[Oneshot] Time Tells No Lies

Title : Time Tells No Lies

Type : Oneshoot
Author : Anisu-chan
Genre : Fantasy, Angst
Rating : PG-15
Casting : Tegoshi Miwako (OC), Tanaka Juuri (Johnny’s Junior), Yaotome Hikaru (HSJ), Tegoshi Yuya (NEWS), Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Kashiyuka (Perfume), Inoo Kei (HSJ), Nakajima Kento (Sexy Zone)
Disclaimer : The plot is fiction and the title ‘Time Tells No Lies’ is Giriko’s  (character in anime and manga Bleach) fullbring. This fic always use Miwako POV.
Time Tells No Lies
Penyesalan itu selalu datang belakangan, dan pada saat itulah keinginan untuk memutar waktu muncul dibalik rasa penyesalan. Dan pada saat itulah, aku mulai beraksi. Beraksi sebagai dewa waktu yang sering kali diabaikan, tetapi sangat diperlukan jika penyesalan itu muncul.
“Kau yakin ingin kuputar waktumu selama sehari?” tanyaku kepada seorang manusia yang baru saja memanggilku.
“Aku yakin, aku tidak tau jika aku menandatangani surat itu, maka harta warisan ayahku akan jatuh ketangan ibu tiriku.” jawabnya dengan mantap sekaligus curhatannya yang menurutku itu sudah terdengar cukup basi, karena hampir setiap konsumenku mempunyai alasan yang sama seperti itu.
“Apakah kau belum tau? Upah satu menit untukku?” tanyaku dengan angkuh.
Manusia itu menggeleng, “Beri tau! Aku akan memberikannya untukmu!”
“Jika kau ingin memintaku untuk memutar waktumu selama satu hari, kau harus memberikan waktumu selama 1440 tahun untukku.” aku menjawab pertanyaannya masih dengan sifatku yang angkuh.
“Dengarkan aku, Tanaka Juuri. Aku bisa saja memutar waktu untukmu, tapi tidak sampai satu hari. Mari kita hitung, umurmu sekarang kurang lebih 17 tahun, misalnya kau akan mati pada umur sekitar 40 tahun. Satu menit yang kau minta untuk diputar, bayarannya satu tahun umurmu akan berkurang. Jadi, mungkin aku bisa saja memutar waktu untukmu selama kurang lebih 15 menit.”
“Jika aku memintamu memutar waktu selama 15 menit, umurku akan berkurang selama 15 tahun. Jadi, aku mati lebih awal 15 tahun, begitu?” tanyanya dengan pandangan yang terlihat frustasi.
“Benar sekali. Satu lagi, satu kali kau melakukan percakapan denganku, umurmu juga akan berkurang satu tahun. Apakah kau masih mau memutar waktumu, Tanaka Juuri-san?”
“Putarkan waktuku selama 20 menit.” ujarnya dengan tegas, namun aku bisa melihatnya dengan jelas. Tubuhnya bergetar hebat.
“Kau yakin? Aku tidak suka main-main?” tanyaku untuk memastikan manusia yang merepotkan ini.
Tanaka Juuri mengangguk mantap.
“Baiklah, tapi aku tidak bertanggung jawab jika ternyata sisa umurmu hanya tinggal besok. Aku ingin kau meneteskan darahmu diatas kertas perjanjian ini.” keseriusanku mulai bertambah saat transaksi dilakukan.
Tanaka Juuri menusuk jari telunjuknya dengan jarum yang kuberikan, ia meneteskan darahnya diatas kertas perjanjian. Dan perjanjianpun mulai terlaksana, “Sebentar lagi kau akan kembali ke waktu 20 menit sebelumnya, aku harap kau bisa memanfaatkan waktu ini dengan baik, karena umurmu sudah berkurang selama 21 tahun.”
Aku melihat manusia itu mengangguk pasrah dengan keringat yang berkujur ditubuhnya, aku yakin ia takut dengan semua keputusan yang ia ambil. Dan sekarang, urusanku dengannya sudah selesai.
***
“Bersiaplah, besok kau akan mencabut nyawa manusia yang bernama Tanaka Juuri. Dicatatan, umurnya berkurang 21 tahun karena berurusan dengan Dewa Waktu, Tegoshi Miwako. Ia akan mati jam 16:59, karena kecelakaan lalu lintas…” Yaotome Hikaru masih mendengarkan perintah atasannya dengan seksama. Ia adalah seorang Dewa Kematian yang baru bergabung. Besok adalah tugas pertamanya, mencabut nyawa manusia yang sudah ditakdirkan.
“Tanaka Juuri itu adalah konsumenmu yang tadi kan, Miwako?” tanya Hikaru.
Aku mengangguk, “Besok adalah tugas pertamamu kan? Kau sudah siap untuk mencabut nyawa orang?” tanyaku.
“Tentu saja aku siap.” jawabnya dengan singkat dan pergi begitu saja.
“Miwako, kau belum berangkat?” tanya laki-laki yang profesinya sama denganku, Dewa Waktu.
“Aku baru saja pulang, Yuya-nii.”
“Ini tugas baru, bukan yang tadi.”
“Memangnya Dewa Waktu yang ada disini hanya aku saja?”
Tegoshi Yuya, kakak kandungku mengacuhkan pertanyaanku, “Aku harap kau langsung pergi begitu selesai membaca surat tugasmu.”
“Arioka Daiki….” aku membacanya dengan serius. Penyebab konsumenku kali ini, memanggilku karena ia ingin memutar waktunya agar ia bisa kembali dengan kekasihnya. Rupanya ia baru saja putus, pikirku dengan senyum licik yang tersungging dibibirku.
“Hah~ ternyata hari ini banyak sekali orang-orang yang menyesal ya? Sebelum kita melakukan transaksi, aku ingin memperkenalkan diriku kepada konsumen keduaku pada hari ini, Tegoshi Miwako desu.” kataku santai begitu aku sampai didepan konsumenku.
“Kalau dipikir-pikir memanggil Dewa Waktu itu sangat mudah ya? Hanya karena muncul perasaan ingin memutar waktu, tak lama kemudian Dewa Waktu akan datang dihadapan orang-orang yang merasakan hal tersebut. Tapi resiko memanggil Dewa Waktu itu tentu saja sangat berat, karena satu kali percakapan dengan Dewa Waktu, sudah menyita satu tahun umurmu. Belum lagi, jika kau ingin memintanya untuk memutar waktumu. Satu menit waktu diputar, bayarannya itu satu tahun umurmu.” Aku sengaja berbicara panjang lebar, agar orang yang ada didepanku ini tau bahwa Dewa Waktu itu kejam. Singkatnya, aku bangga jika para manusia yang sudah pernah bertransaksi denganku menyebut diriku kejam. Meskipun mereka tidak pernah langsung mengatakan aku kejam, tapi aku bisa melihat jelas dimata mereka.
“Arioka Daiki-san, kau dengar apa yang aku bicarakan tadi?” tanyaku mulai emosi karena omonganku sepertinya sama sekali tidak didengarnya.
“Satu jam lagi ia akan mati, Miwako. Jadi ia tidak akan bisa mendengarkanmu apalagi melihatmu, ia sudah tidak punya waktu untuk melakukan transaksi dengan Dewa Waktu.” Takaki Yuya, seorang Dewa Kematian sama seperti Yaotome Hikaru menjelaskan keadaan konsumenku sekarang.
“Sial, kalau tau begini buat apa Yuya-nii tetap memberikan tugas ini padaku?!” umpatku kesal.
“Karena ia ingin memutar kembali waktunya. Walaupun hari ini ia akan mati, tapi ia tetap bisa memanggil Dewa Waktu walaupun ia tidak dapat meminta apapun dari Dewa Waktu ataupun melihatnya sekalipun.” Takaki menjelaskannya padaku dengan wajahnya yang dingin.
“Ini sama saja mengerjai Dewa Waktu, sial!”
***
“Wah, wah. Jarang sekali lho aku mendapatkan konsumen seorang wanita,” ujarku begitu melihat konsumenku dengan tampang menyesal, sama seperti konsumen-konsumenku sebelumnya.
“Sudah tiga hari ini aku tidak mendapatkan tugas, dan sekarang aku akan mendengarkan permintaanmu, Kashiyuka-san.” aku mulai mengeluarkan auraku yang bisa dibiang menakutkan bagi para manusia.
“A-aku, i-i-ingin me-mu-tar”
Aku tak suka jika waktuku tersita hanya karena mendengarkan ucapan yang tak jelas seperti itu, “Mau berapa lama waktu yang kuputar untukmu?” tanyaku sekaligus memotong ucapannya.
Ia membentangkan kelima jari kanannya, “5 menit? Baiklah. Umurmu akan berkurang selama 6 tahun setelah kau kembali 5 menit sebelumnya.”
Miwako, melihat catatan tentang konsumen yang ada dihadapannya ini. “Jadi kau ingin memutar waktumu agar kau tidak jadi membunuh kekasihmu?”
Kashiyuka mengangguk. Senyum licikku pun mulai tersungging, “Jangan bodoh Kashiyuka-san. Dewa Waktu memang bisa memutar waktu kembali, tapi Dewa Waktu tidak akan bisa memutar waktu hanya karena ingin mengembalikan nyawa seseorang. Ya, seperti kasusmu ini.”
“Aku mohon, kabulkan permohonanku!” Kashiyuka berlutut didepanku, tangisannya pun juga semakin keras.
“Untuk mengembalikan nyawa seseorang bukan urusanku, Kashiyuka-san.” jawabku.
“Aku mohon. Pasti bisa kan jika Dewa Waktu dan Dewa Kematian bekerja sama untuk mengabulkan permohonanku?” Kashiyuka masih tetap kekeh dengan pendiriannya.
“Waktu itu dibayar dengan waktu, jadi bisa saja waktu diulang jika masih mempunyai sisa waktu. Dan kematian itu dibayar dengan kematian, jika ingin meminta nyawa seseorang kembali kejasadnya bisa saja dengan bayaran kematian sang peminta pada saat itu juga. Memangnya kau punya nyawa berapa sehingga menginginkan Dewa Waktu dan Dewa Kematian bekerja sama untuk mengabulkan permohonanmu?” nada bicaraku mulai tinggi. Satu hal yang tidak bisa aku kendalikan sejak dulu adalah mengendalikan emosiku. Emosiku sangat mudah naik.
“Aku mohon kabulkan permohonanku, aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku didalam penajara.” lagi-lagi ia membuatku tambah muak.
Aku mengacuhkannya, disudut kamar tersebut aku melihat Hikaru yang berdiri santai sambil memandang kejadian tadi. “Oi, Hikaru-san. Bisakah kau mengabulkan permohonan gadis ini agar pacarnya bisa hidup lagi?” tanyaku.
Hikaru menangguk, “Dengan beberapa perjanjian. Dan seperti yang kau ucapkan tadi, kematian dibayar dengan kematian.”
“Kalau begitu, urus gadis ini. Urusanku dengannya sudah berakhir.” ujarku dan pergi dari tempat tersebut.
***
Hari ini adalah hari perpisahanku dengan teman terbaikku selama disini, Inoo Kei. Hari ini ia akan dihukum mati, mati untuk kedua kalinya. Ia melanggar peraturan yang sudah diberikan, yaitu mengabulkan permohonan konsumennya, permohonannya itu hampir sama seperti konsumenku seminggu yang lalu, Kashiyuka.
“Jangan takut, Kei. Kau sudah pernah merasakan bagaimana mati kan? Jadi kau tidak perlu khawatir.” aku mencoba menghiburnya sebelum ia diadili.
Kei hanya tersenyum, “Kau benar. Yang penting, konsumenku itu hidup bahagia sekarang.”
“Aku tau konsumenmu itu adalah adik kandungmu saat kau hidup sebagai manusia kan, Kei?”
Inoo Kei mengangguk, “Aku harus pergi sekarang, Miwako. Hukuman pancung akan segera tiba.” pamitnya.
Air mataku menetes begitu melihat kepala Kei menggelinding dari tempat pemancungan tersebut. Sekeras apapun hatiku sebagai Dewa Waktu, aku tetap saja tidak tahan melihat pemandangan tersebut. Inoo Kei, sahabat terbaikku selama aku menjadi Dewa Waktu, harus mengalami kematian untuk kedua kalinya yang begitu menyeramkan.
“Untuk apa kau menangisi pengkhianat seperti itu? Tidak ada gunanya.” kata Yuya-nii yang menasehatiku dengan nada bicaranya yang dingin.
Aku menatap wajah dingin kakakku, “Dewa Waktu tidak boleh cengeng seperti itu.”
“Aku tidak ingin kau seperti itu, Miwako. Aku ingin kita mati bersama lagi seperti kita mati saat menjadi manusia.” Pandangan Yuya-nii sepertinya mulai menerawang kejadian saat aku dan Yuya-nii mati bersama karena kecelakaan pesawat. Dan setelah itu, aku tidak tau mengapa aku bisa menjadi Dewa Waktu. Memoriku akan hal tersebut sepertinya sudah terhapus secara permanen didalam otakku, dan lagipula tidak ada gunanya aku mengingat hal tersebut.
***
“Hah? 76 tahun? Memangnya dia masih punya berapa banyak waktu buat minta waktu diputar kembali?”
“Hei, Hikaru. Jangan bilang orang ini akan mati sebentar lagi?” tanyaku. Aku tidak akan melaksanakan tugas ini jika konsumenku akan mati sebentar lagi. Itu percuma saja namanya.
“10 tahun lagi. Cepat laksanakan saja tugasmu.” usir Hikaru sambil mengibaskan tangannya kearahku.
“Hai, hai, Hikaru-sama.” ujarku dengan malas.
“Oyasuminasai, konsumenku yang tertua. Berapa waktu yang kau perlukan agar cucumu tidak jadi kecelakaan dan sedang tidak dalam keadaan kritis seperti saat ini?” tanyaku langsung pada topik pembicaraan.
“9 menit. Karena 9 menit yang lalu aku dan cucuku sedang berada didalam rumah.” Kata Kakek tersebut dengan wajah yang sangat khawatir. Sedikit perasaan tidak tega begitu mendengar perkataannya tadi, karena hanya beberapa hari lagi ia bisa menghabiskan waktunya bersama cucunya jika ia menyetujui perjanjiannya denganku.
“Baiklah, waktu 9 menit sebelumnya akan kuputar kembali. Jadi, umurmu berkurang 10 tahun. Dan bersiaplah untuk menemui kematian yang sebentar lagi akan menghampirimu. Bagaimana?” rasa tidak tega itu pun segera ku tepis begitu ku ingat statusku sekarang ini, Dewa Waktu.
Kakek tua itu mengangguk, “Aku sudah terlalu tua. Aku juga sudah siap untuk mati.”
“Kalau begitu mari kita mulai perjanjian kita,” senyuman licik pun tersungging lagi setiap aku memulai perjanjian dengan konsumenku.
***
“Biar aku saja yang menyelesaikan tugas ini, aku tak ingin Miwako melakukan kesalahan yang fatal saat melakukan tugas ini.” suara Yuya-nii terdengar samar-samar dibalik pintu, aku tak tau ada apa sebenarnya, tapi biar sajalah Yuya-nii yang melakukan tugas kali ini. Lagipula aku sedang ingin bersantai sejenak saja, karena belakangan ini sangat banyak manusia yang meminta waktu diulang kembali.
Aku memulai hari yang indah ini, hari tanpa tugas dengan tidur dikasurku yang empuk. Perlahan, mataku mulai menutup.
“Daisuki,” kataku dengan lantang didepan laki-laki yang kusukai.
Laki-laki itu membalasnya dengan senyuman manis, mungkinkah senyumannya itu menjadi awal hubungan yang baik antara aku dengannya. Pikiran itu terus berputar-putar dikepalaku sebelum ia menjawabnya.
“Boku mou,” ucapnya, ia memberikan jawaban yang sangat aku inginkan.
Aku pun mulai memejamkan mataku, siapa tau saja ia ingin menciumku. Bukankah itu hal yang biasa dilakukan kepada orang-orang yang baru memulai hubungan sebagai kekasih. Ya, seperti aku ini dan kekasihku yang baru.
***
“Hari ini aku ingin pergi ke Jerman bersama Yuya-nii, kami ingin mengunjungi orangtua kami.” kataku.
Wajah kekasihku tampak gelisah, “Mengapa harus kalian yang mengunjungi orangtua kalian?”
Aku hanya membalas kalimat kegelisahannya dengan senyum manisku, “Aku tau, kita baru memulai hubungan sekitar satu bulan. Jadi maunya nempel terus begini. Hahaha.”
Ia menarik tanganku, menciumku dengan lembut dan hangat, “Aku tidak mau kehilanganmu, Miwako.”
Satu kalimat yang diucapkannya itu, mengapa membuatku menjadi sesak seperti ini?
“Miwako, Miwako! Bangun, Miwako.”
Ah, ternyata mimpi. Mimpi yang dulunya adalah kejadian nyata semasa aku hidup sebagai manusia.
“Miwako, daijobu ka?” tanya Yuya-nii, wajahnya tampak sedikit mengkhawatirkanku.
Aku mengangguk, dan memberikan senyuman untuk Yuya-nii.
“Yokatta, aku khawatir jika sesuatu terjadi padamu.” Ini adalah pertama kalinya Yuya-nii mengkhawatirkanku selama aku dan dia menjadi Dewa Waktu. Ada apa dengan Yuya-nii ya? Pikirku.
“Gomen, aku mengganggu waktu istirahatmu. Tapi, ini ada tugas yang harus kau kerjakan. Sebenarnya aku sudah meminta izin kepada Yamada-san untuk menggantikanmu melakukan tugas ini. Tapi ia melarangnya.”
“Ah, baiklah. Mana catatan tentang konsumen yang baru itu?”
Ada suatu hal yang mengganjal, tak biasanya catatan tentang konsumen yang akan kutemui dalam keadaan robek seperti ini, “Tadi aku tidak sengaja menariknya, jadi robek seperti ini. Tapi tenang saja alamatnya masih tertulis jelas.” kata Yuya-nii yang sepertinya tau apa yang aku pikirkan.
“Kau harus berhati-hati dalam melakukan tugas ini, Miwako. Jangan pernah melakukan kesalahan fatal seperti temanmu dulu.” Yuya-nii memperingatiku dengan wajah yang sangat serius.
“Hai, aku pergi dulu,” jawabku sekenanya.
***
“Tempat ini sepertinya tak asing bagiku,” kataku lebih pada diri sendiri.
Dari kejauhan, aku melihat seorang laki-laki yang masih terus menangis didepan pemakaman yang cukup lama. Aku langsung menghampirinya, lagipula ia sedang sendiri disana.
“Katakan, berapa lama waktu yang ingin kuputar untukmu?” tanyaku tanpa basa-basi.
Laki-laki itu langsung mengadahkan wajahnya kearahku, wajah yang sangat aku kenal. Nakajima Kento, pacarku saat aku masih sebagai manusia.
“Apakah kau Dewa Waktu?” tanyanya, matanya tampak merah karena menangis.
Aku mengangguk, aku pun masih tidak percaya siapa konsumen yang ada didepanku ini. Mungkinkah Yuya-nii sengaja merobek catatan tadi agar aku tidak kaget begitu tau siapa konsumenku?
“Benarkah? Mengapa wajahmu sangat mirip Miwako? Apakah kau Miwako?” tanyanya yang justru membuatku ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya. Tapi aku tidak bisa, seorang Dewa Waktu tidak bisa pergi saat melaksanakan tugas.
“Aku ini Dewa Waktu, cepat katakan berapa lama waktu yang ingin kuputar untukmu?” aku mengulang lagi pertanyaanku.
Laki-laki itu melihat batu nisan yang ada dihadapannya, “Aku ingin kembali diwaktu lima tahun yang lalu.” jawabnya tanpa ragu.
“Aku tidak bisa memutarnya selama itu, karena upahku untuk memutar waktu satu menit adalah satu tahun umurmu. Dan umurmu tidak akan mungkin mencapai ribuan tahun,” nada bicaraku terdengar menyesal, pertama kalinya aku menghadapi konsumen dengan selembek ini. Jika Yuya-nii tau mungkin ia akan marah padaku.
Laki-laki itu menangis lagi, “Aku ingin Miwako kembali padaku! Sudah lima tahun aku tak bertemu dengannya, ku kira ia menetap diJerman bersama kedua orangtuanya tanpa memberikan kabar kepadaku. Tapi ternyata ia sudah meninggal.”
Aku memperhatikan nama di batu nisan tersebut, ‘Tegoshi Miwako’. Ini kuburanku?
“Aku sangat mencintainya, tolonglah aku, wahai Dewa Waktu.” Nakajima Kento mulai berlutut dihadapanku, airmatanya pun semakin deras.
“Andai aku bisa memutar waktu selama itu, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu. Karena aku juga ingin hidup sebagai manusia bersamamu, Kento.” air mataku mulai mengalir.
“Miwako?”
Aku mengangguk, “Katakan berapa lama waktu yang ingin kuputar untukmu? Tolonglah sebutkan, agar aku bisa menyelesaikan tugas ini.”
“Empat puluh lima menit,”
“Maafkan aku, umurmu hanya tersisa tiga puluh tahun saja.”
“Kalau begitu tiga puluh menit,”
***
OWARI
Yay, tamat walaupun endingnya gantung hehehe ^^V

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s