[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 8) ~I Have To Move On~

Title        : Jumping To My Heart ~I Have To Move On~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter
Chapter     : Eight
Genre        : Romance *yeah~?LOL*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Inoo Kei (HSJ), Yamashita Opi (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Inoo Kei and HSJ member are belong to Johnny’s & Association, Yamashita Opi adalah OC yang aku pinjam. I just own the plot!! Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… please comments… Thanks.. ^^

Jumping To My Heart
~ Chapter 8 ~
~ I Have To Move On ~

“Mou…Din-chan mana sih?” sekali lagi gadis yang duduk di pelataran depan gedung kampusnya itu mengeluh.

Kebiasaan sahabatnya itu tak pernah berubah. Telat di setiap mereka janjian.

“Gomen!! Hehehe… aku ketiduran…” ucap Din yang baru saja hadir di hadapannya.

“Kalau gak karena mau ke perpus, aku gak akan ngajak kamu…” ucapnya galak.

“Opichi…jangan gitu dong~ hehehe..”

Sebenarnya mereka tak pernah ingin ke perpus. Namun karena tuntutan tugas yang semakin menggunung dan memerlukan banyak referensi, sehingga akhirnya mereka memutuskan bahwa inilah saatnya mereka datang ke perpustakaan.

Telat memang. Setelah hampir enam bulan mereka menjadi mahasiswi di Universitas Meiji.

“Buku ini bagus nih…” ucap Din sambil menyerahkan sebuah buku dari rak.

“Hmmm..boleh juga…” Opi mengambil buku itu, dan mencari di rak lainnya.

Opi berjalan beberapa langkah ke ujung rak, ketika tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.

“Eh…gomenasai…” ucap Opi tanpa melihat siapa yang ia tabrak.

“Tak apa…aku juga gak liat – liat…”

Din menoleh.

Seorang pemuda yang berwajah cantik. Siapapun tahu pemuda itu karena sebagian besar penghuni perpustakaan menoleh ke arah pemuda itu.

Pemuda itu menunduk sekilas dan meninggalkan tempat itu.

“Etto…itu tadi…itu tadi…” mata Opi masih menatap punggung pemuda itu yang menjauh.

“Hahaha.. wajahmu…”

“Inoo Kei kan?”

“Kenapa? Kau suka dia?” goda Din sambil menyentuh pipi Opi dengan telunjuknya.

“Chigau! Hanya kaget saja…” namun kentara sekali muka Opi memerah.

“Hahaha…”

Mengingat kejadian itu, Opi menyadari itulah kali pertama ia menjadi penghuni tetap perpustakaan ini. Walaupun tak setiap hari, namun ia sering sekali ke tempat itu untuk sekedar menunggu kedatangan Inoo Kei.

“Gomen aku baru datang…” sapa Din pada Opi yang sudah menunggunya di depan perpustakaan.

Lagi – lagi Din datang terlambat. Sudah dua tahun, ia tak juga berubah dari kebiasaan buruknya.

“Presentasi masih dua jam lagi kok..” kata Opi.

“Hmmm…”

Opi memperhatikan sahabatnya itu dari atas hingga bawah, “Bajumu gak ganti ya?”

“Hehehe…” Din hanya terkekeh karena tak sempat pulang ke apartemen untuk ganti baju. Ia hanya mengambil kemeja Yuya untuk sedikit menutupi bajunya kemarin.

“Kau dimana semalam?” tanya Opi ketika mereka sudah masuk ke Perpustakaan.

Din tak menjawab.

“Kenapa di perpustakaan gak boleh merokok?” keluh Din, “Dan kenapa kita harus janjian di perpustakaan, sih?”

“Kau harusnya berhenti merokok, Dinchan…” kata Opi mengingatkan, tak menjawab

Din mengangkat bahunya malas.

Opi tak melanjutkan, karena ia tahu sahabatnya itu keras kepala. Walaupun sudah berkali – kali ia mengingatkan hingga ia merasa mulutnya berbusa, tapi Din tetap saja melakukan kebiasaan buruk itu.

“Kau belum menjawab aku…” kata Opi lagi.

“Di rumah pacarku..” jawab Din singkat.

Opi mafhum. Din dengan pacarnya memang sering menghabiskan waktu bersama, tapi seingatnya ia baru saja bertengkar hebat dengan kekasihnya itu.

Ia ingin bertanya lagi, tapi Opi melihat Din tak ingin membahas itu sehingga ia terpaksa menahan pertanyaannya itu hingga mood Din kembali menjadi baik.

Pintu Perpustakaan terbuka, sesaat kemudian perhatian semua orang tersedot ke arah pintu untuk beberapa saat.

“Inoo-kun..” gumam Din melihat siapa yang berjalan masuk.

Din menatap Opi lalu tersenyum, “Inoo mu tuh…”

Opi menunduk, “Apa sih Din!! Sudahlah…” Opi membuka buku miliknya, mulai membaca isinya walaupun pikirannya juga sebenarnya memikirkan apa yang dikatakan Din.

Inoo Kei adalah teman satu fakultas mereka. Walaupun berbeda jurusan, tapi mereka sering melihat sosok Inoo Kei di kampus ini. Sejak dua tahun lalu, Opi sebenarnya sudah memerhatikan Inoo, tapi tentu saja hal yang tak mungkin dirinya mendekati idola se-tenar Inoo Kei.

Din ingin sekali bilang jika ia berteman dengan Yuya dan bisa mengenalkan Opi pada Inoo. Namun perjanjiannya dengan Yuya untuk tak membuka rahasia mereka membuatnya tak bisa berkata apapun pada Opi.

“Dekati dia dong…” kata Din menggoda Opi yang tersipu – sipu di hadapannya.

“Dinchan!!” protes Opi dengan sedikit berbisik.

“Hahaha..” Din terkekeh pelan.

Diam – diam Opi memperhatikan gerak – gerik Inoo yang berada di front desk Perpusatakaan itu, berbicara pada petugas di hadapannya.

Inoo berjalan ke arah mereka beberapa menit kemudian. Opi menunduk karena kaget, setelahnya pemuda itu tersenyum sekilas padanya ketika berpapasan di meja itu.

“Dia tersenyum…” gumam Opi kaget.

“Hahahahaha…” Din terbahak membuat seorang petugas mengisyaratkan ia menganggu ketenangan Perpusatakaan itu.

“Dinchan!! Jangan berisik..”

“Habis wajahmu itu lucu banget…” Din menahan tawanya dengan menutup mulutnya.

“Sudahlah…kau memang selalu begitu…” keluh Opi kesal.

“Gomen… gomen… lagipula kalau kau benar suka, dekati saja dia…” kata Din lalu menyesap kopi yang ia bawa tadi.

“Mana mungkin…lagipula aku hanya fans nya saja kok..” elak Opi.

“Benarkah?”

“Sudahlah…waktu presentasi hampir tiba…” keluh Opi mengalihkan pembicaraan itu.

“Kalau suka, kau harusnya dekati dia dong…bukannya itu alasan kau sering sekali ke perpustakaan?” goda Din lagi.

“Ikuta Din…. segera baca bahan presentasimu!!” seru Opi galak.

“Hai! Hai!! Opichi gak asyik nih…”

============

“Iya sensei…tugas selanjutnya akan saya kumpulkan tepat waktu…” Inoo membungkuk dalam, lalu keluar dari ruang dosen.

Akhirnya urusan mengumpulkan tugas hari itu sudah selesai. Ternyata capek sekali, setelah kemarin malam ia tak tidur karena Hikaru mengajak member BEST untuk after-party.

“Huaaa~” ia merasa mengantuk, namun setelah ini ia ada pemotretan, maka ia harus segera berangkat ke lokasi.

Ia memandang dasbor mobilnya yang penuh dengan pernak – pernik khas wanita. Tentu saja bukan miliknya. Mobil ini selalu jadi tempatnya berbincang – bincang dengan kekasihnya.

Mantan kekasih tepatnya.

Ia tak punya keinginan untuk menghilangkan semua pernak – pernik ini. Terlalu sulit untuk membuang kenangan dari orang yang paling dia sayang. Sampai sekarang memang hanya gadis itu yang benar – benar ia cintai.

Mengingat hal itu, ia jadi ingat kalau beberapa minggu lagi adalah hari peringatan kematian Rie. Ia kembali menghela nafasnya. Bukan ia tak bisa melupakan sosok Rie, tapi buatnya, kmatian Rie adalah kesalahannya juga.

“Iya…iya…aku akan kesana..gak usah bawel…” ucap Rie saat itu. Ia masih ingat, terlalu jelas di benaknya.

Lalu kecelakaan itu pun terjadi. Rie tertabrak mobil saat menuju ke apartemennya.

Ponselnya tiba – tiba berbunyi, membuatnya sedikit kaget, “Eh, moshi – moshi?” angkat Inoo.

“Masih jauh gak? Jemput aku dong… malas bawa mobil…” tak usah ditanya, itu pasti Yabu.

“Baiklah…aku mampir ke rumahmu dulu…” Inoo menutup ponselnya dan membawa mobilnya ke daerah rumah Yabu.

Ia tahu, sudah saatnya berjalan maju ke depan tanpa melihat masa lalunya.

===========

“Din-chan…kau terlalu mabuk…” ucap Yuya yang tak kalah mabuk dengan dirinya.

“Aku…pulang ke tempat Yuyan saja ya??” rengek Din seperti anak kecil.

“Gak bisa…pacarku ada di apartemenku,” jawab Yuya.

Din menelungkupkan mukanya di meja bar. Yuya mengambil ponsel Din, dan mendial nomer pertama yang ia lihat di ponsel Din.

“Halo? Kau… teman Din-chan? Bisa jemput dia ke Star Zone?Iya…iya…”

Yuya mengedarkan pandangan, sekilas ia melihat Inoo masih duduk dengan tenang di meja bar sebelah mereka.

“Kei-chan…antar Din-chan pulang bisa kan? Aku harus ke apartemen… pacarku bawel sekali…” keluh Yuya pada Inoo.

“Chotto… aku gak tau rumah gadis ini…” protes Inoo.

“Sebentar lagi temannya datang… kau antar bareng dia aja…” Yuya menepuk bahu Inoo dan keluar Bar itu dengan jalan sempoyongan.

“Mou…kapan bocah itu berubah?!” seru Inoo kesal.

Malam ini after-party memang sedikit agak kebablasan. Hikaru dan Yabu akhirnya pulang duluan. Daiki mana mau ikut after-party? Dia sedang sibuk dengan urusannya. Terpaksa Inoo yang menemani Yuya, namun sekarang ia malah harus mengantar gadis mabuk partner Yuya.

“Din-chan…Din-chan!!” Opi masuk ke Bar dan mencari sosok sahabatnya yang menurut si penelepon tadi dalam keadaan sangat mabuk.

“Kau…temannya Din-chan?” tanya Inoo sambil berdiri memapah tubuh Din yang sudah tak sadar.

Opi kaget, namun berusaha bersikap biasa.

“Un!”

“Ya sudah…ayo kita antar dia pulang…” ucap Inoo sambil masih memapah tubuh Din kelar dari Bar, sementara Opi sibuk mengumpulkan barang – barang Din yang ada di meja bar.

“Tadi…siapa namamu?” tanya Inoo dibalik kemudi.

Opi sedikit risih karena harus duduk di depan. Din menghabiskan tempat di belakang untuk rebahan karena tak sadar.

“Yamashita Opi desu…” jawab Opi canggung.

“Sou ka… aku… Inoo Kei…”

“Tahu kok…” kata Opi tak sadar.

“Hehehe… ternyata kau tahu… kalau tak salah… kau juga mahasiswa Meiji kan?”

Demi apapun. Sungguh hal aneh seorang Inoo Kei bisa mengingat dirinya di Universitas sebesar itu.

“Aku sering melihatmu di Perpustakaan juga…”

Kalau bisa berteriak, sekarang Opi pasti akan melakukannya. Ternyata keberadaannya selama ini di Perpustakaan cukup menarik perhatian seorang Inoo Kei.

“Biasalah…tugas…” jawab Opi gugup.

Inoo terkekeh pelan, “Iya…apalagi tahun ini kita masuk ke semester terakhir kan?”

Opi mengangguk – angguk.

“Din-chan dibawa kemana nih?” tanya Inoo sambil menoleh sekilas ke belakang.

“Ke apartemenku saja… kalau dibawa pulang ke apartemen pacarnya, aku malas berurusan dengan pacarnya itu…” jawab Opi.

“Baiklah…tunjukkan saja jalannya ya…”

Inoo menyalakan radio tape nya, suara yang keluar adalah musik klasik yang bias aia dengarkan di mobil.

“Wah… keren… lagunya enak..” ucap Opi yang juga menyukai beberapa lagu klasik.

“Kau suka juga?”

“Walaupun tak begitu hapal…tapi aku selalu suka mendengarkannya,” jawab Opi, sebuah senyuman muncul dari bibir gadis itu.

“Sou ka… ngomong – ngomong… aku punya tiket untuk nonton orkestra… kau mau ikut?” seperti mendapat ide bagus, Inoo mengambil sebuah tiket di dasbor mobilnya.

“Eh?” Opi memandang kertas tipis bertuliskan orkestra itu dengan bingung.

“Daripada aku ajak orang lain yang tak suka menonton?hehehe.. mau ya? Masih seminggu lagi kok…” kata Inoo menjelaskan.

Opi mengangguk, “Un… wakatta… Arigatou Inoo-san…”

Inoo hanya tersenyum, tanpa menjawab apapun. Ia dapatkan tiket itu dari seorang temannya. Karena mendapat dua tiket, awalnya ia berencana untuk mengajak Yabu walupun dengan resiko Yabu akan tertidur selama pertujukkan berlangsung.

“Benar tidak apa – apa ini?” tanya Opi takut – takut.

“Benar… mau sekalian aku jemput?”

Mata Opi terbelalak kaget, “Tak usah!! Tak usah!!”

“Ya sudah..kita ketemu di tempat aja ya?” kata Inoo lagi.

Opi hanya sanggup mengangguk. Tak terasa mereka sudah hampir sampai di apartemen milik Opi.

“Anou… Inoo-san… terima kasih sudah mengantarkan kami…”

“Tak usah se-formal itu.. Yamashita-san… sama – sama…”

“Baiklah… jelaskan padaku… apa maksudmu bisa bersama anak BEST seperti kemarin?!” seru Opi ketika pagi itu akhirnya Din terbangun.

“Aduh…pusing…” Din memegang kepalanya lalu berjalan menuju dapur kecil di apartemen itu, mengambil segelas air dingin untuk sekedar menetralisir rasa hangover-nya.

“Jawab aku… Ikuta Din!!” Opi melipat tangannya di depan dada sambil menatap Din.

“Uhuk… pokoknya aku mengenal dia secara tak sengaja…” jawab Din acuh seperti biasa.

“Gomen na Opichi…bukan maksudku tak mau mengenalkanmu pada mereka…sebenarnya aku juga kenal Yuyan belum lama,” tambahnya.

Opi menggeleng, “Masalahnya aku menemukanmu sedang mabuk dengan mereka… kau gak bikin aneh – aneh lagi kan?” tanya gadis itu lagi.

“Tergantung kategori anehmu itu seperti apa?”

“Dinchaaaannnn!!!” teriakan itu pun memenuhi kamar kecil milik Opi.

==========

“Maaf aku telat…untung kau masuk duluan..hehe..” suara seorang Inoo Kei mampir di teliga Opi ynag sudah bersiap menonton orkestra itu.

Opi menoleh, “Eh…iya..tak apa…”

Untung keadaan bioskop saat itu sudah gelap. Sehingga pipinya yang kini berubah warna menjadi merah tak terlihat oleh Inoo.

“Sebenarnya aku memang harus masuk setelah lampu gelap…” katanya lagi sambil sedikit terkekeh.

Akhirnya pertunjukkan dimulai. Keduanya tak berbicara satu sama lain dan menikmati pertunjukkan itu.

“Wajahmu saat menonton serius sekali…” ucap Inoo sambil memeragakan ekspresi wajah Opi di dalam teater tadi.

Opi hanya manyun. Mereka kini sedang makan malam di sebuah restauran yang sering Inoo datangi, sehingga mereka mendapatkan tempat private di dalam.

“Hahaha… gomen… gomen,”

“Betsu ni…” jawab Opi lalu melahap lagi sushi yang terhidang di mejanya.

Jika boleh jujur, Opi saat ini tak percaya ia bisa duduk berdua dengan seorang Inoo Kei. Mau tak mau dia sebenarnya merasa bersyukur malam itu Din mabuk dan menyebabkan dia bisa bertemu dengan seorang Inoo Kei.

“Kau jurusan apa? Kalo boleh ku tau?” tanya Inoo.

Opi menatap Inoo, “Design produk…makanya kita se fakultas kan?”

Inoo mengangguk – angguk, “Iya…makanya kau sering berada di perpustakaan fakultas kan? Waaah~ tak sangka ternyata kau temannya temanku…hahaha…”

“Sou ka… Din-chan itu sahabatku…dia juga pernah di perpustakaan bersamaku…” ucap Opi mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat mereka bertemu di perpustakaan.

Inoo mengangguk, “Saat itu aku juga belum kenal Din-chan… Yuya juga baru saja mengenalkanku padanya…”

“Hmmm.. .” Opi mengangguk – angguk mengerti.

“Habis ini aku antar pulang ya… jangan menolak…” katanya cepat.

Opi hanya tersenyum menanggapi Inoo.

Di mobil ini terlihat banyak pernak – pernik berbentuk mickey mouse, malah ada yang berwarna pink. Meskipun awalnya Opi tak peduli, namun sebenarnya ia penasaran. Apa seorang Inoo Kei suka Mickey Mouse? Gak mungkin kan? Tapi dia juga tak berani bertanya pada Inoo.

“Kenapa? Kau suka mickey mouse juga?” tanya Inoo ketika melihat gadis yang kini duduk di sebelahnya memerhatikan sebuah pajangan milik Rie.

Opi menggeleng cepat, “Aku sukanya Tazmania!! Hehehe..” jawab gadis itu.

Inoo tersenyum lembut menanggapi perkataan Opi, “Aku juga gak suka mickey mouse kok… kebetulan saja… pacarku menyimpannya disini…”

Hati Opi tak bisa dibohongi. Setelah dua tahun lebih ia mengaggumi sosok Inoo, kini ia tahu pemuda itu punya kekasih, tentun saja hal itu mengecewakan buatnya.

“Kenapa Inoo-san tidak nonton orkestra dengan pacarnya saja?” Opi menoleh, dan mendapati ekspresi wajah Inoo berubah.

“Dia tak akan bisa datang… dia sudah tak ada…meninggal setahun yang lalu…” jawab Inoo datar, namun terlihat sangat kentara bahwa ia menyesal.

“Sou ka… gomen na…” Opi merasa ia salah berbicara.

“Tak apa – apa…eh…tak sadar sudah sampai apartemenmu…hehehe..”

“Mau… mampir?” tanya Opi sedikit gugup.

Inoo tersenyum, “Boleh…besok aku mulai siang kok…”

Setelahnya Opi merutuki diri sendiri. Ia baru ingat apartemennya sangat berantakan, belum sempat ia bersihkan. Lagipula mengundang seorang pria ke apartemennya? Cukup bodoh memang, tapi ia juga tak mau kebersamaan dengan Inoo cepat berakhir.

“Maaf…berantakan…” ucap Opi sambil mengambil sebuah baju dari sofa, “Douzo…”

Inoo duduk dan memerhatikan apartemen kecil itu. Cukup nyaman walaupun sekarang agak berantakan.

Opi menyerahkan sekaleng bir, “Gomen…teh nya habis..aku belum sempat beli…”

“Tak apa – apa..oh iya..tunggu sebentar…” Inoo beranjak keluar dan beberapa menit kemudia kembali dengan sebotol wine.

“Eh?”

“Aku membeli wine sebelum berangkat tadi…hahaha… kita minum ini saja ya?”

Opi mengangguk dan segera mengambil dua gelas untuk mereka.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya mabuk, walaupun Opi masih sadar karena ia memang tak minum terlalu banyak.

“Kau tahu… aku menyesal… aku bodoh membuat gadisku ke apartemenku… lalu…” Inoo menggerakan tangannya seperti seseorang tertabrak mobil, “Wush!! Dia kehilangan nyawanya…hahaha..”

Opi terdiam, menatap Inoo yang mukanya kini memerah, “Inoo-san, daijoubu?”

“Hahaha… hahaha…” ekspresi wajah Inoo perlahan berubah menjadi sangat sedih, ia memeluk Opi sambil bercucuran air mata, “Aku takut… takut sekali jika aku jatuh cinta lagi… aku takut Opi-chan…huhuhu…”

Opi membelai pelan punggung Inoo, mencoba menenangkan pemuda mabuk yang kini berada di pelukannya.

Inoo masih menangis lalu mendorong tubuh Opi hingga terbaring di sofa itu. Sesaat tangisnya berhenti, Inoo menatap Opi yang berada tepat di bawah tubuhnya. Beberapa detik kemudian bibir keduanya bertautan, awalnya Opi tak membalas namun akhirnya menyerah dan membalas ciuman itu.

Inoo berhenti. Menatap Opi dengan bingung lalu memeluk gadis itu erat.

“Inoo-san… Inoo-san…” Opi mencoba membangunkan pemuda itu, “Sepertinya ia tertidur…” gumam Opi pasrah, ia tak bisa menyingkirkan tubuh Inoo dari tubuhnya. Lalu ikut tertidur.

===========

Setelah kejadian malam itu, mereka memang jarang sekali bertemu. Namun komunikasi mereka intens melalu ponsel dan e-mail. Pagi itu mereka terbangun dan Inoo kaget melihat Opi ada di pelukannya. Walaupun menyadari tidak terjadi apa – apa, tetap saja ia kaget.

“Yow!” sebuah tangan mampir di pipinya.

“Kou-chan… dari mana kau?” tanya Inoo ketika menyadari yang datang adalah Yabu.

Yabu duduk di kursi sebelah, “Gak dari mana – mana… Cuma menelepon sebentar…”

“Thalia-chan?” tanyanya lagi, tahu bahwa sahabatnya itu sedang kasmaran.

“Hahaha… betul sekali!! Seratus buat Kei-chan!! Eh… tanggal sepuluh ya… kau gak ke…makam?” tanya Yabu sedikit tak enak.

Inoo menunduk, “Entahlah… Rie-chan pasti marah ya, aku tak mengunjunginya hari ini?”

Yabu menepuk punggung sahabatnya itu, “Kau masih belum bisa memafkan dirimu ya?”

“Itu memang kesalahanku Kou-chan…”

“Kalau begitu tebuslah dengan mengingatnya, paling tidak setahun sekali… kalau tak begitu, kau tak akan bisa melanjutkan hidupmu…” Yabu mengerti perasaan Inoo, namun ia tak ingin sahabatnya terus berlarut – larut memikirkan masa lalunya.

“Kau mau menemaniku?” ucap Inoo akhirnya.

“Gomen na.. aku ada syuting Yan Yan… hmmm… coba kau tanya yang lain?”

Inoo menggeleng, “Tak usah…aku mengajak orang lain saja…”

To : Yamashita Opi
Subject : (no subject)

Kau ada waktu hari ini?
Bisa menemaniku sebentar?

Opi yang sedang di kantin terlihat kaget melihat pesan dari Inoo.

“Kau kenapa sih?” Din heran melihat Opi yang tiba – tiba saja tersedak.

Opi memperlihatkan pesan itu kepada Din.

“Waaahh~ kencan? Huhu…akhirnya sahabatku punya pacar…” Din mencolek pipi Opi.

“Chigau yo!! Tak mungkin seorang Inoo Kei gitu…”

“Katakan padaku…sudah sejauh mana kalian? Hmmm… sudah sering berkencan?”

Opi menggeleng.

“Pegangan tangan?”

Opi kembali menggeleng.

“Ah gak asyik nih!!”

“Sudah kubilang aku hanya berteman dengan Inoo-san…” sergah Opi lagi, “Tapi…kita…”

“Apa? Apa?” mata Din membulat seperti mendapatkan mangsa.

“Kita pernah ciuman…”

“APA??!!”

Opi menutup mulut Din dan menggeleng cepat, “Tapi itu tak sengaja…dia sedang mabuk…”

“Hohoho…mungkin hari ini dia mau memperjelas semuanya…” Din merubah mimiknya menjadi serius, “Opi-chan… maukah kau menikah denganku?” katanya mencoba meniru gaya Inoo.

“Baka!! Kau terlalu banyak menghayal!!” umpat Opi dan segera membalas pesan Inoo.

“Bilang – bilang kalau kalian jadian ya…”

“Muri da yo!!” namun wajah Opi terlihat memerah dan malu.

===========

Hanamura Rie.

Opi membaca tulisan di makam itu lagi, dan hanya mengikuti Inoo yang menyimpan sebuket bunga di pusara berwarna putih itu.

“Ini makam pacarku…” jelas Inoo.

Gadis itu tak pernah menyangka bahwa ternyata Inoo membawanya ke makam pacarnya. Ia sedikit kecewa dan ternyata prediksinya lebih akurat daripada prediksi Din, sahabatnya.

“Aku datang Rie… maafkan aku… semoga kau tenang disana…” gumam Inoo lirih, namun karena suasana pemakaman itu sangat sepi, sehingga Opi bisa mendengar Inoo dengan jelas.

“Anou… Inoo-san… boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Opi ketika mereka melangkah menuju ke mobil Inoo yang di parkir sedikit jauh dari tempat itu.

“Ya?”

“Kenapa kau mengajakku kesini?” tanya Opi dengan pelan.

Inoo mengela nafas sesaat, “Karena Kou-chan tak bisa menemaniku…”

“Ah…” jadi itu alasan dia mengajak Opi, bukan mengajak orang lain.

Inoo terkekeh, “Uso…” lalu mengambil tangan Opi, menggenggamnya, “Karena jika aku mau memulai hubungan baru, aku merasa harus membawa calon gadisku itu ke hadapan Rie…”

“Hah? Maksudmu?”

“Aku tak pandai berkata manis… jadi jangan tanya macam – macam…”

Demi apapun Opi merasa otaknya macet, ia tak mengerti maksud Inoo.

“Tapi…aku benar – benar tak mengerti…”

“Setelah aku mengajakmu nonton orkestra, makan malam denganku, lalu dengan sukarela ke apartemenmu… apa kau belum juga mengerti?” tanya Inoo lagi.

“Karena…kita… teman kan?”

Inoo mencubit pelan pipi Opi, “Karena aku tertarik padamu… kita mulai pelan – pelan ya? Boleh kan?”

Lalu segala ucapan tentang takut jatuh cinta itu? Batin Opi masih bertanya – tanya akan hal itu.

“Aku memang takut jatuh cinta lagi… tapi ketika sadar, aku ternyata sudah melakukannya lagi…hahahaha…”

“Demo… Inoo-san…”

“Apa…aku perlu menciummu lagi?”

Sebelum Opi sempat menjawab, Inoo mencium pelan bibir Opi.

“Kau…ingat?”

“Aku mabuk…tapi masih ingat ciuman itu…”

“Ah…sou ka…”

Opi masih merasa dadanya dag dig dug tak keruan ketika masuk ke mobil seorang Inoo Kei.

“Opi-chan…” panggil Inoo.

“Ya?”

“Panggil aku Kei-chan? Bisa kan?” ujar Inoo dengan lembut.

“Ah…hmmm.. Kei….chan?”

Inoo tersenyum puas, “Begitu lebih enak di dengar…”

“Satu lagi…” tambahnya, “Kau boleh mengganti pernak – pernik ini dengan Tazmania…hehe..”

Opi akhirnya tertawa karena ia tahu ini bukan mimpi. Inoo Kei benar – benar menyatakan perasaannya.

My heart became full with the love the love
I want to hug you
Take as much fresh love love as you want
I’ll only face you

I miss the “temperature” when we hold hands
I definitely won’t let you go
Let’s double it and raise it together
I love you including the future
(Hey!Say!JUMP – Ai-Ing Aishiteru)

=============

“Kei-chan?” angkat Opi ketika pagi itu ia baru terbangun dari tidurnya.

“Baru bangun?”

Opi mengangguk namun menyadari hal itu tak akan terlihat oleh Inoo, “Iya… hehe.. kenapa?”

“Ke apartemenku ya? Mau kan?”

“Hmmm.. baiklah…nanti au kesana.. aku mandi dulu..”

“Eh…aku jemput saja…tunggu disana…”

“Hah? Tak perlu…biar aku kesana sendiri…”

Setelah berpacaran dengan Inoo selama tiga bulan, Inoo lebih berkesan protektif padanya.

“Opi-chan…aku jemput saja… kebetulan hari ini off kok.. aku tak ada kerjaan…” rengek Inoo lagi.

“Aku akan hati – hati…melihat semua peraturan lalu lintas, aku akan kesana dengan selamat… percaya padaku kan?” ucap Opi lagi.

Inoo menghela nafasnya, “Tapi…”

“Kau percaya padaku kan?”

“Aku takut terjadi apa – apa padamu…”

“Bagaimana kalau kita buktikan…aku akan sampai di apartemenmu dengan selamat…”

Selama tiga bulan ini memeang baru sekali ia ke apartemen Inoo. Itu juga dijemput oleh si pacar yang sangat protektif.

“Baiklah…” walaupun Inoo terdengar tak rela.

Ting Tong…

Inoo berlari menuju pintu apartemennya ketika melihat sosok Opi di depan pintu.

“Aku datang…hehehe..”

Inoo menarik Opi ke dalam pelukannya, “Yokatta…”

“Jangan berlebihan Inoo-san…”

Ia tak mau Inoo terus trauma dengan kejadian yang menimpa Rie. Inoo hanya tersenyum.

“Kau tahu… kecelakaan Rie sama sekali bukan kesalahanmu… semua orang mungkin sudah punya garisnya masing – masing… sehingga kau tak perlu merasa bersalah atas kejadian itu…”

“Opi-chan…” Inoo kembali memeluk Opi.

“Pasti Rie juga merasa demikian…”

Inoo mengangguk. Kini ia berharap hubungannya dengan Opi akan selamanya. Ia juga sudah bisa memaafkan dirinya sendiri, ia yakin Rie sudah baik – baik saja disana.

==============

Jumping To My Heart ~I Have To Move On~ END
To Be Continued….

Aneh ya?? Aneh gak?
Terakhirnya gaje ah… maafkan akuuuu~ #nangis darah..
Demo…
COMMENTS ARE LOVE.. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 8) ~I Have To Move On~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s