[Oneshot] Me, Him And My Brothers

Title        : Me, Him and My Brothers
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot
Genre        : Romance *ayey~*, Shounen Ai (My first warning!!!)
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Yabu Kota (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Kanagawa Miki (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Yabu Kota, Chinen Yuri and Inoo Kei are belong to Johnny’s & Association, Kanagawa Miki adalah OC yang aku pinjam dari Nadia. I just own the plot!! Mengandung konten cinta sesama pria ya kawan2… (my second warning) Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… please comments… Thanks.. ^^
Don’t Like Don’t Read~ 🙂

Me, Him And My Brothers

“Miki…ayo bangun….”

Suara pemuda itu terdengar jelas di telinga gadis bernama Miki itu.

“Hmmm…lima menit lagi….” keluh gadis itu bergelung lagi di selimut tebalnya, tak ingin kebersamaannya bersama ranjang itu berakhir begitu saja.

“Tapi sudah jam delapan…ayo bangun cantik…” bujuk si pemuda tak mau kalah.

“Hmmm…gak mau…” Miki menutupi tubuhnya dengan selimut itu.

Si pemuda belum juga mau menyerah, ia menarik selimut yang dipakai Miki.

“Kanagawa Miki!! Sudah jam setengah delapan!! Cepat bangun!!” kini pemuda kurus itu tak lagi sabar.

Miki mengerjapkan kelopak matanya beberapa saat, melihat sosok pemuda yang ia kenal sebagai kakaknya itu melotot ke arahnya.

“Iya Kou-Nii…gak usah teriak – teriak!!” ujar Miki dengan mood yang tidak baik pagi ini.

Miki bersungut – sungut menuju kamar mandi. Ia melewati Inoo yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Miki memang sudah tidak punya orang tua. Ketika Mamanya meninggal dan Ayahnya menikah dengan orang yang tidak ia kenal, ia memilih untuk tinggal bersama kakak semata wayangnya yang berbeda Ayah. Ia tak mau ikut bersama Ayahnya, ia tak suka harus ada orang lain mengurusnya. Lagipula ia dan Yabu sudah bersama sejak kecil, sekarang setelah kakaknya itu bekerja, ia diperbolehkan tinggal bersama kakaknya itu.

Setelah siap – siap, Miki keluar dari kamar mandi sudah berpakaian sekolah lengkap.

“Nanti sore kau ada les ya? Mau dibuatkan bekal double?” tanya Inoo sambil tersenyum memakai apron nya.

“Tak usah Kei-Nii…biar aku makan diluar saja sebelum les…” jawab Miki sambil duduk di meja makan.

“Kau jangan banyak makan makanan yang tidak sehat Miki-chan,” tegur Inoo sambil menutup tempat bekal miliknya, milik Yabu dan milik Miki.

Setiap pagi memang Inoo Kei yang selalu membuatkan bekal untuk mereka. Perannya di rumah ini sudah seperti Ibu bagi mereka.

“Pagi sayang…” Yabu menghampiri Inoo dan memberi kecupan sekilas di bibir pemuda bernama Inoo itu.

Miki menghela nafas, pemandangan seperti ini harus ia lihat setiap hari. Yabu memang mencintai Inoo, mereka partner sekaligus kekasih. Memang Miki tak keberatan, toh itu memang pilihan kakaknya, lagipula Inoo juga sangat membantu kehidupan mereka. Namun terkadang Miki sedikit merasa risih melihat keduanya berinteraksi seakan mereka memang sepasang suami – istri.

Sejak tiga bulan lalu Inoo memutuskan untuk tinggal bersama Yabu dan Miki. Yabu memang sudah tinggal bersama Miki sejak setahun lalu, sejak Ibu Miki meninggal dunia.

“Hari ini aku ada meeting… kau pulang sendiri gak apa – apa kan?” tanya Yabu yang kini duduk tepat di sebelah Miki, bertanya pada Inoo.

“Ii yo… kalau begitu malam ini aku sendirian ya? Hahaha..”

“Jangan begitu Kei… aku kan hanya meeting malam ini…lagipula aku akan tetap pulang,” ucap Yabu sambil tersenyum pada Inoo.

“Iya…aku mengerti…”

Miki hanya menatap keduanya dengan pandangan heran. Kenapa Inoo tidak bisa dilahirkan sebagai wanita saja ya? Sehingga keduanya bisa hidup seperti biasa. Namun Miki menghapus pikiran itu, mungkin inilah yang harus mereka berdua hadapi.

=============

Sepulang sekolah pada hari kamis, seperti biasa ia tak langsung pulang ke rumah, melainkan mengikuti les vokal yang baru saja ia ikuti selama sebulan ini.

“Eh… ketemu lagi dengan Miki-chan…”

Miki menoleh ke sumber suara, ternyata pengajarnya di tempat les yang menyapanya. Pemuda bernama Chinen Yuri itu sebenarnya baru saja lulus dari SMA, kini menjadi pengajar tetap di tempatnya les sebelum masuk ke universitas.

“Chinen-sensei…” seru Miki kaget.

Pemuda itu hanya tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya yang manis. Bagi Miki, seorang Chinen terlalu muda untuk menjadi guru.

“Senpai saja… aku tidak se-tua itu kan? Miki-chan?” kata Chinen yang berdiri di hadapannya karena bus yang mereka naiki sepertinya penuh dan tidak lagi ada bangku kosong.

“Hehehe… Chinen-senpai…”

Tak terasa halte tempat mereka turun sudah dekat. Keduanya pun turun berbarengan, Chinen dan Miki berjalan beriringan menuju tempat les.

“Miki-chan… aku mau beli onigiri dulu… kau mau ikut? Atau mau ke tempat les duluan?” tanya Chinen ketika melihat toko 24 Jam di hadapan mereka.

“Aku juga belum makan senpai…aku juga beli deh…” ucap Miki.

“Baiklah…ayo…”

Ketika baru saja masuk ke toko 24 jam, tiba – tiba pundak Miki ditepuk oleh seseorang.

“Miki-chan…”

“Kyaaa!! Kei-Nii!! Kenapa mengagetkan sih??!!” keluh Miki sambil memandang Inoo yang hanya tersenyum jahil kepadanya.

“Ngapain disini?” tanya Inoo yang juga memegang beberapa belanjaan di tangannya.

“Mau beli onigiri… Nii-chan ngapain disini?”

Belum sempat Inoo menjawab, Chinen menghampiri mereka berdua, “Ada apa Miki-chan?”

“Temanmu?” tanya Inoo pada Miki dengan tatapan curiga. Seingat Inoo, peraturan Yabu soal pacaran masih berlaku bagi Miki.

“Dia pengajarku di tempat les…” sergah Miki cepat.

“Sou ka…”

“Chinen Yuri desu…”

“Inoo Kei desu… terima kasih sudah menjaga Miki selama ini…” ucap Inoo dengan sopan, secara refleks tersenyum juga ketika tahu itu hanya guru Miki.

“Iie… Miki murid yang baik kok…” jawab Chinen sambil menunduk sekilas.

“Ini….” Miki bingung harus memperkenalkannya sebagai siapa? Masa ‘pacar kakakku?’ Ugh~ rasanya tidak ingin dia mengatakan hal itu walaupun sebenarnya itulah kenyataannya.

“Aku kakaknya Miki… yoroshiku…” potong Inoo cepat.

“Ah…sou ka…” Chinen heran. Bukankah nama Miki itu ‘Kanagawa Miki’? lalu kenapa kakaknya bernama Inoo Kei?

“Ngapain Kei-Nii disini?” tanya Miki lagi, karena belum mendapat jawaban dari yang bersangkutan.

“Aku bertemu klien di sekitar sini…tapi sudah beres, jadi aku beli sedikit camilan… sekalian menunggu Kou-chan…” ucap Inoo pada Miki.

“Kou-Nii? Bukannya ada meeting dia?”

“Yaaa… aku menunggunya selesai meeting…” kata Inoo, “Sambil men design pasti tidak kerasa waktunya…” jelasnya lagi. Inoo Kei itu memang seorang arsitek.

“Sou ka…” Miki tak tahu harus menjawab apa, ditambah seorang Chinen masih berdiri di sebelahnya.

“Jadi Miki-chan tinggal bersama kakak?” tanya Chinen ketika mereka sudah berada di tempat les, memakan onigiri yang mereka beli sebelum les dimulai.

Miki hanya mengangguk, ia tak mau pembicaraan soal kakaknya ini diteruskan. Sudah cukup ia harus melihat kelakuan Yabu dan Inoo di rumah, tak perlu juga di luar rumah ia harus membicarakan mereka.

“Iya…tapi karena beda ayah, nama keluarga kami berbeda…” jelas Miki cepat.

“Ah! Sou ka…” Chinen mengangguk – angguk mengerti.

“Baiklah…setelah selesai makan, kita langsung latihan ya Miki-chan…”

Miki mengangguk dan memakan lagi onigirinya. Bersyukur pembicaraan soal kakaknya itu tak lagi diteruskan.

============

“Ta…” Miki menghentikan ucapannya, mendengar grasak – grusuk di ruangan depan, secara refleks ia menyembunyikan dirinya di balik tembok.

Pintu depan apartemen ini memang terhalangi sebuah pintu lagi sebelum masuk ke ruangan utama.

“Kou…stop…nanti Miki lihat…” Inoo mendorong pelan bahu Yabu yang sedang menginvasi lehernya.

“Dia belum pulang kok…” protes Yabu masih melanjutkan kegiatannya di tubuh kurus Inoo.

“Kou…yamete yo…” lenguhan Inoo terdengar, membuat Miki tambah risih dengan kejadian itu.

BRAKK!

Miki mendorong pintu dengan kasar. Yabu dan Inoo yang entah baju atasannya sudah tergeletak begitu saja di lantai pun kaget. Yabu melepaskan diri dari Inoo.

“Kau…. sudah pulang?” Yabu gugup sambil mengambil kaosnya dari lantai.

Inoo juga segera memakai kaosnya dan tersenyum gugup menyambut Miki.

Miki tak menjawab lalu masuk ke kamar dengan perasaan campur aduk. Bukan sekali itu sebenarnya ia melihat kejadian seperti itu, dan setiap kali melihatnya Miki hanya bisa merutuk mengapa kakaknya itu tak mencari tempat lain, misalnya kamar mereka? Kenapa harus di ruang tengah?

Itulah alasan Miki tak pernah membawa temannya ke rumah. Ia takut saat pulang, malah hal – hal aneh lah yang akan mereka lihat.

“Miki-chan…” suara Yabu terdengar dari luar.

Miki enggan sekali beranjak untuk membuka pintu kamarnya. Ia malas berbicara dengan kakaknya.

“Kumohon buka pintunya…” bujuk Yabu lagi.

Akhirnya Miki membuka pintu, hanya melihat sekilas keluar dimana kakaknya berdiri.

“Kita bicara sebentar ya…” Yabu mendorong pintu kamar itu dengan sedikit memaksa, lalu duduk di kasur milik Miki.

“Maaf kau harus melihat hal seperti tadi…” kata Yabu membuka percakapan sementara adiknya itu terlihat kesal.

“Betsu ni…” cibir Miki, duduk di meja belajarnya, membelakangi Yabu.

“Kau masih tak menerima kalau Kei-chan itu… kekasihku? Aku tak bisa mengatakan alasan apapun untuk membela diri… aku hanya tahu kita tidak salah… maka, jangan benci Kei-chan…” ungkap Yabu lagi.

Miki tak mau menjawab, semuanya masih terlalu menyebalkan untuknya.

“Kau pasti akan mengerti suatu saat…mungkin saat kau nanti jatuh cinta pada seseorang…” Yabu beranjak. Ia tahu tak ada gunanya berbicara dengan gadis itu ketika sedang marah.

“Tetap saja…aku minta maaf…” sambil melangkah keluar, Yabu mengacak pelan rambut adik kesayangannya itu, orang terakhir yang bisa ia lindungi sekarang ini selain Inoo.

“Sudah kubilang kan…” ucap Inoo yang kini sudah berbaring di kasur milik mereka berdua.

“Jangan menatapku seperti itu Kei-chan…iya…iya..aku yang salah…” kata Yabu ketika melihat ekspresi marah di wajah Inoo.

“Miki-chan marah?”

Yabu hanya mengangguk, “Dia mungkin sudah ada di titik dimana dia tak ingin mentolerir kita…”

Inoo duduk bersila menghadap Yabu yang berbaring di sampingnya, “Lalu bagaimana?”

“Tenang saja…dia akan baik dengan sendirinya…hanya butuh waktu… jangan terlalu dipikirkan, sayang…” Yabu menyentuh pelan rambut Inoo yang langsung ditepis oleh si pemuda yang lebih muda itu.

“Kou… apa keputusanku pindah ke rumah ini salah?” Inoo masih khawatir karena hubungan Yabu dan Miki menjadi buruk gara – gara dirinya.

“Absolutely not… my dear…” Yabu menarik Inoo ke pelukannya.

“Mou! Kou-chan!! Yamete yo!! Aku tidak mood untuk melakukannya…” sergah Inoo dengan tampang kesal.

“Iya…aku hanya mengajakmu tidur..memejamkan mata agar kau sedikit rileks dan tidak marah – marah terus… oke? Aku janji semuanya akan baik – baik saja…” ucap Yabu.

Ia mengenal Miki sejak gadis itu lahir, ia tahu Miki tak akan bisa marah padanya atau Inoo, mungkin gadis itu sedang kesal saja.

==========

“Miki-chan…kenapa kau salah nada terus sejak tadi?” Chinen menyerahkan sebotol air mineral pada Miki.

“Gomen sensei…” Miki menunduk lalu meneguk air tersebut.

Chinen menatap Miki yang terlihat lesu, tak seperti biasanya.

“Kau baik – baik saja? Kita hentikan saja latihan hari ini ya?” tanya Chinen lagi.

“Tidak usah sensei!! Kita teruskan saja…” elak Miki.

Chinen menarik kursinya dan duduk tepat di hadapan Miki, mengangkat wajah Miki yang sejak tadi hanya menunduk.

“Kau tidak baik – baik saja Miki-chan…kamu kenapa?”

Dada Miki berdebar karena wajah Chinen hanya beberapa senti saja dari wajahnya.

“Aku….bertengkar dengan kakakku…” air mata Miki kembali jatuh.

Hingga hari ini ia selalu menghindar dari kakaknya dan Inoo. Alasannya memang hanya karena dirinya memang masih kesal dengan mereka.

“Sensei… kita mau kemana?” Miki heran karena tiba – tiba saja Chinen membawanya keluar dari tempat les padahal waktu belajar mereka belum selesai.

“Panggil aku senpai saja… dan tak usah banyak tanya…ikuti saja aku…” katanya sambil menggenggam tangan Miki.

Tak lama mereka sampai di sebuah cafe. Chinen membawa Miki duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jalan, di pinggir cafe itu.

“Tunggu sebentar ya…”

Miki makin bingung karena Chinen masuk ke cafe tanpa dirinya. Sesaat kemudian ia keluar dari cafe membawa sebuah nampan berisi dua gelas es krim dan dua piring cake.

“Omatase…” ucap Chinen sambil menyimpan nampan itu di atas meja.

“Anou…maksud senpai?”

“Es krim dan cake yang menyenangkan agar kamu bisa tersenyum…” ucap Chinen lalu menyendokkan cake coklat itu dan menyuapinya kepada Miki, “Aaaa~ ayo buka mulutnya….” goda Chinen.

Miki tertawa namun menyambut cake coklat itu dan setelahnya tersenyum. Melihat senyum Chinen saja baginya sebenarnya sudah bisa obat yang cukup mujarab.

“Nah…senyum gitu kan lebih cantik…” dengan cueknya Chinen memakan cake miliknya.

“Arigatou… Chinen-senpai…” ucap Miki pelan, namun Chinen masih bisa mendengarnya.

“Tidak perlu terima kasih…lagipula aku sedikit lega, ternyata kau hanya bertengkar dengan kakakmu…”

“Hah? Maksudnya?”

“Kupikir kau bertengkar dengan pacarmu?” tanya Chinen lagi, padahal pemuda itu hanya ingin memastikan bahwa Miki menag tidak punya kekasih.

“Aku gak punya pacar, Senpai…” jawab Miki bingung.

“Sou ne…kalau gitu kau bisa jadi pacarku dong?” walaupun dengan nada bercanda, wajah Chinen sama sekali tak mengisyaratkan bahwa itu hanya main – main, dengan kata lain Chinen serius.

“Anou…Senpai…bercanda?”

Chinen menggeleng lalu meraih tangan Miki, “Suki da…”

=========

“Tadaima…” ucap Miki di depan pintu, sepertinya sudah lama ia tak mengucapkannya. Biasanya ia langsung masuk tanpa mengatakannya, karena terlanjur kesal dengan kedua kakak laki – lakinya itu.

“Okaeri…” Inoo yang berada di dapur sedikit kaget mendnegar sapaan itu, “Miki-chan?” secara refleks pria itu menoleh melihat Miki yang baru masuk ke ruangan itu.

“Sore, Kei-Nii…”

Inoo sedikit lega melihat Miki menyapanya, padahal seminggu ini ia harus menyimpan makan malam Miki di depan pintu kamar sang gadis.

“Kau mau camilan? Tadi aku beli beberapa…”

“Iya Kei-Nii…aku ganti baju dulu…”

Sebenarnya Chinen meminta Miki tidak terlalu keras pada kedua kakaknya. Memang Chinen tak tahu mengapa Miki marah, terlebih karena Miki tak mau menceritakannya pada Chinen, namun setelah itu akhirnya Miki mau mencoba bersikap lebih baik kepada keduanya.

“Hei Miki-chan…makan malam sudah siap…” pintu kamar Miki terbuka, disusul dengan seraut wajah milik Yabu yang muncul di pintu itu.

“Iya Nii-chan…”

“Jadi, kau sudah tak marah?”

“Betsu ni…” jawab Miki lalu mendahului Yabu ke meja makan.

Yabu hanya tersenyum, ia tahu Miki tak akan marah kepadanya atau Inoo.

Menu malam ini adalah spageti, kalau Yabu bilang ‘Kei-chan no specialist recipe’ karena memang spageti ini yang sering di masak oleh Inoo.

“Bagaimana sekolahmu? Les mu?” tanya Yabu disela makan malam mereka.

“Baik – baik saja…semuanya baik – baik saja…” jawab Miki. Namun pikirannya segera melayang ke Chinen, yang kini statusnya sudah naik menjadi pacarnya.

Ia tahu Yabu tak memperbolehkannya berpacaran sebelum lulus SMA, itulah yang sering kakaknya katakan, namun ia berfikir selama tidak ketahuan mungkin tidak akan apa – apa.

From : Chinen-senpai
Subject : Besok
Besok aku ke rumahmu ya?
Boleh kan? Sepertinya aku harus
Memperkenalkan diriku pada kakakmu?
^^
-Chinen-

Miki kembali membaca pesan itu dan kaget karena tiba – tiba saja Chinen minta datang ke rumahnya. Ini sama sekali diluar perkiraannya.

“Miki…berhenti lihat ponselmu selama makan malam…” tegur Yabu, “E-mail penting, memangnya?”

Dengan cepat Miki menutup ponselnya, menggeleng cepat, “Bukan…hanya teman…”

=============

“Eh? Kenapa?”

“Maaf senpai… karena kakak – kakakku selalu pulang malam…”

Hari ini Miki menolak ajakan Chinen untuk berkunjung ke rumahnya.

“Baiklah…bagaimana kalau besok? Besok kan hari sabtu…pasti kakakmu sedang libur kan?”

Miki sama sekali tak mau Chinen bertemu dengan Yabu. Karena baik Yabu ataupun Inoo, bukan tipe pasangan yang menutupi jati diri mereka. Tanpa takut Yabu pasti akan bilang kalau Inoo adalah kekasihnya, namun ia takut, kalau Chinen tak akan menerima keadaan itu.

“Hmmm…sepertinya tidak bisa…benar tidak bisa…” jawab Miki gugup.

“Kenapa? Aku harus mengucap salam pada mereka,” ucap Chinen masih mencoba membuat gadisya itu setuju.

Miki menggeleng, “Gomen…”

“Baiklah…aku akan kesana kalau kau mengizinkannya…”

“Maaf Chinen-senpai…”

‘Ada hal yang tak bisa aku ceritakan…’ tambah Miki dalam hatinya.

“Daijoubu… tak usah minta maaf padaku…” Chinen menarik tangan Miki, “Lagipula hari ini kita sedang kencan…tak usah memikirkan hal – hal lain…”

Miki akhirnya tersenyum. Ia tak pernah menyangka bisa berpacaran dengan senpai yang ia kagumi. Apalagi kenyataan kini Chinen menggenggam erat tangannya.

“Waaa~ kiireeiii!!” Miki menengadah melihat berbagai macam ikan yang berada di akuarium besar itu.

Chinen menunjuk ke seekor ikan berwarna – warni yang berada sedikit jauh dari pandangan mereka, namun coraknya sangat menarik.

“Yang itu cantik ya?” tunjuknya.

Miki tersenyum sambil mengangguk.

“Tapi aku menemukan yang lebih cantik dari itu…”

“Hah? Mana?” mata Miki sibuk mencari – cari ikan yang Chinen maksud.

“Ini..disebelahku…” godanya sambil mencubit pipi Miki pelan.

“Enak aja aku disamain sama ikan!!” seru Miki kesal.

“Hahaha…”

Miki manyun ke arah Chinen lalu hendak beranjak dari tempat itu, namun tangan Miki ditahan oleh Chinen, ditariknya gadis itu hingga berbalik dan sedetik kemudian bibir Chinen sudah berada di bibir Miki, mencium gadis itu dengan lembut.

“Ih…kan kaget…” protes Miki namun dengan wajah malu dan memerah.

Chinen tak menjawab namun menarik Miki menuju ke ruangan lain.

“Eh?” Seseorang kaget melihat kejadian itu, dan bergegas berbalik sebelum kedua orang itu sadar akan keberadaannya.

============

Yabu mengendap – endap masuk ke kamarnya. Ia tahu Inoo pasti sudah tidur karena hari ini ia pulang larut sekali. Setelah sempat lembur, ia pun harus ikut minum – minum dengan beberapa kliennya. Sehingga terpaksa ia pulang tengah malam seperti ini.

Inoo yang berbaring di kasur itu membelakanginya, namun kentara sekali pemuda itu belum tidur.

“Aku tahu kau belum tidur… ada apa Kei?” Yabu melonggarkan dasinya dan berbaring di sebelah Inoo.

“Eh…okaeri Kou…”

“Kau melamun ya? Ada apa?” tanya Yabu menopang kepalanya ke pinggir, menatap Inoo.

“Hmmm… Miki-chan ternyata sudah besar ya…padahal aku baru dua bulan tinggal disini…tapi aku baru sadari itu… dulu setiap bertemu dengannya kurasa ia masih kecil saja…” ungkap Inoo.

Yabu mencium gelagat aneh, “Ya…kau tahu… setiap hari aku selalu menyadari kalau ia semakin besar saja… apa sebentar lagi ia akan pergi? Kalau itu terjadi mungkin kita harus mengadopsi anak…hahaha…”

Inoo ikut terkekeh membayangkan mereka mengurus bayi mungil yang tentu saja beda jauh dengan kondisi Miki yang sudah remaja.

“Tapi…kenapa kau tiba – tiba bertanya? Ada yang salah?”

Seorang Inoo Kei tak pernah berbohong pada pasangannya itu. Ia selalu menceritakan apapun pada Yabu.

“Tadi siang aku bertemu Miki-chan…saat aku survey untuk designku yang baru…”

“Di Akuarium itu? Lalu?”

Inoo mengangguk, “Tapi dia tidak sendiri…”

“Maksudmu?”

“Kurasa ia punya pacar, Kou…namun karena kau selalu bilang ia tak boleh pacaran sebelum lulus, sepertinya ia diam – diam memacari pemuda itu…”

“Hah?!” dahi Yabu mulai berkerut.

“Oke..tenang… wajar kan? Miki-chan sudah SMA…masa tak boleh pacaran?” bela Inoo, tak enak juga membuat Yabu marah.

Yabu menggeleng, “Tidak bisa Kei…kalau terjadi apa – apa bagaimana?!”

“Stop!! Kau mau kemana?!” seru Inoo sambil menarik tangan Yabu yang hampir beranjak dari ranjang itu.

“Bertemu Miki? Membicarakannya…”

“Aduh!!” Inoo menarik Yabu hingga si pemuda itu kembali berbaring, “Dia pasti sudah tidur!! Lagipula jangan begitu…kau harus memastikannya dulu!!”

“Hmmm..” Yabu menghela nafas berat, “Aku hanya ingin ia terlindungi…itu saja…”

“Aku mengerti tuan Yabu Kota…tapi ini sudah malam…lebih baik kita juga tidur.. oke?”

“Tapi aku lapar….” keluh Yabu.

“Ya sudah…ayo makan dulu…”

Yabu memandang Inoo dengan pandangan nakal, “Aku maunya makan kamu…” serunya lalu mendorong Inoo ke ranjang.

“Kyaaa!! Yabu Kota!!hentikaaaaannn!!!”

=============

“Yang itu orangnya?” tanya Yabu menunjuk ke arah Chinen yang baru saja keluar dari tempat les musik tempatnya mengajar.

Inoo yang berada di sebelah Yabu mengangguk – angguk.

Mereka pun mengikuti sosok Chinen yang sepertinya menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kedua orang itu menutupi dirinya dengan masker dan jaket tebal agar tak terlihat.

Setelah naik kereta bawah tanah, ketika Chinen turun, keduanya ikut turun, masih mencoba mengikuti pemuda itu yang sebenarnya sudah mulai merasa ada yang aneh di belakangnya.

“Tidak mungkin…ada apa ini?” gumam Chinen, mencoba menoleh sedikit untuk tahu siapa yang ada dibelakangnya.

Ia kaget karena dua pria ber masker sedang mengikutinya, secara insting Chinen tahu ini saatnya ia berlari, bagaimana pun ia takut kalau kedua orang itu adalah penjahat, apalagi sekarang sudah malam.

Chinen mempercepat langkahnya, semakin lama menjadi lari – lari kecil, Inoo dan Yabu juga mengikuti tempo berjalan Chinen. Lalu ketika Chinen berlar, keduanya serempak mengejar Chinen.

“Waaaa!!” Chinen kaget ketika dirasanya jaket yang ia kenakan ditarik.

“Berhenti!!” teriak Inoo, sementara Yabu mengunci badan Chinen.

Chinen kaget, namun kenal dengan pria bernama Inoo Kei yang pernah ditemuinya saat bersama Miki.

“Jadi namamu siapa tadi??” tanya Yabu ketika mereka sudah di sebuah restauran.

“Chinen Yuri desu…”

“Ah… Chinen-kun… apa hubunganmu dengan Miki? Kau tahu… Kanagawa Miki… adikku…” jelas Yabu.

“Kami memang sedang berpacaran…”

“Lalu kenapa kau mengendap – endap di belakang kami?!” Yabu terlihat kesal sampai – sampai ia melipat tangan di depan dadanya.

“Aku sudah meminta Miki-chan agar membawaku ke rumahnya…tapi ia selalu bilang kalian sibuk… jadi aku belum ada kesempatan kesana…”

Inoo menyipitkan mata, menoleh ke Yabu, “Apa gara – gara….hmmmm~ Kou…”

“Karena apa?” Yabu bingung.

“Karena kita…itu…kita…”

“Karena kita pacaran? Apa yang salah?” Yabu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ppppffftt~ ,Chinen yang sedang minum sampai tersedak karena kaget, “Uhuk… uhuk…”

“Tak usah kaget gitu…. baiklah…Yabu Kota desu…aku kakaknya Miki…Kanagawa Miki… dan ini…” Yabu menunjuk ke arah Inoo, “Pacarku… Inoo Kei…”

===========

Hari sabtu yang tenang. Baik Miki, Inoo dan Yabu juga ada di rumah menghabiskan waktu libur mereka. Miki juga tidak ada janji dengan Chinen karena pemuda itu belum menghubunginya.

Inoo sejak pagi sudah sibuk di dapur, entah apa yang pemuda itu lakukan.

Bel apartemen itu berbunyi. Yabu segera bangkit dari ruang keluarga dan membuka pintu.

“Silahkan masuk…” kata Yabu mempersilahkan seseorang yang ada di depan pintu.

“Hai…”

Ketika melihatnya, Miki secara refleks berdiri karena kaget melihat siapa yang datang.

“Chinen-senpai!!”

“Ohayou…Miki-chan…” sapa Chinen sambil tersenyum.

“Sebentar..ada apa ini?? Ada apa??!” tanya Miki dengan bingung.

“Chinen-kun datang kesini atas undanganku…” yang menjawab malah Yabu.

“Hah? Kok?”

“Gak usah bingung gitu…dia kini jadi bagian keluarga kita kan? Dia pacarmu kan?” tanya Yabu dengan cuek.

Miki mengerenyitkan dahinya. Setahunya kakaknya itu tak akan mengizinkan dirinya punya pacar hingga lulus SMA.

“Jangan bengong gitu…” tegur Yabu.

“Sebentar… Nii-chan… apa ini maksudnya?” tanya Miki bingung.

“Maksudnya pemuda ini meminta aku menerimanya sebagai pacarmu…yaaa… karena aku kasiahan melihatnya memohon..aku izinkan saja…” ucap Yabu sambil berlalu ke dapur.

Chinen tertawa melihat kelakuan Yabu yang sok gengsi. Padahal kemarin pria itu akhirnya mengizinkan ia berpacaran dengan Miki. Malah dengan embel – embel meminta dirinya menjaga gadis itu.

“Nii-chan tidak bercanda kan?” Miki menghmapiri Yabu dan menarik – narik kaos Yabu masih dengan ekspresi bingung.

“Aku gak pernah bercanda soal kayak gini…”

“Kyaaaa!!” Miki otomatis tersenyum dan menghambur ke pelukan Chinen.

“Stop!! Ga ada peluk – pelukan!!” protes Yabu menujuk ke arah kedua sejoli yang sedang berpelukan itu.

Chinen melepas pelukannya, lalu memandang Miki, “Kenapa kau malu dengan kedua kakakmu? Padahal mereka sangat baik loh…” kata Chinen.

“Tapi…kau tahu…mereka…”

“Hei… Kanagawa Miki…kau tahu, cinta itu tak pernah salah… jangan salahkan keadaan mereka dong…” kata Chinen sambil mencubit pipi Miki pelan.

“Hehehe… iya…harusnya aku tak menyembunyikan mereka dan berpura – pura bahwa hidupku normal…dari dulu juga sudah tak normal…hahaha..”

“Hei…kalian lagi ngomongin apa sh? Kok bisik – bisik?” tanya Inoo yang membawa makanan ke meja makan, diikuti oleh Yabu.

“Ayo..kita makan siang, setelah itu kita main game…hehehe…” ajak Yabu.

Miki tersenyum menatap keluarganya yang kini lengkap. Ia tahu seharusnya ia tak pernah malu punya kakak seperti Yabu yang sudah rela menjadi ayah beserta ibu baginya. Ia tak akan pernah merasa malu lagi, ia sayang pada keluarganya ini. Sekarang pun semakin lengkap dengan Chinen.

===========

OWARI~

Ayey~ akhirnya beres juga ni requestan…hahaha…
Maap sepertinya ceritanya gaje…dan maap ada Shounen Ai…
Saia lagi cinta banget ama YabuNoo…hahaha…
😛
COMMENTS ARE LOVE~
Please din’t be a silent reader….thanks minna!!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s