[Minichapter] Loveless (Chapter 2) ~End~

Title        : Loveless
Author        : Dinchan Tegoshi & Nu Niimura
Type          : Minichapter
Chapter         : 2 (end)
Genre        : Romance *hahahaha…”
Ratting        : PG-15
Fandom        : JE
Starring    : Takaki Yuya (HSJ), Akanishi Jin (Johnny’s), Hideyoshi Sora (OC), dan orang – orang yang lewat… 😛
Disclaimer    : We don’t own all character here.  Takaki Yuya and Akanishi Jin are belong to Johnny’s & Association, Hideyoshi Sora adalah OC punya Din. We just own the plot!! Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and We do LOVE COMMENTS… please comments… Thanks.. ^^
Don’t Like Don’t Read~

 Loveless
~ Chapter 2 ~ (end)

Yuya tak tahu harus bersikap bagaimana. Seluruhnya jadi terlalu rumit untuknya. Ia tak mau mengakuinya, tapi saat ini rasanya air matanya akan meleleh.

“Aku… tak ingin kau pergi…” ucap Yuya dengan suara yang agak bergetar secara tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” Jin terkejut, karena tak pernah menyebutnya dengan ‘kau’, Yuya selalu menyebutnya ‘aniki’ dalam percakapan.

“Aku hanya tak ingin kau pergi. Terserah kalau kau menganggapku egois, atau manja. Lagipula, setelah ini kau akan pergi, jadi biarkan aku mengatakannya. Sejak kita pindah ke rumah Akanishi, aku selalu merasa kehilangan kakakku, bahkan sampai hari ini…“

“Yuya, aku tak mengerti maksudmu…“

“Argh…“ erang Yuya frustasi “Sudahlah, intinya… aku menyukaimu, Takaki Jin! Bukan sebagai kakakku, tapi sebagai dirimu!“

Jin masih terkejut dan tak bisa menjawab.

“Tenang saja, aku tak perlu jawaban karena aku sudah tahu jawabannya…” Yuya mulai berbalik dan melangkahkan kaki, bermaksud meninggalkan Jin, mengakhiri suasana canggung tapi rumit yang dibuatnya sendiri.

Tapi sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, tangan Jin menarik Yuya kebelakang, kedalam pelukannya. Menciumnya tepat di bibir.

Ada sesuatu yang membuat Yuya tak mendorong Jin seperti yang dilakukan tempo hari saat Jin tiba-tiba memeluknya.

“Aku selalu menyayangimu, Yuya, adikku… kau adalah alasan kenapa aku bisa bertahan dirumah Akanishi, semuanya demi kau, supaya kau bisa mendapatkan hidup yang lebih layak…”

Yuya tak bisa membalas, hanya mendengarkan Jin yang terus berbicara.

“Tapi perasaanmu itu, kupikir aku hanya bisa menjadi kakakmu selamanya…”

“Aku tahu kalau aku ditolak dan aku memang sudah menduganya, seperti yang kubilang…”

“Akulah yang menyukaimu, Yuya. Yang bukan sebagai adikku. Itulah mengapa aku mencegahmu pergi dan akhirnya kau akan bertingkah seakan tak terjadi apa-apa. Tapi aku tahu, kau punya tujuan yang lebih berharga…“

“Huh, kau sedang bicara tentang dirimu sendiri, kan?“

“Bodoh. Aku bicara tentangmu. Selepas ini, aku tak akan bersamamu lagi, jadi biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan…“

Tanpa menunggu jawaban, Jin kembali mengunci bibir Yuya. Hanya beberapa saat, tapi Yuya tak punya alasan untuk tidak mengklaim bibir kakak sematawayangnya. Meluapkan semua emosi yang terpendam selama ini, dengan rangkaian gerakan tanpa kata-kata.

Jin benar. Semuanya akan berlalu bagai diantara kedua kakak beradik itu tak terjadi apa-apa. Bahkan hingga beberapa lama kemudian, saat Jin dan pengantinnya berjalan ke altar, memasang cincin, mengucap janji suci pernikahan dan saling berciuman, Yuya yang berada di belakang sang kakak sudah bisa lebih merelakan.

Semuanya berjalan lancar, semua yang hadir nampak bahagia. Ketika mengingat kejadian di ruang pengantin pria, Yuya benar-benar merasa ingin tertawa. Melalui percakapan yang seperti demikian dengan Jin benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya. Dalam mentalnya Yuya tak mau memikirkan sekaligus bertanya-tanya. Sebenarnya ia ditolak atau perasaannya diterima. Ditolak karena pernyataan Jin yang hanya bisa menjadi seorang kakak untuk selamanya, namun disisi lain Jin justru memeluk dan menciumnya. Membingungkan. Tapi, masa bodoh, tak ada lagi yang bisa dikatakan.

=====

“Yuya… bukan begini caranya…” ucap Sora sambil menarik baju Yuya, tapi pemuda itu menepis tangan Sora dengan kasar.

“Jangan banyak mengaturku!!”

Yuya yang selalu tak mau menyelesaikan masalahnya dengan alkohol, kini lari ke minuman itu. Ia yang selalu bilang tak ada gunanya minum alkohol, masalahmu tak akan selesai.

Buatnya kini tak berlaku lagi.

Jin sudah tak ada.

Tak ada.

Hilang, bersatu dengan kabut yang semakin gelap menaungi hidupnya.

Ia masih bisa tersenyum saat Jin menggandeng orang lain. Tapi tidak saat Jin harus pergi untuk selamanya. Jin telah menjadi segalanya bagi Yuya, segala gilanya, hingga kehilangan menjatuhkan Yuya kedalam perasaan yang segalau-galaunya. (@sajak_cinta)

Sempurna sudah.

Ia tak punya lagi alasan untuk hidup.

Baginya sang alasannya sudah meninggalkannya. Baru saja ia merasa sedikit diakui lagi keberadaannya oleh Jin. Ia harus kehilangan orang itu untuk selama–lamanya. Sora tak lagi bisa membantunya, ia pikir begitu.

Sekarang mungkin dengan minum banyak seperti ini ia juga akan mati dan menyusul Jin secepatnya.

“Yuya… kumohon…” Sora menarik tubuh Yuya dengan susah payah.

Sore itu Sora dan Yuya sedang menikmati pemandangan di sekitar kota itu. Tak lebih, mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama. Saat telepon itu datang. Pelayan di rumah mereka mengabarkan bahwa Jin dan Meisa mengalami kecelakaan pesawat, tak ada yang selamat dari penumpang di pesawat itu.

Semuanya terlalu buruk.

Ia tak bisa lagi berfikir jernih untuk saat ini.

“Yuya? Daijoubu?? Yuyaaa?!”

Yuya berlari dengan sempoyongan ke arah luar bar itu. Karena tak biasa minum, buatnya ini sudah sangat buruk. Kepalanya seakan berputar dua puluh kali dan membuatnya ingin terus menangis.

Dengan sisa tenaganya, Yuya masuk ke mobil diikuti Sora di sebelahnya.

“KELUAR KAU!!!” teriak Yuya pada Sora.

Sora menggeleng. Jika ia keluar, bukan tidak mungkin Yuya akan menghabiskan nyawanya sendiri.

Membunuh dirinya mungkin dengan masuk ke jurang.

“KELUAR!!” hardik Yuya lagi.

Sora tak bergeming. Diam di tempatnya dan meyakini dirinya sendiri jika pun Yuya harus mati saat ini, ia akan ikut mati. Ia tak akan pernah meninggalkan Yuya. Itu janjinya.

Sora memasang sabuk pengamannya, membiarkan Yuya yang dalam keadaan mabuk parah mengemudikan mobilnya.

Dari awal mobil itu tidak berjalan lurus. Sora mati–matian berdoa agar mereka selamat. Semakin lama Yuya memacu kendaraannya semakin cepat. Hingga ambang batas kecepatan maksimum mobil itu. Sementara jalanan kosong pun memudahkan Yuya untuk melakukannya.

“Kyaaaa!!” Sora terus berteriak tak keruan karena takut.

BRAKK!

Terhempas trotoar.

Semuanya terasa gelap.

Namun Sora sadar Yuya menarik sabuk pengamannya dan mendorong dirinya keluar dari mobil.

Hal terakhir yang Sora ingat adalah mobil Yuya terbalik, ia terhempas di rumput, segalanya terlalu terasa berat.

Ia pun tertidur.

============

“Ouch…” kepalanya terasa berat.

“Aku dimana?” gumam Yuya bingung.

Apa efek minum–minum semalam membuatnya sedikit tidak waras? Ia merasa berada di tempat yang tak ia ketahui, terlalu terang hingga menyakiti mata dan kepalanya berdenyut semakin menyakitkan.

“Ugh….” kepalanya benar–benar sakit. Semuanya terlalu memusingkan untuknya saat ini.

Ia duduk di sebuah kursi, dengan botol – botol minuman tergeletak di sebelahnya.

“Ohayou…Yuya!!”

Yuya menoleh dan mendapati Sora di hadapannya.

Bukan.

Ini bukan Sora.

Maksudnya, memang tubuhnya milik Sora, tapi ketika mendekat, wangi tubuhnya tidak sama dengan Sora. Terlalu asing untuknya. Ada yang berbeda dari sosok ini.

“Siapa kau?” tanya Yuya bingung.

Kepalanya masih terasa sangat sakit.

Sosok itu tak menjawab, lalu menarik Yuya berdiri. Menarik Yuya yang tiba–tiba merasa tubuhnya berputar dan masuk ke sebuah dunia paralel yang penampakkan pemandangan sebuah apartemen kumuh.

Apartemen milik Sora.

Tapi rasanya tak ada Sora disini.

Seorang pria mabuk masuk ke ruangan, Yuya sudah siap jika si pemabuk itu menyerang, namun Yuya seakan tembus pandang. Pria itu malah menarik pintu yang ia tahu sebagai kamar Sora.

“Kyaaaa!!” seorang anak kecil berlari keluar.

Dengan gemetaran gadis itu duduk di pojok saat si pria membuka ikat pinggangnya dan mulai memukuli si gadis kecil tanpa ampun. Gadis kecil itu terus minta maaf sambil menangis tak karuan.

Ia tak kuat melihat adegan ini.

Ini terlalu brutal.

Yuya memalingkan muka, lalu sosok gadis yang membawanya ke tempat itu tiba – tiba tersenyum ke arahnya.

“Sora…” bisiknya.

Yuya menggeleng dan tak yakin jika gadis yang sedang dipukuli itu adalah Sora. Lalu tak berapa lama, ketika si pria pemabuk sepertinya sudah puas memukulinya. Ia beranjak sambil memaki–maki si gadis kecil yang tubuhnya lebam–lebam karena dipukuli.

Si pria keluar. Gadis kecil itu terisak–isak dan mengompres dirinya sendiri dengan air dingin. Mereka tak punya pemanas air tampaknya.

“Aku tak kuat…” ucap Yuya sambil menangis.

Rasanya ia ingin memeluk si gadis kecil dan jika saja ia bisa membantunya untuk keluar dari situ.

“Tak bisa… ini masa lalu…” ucap sosok gadis yang mirip Sora itu, seakan – akan membaca pikiran Yuya.

Sesaat kemudian dirinya kembali berputar dan merasa sangat pusing. Kepalanya terasa mau pecah. Beberapa detik kemudian ia membuka matanya dan mendapati dirinya masih di ruangan yang sama, tapi beberapa tempat sepertinya berbeda.

Salju di luar turun dengan derasnya.

Ugh, ia tak suka hari bersalju.

Yuya masih menunggu apa yang akan terjadi sampai sebuah teriakan dari kamar memekakan telinganya. Sora berlari keluar dari kamar itu dengan baju setengah sobek dan badannya memar–memar.

Wajah Sora si gadis remaja berdarah, matanya bengkak.

Si pria yang ia lihat sebelumnya tampak lebih tua, namun terlihat tetap sama. Mabuk dan tak terkendali.

“Kyaaaa!!! Jangan mendekat!! Jangan mendekaaatttt!!” Sora berteriak dan berlari keluar.

Si pria mengejarnya sambil membawa sebilah pisau dengan mata tak fokus.

“KAU ADALAH KESALAHAN DI HIDUPKU!!! KARENA KAU ISTRIKU MATI DAN RUMAH TANGGAKU BERANTAKAN!!! BOCAH SIALAAAANNNN!!!” pria itu terus mengejar Sora.

Yuya ikut berlari karena ingin tahu apa yang terjadi setelahnya.

Ceceran darah mengalir dari tangan Sora yang sepertinya sempat tergores oleh pisau itu. Begitu pula dengan lututnya yang masih terus mengeluarkan darah.

Sora terus berlari sambil menangis pilu. Isakannya tak tertahan lagi.

Ia menghindar dari si pria itu sambil masih menangis.

Hujan salju malam itu cukup lebat. Membuat ceceran darah dari tubuh Sora membekas di salju yang putih itu sepanjang Sora berlari.

“Ini kan…”

Yuya kaget melihat lokasi tempat ia kini berdiri.

Ini adalah jalan yang ia lalui semalam saat mabuk. Ia ingat Sora duduk di sebelahnya, tak mau turun walaupun ia perintahkan.

“MATI KAU BOCAH SIALAAANNN!!!”

Lamunan Yuya teralihkan oleh suara lantang pria pemabuk itu. Sora merintih karena sepertinya ia tak lagi kuat berjalan.

Apa saja.

Ia ingin menyelamatkan Sora. Ia tak bisa melihat Sora begini.

Yuya menangis pilu melihat Sora terjatuh dan si pria hampir mendekat pada Sora.

“Tidaaaaakkkkk!!” Yuya berteriak dan pada saat bersamaan sebuah mobil menyeruak ke pinggir dan menghantam tubuh si pria pemabuk tadi.

Mata Sora membulat tak percaya, ia masih saja terus menangis.

Sementara itu semakin lama tubuh Yuya terasa semakin ringan. Seakan ia melayang tak lagi menapak pada bumi.

==========

Sora menangis. Tak kuat melihat tubuh Yuya yang dipasangi berbagai selang dan alat bantu hidup. Pemuda itu sekarat.

Berhari – hari ini Sora menemani pemuda itu dengan sabar. Sementara dirinya sendiri juga terluka cukup parah. Tapi buatnya ini tak menyakitkan. Lebih menyakitkan melihat kekasihnya terbaring tak berdaya.

Ia takut

Sangat takut

Bagaimana ia bisa hidup jika Yuya sudah tidak ada?

Alasannya untuk bertahan hidup adalah Yuya.

Sejak kecil ia tak pernah merasakan kasih sayang. Terkena amukan ayahnya yang pemabuk setiap waktu, tapi tak punya cukup keberanian untuk membunuh dirinya sendiri.

Tak juga punya keberanian untuk membunuh ayahnya. Ia capek. Saat memutuskan untuk saatnya ia bunuh diri, ia bertemu Yuya.

Saat itu malam juga bersalju.

Hanya seminggu pasca ayahnya meninggal karena tertabrak mobil. Ia bertemu Yuya di rumah sakit yang menawarkannya tumpangan karena ia menangis sendirian di kursi tunggu.

Yuya yang akhirnya menemukan dirinya yang ketakutan dan terbuang.

Selama perjalan pulang malam itu, Sora ingat Yuya menanyakan ada apa dengan dirinya. Ia tak menjawab, hanya kembali menangis hingga malam itu Yuya menemaninya di apartemen hingga pagi tiba.

Sejak saat itu Sora berteman dengan Yuya. Tanpa sadar Yuya sudah menjadi seorang yang membuatnya hidup kembali. Ia dapatkan kasih sayang itu dari Yuya, maka jika Yuya pergi, ia tak yakin bisa hidup lagi.

Sora terus terisak di luar kamar Yuya. Ketika kedua orang tua Yuya, keluarga Akanishi menghampirinya.

“Ia sudah sadar, nak…”

Dengan gerakan tiba–tiba Sora berdiri dan menatap tak percaya.

Dokter bilang kemungkinan Yuya sadar tak lebih dari dua puluh persen. Lagipula Yuya sudah koma selama tiga hari. Bahkan dokter mengatakan sungguh ajaib pemuda itu bisa langsung sadar dan terlihat sehat.

Sora berlari masuk.

Yuya mengerjapkan matanya menatap gadis itu yang berwajah khawatir.

Alat bantu dan selang–selang yang terpasang di tubuh Yuya satu persatu di cabut. Pemuda itu sadar sepenuhnya.

“Yuya…” Sora masih terisak, menatap Yuya dengan pandangan khawatir sekaligus lega.

“Soraaa…”

Yuya mencoba duduk, lalu memeluk Sora dengan erat.

“Jangan berlebihan nanti kau tambah sakit…” ucap Sora lembut.

Air matanya meleleh karena sangat lega melihat Yuya.

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan…”

“Hmmm?”

Yuya meraih kepala Sora, memeganginya dengan kedua telapak tangannya dan menatapnya lekat–lekat, “Jawab dengan jujur…”

“Ada apa?”

“Kau… dipukuli ayahmu waktu kecil? Kau… disakitinya terus–menerus? Kau hampir dibunuhnya?”

Sora kaget.

Memang selama Yuya koma, ia menceritakan semuanya pada Yuya. Tapi ia tak menyangka Yuya bisa mendengarnya.

Gadis itu hanya mampu menangguk.

“Lalu… sejak kapan kau sering dipukuli olehnya?” tanya Yuya masih menatap Sora dengan intense.

“Sejak ibuku meninggal…”

“Kapan ibumu meninggal?” tanya Yuya lagi.

Sora menarik napas sekejap, “Waktu aku dilahirkan…”

Yuya menangis dan dengan refleks menarik Sora ke dalam pelukannya.

Sora tak pernah mengatakannya.

Gadis itu selalu terlihat baik–baik saja dihadapannya. Yuya juga tak pernah bertanya. Tak peduli dengan Sora karena buatnya Sora hanyalah sebuah pelarian.

Hideyoshi Sora tak pernah suka malam bersalju, Yuya tak tahu. Ia tak pernah sadar malam–malam Sora juga dihantui oleh kenangan buruk masa lalunya. Yuya tak pernah tahu, mungkin tak mau tahu.

Ia selalu berfikir hidupnya paling menderita. Yuya mempererat pelukannya, Sora tak pernah menceritakannya pada Yuya.

“Kenapa kau tak pernah menceritakannya padaku?” tanya Yuya, ketika tangisnya dan tangis Sora sudah mereda.

“Karena buatku yang penting aku disamping Yuya… selama ini Yuya juga selalu dihantui oleh kenangan buruk… aku tak mau menambahnya dengan kenangan burukku…”

“Apa kau harus selalu berusaha lebih keras untukku, Sora?!” Yuya melonggarkan pelukannya, menatap Sora lama.

“Aku bisa hidup karena Yuya… maka tak ada alasan lain selain hidup disampingmu, menemanimu…”

Yuya sibuk menyalahkan hidupnya yang ia rasa tak sempurna. Sibuk mencari pelarian akan perasaannya pada Jin. Ia tak sadar gadis ringkih yang selama ini menemaninya adalah orang yang paling mencintainya, orang yang memberikan kasih sayang paling tulus padanya.

Ia hanya terlalu sibuk menyalahkan keadaan untuk menyadarinya. Tanpa menyadari kalau Sora menyimpan rasa sakit yang sama. Kini semuanya jelas. Yuya mengerti kenapa Sora pernah tiba-tiba menangis histeris sambil meminta maaf saat tak sengaja memecahkan piring –didapurnya sendiri. Ketika itu Yuya hanya ingin Sora kembali tenang, tanpa menyangka dibalik semua itu ada kisah yang sangat menyakitkan.

“Hey, Yuya… Apa kau tahu rasanya saat sedang hangover? Kau seperti melihat seribu malaikat, mereka bermain basket…”

Saat hangover, ia tak melihat seribu malaikat.

Ia hanya lihat satu, dan kini ada di pelukannya.

Malaikatnya hanya satu, Hideyoshi Sora, yang menyadarkannya pada kehidupan yang harus ia teruskan untuk menjaga malaikat itu juga tetap hidup dan terjaga.

Pelukannya semakin erat, Yuya merangkai pikirannya ke masa depan yang akan ia lalui bersama Sora. Ia akan hidup, kakaknya juga akan bisa bangga padanya nanti.

================

OWARI!!!

Ayey!! Tamat!!! Hahaha…
Tak yakin…apalagi kilat dan ekspress bikinnya…hahaha..
COMMENTS ARE LOVE!!
Please Don’t Be A Silent Reader kawaaaannnn!! 🙂
I really appreciate if you give some comments..
THANK YOU~ 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Minichapter] Loveless (Chapter 2) ~End~

  1. Nirmala

    waaaaaaaaaaa…. bagusss.. meskipun kerja kilat.. hahah,, aku udah baca kemarin, tapi baru coment sekarang… ngebayangin Jin nyium Yuyan,, hahah,,, nggak bisa ngebayangin tapinya… hihhhiii… bagus lho bunda dan neechan…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s