[Minichapter] Me,Her and The Angel [story 1]

Title:Me, Her , and The Angel (Story 1)

Author : Fukuzawa Saya
Type: oneshoot
Chara :Fujigaya Taisuke(Kis-My-Ft2 ) ,Ikuta Din (Oc),Saifu and someone who pair with Saifu 😛
Rating :PG -13
Fandom :JE
Disclaimer : requestan bundaaaaaaaaaaaaaaa…hope you love it !! :*
Me, Her and The Angel
~Story 1~
“Saifu!!Kau harus lakukan apa yang ayah katakan..tak ada penolakan!”, bentak suara tegas Ayah Saifu, si Dewa Kemakmuran.
Sudah kesekian kalianya sang Dewa memanggil anak perempuannya Saifu yang masih belum menjadi Dewi Cinta karena Saifu sendiri nampak malas mengurusi apapun soal manusia-manusia .
Dia lebih suka mengurus dirinya sendiri,dan tak mau terlalu terlibat dengan manusia yang seharusnya diurusnya. Sampai akhirnya ayahnya si Dewa Kemakmuran memutuskan menjodohkan anaknya dengan seorang Dewa yang nantinya menjadi kandidat pengganti jabatannya itu.
Saifu menggeleng sebal,”tak akan!!”, serunya lalu pergi meninggalkan ayahnya yang terlihat sangat marah.
Saifu tak peduli , apa-apan ?? dia kan seorang Dewai tak menikah pun tak apa pikirnya, kalaupun nantinya dia menikah tidak dengan cara dijodohkan seperti ini.
“lagipula ..siapa sih Dewa yang dijodohkan denganku itu??menyebalkan sekali..pasti wajahnya jelek sekali!!” Saifu menatap kebawah, para manusia terlihat dari atas walau terlihat sangat kecil.
Saifu memutar matanya,”baiklah…”, gumamnya pelan,”lebih baik aku turun ke dunia saja..”, gumamnya pelan sambil mengepakkan sayap putihnya menuju bumi.
“Terimakasih……silahkan datng lagi..”, kata seorang pegawai sebuah toko 24jam sambil membungkuk sopan pada seorang pembeli yang berjalan keluar dari toko 24jam dimana dia bekerja.
Gadis itu menghela nafas,”capek…”, keluhnya pelan sambil memijat mijat pundaknya .
Laki-laki yang sedari tadi mengawasai dari luar toko akhirnya masuk kedalam toko 24jam tersebut,mengambil 2botol teh hijau lalu berjalan menuju kasir.
“semuanya jadi 500yen..”, kata pegawai bernama Ikuta Din itu, laki laki yang nampak canggung di depan Din itu mengangguk canggung sambl terus menatap wajah Din ,lalu memberikan selembaran uang 100 yen.
“silahkan kembalinya 500yen..”, kata Din sambil tersenyum ramah.
Fujigaya Taisuke terlalu terpesona dengan wajah Din sampai-sampai tak mendengar apa yang Din katakan, laki-laki itu hanya diam sambil menatap Din .
“anou..sumimasen, kembalian anda…”kata Din lagi sambil menatap Fujigaya sedikit waspada, takut kalau laki-laki itu punya niat macam-macam padanya. Terlebih sudah lebih dari 2bulan ini, dia sering melihat laki-laki ini diluar toko mengawasainya, membuatnya takut dan ingin pindah kerja.
“ah hai..sumimasen..”, kata Fujigaya,”anou…”
“ehmmm ..ya?”
“Fujigaya Taisuke desu….apa kau tak ingat aku?”, tanya Fujigaya, berharap Din mengingatnya.
“eh?”, Din menatap wajah Fujigaya bingung,”anou..sumimasen..aku tak ingat.”,kata Din .
“ah..sou desu ne…” Fujigaya tersenyum getir,”kalau begitu..aku duluan..”, kata  Fujigaya akhirnya, mana mungkin Din mengingatnya??dia bukan teman baik Din, dulu saat SD mereka memang sekelas namun Fujigaya sendiri tak pernah menyapa Din.
Hanya sekali, dan Fujigaya ingat sekali. Saat itu, saat Din memberikannya sebuah nasi kepal karena dia yang miskin tak punya uang untuk membeli makanan, dan hanya bisa diam di bangkunya sambil menahan perutnya yang lapar.
“Taisuke-kun..ini untukmu..”, kata Din waktu itu, Fujigaya melihat Din seperti sesosok Bidadari yang datang disaat dia benar-benar membutuhkan pertolongan.
“Chotto !”, seru Din membuat Fujigaya yang sudah berjaslan keluar toko menoleh menatap Din.
“ya?”
“Taisuke-kun desuka?”,tanya Din meyakinkan.
Fujigawa tersenyum lebar , “Un!! Taisuke desu “,kata Fujigaya sambil bejalan menghampiri Din.
“waa…ohishashiburi, terakhir kita ketemu saat SD ya? Sudah 11 tahun lewat, kau masih mengingatku ..”, kata Din sambil menatap Fujigaya tak percaya,”kau banyak berubah ya?”
“eh? Ah..hai..”, Fujigaya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, dia benar-benar gugup berhadapan lagi dengan Din yang sejak dulu disukainya, cinta pertamanya, yang bahkan bertahan hingga sekarang.
Hanya Din yang bisa membuatnya jautuh cinta seperti ini.
“ne Taisuke..chotto ne, 15 menit lagi shitku habis, bagaimana kalau kita ngobrol ? tapi tunggu aku sebentar ya?”,kata Din .
Fujigaya tentu saja mengiyakan perkataan Din itu, dia bahkan tak pernah mengira Din akan mengajaknya mengobrol sehabis kerja.
“jadi sekarang kau ambil S2 jurusan sastra Jepang? Sugoii…”, puji Fujigaya yang berjalan beriringan dengan Din .
“un..lalu kau? “ ,tanya Din sambil memasukkan tangannya ke saku mantelnya karena udara malam ini sangat dingin.
“ah..pakai ini, malam ini memang dingin sekali..”,kata Fujigaya sambil memberikan Din syalnya,
“arigatou…”
“aku sudah lulus , dan jadi guru olah-raga..ahaha..”kata Fujigaya,”aku akan ambil S2 saat uangku sudah cukup untuk aku kuliah ..”,jelas Fujigaya lagi.
“sou ne…”
 Untuk beberapa saat hanya keheningan yang ada diantara mereka berdua, suara angin yang berhembus malam itu membuat suasana semakin canggung bagi Fujigaya.
 Dia tak tahu harus mengatakan apalagi.Tapi, dia belum ingin berpisah dengan Din, dia masih ingan bersama Din.
“kita ketaman itu saja ya..”, kata Fujigaya, dan Din hanya mengangguk sambil berjalan mengikuti Fujigaya yang berjalan kearah sebuah bangku .
“ah kau mau minum?”, tanya Fujigaya sambil memberikan Din sebotol teh ang tadi dibelinya di toko dimana Din kerja sambilan.
“ahahaha, kau ini. Terima kasih…”,kata Din lalu mengambil teh botol itu dan meminumnya.
“eh?”
“kenapa?”,tanya Fujigaya bingung.
Din menunujuk kearah langit, Fujigaya menatap kearah tangan Din menunjuk . Sebuah bulu, Fujigaya menyipitkan matanya menatap bulu-bulu sayang burung yang berjatuhan dari langit.
“kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”,Din menutup mata karena sesuatu berwarna putih jatuh dari langit.
BRUKKKKKK!!
“ittai !!”,keluh seseorang yang baru saja mendarat diumi dengan pendaratan yang kurang mulus.
“masaka…”, gumam Fujigaya tak percaya menatap apa yang sekarang dilihatnya.
“sakit sekali….”,keluh sesosok gadis yang memakai baju serba putih, rambut hitam ikal panjangnya terurai , sayap putihnya perlahan mengecil dan akhirnya menghilang .
“te….tenshi???”,seru Din tak percaya.
“Tenshi??”, seri Fujigaya yang menatap Din bingung.
“mitte mitte…dia bersayap dan berpakain serba putih, bukankah itu berarti dia itu..malaikat??”, kata Din sedikit berbisik .
“are??manusia?”, Saifu menatap Din dan Fujigaya yang menatapnya takut dengan kesal,”ah…bagaimana ini, kenapa harus ada manusia yang melihatku sih??”keluh Saifu.
“kau..malaikat?”,tanya Din takut-takut, menatap sosok gadis muda itu yang menatap sedikit angkuh,tak cocok dengan wajah manisnya.
“terserah kalian mau menganggapku apa….”kata Saifu cuek,”aku haus ..”,kata Saifu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Din berjalan mendekati Saifu,”silahkan..ini teh..”, kata Din ramah.
“hmm..”, Saifu menatap Din lama ,sampai akhrinya mengambil botol teh itu,”terima kasih…”
“aku ingin tinggal dirumah kalian..”,kata Saifu setelah selesai meneguk tehnya.
“EHH???”
“maaf ….apartemenku kecil..”,kata Fujigaya sambil mempersilahkan Saifu masuk kedalam apartemennya yang tak besar, tapi tak buruk.
Saifu tak mengatakan apapun untuk menanggapi perkataan Fujigaya itu,langsung duduk disofa yang ada diruang apartemen Fujigaya itu.
Din takbisa membawa Saifu pulang kerumahnya, karena dia tingga bersama orang tuanya yang tak terlalu suka dengan orang asing. Maka dari itu Saifu akhirnya tingal di apartemen Fujigaya.Fujigaya tinggal sendiri, dia sudah punya orang tua, sanak saudara pun tak ada yang terlalu dia kenal.
“silahkan..”,kata Fujigaya sambil menyimpan dua gelas coklat hangat dimeja.
“arigatou..”,kata Saifu sambil menyeruput coklat hangatnya,”amaii…..”,seru Saifu.
“yokatta…”,Fujigaya tersenyum menatap Saifu yang nampak menikmati coklatnya.
“ne Fujigaya-san, aku tau …kau menyukai gadis bernama Din tadi kan?”, kata Saifu.
“eh???tau dari mana?”, tanya Fujigaya kaget.
“kenapa kau menanyakan hal macam itu padaku? Tanpa bertanya pun aku tau apa yang kau pikirkan..”,kata Saifu.
“kau sebenarnya siapa?”,tanya Fujigaya.
“aku?aku Saifu…”,jawab Saifu santai
“chigau..maksudku kau itu…sebenarnya apa?”,Fujigaya tak ingin Saifu tersinggung dengan pertanyaannya maka dari itu dia memelankan suaranya.
“pertanyaanmu lucu..”,kata Saifu sambil tertawa tawa.
“jangan tertawa!”, Fujigaya merasa malu karena ditertawakan oleh Saifu.
“maaf maaf…ne?kenapa tak bilang saja? Kau sudah menyukainya sejak kalian masih kecil…lalu dia itu cinta pertamamu, bahkan samapai sekarang kau masih mencintainya. Kadang aku bingung, kenapa kalian para manusia bisa melakukan hal-hal bodoh yang  tak pernah aku pikirkan untuk aku lakukan..”, kata Saifu sambil meneguk habis coklat hangatnya,
“bukankiah kalian para manusia hanya perlu mengatakan apa yang kalian rasakan, dengan begitu kalian tak perlu begini kan?”, kata Saifu lagi.
“begini bagaimana maksudmu?”,tanya Fujigaya bingung.
“maa….”, Saifu merebahkan dirinya di sofa, sambim menatap jari-jari tangannya,”maksudku tak perlu repot memendam perasaan kalian sendiri, bahkan sampai bertahun –tahun..”
“Saifu…semuanya tak bisa semudah seperti yang kau katakan..”, kata Fujigaya ,”apa kau tak pernah merasakan hal seperti ini?”
Pertanyaan Fujigaya membuat Saifu bangkit berdiri menatap Fujigaya,”aku…tak perlu perasaan macam itu..” ,.
“kenapa?”
“bukan urusanmu…”,kata Saifu kembali duduk di sofa,”mau kubantu?”,
“bantu?”, Fujigaya menatap Saifu bingung,”bantu apa?”
“baka da~!maksudku tentang hubunganmu dengan perempuan bernama Din itu..”
“ohh..”, Fujigaya nampak berfikir,”memangnya kau bisa apa?”,tanya Fujigaya.
“bisa mengutukmu..ah sudahlah, aku tak mau ikut campur..”,kata Saifu bangkit dari sofa,”dimana ruanganku?”, tanya Saifu.
“disana..”, kata Fujigaya sambil menununjuk satu-satunya ruang tidur yang ada di apartemennya, tanpa mengatakan apapun lagi Saifu langsung masuk kedalam kamar itu dan menutup pintunya rapat.
“ah..malam ini tidur di sofa ya..”, gumam Fujigaya , dia merasakan keitai disakunya bergetar ada telpon masuk, dari Din.
“hai?..ada apa Din?”,tanya Fujiigaya.
“anou..aku khawatir dengan Saifu, dia baik-baik saja? “, tanya Din .
“un..dia baik-baik saja kok, dia istirahat dikamarku..”,jelas Fujigaya.
“eh???kalian tinggal di satu kamar??”,tanya Din tak percaya.
“chigau!aku tidur di ruang tamu..dan dia di8kamarku, dia bahkan tak berkata terima kasih aku mengizinkan dia memakai kamaraku..ahahaha…dia ketus sekali..”, kata Fujigaya ,
“yokatta…ahaha, tapi dia itu malaikat kan?”,
“hmm..aku tak tau, dia tak mengatakan apapun tentang siapa dia…”,kata Fujigaya,”anou..”, Fujigaya nampak menimbang –nimbang .
“apa?”
“besok kau senggang? Anou maksudku..kalau bisa aku ingin ..aku ingin kita mengobrol lagi..”, kata Fujigaya, harap-harap cemas dengan jawaban Din.
“un..wakatta. besok ketemu di cafe dekat stasiun ya..”, kata Din disebrang sana dengan riang.
“HAI!!” jawab Fujigaya sakit senangnya, tak menyangka Din akan menerima ajakannya.
“kalau begitu oyasumi Taisuke-kun..”,kata Din lalu menutup sambungan telponnya.
“YATTTAAAAAAAAAA!!!”, seru Fujigaya sambil melompoat-lompat senag,”aku akan kencnnn!!!”, seru Fujigaya lagi.
“chotto..”Fujigaya terdiam,”kencan??”,gumamnya tak percaya.
“asikkkk besok aku akan kencan dengan Din!!!,ahahahah …”,seru Fujigaya lagi sambil melompat lompat senang lagi, tak bisa menahan rasa senang yang meluap didadanya.
“dasar manusia..”, gumam Saifu yang mengintip dari celah pintu.
“eh? Apa makhluk seperti Saifu itu makan ya?”, gumam Fujigaya yang tengah membuat nasi goreng untuk sarapan, Fujigaya mengangkat bahunya,”sudahlah buat saja..”,kata Fujigaya lagi pada dirinya sendiri.
“sedang apa kau?”, tanya Saifu yang tiba-tiba ada disamping Fujigaya.
“Hwaaaaaaaaa!!kau mengagetkanu.”, seru Fujigaya, namun Saifu tak merespon apapun,”aku buat sarapan..kau mau?”,
Dan lagi lagi Saifu tak menjawab apapun.
Fujigaya menatap jam tangannya, “Yabaiii!!aku akan telat..ah, Saifu makanlah kalau kau lapar
“baiklah…terima kasih..”, kata Saifu lalu duduku dimeja makan, siap melahap nasi gorengnya.
Fujigaya terdiam sebentar menatap Saifu yang memakan nasi gorengnya dengan perlahan , Saifu bahkan terlihat seperti boneka yang tengah makan di mata Fujigaya.
“apa?”atanya Saifu yang sadar Fujigaya menatapnya dengan aneh.
“aku hanya heran, makhluk sepertimu juga makan ya?”,tanya Fujigaya.
“sebenarnya..makan ataupun tidak aku bisa tetap hidup, karena aku adalah..”, Saifu menggantung kalimatnya,”karena apapun aku itu bukan urusanmu..”Saifu menatap Fujigaya,”lagipula kau akan terlambat..”,kata Saifu lagi.
“ehh??”, Fujigaya langsung bergegas menuju pintu,”ittekimasuu..”,serunya kencang sambil keluar dari rumah.
Saifu menelungkupkan kepalanya dimeja makan , menghela nafas.
“masaka….aku merasa akan ada yang datang menggangguku..”, gumam Saifu pelan.
TBC ~
bunda dou?? aneh ya? gomennnnnnnnnnnn >,<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s