[Oneshot] Sekaiichi Baka Otoko no Ko

Title:  Sekaiichi Baka Otoko No Ko
Author: vinaJUMP
Pairing: ryuuxjuuri, ryuuxyuuta
Genre: friendship. Nyerempet dikit ke shonen ai sih 😛
Rating:  G
Disclaimer: semua tokoh disini milik johnnys sama amuse.  Tapi yuuta sama ryuu saling memiliki
warning: banyak typos, ada yaoi nyelip

Sekaiichi Baka Otoko No Ko


Kututup buku sejarahku. Setelah belajar sejarah jepang untuk ulangan besok, kuputuskan aku langsung tidur siang. Yah, setelah di suspend oleh agensiku, aku lebih banyak waktu luang di hari minggu seperti ini. Membosankan. Damai sih, walaupun tidak jarang juga aku merindukan pekerjaanku. Sudah pasti  aku merindukan kakak-kakakku di Hey! Say! JUMP juga. Apa boleh buat ya, ini salahku sendiri kok. Bukan salah majalah laknat Shunkan Josei yang membeberkan skandal ‘merokok dibawah umur’ku itu, yang telah merusak hidupku –err maksudku membantu klancaran kerusakan hidupku yang super damai saat itu. Perusak utamanya sudah jelas seorang remaja labil didalam diriku. Seorang anak kecil yang terlalu ingin cepat mnjadi dewasa. Dengan cara menghisap sebatang rokok saat usiaku masih 15 tahun, yah, tahun 2010. Hei yang mulia Kitagawa Johnny, itu skandal tahun lalu,kenapa kau menghukumku sekarang, kakek tua sialan!

Oke, lupakan itu. Itu kejadian 2 bulan yang lalu. Sekarang aku punya prioritas yang sepertinya agak lebih penting daripada meratapi nasib. Fuck yeah, pendidikan. Aku masih 16 tahun dan menurut aturan pendidikan di Jepang, aku wajib sekolah dan duduk di bangku kelas 1 SMA. Dalam masa skors ini aku bukanlah artis, aku plajar biasa. Namun aku tetap berada di kelas 1D, kelas khusus artis di SMA ter elit se-Jepang, Horikoshi gakuen. Fikirku, mungkin sebentar lagi aku akan dipindahkan dari kelas artis sementara atau bahkan selamanya. Mungkin karena aku masih milik Johnny’s Entertainment ya. Intinya, aku tidak mau ambil pusing dengan hal-hal tidak jelas seperti itu. Tanpa ambil pusing pun aku sudah merasa down sekarang. Ayahku bilang, masa skors ini lebih baik dijadikan sebagai suatu sksempatan untuk fokus dan unggul di bidang akademik. Akupun maunya begitu. Namun isi pikiranku masih kacau, atau mungkin makin kacau, sejak khadiran si ‘ stronza’.

Drrtt .. drrrrtt..

“ah, email”

===================

From     : Stronza

Subject :  bosaaaaaannn ~

Ryuuchan, bosan berat nih, main yuk!

==================

Stress? Tertekan? Hell, sudah pasti aku, selaku remaja labil merasakan hal-hal seperti itu. Tepatnya, hal-hal seperti itu kurasakan sebelum kedekatanku dengan Yuuta. Rasa tenang, gugup dan senang lah yang akhir-akhir ini aku rasakan. Mungkin sekarang kami lbih dari teman, aku harap dia juga berpikiran begitu. Berbeda denga dua bulan yang lalu, kami tidak prnah saling menyapa sejak awal tahun ajaran baru. Yuuta yang punya teman satu agensi yaitu Nishii Yukito-kun, begitu aktif dan ceria. Sedangkan yang super moody ini selalu menganggap dia bodoh dan mengganggu karena lawakan garingnya di kelas, aku lebih memilih sok stay cool. Suatu momen pertemuan kami berdua merubah pola pikirku. Pola pikir tentang dia, maupun kehidupanku sendiri.

flashback

Pagi ni rasanya malas melakukan apapun, termasuk sekolah. Gosip tntang skandalku menyebar luas dimana-mana, bahkan sebelum aku tahu kalau fotoku saat di pojokan supermarket yang sedang menghisap sebatang rokok itu terpampang di majalah Shunkan Josei. Majalah yang telah menghancurkan hidup kedua (mantan) senpai satu agensi ku, Kusano-san dan uchi-san. Aku hanya diperingatkan oleh pihak Johnny’s semalam, tidak tahu seberapa lama aku akan diskors dari kegiatan entertainment ku. Yang aku tahu, pihak kakek tua itu tetap menyekolahkanku di Horikoshi.

Kurebahkan kepalaku di meja.  Kulihat juuri berjalan ke arah bangkunya –yang berada tepat di depan bangkuku. “pagi, Ryuu”, sapanya. “kau tidak apa-apa kan?” raut wajahnya mengkhawatirkanku. Sudah kuduga, semua orang tahu duluan tentang skandalku, sebelum aku –si tersangka .

“pagi, Juuri. Tidak apa-apa kok, sama sekali tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Aku memberinya sebuah senyuman kecil. Senyuman yang dipaksakan. Aku tidak bisa tersenyum tulus disaat begini. Namun, aku juga tidak mau semua orang mengasihaniku. Padahal smua orang mungkin tahu kalau aku remaja labil yang lemah. Hanya gengsiku saja yang besar.

Juuri menatapku. Wajahnya tidak tenang.

“nee, juuri. Aku ke UKS dulu ya. Aku sedikit pusing. Jaa.” Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas. Sudah kuputuskan hari ini aku akan membolos di UKS sejak jam pertama. Aku akan melakukan hal apapun, entah itu tidur, mmbaca majalah, membaca manga atau bermain game di ponsel. Apapun yang dapat menghilangkan stressku, heck yeah selain merokok.

Juuri mengejarku dan menggandeng tanganku. “daijobu? Kuantar ya, kayaknya kamu gak sehat banget hari ini.”

“Daijobu dayo. Tenang aja, UKS dekat dari sini dan aku tidak akan pingsan sebelum sampai di sana. Kau terlalu khawatir.” Kuacak pelan kepala Juuri. Juuri mengambil tanganku dari kepalanya. “tapi–“

“Nanti kau malah ketinggalan pelajaran, Juuri. Anak bermasalahnya kan aku, biar aku saja yang membolos. Masa aku mau mmbawa anak orang ikut membolos bersamaku.” Aku memotong kalimatnya tadi. Juuri hanya diam spechless. Aku tahu sebnarnya Juuri juga ingin membolos, tapi dia tak akan membiarkan aku dituduh orang sebagai teman yang membawa pengaruh buruk jika ia ikut membolos. Biar aku saja yang menjadi anak nakal, anak nakal yang sebisa mungkin tidak merugikan orang lain.

________________________________________________________________

Bruuk~ kurebahkan tubuhku di kasur UKS yang sedikit keras. Tepatnya, keras di bagian tertentu dan permukaannya tidak rata. Lebih parah lagi, kasurnya bisa bergerak. Ah, aku pasti berhalusinasi karena banyak pikiran. Bukan. Bukan kasurnya yang bergerak tapi aku menindihi orang yang tidur duluan di kasur UKS yang kukira kosong ini. Mana aku tahu kalau ternyata ada orang tertidur tengkurap dan seluruh tubuhnya tertutup selimut  disini. Gawat. Aku harus pindah ke kasur sbelah dan berpura-pura tidur sebelum orang ini 100% bangun.

Aku segera beranjak dan –

“hei .. jangan.. pergi ..” orang yang tadi kutindih mencengkeram lenganku. “GYAAAAAAA!!!!!” refleks aku teriak dan sepertinya cowok itu kaget kemudian trbangun.

“ah, gomen!” ia melepas cengkeramannya dan membuka selimut yang mnutup bagian kepalanya. “eh .. Morimoto-kun?” ia segera bangun dan duduk di tepi tempat tidur UKS.

Ternyata dia teman sekelasku, Koseki Yuuta, anak Tenimyu asuhan agensi Amuse. Aku sedikit lega karena kejadian yang sedikit memalukan tadi terjadi dengan orang yang sudah aku kenal. Walaupun hanya sekedar kenal. Anak ini aneh. Dari tadi dia memandangiku sambil trsenyum-senyum sendiri. Aku agak bergidik sih, tapi aku sudah berdosa dengannya saat menindihnya tadi. Aku tidak mau menambah dosa dengan mengumpat di dalam hati.

“kenapa memandangiku seperti itu, Koseki-kun?” tanyaku.

“tidak apa-apa, aku hanya berfikir kalau wajahmu itu khas Johnny’s ya, bishounen. Walaupun kau keren, tapi wajahmu  masih seperti anak-anak, babyface. aku ingin punya wajah begitu.” Jawabnya sambil tersenyum lebar.

“eh?? Padahal aku lebih ingin punya wajah keren dan dewasa sepertimu. ” jawabku. Koseki hanya tersenyum dan berkata, “yaah, semua orang bilang begitu. Aku memang tidak mensyukuri hidup ya. Hahaha.” Aku tahu kalimat terakhir koseki hanya bercanda atas kenarsisannya. Bukan Koseki namanya kalau tidak mensyukuri hidup. Kan?

“adudududududuh… sakit!sakit!sakit!” Koseki memegangi perutnya dan berguling-guling di kasur UKS itu. Sepertinya sakit sekali.

“anoo .. koseki-kun, kenapa?” tanyaku dengan sedikit rasa kasihan melihat ekspresi menderita Koseki Yuuta, mungkin sesuatu yang jarang  terlihat.

“tidak apa-apa kok, biasa lah nyeri haid.. aduhaduhaduh” jawabnya sambil tetap memgangi perutnya. “oh begitu ..”  jawabku asal.
“EH???! Nyeri haid? Kau kan cowok masa haid??” aku mulai bergidik. Baru sadar dengan jawaban Koseki tadi.

“hehe, bercanda. Aku tidak haid kok, cuman usus buntuku kambuh.”
Cuma? Usus buntu ‘Cuma’? Sempat-sempatnya anak ini bercanda saat menderita begini. Entah kenapa aku iri dengan anak ini. Aku yang hanya diskors oleh agensi karena ulahku sndiri saja kesalnya bukan main.

“koseki-kun, apa tidak dioperasi saja?” tanyaku. “kelihatannya sakit sekali”.

“panggil stronza saja. Kalau sakit masih bisa aku tahan, tapi kalau operasi  kayaknya aku belum siap.” Jawabnya enteng. “stronza? Aneh sekali. Kupanggil yuuta saja ya?”

sepertinya aku mulai bisa menerima anak ini. Bahkan kagum. Atau mungkin lebih dari kagum. Walaupun konyol dan kekanakan, pribadinya dewasa. Aku harus belajar banyak dari dia. Belajar menikmati hidup tanpa melanggar aturan.

Beruntung aku tidak dikeluarkan oleh sekolah. Setidaknya aku masih punya satu kesibukan ditengah masa skors ku dari kegiatan entertainment. Aku bisa fokus dalam kehidupan pendidikanku, juga punya banyak waktu senggang. Dan beruntung lagi, karena aku masih bersekolah di SMA horikoshi, aku bisa bersahabat mungkin lebih dari sahabat dengan yuuta –cowok tinggi besar brsuara berat dan keren namun polos, atau lebih tepatnya bodoh dan konyol. Koseki Yuuta. Wajahnya tampan dan sedikit sangar namun selalu memasang tampang polos dan –uhm, moe. Mungkin ini sedikit jawaban dari rasa penasaran dan iriku terhadap yamachan, yang memiliki sahabat baik setulus yuuto-kun. Setidaknya yuuta dan yuuto hanya berbeda 1 huruf. Haha, tidak lucu.

======================

Reply to : Stronza

Subject :  bosaaaaaannn ~

Sama. Yosh, ayo ke game centre~

=====================

-owari-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s