[Oneshot] Memories

Title        : Memories
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot, SongFic
Song         : White by. KAT-TUN
Genre        : Romance *ayey~*
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : You just have to read it, and you will know who is it? Hahaha.. 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. I just own the plot!! Abal dan over deskripsi… sumpah saia juga gak tau kenapa ceritanya jadi gini… yang merasa request, maaf ceritanya gaje… Hahaha~ but it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… please comments… Thanks.. ^^
Don’t Like Don’t Read~ 🙂
Memories

Igarashi Satsuki’s POV
“Okaeri….”
Seakan kata itu sudah terlalu mahal untuk aku ucapkan. Tak ada lagi sapaan ‘tadaima’ dan seraut wajah tersenyum sambil membawa sekotak kue coklat kesukaanku.
Tak lagi.
Mungkin tak akan pernah lagi.
Semua yang sudah terlewati dan berharap untuk kembali memang sesuatu yang mustahil.
Pintu itu kini terasa terlalu lengang dan membuat dadaku sakit setiap melihatnya. Ia tak lagi akan melewatinya, menyapaku, mencium keningku sekilas sebelum menceritakan segalanya yang ia lewati hari itu.
Aku lah yang bersalah.
Ini konsekuensi dari segala keputusanku.
Telah kulewati malam – malam perih tanpa pelukannya, seakan pemanas ruangan tak lagi berfungsi sehingga aku tidur bergelung dibawah selimutku seharian. Mataku bengkak karena terlalu banyak menangis dan menyibukkan diri dengan tugas – tugas tambahan yang aku ambil dari beberapa dosen.
Alasannya cukup masuk akal.
Aku akan segera meninggalkannya, maka aku harus lebih dulu pergi dari kehidupannya yang sebenarnya sudah sempurna sebelum aku datang.
No matter what I do
These inexpressible feelings
Are now about to overflow the sepia trunk
Pertemuanku dengannya adalah suatu kebetulan. Tidak akan ada yang percaya, bahkan sahabatku sendiri tidak memercayainya ketika aku menceritakan bagaimana aku bertemu dengannya.
Baru saja aku kerja sampingan di sebuah stasiun televisi. Pekerjaanku hanya mengantarkan makanan dan minuman kepada orang – orang di kantor itu. Hari itu, seperti biasa aku menyiapkan kopi dan makanan kecil untuk rapat sebelum sebuah acara berita berlangsung. Yang beda, aku tak biasa menyiapkan untuk acara hari itu, namun karena teman satu tempat kerjaku berhalangan, aku yang akhirnya menggantikannya. Tidak buruk sih, aku bisa dapat uang tambahan.
Tapi semuanya jadi berbeda.
Ketika dia berjalan masuk, melewatiku dan tersenyum sekilas padaku.
Mimpi saja tidak aku bisa bertatapan dengan orang sepertinya.
Kalau Sora di tempat itu, ia pasti akan berteriak karena senang dan girang. Buatku dia tidak seperti itu. Aku hanya kagum bagaimana ia bisa tetap berkarisma dibalik kebodohan yang sering ia munculkan di acara lain.
Malam itu, setelah pulang aku bergegas ke kamar Sora yang berada satu lantai di atas kamar apartemenku. Seperti yang sudah kuduga, ia berteriak histeris karena siapa yang kuceritakan.
Tapi aku berfikir, aku tidak akan punya kesempatan bertemu dengannya lagi. Itu bukan hari kerjaku, aku hanya menggantikan temanku. Tapi Sora memaksaku untuk memintakan tanda tangan pada pria itu, akhirnya aku bersedia walaupun dengan kata – kata bahwa aku tak janji bisa mendapatkannya.
Hingga sekarang Sora selalu bilang ia menyesal juga membiarkanku mengejar pria itu, hingga aku tak bisa melupakannya.
Oke, bukan tak bisa… tapi aku tak mau melupakannya.
Belum saatnya, lukanya masih terlalu terasa dan belum kering sepenuhnya.
Though my friends tell me to forget
The memories that I’m the only one unable to graduate
Selembar foto miliknya yang dibubuhi tanda tangannya berhasil aku dapatkan untuk Sora. Namun, hari itu ia bilang.
“Kenapa kamu gak foto bareng aku aja?”
Diam.
Aku menatapnya dengan mata membulat tak percaya, “Bu…at apa?” ucapku bingung.
“Buatku…” Ia mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambarnya denganku.
Tersenyum dan setelah itu ia mengatakan dengan santainya, “Minggu depan aku berikan fotonya yaaa…”

 

In the photograph, we are smiling bashfully
The sun is still the same as ever
Entah kerasukan setan apa.
Seminggu kmudian aku kembali datang, walaupun itu bukan waktuku untuk bekerja. Berharap si empunya ponsel benar – benar mencetak fotonya untukku.
Harapan bodoh.
Orang sesibuk dirinya mana mungkin ingat?
Kalau bisa ku intip jadwalnya pasti sudah terlalu penuh untuk disisipkan ‘mencetak foto untuk Satsuki’ tak akan ada.
Ah, bahkan dia tak tahu namaku.
Ia tahu Sora karena saat aku meminta tanda tangannya, aku memintanya atas nama Sora, bukan namaku.
Aku menunggunya di depan kantor, headset terpasang di telingaku. Kalaupun dia tak datang, mungkin aku bisa berpura – pura sedang menunggu orang lain.
Alasan bodoh.
Mungkin cinta memang bisa membuat orang bodoh?
Eh?
Siapa yang jatuh cinta? Perasaanku padanya hanya sekedar kagum saja!!!
KAGUM!!
Oke, tenang Satsuki. Bukan saatnya berdebat soal itu dengan diri sendiri.
“Eh? Sora-chan?” seseorang menepuk bahuku ketika aku ribut dengan perasaanku sendiri.
“Kyaa!” secara refleks aku membuka headsetku.
Ia di depanku.
Aku
Sesak nafas seketika
Dadaku berdetak kencang sekali.
“Jadi, tadi siapa namamu?” ulangnya lagi.
Karena alasan lupa, ia bilang tidak membawa foto itu. Membawaku ke kantin kantor itu. Mungkin ia melihatku sangat berharap?
Iya, katakan aku bodoh.
Mana ada dia ingat akan janji sederhana macam itu, pada seoang gadis mahasiswa tingkat tiga yang bukan siapa – siapa.
“Igarashi Satsuki desu…” jawabku.
“Gomen na… kupikir namamu Sora… karena foto kemarin itu?”
“Ah! Itu untuk sahabatku!!” ucapku cepat.
Ia mengangguk – angguk mengerti.
“Jadi, bisa kuminta e-mailmu?”
Aku kembali melongo dengan pandangan tak percaya.
“Untuk mengirimkan foto ini….karena aku lupa mencetaknya…” tambahnya.
“Eh? Hmmm.. maaa…”
But the burning sky and sea
Please don’t twinkle
Seperti mimpi di siang bolong. Setelahnya aku sering mendapatkan pesan darinya. Mungkin orang – orang tak akan percaya. Aku punya layanan j-web sendiri. Sekedar memberi tahu ia ada dimana, atau sedang melakukan apa.
Penggemarnya mungkin akan memarahi aku jika tahu aku mendapatkan pesan itu. Tak peduli dengan siapapun. Aku benar – benar sudah mabuk kepayang olehnya.
Sora suka ikutan membaca pesan darinya. Sekedar berteriak atau memintaku untuk mengenalkannya dengan pria itu.
Gadis itu tapi tak memaksa, tetap mendukungku agar aku bisa mendapatkan si bintang tenar itu.
Mimpi?
Ya anggaplah seperti itu.
Walaupun ini mimpi, aku tak ingin terbangun lagi.
“Satsuki… ketemu di depan kantor ya… ada yang ingin aku bicarakan…”
Pesan singkat yang membuat pelajaran kali ini terasa lebih lama. Aku ingin segera menunggunya di depan kantor.
“Kamu kenapa?” Sora berbisik pelan.
Aku menggeleng. Kali ini aku belum bisa menceritakannya pada Sora. Rasa senang yang menggebu – gebu membuat seluruh badanku terasa panas dan bersemangat.
Maka sore itu aku datang setengah jam lebih cepat dari jadwalnya datang.
Menunggunya, dan bilang aku baru saja datang ketika ia datang menghampiriku.
Terserah.
Aku terlalu senang bertemu dengannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku.
Tak seperti biasa ia membawaku ke sebuah taman, bukan ke restauran atau kantin?
“Hmmm… ini…” ia memberikan sebuah kotak yang agak besar, entah isinya apa?
Ketika kubuka, sebuah kalung tersimpan di dalamnya. Liontinnya berbentu bintang.
“Ha? Apa ini?”
“Kalung….apa lagi?” ucapnya bingung.
“Maksudku untuk apa?”
Demi Tuhan katakan hal yang ingin kudengar….kumohon….
“Ngasih hadiah ke pacar sendiri gak ada masalah kan?”
Mimpi pun aku tak ingin terbangun lagi. Ini terlalu indah. Terlalu tak nyata.
You are sparkling
Your glittering heart,
While always frolicking
In front of this one scene, it might even become timid
Kupandangi sofa yang ada di apartemen ini. Ia membelikannya untukku lima bulan lalu. Katanya jika ke tempatku, ia tak suka duduk di bawah karena membuatnya pegal.
Dasar tua!
Begitu sering aku menggodanya. Ia hanya tertawa dan membalasku dengan cubitan di pipiku.
Malam – malam kuhabiskan bersamanya dengan duduk disitu, ia akan memelukku, membiarkan aku bersandar padanya. Menceritakan apa saja yang sudah aku lalui hari itu.
Atau yang dia lalui.
Suatu hari aku pernah protes karena setiap datang ia selalu bilang ‘tadaima’. Padahal kita tak tinggal bersama. Ia hanya tertawa dan bilang kalau ia selalu merasa pulang ke rumah jika bertemu denganku.
Baiklah.
Titik.
Aku tak bisa membantahnya jika ia bersikap manis macam itu. Walaupun ia datang selalu melewati tengah malam, bahkan terkadang aku tertidur ketika menunggunya.
Untukku hubungan ini sempurnanya seperti begini.
Ia tak datang setiap hari.
Karena jika ada pekerjaan diluar koa, hanyalah pesan singkat atau chatting yang menjadi temanku.
Aku tak pernah protes.
Bagiku, kenyataan ia menyukai saja sudah seperti meminum lima belas gelas sake.
Terlalu memabukkan.
Aku juga pernah bertanya, “Kenapa kau bisa suka padaku?”
Ia enggan menjawabnya, namun akhirnya berkata, “Aku tak butuh alasan untuk menyukai seseorang…”
“Bohong!” ucapku.
“Kalau bohong aku tak akan ada disini…”
Adegan selanjutnya, ciuman akan menghapus segala keraguanku.
Ya, aku berhenti bertanya tentang hal itu setelah lima bulan hubungan kami berjalan. Aku hanya harus yakin padanya.
You are shining
Your sparkling heart,
Though always frolicking
In front of this scene, it might even become bashful
“Satsuki…kau… yakin?” Sora menatapku dengan intense, memberikan sinyal ia tak percaya apa yang aku lakukan.
Aku mengangguk, “Ini akan jadi terakhir kali aku melihatnya dari dekat…” ucapku.
“Hmmm… batalkan saja ya? Aku tak nonton juga tak apa – apa…” ucapnya, menggenggam erat tanganku.
Kami sudah berada di depan gedung konser terbesar di Jepang.
Hari ini aku akan mengalahkan ketakutanku.
“Ayo…” aku menarik tangan Sora dan masuk ke gedung pertunjukkan.
Ini tempatnya biasa bekerja? Tak sadar aku tersenyum menatap layar yang kini menampilkan gambarnya.
“Tokyo Domeeee!!!!”
Seraya berteriak, kelima personelnya muncul.
Air mataku mengalir seketika.
Ia baik – baik saja.
Aku bersyukur dia baik – baik saja.
Ia memulainya dengan mengajak penonton bersenang – senang hari itu.
“Doumo!! Sakurai Sho desu….”
Segala kenanganku dengannya kembali berputar sperti film di dalam otakku.
“Sora… dia baik – baik saja…” ucapku, berbalik dan keluar dari tempat itu.
Ya, aku juga akan baik – baik saja.
With that most beautiful bright white color emitted from you
Try to erase the changing seasons
Softly
=============
Sakurai Sho’s POV
“Satsuki!!!”
Oops.
Dia tak ada lagi di sebelahku. Duduk dengan tenang atau terlalu banyak bicara. Kursi penumpang di sebelahku kini kosong.
Aku tak lagi mengantarnya ke universitas itu.
Bilang padanya ketika malam datang kalau aku akan ke apartemennya lagi.
Tidak lagi.
Aku ingin sekali lagi mengucapkan “Okaeri” saat masuk ke apartemen sempit itu, memeluknya di malam – malam dingin dan berangin.
Tak ada yang percaya ketika aku berkencan dengannya.
Mahasiswi kurus tingkat tiga yang bekerja paruh waktu di stasiun televisi tempat aku syuting News Zero.
Kalau boleh jujur, perkenalan dengannya memang hanya coba – coba saja.
Ia meminta tanda tanganku untuk temannya. Awalnya aku hanya menggodanya saja dengan meminta foto dengannya.
Lalu ia benar – benar datang seminggu kemudian ketika aku menjanjikan untuk mencetak fotonya.
Kupikir gadis ini polos sekali?
Lalu aku pun mengenalnya seidkit demi sedikit. Pertemuan kami juga seringnya di kantor karena ia setelahnya mengambil semua shift kerja setiap hari. Pegawai yang satunya berhenti dan ia mengerjakannya.
Ia gadis yang menarik.
Tidak seperti gadis biasanya.
Ia merajutkan syal untukku. Di lain waktu aku mendapatinya bermain bass. Sebenarnya ia gadis macam apa? Tapi justru itu membuatku tertarik padanya.
Hingga kami sering saling berkirim pesan.
Aku tahu, walaupun awalnya main – main. Pada akhirnya perasaanku tidak lagi main – main.
Ada yang tanya kenapa harus gadis itu?
Dia bukan siapa – siapa.
Bukan juga orang yang terkenal atau secantik semua lawan mainku di banyak film.
Aku tak punya jawabannya.
Bukankah cinta tak pernah butuh alasan?
The never-ending party starts from now
Spread out both your arms
And fly high
Hari itu sehabis konser, walaupun Jun mengajakku after-party aku menolakknya. Karena aku mendapat pesan dari Sora. Bilang bahwa mereka datang.
Setelah ia memutuskanku secara sepihak?
Ada apa dengan gadis itu?
Aku bertanya pada Sora, dimana mereka sekarang?
Sora tak menjawab. Membuat selera pergi ku hilang begitu saja.
Aku tak lagi ingin berpesta. Aku ingin pulang dan berendam di ofuro lalu tidur melupakan semuanya.
Ketika aku sudah merebahkan diriku, sebuah pesan masuk ke ponselku.
“Sebenarnya Satsuki akan berangkat ke Inggris besok…ia dapat beasiswa… Tapi ia tak mau memberitahukannya padamu…”
Rasa kantukku hilang seketika.
Bohong.
Kenapa Sora bebohong seburuk ini?
Tidak.
Ia tak mungkin berbohong untuk masalah seperti ini.
“Sora-chan?” aku meneleponnya untuk memastikan kebenarannya.
Tapi
Kenapa hanya sekolah lalu harus putus denganku?
Kuambil jaketku dan tak peduli sekarang sudah jam dua pagi.
Aku hanya perlu bertemu dengannya.
You are shining
Your sparkling heart
Though always frolicking
In front of this one scene, it might even become timid
“Satsuki…”
Pintu itu terbuka setelah aku memencet beberapa kali bel apartemennya.
Ia berusaha menutup pintunya kembali. Namun sia – sia. Tenagaku tentu saja lebih besar darinya.
“Aku minta penjelasan…” kataku sambil memperlihatkan pesan dari Sora.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan…. semuanya sudah jelas…”
“Lalu kenapa kita harus putus?”
“Sho! Aku ke Inggris hampir tiga tahun… alasan cukup masuk akal kan?”
“Tidak… buatku tidak masuk akal. Walaupun tiga tahun, kita masih bisa berhubungan jarak jauh kan?!” seruku mulai tak sabar.
Ia menoleh, lalu dengan suara pelan menjawabku, “Bodoh. Aku memberimu kebebasan, tapi kau mau?!”
“Satsuki!!!”
“Sudahlah…pulang saja…kita berteman saja… aku tak bisa menjanjikan apapun selama tiga tahun aku pergi…”
Badanku lemas sepenuhnya.
Titik.
Jika sudah begini Satsuki sangat keras kepala dan apapun alasanku ia tak mau mendnegarnya. Menjadi pacarnya selama setahun tentu saja membuatku mengerti bagaimana sifat Satsuki.
With that most beautiful bright white color emitted from you
Try to erase the changing seasons
Softly
Gerbang itu terbuka, aku berdiri menatap setiap orang yang melewatinya. Orang yang kucari berjalan membawa koper besar, terseok – seok karena tak seimbang dengan badannya yang masih saja kurus dan tak terurus.
“Okaeri…” ucapku ketika ia melihatku.
“Ngapain disini?”
“Kata Sora kau pulang hari ini…” ucapku santai.
“Masih jadi stalker ku?” ucapnya menggeleng – geleng tak percaya.
“Aku mau memberikan ucapan selamat datang pada sahabatku…selamat juga atas pernikahanmu disana…” ucapku.
Malam – malam telah aku lewati dengan sangat sedih ketika kudengar dari Sora gadis itu menikah dengan teman satu jurusannya di Inggris.
“Maa… arigatou…”
“Ayo…mumpung tak ada suamimu…aku antar ke rumahmu…” kataku sambil mengangkat kopernya.
“Bodoh. Hahaha… aku pulang untuk mendaftarkan diriku di sebuah perusahaan. Suamiku akan menyusul beberapa bulan lagi,” jelasnya.
Kursi penumpangku kembali terisi olehnya.
Aku tersenyum mengingat lagi empat tahun yang lalu.
“Eh iya…”
Aku menyerahkan sebuah amplop berwarna merah, dengan hiasan – hiasan di amplop tersebut.
“Wah… omedetou ne…”
Sakurai Sho sudah melangkah maju dan menjadikan Satsuki sebagai kenangan terindahku. Aku juga akan menikah bulan depan.
===========
OWARI~
Apa banget ini fict nyaaaa?? =.=
Hahaha…
Biarkanlah…saia bosan dengan genre biasa…hehehe..
COMMENTS ARE LOVE…
Please Don’t Be A Silent Reader…. I really appreciate your comments… 🙂
Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Memories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s