[Oneshot] Can I Be His Boyfriend?

Title: Can I Be His Boyfriend?

Author: vinaJUMP
Genre:  dari judul udah ketauan kalo ini yaoi
Rating: PG-13
Cast: HS7
Disclaimer: Orangtua masing-masing cast
 
Can I Be His Boyfriend?


Aku Chinen Yuri. Member idol group yang cukup terkenal di Jepang. FYI, ayahku pemegang medali olimpiade senam atletik internasional dan ibuku seorang penari balet. Tentu saja akrobat itu hal termudah yang bisa kupelajari, karena aku telah dianugerahi tubuh yang begitu lentur. Alhasil, bukan hanya terlihat heroik, namun karena kemampuan akrobat dan wajahku aku berhasil masuk audisi Johnny’s dan bertemu Ohno-kun. Tidak cuma itu, aku juga menemukan harta karun yang berharga. Aku sempat membenci wajah dan suaraku. Tapi tidak untuk sekarang. Aku menganggap bahwa wajahku ini adalah hal yang penting. Anugerah terbesar kedua dalam hidupku.  Tentu saja, anugerah terbesar pertama adalah ‘harta karunku’. Harta terindah yang benar-benar ingin kumiliki.
Ingin tahu apa itu ‘harta karunku’? bukan apa, tapi siapa. Lihat? Anak yang menggenggam sekotak penuh strawberry yang sedang bercanda dengan sahabat terdekatnya,cowok bongsor bernama Nakajima Yuto-kun.
                Yamada Ryosuke. Ya, dia cowok. Cowok terkeren di dunia.  Aku tidak peduli apakah aku normal atau tidak, karena disini, hanya aku yang tahu perasaan ini. Menyatakan perasaan? Haha, itu hal yang mudah bagiku. Tapi aku tidak bisa egois. Kalau aku menyatakan perasaanku, bisa saja Yamachan tersinggung karena mengira aku menganggapnya tidak normal. Kan?
 Argh, mereka terlalu dekat. Aku tidak tahan melihat keakraban Yamachan dan Yuto-kun. Kudatangi mereka dan duduk dipangkuan Yamachan. Mereka berdua tersenyum gemas padaku. Aku merasa mereka berdua menganggapku sebagai adik bungsunya. Aku pun begitu, menganggap Yuto-kun sebagai kakak cowok terbaikku. Untuk yamachan? Tentu saja aku menganggapnya sebagai lelaki diantara para lelaki. Akupun ikut bercanda bersama mereka. Inilah keseharianku, dan aku cukup nyaman dengan keadaan ini. Namun aku berharap suatu saat akan lebih dari ini. Tentu saja, Chinen Yuri si prefeksionis akan melakukan cara terbaik untuk mendapatkan harta karunnya.
“ne,chii.. hari ini SMAPxSMAPnya ngedatengin Justin Bieber lagi lho” ujar Yuto-kun.
“eh?” kutekan berkali-kali tombol-tombol di remot kontrol.
aku jarang menonton tv, jadi aku tidak tahu acara SMAPxSMAP ada di channel berapa. Yuto-kun dan Yamachan bertatapan, lalu tertawa kecil melihat tingkahku. Yamachan lalu memencet tombol 6 di remot kontrol. Otomatis telapak tangannya menyentuh tanganku dan membuat jantungku berdegup kencang. Wajahku pasti memerah.
Pagi yang baik untuk memulai hari yang indah, pikirku.
Namun sepertinya hari ini tidak seindah yang kupikirkan. Selesainya Hey! Say! 7 berlatih dance untuk konser JUMP minggu depan, aku, Yuto-kun, Ryutaro dan Keito beristirahat sebentar dengan mengobrol sementara Yamachan sedang berlatih dance untuk lagu solonya.
“Yuto-kun, aku mau tanya. Tapi jangan tersinggung ya. Boleh nggak?” Ryutaro memulai percakapan.
Yuto-kun menganggukkan kepalanya. “boleh aja”
“ano .. yuto-kun ..” ucap Ryutaro terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Yuto-kun dan Yamachan.. paca.. ran? ”
DEGG
pertanyaan Ryutaro menusukku. Aku yakin itu tidak benar, tapi melihat kedekatan Yuto-kun dan Yamachan.. argh, aku jadi ingin tahu, tapi takut juga mendengar kepastian hubungan mereka.
“kenapa kamu pikir begitu? ” wajah polos Yuto-kun terlihat kaget dan memerah.
Ryutaro terkekeh, “eh, bukan ya? Abis kalian deket bangetsih, maaf deh. hahaha ”
“mana mungkin Ryuu, aku dan Yamachan itu sahabatan. Lagipula kita sesama cowok jadi nggak mungkin ka…”
Yuto menghentikan kata-katanya dan menunduk lemas.
“ya ..” ucarnya pelan
Rasanya seperti kilat yang menyambar. Ini pasti bohong. Yuto-kun memang suka bercanda kan?
“EHH??” ucap Ryutaro.
Dadaku sesak. Aku terkejut dan tidak percaya, tidak ingin percaya. Ingin menangis rasanya.
“ya, aku dan Yamachan pacaran. Aku menyadari perasaanku padanya 5 tahun yang lalu, kami pacaran 3 tahun yang lalu, dan baru kalian yang tahu hal ini.” Jelas Yuto-kun.
“Yuto-kun, bercandamu nggak lucu” ucapku sok santai, mencoba lari dari kenyataan.
“Itu benar lho. Aku udah tahu dari awal tahun kemarin. Aku nggak sengaja dengar percakapan Yuto dan Yamachan. Maaf, Yuto.” Ujar keito berhati-hati.
Aku merasa tidak mampu lagi menahan air mataku. Aku berlari ke toilet dengan menutup wajahku yang merah dan berkaca-kaca.
“CHI.. CHINEN! Mau kemana?” Yuto-kun tersentak dan mengejarku.
Aku tak dapat lagi menahan air mataku. Kubiarkan air mata ini keluar, mewakili emosiku. Juga perasaanku pada Yamachan. Aku harap perasaan sukaku kepada Yamachan ikut terbawa arus air mata ini dan sirna dari pikiranku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mau merusak hubungan mereka. Yamachan orang yang kusuka, tidak mungkin aku membiarkannya sedih karena dibenci Yuuto. Dan tentunya, aku tidak ingin persahabatanku dan Yuto-kun hancur karena cinta segitiga sesama jenis seperti ini.
Kacau. Pikiranku benar-benar kacau saat ini. Aku hanya bisa terisak di dalam toilet.
“Chii? Daijobu?” suara Yamachan sontak membuatku bergegas menghapus air mata dan mengkentikan tangisku.
“ah, maaf Yamachan, aku mau sendiri dulu sekarang. Tolong tinggalin aku.”
“eh.. maaf” nada suara yamachan seperti merasa bersalah. Langkah kaki pun terdengar menjauhi toilet.
BLAM—
Refleksku membuka pintu toilet dan berlari keluar.
“YAMA-CHAN! ” sepertinya suaraku terlalu kencang. Yamachan menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
“ya, chii? Kamu sakit ya? Istirahat dulu yuk. Kalau mau sesuatu bilang aja, nanti aku kasih deh.”  ujar Yamachan sambil tersenyum ceria dengan menodongkan jempolnya.
Terlalu baik. Kumohon, Yamachan. Jangan membuatku meleleh. Jangan membuatku semakin mengharapkan hak kepimilikan atas dirimu. Jangan membuatku semakin jatuh cinta kepadamu. Itu hal paling menyakitkan dalam hidupku.
Tik…
Butiran airmataku jatuh ke lantai. Rupanya aku kembali menangis.
“chinen.. daijoubu?” raut wajahnya khawatir. Langkahnya mendekatiku.
Aku mundur, menjauh.
“tinggalkan aku, Yamachan.. ” ucapku
“eh?” Yamachan bingung sekaligus merasa bersalah melihat keadaanku.
“kubilang tinggalkan aku. Sekarang aku nggak ingin diganggu. Meskipun oleh orang yang kusukai. Apalagi orang yang kusukai sudah punya pacar, cuma akan menimbulkan rasa sakit kalau kamu terus disini.” Tangisku semakin menjadi-jadi.
Raut wajah Yamachan memerah. Seperti orang yang sedang bingung sekaligus malu. Oh tidak, aku tidak sengaja mengutarakan perasaanku. Bodohnya diriku, mengutarakan perasaan dalam situasi seperti ini. Bagaimana kalau Yamachan akan membenciku. Sungguh memalukan. Rasanya ingin menghilang dari muka bumi saja.
“chii, kamu …”
Aku berbalik arah, membelakangi Yamachan.
“pergi” ucapku berat.
Yamachan justru mendekatiku dan memutar balik tubuhku. Tangannya yang hangat diletakannya di kedua lenganku yang berbalut hem pink-biru.
“apa maksudmu suka? Tolong jelaskan.”
“Tidak usah pura-pura tidak tahu, Yamachan. Aku tahu kau hanya ingin mengolokku.” Ucapku, dalam hati. Tidak mungkin jugalah aku mengeluarkan kalimat seperti ini kepada orang yang paling kusukai. Bisa-bisa aku semakin dibencinya, dan semakin sakit perasaanku.
“bukan apa-apa, pergilah”—
Itulah yang terucap dari bibirku ini. Kutundukkan kepala, tak peduli sekarang seperti apa wajahku. Mungkin yang terlihat adalah mata lebam membengkak dengan wajah merah orang menangis, sangat-tidak-Chinen-Yuri.
Bukannya pergi meninggalkan tempat ini, Yamachan justru mengusap pipiku dengan ibu jarinya, mencoba menghapus air mataku.
“Yamachan, tidak membenciku?”
“membencimu??”
Kedua tangannya menepuk bahuku. “membencimu itu hal tersulit bagiku, Chii”
“karena aku rekan satu tim-mu?”  celetukku.
“bukan, tapi karena kamu Chinen Yuri.” Jawabnya.
“memangnya kenapa dengan namaku?”
Yamachan memelukku. Tubuhnya yang cukup besar sediki membuatku sesak.
“Yam.. Yamachan”
Yamachan melepaskan pelukannya. Tangannya masih bertengger dipundakku.
“bukan karena namamu, tapi karena dirimu. Kamu selalu berusaha membuatku memusatkan perhatianku padamu. Sejujurnya aku tertarik, aku diberadakan pada dua pilihan dan baru kali ini aku beranikan diri untuk mengatakannya”
Tangannya kembali melingkar di punggungku.
“aku suka kamu”, bisiknya.
Aku tersenyum malu dan membenamkan wajahku di pundaknya. Seperti mimpi, Yamachan berkata terang-terangan kalu dia suka padaku.
Tidak tidak tidak. Dunia ini bukan Cuma milik kita berdua. Ada Yuto-kun, kekasih Yamachan. Apa yamachan tidak memikirkan perasaan Yuto-kun?
Kulepaskan pelukannya yang begitu erat.
“ne, Yamachan. Bagaimana dengan Yuto-kun?”
“Tidak masalah bagiku” suara Yuto-kun dari balik pintu mengagetkanku. Ternyata dia menguping pembicaraanku dengan yamachan.
Yamachan tersenyum. “lihat?”
Kupikir yamachan benar-benar tidak sensitif. Kata “tidak masalah” kan bisa berartikan “terserah kau” dalam artian negatif, bagi seorang kekasih yang sedang ngambek dengan pacarnya.
“Yuto-kun, aku bisa jelaskan ini semua kok..” ucapku panik.
Yuto-kun menggelengkan kepala dan tersenyum. “aku udah tahu semuanya kok, Chii. Dari ketertarikan Yamachan padamu, sampai rasa sukamu terhadap Yamachan. Aku serius, sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Karena aku juga suka padamu, Chii”
Ini baru namanya petir yang menyambar. Hari ini aku menembak orang yang kusukai, balik di tembak, dan ditembak oleh rivalku sendiri.
“ah, ano.. jangan salah paham, Chii. Aku menyukaimu sebagai saudara, yang paling kusuka jelas Yamachan” ucapnya polos. Yamachan tersenyum.
“dan lagi, aku dan Yamachan udah ngomongin hal ini sebelumnya, dan kita sepakat untuk memasukkanmu kedalam hubungan percintaan kita. Dan ternyata, ini momen yang pas.” lanjut cowok bongsor ini. Senyum polosnya menghapuskan kesan ‘rival’ dimataku.
Aku melongo. Apa maksudnya semua ini? Apa kehidupanku yang sudah rumit akan semakin bertambah abnormal dan sekarang ..
“Pacaran bertiga, tepatnya.” Ujar Yamachan riang.
Aku hanya bisa mengulang perkataan Yamachan dengan terbata-bata. Yuto-kun mencubit pipiku, gemas dengan reaksiku yang seperti orang bloon— melebihi dirinya.
“nah, sekarang boleh kan aku memiliki kalian berdua?” ucap Yamachan dengan senyum mesumnya.
“dasar”
Aku mendekatkan wajaku ke pipi yamachan dan—
CHU—!
Ciuman dariku mendarat di pipi kiri dan ciuman Yuto-kun mendarat di pipi kanan Yamachan.
Ternyata bukan Cuma soal makanan, dalam percintaan pun Yamachan maruk juga ya.
-end-
Advertisements

One thought on “[Oneshot] Can I Be His Boyfriend?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s