[Minichapter] Loveless (Chapter 1)

Title        : Loveless
Author        : Dinchan Tegoshi & Nu Niimura
Type          : Minichapter
Chapter         : 1
Genre        : Romance *hahahaha…”
Ratting        : PG-15
Fandom        : JE
Starring    : Takaki Yuya (HSJ), Akanishi Jin (Johnny’s), Hideyoshi Sora (OC), dan orang – orang yang lewat… 😛
Disclaimer    : We don’t own all character here.  Takaki Yuya and Akanishi Jin are belong to Johnny’s & Association, Hideyoshi Sora adalah OC punya Din. We just own the plot!! Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and We do LOVE COMMENTS… please comments… Thanks.. ^^
Don’t Like Don’t Read~ 🙂

Loveless
~ Chapter 1 ~

“Hey, Yuya… Apa kau tahu rasanya saat sedang hangover? Kau seperti melihat seribu malaikat, mereka bermain basket…”

Takaki Yuya tak pernah menyukai musim dingin, terutama hari bersalju. Semua mengingatkannya pada kenangan buruk yang bermula sekitar delapan belas tahun yang lalu. Saat itu pagi masih buta dan udara terasa membeku. Orang-orang berseragam memberitahu mereka bahwa Papa dan Mama meninggal dalam kecelakaan semalam, resiko mengemudi memang bertambah ketika jalanan dipenuhi tumpukan salju. Yuya kecil tak tahu menahu, tapi ia bisa merasakan Jin memeluknya sangat erat dan bahunya merasakan hangat karna airmata sang kakak yang merembesi baju.

Juga tahun-tahun berikutnya, hingga Yuya masuk sekolah. Teman-teman bangga dengan sweater yang dirajut Mama dirumah. Yuya tak bisa berkata-kata, begitu juga ketika para anak nakal mulai menghina “Sweatermu jelek Yuya-kun. Eh, aku lupa, Yuya-kun kan tidak punya orang tua yang bisa membelikanmu macam-macam. Ha ha ha!”

Bisa saja Yuya memukulnya, tapi kembali lagi teringat, siswa yang berbuat onar akan dipanggil orantuanya ke sekolah, dan ia tak punya ide tentang siapa dari panti asuhan yang harus datang menghadap.

Orang tua. Setiap kali coba mengingat, yang terpikir adalah wajah Jin. Kakak yang selalu merawatnya.

Pada musim dingin pula, mereka memasuki rumah megah keluarga Akanishi. Setelah sebelumnya pasangan pemilik rumah itu mengajukan permintaan adopsi, mereka bilang Jin punya potensi. Akhirnya mereka punya orang tua, tapi yang begitukah? Memaksa Jin berlama-lama dengan tumpukan buku dan guru privat yang terus mengawasi. Waktu santai yang terus dibatasi.

“Kau terlalu mabuk Kou…” ucap Yuya mengingatkan sahabatnya yang terhuyung karena terlalu banyak alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.

Ia tak suka perasaan saat seperti itu. Menenggelamkan kesedihan dalam balutan alkohol bukan gayanya.

“Ayo pulang…”

Yabu menepiskan tangan Yuya, kembali menelungkupkan wajahnya di meja bar, “Satu lagi…” ucapnya pada bartender yang berdiri di balik meja bar.

“Maaf, Tuan… Anda sudah terlalu mabuk…saya tidak bisa memberikan anda minuman lagi…” gadis itu tampak enggan dan tak tega melihat Yabu.

“Sialan!!” umpat Yabu.

Yuya memapah Yabu keluar dari bar, memberhentikan taksi sebagai wujud dari tanggung jawabnya pada sahabatnya itu. Ia tak ingin pulang sekarang, tak ada gunanya di rumah. Semua orang sibuk dengan dirinya masing – masing. Termasuk Jin.

Kakak laki – laki satu – satunya yang ia punya untuk berbagi. Dulu, di panti asuhan, siapapun yang menjahilinya, Jin selalu punya cara untuk mengusir mereka, membuatnya berhenti menangis. Setelah masuk rumah Akanishi, tak pernah ada yang mengganggunya lagi, bahkan Jin sendiri tak pernah lagi mengganggunya. Baginya itu masalah. Apalagi, ia dengar Jin akan segera menikahi seorang gadis, anak dari partner bisnis Ayah angkatnya.

Ia tak tahu lagi, sampai kapan ia betah di rumah itu? Apa sekarang saatnya ia angkat kaki. Toh, dulu saat mengangkat Jin, mereka sama sekali tak melirik dirinya. Seakan eksistensinya hanyalah sebuah hadiah lucu – lucuan setelah ‘membeli’ Jin.

Jin. Jin. Dan Jin.

Kenyataan tentang Jin yang akan menikah membuatnya terkejut. Bukan kenyataan itu, yang meyakitinya justru perasaan sakit, seperti ada pisau tumpul imajiner yang mengerat hatinya menjadi beberapa bagian.

Jin, yang sejak dulu disayanginya.

Jin, yang selalu membagi apapun yang dimilikinya dengan Yuya.

Jin, sosok brilian yang selalu dikejarnya

Tanpa Yuya sadari, sang kakak telah menjadi obsesinya.  Yuya merasa ingin membenturkan kepala ke dashboard, kenapa perasaan itu baru disadari ketika Jin akan pergi.

Ponselnya menyala seketika, membuatnya kaget karena ia sedang melamun, bahkan sekarang ia tak tahu dirinya ada dimana?

Sora.

“Ya?” angkat Yuya, kini matanya melihat di sekeliling tempat ini, mencoba mengingat ke arah mana tadi ia bawa mobilnya.

“Kau dimana? Ini sudah hampir jam 12 loh…” kekasihnya, Sora Hideyoshi, mungkin salah satu alasan ia masih bisa berpikir jernih.

“Eh? Hmmm..” pemuda itu tak punya kata – kata untuk menjawab gadisnya, “Tunggu sebentar disana… aku pasti dapat jalan pulang…” serunya.

“Cepat..aku takut…sudah malam sekali, dan cafe sudah ditutup..” keluh Sora.

“Iya…sebentar..” Yuya menutup ponselnya dan mencari halte terdekat.

Gara – gara melamun, ia lupa harus menjemput kekasihnya itu. Sebenarnya, mungkin Sora hanyalah sebuah alibi yang ia miliki agar ia tak lagi memikirkan soal obsesinya pada Jin. Setelah beberapa bulan ini bersama, seorang Sora mungkin bisa dibilang bagian penting dalam hidupnya yang carut marut ini. Membuatnya sedikit berfikir jernih, yang menenangkan dirinya.

“Maaf, aku terlambat menjemputmu…” ucap Yuya saat Sora selesai mengenakan sabuk pengamannya.

“Boleh aku tanya kenapa?”

“Aku…mengurus teman yang mabuk…”

“Mabuk? Biar aku tebak, pasti karena masalah cinta, kan?” ucap Sora kasual, kontras dengan nada penuh kekhawatirannya ketika bicara di telepon.

Cinta

Dan kembali, Yuya ingin menghantamkan mobilnya ke tembok beton. Kenapa saat kata itu diucap, bukan sosok gadisnya yang muncul dipikiran, tapi justru bayang sang kakak yang olehnya ingin dilupakan.

“Bukan… masalah pekerjaan…” jawabnya ketika sudah berhasil mengendalikan pikirannya.

“Oh…” Sora tersenyum.

“Kenapa sepertinya kecewa?” tanya Yuya mendengar nada bicara Sora.

Sora menggeleng, “Tidak apa – apa… malam ini mau mampir?” tanya gadis itu lalu sibuk dengan ponselnya.

“Boleh… aku malas pulang juga…” jawab Yuya.

Tak lama mereka sampai di apartemen tempat Sora tinggal. Hanya sebuah apartemen kumuh, jauh dari kemewahan yang biasa ia dapat di rumah Akanishi. Ironis memang, sebuah tempat sempit berukuran 5 x 6 meter bisa membuatnya sangat nyaman, dibandingkan dengan rumah bertingkat yang isinya perabotan mewah.

“Kemarin pemanasku rusak loh…” seperti biasa, Sora menceritakan semuanya pada Yuya.

“Eh? Kenapa kau gak bilang?” terbayang olehnya dinginnya ruangan ini ketika malam datang.

“Sudah malam sekali soalnya… Yuya juga pasti sudah tidur… jadi, aku biarkan saja.. aku berlindung dibalik selimut dengan tiga lapis jaket… hehehe…” kadang Yuya merasa gadisnya itu terlalu memaksakan diri.

“Sudah diperbaiki?”

Sora mengangguk, “Tetangga sebelah membantuku… dia lulusan teknik mesin… entahlah… dia mengutak–atiknya, lalu menyala kembali!!” ucapnya ceria.

“Sou ka… lain kali, telepon saja aku…” ucap Yuya lalu duduk di kasur milik Sora.

“Anou…cuma ada bir ini…” Sora menyerahkannya pada Yuya.

“Tinggal satu?”

“Aku belum bisa beli lagi…besok kan baru gajian…” jawab Sora lalu duduk di sebelah Yuya.

Yuya meraih tangan Sora. Satu hal lagi yang membuatnya tak bisa meninggalkan Sora. Walaupun keras kepala, tapi setidaknya Yuya bisa melindunginya.

“Mau…minum sama-sama? Dari bibirku tentunya…” ucap Yuya menggoda

Muka Sora memerah, lalu dengan cepat mencubit pipi Yuya, “Jangan macam-macam…”

“Aku tak bercanda…” Meminum satu tegukan dan kembali meletakkan kaleng bir atas meja.

Tanpa melihat kardiograf, Sora sudah bisa memastikan jantungnya berdetak lebih cepat ketika Yuya menggenggam kedua pergelangan tangannya dan mendorongnya perlahan.

“Ah, Yuya. Tunggu…”

Sora mendorong pelan bahu Yuya yang sudah mendekat padanya, lebih dekat lagi maka ia tak akan bisa melawan tenaga Yuya yang tentu saja lebih besar darinya.

“Yuya… jangan…”

“Santai saja…” bisik Yuya sensual di telinga Sora.

Tak ingin Yuya melihat wajahnya yang entah sudah semerah apa, Sora hanya memalingkan wajahnya. “Apanya yang santai?” rutuknya pelan.

Kembali meneguk bir dari kaleng, Yuya kembali memposisikan pipinya di pipi putih sang gadis yang kini berubah kemerahan.

“Eto, Yuya…bagaimana persiapan pernikahan kakakmu?”

‘UHUK!’ pertanyaan itu, demi apa Sora harus membuka pembicaraan dengan topik itu disaat seperti ini.

“Ah, Yuya…kau baik-baik saja? Tersedak, ya?”

Sora menepuk – nepuk punggung Yuya, “Kau kenapa?”

Yuya menelan semua bir yang ada di mulutnya, “Tidak apa–apa…uhuk…uhuk…”

Memikirkan Jin akan menikah, membuatnya kehilangan mood malam ini.

“Jadi, persiapannya bagaimana?” tanya Sora masih penasaran.

“Hmmm… entahlah… aku belum bertemu dengannya, jadi aku tak tahu

persiapannya…” jawab Yuya, tak bisa menyembunyikan nada sinis dalam bicaranya.

“Sou ka..”

“Aku pulang saja deh…” Yuya hendak beranjak ketika tangan Sora mencegahnya.

“Mau kemana? Kau… marah?” tanya Sora takut–takut.

Yuya menatap Sora, urung beranjak dan kembali duduk di sebelah gadis itu.

“Maafkan aku, pikiranku sedang…agak galau.” Seraya Yuya menarik Sora ke pelukannya “Bolehkah, malam ini aku menginap?”

“Tentu, aku ada disini. Kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkan cerita, sampai pagipun aku rela terjaga, hehe…”

===========

Malam. Kecupan-selamat-tidur lembut yang didaratkan Sora di dahinya, menjadi hal yang terbaik untuk Yuya dalam sehari yang terasa begitu panjang.

Dalam tidurnya, Yuya memimpikan Jin. Tentang kehidupan di panti asuhan. Saat dirinya bukan seorang pemuda awal dua puluhan, tapi hanya anak ingusan bersama kakak laki-laki yang baginya selalu jadi pahlawan.

‘Aniki, kau…akan pergi kemana?’ tanya Yuya kecil memegangi lengan baju kakak laki-lakinya.

‘Aku harus pergi, Yuya…’

‘Tapi aku ingin sama-sama Aniki. Kita kan sudah janji…’

‘Tidak bisa Yuya, selamat tinggal.’

‘Aniki!’

“Aniki!” teriak Yuya lantang ketika membuka matanya dari mimpi yang membuatnya seketika terjaga.

“Mimpi buruk, hmm?” tangan itu terulur membelai lembut pipi Yuya dari sisi disebelahnya. Yuya sendiri tak menyadari bahwa air matanya sudah melelehi pipi.

“Jangan khawatir…” ucap Sora lembut.

“Sora, kau…” tak ada yang perlu Yuya tunggu untuk memberi gadis itu pelukan ketika melihat air mata yang sama mengalir diwajah Sora. Yuya tahu, walaupun Sora berusaha menenangkannya, tapi malam itu sebenarnya ia dihantui mimpi buruk yang sama. Namun tak butuh waktu lama hingga keduanya kembali terlelap.

==========

“Maaf membangunkanmu…” pagi itu Sora bangun duluan karena ia ingat harus bekerja pagi hari.

Tapi gerakannya sepertinya membangunkan Yuya yang memeluknya semalaman.

“Kau… mau kemana?” tanya Yuya masih setengah sadar.

“Aku harus kerja… kau boleh tidur lagi…”

Yuya hanya mengangguk, mengambil ponselnya dan melihat sekarang baru pukul lima pagi, apa yang dikerjakan gadis itu sepagi ini?

“Sebentar… kau kerja apa?”

Sora berhenti sejenak, “Itu… mengantar susu… aku baru mulai hari ini, sih…”

“Di cuaca sedingin ini? Jangan bercanda!” seru Yuya dan kantuknya hilang seketika.

“Gomen Yuya… aku butuh uang sekarang ini… makanya aku ambil pekerjaan ini..” gadis itu masih sibuk siap–siap di hadapannya.

“Uang? Untuk apa? Aku bisa meminjamkannya. Kau cukup berada disisiku dan…”

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Yuya.

“Jangan pernah berfikir aku bisa dibeli…”

Bahkan Yuya tak pernah memikirkan hal seperti itu. Ia hanya ingin membantu gadis itu, tapi seperti biasa seorang Sora yang keras kepala, sulit sekali menerima bantuan apapun dari Yuya.

“Yuya bodoh! Padahal aku hanya ingin menyisihkan uang untuk membeli gaun, untuk menghadiri acara pernikahan kakaknya nanti!” Sora terus merutuk sambil membetulkan posisi syal di lehernya.

Pagi. Suara pintu yang dibanting Sora menjadi sapaan selamat pagi yang agak terlalu cepat untuk Yuya.

============

Siang. Segalanya terasa sangat tidak memihak untuk Yuya. Pekerjaan, teman-teman dan Sora. Sulit sekali untuk dihubungi, Yuya pikir Sora masih marah padanya.

Sore. Yuya mencoba datang ke café tempat Sora bekerja. Ia tak terlalu ingat bagaimana detailnya, tapi situasi diantara mereka jadi semakin memburuk. Tak ingat jalan cerita. Simpulnya, Yuya yang tak bisa berbasa-basi merayu gadis yang sedang marah padanya mengalami konfrontasi dengan Sora yang –menurut Yuya- sedang berada di puncak sikap keras kepalanya.

Malam. Tak ada selamat malam, tak ada kecupan, tak ada objek pelukan. Mudah-mudahan saja mimpi buruk tak ikut memperparah keadaan.

Salah, malam itu Yuya tetap dihinggapi mimpi buruk tentang Jin yang meninggalkannya. Mimpi-mimpi yang dilihatnya terlihat sederhana, tanpa sisi melankolis. Tapi entah kenapa wajahnya selalut basah oleh air mata ketika ia terjaga.

Tak terkecuali malam itu.

“Aniki, jangan…”

“Yuya?”

“Aniki?”

Alangkah terkejutnya Yuya ketika menemukan Jin di tempat tidurnya. Ketika Yuya membuka mata, Jin seketika menarik tangannya yang mungkin tadi berada didekat wajah adiknya itu.

“Aniki, apa yang kau…”

“Kau mimpi buruk ya, Yuya?”

“A, aniki…” Yuya tak bisa berkata-kata ketika Jin tiba-tiba menariknya kedalam pelukan.

“Sebentar saja, tolong jangan protes…” Jin memeluk Yuya semakin erat, “Rasanya sudah lama sekali aku tidak memelukmu seperti ini, Yuya. Kangen sekali. Dulu saat di panti asuhan, kau sering terbangun karena mimpi buruk dan hanya akan kembali tidur kalau kau kupeluk begini…”

“Ayolah, aniki… ini so-gay sekali…” walaupun berkata demikian, tapi Yuya merasa masih ingin berlama-lama dalam pelukan Jin, seperti yang diakui sang kakak, ia juga merindukannya. Pelukan Jin selalu terasa nyaman dan membuatnya merasa dilindungi.

“Ha ha ha, oke. Ternyata adikku sudah besar. Sudah besar dan keren.” Jin melepas pelukannya dan berucap ceria. “Hey, bagaimana tentang gadismu itu?” memukul pelan bahu Yuya.

“Hah? Jadi aniki masuk ke kamarku tengah malam begini hanya untuk bertanya tentang Sora?”

“Ah, sebenarnya aku hanya ingin ngobrol. Belakangan ini kita jarang sekali menghabiskan waktu bersama…“

“Oke, tak ada salahnya ngobrol tengah malam. Apa yang ingin aniki bicarakan?”

“Hmm, tak ada sesuatu yang khusus, sih. Yuya, apa kau senang sudah jadi adikku?”

“Apa? Pertanyaan macam apa itu? Sentimentil sekali!“

“Ha ha ha. Aku anggap itu sebagai ‘Ya‘!“ seketika Jin berdiri dan mengecup kening Yuya singkat.

“A, apa-apaan? Aniki, itu menggelikan! Jangan pernah lakukan itu lagi padaku!” Tapi Jin tak bisa mendengar protes lebih lanjut dari Yuya karena dengan segera ia melangkahkan kaki keluar dari kamar adiknya.

Seraya dengan bantal yang dilemparkan ke pintu, Yuya meraih bantal yang lain untuk menyembunyikan air mata. Perasaannya seketika meluap, antara rindu, senang dan perasaan teramat menyedihkan yang ia sendiri tak mengerti darimana datangnya. Ia merindukan pelukan dari Jin, saat seperti demikian ia bisa merasa Jin seutuhnya kakak yang selalu menyayanginya dan ia hanya seorang adik kecil, adik tersayang dari Takaki Jin. Bahkan Yuya tak menyadari sejak kapan perasaannya pada Jin berubah sedemikian salah, padalah ia sudah memiliki Sora, harusnya tak jadi begini.

Dari luar, Yuya memang terlihat kuat dengan pembawaannya yang terkesan arogan dan berharga diri tinggi. Tapi didalam hatinya, ia hanya seorang bocah kecil yang begitu menginginkan sang kakak untuk selalu berada di sampinya.

============

Pagi itu sama dinginnya dengan hari – hari di awal tahun. Memang sudah hampir musim semi, tapi sisa – sisa salju dan angin musim dingin masih sangat terasa.

Yuya menggeliat, melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Yuya ingat ia baru teridur pukul setengah tiga pagi. Matanya terasa lengket karena tidur sambil menangis.

“Ugh…” keluh Yuya mencoba bangkit dari tempat tidurnya ketika sebuah tangan menempel pada matanya, rasanya dingin sekali.

“Kau menangis lagi?” suara itu begitu familiar.

Yuya menyingkirkan lap basah yang menutupi matanya itu.

Sora duduk di pinggir kasurnya.

Membawa sebaskom air dan lap untuk mengompres matanya. Entah sejak kapan dia disitu.

“Sora…” gumam Yuya tak percaya gadisnya kini duduk di hadapannya, mengulaskan senyumnya yang biasa.

“Ohayou… Yuya…” sapaan manis seperti biasanya.

Untuk beberapa saat ia termanggu menatap Sora yang masih tersenyum. Yuya kemudian duduk dan menarik Sora ke dalam pelukannya.

“Ku kira kau masih marah…” Ia sudah putus asa dan menyerah jika gadis itu tak mau kembali padanya.

“Betsu ni…” Sora mendorong bahu Yuya dan kembali menempelkan lap itu di mata pemuda itu, “Kompres dulu…” protesnya.

Walaupun Yuya menemukan bekas mata menangis yang sama di mata Sora.

Gadis itu tak pernah mengeluh di depannya.

Segalanya baik – baik saja untuk Sora.

“Hari ini antar aku ke toko gaun yaaa…” ucapnya sambil masih sibuk mengompres mata Yuya.

“Toko gaun? Untuk apa?” tanya Yuya.

“Sebentar lagi pernikahan Jin-Niichan kan? Aku harus beli gaun untuk itu…hehehe…”

Yuya meraih tangan Sora dari matanya, menatap gadis itu.

“Masaka…kau mengumpulkan uang untuk itu?”

Sora tak menjawab, hanya tersenyum lalu beranjak dari kasur itu, “Ayo siap – siap… aku bawa sandwich tapi tak seenak buatan chef di rumah ini sih…” katanya lalu mengeluarkan kotak bento dari tasnya yang sudah lusuh itu.

Yuya balas tersenyum, beranjak dari kasur dan memeluk Sora dari belakang, menikmati wangi tubuh gadis itu.

‘Kenapa kau selalu bekerja keras untuk diriku?’ pertanyaan itu hanya ia simpan dalam hati. Rasanya terlalu menyedihkan untuk ditanyakan pada gadisnya yang kini berada di pelukannya.

“Sana siap – siap…” tegur Sora lagi.

“Baiklah…tunggu sebentar…” Yuya bergegas ke kamar mandi setelah sekilas mengecup pundak Sora.

==============

“Bagaimana kalau ini?” Yuya mengambil sebuah dress mewah dengan potongan panjang menjuntai ke bawah.

“Eh? Bagus sih…” ketika ia mengintip harganya, bahkan tidak bisa ia beli dengan uangnya. Uangnya tak sampai setengah dari harga gaun itu.

“Terlalu berlebihan…” ucap Sora menggeleng.

Yuya menghindar dan menjauh dari Sora sementara gadis itu mencari gaun lainnya.

“Kawaii…” Sora mengambil sebuah gaun dengan aplikasi sederhana berwarna merah selutut.

“Kau mau yang ini?” Yuya tiba – tiba menghampiri Sora, menatap gaun itu.

Sora mengintip harganya dan sadar uangnya belum juga cukup, gadis itu menggeleng, “Tidak cocok buatku…”

“Cocok sekali kok…” kilah Yuya.

Sora mendelik ke arah Yuya. Pemuda itu sama sekali tak mengerti situasinya.

“Silahkan nona…ada diskon lima puluh persen untuk hari ini….khusus sekali…” ucap seorang pelayan toko yang tiba – tiba menghampirinya.

“Hontou?” Sora menghitung dan sadar jika kena diskon, harga baju itu bisa ia bayar, bahkan jauh lebih murah dari budget yang ia siapkan.

“Baiklah aku ambil yang ini!” seru Sora sambil tersenyum ke arah pelayan itu dan menyerahkannya untuk dibungkus.

“Beruntung sekali, ya?” tanya Yuya pada Sora.

Sora mengangguk bersemangat, “Uang sewaku selamat!!hahaha…”

Yuya mengacak pelan rambut Sora.

“Tunggu diluar sebentar…aku mau ke toilet dulu…” ucap Yuya ketika urusan membeli gaun itu sudah selesai.

Yuya tidak ingin ke toilet. Pemuda itu menghampiri kasir di dalam, seraya mengeluarkan kartu kreditnya ia bertanya, “Berapa sisanya?”

==============

Yuya duduk dengan gugup.

Hari ini adalah hari pernikahan Jin. Ia menikah dengan seorang gadis kaya, putri partner bisnis Ayahnya, Kuroki Meisa.

Baru kali ini ia bertemu calon istri Jin, dan yakin gadis itu sudah pilihan terbaik untuk kakaknya. Gadis itu cantik sekali, dan terlihat pintar. Tentu saja Jin tak akan salah pilih.

“Kau baik – baik saja?” tanya Sora menatap Yuya yang gugup di sebelahnya.

Tugas Yuya membawa cincin pernikahan keduanya.

Yuya mengangguk, “Un…aku baik – baik saja…”

Sebuah pesan masuk ke ponselnya, Yuya pun segera beranjak.

“Aku harus ke dalam dulu…kau tunggu disini saja ya…” ucap Yuya pada Sora.

Gadis itu hanya mengangguk.

Ternyata Yuya menuju ke ruang pengantin pria. Jin memintanya untuk datang ke ruangannya.

“Ada apa Aniki?” tanya Yuya ketika baru masuk.

Jin begitu gagah dengan jasnya, tipe pengantin pria idaman setiap wanita.

“Kau siap dengan cincinku?” tanya Jin masih menatap cermin di hadapannya, mematut dirinya.

“Tentu saja sudah…kau hanya mau bertanya itu?”

“Tidak juga sih…duduk..” perintah Jin sambil duduk juga di sebuah sofa yang ada di tempat itu.

Yuya menurut lalu duduk di sebelah Jin.

“Kau harus baik – baik saja ya… jaga juga Sora…”

Melankolis.

Yuya tak suka keadaan seperti ini.

“Kau kerasukan apa sih?” cibir Yuya.

“Setelah pernikahan ini…kau tahu kan aku akan bulan madu ke LA?” Yuya tak mengerti akan dibawa kemana pembicaraan ini?

“Lalu?”

“Itu alibi…aku dan Meisa akan tinggal disana… Ayah menginginkan aku mengelola perusahaannya di LA sepenuhnya…aku akan pindah kesana…”

Yuya tak tahu harus bersikap bagaimana. Seluruhnya jadi terlalu rumit untuknya. Ia tak mau mengakuinya, tapi saat ini rasanya air matanya akan meleleh.

============

TBC!!!

Ayey~ dalam rangka ultah Yuyan nih…
Tapi jadi minichapter karena kepanjangaaaannnn~
COMMENTS ARE LOVE
PLEASE DON’T BE A SILENT READER…
Thank You!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s