung bersama dirinya.

“Aku sudah bilang aku akan terpilih…” bisik Inoo dengan senang.

“BAKA!!” Sora mencubit pelan tangan Inoo.

Takaki Yuya

Yuya terperangah namun pasrah dan berjalan ke panggung yang sama dengan Yabu. Ia berbalik dan menatap kekasihnya yang menatapnya dengan pandangan pilu yang tak bisa Yuya lukiskan.

Dengan pandangan sedih, Yuya mengirim sinyal pada si gadis dengan menunjukkan tangannya yang ia bentuk menjadi huruf L. Love. Sinyalnya bersama kekasihnya yang kini terlihat terisak tak karuan sambil menunduk.

Nakajima Yuto

Yuto mendesah pelan. Perasaannya memang tidak enak sejak pagi ini. Ia berusaha mengenyhkan perasaan itu namun hal itu terus menghantuinya sejak sebelum ia berangkat sarapan ke meja makan. Ia bahkan sempat berpamitan pada adiknya, Reia.

“Aku akan pulang…” ucapnya dalam hati, namun tak yakin akan ucapan itu sendiri.

Yajima Natsuki

Keito terperangah saat melihat wajah Natsuki disorot. Gadis itu tak bergerak beberapa saat hingga seorang pasukan pengamanan menarik Natsuki dari tempat duduknya.

“Jangan dia…jangan dia…” Keito komat-kamit dan baru sepenuhnya sadar ketika gadis bergaun biru itu berdiri di sampingnya.

Natsuki menatap Keito dengan pandangan meminta tolong, “Bagaimana ini, Keito?!”

Yaotome Hikaru

Kebebasan yang sudah di depan mata lagi-lagi harus terbang jauh dari genggamannya. Tak pernah ada hal bagus yang terjadi di hidupnya. Ditinggalkan Ibunya di panti asuhan saat masih bayi, besar di panti hingga ia bekerja dan tak ada perusahaan yang mau menerimanya, malahan kini ia bekerja sebagai pelayan.

Tapi ia sadar satu hal. Jika ia bisa menang Treasure Hunting, ia yakin bisa membeli apapun di dunia ini dan semua orang yang pernah mnginjaknya akan memujanya. Tak ia sadari seringai keluar dari bibirnya.

Kanagawa Miki

Kini giliran seorang gadis mungil muncul di layar televisi. Gadis itu terlihat bingung. Ini tahun keduanya ikut ujian dan tak menyangka namanya terpampang di leayar besar itu.

“Anak kita, pak…” Mama menangis sesenggukan tak percaya nama Miki bisa ada di televisi.

Anak yang mereka dambakan selama ini, anak satu-satunya bagi mereka.

Ichiko menyelipkan tangannya dan berdoa agar nama terakhir ini adalah namanya. Ia terus komat-kamit sementara itu beberapa saat kemudian sebuah nama muncul di layar.

Sugawara Ichiko.
===============

Ke dua puluh peserta akan bertemu semuanya di sebuah pulau terpencil yang dibuat oleh presiden. Di pulau itu, semuanya bisa terjadi. Mulai dari hal-hal biasa, hingga hal-hal diluar nalar seseorang.

Pulau ini dimonitori oleh pusat yang mencakup semua elemen. Di pusat ini mereka bisa membuat apa saja. Dari binatang buas, pohon tumbang, tsunami juga bisa.

Pada awal-awal Treasure Hunting, semuanya ini belum ada. Permainan dilaksanakan di sebuah pulau yang terbuang, namun permainan jadi tidak menarik karena cuaca di negeri Nipon memang relatif stabil. Sehingga permainan berlangsung sangat lama dan membosankan. Setelah itu Presiden Akanishi membuat sebuah pulau dengan komputerisasi tercanggih yang menuruti hasrat yang iangin ia salurkan di permainan gila ini.

“Kenapa cuma ada dua puluh peserta?” tanya Ryutaro ketika ia sudah duduk di sebuah meja setelah ditarik dari panggung bersama Miyako dan Ichiko.

Ichiko menatap Ryutaro tak percaya, “Kau tidak tahu?”

Ryutaro menggeleng dengan pandangan bingung.

“Dua peserta lain akan datang dari permainan-permainan sebelumnya. Dan kita tidak akan tahu hingga kita semua bertemu di tempat latihan,” jelas Ichiko.

Ia tak pernah menyangka ada orang Nipon yang tak tahu soal Treasure Hunting.

Miyako menatap Ichiko lagi, “Jadi kita mencari harta karun dengan peta? Gitu?”

Ketika Ichiko hendak menjawab, seorang pria yang namanya tertulis dengan jelas di seragamnya, Junnosuke Taguchi, masuk ke ruangan.

“Sebentar lagi kalian akan diantarkan pulang untuk berpamitan…”

Ichiko hanya menggeleng dan tahu kembar Morimoto adalah peserta pertama yang akan gugur. Setidaknya begitulah yang ia pikirkan.

=============
TBC~

Masih prolog dan sangat FAILED sekali…
Maafkan saia… #Bow…
Need your opinion…kalo jelek gak akan saia lanjutkan…
COMMENTS ARE LOVE
Please don’t be a silent reader… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s