[minichapter] Bloody Scene in Hokkaido part.2

Title : Bloody Scene in Hokkaido

Type : Minichapter
Author : Anisu-chan
Genre :  Supernatural, Romance, Mystery
Rating : WARNING PG-15
Cast : Okamoto Keito (HSJ), Hideyoshi Sora (OC), Takaki Yuya (HSJ), Akiyama Sayumi (OC), Akiyama Sayuri (OC), Yaotome Hikaru (HSJ)
Disclaimer : I don’t own all character here, and I just own this plot ^^
N/B : yay, this is special fanfic for bunda (Dinchan). Taktik pembunuhannya sengaja make taktik dari anime GoSick diepisode 2-3. Fanfic ini cuma hasil dari khayalan saya, jadi jangan terapkan fanfic ini dikehidupan nyata hahaha. Enjoy please J
Bloody Scene in Hokkaido
Part. 2
“Sayuri, Sayumi tidak mau main di pantai,” kata Sora yang melihat Sayumi sedang berdua dengan Hikaru.
“Gomen, aku tidak tau kalau kalian sedang berciuman.” Sora membalikkan badannya membelakangi Hikaru dan Sayuri.
“Eh? Kalian sudah jadian?” tanya Sora begitu sadar apa yang dilihatnya tadi.
Sayuri dan Hikaru tersenyum malu-malu, “Kami baru tau tadi, ternyata kami saling menyukai.” jawab Hikaru.
“Eh iya Sayuri, Sayumi tidak mau main. Sepertinya ia masih takut karena kutukan yang tertulis dibuku bergambar aneh tersebut.” kata Sora mengalihkan topik pembicaraan.
“Biarkan saja si Sayumi, nanti dia juga kesini karena kesepian didalam. Lagipula buat apa percaya dengan kutukan, Sayumi itu kadang-kadang bodoh.” kata Sayuri yang tak acuh dengan kembarannya.
“KYAAA!!” suara teriakan Sayumi terdengar samar-samar dipantai. Karena khawatir, Sora, Sayuri dan Hikaru segera masuk ke villa tersebut.
“Kenapa?” tanya Sora khawatir yang melihat Sayumi dengan mata terbelalak dan juga.. Keito.
“O-okamoto.. mati. A-aku tidak tau kenapa, saat aku ingin pergi ke kamar aku sudah melihat Okamoto tergeletak disini, begitu aku pegang nadinya, sudah tidak ada detaknya lagi.” Sayumi mulai menjelaskan alibinya kepada yang lain.
“Kejadian ini sama seperti gambar dibuku aneh tersebut.” kata Sora yang membuat Hikaru dan Sayuri melihatnya dengan bingung.
Sora menuruni anak tangga dan mengambil buku yang ia sebut aneh, ia ingin menunjukkan bahwa kejadian yang dialami Keito sama dengan gambar yang ada dibuku, “Ini lihat.”
“Tidak salah lagi, kutukannya pasti sudah dimulai. Takaki-kun pasti belum pulang karena ia tenggelam dilaut, sama seperti gambar dihalaman pertama buku ini!” Sayumi mulai terlihat frustasi.
Hikaru, Sayuri dan Sora sama terlihat frustasinya dengan Sayumi. Mereka terlihat panik, takut jika kematian menjeput mereka.
“Ku..kutukan itu pa..pasti bisa dihilangkan, bukan?” kata Sora dengan terbata-bata karena takut.
“Aku baru baca tadi cara menghilangkan kutukan, tapi aku ragu apakah itu memang benar bisa menghilangkan kutukan.” kata Sayumi yang membuat Sora, Hikaru dan Sayuri bisa sedikit lebih lega.
Sayumi mengeluarkan kertas yang ia maksud tadi disaku celana yang ia pakai, “Ini. Aku tidak yakin bahwa tulisan yang aku temukan itu benar.”
Sora merampas kertas tersebut dari tangan Sayumi, “Mustahil! Alasannya hanya sesimple ini?”
“Jika kau tidak ingin kutukan itu datang padamu, jangan sentuh sama sekali korban kutukan tersebut.” Hikaru membacanya dengan suara yang bisa didengar semuanya.
“Sayumi, tadi kau bilang kau memegang nadi Keito?” tanya Hikaru, badan Hikaru tampak bergetar.
Sayumi mengangguk, “Aku hanya ingin mengecek apakah ia mati atau hanya pingsan saja.”
“Bukankah kau sudah melihat isi buku Bloody Scene in Hokkaido dan mengetahui cara menghilangkan kutukan dari kertas ini?” tanya Hikaru yang mulai memojokkan Sayumi.
“Itu artinya.. kutukan itu tidak bisa dihilangkan karena Sayumi sudah menyentuh Keito?” tanya Sayuri yang menyimpulkan semuanya.
Hikaru mengangguk, “Kuso! Gara-gara kau kita semua bisa mati disini!” Hikaru ingin melemparkan tinjunya ke wajah Sayumi tapi, “Jangan pukul kembaranku, Hikaru! Sudahlah, kita akan mati semua disini. Jadi lebih baik kita bersenang-senang saja. Untuk menghabiskan sisa waktu kita sebelum mati.” kata Sayuri yang juga terlihat sangat frustasi.
Sora, Hikaru, Sayumi dan Sayuri terdiam. Mereka takut jika kematian benar-benar akan datang pada mereka. “Apa benar Keito benar-benar mati?” tanya Sora masih tidak percaya.
Sora mendekati jasad Keito, “Tidak apa kan jika aku menyentuhnya? Lagipula Sayumi juga sudah menyentuhnya.”
Tidak ada jawaban, mereka tidak peduli dengan apa yang dilakukan Sora. Kutukan akan datang menghampiri mereka satu persatu, tidak ada harapan lagi. Lagipula, siapa juga yang bisa lari dari kutukan yang sudah ditakdirkan seperti ini.
Sora membalikkan badan Keito, ia ingin menyentuh wajah Keito untuk yang pertama dan terakhir kalinya. “Masih ada nafasnya, Keito belum mati!!” teriak Sora dengan senang.
“Sayuri!!” teriak Sayumi yang menjadi tambah panik melihat Sayuri yang asmanya sudah mulai kambuh.
“Aku akan ambil obatnya dulu, tolong jaga Sayuri!” kata Sayumi yang langsung pergi kekamarnya dan Sayuri.
“Sayuri, jangan bilang kutukan itu sudah menghampirimu! Aku tidak mau kehilanganmu, Sayuri!!” teriak Hikaru yang frustasinya menambah melihat Sayuri.
“Ini bukan kutukan Hikaru, dibuku tersebut tidak ada gambar orang yang mati karena asma.” kata Sora.
Sayumi sudah keluar dari kamarnya dan Sayuri, ia membawa obat asma milik Sayuri, “Habis?”
“Apa tidak ada lagi obatnya?” tanya Sora.
Sayumi menggeleng, “Belakangan ini Sayuri tidak pernah kambuh lagi, jadi aku menyarankannya untuk membawa satu obatnya saja.”
“Kau ini ingin mencelakai kembaranmu sendiri ya?” maki Hikaru kepada Sayumi.
Tarikan nafas Sayuri terdengar semakin kencang, wajahnya pun memucat, “Cepat lakukan sesuatu kepada Sayuri. Kalau didiamkan ia bisa mati!” teriak Sora.
Hikaru dengan sigap menggendong tubuh Sayuri, “Aku akan membawa Sayuri keluar dan menelpon rumah sakit agar segera kesini.”
“Memangnya bisa menelpon rumah sakit?” tanya Sora.
Hikaru mengangguk, “Kata Keito sinyal hanya ada diluar villa ini.”
Hikaru berlari dengan cepat, meskipun ia menggendong tubuh Sayuri. Baginya, kini Sayuri adalah segalanya, jadi ia tidak mau jika Sayuri menduluinya.
“Hikaru, jangan lari-lari!” teriak Sora yang kini ikut menyusul Hikaru.
BRAK, darah segar mengucur dari tubuh Hikaru, “HIKARU!!” teriak Sora.
Sora menarik tubuh Sayuri dari badan Hikaru, meskipun dengan sisa tenaga yang Sayuri punya ia meraih Hikaru dengan semampunya. Tapi tetap saja Sora tidak peduli, yang perlu ia lakukan sekarang adalah memisahkan alat pemisah rumput–yang bentuknya hampir mirip dengan cangkul hanya bedanya alat tersebut seperti sisir dan tajam diujung-ujungnya– dari punggung Hikaru.
“Baka! Bukankah kau sudah tau kalau lantai diteras ini licin? Kenapa kau masih lari-lari sih? Dan kenapa juga alat seperti ini harus ditaruh disini!” ujar Sora, airmatanya kini mulai turun melihat temannya yang sedang sekarat.
“Maaf Hikaru ini akan sakit sekali, tapi aku harus segera mengambil alat ini. Sayumi, cepat bantu aku!!” Sayumi yang tadi hanya terdiam karena tidak percaya apa yang baru ia lihat. Hikaru yang ia kenal ceria, harus mengalami kematian seperti ini. Tapi, apa benar Hikaru akan mati sekarang?
“Cepat ambil handuk panas! Pendarahannya harus dihentikan,” perintah Sora kepada Sayumi.
Sora menggenggam tangan Hikaru, ia terlihata sangat terkejut karena tangan Hikaru sudah dingin, dan kukunya memutih, “Uso! Kau tidak mati hanya karena seperti ini kan Hikaru? Orang bodoh sepertimu tidak mungkin mati secepat ini!” teriak Sora kian frustasi.
“Ayo Hikaru bangun! Kalau kau mati bagaimana dengan Sayuri? Kalian kan baru saja jadian!” ujar Sora yang masih mengguncangkan tubuh Hikaru yang penuh dengan darah.
PLAK, tamparan Sayumi mendarat dipipi Sora, “Kenapa kau mendiamkan Sayuri sih? Lihat, Sayuri sudah tidak sadar. Bagaimana jika ia mati?” kata Sayumi yang baru tiba mengambil handuk hangat yang tadi diperintahkan Sora.
Sora menampar pipi Sayumi dengan tidak kalah keras, “Kau pikir aku tidak perlu menolong Hikaru yang sekarang lebih membutuhkan pertolongan?”
“Kenapa harus menolong orang yang akan mati seperti itu?!” emosi Sayumi makin tinggi. “Tidak ada gunanya kan kau menolong Hikaru? Sekarang ia sudah mati!”
Sora terdiam, ia menyentuh kaki Sayuri. Ingin tau apakah kakinya masih hangat atau tidak, “Sayuri masih hidup. Aku tidak tau harus menolong Sayuri seperti apa?” kata Sora yang airmatanya semakin deras.
“Aku juga, seumur hidup jika Sayuri kambuh selalu diobati dengan obatnya. Tapi sekarang obatnya sudah habis, aku ingat betul aku sudah membawa obat baru untuk Sayuri.” alibi Sayumi.
Sora tersenyum, senyuman licik yang kini tersungging dibibirnya, “Benar kata Hikaru, gara-gara dirimu yang menyarankan Sayuri untuk membawa satu obat saja. Akibatnya jadi seperti ini, Hikaru mati tertusuk alat sial tersebut dan Sayuri sedikit lagi mungkin akan menyusul Hikaru juga karena akan kehabisan oksigen. Kau pembunuh, Sayumi!!”
BRUK. Darah segar mulai mengalir dari kepala Sora, “Aku bukan pembunuh!!” teriak Sayumi yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
“Kau pembunuh, buktinya kau sudah mencelakai kembaranmu sendiri dan sekarang kau malah memukulku dengan batu itu.” Kata Sora dengan santai sambil memegang kepalanya yang berdarah.
Sora bangkit dari tempat jatuhnya akibat tindakan Sayumi tadi, ia mengambil batu yang cukup besar yang ada disekitarnya. “Entahlah kutukan itu ada atau tidak, tapi jika kutukan itu benar-benar ada bukankah sangat bagus jika aku membantu kutukan itu untuk membunuhmu juga, Sayumi?”
“Sebelum aku membunuhmu, aku ingin tanya sesuatu. Apa kau juga yang membunuh Keito? Kau itu orang pertama yang melihat jasad Keito kan?” Sora mulai menginterogasi Sayumi.
Sayumi menggeleng, “Aku sudah bilang kan aku tidak membunuh Keito! Aku juga tidak membunuh Sayuri ataupun Hikaru! Aku bukan pembunuh!”
“Kau pembunuh!!” teriak Sora.
“Bukan!” emosi Sayumi yang makin tidak terkendali, menendang Sora sehingga Sora tersungkur. Dalam keadaan Sayumi yang seperti ini, ia masih ingat bagaimana caranya menendang orang saat diajarkan Senpainya di klub Karate.
“Kau gila Sora! Kau menuduhku pembunuh dan sekarang kau ingin mencoba membunuhku.” Sayumi menarik rambut panjang Sora dengan keras. “Santai saja Sora, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya ingin menghilangkan kesadaranmu agar kau bisa berpikir jernih setelah kau sadar.” Satu lagi pukulan mendarat dileher belakang Sora, seketika kesadaran Sora pun hilang.
***
Sora merasakan seseorang yang membelai wajahnya dengan lembut, ia berusah membuka matanya, ingin memastikan apakah ia sudah tidak ada dunia lagi atau masih didunia.
“Kau sudah bangun, Sora?” tanya orang yang membelai wajah Sora tadi.
“Keito?”
“Seperti yang kau bilang tadi siang, aku tidak mati, aku masih hidup. Sebenarnya, aku hanya pura-pura mati saja tadi.” jawab Keito santai.
“Untuk apa kau sampai bertindak sejauh itu?”
“Hanya ingin melakukan apa yang kakekku dulu lakukan.”
“Maksudmu?”
“Yah terpaksa aku harus menjelaskannya kepada calon pendamping hidupku.”
“Hah? Kau bicara apa? Kau ini Okamoto Keito bukan sih?” Sora tidak percaya bahwa laki-laki yang ada didepannya ini adalah Keito.
“Tentu saja, aku Okamoto Keito. Oh iya, kau tau? Sayumi dan Sayuri sudah menyusul Hikaru, lho.”
Sora kaget apa yang baru saja Keito katakan, “Bagaimana bisa Sayumi mati? Dia bunuh diri?”
Keito menggeleng, “Aku yang membunuhnya, untuk membalas semua yang ia lakukan padamu. Dan Sayuri juga aku bunuh, karena ia akan menyusahkan saja jika asmanya kembali kambuh.”
“Kau psikopat ya?”
“Tidak, aku hanya ingin mewujudkan mimpiku saja. Kau tau? Villa ini jarang dikunjungi karena villa ini terpencil dan juga di villa ini pernah terjadi pembunuhan yang cukup sadis saat 45 tahun yang lalu. Pasti kau tau kan kalau bangunan ini adalah bangunan tua, keliatan kok dari fisik bangunan ini. Dan saat 45 tahun lalu, villa ini telah menjadi tempat pembunuhan beberapa teman kakek dan nenekku. Ya, kurang lebih kondisinya sama seperti ini, tapi ketiga orang teman kakek dan nenekku yang berlibur disini, semuanya mati ditangan kakekku.”
Sora terdiam mendengar cerita Keito, entah apa yang ia dengar adalah kisah nyata atau bukan, tapi sikap diamnya akan menjadi emas dikondisi yang seperti ini.
“Aku mendengar cerita dari kakekku. Setahun lalu, sebelum kakekku meninggal, aku pernah bercerita kepadanya bahwa aku menyukai seseorang. Kemudian, ia menyuruhku untuk mengajak orang yang kusukai berlibur berdua di villa ini. Tapi jika ada oranglain selain aku dan orang yang aku sukai, cinta itu tidak akan pernah terwujud. Maka, hal yang paling tepat aku lakukan untuk membuat cinta itu terwujud adalah dengan menghabisi nyawa orang selain aku dan orang yang kusukai. Tindakan yang aku lakukan ini sama seperti tindakan yang kakekku lakukan. Menurut kakekku, orang-orang yang ia bunuh adalah tumbal untuk dipersembahkan kepada dewa cinta, karena dewa cinta menyukai darah orang-orang yang ketakutan akan kutukan.”
Keito menarik nafasnya panjang, “Kutukan yang ada dibuku Bloody Scene in Hokkaido itu sebenarnya palsu. Kakekku yang membuat buku tersebut agar kakekku bisa mempersembahkan darah teman-temannya yang takut dengan kutukan kepada dewa cinta dengan melakukan beberapa ritual terlebih dahulu.”
“Jadi, kau menyukaiku?” tanya Sora hati-hati.
Keito mengangguk, “Apa kau mulai menyukaiku juga? Karena aku baru saja selesai melakukan ritual persembahan darah untuk dewa cinta.”
Sora mengacuhkan pertanyaan Keito, justru ia bertannya balik, “Apa yang kau lakukan? Ini bercanda kan? Kau pasti tidak membunuh Sayumi dan Sayuri.”
“Tidak, aku serius! Aku benar-benar membunuh Sayuri dan Sayumi. Dan aku tidak menyangka, bagaimana Hikaru bisa mati selain ditanganku.”
“Hikaru mati karena terpeleset dilantai teras, lalu tubuhnya tertusuk oleh benda terkutuk itu. Aku sudah bilang ke Hikaru untuk tidak lari, tapi ia menghiraukannya dan semua itu terjadi.” Sora menangis lagi mengingat kejadian mengenaskan tadi siang.
“Aku tau, aku tau semua apa yang kalian lakukan tadi. Setelah Sayumi membuatmu pingsan, tak lama kemudian aku menikam jantungnya. Aku juga melakukan itu kepada Sayuri.”
“Kenapa kau tega membunuh mereka?! Dasar gila!” teriak Sora frustasi.
“Aku hanya ingin mewujudkan mimpiku agar kau menyukaiku, sudah kubilang tadi kan?”
“Apa hal itu bisa membuatku mencintaimu? Gunakan otakmu sebelum bertindak! Bagaimana bisa dengan membunuh teman bisa membuat orang yang disukai menjadi berbalik suka?! Kau bodoh! Gila!”
“Kenapa jadi begini? Apa karena Hikaru tidak kubunuh, kau jadi tidak menyukaiku?!”
“Biarpun Hikaru mati ditanganmu itu tidak akan membuatku menyukaiku. Dan cerita kakekmu itu, aku yakin itu cerita palsu. Mana mungkin orang bisa saling mencintai, karena menjadikan nyawa temannya sebagai tumbal?!”
Sora mengambil katana tua yang dipajang diruangan ia dan Keito berada, “Aku akan membunuhmu, Okamoto Keito! Nyawa dibayar dengan nyawa. Kau harus membayar nyawa Sayumi dan Sayuri.”
“Apa yang kau lakukan Sora? Kau tidak bisa membunuh orang yang kau cintai!” kata Keito dengan percaya diri.
Tiga tebasan katana hinggap ditubuh Keito, “Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Okamoto Keito!!”
Darah segar dari tubuh Keito mengalir deras dari luka yang ditimbulkan oleh tebasan pedang Sora. Mata Sora mulai berair, ia sudah membunuh Keito orang yang hampir membuatnya jatuh cinta saat pertama kali datang kesini. “Seharusnya kau tidak perlu berpura-pura mati, jika kau tidak melakukan itu Hikaru tidak akan mati… kenapa kau bodoh sih, Keito? Kenapa kau begitu mudah percaya dengan cerita kakekmu yang tidak masuk akal itu!”
Sora melempar katana yang ia gunakan untuk membunuh Keito, kenangan tentang Keito yang membuatnya hampir jatuh cinta dengan Keito kembali terputar dibenaknya.
“Gomenasai, aku baru pulang sekarang. Yamano-san mengurungku selama ini, katanya itu perintahmu Keito! Kurang ajar kau!” teriak seorang laki-laki dengan penampilannya yang berantakan memasuki villa tersebut. Sepertinya ia tidak tau apa yang terjadi disana.
“Sora? Kau disini? Yang lain dimana?” tanyanya saat melihat Sora terdiam.
Laki-laki tersebut menghampiri Sora, “Ada apa dengan Keito? Kalian pasti sedang akting kan? Darah ini pasti darah palsu.” Ia mengambil sedikit darah yang ada disekitar tubuh Keito, menciumnya untuk memastikan apakah darah palsu atau tidak.
“Aku membunuhnya karena Keito telah membunuh Sayuri dan Sayumi!” teriak Sora, ia mulai terlihat stress.
“Kau bercanda ya? Mana mungkin Keito membunuh Sayuri dan Sayumi. Aku kenal betul siapa Keito, ia sahabatku sejak kecil!” bentaknya
“Tidak, aku serius Takaki! Aku membunuhnya dengan katana itu,” Sora menunjuk katana yang ia lempar tadi.
Takaki tampak tidak percaya, selama ia tidak ada divilla tersebut kejadian yang seharusnya tidak pernah terjadi harus terjadi kepada orang-orang yang ia sayangi.
“Aku bilang padanya, bahwa nyawa dibayar nyawa. Karena ia telah membunuh sahabatku.” ujar Sora dengan senyum licik.
“Kalau begitu, aku juga akan membunuhmu. Karena kau telah membunuh sahabatku.” Takaki mulai kehilangan akal, ia bergegas mengambil katana yang Sora lempar tadi.
Sora berlari, yang harus ia lakukan sekarang adalah bertahan hidup. Ia tidak mau mati, ia takut mati, ia takut merasakan sakit saat dicabut nyawanya.
“Mau lari kemana kau? Aku akan membunuhmu, Hideyoshi Sora!” ujar Takaki sambil mengejar Sora.
Sora berhenti, ia mengambil sebuah senapan yang terpajang diruang tengah, “Senapan ini pasti ada pelurunya.” ujarnya dengan nada pelan.
 Sora mengarahkan senapan tersebut kearah Takaki, “Kau tidak akan bisa membunuhku, Takaki!!”
JDOR, tembakan Sora meleset, ia mengarahkan kembali kearah Takaki.
“Kau yang akan mati Sora! Satu tusukan katana di dadamu, tentu saja bisa membuatmu kehilangan nyawa bukan?” kata Takaki dengan senyum puas yang tersungging dibibirnya.
Saat serangan Takaki menusuk dada Sora, Sora dengan tepat menarik pelatuk senapan kearah jantung Takaki, “Kau juga akan mati. Ohok, ohok..” darah muncrat dari mulut Sora.
***
OWARI
Gomen kalo fanficnya gak jelas :p saya lagi pengen bikin fanfic pembunuhan aja :]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s