[Oneshot] First Love

Title : First Love
Author        : YuIchi
Genre   : Romance
Type : Oneshot, Songfic
Song : First Love by. Utada Hikaru
Cast        : Matsumoto Yuki (oc)
Yamada Ryosuke
Ichiko Shinkai (oc)
Kei Inoo

Selamat membaca ^^

FIRST LOVE

Secerca haru masih tersirat dalam
Sepucuk rindu yang engkau ungkap
Bersama detik yang kian berlalu
Terima kasih atas janji yang engkau jaga

You are in my mind
I think about the days that we had
And i dream that these would all come back to me

Tokyo,Japan

Senandung sendu yang tersirat dalam petikan rindu yang tercipta, menggema memecah diamnya malam. Perempuan itu masih tetap bersenandung mengalihkan rasa agar butiran butiran mutiara beningnya tidak keluar. Ditemani dewi malam yang kian cemerlang. Menguatkan hati, hatinya yang rapuh.

Rapuh akan rasa rindu dan sakit yang sekian lama terbendung, rasa yang sebentar lagi terlupa akan rasa bahagia, bahagia yang tidak terkira. Benar, hanya tinggal menghitung hari rahmat titipan tuhan yang akan benjadi obat lara terbaik diseluruh penjuru dunia itu akan hadir.

Walau tak akan semudah yang terlihat namun paling tidak akan menjadi bahagia baru yang telah lama hilang. Karena bagaimana pun hari yang telah berlalu tidak akan bisa diulang. Meski sebegitu apapun ingin mengulang waktu. Untuk menghapus lara dan menyisakan suka.

If only you knew every moment in time
Nothing goes on in my heart
Just like your memories
How I want here to be with you
Once more

Malam telah menjemput pagi. Seperti biasa para pasien dirumah sakit Tokyo Internasional Hospital akan mendapat jengukan singkat dari para dokter dan suster, sekedar untuk memeriksa kesehatan mereka. Begitu juga dikamar 369, kamar seorang ibu muda__ tidak melainkan __calon ibu muda yang sebentar lagi akan melahirkan putri pertamanya. Pemeriksaan berlangsung cepat, para susterpun meninggalkan kamar tersebut setelah memberi hormat. Meninggalkan seorang dokter muda dan sang pasien.

“ Kau yakin tidak akan memberi tahunya?”

Dokter muda itu akhirnya membuka pembicaraan setelah memastikan para suster tadi keluar dari ruangan tersebut.

“ Memberi tahu?”

Perempuan itupun hanya menatap binggung wajah tampan yang kini duduk disebelahnya.

“ Ayah dari anakmu, kau yakin akan selalu merahasiakan kehamilanmu darinya?”

Tanya dokter itu lagi kini dengan tatapan yang lebih tajam.Namun bukan jawaban yang didapatkan olehnya melainkan hanya sebuah seringai menyayat dan sebuah tatapan tajam. Tatapan yang seolah berkata ‘pergi’. Dokter itu hanya bisa memutar bola matanya sembari membenarkan tanda pengenal bertuliskan ‘Kei Inoo’ yang bertengger manis didada sebelah kirinya. Kemudian melangkah pergi sebelum kembali merasakan sebuah vas bunga mendarat dikepalanya,lagi.

“Bagaimanapun anakmu akan membutuhkan Ayahnya, nee-chan”

Kalimat menyanyat itu kembali terlontar dari bibir ranum sang dokter muda yang tak lain adalah adik berbeda ibu dari ayahnya.

Setitik mutiara beningpun mulai tercipta,kembali. Berlomba lomba untuk segera keluar. Seperti langit mendung yang kian pekat, siap untuk memuntahkan gundahnya. Hanya sebuah kalimat namun sangat menyayat baginya, kalau boleh jujur memang anaknya __ tidak tapi__ dia juga membutuhkan ‘Ayah’ dari calon bayinya itu namun sayang, waktu dan keadaan tidak penah membiarkannya untuk jujur. Karena kebenaran itu sesuatau yang menyakitkan.

Bersama airmata langit yang kian tak terbendung, tangisan dalam diam kembali mewarnai kamar tersebut. Kamar 369, kamar VVIP yang selalu terlarang untuk didekati bahkan oleh pegawai rumah sakit yang tidak berkepentingan.

Seperti hari hari yang lalu Kei Inoo, dokter muda sekaligus pemilik rumah sakit tersebut hanya bisa mematung merasakan kesunyian akan tangis dalam diam ‘nee-chan’ yang selama ini selalu terlihat dingin didepannya.

Namun bagai manapun dia tetaplah seorang wanita, wanita yang menitikan airmata untuk memperbaiki suasana hatinya. Wanita yang selalu memikirkan ‘ayah’ dari calon anaknya. Wanita setia yang hanya memberi hatinya kepada seorang laki laki saja. Seperti ibunya.

You will always gonna be the one
And you should know
How I wish I could have never let you go
Come into my life again
Oh, don’t say no

Rintik hujan mulai mereda. Cahaya matahari sorepun mulai memasuki celah celah korden dijendela kamar rumah sakit Tokyo. Menambah kesan klasik dan berkelas dari rumah sakit ternama tersebut. Sinar sinar surya yang menerpapun menyiratkan kesan nanar dikamar 369. Menyinari seorang dokter muda, Kei Inoo. Kei sedang mengompres pelan mata kakaknya yang bengkak setelah menangis. Kegiatan rutinnya selama kurang lebih empat bulan ini.

Ditelusurinya wajah cantik yang sedang terletap itu, lagi. Wajah yang dulu pernah menghiasai hatinya bukan sebagai ‘nee-chan’-nya melainkan seorang senpai yang berhasil merenggut hati kecilnya. Sebuah rahasia kecil yang akan tetap dia jaga hingga mautlah yang mungkin akan mengungkapkan.

Meski sakit namun bagai manapun ini adalah hal yang terbaik, karena cintanya adalah sesuatu yang terlarang.

********************************First Love*******************************

Masumoto POV

When you are far away
I dream on the horizon
And words fail,yes
I know That you are with me
You, my moon, you are with me
My sun, you are here with me
With me, with me, with me

Pesan terakhir yang aku terima darimu terbaca begitu manis namun bodohnya aku tidak peka tentang apa yang sebenarnya kau inginkan. Itu hanya sepenggal lirik dari lagu Time to say Goodbye. Pertanda kepergianmu dari hariku bukan hatiku.

Pesan terakhir darimu malam itu tak pernah kukira. Namun sayangnya kebersamaanmu dengannya adalah bukti nyata perpisahan kita. Perjodohan kalian, perjodohanmu. Bagai sambaran petir yang meruntuhkan hatiku. Kau memang pernah menjadikanku ratu dihatimu. Namun dalam beberapa detik engkau adalah miliknya, seutuhnya.

Aku memang mencintaimu namun bagai manapun kau adalah miliknya. Tak sepantasnya aku merenggutmu darinya. Meski kau adalah laki laki yang menitipkan benih dirahimku. Cinta pertamaku.

You will always gonna be the one in my life
So true, I believe i can never find
Somebody like you
my first love

Ingin kuputar waktu dan menghapus jejakmu meski kusadari itu mustahil aku hanya mampu termenung terdiam disini. Memandang secarik kertas dengan pantulan kebahagiaan antara kau dan aku. Semasa kita tinggal bersama di Korea. Dulu.

Masih terpaku menatap dalam sang surya yang akan segera kembali keperaduannya. Sembari menikmati alunan nada cinta saat kita bersama. Masih,masih seperti dulu. Namun kini bukan aku yang ada disampingmu, yang menghampirimu dibalik bayang bayang senja.

Kini hanya bisa kulihat samar bayang senyummu yang kian menghilang. Mencoba menutup memori yang masih terekam. Dulu. Untuk selamanya. Semoga memang bisa. kau yang selalu dihidupku. Yang dulu aku percaya. Yang hingga kini tak kutemukan penggantimu. Semoga memori ini bisa terlupa. Bersama senja yang kini berganti malam. Menutup hari yang sepi ini.

********************************First Love*******************************

Author’s POV

Seoul, South Korea

Langit mendung masih saja menangis, membasahi bumi dan menyiratkan keraguan. Wanita itu masih terpatri memandang titik titik tangisan langit yang jatuh. Diperhatikannya payung payung yang melintas disampingnya, sembari mengulas secerca senyum. Dari balik jendela kaca café tua, ditemani secangkir coklat hangat. Memandang sendu secarik kertas dengan pantulan kebahagiaan antara dua orang anak manusia. Dirinya dan seorang gadis berambut coklat panjang, sejenak senyum yang mengembang tadipun semakin merekah.

Hujan yang sedari menyiram bumipun mulai berhenti. Mengingatkannya atas alasan utamanya berada disana.Gadis berambut coklat panjang itu. Gadis  yang tidak lain adalah mantan suaminya __tidak mereka bahkan belum pernah mengucapkan kata ‘putus’. Mengingat ini justru menambah rasa bersalah didalam hatinya. Memisahkan dua orang insan yang saling mencinta. Hingga senyum tadi tergantikan oleh buliran airmata yang entah sejak kapan mengalir.

‘Tsuraku kanashii toki wa
kyou no egao wo
Omoi dashite aruite ikou mata au hi made’

Serta keitai bodoh yang ikut-ikutan ribut tanda ada panggilan masuk. Sejenak diusapnya air mata yang membasahai pipinya setelah tau siapa yang menghubunginya. Orang yang dia tunggu, suaminya.

“Kau dimana?”

“Pojok kiri dekat jendela”

Jawab wanita itu sambil mengangkat tangannya. Memberi tanda keberadaannya pada sang suami.

Once in awhile
Your are in my dreams
I can feel the your warm embrace
And I pray that it will all come back to me

Tampak seorang laki laki yang berjalan kearahnya sembari mengulas senyum dan segera duduk dihadapan wanita tadi.

“Sudah lama”

Wanita tadi hanya menanggapinya dengan sebuah tatapan sinis kepada laki laki berpipi chubby tersebut. Dan kembali meminum coklat hangatnya. Sekilas melihat kebingungan diwajah suaminya tersebut.

“Bisa kita langsung saja?”

Ketus, itulah nada bicara yang terdengar dari wanita berparas ayu tersebut,bukan lagi dingin seperti tadi.

“Ichi?”

Hingga membuat suaminya mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Aku menemukan ini dilaci meja kantormu”

Wanita itu menyerahkan sebuah bungkusan berwarna coklat pada suaminya tadi. Laki laki itupun hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti dan membukan bungkusan itu.Hingga wajah tampannya menjadi pucat pasi. Dengan ragu dipandangnya wajah istrinya yang sedang menatapnya datar, seolah tanpa luka.

“A…aakuu bisa jelaskan ini”

Dengan segela keraguannya diucapkannya kalimat itu meski masih cukup gemetar. Mengumpulkan segela keberaniannya untuk menjelaskan rahasia yang selama lima bulan ini ia coba ingkari.

“Tidak ada yang perlu kau jelaskan Mr.Yamada. Aku sudah tau semuanya”

Yamada. Yamada Ryosuke laki laki itu hanya bisa memijat keningnya yang tiba tiba pusing serta lidahnya yang entah kenapa kelu, tak mau mengucapkan sepatah katapun. Dan miris hatinya melihat istrinya mengambil hasil salah satu USG yang ada didepannya. Melihatnya dengan seksama.

“Putrimu cantik, sangat cantik”

Jleb.

Seolah ditusuk oleh ribuan belati hatinya merasa bersalah mendengar kalimat tersebut terlontar langsung dari sang istri. Wanita yang dia coba untuk setia padanya. Membuatnya membeku diterpa angin rasa bersalah. Dan menatap dalam wajah istrinya, Ichiko Shinkai.

“Dengar, aku sudah membicarakan ini dengan Inno-san. Dia bilang masih 2-3 hari lagi waktu Matsumoto-san melakukan persalinan. Jadi kau masih bisa ke Japan untuk menemai persalinannya. Aku sudah pesan tiket pesawat tadi jadi besok pagi-pagi sekali kita bisa berangkat kesana”

Ichiko juga menatap dalam suaminya, seolah berkata inilah yang terbaik apapun yang terjadi.

“Icchan, aku tahu aku salah. Aku menyembunyikan ini darimu, tapi bagaimana dengan..”

“Ceraikan aku kalau kau tak mau menemui putrimu”

Tanpa babibu Ichi langsung pergi dari café itu. Menyisahkan sang suami yang membeku mencerna kalimatnya barusan.

Sunyi, itulah yang tersisa. Yamada Ryosuke, laki-laki tadi pun telah beranjak dari duduknya membawa hasil USG ‘calon’ putrinya. Namun bukan keluar dari café tua itu melainkan melangkah ke lantai tiga café. Dimana terdapat sebuah bar tua klasik yang terhubung langsung dengan taman outdoor. Kakinya perlahan melangkah menuju salah satu meja taman meletakan bungkusan tadi. Dihidupkannya  lilin lilin  penghias meja satu persatu.

Masih disana, Perlahan kedua mata sayu Yamada pun tertutup bersandar disandaran kursi. Hujan yang telah berhenti menyibakan bau khas menambah kesan kacau dalam hatinya. Masih terngiang jelas dalam memorinya. Wajah  yang tadi ada dihadapannya. Ichiko Shinkai,istrinya. Wanita yang tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.

Wanita yang bahkan bisa mengalihkan gundah dan rindunya, akan sang cinta pertama. Cinta pertama yang cepat atau lambat akan melahirkan putrinya ke dunia. Semua derap langkahnya, Hembusan nafasnya, senyum dibibirnya masih terngiang di sanubari. Senyuman yang selama ini menghiasi hari-harinya.

Memang bukan sosok yang sesempurna kecantikan Matsumoto. Bahkan dulu diawal pernikahan ini Ichi hanya ia anggap seorang wanita menyebalkan dan  keras kepala. Tapi itu justru membuatnya selalu hawatir dengan keselamatannya. Hingga bisa mengenal jauh dirinya. Gadis manja cengeng yang ambisius. Gadis berhati rapuh namun tetap tersenyum meski tersakiti, seperti tadi.

If only you knew every moment in time
Nothing goes on in my heart
Just like your memories
And how I want here to be with you
Once more

Yamada telah kembali kerumahnya, namun dia tidak menemukan istrinya dimanapun. Apa mungkin istrinya pergi. Tapi sejenak dilihatnya koper koper baju mereka berdua yang sudah tersusun rapi disudut kamar.

“Istirahatlah, besok kita akan berangkat pagi”

Yamada kembali tidak mengerti jalan pikiran istrinya itu. Wanita yang bisa mengulas senyum manisnya.Ichi melangkah menuju kamar mandi sedang Yamada duduk ditepi tempat tidur menunggu istrinya keluar. Mereka berdua memang sama sama tidak banya bicara dan cenderung tertutup.

Tak lama kemudian Ichipun keluar dari kamar mandi. Menghela nafas dan kemudian duduk disebelah suaminya itu, Seolah tau suaminya butuh penjelasan.

“Icchan, aku tak ingin bercerai darimu ataupun menyakitimu..”

“Tapi kau membutuhkan putrimu Oppa”

Pertahanan airmata Ichi pun akhirnya tumbang,menghambur dibahu Yamada. Menyadari itu Yamadapun langsung memeluknya menenangkan Ichi agar merasa lebih baik.

“Aku juga wanita, aku juga penya perasaan”

Masih terisak didekapan Yamada, Ichi mencoba bicara. Sedang Yamada hanya dapat menenangkannya, mengusap dan mengecup pelan rambut istrinya itu.

“Selama ini kau adalah darahku, begitu juga didalam tubuh mungilnya, mengalir deras darahmu. Kau juga nadiku, begitu pula nadinya yang berdetak karenamu. Kaulah nafasku, dan nafasnya juga tercipta karenamu. Juga jantung yang betdetak itu karenamu. Aku mohon, kembalilah kepadanya. Dia lebih membutuhkanmu. Dia putrimu juga putriku”

Yamada sudah tidak tau harus berkata apalagi. Jujur hati kecilnya memang menginginkan Matsumoto juga putrinya tapi hati kecilnya juga tidak bisa berbohong, dia tidak mau lagi menyakiti Ichi lebih dari ini. Bukankah akan lebih mudah untuk menyuruhnya memilih melupakan Matsumoto atau bercerai tapi ini mengenai menemui Matsumoto atau bercerai dengannya. Dua hal yang sama sama tidak siap ia lakukan.

********************************First Love*******************************

Tokyo,Japan

Siang itu, Yamada dan Ichi telah sampai di Tokyo Internasional Hospital. Mereka tidak perlu repot untuk bertanya ke resepsonis karena sudah ada beberapa suster yang menunggu kedatangan mereka. Tanpa banyak bicara mereka langsung menuju keruang UGD dimana Matsumoto sekarang berada. Berjuang melahirkan putrinya.

Ichiko POV

Kami sudah sampai didepan ruang UGD, kupandang dalam mata Yamada menjoba memberinya keyakinan. Diapun mencium sekilas keningku, melangkah masuk menuju ruang persalinan tersebut. Segera setelah melihat Kei tersenyum sekilas dan menutup pintu kurasakan kakiku lemas seketika begitu juga air mata yang perlahan membasahi pipiku.

Para suster itu membawaku duduk dikursi yang tidak jauh dari ruangan itu. Memberiku beberapa helai tisu untuk menghapus air mataku. Jujur hatiku memang terasa sangat sesak, sialan.

“Bisa tinggalkan aku sendiri”

Pintaku pada para suster itu. Aku benar benar butuh waktu sendiri.

You will always be inside my heart
And you should know
How I wish I could have never let you go
Come into my life again
Please don’t say no

Kenyataan yang terjadi memang sesuatu yang menyakitkan. Bagaimanapun dusta yang selama ini aku jaga tetap tak berlangsung lama. Segala kenyataan yang selama ini coba aku ingkari tidak mungkin diganggu lagi.

Walau sekuat apa aku coba menutup mata, memaksakan keegoisanku. Aku tetap tidak bisa selamanya berpaling muka dan mencari alasan. Karena dusta itu kelamaan akan pudar,percaya atau tidak itulah kenyataannya.

Samar samara aku mulai mendengar tangisan bayi dari ruangan yang tadi dimasuki Yamada. Apa bayi itu sudah lahir. Ohh tuhan, apa yang kini aku harus lakukan. Aku akui aku memang menyayangi Yamada, cinta pertamaku. Tapi bayi itu adalah anaknya. Tidak sepantasnya aku memisahkan mereka. Membiyarkan rada dari benih orang yang kucintai itu terluka. Aku tak ingin dia kehilangan seorang ayah sepertiku.

“Jangan menangis, aku mohon”

Kini aku merasakan jemarinya menyapu tembut pipi kananku. Menghapus air mataku, air mata rasa kesal dan sengang. Senang karena dara itu telah lahir. Kini ada digendongannya. Cantik. Sungguh dia sungguh cantik. Seperti kedua orang tuanya.

“Dia benar benar putrimu, sangat cantik dan menawan”

Aku tersenyum. Mengukir senyum termanisku,semoga. Jujur aku benar benar bahagia melihat dara cantik ini ada didepanku sekarang. Serta sorot mata bahagia Yamada, sudah kuduga siapa yang tidak bahagia melihat darah dagingnya. Terlahir dengan sehat kedunia.

“Shinkai-san”

Aku mendengar suara khas yang memanggil margaku dengan parau. Matsumoto. Kulihat dia duduk dikursi roda, didorong kei-san dengan pipi yang basah akan air mata.

“Terima kasih”

Aku hanya mengerutkan dahiku tidak mengerti mendengar kata itu keluar dari bibir kecilnya.
“Ryosuke, sudah menceritakan semuanya padaku”

Aku hanya bisa mengukir senyum membalas perkataannya. karena aku tau lukanya amat jauh lebih perih dariku. Bakhan entah apa aku bisa bertahan atau tidak bila ada diposisinya.

Kuambil perlahan dara cantik itu dari gendongan Yamada. Sedang Yamada hanya menatapku bingung. Kuberikan dara itu kepada Matsumoto-san. Mengelus pelan pipinya, membuatnya menggeliat tertahan. Sungguh manis, manis sekali.

“Siapa namanya?”

kutanyakan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal itu. Yah, aku ingin sekali memanggil dara cantik ini dengan namanya.

“Matsumoto Koichi”

Kini giliranku yang menatapnya bingung karena menggunakan marga Matsumoto pada nama putrinya.

“Aku ingin dia tumbuh menjadi wanita yang cerdas,lembut dan penuh kasih sayang sepertimu”

Kulihat dia berusaha tersenyum saat memandangku dengan tatapan yang seolah berkata’maaf’.

“Tidak, tadi kau bilang sudang mengengar semuanya dari Yamada”

Kuusap pelan rambutnya dan mencium sekilas pipinya dan berbisik
.
“Namanya adalah Koichi Yamada”

Kini mulai kudengar isakan darinya. Terlihat air matanya yang berjatuhan. Sungguh aku tidak mau melihat air mata itu. Hingga akhirnya kurengkuhnya dalam pelukanku.

“Ttttaaaa…..ttapi….”

“Ini permintaanku, tolonglah aku mohon”

“Terima kasih, terima kasih kak”

Now and forever you are still the one
In my heart
So true, I believe I could never find
Somebody like you
My first love

Hari sudah beranjak malam. Malam ini aku kembali mengancam Yamada. Kalau aku tidak akan segan segan membunuhnya kalau dia membiarkan Matsumoto-san sendirian. Hahaha, ternyata wajahnya bila sedang pasrah memang sangat manis. Aku memang tidak mengenal baiknya seperti Matsumoto tapi paling tidak aku tau kalau dia memang ingin dan harus menghabiskan waktu dengan mereka berdua.

Yamada POV

Putriku sudah tertidur lelap diboksnya. Tapi Matsumoto masih saja duduk ditepi boks itu dan memandangi Ichi kecil yang sedang terletap. Keduanya memang sama sama cantik. Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Bagaimanapun aku sunggung menyanyangi mereka.

“ Shinkai-san memang wanita yang pantas untukmu”

Pandangannya sejenak beralih padaku menatapku dalam dapat kulihat secerca rindu disana. Apa kau merindukanku? Aku juga merindukanmu.

“Kau tau, satu dari tiga dara yang aku sayangi pernah bicara. Kau tahu meski  laki-laki itu secara hukum adalah ayahku, dan aku adalah darah dagingnya. Tapi Kenyataannya dia cuma suami dari wanita yang melahirkanku. Dan bagiku. Lelaki itu adalah orang lain. Bukan Ayahku,”

Kulihat matanya yang basah mendengar ucapanku tadi. Segera kurengkuhnya dalam pelukanku.

“Dan orang yang itu tidak ingin ada yang merasakan hal yang sama dengannya”

You will always gonna be the one
And you should know
How I wish I could have never let you go
Come into my life again
Oh, don’t say no
You will always gonna be the one
So true, I believe I could never find
Now and forever

Waktu kini telah berlalu. Ichi bersikeras agar aku menikah dengan Matsumoto, meski Matsumoto tidak mau. Tapi dia justru mendaftarkan kami sebagai suami istri, dan datang sambil membawa kartu nikah dan akta kelahiran Ichi kecil. Dasar keras kepala.
Kini Ichi dan Ichi kecil justru terlihat seperti kakak adik. Tapi tidak bisa aku pungkiri aku masih merasa bersalah kepada meraka bertiga terutapa pada Matsumoto setelah mendengar semua isi hati Ichi malam itu. Malam sebelum kami ke japan. Malam sebelum kelahiran Ichi.

********************************First Love*******************************

“Ayah bukan hanya orang yang terikat darah denganmu Yamada. Seorang ayah bukanlah sekedar laki laki yang telah menitipkan benih dirahim ibumu.Seorang ayah seharusnya memiliki benang merah yang mengikat dan mempersatukan hati kalian. Bukankah  antara kau dan ayahmu juga ada seutas benang kasih yang menjalin perasaan kebersamaan. Perasaan saling memiliki. Dan kumohon jangan putuskan benang yang bahkan belum terurai itu, Aku mohon Yamada.”

Hanya orang yang belum benar benar merasakan titik kulminasi dari ‘cinta’ lah yang bisa melepas orang yang ia sayangi dengan mudah. Karena cinta pasti selalu memberi yang terbaik terutama bila itu cinta pertama dan terakhirmu.
===========
OWARI

Advertisements

One thought on “[Oneshot] First Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s