[Minichapter] On The Way To Find You (Chapter 3 end) ~Sequel of ‘My Lovely Petto’~

Title       : On The Way To Find You (Sequel from My Lovely Petto)
Type      : Minichapter
Chapter    : 3 (end)
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre     : Romance *as usual… :P*
Ratting    : PG-13
Fandom   : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Kitayama Hiromitsu (Kis-My-Ft2), Ikuta Din (OC), Takaki Saifu (OC),  and other as an extras~ 😛
Disclaimer    : We don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Kitayama Hiromitsu are belongs to JE, Din, Saifu are our OC. It’s just a sequel of ‘My Lovely Petto’.
COMMENTS are LOVE… Please Don’t Be A Silent Reader… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

On The Way To Find You
~ Chapter 3 ~ (End)

“Anou… Takaki-san?” Din merasa bingung, gugup, namun hangat tubuh Yuya membuatnya nyaman, wangi tubuh Yuya yang sepertinya pernah ia cium sebelumnya.

“Diam…” perintah Yuya pelan, “Kumohon…biarkan aku begini…” rasanya tangisnya tak lagi bisa ia bendung, ia tak peduli dianggap cengeng.

Beberapa saat kemudian, Yuya melepaskan pelukan itu, “Gomen.. Din-chan…aku…” ia berdehem. Tenggorokannya kini terasa sangat kering.

“Terjadi sesuatu?” tanya Din dengan polos.

Yuya menggeleng, “Tidak…aku…hmmm,” bahkan memikirkan sebuah alasan saja kini otaknya terasa macet.

Din masih memandangi Yuya.

“Aku ingat dengan kucingku…kau mirip sekali dengannya!!” seru Yuya asal.

“Eh? Kucing?” Din lalu menyimpan tangannya di dekat pipi, “nyan~” lalu terkekeh membuat Yuya gemas melihatnya.

“Hahhaa..” Yuya tertawa, “Anou…boleh aku meminta alamat e-mailmu? Siapa tahu kita bisa berteman?”

Din tersenyum dan mengangguk, “Suatu kehormatan bisa berteman dengan seorang sutradara!!” ucap Din bersemangat.

‘Aku yang beruntung…’ ucap Yuya dalam hati. Memulai semuanya dari awal mungkin tidak buruk.

=============

“Saifu…chotto…”

Saifu yang baru saja selesai dengan mata kuliahnya hari ini, dan tengah akan pulang menoleh menatap senpainya, Gonchan, yang berlari kearahnya.

Saifu menatap senpainya itu dengan bingung.

“Kenapa senpai?” tanya Saifu bingung sambil menatap senpainya yang tengah mengatur nafasnya yang terengah-engah itu.

“Pulang bersama ya?” ajak Gonchan, yang masih saja mencoba mendekati Saifu.

Tampaknya senpainya ini belum mau menyerah karena setahu dirinya, Saifu tak punya kekasih. Yang dia tahu Saifu memang menunggu seseorang, tapi Gonchan kan tak tahu orang itu siapa dan tak pasti juga akan kembali.

“Gomen…”

“Kenapa lagi??” tanya Gonchan kecewa.

“Aku sudah dijemput,” jawab Saifu sambil tersenyum.

“Hah??”

Sesosok laki-laki tiba-tiba berada dibelakang Saifu. Laki-laki yang tak lebih tinggi  dari Gonchan itu menatap Gonchan, lalu menoleh menatap Saifu.

“Dai-chan…” gumam Saifu sambil tersenyum menatap Daiki.

“Kaerimashoo…” kata Daiki sambil menggapai tangan Saifu, mengenggamnya.

“Saifu..dia…?”

Saifu tersenyum menatap Gonchan yang nampak sangat kecewa, “Dia pacarku!” kata Saifu sambil tersenyum.

“Arioka Daiki desu….” kata Daiki merasa harus memperkenalkan dirinya pada Gonchan yang terlihat shock itu.

“Dia…orang yang selama ini kau tunggu??” tanya Gonchan lagi.

Saifu tersenyum, saling pandang dengan Daiki yang juga tersenyum ke arahnya lalu kembali menatap Gonchan, “Ya!! Dan sekarang dia telah kembali,” Saifu tersenyum, “Kalau begitu..kami duluan ya…” kata Saifu lalu pergi meninggalkan Gonchan yang masih berdiri ditempatnya, menatap Saifu dan Daiki yang berjalan sambil bergandengan tangan erat.

“Dai-chan..belepotan…” kata Saifu sambil menyeka es krim yang ada di pipi Daiki yang nampak menikmati es krimnya.

“Hehe…” Daiki hanya tersenyum, sangat bersyukur karena sejak bertemu dengan Saifu 3 bulan lalu hubungan mereka berjalan dengan baik.

Daiki sangat yakin.

Yakin bahwa dia tak pernah ingin berpisah dengan gadis yang kini tengah melahap es krim vanilanya.

“Fu-chan..kau juga belepotan tuh…” kata Daiki sambil menunjuk sudut pipi Saifu.

“Eh?” Saifu menyeka pipinya, “Sudah belum?” tanya Saifu.

“Bukan di situ…” Daiki menyentuh pipi Saifu dengan tangannya, Daiki menatap ke sekeliling kedai es krim yang tak begitu ramai, “Fu-chan…geser sedikit sini…” kata Daiki sambil menarik lengan Saifu mendekat, “Bukan disitu..tapi disini…” kata Daiki yang ingin menyeka es krim yang ada di sudut bibir Saifu

Namun bukannya menyeka dengan tangannnya, Daiki malah mencium bibir Saifu yang nampak kaget.

“Ehh??” seru Saifu kaget, wajahnya merah padam.

“Hehe…” Daiki tersenyum jahil.

“Dai-chan..baka!!” kata Saifu sambil memukul lengan Daiki pelan.

“Hahaha..anou ne,”

“Ya?”

“Aku…begini, mungkin kau akan kaget mendengar apa yang kukatakan…tapi aku sudah sangat yakin lagipula orang tuaku mengizinkan.” kata Daiki

“Apa sih maksudmu?” tanya Saifu bingung.

“Hmm..aku mau kita bertunangan..” kata Daiki sambil menatap wajah Saifu

“HAH???”

“Begini, aku sudah kira kau akan kaget. Aku sudah bicarakan dengan orang tuaku tentang ini, dan mereka sangat senang. Tapi, kalau kau belum siap… aku mengerti,” kata Daiki

“Bukan… bukannya begitu…” Saifu memeluk Daiki erat membuat pemuda itu sedikit bingung, “Arigatou….aku mau” kata Saifu senang

“Ehhh??hontou??” tanya Daiki sambil menatap Saifu, wajah gembira Daiki tak dapat disembunyikan lagi.

Saifu mengangguk yakin, dia tak akan mau berpisah dengan Daiki lagi.

“Kalau begitu, hari ini ke rumahku ya… aku akan katakan pada ibuku. Nanti hari minggu, orang tuaku akan kerumahmu…” kata Daiki

Saifu mengangguk, merasa begitu bahagia karena hidupnya sudah jadi bahagia sekarang.

Bahagia bersama Daiki, tak masalah dia tak ingat hal-hal yang sudah mereka alami saat Daiki menjadi peri cinta, yang terpenting sekarang mereka akan terus bersama.

=============

“Sudah kubilang aku tak suka kau pergi dengan pria itu!” Kitayama yang menjemput Din di kampusnya, harus puas dengan penolakan yang dilontarkan dari mulut sang adik.

“Gomen Nii-chan…tapi aku sudah berjanji untuk makan siang dengannya…” ucap Din dengat takut-takut. Tak pernah ia melihat kakaknya semarah ini.

Kitayama menarik nafas panjang, mencoba membuat dirinya lebih tenang. Sebenarnya ia sudah memutuskan untuk merestui saja perihal Yuya mendekati Din. Tapi sebagian dari dirinya menolak hal itu.

“Nii-chan…jangan marah ya?” Din meremas jaket yang Kitayama pakai.

“Wakatta… hati-hati. Hubungi aku jika terjadi sesuatu,” putus Kitayama akhirnya.

Din menatap punggung kakaknya yang menjauh. Kitayama memang protektif seperti biasa, apalagi jika menyangkut hubungannya dengan Takaki Yuya. Din tak mengerti, namun pemuda itu terus mendekatinya. Tapi, Yuya memang menyenangkan dan enak diajak ngobrol. Yuya mengajarkan banyak hal soal per film an. Ada malam-malam dimana Yuya mengajak Din untuk menonton film bersama di bioskop, atau sekedar menonton DVD di ruangan milik Yuya.

Setelah tiga bulan ini, Din memang merasa nyaman berada di dekat Yuya.

“Maaf… aku telat ya?” tanya Yuya yang baru saja tiba di hadapan Din.

Din menggeleng, “Gak kok… tepat sekali,” jawab Din sambil memperlihatkan jam tangannya.

“Yokatta… ya sudah…kita makan di kedai sana yuk…” ajak Yuya.

Din mengangguk dan mengikuti langkah Yuya.

“Jangan jalan di pinggir…kesini..” Yuya menarik lengan Din dan menempatkan gadis itu di sisi dalam trotoar.

Namun tangan Yuya tak melepaskan lengan Din, malah menyusup ke telapak tangan Din dan menggenggamnya.

Kontan saja wajah Din merah padam. Gadis itu tertunduk malu dan dadanya dag-dig-dug tak keruan.

Yuya memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan gadis itu. Ia sudah memutuskan untuk mengatakan perasaannya pada Din.

“Hmm.. Din-chan…” panggil Yuya.

Din yang menunduk dan melamun terlonjak sedikit kaget karena panggilan lembut dari Yuya, “Ya?”

“Kalau aku bilang aku suka padamu…kau percaya, tidak?” tanya Yuya pelan namun sangat jelas tertangkap di telinga Din.

“Hmmm… aku tak tahu…” jawab si gadis bingung.

“Aku serius… aku menyukaimu…” dan mencintaimu. Tambah Yuya dalam hati.

“Aku bingung Yuya-kun. Aku memang nyaman berada di dekatmu, tapi aku belum tahu perasaan apa ini sebenarnya…” jawab Din malu-malu.

“Hmmm… perasaan seperti ini?” Yuya menunduk dan mengecup pelan bibir Din. Seperti yang pernah Din lakukan dulu kepadanya.

Din mundur beberapa langkah, “Aku…”

“Kita coba untuk menjalaninya…kau mau kan? Kita pacaran?” tanya Yuya menoleh menatp Din yang hanya sanggup mengangguk dengan canggung.

Yuya bersorak dalam hati. Apapun yang ada di hadapan mereka nanti, Yuya ingin selalu berada di sebelah gadis itu.

“Ayo…makan yuk..aku lapar,” ucap Yuya sambil menarik tangan Din agar mereka kembali sejajar.

“Eh…kau jadi pacar pertamaku loh,” ujar Din dengan nada kekanakan.

“Hah?”

“Iya…aku tak ingat hidupku sebelum beberapa bulan ini…jadi Yuya-kun adalah pacar pertamaku…” kata Din bersemangat.

“Hahahaha.. Wakatta…”

==============

“Okaa-san..Tadaima…” seru Daiki riang sambil masuk kedalam rumahnya.

Ibunya datang dari arah dalam tersenyum menatap anaknya dan Saifu.

“Ojamashimasu…” kata Saifu sambil tersenyum manis.

“Kaa-chan …dia mau loh!!” seru Daiki senang

“Hontou? waa… Fu-chan yokatta na, semuanya akan diurus, bibi akan bertemu dengan orang tuamu hari minggu. Ah! Jangan bibi! Mulai sekarang panggil Okaa-chan saja ya?” kata Ibu Daiki.

Saifu mengangguk, “Hai..wakatta…”

Ibu Daiki memeluk erat tubuh Saifu, “Senangnya… ini rasanya punya anak perempuan ya? Rasanya menyenangkan sekali.. Kaa-chan akan buatkan minum dulu,” kata Ibu lalu pergi ke dapur.

Saifu tersenyum menatap ibu Daiki, tak pernah menyangka semuanya akan jadi se-menyenangkan ini. Walau dia harus menunggu selama dua tahun lebih untuk semua ini, sampai akhirnya dia kembali bertemu Daiki.

“Oh..ada Fu-chan ya?”

“Daisuke-nii…” seru Saifu sambil menghampiri Daisuke yang tengah tiduran sambil membaca majalah di sofa ruang keluarga.

“Pantas ibuku ribut sekali, ternyata anak perempuannya kemari…hahaha” kata Daisuke sambil membetulkan posisi duduknya.

Saifu hanya bisa terkekeh.

“Jadi kalian akan tunangan? Ah…masa aku didahului adik bodoh sepertimu sih?” keluh Daisuke.

“Baka. Kami kan hanya tunangan… menikahnya nanti setelah Saifu lulus dari kuliahnya. Lagipula aku juga baru  kerja beberapa bulan…” kata Daiki lalu duduk disamping Saifu.

“Ah..souka…” Daisuke bangkit lalu mengacak kepala Saifu dan Daiki dengan kedua tangannya.

“Apa-apaan sih kau Daisuke?” seru Daiki kesal diperlakukan seperti bocah, sedangkan Saifu tertawa pelan menatap Daisuke.

“Semoga kalian bahagia ya…” kata Daisuke lalu berlalu pergi ke kamarnya.

“Arigatou..Onii-chan…” kata Daiki sambil tersenyum.

“Ne Fu-chan…” Daiki menggenggam tangan Saifu yang menyenderkan kepalanya dipundak Daiki, kini mereka duduk menghadap ke halaman rumah Daiki yang ditumbuhi berbagai bunga. Ibu Daiki sengaja menanam bunga-bungaan yang sangat dia sukai.

“Hmm?”

“Arigatou…”

“Untuk apa?” tanya Saifu.

“Untuk mau bersamaku, aku tau aku tak ingat apapun..dan walaupun kau juga masih ragu untuk menceritakan tentang apa yang pernah kita alami dulu. Aku sama sekali tak ingat dan kau bilang aku tak akan percaya sama sekali dengan omonganmu, tapi aku sangat bahagia dan kurasa ini memang seharusnya begini…” kata Daiki sambil mengecup lembut kening kepala Saifu.

“Aku belum bisa cerita. Nanti saat kukira waktunya tepat aku akan cerita, ne? sekarang biarkan semuanya seperti ini… Yuya-nii pasti akan marah, hahaha…” Saifu terkekeh pelan, membayangkan wajah kakaknya nanti saat mendengar tentang pertunangannya.

“Kakakmu sangat sayang padamu sih…” Daiki ikut terkekeh.

Saifu memang belum pernah mempertemukan Daiki dengan Yuya. Saifu hanya takut Yuya akan mati-matian mencari Din karena Yuya pasti mengira mereka diturunkan bersama lagi.

Saifu hanya takut kakaknya berharap pada sesuatu yang tak pasti, karena Saifu sendiri juga tak tahu Din juga diturunkan ke bumi lagi atau tidak dan Saifu tak bisa bertanya tentang itu pada Daiki karena Daiki sendiri pun sama sekali tak ingat tentang peri atau apapun yang terjadi selama dia jadi peri cinta.

Saifu punya kekhawatiran sendiri tentang nanti, saat Daiki dan keluarganya ke rumahnya untuk membicarakan pertunangan mereka.

“Fu-chan kenapa diam saja?” tanya Daiki menyadarkan Saifu dari lamunanya.

Saifu menggeleng, “Biar kutelpon ibuku dulu… agar dia tak terlalu kaget nanti…” kata Saifu lalu mengeluarkan ponselnya.

===========

Malam ini lagi-lagi Din ada di sebuah studio editing milik Yuya. Setelah pernyataan cinta dari Yuya, Din entah dengan alasan apa, tak mau berpisah dulu dengan Yuya. Padahal pemuda itu sudah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke rumah.

“Aku akan bekerja… aku takut kau nanti di abaikan…” kata Yuya pada Din.

Gadis itu menggeleng, “Tidak apa-apa!! Aku tak akan merasa diabaikan kok…” Din mendekati Yuya, “Ini film baru Yuya?” tanyanya.

“Bukan…aku membantu temanku untuk ikut mengedit film miliknya… aku belum ada produksi baru. Sedang mengumpulkan ide baru…” kata Yuya menjelaskan.

“Jadi pembuat film indie itu harus bekerja dua kali lipat. Karena staff kita belum memadai…hahaha…” tambah Yuya.

“Hmmm… lalu film Yuya yang di daftarkan di festival film itu, bagaimana?” Din ingat Yuya menceritakannya.

“Masih tahap penilaian…belum ada pengumumannya…” jawab Yuya.

Din mengangguk-angguk mengerti, “Pasti bisa menang!! Aku saja sampai menangis berkali-kali menontonnya!!”

‘Itu cerita tentang dirimu…’ bisik Yuya dalam hati, namun hanya menyunggingkan sebuah senyum pada Din.

“Baiklah…aku tidak akan mengganggu…aku tunggu di sana ya…” kata Din seraya menunjuk sofa yang ada di belakangnya.

Yuya mengangguk.

Entah sudah berapa jam ia memelototi layar. Membuatnya pegal bukan main. Yuya berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku.

Ia menoleh dan baru sadar kalau Din sudah tertidur di sofa dengan posisi tubuh bergelung. Mungkin karena kedinginan. Tanpa sadar ia tersenyum menatap wajah Din yang tertidur. Sudah lama sekali ia tak melihat wajah itu. Wajah tertidur Din yang dulu ia lihat setiap malam.

Yuya menghampiri Din dan membuka jaket miliknya, ia pakai untuk menutupi tubuh Din yang bergelung.

“Okaeri Din-chan…” bisik Yuya pelan.

Din menggeliat, mengubah posisinya.

“Dasar kucing nakal..kau membuatku kaget saja…” Yuya terkekeh, “Kau bukan kucing lagi ya…” ia lalu mengecup pelan dahi Din.

Yuya beranjak ketika tubuh Din tiba-tiba bereaksi. Gadis itu terlihat gelisah dan beberapa detik kemudian ia terbangun.

“Kenapa?” tanya Yuya khawatir.

Din menggeleng. Ia belum bisa menceritakan soal mimpi-mimpinya yang aneh selama beberapa bulan ini. Kilasan-kilasan peristiwa tak masuk akal yang membuatnya gelisah seperti dihantui sesuatu.

Yuya duduk di sofa itu, menarik tubuh Din agar bisa bersandar padanya, “Tidurlah lagi… aku disini…” ucap Yuya menenangkan.

Din mengangguk dan matanya kembali terasa berat dan tertidur kembali setelah beberapa menit.

Yuya merasa matanya juga mulai berat. Mungkin karena kelelahan, akhirnya ia juga tertidur dengan sukses sambil memeluk Din.

“Yuya…kudengar kau mengedit film?!” sebuah suara muncul dan pintu terbuka membuat Yuya terbangun dari tdiurnya. Menyadari kalau pagi sudah tiba.

“Are?!!” Hikaru berhenti ketika melihat siapa yang Yuya peluk.

Yuya segera beranjak dan mendorong Hikaru keluar dari ruangan agar tidak ribut.

“Jelaskan padaku… kenapa Din-chan bisa ada disini?!” Hikaru tak bisa menyembunyikan lengkingan suaranya yang menandakan ia sangat kaget.

Yuya menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Din kembali dan bagaimana gadis itu tak lagi mengingat apa-apa soal dirinya atau masalah peri.

“Waaaw… aku tak menyangka hal seperti ini bisa terjadi…” ucap Hikaru setengah tak percaya.

“Aku juga walanya tak percaya. Tapi ini benar-benar Din-chan…bukan sekedar mirip atau apalah itu…” kata Yuya meyakinkan Hikaru.

Setelah mencerna informasi yang mendadak itu, Hikaru terkekeh pelan, “Selamat Yuyan…”

“Hah?”

“Penantianmu tak sia-sia, kan? Dia sudah kembali padamu…” ucap Hikaru yang hanya dibalas senyuman dari seorang Yuya.

Baru saja Yuya kembali ke dalam ruangan, ia mendengar ponsel Din berbunyi. Yuya mengambilnya dan membaca nama di layar ponsel itu “Mitsu-Nii” tertulis di layar itu. Tanpa pikir panjang Yuya mengangkatnya, “Moshi-moshi?”
=============

“Tadaima…” seru Saifu sambil masuk ke dalam rumahnya, “Ah..samui samui…” seru Saifu sambil menggosok-gosokkan tangannya berusaha menjadi lebih hangat.

“SAIFU!! Apa maksudnya tentang pertunangan??” tanya Yuya yang tiba-tiba muncul dari arah ruang keluarga, Ibu dan Ayahnya menyusul di belakang Yuya.

“Onii-chan, tenang dulu dong… kenapa sih kau heboh gitu?” Saifu memandang kakaknya yang wajahnya ditekuk itu.

Yuya hanya tak pulang semalam saja, tiba-tiba ia mendengar bahwa adiknya akan bertunangan. Dengan siapa? Bukankah Saifu belum punya pacar?

“Ne Yuya… sudahlah, cepat atau lambat ini kan pasti akan terjadi kau juga nanti pasti akan begini…” kata ibu menenangkan putranya itu.

“Ayo kita bicarakan…” kata Ayah lalu berjalan ke arah ruang keluarga diikuti Saifu, Yuya dan ibu.

“Kenapa tiba-tiba sih?? Lagipula siapa laki-laki itu? Memangnya dia baik? Kau yakin Fu? jangan-jangan kau hanya dipermainkan? Aku harus bertemu dengannya dulu. Aku yang putuskan!!” kata Yuya cerewet.

Saifu mendelik ke arah kakaknya yang tiba-tiba bisa berbicara selancar itu.

“Nii-chan! Kau kenapa sih? Aku yakin kau akan setuju dengannya…” elak Saifu.

“Sok tau kamu. Sudahlah aku gak mau tau pokoknya aku harus bertemu dengannya!!” kata Yuya akhirnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada, wajahnya terlihat tak rela adiknya bertunangan.

“Besok dia dan orang tuanya akan kemari…” jelas Saifu.

“Baiklah..ayah mengerti…” kata Ayah sambil mengangguk, merasa anaknya sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupnya.

“Aduh… ibu harus masak apa ya? Apa gak lebih baik kita bertemu di restoran saja?? Aduh ibu harus siap-siap,” kata ibu lalu beranjak dari bangkunya mulai sibuk sendiri.

Saifu sedang berbaring memikirkan bagaimana reaksi kakaknya, ketika ponselnya bergetar, ada e-mail dari Daiki.

From : Dai-chan
subject : : )

Fu-chan aku tegang sekali, jadi tak bisa tidur.
bagaimana dengan kakakmu?
aku takut bertemu dengannya besok,
jangan-jangan nanti aku dibunuh olehnya.
kau tidurlah yang nyeyak ya
aku  masih harus mengerjakan beberapa kerjaan

Oyasumi..My Lovely Fu-chan

Saifu tersenyum. Jarinya bergerak cepat membalas pesan Daiki.

To: Dai-chan
subject : re :  🙂

waa…kau juga harus istirahat
aku tak mau tunanganku sakit
begitu kerjaannya selesai kau harus tidur
jaga kesehatanmu ya
aku mencintaimu ❤

=============

“Onii-chan… kenapa kau gak sabaran gitu sih? Sebentar lagi juga mereka sampai…” kata Saifu sambil membantu ibunya memasak.

Yuya sedari tadi sudah mondar mandir sambil melihat jam tangannya, “Mereka belum sampai juga ya?” kata Yuya tak sabar.

Saifu menghampiri kakaknya itu, lalu menariknya duduk disalah satu bangku meja makan, “Tenanglah… terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku senang sekali,” kata Saifu lembut

“Fu…aku hanya khawatir…” Yuya memeluk adiknya itu dengan sayang, “Kalau dia menyakitmu bilang padaku ya, aku akan hajar dia…” kata Yuya

“Ahahaha..hai hai, wakatta…”

Setengah jam kemudian sebuah mobil yang bisa dikatakan mewah berhenti didepan rumah keluarga Takaki.

“Ah…mereka datang…” seru Saifu, tak lama bel rumahnya berbunyi dan Saifu langsung membukakan pintu.

Ayah dan ibunya juga menyambut keluarga Arioka.

Yuya terperangah melihat siapa yang datang.

“Gak….gak mungkin! Saifu???” Yuya menatap Saifu bingung, Saifu hanya tersenyum simpul kearah kakaknya.

Mereka semua membicarakan tentang pertunangan Daiki dan Saifu, Yuya sama sekali tak bicara apapun hanya menatap tak percaya Daiki yang jadi salah tingkah karena ditatap oleh Yuya terus.

“Nii-chan..sudah dong, jangan menatap Dai-chan gitu…” kata Saifu berbisik kepada Yuya yang duduk aku disampingnya.

“Aku hanya…”

“Tak percaya kalau itu Daiki?” bisik Saifu lagi.

Yuya mengangguk

“Aku akan ceritakan nanti…” kata Saifu

Malamnya Saifu menceritakan semuanya ke Yuya di kamarnya, tentang kapan dia bertemu dengan Daiki tentang bagaimana  mereka bertemu. Tentang Daiki yang tak ingat tentang apapun .

“Aku juga tak mngerti, dan tak bisa bertanya padanya…aku berasumsi Daiki dijadikan manusia tapi ingtannya tentang masa lalunya dihapus,” kata Saifu.

“Saifu…sebenarnya…”, Yuya menggantung kalimatnya, “Aku juga bertemu Din-chan… waktunya sama denganmu. Dan sama sepertimu aku juga bertemu dengannya ditempat pertama kali kami bertemu…” kata Yuya

“Ehhh?????hontou???” tanya Saifu tak percaya.

Yuya hanya bisa mengangguk.

“Jangan-jangan mereka memang ditakdirkan dengan kita ya?” kata Saifu sambil menatap keluar jendela, Yuya ikut berdiri disamping adiknya yang menatap keluar jendela.

Menatap langit malam.

“Ne…? Kita dipertemukan, lalu dipisahkan. Tapi pada akhirnya kita dipertemukan kembali dengan mereka…” Saifu tersenyum menatap kakaknya, “Bukankah itu takdir?” Saifu kembali menatap langit sambil tersenyum.

“Kamisama…arigatou na…” gumam Saifu sambil tersenyum.

“Ah ya..bagaimana kalau kita pertemukan mereka?” kata Yuya.

“Eh?”

“Aku hanya ingin tau bagaimana reaksi mereka saat bertemu” kata Yuya, “Bagaimana?”

“Maa…aku sih oke oke saja, tapi kapan?” tanya Saifu

Yuya berfikir, “Bagaimana kalau satu bulan lagi? Saat pertunanganmu? Kurasa waktunya tepat…” usul Yuya, Saifu mengangguk-angguk,

“Un..wakatta…tapi kurasa mereka juga tak saling mengingat..” kata Saifu.

=============

Yuya duduk dengan gelisah. Tak lebih dari beberapa menit lagi, Kitayama Hiromitsu akan datang menemuinya. Malam itu setelah ia mengangkat telepon dari Kitayama, pria itu meminta pertemuan dengannya.

Entah dengan alasan apa?

Kenapa tidak bertemu bertiga saja dengan Din sekalian? Yuya tentu saja tidak punya jawabannya.

“Konnichiwa…” sapa seseorang yang Yuya tebak sebagai Kitayama.

Yuya otomatis berdiri dan menunduk, “Hajimemashite… Takaki Yuya desu…”

“Hajimemashite… Kitayama Hiromitsu desu…” ucap Kitayama sambil menyerahkan kartu namanya.

Keduanya duduk kembali, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya.

Di lain pihak, Kitayama terus memandangi Yuya dengan seksama.

“Kau benar-benar pacar adikku, ya?”

Yuya yang sedang menyeruput tehnya tiba-tiba rasanya tersedak dan terbatuk-batuk, kaget dengan apa yang ditanyakan Kitayama.

“Kau tahu soal ingatan Din-chan yang hilang?” tanya Kitayama.

Ah! Yuya baru ingat. Jadi itu yang Din maksud soal ‘pacar pertama’ dan tak ingat hidupnya sebelum beberapa bulan itu. Yuya tak menanyakan hal itu lebih jauh karena ia pikir Din hanya asal bicara.

Yuya tak menjawab, tapi matanya melebar karena sedikit kaget.

Kitayama menjelaskan keadaan Din, tapi tentu saja melewatkan masalah dia dan Din yang pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar adik-kakak.

“Din-chan tak pernah menceritakannya kepadaku…” kata Yuya.

“Kau sekarang tahu…dan kuharap kau mengerti jika terkadang Din berbuat aneh atau bingung terhadap sesuatu. Ingatannya baru saja dipulihkan, dan yang ia ingat hanya hidupnya beberapa bulan ini saja…” ucap Kitayama dengan ekspresi wajah yang serius.

“Aku akan lebih memperhatikannya…” kata Yuya. Dirinya terlalu fokus pada pertemuannya dengan sosok Din, sehingga melupakan beberapa fakta penting soal Din di dunia manusia ini.

Kitayama mengangguk lalu berkata, “Kumohon…jangan sakiti dia…”

Yuya tak tahu harus menjawab apa. Baginya Kitayama sangat serius masalah Din. Ia juga punya adik perempuan, dan ia mengerti perasaan Kitayama yang khawatir. Seperti dirinya juga selalu khawatir jika adiknya tersakiti oleh orang lain.

Kitayama beranjak dan pamit pada Yuya. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan campur aduk. Kini ia harus merelakan gadisnya bersama pria lain, dan mungkin ini memang pilhan terbaik. Tak perlu lagi ada sakit hati di antara ia dan ibu tirinya yang tak merestui mereka. Ia akan mencoba untuk mencintai Din hanya sebagai adiknya, tidak lebih.

==============

“Are? Adik Yuya-kun akan bertunangan?” sore itu Yuya menemui Din di kampusnya.

Yuya mengangguk, “Bulan depan pesta pertunangannya… Din-chan datang ya… aku kan juga harus punya pasangan disana…” kata Yuya.

Din mengangguk-angguk, “Wakatta!!” gadis itu kembali memakan waffle yang tadi dibelikan oleh Yuya.

Yuya menatap Din, menimbang-nimbang apakah bijak bertanya kepada gadis itu sekarang?

“Yuya…aku mau bilang sesuatu padamu…” kata Din, membuyarkan lamunan Yuya.

“Hmmm? Kenapa?”

“Sebenarnya aku ingin mengakui sesuatu…” ucap Din lagi, kini waffle nya sudah habis ia makan.

Yuya tak menjawab, hanya memperhatikan gadis itu.

“Otakku kosong seperti bayi baru lahir. Beberapa bulan lalu, aku kecelakaan dan kehilangan ingatanku. Selama beberapa bulan ini juga aku menjalani terapi, karena otakku rasanya kosong sekali, sangat mudah mempelajari semuanya. Seakan segala informasi itu baru dan membuatku haus akan hal itu… tapi, aku tak pernah tahu kehidupanku sebelum ini…” Din berhenti dan menatap Yuya.

“Aku tak tahu kehidupanku sebelum beberapa bulan ini. Sesungguhnya aku ingin tahu, tapi takut juga… keluargaku seakan menutupi sesuatu, dan karena aku egois, aku takut kalau harus mengetahui sesuatu itu…” tambahnya lagi.

“Kau ingin mengetahuinya suatu saat nanti? Begitu?”

Din enggan menjawabnya, “Aku takut kalau aku tahu… akan berimbas pada kehidupan baruku ini…”

Yuya menarik Din. Memeluk tubuh Din dari samping. Jenis pelukan menenangkan yang akhir-akhir ini Din rasakan dari seorang Takaki Yuya.

“Aku tidak peduli sih kau ingat masa lalu mu atau tidak… asal aku tetap jadi masa depanmu…” Yuya terkekeh karena ucapannya terasa terlalu gombal saat ini.

“Hahaha… kau mau memaklumi aku, kan?”

“Un! Tidak masalah… kau ingat lagi atau tidak, yang terpenting kini aku bersamamu,”

Yuya tak pernah masalah dengan ingatan Din yang terbuang atau apapun itu. Jika ia bisa meminta kenangan Din kembali, ia ingin kenangannya selama jadi peri saja yang kembali. Sempat Yuya berfikir kalau Din yang kini ia peluk hanyalah orang yang mirip dengan peri cintanya. Tapi Yuya mengenyahkan pikiran itu karena segalanya terasa sama, hanya kenangannya Din yang terhapus dari otaknya, dan mungkin diberi kenangan baru untuk hidupnya yang baru. Dan itu tak masalah bagi Yuya, segala sifat Din masih sama seperti Din yang dulu ia kenal.

==============

A month later

“Ibu..apa rambutku terlihat bagus?” Saifu terlihat gugup.

Ibu Saifu tersenyum, “Kau cantik sekali nak…sudahlah jangan gugup nanti kau jatuh saat berjalan,” kata Ibu sambil terkekeh pelan lalu keluar dari ruang rias meninggalkan Saifu yang masih mematut dirinya di cermin.

“Kau sudah cantik kok…”

“Kyaaaa…” Saifu kaget karena tiba-tiba Daiki ada di belakangnya, “Dai-chan! jangan bikin kaget dong!” seru Saifu kesal.

“Hehehehe…..aku senang seali hari ini” kata Daiki sambil memeluk Saifu dari belakang, mengecup puncuk kepala Saifu lembut.

“Ah ya…Dai-chan aku ingin mengenalkan seseorang denganmu…Teman Yuya-nii,” kata Saifu.

“Eh? siapa?” tanya Daiki bingung, kenapa juga Saifu mengenalkan teman kakaknya kepadanya?

“Dia pacar nii-chanku….” jelas Saifu lagi.

“Oh…” ucap Daiki yang kini mengerti.

“Hei! Kalian ayo siap-siap!” kata Daisuke yang tiba-tiba masuk ke ruang rias.

Acara pertunangan yang berlangsung disalah satu ballroom hotel itu berlangsung meriah, lumayan banyak tamu yang datang. Teman-teman Daiki yang heboh karena Daiki bertungan dan dengan iseng menggoda Daiki dan Saifu. Teman-teman Saifu, rekan kerja ayah Daiki dan ayah Saifu juga sanak saudara.

“Dai-chan..ayo kita bertemu teman Nii-chan…” kata Saifu sedikit berbisik, sambil menarik Daiki dari teman-temannya .

“Wuuu..Daiki baka mau berduaan dengan tunangannya…” cibir Tokiwa sambil tertawa tawa.

Daiki hanya ikut tertawa, hari ini dia tak punya keinginan untuk melawan teman-temannya yang menggodanya karen dia terlalu bahagia hari ini.

“Ah! Itu mereka…” kata Saifu sambil menunjuk Yuya dan Din .

Daiki menghentikan langkahnya, kepalanya terasa agak sakit saat melihat Din.

Saifu menatap Daiki, “Kau ingat dia?? Dai-chan??” Saifu menatap wajah Daiki

“Dia…” Daiki menatap Din dan Yuya yang kini berjalan kearah mereka, “Aku tak ingat…” Daiki menggeleng.

“Souka…Daijobu…” Saifu mengangguk mengerti.

Daiki bersumpah dia tak ingat apapun, tapi kenapa dengan Din. Ini bukan perasaan yang sama seperti  saat dia pertama kali bertemu Saifu, perasaan ini seperti saat bertemu dengan teman lama.

Teman lama yang sangat dirindukan.

“Yuya-nii…” panggil Saifu.

Yuya tersenyum simpul lalu menatap Din yang juga menatap Daiki dengan raut wajah aneh.

“Ikuta Din desu….Yoroshiku onegaishimasu….” kata Din ceria sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Arioka Daiki desu..Yoroshiku..”

Sesaat itu setelahnya mereka berbincang seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Din sendiri heran ia bisa dengan mudah berbaur dan membicarakan banyak hal dengan Daiki.

“Tunangannya Fu-chan enak diajak ngobrol…” kata Din pada Yuya sesaat setelah Daiki dipanggil oleh beberapa temannya.

“Hontou? Kau senang bertemu dengannya?” tanya Yuya.

Din mengangguk, “Hmm… gimana ya menggambarkannya… tapi kami punya sifat yang mirip dan kesukaan kami pada beberapa hal juga sama…”

“Baguslah…menambah teman tidak masalah, kan?”

Din mengangguk-angguk setuju.

“Hei…mau tunangan juga? Masa aku keduluan Fu-chan sih?” goda Yuya.

“Mou…” Din manyun, “Nanti saja kalau aku sudah lulus, ya? Hehehe…”

“Tapi aku maunya sekarang…” kata Yuya lagi.

Din menghindar dan menjauhi Yuya sambil menjulurkan lidahnya, acara kejar-kejaran di ballroom itu pun tak terhindarkan. Hingga Yuya menangkap tangan Din.

“Hei…jangan lari-lari…” seru Yuya sambil masih tertawa-tawa.

“Hehehe… Yuya duluan sih…”

Yuya mencubit pipi Din sekilas. Bersyukur bahwa kini gadisnya sudah berada di jangkauannya lagi.

Semuanya terasa bagaikan sebuah simpul aneh yang bisa mengeratkan mereka kembali tanpa mereka sadari. Bertemu, lalu berpisah dan kini mereka bertemu lagi. Di perjalanannya bertemu dengan Din ia menemukan bahwa inilah yang dinamakan takdir. Baik dirinya maupun Saifu menyadari hal itu sepenuhnya sekarang.

=============

OWARI!!!

Akhirnya beres juga… *tebar konfeti*
Maap sepanjang jalan kenangan gini…hahaha
Yaaa~ sankyu yang masih mau baca ini fict… 😛
Please don’t be a silent reader kawan~
COMMENTS ARE LOVE!! 🙂

Advertisements

One thought on “[Minichapter] On The Way To Find You (Chapter 3 end) ~Sequel of ‘My Lovely Petto’~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s