[Oneshot] My Girl (‘Happiness’ side story)

Title        : My Girl (‘Happiness’ Side story)
Author    : Opi Yamashita
Type          : Oneshot
Genre        : Family, romance
Ratting    : G
Fandom    : JE
Starring    : Ninomiya Kazunari, Aiba Masaki (ARASHI), Kei Inoo (Hey!Say!JUMP), Opi Ninomiya (OC), orang-orang numpang lewat
Disclaimer    : Tidak ada yang aku miliki dari kesemua cast. kecuali OC dan plot saja…kenapa tumben-tumbenan munculin Nino? Karena aku sedang terpesona dengan kepedasan omongan dia, kepelitan dia, dan kekurang ajaran dia sama member Arashi lain nya ahahahhaa…
Please Don’t Be A Silent Reader~ ^^

MY GIRL
(Happiness Side Story)

“An-chan, aku pergi..”

Aku melongok dari balik koran. Kulihat Opi sudah siap akan pergi. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia akan pergi bermain basket.

“Latihan?” tanyaku seraya menghampiri adik perempuanku satu-satunya itu yang sedang memakai sepatunya.

“Begitulah..” Kepalanya mendongak untuk melihatku. “Apa?” tanyanya.

Aku menggeleng lemas. “Betsu ni.”

“Kalau begitu jangan memasang wajah seperti aku akan pergi untuk selama-lamanya,” gerutu Opi kemudian kembali fokus memakai sepatunya.

Aku menyenderkan tubuhku di dinding. “Aku hanya kesepian karena kau jarang ada di rumah akhir-akhir ini.”

Opi lalu berdiri setelah selesai mengurus sepatunya. “An-chan, kau itu lebih dewasa dariku. Memangnya kau tidak punya teman? Pergi saja dengan Masaki An-chan. Agar kau lebih baik.”

Aku memandang Opi datar. “Lebih baik aku sendirian dari pada harus bersamanya.”

“Terserah kau saja.” Opi membereskan barang-barangnya. Di mulai dari tas olah raganya, sepatu basketnya, dan bola nya. “Ittekimasu..”

“Jangan pulang terlalu malam,” ucapku sebelum Opi meraih pintu.

Gadis itu mendengus. “Ittekimasu..” lalu ia pergi seolah tidak mendengarku.

Aku menghela nafas lalu tiba-tiba tersenyum. Melihatnya sekarang, aku merasa waktu berlalu begitu cepat. Padahal rasanya baru kemarin Opi selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dan dia selalu bersamaku di saat apapun. Sehingga aku merasa dia adalah hal yang paling berharga untukku.

Tapi apa yang kulihat sekarang? Dengan santainya dia sudah memiliki urusannya sendiri. Tanpaku tentunya. Menyadari itu membuatku sangat sedih. Adik kecilku sekarang sudah besar.

Tiba-tiba ponselku berbunyi saat aku sedang bernostalgia dengan ingatanku. Dan menggerutu saat aku tahu siapa yang meneleponku.

“Ada apa, Masaki?” tanyaku enggan. “Kenapa kau tahu aku sedang sendiri? Kau itu lama-lama seperti cenayang. Baiklah…aku akan mengikuti semua kemauanmu.” Dan aku menutup ponselku dengan kasar.

————————-

“Kau ini kenapa menggerutu seperti itu?” tanya Masaki saat kami berada di sebuah cafe. “Ini kan hari ulang tahunku.”

“Jangan mendramatis seperti itu,” gerutuku. “Aku hanya kesal akhir-akhir ini Opi selalu sibuk. Jarang ada waktu untukku.”

“Astaga Kazu…” Masaki mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya sangat dekat dengan wajahku. “Penyakit sister complex mu kambuh?”

“Hah?”

“Opi-chan itu sudah berumur 17 tahun. Dia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa mengikuti kakaknya saja seperti dulu. Dia sekarang mempunyai teman. Punya kegiatan sendiri dan kesibukan sendiri. Bahkan mungkin dia sudah mempunyai pacar.”

Aku hampir saja tersedak minumanku saat Masaki mengucapkan kata-kata terlarang itu. “Pacar?”

“Opi-chan itu kan manis. Justu mengherankan kalau dia tidak mempunyai pacar,” jelas Masaki. “Kecuali jika ada seseorang yang melarangnya untuk berpacaran.”

Itu aku. Orang itu adalah aku. Aku adalah orang yang melarangnya untuk berpacaran.

Jika perlu dijelaskan, sebenarnya Opi bukan adikku yang sebenarnya. Kami saudara angkat. Akulah yang orang lain di keluarga Ninomiya. Masa kecilku dihabiskan di sebuah panti asuhan beberapa tahun yang lalu. Saat pasangan Ninomiya mengadopsiku, namaku berubah menjadi Kazunari Ninomiya. Walaupun aku orang lain, tapi pasangan Ninomiya yang praktis menjadi ayah dan ibuku sangat menyayangiku. Aku tidak pernah meragukan hal itu. Bahkan sampai Opi lahir ke dunia ini, mereka tetap menyayangiku. Dan aku sangat menyayangi adikku.

“Aku hanya tidak ingin dia merasa tersakiti karena seorang laki-laki,” aku membalas ucapan Masaki.

“Kau ini aneh. Bagaimana dia menjalani hidup jika tidak pernah merasakan namanya disakiti oleh orang lain.” Masaki meneguk minumannya. “Dan Opi-chan itu gadis yang kuat. Dia pasti akan bisa melewatinya.”

Aku mengangguk. Ada benarnya. Opi tidak akan menjadi seorang wanita jika aku terus mengekangnya.

“Kau hanya perlu melindunginya dari belakang, Kazunari…” tambah Masaki sebelum ia meneguk lagi minumannya.

———————

Aku sedang berkutat dengan bahan makanan saat Opi baru saja pulang dari sekolahnya.

“Tadaima..”

“Okaeri..” balasku.

“Okaa-chan?” Opi menoleh ke dalam dapur dan dari wajahnya terlihat sangat kaget saat melihatku. “An-chan sedang apa di sini? Mana Okaa-chan? Apa yang akan An-chan lakukan dengan itu?” tanyanya berturut-turut sambil menunjuk beberapa bahan makanan yang sengaja kujejerkan di atas meja.

Aku mendelik. “Pertanyaanmu itu seperti kereta yang mengalami kerusakan di rem-nya. Tidak bisa berhenti,” protesku.

“Lalu? An-chan mau apa?” tanya Opi lagi lalu meletakkan tasnya dan menghampiriku. “Memasak?”

“Obaa-san yang disebelah rumah kita pun tahu jika aku ke dapur, pasti akan memasak,” protesku lagi. “Bisakah kau berhenti bertanya?”

“Aku belajar darimu sehingga aku banyak bicara,” timpal Opi. “Mau kubantu?” tawarnya.

Aku menoleh pada Opi. “Kalau kau sudah ganti baju, kau boleh membantuku.”

“An-chan belum menjawab pertanyaanku..” kata Opi yang sedang memotong bawang. Sementara aku memotong sayuran dan beberapa lembar daging.

“Pertanyaan yang mana?”

“Mana Okaa-chan?” Opi mengulang pertanyaannya.

“Okaa-chan sedang pergi bersama Oba-san beberapa hari.”

Lalu aku menyela sebelum Opi kembali membuka mulutnya. “Dan kalau bertanya tentang Otou-chan, dia belum pulang dari tugasnya di Kobe.”

Opi mendengus. “Aku kan belum bertanya.”

“Okaa-chan bilang, selama Okaa-chan tidak ada, aku yang harus membuatkanmu makanan.”

Opi diam sambil terus memotong bawang dengan asal-asalan. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Doushite?”

“Hmm?”

“Lebih baik kau cerita padaku sebelum pisau itu memotong jarimu karena kau terlalu lama melamun,” kataku.

“An-chan..” panggil Opi setelah diam beberapa menit.

“Hmm?”

Opi membalikkan tubuhnya dan menatapku. “An-chan tidak bertanya kenapa aku pulang terlambat?”

Aku menghela napas. Itu yang aku pikirkan tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Opi baru saja pulang. Harusnya dia sudah pulang pukul 5 karena aku tahu dia tidak ada latihan klub hari ini.

“An-chan?”

Jangan menanyakan hal yang membuatmu terlihat khawatir berlebihan.

Itu yang Masaki katakan padaku. Aku tidak ingin menjadi kakak yang menyebalkan dan melarang adiknya melakukan hal apapun. Aku harus terlihat biasa saja.

“Kau pergi bersama teman-temanmu kan?” tebakku berusaha terdengar santai walaupun hatiku tidak tenang.

“Itu yang An-chan pikirkan?”

Aku mengangguk. “Apalagi yang akan dilakukan seorang gadis SMA selain pergi bersama teman-temannya? Dulu teman-teman perempuanku pun seperti itu.”

“Tapi…An-chan tahu…” Opi terlihat ragu. “Aku pergi bukan dengan teman-temanku.”

He?

“Sebenarnya…..”

Jangan katakan itu….

“Aku….”

Aku tidak mau mendengarnya.

“Aku pergi bersama pacarku..”

Dia mengucapkannya. Apa yang aku khawatirkan dan apa yang Masaki katakan diucapkannya juga.

“Pacar?” aku tidak dapat menyembunyikan rasa kagetku.

Opi mengangguk pelan dan kulihat jelas bibirnya tersenyum.

“Sebenarnya sudah 3 minggu.”

Selama itukah? Dan aku sama sekali tidak menyadarinya.

“Kenapa baru bilang sekarang?” tanyaku tidak sabar.

“Bagaimana aku bisa bilang kalau An-chan sibuk sampai-sampai tidak sempat mendengarkan ceritaku.”

Aku tidak sibuk. Aku hanya mengikuti saran Masaki untuk tidak terlalu mengurusi apa yang kau lakukan. Ternyata saran dia buruk untuk kuikuti.

“Aku…Oh baiklah…ini memang salahku karena sudah mengikuti kata-kata Masaki. Tapi harusnya kau bilang sejak awal,” seruku yang terdengar sekali kalau aku kesal. Bisa-bisanya aku kecolongan satu hal.

“Kenapa An-chan marah-marah? Dan kenapa membawa Masaki An-chan?” tanya Opi. “Dan asal An-chan tahu, kalau aku mengatakannya, An-chan tidak akan setuju kan? Mengatakannya atau tidak, itu sama saja. An-chan tetap tidak setuju.”

Aku diam. Walaupun Opi mengatakannya lebih awal, aku tetap tidak setuju. Itu benar.

“Ya..aku memang tidak setuju,” sahutku pelan.

Opi menatapku tajam. Lalu melempar pisau yang dipegangnya. Beruntung dia tidak melempar dengan asal karena kalau tidak, kakiku tidak terselamatkan.

“Sepertinya An-chan tidak butuh bantuanku. Aku ke kamar saja,” kata Opi. “Dan An-chan tidak usah memasak terlalu banyak. Karena aku tidak mau makan,” lanjutnya sebelum ia pergi.

Opi lalu berbalik dan berjalan dengan langkah yang kuat menuju kamarnya yang di lantai 2.

————————

“Itu yang kau katakan?” Masaki terdengar kaget saat aku menceritakan apa yang terjadi kemarin malam.

Aku mengangguk.

“Apa yang kau pikirkan? Itu justru akan membuatnya kesal.”

“Kau juga yang menyebabkan ini terjadi, bodoh,” ucapku kesal.

“Aku?” Masaki menunjuk dirinya. “Apa yang sudah kulakukan?”

“Kau tidak lupa kan. Kau yang menyuruhku jangan terlalu mengurusi apapun yang dia lakukan. Dan yang terjadi, aku justru tidak tahu apa-apa tentang dia.”

Masaki menggaruk-garuk kepalanya. “Apa bedanya kalau kau tahu 3 minggu yang lalu atau kau tahu sekarang? Menurutku sama saja.”

“Itu tidak sama,” ralatku. “Kalau aku tahu lebih cepat, aku bisa mencegah mereka jadian.”

Masaki mendesah. “Otakmu itu benar-benar sudah rusak.”

Setelah Masaki mengatakan itu, ponselku berbunyi. Setelah aku melihatnya, itu hanya sebuah pesan.

“Siapa?” tanya Masaki setelah aku menutup ponselku.

“Nozomi..” jawabku singkat.

“No-chan? Kau dekat dengannya? Sugoi~ “ seru Masaki berlebihan.

“Hanya teman..” ralatku.

“Usoooooo~. Tapi sepertinya dia menyukaimu.”

Aku tidak menanggapi ucapan Masaki. Aku tahu gadis itu menyukaiku. Dari caranya melihatku, menatapku, memberiku perhatian dan senyum itu, aku tahu dia menyukaiku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak memiliki perasaan yang sama seperti gadis itu rasakan padaku. Bahkan setiap saat bukan gadis itu yang kupikirkan. Justru bayangan Opi yang ada di otakku. Apalagi kami sedang bertengkar seperti ini. Apa yang harus kulakukan?

Dua jam bersama Masaki, membuatku hampir lupa kalau aku harus pulang cepat. Setelah membayar dan berpisah dengan Masaki, di tengah perjalanan aku melihat Opi. Gadis yang kulihat memang Opi dan sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki.

“Sedang apa di sini?” tanyaku saat Opi dan pacarnya itu dihadapanku.

Opi tidak menjawab. Sementara laki-laki yang bersamanya menatap Opi bingung.

Jadi dia masih marah padaku, itu yang kupikirkan.

Aku mendesah pelan. “Jangan pulang terlambat,” ucapku sebelum aku pergi meninggalkan Opi dan laki-laki itu.

————–

Sejak kejadian aku bertemu Opi di jalan bersama pacarnya, aku maupun Opi tidak saling bicara. Hari ini berarti sudah hari ke 20 dia menolak berbicara denganku.

Tapi bukan berarti tidak ada yang bisa kulakukan. Selama itu, aku berusaha mencari tahu tentang laki-laki itu. Dan info yang kudapat, pemuda yang sudah berani berpacaran dengan adikku itu bernama Kei Inoo. Menurut teman-temannya, dia adalah laki-laki yang baik dan pintar. Semua gadis menyukainya. Yah..dia memang cukup populer dan mengherankan sekali dia justru memilih adikku. Mengetahui kenyataan itu membuatku semakin cemas.

Pendapat teman-temannya meragukanku saat sore itu aku melihat Opi pulang dengan tidak bersemangat. Dia memang kadang berwajah lemas karena kelelahan bermain basket. Tapi aku tidak pernah melihatnya berwajah tidak bersemangat.

Aku mencoba tidak bertanya dan membiarkan dia pergi ke kamarnya. Tapi aku merasa cemas saat semalaman dia tidak keluar kamarnya. Apa ada yang terjadi?

“Opi…” aku memanggilnya sambil mengetuk pintu kamarnya.

Tidak ada jawaban dan kucoba mengetuknya sekali lagi.

“Opi..” aku memanggilnya lagi tapi yang kudapat hasil yang sama.

Perlahan aku mencoba membuka pintu dan ternyata tidak dikunci. Kubuka pintu perlahan dan yang kudapat, ruangan yang gelap gulita.

“Kenapa dengan kamar ini? Gelap sekali,” ucapku lalu menyalakan lampu kamar.

Saat lampu menyala, aku melihat dengan jelas Opi yang duduk di kursinya sambil memeluk lututnya. Kepalanya tertunduk, tenggelam di sela lututnya.

“Kau kenapa?” ucapku sambil menyentuh rambutnya lembut.

Opi menggeleng tanpa menjawab. Dari gerakan kepalanya saja aku tahu dia tidak baik-baik saja.

“Aku tahu kau masih marah padaku. Tapi aku mau mendengar ceritamu.”

Aku kembali tidak mendapat jawaban. Tapi Opi merespon ucapanku dengan memelukku. Tiba-tiba sekali sampai aku hampir terjatuh.

“Doushita no?” tanyaku pelan.

“Kei-chan…”

Oh…aku tahu. Aku selalu ingat dengan nama itu.

“Kei-chan berbohong padaku,” ucapnya terbata-bata karena sepertinya dia mulai menangis. “Dia bilang sudah putus dengan Reiko. Tapi, ternyata mereka masih dekat.”

Aku mengangguk. Jadi itu alasannya.

“Daikirai…Kei-chan ga daikirai…” Opi berteriak pelan sambil memukul-mukul punggungku. Aku berusaha menahan sakit yang ditimbulkan dari pukulan itu. Kalau itu dapat membuat Opi lebih tenang, aku bersedia dipukul sebanyak yang dia mau.

Aku tidak menanggapi ataupun membalas ucapannya. Tapi dengan pelan aku bersenandung. Menyanyikan sebuah lagu kenangan yang dapat membuat Opi tenang. Aku terus bernyanyi sambil menepuk pelan punggung Opi.

Setelah aku menyelesaikan nyanyianku, aku mendorong pelan bahu Opi dan kutatap matanya.

“Mana yang sakit?” tanyaku.

“Ini..” Opi menunjuk dadanya. “Di sini sakit sekali.”

Aku hampir saja menyentuh bagian yang ditunjuk oleh Opi sampai aku mengingat kalau aku tidak boleh menyentuhnya.

“Umm…” aku gelagapan dan memutuskan untuk menyentuh kepalanya saja. “Sakit..sakit…hilanglah. Dan jangan kembali lagi,” kataku.

“An-chan..” Opi menatapku.

“Sudah pergi sakitnya?” tanyaku.

Opi mengangguk lalu memelukku lagi. “Arigatou, An-chan.”

“Hai..hai..” aku menyentuh rambut Opi dan mengelusnya pelan.

“Aku ingat dulu An-chan selalu menyanyikan lagu itu jika aku mulai menangis. Dan An-chan adalah orang pertama yang akan mengusir rasa sakitku saat aku jatuh. Aku tidak menyangka akan mendengarnya lagi,” sahut Opi. Aku mendengarnya dengan jelas karena dia berbicara tepat di telingaku walaupun suaranya seperti suara bisikan.

“Aku akan terus menyanyikannya jika itu membuatmu tenang,” balasku.

“Suaramu yang membuatku tenang.”

Aku tersenyum senang. Senang karena aku yang membuatnya tenang. Karena aku bisa berguna untuknya.

“Nyanyikan satu kali lagi, An-chan,” pinta Opi.

Aku mengangguk dan mulai bernyanyi. Bedanya, Opi mendengar nyanyianku dengan tersenyum.

—————-

Keesokan harinya

“An-chan…”

“Hmm?” aku berbalik menatap Opi yang sedang memakan rotinya.

“Seharusnya An-chan menjadi penyanyi saja. Suara An-chan bagus.”

Aku memiringkan kepala. Aku menjadi teringat sesuatu.

“Dulu aku dan 4 temanku saat kecil, bermimpi akan membentuk grup dan kita akan bernyanyi bersama. Tapi sampai sekarang tidak pernah tersampaikan,” jelasku.

“He? Nande?”

Aku berpikir. “Umm….karena kami berpisah. Dan aku tidak tahu dimana mereka sekarang. Ah……aku hanya tahu keberadaan 1 orang saja.”

“Dare?”

“Aiba Masaki,” jawabku. “Begitu-begitu dia juga salah satu pencetus impian kami.”

“Ha? Rasanya aku tidak percaya. Memangnya Masaki An-chan bisa bernyanyi?” tanya Opi.

“Tentu saja. Kalau Masaki mendengarnya kau mengatakan itu, kau pasti akan terkena pukulannya.”

Opi tertawa.

“Ah, aku harus berangkat,” sahut Opi lalu beranjak dari kursinya dan mengambil tasnya.

Aku tidak ikut beranjak. Aku hanya menatap Opi dari tempatku duduk.

“Ne, An-chan..” panggil Opi.

“Hmm?”

“Aku rasa, aku tidak ingin kita bertengkar lagi,” ucapnya.

Aku hanya diam. Aku juga tidak ingin harus tidak memperdulikanmu.

“Rasanya aku akan mati kesepian kalau tidak ada An-chan. Apalagi tidak berbicara dengan An-chan,” lanjut Opi.

“Jadi…” sela ku. “Kita harus buat perjanjian untuk tidak bertengkar lagi”

Opi mengangguk. Lalu mendekatiku dan menyodorkan jadi kelingkingnya di hadapanku. “Aku janji.”

Aku tersenyum mengerti. Dan aku menyilangkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya. “Aku janji.”

Lalu aku dan Opi tertawa bersama. Sepertinya aku maupun Opi menyadari, bahwa kami saling membutuhkan.

Setelah melepaskan kelingkingnya dari kelingkingku, dengan tiba-tiba dia mencium pipiku.

“Ittekimasu..” ucapnya lalu pergi.

Dalam beberapa detik aku tidak dapat bereaksi apapun. Hanya diam lalu menyentuh pipiku yang baru saja menjadi tempat berdarat bibir Opi. Rasanya…..hangat.

“Itterashai..” balasku akhirnya.

========

Owari~
Oh baiklah ini aneh…tapi tetep komen yah mon cherie!!!!!!komen kalian pasti akan sangat membantuku dan menenangkan hatiku #kebanyakan baca novel…
yah pokoknya komen lah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s