[Minichapter] Me, Her and The Angel [story 2]

Title: Me, Her , and The Angel (Story 2)
Author : Fukuzawa Saya
Type: Minichapter
Chara : Fujigaya Taisuke(Kis-My-Ft2 ) ,Ikuta Din (Oc),Saifu and someone who pair with Saifu 😛
Rating :PG -13
Fandom :JE
Disclaimer : requestan bundaaaaaaaaaaaaaaa…hope you love it !! :* .part 1 nya aneh banget , dan part 2 mungkin bakal tambah aneh..ahahahaha*evilaughs

Beta Read by: Dinchan Tegoshi

Me, Her, and The Angel
~Story 2~

Din menatap jam dindingnya kamarnya, baru jam 7 pagi. Dia dan Fujigaya janjian jam 10 nanti. Din menatap keluar jendela, masih pagi dan beberapa orang berseliweran di depan rumahnya, ada yang tengah jongging dan lainnya .

“Nona…Tuan besar menunggu anda untuk sarapan..” kata seorang pelayan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Din.

Din mengangguk, “Wakatta..aku segera kesana,”

Pelayan itu membungkuk sedikit ke arah Din lalu meninggalkan kamar Din. Gadis itu sedikit merapikan rambutnya, lalu turun kebawah ,ke ruang makan.Din mendapati Ayah dan Ibunya tengah menunggunya , Ayahnya tengah membaca koran dan ibunya tersenyum menatapnya.

“Ohayou gozaimasu…Otou-sama, Okaa-sama..” sapa Din sopan, lalu duduk dibangku samping ibunya.

“Ohayou,”

“Ne Din…Otou-san ingin bicara.” mulai Ayah Din.

Din yang tengah mengoleskan selai strawberry di rotinya memberhentikan kegiatannya,”Ya Otou-sama?”

“Berhentilah bekerja paruh waktu..kau kekurangan uang? atau apa? Otou-san akan berikan tapi berhentilah bekerja paruh waktu.kau pewaris tunggal semua yang Otou-san punya, dan Otou-san tak mau kau celaka atau apapun Din..” kata Ayah sambil menatap Din.

Din menggeleng, “Sumimasen… aku tak bisa Otou-sama. Aku tak mau jadi anak manja,                               alasanku bekerja, aku tak mau terlalu terbuai dengan apa yang kalian berikan walaupun aku tahu tanpa bekerja pun aku bisa membeli apapun dengan uang kalian,” Din tersenyum, “Tapi aku harus belajar, belajar tentang kehidupan ini . ..” jelas Din tenang.

Ayah dan Ibu Din tersenyum puas mendengar alasan Din, “Baiklah, Otou-san mengerti…kalau begitu Otou-san akan suruh orang untuk menjemputmu dan mengawalmu bekerja ..” kata Ayah masih tak mau kalah.

“Itu juga tidak bisa Otou-sama…” tolak Din lagi, “Aku yakin aku akan baik-baik saja, percayalah…”

“Tapi Din..”

“Sudahlah..aku bisa menjaga diriku.Jadi ikuti saja aturan mainku, ne?” kata Din lagi .

Ayah Din mengangguk-angguk, “Baiklah, Otou-san tak bisa menentangmu lagi..” kata Ayah akhirnya lalu menyesap tehnya.

Din tersenyum, lalu mulai memakan rotinya. Ia harus segera siap-siap dia tak mau terlambat.

Fujigaya berlari sambil terus menatap jam tangannya, dia sudah terlambat 10 menit, “Ah…gara-gara Malaikat itu aku terlambat..” umpatnya, padahal tadi dia sendiri yang mengajak Saifu mengobrol.

“Gomenasai aku terlambat!” kata Fujigaya sambil menunduk dengnan nafas terengah-engah di hadapan Din.

Din tersenyum lembut, “Daijobu desu ..aku juga baru saja sampai disini,” elak Din, padahal kenyataannya dia sudah menunggu disana sejak 30 menit yang lalu. Dia tak mau terlambat,makanya dia berangkat lebih awal.

“Hontou ni gomen,tadi aku membuatkan sarapan untuk Saifu makanya aku..” Fujigaya mengeluh pelan,”Makanya aku terlambat…”

“Ehhhh????? Dia makan juga ya? Kukira tidak..” kata Din kaget.

“Tadinya kukira juga tidak.” kata Fujigaya sambil berjalan beriringan di samping Din, “Tapi kata Saifu dia hanya ingin makan..itu saja, dan katanya tidak makan pun dia bisa hidup. Aku penasaran dia itu sebenarnya apa?” kata Fujigaya sambil mengambil 2 buah karcis kereta.

“Maa…menurutku sih dia itu malaikat, tapi apa malaikat bisa seketus itu?” kata Din dengan wajah berfikir, membuat Fujigaya tertawa pelan menatap wajah Din yang lucu.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Din bingung.

“Habis wajahmu lucu sekali,ahahahaha..” Fujigaya masih tertawa-tawa membuat wajah Din memerah malu.

“Mou..sudahlah..keretanya datang..” kata Din sambil masuk ke dalam kereta diikuti Fujigaya dibelakangnya.

Din dan Fujigaya tak pernah menyangka bisa jadi seakrab ini, padahal sampai tadi malam dirinya dan Din masih begitu kaku. Tapi pembicaraan tentang Saifu membuatnya jadi dekat karena rasa penasaran akan siapa Saifu yang sebenarnya. Juga mungkin karena rasa rindu yang sama yang dirasakan mereka berdua, hanya saja mereka tak mau mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya mereka berdua rasakan.

“Boleh saya liat karcis anda berdua?” tanya seseorang dengan seragam petugas kereta yang biasa memeriksa karcis penumpang. Fujigaya memberikan karcisnya dan karcis Din ke petugas itu. Petugas itu mengangguk-angguk, lalu mengembalikan karcis tersebut ke Fujigaya.

“Maaf telah mengganggu kalian..terima kasih,” kata petugas itu sopan.

“Daijobu…” kata Fujigaya.

“Ah satu lagi..Fujigaya-san, tolong jaga wanita yang ada di rumah anda ya sampai saatnya tiba aku menjemputnya..” kata petugas itu lalu langsung pergi dari hadapan Din dan Fujigaya.

“Ah hai…” Fujigaya mengangguk angguk sampai akhirnya dia tersadar tentang sesuatu, “Eh????dari mana dia tau..dia? Siapa?”

“Jangan-jangan…dia tadi,malaikat juga??” tebak Din heboh, “Pantas saja wajahnya manis sekali…” Din berdiri berusaha melihat petugas karcis tadi diantara orang-orang, namun sosok petugas itu sudah menghilang.

“Masaka..apa maksudnya dengan menjemput Saifu itu ya?” tanya Din yang kembali duduk di bangkunya.

“Entahlah, aku jadi takut ada sesuatu yang aneh datang ke apartemenku kaena Saifu…” gumam Fujigaya

“Eh apa?” si gadis yang sedang berfikir sampai tidak memperhatikan ucapan Fujigaya.

“Aku khawatir akan ada sesuatu yang aneh datang ke apartemenku karena Saifu..” jelas Fujigaya lagi.

Din mengangguk-angguk.

“Lagipula bukankah aneh sekali? apa Saifu itu sedang kabur ya?” tebak Fujigaya.

“Kenapa dia kabur?” tanya Din

“Mana aku tahu..ah sudahlah, percuma kita berasumsi macam-macam. Ah, ayo kita harus turun..” kata Fujigaya sambil menarik tangan Din.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Kenapa dunia manusia itu penuh ramai sesak begini sih..” gumam Saifu sebal, sambil berjalan-jalan di kota Tokyo, namun akhirnya dia hanya duduk duduk saja disebuah taman kota yang tak terlalu ramai.

Saifu menatap air mancur yang ada di depannya sambil diam, beberapa remaja laki-laki yang lewat tadi menggodanya,membuatnya semakin jengkel saja.

“Awas saja, aku akan putus tali jodoh mereka..” umpat Saifu .

“Silahkan es krimnya…” kata seseorang dihadapan Saifu, laki-laki itu menyodorkan sebuah es krim vanila di hadapan Saifu. Saifu sebenarnya ingin, tapi harga dirinya mengatakan tidak.

“Tidak terima kasih..” jawab Saifu ketus sambil menatap kearah lain, menghindari tatapan laki-laki yang menatapnya itu.

“Ambilah aku sengaja beli untuk kau..aku Daiki, yoroshiku..” kata Daiki sambil duduk di samping Saifu yang tak mengubrisnya.

“Kalau kau tak ambil es krimnya, aku akan terus memaksamu walapun es krim ini sudah mencair nantinya..” kata Daiki lagi.

Saifu menatap Daiki, lalu mengambil es krim dari tangan Daiki, “Kau puas??” tanya Saifu ketus.

“Belum. Kau harus habiskan..sudahlah jangan malu-malu makan saja..” kata Daiki sambil memakan es krim miliknya sendiri.

Saifu mendengus lalu memakan es krimnya dengan ogah-ogahan.

Daiki tersenyum menatap wajah sebal Saifu, “Jaga diri sampai saat kau pulang ya..” kata Daiki sambil mengusap kepala Saifu lembut, lalu berjalan pergi.

“Pergi kau dasar,…” gumam Saifu sambil memakan es creamnya sebal, “Eh, chotto…apa maksudnya dengan….??”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Kau tau ada festival hewan seperti ini dari mana? Waa…kawaiii..” seru Din sambil menatap kelinci-kelinci yang ada di kandangnya yang tengah makan.

Mereka berdua akhirnya datang ke sebuah festival hewan yang ada di sebuah aula di pusat kota. Banyak pengunjung yang datang kemari karena ingin membeli binatang ataupun sekedar melihat-lihat.

“Dari temanku..aku sebenarnya ingin pelihara anjiing, tapi pengurus apartemenku tak mengizinkan. Padahal sepi sekali rasanya tinggal sendirian…” kata Fujigaya sambil melihat sebuah anjing yang nampak sangat lucu.

“Kan ada Saifu sekarang, tak sepi kan?” kata Din sambil mengelus-elus kelinci.

“Saifu itu kau tau kan ketus sekali, dia tak bisa diajak ngobrol…mungkin nanti bisa hanya saja sekarang dia belum mau membuka diri ke kita berdua..”, kata Fujigaya.

“Sou desu ne…”

“Silahkan lihat-lihat…” kata salah seorang pegawai dimana Din dan Fujigaya melihat binatang.

“Ah hai..” kata Din dan Fujigaya.

“Ehh???? Petugas tiket!!” seru Fujigaya heboh.

“Tenshiii????!!” seru Din tak kalah heboh sambil menunjuk laki-laki yang hanya tertawa pelan.

“Kenapa kalian begitu ribut hanya karena melihatku??” kata laki-laki itu tenang, namun saat melihat wajahnya bisa membuat Din dan Fujigaya merasa sangat tenang .

“Daiki desu…” kata Daiki memperkenalkan diri, “Lebih baik jangan mengobrol disini, kalian sedang kencan? Apa aku menganggu? Kalian tak keberatan aku mengakjak ngobrol kalian?” tanya Daiki.

‘yang satu ketus sekali, dan yang ini malaikat tukang tanya. Kenapa dia bisa bertanya begitu banyak pertanyaan ?..’ gumam Fujigaya dalam hati, dan Daiki tiba-tiba tertawa.

“Ke ..kenapa?”, tanya Din bingung.

“Iie…kurasa Fujigaya-san tak begitu suka aku banyak bertanya..ne?”,

“Eh?ah tidak..” elak Fujigaya, “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini..” kata Fujigaya.

“Baiklah..” Daiki menjentikkan jarinya, dan bajunya berubah dari baju pegawai menjadi baju yang lebih casual.

Beberapa pengunjung bertepuk tangan melihat Daiki berganti baju, mereka mengira Daiki adalah pesulap.

“Terima kasih, terima kasih..” kata Daiki ramah, menanggapi tepuk tangan para pengunjung, “Ayo kita harus pergi sebelum mereka memintaku lebih banyak melakukan trik sulap..”,kata Daiki sambil berjalan bergegas diikuti Din dan Fujigaya.

++++++++++++++++++++++++++++++++

“Siapa dia tadi? Masaka…agrh, kenapa bisa begitu cepat kketahuan ??” umpat Saifu kesal sambil tidur-tiduran tak tenang dikamar Fujigaya. Si empunya kamar itu sendiri belum pulang, membuat Saifu semakin kesal karena tak ada orang yang bisa dia marahi.

“Aku tak rela kalah sekarang…” gumam Saifu lagi.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Sou desu ne..kukira dia tak ketus pada kalian, lalu apa dia mengatakan sesuatu tentang alasan mengapa dia ada disini?” tanya Daiki.

Akhirnya mereka bertiga memutuskan mengobrol disebuah cafe.Di cafe ini setiap bangku memeiliki sekat, demi kenyamanan para pengunjung.

“Dia tak mengatakan apapun..” jawab Fujigaya.

“Kenapa kalian tak bertanya?” tanya Daiki lagi.

“Bagaimana kami bisa bertanya kalau dia seketus itu?” ucap Fujigaya.

“Anou ne…” Din nampak ragu untuk bicara.

“Ada apa Din?” tanya Fujigaya, menunggu Din bicara.

“Maaf Daiki..kau dan Saifu itu sebenarnya apa?” tanya  Din, “Ah..maaf kalau pertanyaanku kurang sopan..” kata Din, “Tapi aku dan Taisuke sangat penasaran, apa kalian malaikat?” tanya Din lagi.

Daiki terkekeh pelan, “Aku tak bisa memberitahu kalian, dan aku harus pergi..jyaaa..” kata Daiki lalu menghilang.

“Chotto!!ah…..dia sudah pergi..” keluh Din.

“Sudahlah ..biarkan saja, kalau sudah waktunya kita pasti akan tau dia itu sebenarnya apa…” kata Fujigaya.

“Un…”

“Bagaimana kalau kita lanjutkan…”

“Lanjutkan apa?” tanya Din bingung.

“Lanjutkan kencan kita..” jawab Fujigaya malu-malu, membuat Din tak kalah malu.

“Un baiklah..” kata Din mengangguk, “Ikou..”

Din dan Fujigaya pergi ke berbagai tempat, ke game center, berkeliling kota, berbelanja. Bersama berbagi tawa, hingga tanpa terasa hari sudah mulai larut .

“Ahahaha..kau lucu sekal di game center tadi..” kata Din sambil tertawa-tawa.

“Hey! Aku kan mau ambilkan boneka yang kau suka di Doll catching, tapi bukan salahku kalau aku terus gagal..” kata Fujigaya membela diri, terlalu senang bersama Din hari ini membuatnya tak bisa marah.

“Gomen gomen…” kata Din berusaha menahan tawanya, “Ah terima kasih untuk hari ini dan sudah mengantarku sampai rumah…” kata Din sambil membungkuk sopan.

Fujigaya mengangguk, “Unn..daijobu..” Fujigaya menatap rumah megah Din, satu hal yang selalu membuatnya berfikir dia tak pantas untuk Din. Dia hanya orang biasa, dan Din? Dia seorang putri dari istana megahnya ini. Membuat Fujigaya tak bisa banyak berharap dengan Din walaupun dia sangat mencintainya.

“Kalau begitu aku pulang dulu..” kata Fujigaya .

“Chotto…” tahan Din

“Kenapa?”

Dengan gerakan cepat Din mencium lembut pipi Fujigaya yang terkaget dengan apa yang Din lakukan, “Oyasumi..” kata Din lalu langung berlari masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Fujigaya. Dia masih mematung ditempatnya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

From : Ikuta Din
Subject : tanoshiii ~

Kyou wa hontou ni arigatou gozaimashita…
^^ ~
Oyasumi ~

Fujigaya tersenyum menatap e-mail dari Din itu, dia terus tersenyum bahkan selama perjalanan ke apartemennya.

“Tadaimaaaa….Saifu kubelikan kau sus dengan cream puff..” kata Fujigaya sambil masuk kedalam apartemennya.

“PERGIIII!!!!” jerit Saifu keras.

Fujigaya yang kaget bergegas menghampiri Saifu, dia melihat Saifu jongkok sambil menutup kedua kupingnya Daiki berusaha menahan orang-orang yang ingin membawa Saifu. Bukan orang, tapi sebuah makhluk dengan sayap-sayap dipunggungnya. Fujigaya hanya bisa diam, melihat tanpa bisa melakukan apapun.

“Matte…dia akan kembali, aku jamin. Tapi tak sekarang…” kata Daiki sambil berusaha berbicara dengan makhluk yang ingin membawa Saifu.

“Tapi, kami diperintahkan membawanya sekarang..” kata salah seorang dari makhluk yang ingin membawa Saifu.

“Toki-san, aku janji dia akan segera pulang…kalian pergilah” kata Daiki dengan nada tegas, dan tak mau ada penolakan. Akhirnya mereka mengangguk dan pergi.

“Sudah tenanglah, mereka sudah pergi…” kata Daiki sambil memeluk Saifu dan mengelus pala Saifu lembut.

“Apa yang terjadi?” tanya Fujigaya akhirnya.

Daiki tersenyum, “Daijobu….” Daiki menatap Saifu, “Kau istirahatlah…” kata Daiki lembut.

Saifu menggeleng, “Aku tak mau sendiri, mereka mungkin saja datang lagi dan memaksaku pergi !” Saifu menggeleng lagi, “Aku tak mau!”

“Fujigaya-kun aku tak bisa cerita sekarang. Nanti kujelaskan, oke?”

Fujigaya mengangguk mengerti ke arah Daiki yang menarik badan Saifu berdiri dengan hati-hati, “Aku harus menjaganya..” kata Daiki lagi.

“Un…aku mengerti…” kata Fujigaya.

“Selamat malam..” kata Daiki .

TBC ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s