[Multichapter] A Day In Our Life (chap 5)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Lima
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Matsumoto Jun (Arashi), Daiki Arioka, Morimoto Ryutaro (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC),  dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Matsumoto Jun, Morimoto Ryutaro, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

 A Day In Our Life
= Chapter 5 =

Saifu menghela nafas panjang. Pandangannya menatap ke luar jendela. Buku yang terbuka dihadapannya sama sekali tidak ia lirik ataupun dibaca. Terbuka begitu saja.

Hari ini hari Minggu. Saifu tidak ada kegiatan apapun di rumahnya. Selain itu ia belum siap bertatap muka dengan Opi sejak kejadian kemarin. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan umum. Tapi di tempat itu pun ia tidak melakukan apapun.

Saifu kembali menghela nafas. Ia merutuki dirinya sendiri setiap mengingat kejadian tadi malam. Ada apa dengannya? Kenapa ia bisa dengan mudahnya menangis dan menceritakan semuanya pada si pemilik rumah itu? Seharusnya ia sudah tidak bisa menangis lagi. Seharusnya ia sudah kebal tentang masalah itu. Sekumpulan orang membicarakannya pun ia tetap tidak memperdulikannya. Tapi kenapa bisa ia menangis di depan Opi?

Saifu menjatuhkan kepalanya tepat di atas buku dengan pelan. Ia yakin dirinya sudah kehilangan semua perasaannya. Bagaimana rasanya berteman dan bagaimana rasanya memiliki kekasih. Semua hilang sejak kejadian itu terjadi.

-Flash back-

Saifu melenggang senang menuju dojo tempat Ryutaro berlatih panahnya. Di tangan kanannya, ia memegang kotak yang merupakan bekal untuk kekasihnya itu. Ia merasa bersemangat karena untuk pertama kalinya ia membuatkan bento untuk Ryutaro sejak mereka resmi pacaran sebulan yang lalu. Bekalnya itu istimewa karena ia belajar langsung dari chef di rumahnya.

Saifu mengeluarkan kepalanya dari sela-sela pintu untuk mencari Ryutaro. Dan ternyata tidak sulit mencarinya karena Ryutaro sedang duduk sendirian sambil memeriksa peralatan panahnya.

“Ryu..” panggil Saifu.

Ryutaro menoleh lalu tersenyum. “Kau datang?”

Saifu menghampiri Ryutaro. “Aku membawakan ini.” Saifu menunjukkan bekal buatannya itu pada Ryutaro.

“Untukku?”

Saifu mengangguk.

“Kau yang membuatnya?”

Saifu mengangguk lagi.

Ryutaro tersenyum. “Kemajuan besar kau memasak sendiri. Padahal memasak air saja tidak bisa,” ledeknya.

Saifu cemberut. “Kalau kau tidak mau, kembalikan.”

“Kau sudah memberikannya, berarti tidak bisa dikembalikan. Ini milikku,” cibir Ryutaro lalu tersenyum pada Saifu.

“Arigatou..”

Mau tidak mau Saifu ikut tersenyum. Ia tahu Ryutaro hanya bercanda.

Ryutaro Morimoto. Pemuda yang sangat baik pada semua orang. Mungkin juga terlalu baik untuk Saifu. Tidak heran jika Ryutaro disukai oleh anak perempuan yang lain. Setiap hari ada saja yang mendekatinya. Tidak terhitung berapa gadis yang menyatakan perasaan mereka padanya. Tapi ia selalu menolaknya. Tentu saja karena ia sudah memiliki Saifu sebagai pacarnya sekarang.

“Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ryutaro yang sedang menikmati bento-nya. Saifu yang sudah makan hanya melihat pemuda itu saja.

“Ada yang ingin kuceritakan. Emi dan Daiki-senpai sudah jadian,” cerita Saifu senang.

“Hontou ni? Aku ikut senang. Dengan begini, Daiki-senpai tidak akan menghubungimu terus,” kata Ryutaro.

Saifu mendecak. “Kau masih saja cemburu? Kan sudah aku bilang…”

“..kalau kau dan Daiki-senpai tidak ada apa-apa?” Ryutaro melanjutkan. “Kau sudah mengatakannya berulang kali.”

“Kalau kau tahu, tidak usah berlebihan seperti itu,” ucap Saifu sedikit kesal.

Ryutaro diam. Ia juga tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Tapi perasaannya tidak dapat dibohongi kalau ia cemburu melihat Daiki berhubungan dengan Saifu hanya untuk mendekatkan senpainya itu dengan sahabat Saifu, Emi.

“Gomennasai..” kata Ryutaro pelan.

“Aku juga. Sudahlah. Kita tidak perlu bertengkar karena hal yang sama. Apalagi Daiki-senpai sudah bersama Emi. Jadi aku sudah tidak dibutuhkan lagi,” ucap Saifu menenangkan.

Ryutaro mengangguk.

Pemikiran Saifu ternyata salah. Walaupun Daiki sudah bersama Emi, laki-laki itu masih tetap menghubunginya. Hanya untuk menanyakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Emi. Saifu tidak keberatan karena ia senang membantu untuk sahabatnya. Selain itu Daiki adalah pendengar yang baik jika ia ingin bercerita sesuatu tentang Ryutaro atau tentang yang lainnya.

Awalnya Ryutaro maupun Emi tidak mengetahui ‘hubungan’ mereka. Tapi makin lama, Ryutaro merasa curiga pada Saifu setelah melihat gadis itu dan Daiki mengobrol berdua dan terlihat sangat akrab.

“Dari mana?” tanya Ryutaro saat Saifu kembali ke kelasnya.

“Dari kantin,” jawab Saifu. “Ada apa, Ryu? Kenapa terlihat marah?”

“Sejak kapan koridor sekolah menjadi kantin?” sindir Ryutaro. “Tadi aku lihat kau asyik mengobrol dengan Daiki-senpai.”

“Tadi aku memang dari kantin. Lalu tidak sengaja bertemu dengannya. Dan akhirnya malah mengobrol,” jelas Saifu. “Kau ini kenapa sih?”

“Aku kenapa? Aku hanya tidak suka pacarku mengobrol mesra dengan laki-laki lain,” jawab Ryutaro dingin.

“Laki-laki lain? Dia itu pacar sahabatku, Ryu..”

Saifu bingung harus menjelaskan bagaimana lagi agar pemuda itu percaya padanya. Sepertinya semua penjelasannya sudah sangat jelas. Tapi kenapa ia tidak mau mengerti?

“Pacar sahabatmu itu, tetap laki-laki lain buatku.” Setelah mengatakan itu, Ryutaro pergi meninggalkan Saifu sendirian.

Setelah kejadian itu, Ryutaro sama sekali tidak menghampirinya selama 2 minggu. Saifu sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikannya. Ia merasa tidak salah karena perasaannya pada Daiki hanya sebatas teman saja.
Hingga akhirnya Saifu bercerita pada Daiki apa yang terjadi pada dirinya dan Ryutaro.

“Gomennasai. Gara-gara aku…”

Saifu menggeleng. “Daiki-senpai tidak salah. Ryu hanya salah paham. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku baikan dengan Ryu. Aku tidak suka kami begini terus.”

Daiki merangkul Saifu yang tertunduk. Tidak ada maksud lain. Ia hanya ingin menenangkannya.

“Dia pasti akan melupakannya. Aku tahu Ryu.”

Di saat Saifu meluapkan kesedihannya dan Daiki menenangkan Saifu, tiba-tiba Emi muncul di depan mereka dengan wajah yang mendung, kaget dan kecewa.

“Emi..”

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Emi yang lebih tepat menghakimi.

“Kami…”

“Jadi benar yang dikatakan Ryu,” Emi memotong perkataan Daiki. “Ini yang kalian lakukan di belakang kami?”

“Kita tidak melakukan apa-apa, Emi..” sergah Saifu.

“Aku bukan orang bodoh. Kalian pikir orang-orang tidak akan berpikir macam-macam saat melihat kalian berpelukan seperti itu,” tambah Emi dengan keras.

“Cukup, Emi,” bentak Daiki. “Aku dan Saifu tidak ada apa-apa.”

“Aku tidak percaya,” balas Emi.

“Terserah.”

“Kita putus,” ucap Emi.

Daiki diam sebentar lalu menjawab, “Kalau itu maumu. Kita putus.”

Emi tidak pernah mengharapkan ini. Tadi ia hanya ingin menguji Daiki. Tapi ia tidak menyangka Daiki berkata seperti itu.
Emi pergi sambil menangis. Saifu yang ingin mengejarnya, lalu ditarik tangannya oleh Daiki.

“Biarkan dia sendiri..” kata Daiki.

Beberapa hari setelah hari itu, tidak ada perubahan apapun. Emi dan Daiki tetap putus. Saifu dan Emi tetap bertengkar. Sedangkan Saifu dan Ryutaro keadaannya makin memburuk. Sampai pada akhirnya Ryutaro memutuskan hubungannya dengan Saifu.

Tentu saja Saifu sedih. Tapi ia lebih merasa kecewa. Ia kecewa Ryutaro dan Emi tidak mempercayainya dan Daiki. Ia kecewa semua orang menyalahkannya dan menjauhinya, kecuali Daiki. Tapi ia merasa semua sama saja. Hingga akhirnya, hatinya tidak bisa merasakan apapun dan ia tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

-End-

—————————

“Yup. Sudah rapi..” gumam Riisa setelah berdandan ala kadarnya di depan cermin.

Hari ini Riisa terpaksa pergi ke taman hiburan bersama Yuma. Sebenarnya ia malas pergi kemana-mana hari ini. Tapi ia tidak enak pada Nakayama-san yang dengan berbaik hati memberinya tiket. Sayang jika tidak digunakan.

“Ya Tuhan, semoga hari ini menjadi hari yang baik dan Yuma tidak membuatku jengkel,” ucap Riisa sambil memejamkan matanya. Ia sangat sangat berharap hari ini menjadi hari yang menyenangkan walaupun ia tidak yakin karena keberadaan Yuma.

Setelah siap segalanya, Riisa keluar kamarnya.

“Mau pergi?” tanya Opi yang kebetulan berpapasan dengan Riisa. Pakaian Opi hari ini sangat biasa dan sepertinya ia akan menjadi penjaga rumah hari ini.

Riisa mengangguk. “Mungkin aku akan pulang sore.”

“Pulang pagi juga tidak apa-apa,” kata Opi datar.

Riisa lalu tertawa. “Hahahaha…Opi nee-chan ini bercanda saja. Mana betah aku dengannya sampai pagi.”

“Itterasshai..” potong Opi lalu pergi menuju dapur.

Riisa mengangkat bahu. Ia pikir si nona rumah itu sikapnya sudah sedikit melunak. Ternyata semakin hari semakin aneh saja.

“Yabai..” ucap Riisa panik saat melihat jam tangannya. Ia sudah terlambat. Yuma pasti akan mengomel.

Dan benar saja. Begitu Riisa sampai di pintu masuk taman hiburan, muka Yuma terlihat kesal dan bete.

“Gomen lama…” ucap Riisa menyesal.

Yuma mendelik pada Riisa. “Kau lihat sekarang jam berapa? Kau terlambat setengah jam..” omelnya.

“Kan aku sudah meminta maaf,” balas Riisa kesal.

“Kalau bukan karena Okaa-san, aku tidak akan ke sini bersamamu,” kata Yuma sambil berjalan menuju pintu masuk.

Riisa mendengus. “Itu harusnya kata-kataku.”

Walaupun bersama Yuma, Riisa berusaha untuk menyenangkan dirinya sendiri. Hampir semua wahana ia masuki. Jika Yuma tidak mau ikut dengannya, ia akan menarik tangan pemuda itu dan memaksanya untuk naik wahana yang ia inginkan. Meskipun diakhiri dengan omelan dari Yuma.

“Cukup…” teriak Yuma. “Kalau kau ingin naik itu, naik saja sendiri. Jangan mengajakku,” tolak Yuma kesal setelah mereka naik permainan roller coaster.

“Kalau sendirian, tidak seru. Kau tega melihatku berteriak-teriak sendiri?” bela Riisa.

“Itu bukan urusanku.”

Riisa cemberut. Tidak seharusnya Yuma bersikap seperti itu di saat ia sedang bersenang-senang.

“Baiklah. Kau pasti haus. Aku belikan minuman ya! Tunggu di sini.”

Riisa sudah berjanji dalam hatinya tidak akan bertengkar hari ini. Ia akan menikmati semuanya. Sejak ia datang ke Tokyo, Riisa belum merasakan bermain seperti ini.

“Aku mau kopi,” kata Yuma tiba-tiba muncul di belakang Riisa.

“Astaga Yuma. Jangan mengagetkanku,” rutuk Riisa. “Kenapa ke sini? Sudah kubilang tunggu saja.”

“Aku tidak mau duduk di tempat tadi. Kita pindah,” ucap Yuma.

Riisa mengerutkan keningnya. Ia melirik sedikit ke tempat mereka tadi. Tidak ada yang aneh.
Meskipun Riisa penasaran, tapi ia tidak mau bertanya. Biarlah Yuma sendiri yang menceritakannya jika ia mau.

Tak berapa lama, seorang gadis datang menghampiri Riisa dan Yuma. Riisa tidak mengenalnya. Tentu saja ia tidak mengenalnya karena gadis itu datang menghampiri Yuma.

“Yuma..” panggil gadis itu mendekati Yuma.

“Haruna? Kenapa datang ke sini?” tanya Yuma sedikit cemas.

“Aku mau bertemu denganmu,” kata gadis itu.

“Kau mencariku sampai ke sini?”

Riisa tidak mengerti apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya bisa berkerut bingung.

Yuma menatap Riisa yang berada di sampingnya. Ia yakin Riisa yang tidak tahu apa-apa merasa kebingungan.

“Haruna..” panggil Yuma. “Ini Riisa. Dia…pacarku.”

“Hah?” Riisa dan gadis yang bernama Haruna itu kaget bersamaan.

“Sekarang tidak ada alasan kita untuk bersama lagi. Kau mengerti kan?” Yuma berkata lembut pada Haruna. Riisa sedikit terkejut melihat sikap Yuma yang ternyata bisa lembut seperti itu.

“Kenapa?” Haruna mulai terisak. Ekspresinya terlihat kecewa.

Riisa melihat Yuma kebingungan. “Yuma, sepertinya kau selesaikan dulu urusanmu dengannya,” bisik Riisa pelan.

“Lalu jalan-jalan kita?” tanya Yuma.

“Sudah selesai. Tidak apa-apa. Kita pulang saja. Aku cukup senang walaupun tidak semua permainan aku naiki,” jelas Riisa.

Yuma diam sebentar.

“Walaupun diteruskan, pasti kau tidak akan tenang. Iya kan?”

Yuma tersenyum. Senyuman perdananya untuk Riisa. “Arigatou..”

Setelah itu, Yuma membawa Haruna pergi menjauh dan meninggalkan Riisa sendirian.

Riisa mendesah panjang sambil menatap minuman kaleng yang tadinya akan diberikan pada Yuma.

“Baik sekali aku..” gumamnya lalu pergi untuk pulang.

———————

“Membosankan sekali..” seru Din sambil menggeliat di sofa. Tak jauh dari tempatnya ada Opi yang sedang duduk di kursi goyang sambil membaca majalah.

“Kau tidak baito?” tanya Opi.

Din menggeleng lemas. “Hari ini aku libur. Sebenarnya aku ingin kerja saja. Tapi bos-ku yang menyuruhku untuk libur.”

Sudah beberapa hari Din bekerja hingga larut malam. Mungkin itu yang membuat bosnya berpikiran untuk membiarkan Din beristirahat.

“Kalau begitu, aku saja yang memperkerjakanmu,” kata Opi.

“Hah?”

Din tidak mengerti apa maksud Opi dengan ‘memperkerjakan’-nya. Tapi akhirnya ia mengerti saat mereka sudah ada di sebuah toko.

“Jadi maksudmu ini?” tanya Din pada Opi yang tengah memilih berbagai sayuran.

Dengan cekatan, Opi membeli berbagai bahan makanan. Seperti sudah sering ia melakukannya, sampai-sampai penjualnya mengenal Opi dengan baik.

“Hari ini membawa teman?” tanya Harada-san, penjual sayuran langganan Opi.

Opi tersenyum. “Hanya sukarelawan.”

Din menatap tajam ke arah Opi. Tapi orang ditatapnya cuek saja.

Din tidak menyangka menemani Opi belanja akan melelahkan sekali. Bagaimana tidak melelahkan jika semua belanjaannya Din yang membawanya? Tangan kanan dan tangan kirinya sudah dipenuhi dengan kantong berisi bermacam-macam bahan.

“Sekarang tinggal membeli alat-alat mandi..” kata Opi pada secarik kertas di hadapannya.

“Masih ada lagi? Kau tidak lihat tanganku sudah penuh?” protes Din sambil merubah posisi bawaannya yang tak nyaman. Sementara Opi tidak membawa apa-apa. Di tangannya hanya memegang kertas saja.

“Kau mau mandi hanya menggunakan air? Tanpa sabun ataupun shampo? Atau kau tidak membutuhkan tissu toilet?” tanya Opi.

Din mendecak. “Baiklah..” akhirnya ia mengalah. Kekuatan ucapan Opi memang tidak terkalahkan. Dan dengan terpaksa ia mengikuti kemana Opi berjalan.

“Ringannya!!!!!!” Din berseru bahagia karena tangannya kosong tidak membawa apapun. Ternyata Opi memasuki departement store sehingga semua belanjaannya dititipkan di tempat penitipan barang.

“Kenapa tidak dari tadi saja kau berbelanja di sini? Kan lebih enak kemana-mana membawa trolly,” ucap Din.

“Di sini aku tidak dapat menawar. Kalau di toko sayuran, aku bisa menawar sekaligus mendapat bonus,” jawab Opi.

Din mendelik. Ternyata selain tidak ramah, Opi adalah orang yang pelit dan perhitungan.

Setelah kurang lebih 2 jam mereka berbelanja, akhirnya Din dapat melihat rumah mereka lagi dengan lega. Itu artinya tangan-tangannya sudah terbebas dari bawaan berat ini.

“Loh?” Din berhenti melangkah.

“Ada apa?” Opi bertanya ke arah Din.

“Itu…” Din menunjuk ke arah depan. “Itu kan Matsumoto-sensei?”

Din benar. Orang yang berada di depan rumah mereka memang Jun.

“Sedang apa?” tanya Opi. Ia menghampiri Jun yang sedang memperhatikan ponsel nya.

“Kau baru pulang?”

Jun hari ini terlihat seperti biasanya. Tampan dan keren. Membuat Din tersenyum melihatnya.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Opi mengagetkan Din.

“He?” Jun mengerutkan dahi begitu melihat Din bersama Opi. “Kau mengenalnya?” tanya Jun pada Opi.

“Ikuta Din. Salah satu penghuni rumah ini,” jawab Opi memperkenalkan Din.

Din tersenyum lebar.

“Pantas saja..”

“Ada apa ke sini?” tanya Opi lagi.

“Hanya main. Aku kan sudah lama tidak ke sini. Apalagi beberapa hari ini kau tidak mengangkat teleponku,” jawab Jun.

“Itu karena kau cerewet sekali. Seminggu sekali menghubungiku kan itu sudah cukup,” gerutu Opi.

“Hei kalian,” Din menginterupsi. “Kalian boleh saja bertengkar, tapi bisakah di dalam? Tanganku sudah tidak kuat membawa ini,” Din menunjukkan barang bawaannya yang sudah sangat menyakiti tangannya.

“Ah..gomennasai. Sini aku bantu,” Jun mengambil beberapa bawaan Din, membuatnya sangat lega.

“Kudengar, kalian saudara sepupu yah?” tanya Din memastikan sambil meletakkan secangkir minuman untuk Jun yang berada di taman belakang.

“Ya. Begitulah,” jawab Jun. “Ternyata Opi merawat taman ini. Aku pikir dia hancurkan hahaha..”

“Memangnya kenapa?”

“Dua hari setelah Obaa-chan meninggal, dia mengacak-acak taman ini. Dia sangat sedih saat Obaa-chan pergi. Itu wajar saja. Opi sangat dekat dengan Obaa-chan,”  jelas Jun.

Din hanya mengangguk. Ia pernah mendengarnya kalau rumah ini adalah rumah milik nenek Opi.

“Mana dia?”

Din mengerti ‘dia’ yang Jun maksud adalah Opi. “Sedang memasak.”

“Souka..”

Jun kembali memperhatikan tanaman. Itu membuat Din salah tingkah karena ia bingung apa yang harus dilakukannya.

“Oia, aku tenang kau tinggal di sini,” kata Jun lalu menatapnya.

“Kenapa?”

“Setidaknya ada orang yang kupercaya untuk menjaganya,” Jun lalu mendekati Din dan duduk di sampingnya. “Tolong
jaga dia.”

Din menahan napas saat Jun menatapnya dengan wajah serius. Tapi ia juga merasakan dadanya sesak karena tatapan itu membuat Din menyadari sesuatu. Jun ternyata menganggap Opi lebih dari saudara sepupunya. Laki-laki itu memang tidak mengatakannya, tapi ia tahu itu. Ia dapat merasakannya.

“Kenapa tidak lakukan sendiri?”

Jun tersenyum kecil. “Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Bukan itu maksudku…”

Jun melihat wajah Din yang serius. Ia sepertinya tahu.

“Belum saatnya kau tahu, Din,” ucap Jun lalu mengacak-acak rambut Din pelan sambil terkekeh.

“Sedang apa kalian? Makanan sudah siap..” suara Opi membuat Jun dan Din menoleh ke belakang.

“Akhirnya kau selesai memasak. Aku sudah lapar..” Jun beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah ruang makan.

“Kau itu sudah menumpang makan, protes pula,” gerutu Opi.

Jun hanya menyengir.

“Din, kau tidak mau makan?” tanya Opi.

“Haaaaaiiiiii~..”

Din menyesal sudah mendengar itu dari Jun langsung. Tapi ia sudah terlanjur mengetahui kenyataan itu. Hal pertama yang dipikirannya sekarang, Opi tidak boleh tahu apapun tentang pembicaraannya dengan Jun sampai ia mengetahuinya sendiri.

=================

Tsuzuku…^^

panjang dan aneh..tapi biarlah…
yang penting komen ahahahhaa…
dan lama sekali, desho…
maaf karena akhir-akhir ini kebanyakan galau jadinya seret ide…
yang penting komen #keukeuh…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s