[Oneshot] Chigau no Adoresu

Title : Chigau no Adoresu

Type : oneshoot
Author : Anisu-chan
Genrefailed Romance, little Comedy
Rating : G (Gelay General)                                  
Casting : Yabu Kota, Amakusa Risa, Inoo Kei
Disclaimer : I just have this plot
N/B : maaf ya Yabu disini jadi gelay menggelinjang \(~,~)/ dan maaf juga karena judulnya aneh, serius saya bingung mau kasih judul apa. Jadi saya kasih judulnya sesuai dengan single Yabu yang ada difanfic ini. Maaf juga kalo bahasa Jepangnya salah, saya hanya mentranslate sesuai dengan kata-katanya (chigau = salah, aduresu = alamat) -_-
Chigau no Adoresu
Yabu Kota atau biasa dikenal dengan Yabu Kagayaku, seorang penyanyi dangdut terkenal di Jepang. Berkat single-nya, ‘chigau no aduresu’ (alamat palsu), kini Yabu Kagayaku berhasil setara dengan penyanyi-penyanyi papan atas lainnya. Selain bakat Yabu yang mengagumkan, wajahnya pun juga tampan. Jadi tidak heran jika Yabu mempunyai fans wanita yang sangat banyak.
“Yabu-san, besok jam 10 pagi ada pemotretan majalah AnAn, jam 2 sore akan ada fanmeeting, dan jam 6 sore anda harus bersiap-siap tampil di Music Station,” kata manager Yabu, Inoo Kei.
“Hah? Tidak ada waktu senggang lagi ya?” keluh Yabu dengan wajah lesu.
“Tidak ada, Yabu-san. Anda sudah menjadi artis populer sekarang. Jadi wajar saja jika jadwal anda begitu padat. Tapi saya harap, anda tetap menjaga kesehatan. Kalau anda sakit, semuanya akan repot,”
“Hai,” kata Yabu pasrah, kali ini wajahnya tampak semakin lesu.
“Semangat, Yabu-san. Artis profesional tidak boleh lesu seperti itu,”
“Bawel sekali kau, Inoo!!” umpat Yabu dalam hati sambil memicingkan matanya ke arah Kei.
“Satu lagi, pemotretan besok akan dilakukan bersama model Amakusa Risa. Kau tau dia kan?” tanya Kei sambil masih mengecek jadwal Yabu berikutnya.
“Ya, dia itu model juga bintang iklan kan?” Yabu balik bertanya.

Kei mengangguk, “Oyasumi, Yabu-san. Sampai di mansionmu, kau harus langsung tidur jangan sampai aku tau kau bergadang menonton bola. Aku tidak mau kau sampai pingsan di tengah jadwal mu yang padat.”

Yabu hanya mengangguk pasrah. “Ternyata menjadi artis terkenal tidak seperti yang aku bayangkan.”
Sesampainya di mansion, Yabu langsung beristirahat sejenak sambil mengunjungi fansite dirinya. Ia tersenyum membaca tulisan para penggemar tentang dirinya. Tiba-tiba ia ingat akan rekan pemotretannya besok, Amakusa Risa. Nama itu memang sudah tidak asing, kalau tidak salah Yabu pernah membaca biografi tentang Amakusa Risa disebuah majalah. Tapi Yabu lupa tentang biografi yang pernah ia baca itu, ia hanya ingat bahwa Amakusa Risa adalah seorang model dan bintang iklan. “Amakusa Risa,” ucapnya sambil mengetikkan nama tersebut di tempat yang disediakan oleh mesin pencari.
Yabu meng-klik sebuah situs yang memuat tentang Amakusa Risa, “Ah, kirei na.”
***
“Doko wa, doko wa, doko wa~”
“Watashi no searching doko wa?”
“Koibito no ai….”
(Chigau no Aduresu – Yabu Kagayaku)
Yabu mengambil ponselnya yang sedari tadi terus berdering nyaring menyanyikan lagu dari single terbarunya. Ia menyipitkan matanya melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut, “Moshi-moshi, Inoo-san.”
Kei menghela nafas panjang, ia melirik sebentar jam tangannya, “Kau tidak tau ini jam berapa, Yabu-san? Kau lupa kalau pagi ini akan ada pemotretan?!”
Yabu langsung melihat jam yang ada di ponselnya, “Heh?! Yabai!! Yabai!!” Begitu melihat jam, Yabu langsung bersiap-siap menuju studio AnAn.
“Kau terlambat bangun, Yabu-san. Lihat, dirimu begitu berantakan!!” ujar Kei dengan ketus.
“Gomen, aku lupa memasang alarm.”
“Sekarang cepat bersiap-siap untuk pemotretan!! Aku tidak ingin kau dicap artis yang suka telat oleh orang-orang disini,”
Yabu mengangguk, “Dia itu managerku atau ibuku sih? Malah wajahnya cantik banget begitu,” ujar Yabu dengan suara pelan.
Yabu sedang bersiap-siap untuk pemotretannya hari ini, “Bajunya rapet?” tanyanya kepada seorang penata rias.
Penata rias yang bernama Takaki Yuya mengangguk, “Tidak semua model di majalah AnAn buka-bukaan. Biasanya pemotretan di AnAn sesuai dengan image artisnya. Yabu-kun kan penyanyi dangdut, jadi image yang ini sangat cocok untukmu.”
“Tapi dadaku keliatan banget begini, malah ditempelin bulu dada buatan lagi.” Yabu mengelus bulu dada buatannya.
“Itu aku sengaja tempelin, biar kamu keliatan sexy.”
                      
Yabu mengangguk pasrah, ia masih memandang bulu buatan di dadanya.
“Nah, kanpeki!!” ujar Takaki setelah melihat dandanan Yabu.
“Kenapa ada bunga di rambutku?” tanya Yabu bingung.
Takaki mengacuhkan pertanyaan Yabu, kemudian ia mengalihkan topik pembicaraannya dengan Yabu begitu melihat Risa.
“Ah, Risa. Ini dia rekanmu untuk pemotretan pagi ini. Kau kenal dia kan?” kata Takaki begitu melihat Risa yang baru memasuki ruangan rias.
“Amakusa Risa desu. Yoroshiku onegaishimasu,” kata Risa sambil menundukkan sedikit badannya.
“Yoroshiku,” ujar Yabu dengan memasang senyum terbaiknya.
“Ini asli?” tanya Risa sambil mencabut bulu dada buatan Yabu.
Yabu menggeleng, “Ngga, kalo asli pasti aku udah teriak kesakitan,”
Risa mengangguk, “Benar juga. Kenapa harus pake bulu-bulu begini? Emang gak gatel?” tanyanya polos.
“Sedikit, tapi penata rias gila itu yang memaksaku memakai ini,” kali ini suara Yabu terdengar benar-benar pasrah.
“Sabar ya, itukan ujian penyanyi dangdut. Jadi terima aja,” Risa memandang Yabu dengan prihatin.
“Ano..” Yabu menggantungkan kalimatnya.
“Ya?” Risa penasaran.
“Rambutmu selalu dikuncir miring seperti itu ya?”
Risa menyentuh kunciran rambutnya yang miring, “Iya. Ini ciri khas aku lho.”
“Kalo kuncir rambutnya miring begitu, lebih bagus kalo ditambahin bunga deh,” Yabu mengambil bunga yang ada dirambutnya.
Tiba-tiba wajah Yabu berubah menjadi panik, “Kenapa?” tanya Risa khawatir.
“Bunganya gak bisa lepas dari sini! Aduh gimana dong?” Yabu semakin panik.
Dengan sigap, Risa langsung memanggil penata rias Yabu, Takaki Yuya. “Takaki-san?” ujar Risa sambil melambaikan tangannya.
“Ya?” Takaki menghampiri Risa dan Yabu.
“Takaki-san!! Kenapa bunganya gak bisa dilepas?” tanya Yabu dengan nada kesal.
“Oh, bunganya aku kasih lem supaya bunganya permanen ada dirambutmu. Jadi, kalo ada bunga dirambutmu, orang-orang akan lebih mudah mengenal Yabu Kagayaku karena dipelipisnya ada bunga.” Takaki menjelaskannya dengan penuh wibawa.
“Tapi kan gak usah di lem juga!” Yabu makin naik pitam.
“Gomen, Yabu-san. Ini semua perintah managermu.”
Pandangan mata Yabu langsung mengarah ke Inoo dengan tajam, “KUSO!!”
***
“Yabu-san, aku sudah menyiapkan semua yang berhubungan untuk pembuatan PV barumu. Dan kau pasti akan senang, karena model sekaligus lawan mainmu di PV ini adalah Amakusa Risa,” kata Kei, saat diperjalanan pulang.
Yabu pura-pura tidak mendengarkan perkataan Kei. Ia masih kesal dengan sikapnya saat persiapan pemotretan pagi tadi. Seharian ini, Yabu tidak menanggapi Kei sedikitpun.
“Kau masih marah hanya karena hal sepele tadi?” tanya Kei dengan kesal.
Yabu membalas ucapan Kei dengan tatapan yang dingin.
“Aku mengajakmu berbicara!! Bukan main pelotan mata!! Kau masih marah hanya karena hal sepele tadi?” Kei mengulangi pertanyaannya.
“Iya!!” jawab Yabu singkat dan tajam.
“Kenapa marah? Aku ini managermu, manager itu selalu melakukan hal yang terbaik untuk artisnya,” bela Kei.
“Tapi apa mesti nempelin bunga pake lem dirambut?!” Yabu menunjukkan pelipisnya yang botak, karena rambutnya dipotong paksa agar bunga nista itu hilang dari pelipisnya.
“Supaya bunganya ga jatoh, makanya aku kasih lem!”
“Kan bisa di jepit, kau itu bodoh ya? Padahal ngakunya lulusan arsitek di Meiji!”
“Hah?! Aku tidak bodoh!! Aku hanya menerapkan konsep yang diajarkan guru fisikaku saat SMA. Bahwa gaya gravitasi sama dengan 0 jika benda ditempeli lem.” Kei makin ngotot.
“Mana ada gravitasi dibumi sama dengan 0!!”
“Sudahlah, aku tidak mau membuang tenaga dengan penyanyi dangdut sepertimu! Pokoknya besok kau harus hadir tepat waktu di lokasi syuting!!” Kei yang jengkel langsung turun dari mobil Yabu dan meninggalkan Yabu sendirian dimobilnya.
“Yah? Kenapa pergi?! Harusnya aku kan yang pergi!” Yabu meneriaki Kei.
“Boleh! Sekarang kamu yang pergi dan aku tetap ada dimobilmu!” perintah Kei.
“Kenapa begitu? Ini kan mobilku!”
Kei mengacuhkan Yabu dan pergi meninggalkan Yabu bersama mobilnya, “Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan. Selamat malam, Yabu-san.”
Yabu terdiam, wajahnya pucat, “Aku kan gak bisa nyetir. Bagaimana ini?”

Yabu melihat jalanan disekitarnya, “Ah, ini kan sudah deket mansionku. Kalau begitu aku dorong saja mobil ini sampai tempat parkir mansion. Aku memang cerdas.”

***
“Wah, Yabu-san rambutmu jadi botak setengah. Itu keren lho,” puji Amakusa Risa begitu melihat Yabu yang baru datang ke lokasi syuting PV-nya.
Wajah Yabu yang tadinya sumringah melihat Amakusa Risa, mendadak jadi kesal karena Risa membahas tentang rambutnya.
Risa mengambil sisir yang ada ditasnya, “Duduk dulu sebentar,” perintah Risa.
“Tinggal ditambahi topi bundar, penampilanmu jadi lebih baik.” Risa memandang Yabu dengan bangga karena Yabu jadi terlihat semakin tampan karenanya.
Yabu memandangi wajahnya dikaca, “Belahannya terlalu miring. Tapi begini lebih baik, arigatou Amakusa-chan.” Yabu memberikan senyum terbaiknya.
“Yabu-san, Amakusa-san. Silakan pergi keruang rias masing-masing, satu jam lagi syuting akan dimulai.” kata seorang crew pembuatan PV Yabu Kagayaku.
Keduanya mengangguk dan berjalan menuju ruang rias masing-masing.
***
“Amakusa-san, anda harus berlari-lari dengan wajah cemas.” kata sang sutradara yang diikuti anggukan Risa, tanda bahwa ia mengerti apa yang diperintahkan sutradara tersebut.
“Dan Yabu-san, anda hanya perlu berdiam diri dibalik pohon sambil melantunkan lagu anda.” kata sutradara tersebut.
Sutradara tersebut memandang keseluruh crew, “Aku berharap PV ini selesai dalam waktu dua hari. Jadi mohon serius,”
“Yabu-san, suara anda bagus sekali.” kata Risa setelah syuting PV berakhir.
“Arigatou, aktingmu juga bagus lho.” Yabu memuji balik Risa.
Risa tersenyum, membuat wajahnya jadi semakin cantik, “Malam ini mau makan malam bersamaku?” ajak Risa.
Diajak makan malam oleh model seperti Risa, siapa yang menolak, “Boleh, dimana?” tanya Yabu.
“Di kedai Mi Aceh milik keluargaku, bagaimana?”
“Mi Aceh?” Yabu mengulangi kata-kata ‘Mi Aceh’, karena kedengaran tidak familiar ditelinganya.
Risa mengangguk, “Iya. Belum pernah nyobain kan? Ayolah ikut aja.”
“Hai,” Yabu tersenyum.
***
“Yabu kemana? Hari ini aku belum melihatnya?” tanya Risa kepada Kei.
“Ia sakit, kecapean. Lagipula kemarin malam, Yabu-san diundang jadi bintang tamu di salah satu stasiun radio.” jelas Kei.
“Hari ini syuting dibatalkan kan? Kalau gitu, aku harus menjenguk Yabu. Kasian Yabu, tidak ada yang merawatnya.” ujar Risa khawatir.
“Pagi tadi aku sudah ke mansionnya, dan dokter pun juga sudah memekrisanya, katanya Yabu-san terlalu letih, jadi istirahat yang cukup akan bisa membuatnya bugar kembali. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Amakusa-san.” kata Kei.
“Aku khawatir, Inoo-san! Berikan aku alamat mansionnya,” Risa mengeluarkan buku catatan kecilnya, ia mencatat alamat tempat tinggal Yabu yang didiktekan oleh Kei.
Risa memakai topi dan kacamata hitam untuk menutupi sebagian wajahnya, “Arigatou. Aku pergi dulu.”
Tiga jam berlalu sia-sia, Risa belum juga menemukan alamat tempat tinggal Yabu. Padahal ia sudah mengikuti semua yang didiktekan oleh Kei tadi, tapi kenapa sampai sekarang belum sampai tempat tinggal Yabu.
“Doko wa, doko wa, doko wa~”
“Watashi no searching doko wa?”
Samar-samar suara Yabu Kagayaku terdengar oleh Amakusa Risa. “Eh? Jangan-jangan aku salah alamat?!” ujarnya lebih pada dirinya sendiri.
“Bagaimana ini? Aku tidak punya nomornya Yabu ataupun Inoo-san lagi.”
Risa melepas kacamata hitamnya dan menggatinya dengan kacamata minus, kemudian ia mengambil buku catatan kecilnya dan membaca ulang alamat yang didiktekan oleh Kei tadi.
“Kuso, ternyata aku salah baca. Pantas saja jadi salah alamat gini,” ujarnya pelan.
***
“Eh? Amakusa?” kata Yabu kaget begitu melihat Risa sudah sampai didepan mansionnya.
“Kau tau berapa lama aku mencari alamat mansionmu? Tiga jam setengah, Yabu-kun!! Dan kau tau kenapa aku tadi salah alamat? Karena aku salah baca! Hari ini aku lupa memakai lensa kontak, dan aku baru saja sadar begitu aku tau bahwa pandanganku menjadi kabur.” curhat Risa dengan wajah jengkel.
“Kau ini bodoh sekali, memangnya selama perjalanan gak kerasa pandanganmu jadi burem gara-gara gak pakai kaca mata apa?” tanya Yabu.
Risa menggeleng, “Aku gak suka pakai kacamata.” ujarnya polos.
Yabu hanya memandang gadis didepannya sedikit prihatin karena sifatnya yang begitu ceroboh, “Masuklah. Oh iya kalau mau minum ambil saja ya, kepalaku masih pusing.”
Risa mengangguk, “Aku kesini untuk menjengukmu.”
Yabu kembali tidur dikasurnya, sakitnya kali ini begitu menyiksa. “Amakusa-chan, bisa tolong ambilkan plester penurun panas dilemari P3K? Panas badanku naik nih,”
“Plesternya abis, pakai air dingin saja ya?” Risa mengencangkan volume suaranya agar Yabu bisa mendengarnya.
“Tidak ada air dingin,” jawab Yabu.
“Kalau gitu pakai air biasa terus airnya aku taruh dibawah AC ya?”
“Terserahlah, tapi kenapa tidak kau coba menciumku? Bisa saja suhu badanku menjadi turun?”
Wajah Risa memerah begitu mendengar rayuan Yabu, “Baka! Mana mungkin bisa seperti itu! Sudahlah airnya aku dinginkan dibawah AC saja!”
***
“Yabu-san, sore nanti ada wawancara mengenai hubunganmu dengan Amakusa Risa.” kata Kei yang mengingatkan kembali jadwal kegiatan Yabu.
“Hai,” kata Yabu tersenyum sambil memandang fotonya dan Risa dilayar ponselnya.
***
END
 gomen ffnya gajelas m(_ _)m

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s