[Oneshot] When Love is Coming as Hero

Title                 : When Love is Coming as Hero
Type                : Oneshoot
Author             : Uci Pradipta
Genre              : Romance
Starring           : Nakajima Yuto (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Ryutaro Morimoto(HSJ), Zahra Nafisa(OC), Ichiko Michiko (OC), Dan beberapa figuran lainnya.
When Love is Coming as Hero

Panas yang sangat terik membuat tenggorokan Zahra kering. Zahra yang hari itu tak dijemput kakaknya, ia terpaksa pulang jalan kaki.
Ia sudah meneguk habis bekal air yang ia bawa dari rumah. Tubuhnya sangat lemas. Padahal rumahnya masih jauh.
Tiba-tiba Zahra merasakan semilir angin yang menyegarkan. Namun, hembusan angin tersebut bertambah besar. Ranting-ranting yang tadinya bertebaran ditanah kini terbang tertiup angin yang semakin kencang.
Zahra mulai cemas. Kini, tak hanya ranting-ranting kecil, melainkan seng-seng penutup atap ruko-ruko kecil pun berterbangan.
“Astaga.. astaghfirullah” kata Zahra ketika melihat seng-seng berterbangan.
Zahra mempercepat langkah kakinya.
GLODEKK.. GLODEKK.. GLODEKK…
Suara seng yang menabrak kayu-kayu yang ia lewati.
Kini Zahra mempercepat lagi langkah kakinya. Ia berlari sekuat tenaga untuk menghindari barang-barang yang tertiup angin kencang itu.
Dhuggg..
Zahra tersandung batu.
“Gyyaaaaa” jerit Zahra saat hampir terjatuh. Ia menutup matanya. Berharap tak ada luka sedikitpun.
Huppp.. seseorang menangkapnya.
“Lho? Kok nggak sakit? Kok nggak gedebuk?” kata Zahra
Zahrapun membuka matanya.
Zahra melihat seorang laki-laki berhidung mancung, putih, dan wajah yang tampan..
“GYAAAA…” jerit Zahra. Ia langsung loncat dari dekapan laki-laki itu.
GLODEK.. GLODEKK..
Seng-seng bertebangan kearah Zahra.
“Hey.. awas! Hati-hati!” kata laki-laki itu sambil menarik Zahra kedalam dekapannya.
Anginpun mereda…
“Fyuhh.. untung saja terselamatkan.” Kata laki-laki itu masih mendekap Zahra.
“Gyyyaaa.” Jerit Zahra lagi. Ia keluar dalam pelukkan laki-laki itu.
“HEYY! SIAPA KAMU! BERANINYA MELUK-MELUK ORANG SEMBARANGAN YA!” bentak Zahra pada laki-laki itu.
“JANGAN SEMBARANGA…”tambah Zahra. Tapi ia tak melanjutkan kalimatnya. Ia terpaku pada orang yang menolongnya itu. Ia baru tersadar. Bahwa orang yang menyelamatkannya itu adalah seorang yang tampan.
Dada Zahra berdebar. Suka pada pandangan pertama.
 “Lain kali hati-hati ya! Belakangan cuaca memang sedikit aneh. Perkenalkan.. Namaku Yuto. Nakajima Yuto” kata Laki-laki itu sambil tersenyum manis pada Zahra.
“Zahra. Zahra Nafisa. Arigatou to gomene.” Kata Zahra sambil sedikit menunduk
“Douita.. gomen? Untuk apa?” tanya Yuto
“Maaf, karena membentak-bentakmu tadi”
“Daijoubu.. lain kali hati-hati ya? Aku pergi dulu” kata Yuto lalu berlari sambil tersenyum manis pada Zahra.
Zahra terpaku melihat senyuman itu. Senyuman tulus. Dari seseorang yang baru saja ia kenal. Ia harap ia dapat bertemu lagi dengan Yuto.
“Tadaimaaa” kata Zahra lemas ketika memasuki rumahnya.
“Okaeri..” kata Yamada Ryosuke kakaknya.
“Syukurlah kau
pulang dengan selamat. Aku khawatir denganmu” kata Ryosuke.
“Kekhawatiranmu tak akan membuat ku selamat. Untung saja ada orang yang menolongku tadi” jawab Zahra ketus
“Ett? Memangnya kau kenapa? Tidak apa-apakan kamu? Tak ada yang terlukakan?” tanya Ryosuke sambil mengecek tubuh Zahra sana-sini.
“Aku nggak papa Ryo-nii. Ada orang yang menolongku tadi.” Kata Zahra sambil menerawang. Mengingat kejadian di perjalanan pulang tadi. Mengingat lelaki bernama Yuto. Lalu tersenyum
“Ett? Yang menolongmu laki-laki? Ganteng ya? Kau jatuh cinta padanya? Benarkan?” tanya Ryosuke bertubi-tubi.
“Apa sih? Jangan lebay. Aku mau ke atas. Mau istirahat” elak Zahra.
“Kau tidak mau makan?”
“Panggil aku kalau sudah siap makanannya. Aku akan turun”
*
Keesokkan harinya, di halaman sekolah. Zahra menceritakan tentang Yuto ke Ichiko.
“Oohh.. jadi, kamu jatuh cinta pandangan pertama Zah sama Yuto?” tanya Ichiko
“Ile. Aku nggak tau. Mungkin baru suka”
“Btw, aku punya tetangga baru Zah. Ganteng banget. Jago main drum pula. Nanti main ke rumahku yuk. Aku kenalin. Namanya juga sama lho. Yuto”
“Ahh,, nggak mau ah. Yuto-ku lebih ganteng daripada Yuto tetanggamu itu”
“Yuto-ku? Nggak salah denger?eceiyeeehhhhh” goda Ichiko yang berhasil membuat pipi Zahra merona.
“Aah. Enggak! Salah denger kamu” elak Zahra.
“Ahihi.. ada yang lagi jatuh cinta…  hana berterbangan..” goda Ichiko (lagi).
“Apaan sih”
“Ya udah, aku ke kelas dulu ya. Jyaa”
“Apaan sih Ichiko. Aku hanya sekedar suka. Suka. Bukan cinta.” Kata Zahra pada dirinya sendiri.
Karena begitu memikirkan Yuto, Zahra jadi tak memperhatikan jalan.
“Awaaaaaaaaaaaaaaaaasss!!!!!” teriak seseorang sekaligus dibarengi dengan suara bel sepeda.
BRUKK..
Zahra terjatuh.
“Awww…” rintih Zahra
“Daijoubu desu ka?” tanya seseorang sambil membantu Zahra bangun.
“Daijoubu..” jawab Zahra.
“Bukannya kau gadis yang kemarin ya? Kyaa,, kita ketemu lagi” kata Yuto sambil tersenyum manis.
“Ett? Yuto?” kata Zahra tak sadar. Ia begitu shock melihat orang yang menabraknya adalah Yuto.
“Unn~ kau baik-baik saja kan?” tanya Yuto sekali lagi.
“Unn~ daijoubu” kata Zahra sambil memegangi sikutnya yang berdarah.
“Eh? Bagaimana apanya? Ayo. Kita ke UKS!”
“Tidak,, aku tidak mau”
Yuto nampak berfikir. Lalu ia tersenyum seperti mendapatkan ide.
“Yasudah. Sini. Tahan sedikit ya, biar darahnya nggak keluar” kata Yuto sambil menempelkan sapu tangan miliknya ke sikut Zahra yang berdarah.
“Aww.. sakit” rintih Zahra.
“Sakit ya? Tahan sedikit saja. Sampai darahnya nggak keluar.”
Akhirnya Zahra mengangguk menyetujui.
“Sudah agak baikkan sekarang?”
“Unn~ arigatou. Terimakasih juga plesternya”
“Douitashimashite. Kalau begitu aku duluan ya” kata Yuto lalu menghampiri sepedanya yang ia terlantarkan ditengah-tengah lapangan untuk membantu Zahra.
Zahrapun beranjak ke kelasnya.
Zahra senyam-senyum sendiri mengingat betapa telatennya Yuto menolongnya tadi. Sudah kedua kalinya ia ditolong Yuto.
“Zah? Kamu nggak papa kan?” tanya Aya teman semejanya yang kebingungan .
Tak ada jawaban.
Zahra tetap senyam-senyum
Wajah Aya bertambah bingung.
“Udahlah Yak, dia lagi jatuh cinta sama orang. nggak usah bingung gitu” teriak Ichiko yang sedang mengerjakan pr bersama pacarnya, Ryutaro.
“EHH? ZAHRA JATUH CINTAAA?” teriak seisi kelas.
Zahra hanya menjawab dengan anggukkan plus senyuman penuh arti. Lalu ia beranjak ke jendela. Memandang halaman sekolah dimana Yuto menabraknya tadi.
“Yuto bersepada di sekolah sampai menabrak aku. Hihi. Eh? Bersepeda di sekolah? Tunggu tunggu.. tadi kalau tidak salah, ia mengenakan jas biru tua khas sekolah, celana warna khaki khas sekolah. Hah? Yuto bersekolah disekolah ini? Kyaaa.. Ichikoooo!!!!” kata Zahra girang begitu menyadari bahwa Yuto memakai seragam sekolah yang sama.
Ichiko yang terkaget mendengar namanya disebut ia mendekat pada Zahra.
“Doushita no?” tanya Ichiko kebigungan
“Kyaaa.. yuto bersekolah disini!!!” kata Zahra girang lalu memeluk ichiko.
“Maksudmu, cowok tinggi, mancung, punya senyuman manis itu?” tanya Ryutaro tiba-tiba
“Eeh? Kau menguping ya?! Dasar Ryutaro baka!!” kata Zahra.
“Masalah Ichiko, masalahku juga” kata Ryutaro lalu merangkul bahu Ichiko.
“Hehe”  tawa Ichiko.
“Yasudah kalau begitu. Tau dari mana kamu Ryutaro-kun?”
“Tadi aku bertemu dengannya di ruang guru. Anak kelas 11B. dia anak yang lumayan baik” terang Ryutaro.
“Kau di ruang guru? Di panggil lagi?” tanya Ichiko
“Yaa, seperti biasa. Karena ulahku sendiri”
Lalu Ichiko dan Ryutaro sibuk dengan pedebatan mengenai ulah Ryutaro. Ryutaro yang notabennya sebagai leader geng brandalan memang sering sekali mampir ke ruang guru untuk mendapat hukuman. Dan entah mengapa, Ryutaro bisa jatuh cinta pada seorang Ichiko seorang gadis yang tak ada apa-apanya dibanding mantan-mantan Ryutaro. Begitu juga sebaliknya.
Sedangkan Zahra sibuk dengan fikirannya sendiri mengenai Yuto.
“Hmm.. 11B. berarti Yuto adalah senpaiku” gumam Zahra sambil memandang keluar jendela.
*
Ketika Zahra hendak pulang, Zahra dipanggil gurunya ke ruang musik untuk mengikuti latihan ensemble musik. Dengan malas, Zahra melangkahkan kakinya menuju ruang musik. Tak disangka-sangka, Yuto juga sedang berada di ruang musik.
“Kyaaaa.. ketemu Yuto lagi!!!!” teriak Zahra tanpa tersadar.
Yuto yang mendengar teriakkan Zahra, seketika langsung menoleh kearah Zahra dan tersenyum ramah pada Zahra yang langsung membuat dada Zahra terasa berdebar kencang. Yuto yang ingin menyapa Zahra tampak mengurungkan kembali niatnya karena guru pembimbing sudah datang. Lalu mereka latihan ensemble musik dengan resah. Ketika Yuto menggebuk drumnya dengan semangat, Zahra yang sedang memainkan keyboard jadi termenung sendiri melihat betapa kerennya Yuto jika sedang menggebuk drum.
“Kyyaaaa.. keren” puji Zahra tak sadar.
“Siapa yang keren? Kau ini keyboardist, jangan melamun! Ayo lanjutkan!” bentak guru pembimbing ensemble musik yang menyadarkan Zahra.
“Hai. Gomennasai” jawab Zahra lalu melanjutkan memainkan akor lagu.
Latihanpun selesai..
“Zahra-san” sapa yuto ceria tiba-tiba.
“Eh? Yuto-san” sapa Zahra balik.
Kini jantung Zahra berdebar kembali. Bukan kerana terkaget, melainkan karena Yuto berada didekatnya.
“Haduhh.. capek sekali hari ini. Padahal baru hari pertama masuk sekolah”
“Unn. Hari ini sedikit melelahkan. Kalau Yuto pasti capek, kan gebukin drum terus.”
“Nggak papa kok. Kan ada Zahra-san. Aku jadi semangat” kata Yuto keceplosan.
“Eh?” kata Zahra. Kini wajahnya merah merona setelah mendengar perkataan Yuto tadi.
“Ehh.. anuuu.. Kita pulang aja yuk!” kata Yuto mengalihkan pembicaraan.
“Unn~ ayo kita pulang” kata Zahra menanggapi ajakan Yuto.
Lalu merekapun pulang bersama. Semenjak hari itu, Zahra dan Yuto kian dekat. Bahkan, Zahra sering diantarkan pulang Yuto dengan sepedanya. Mereka berboncengan. Tak jarang pula Yuto menyelamatkan Zahra dalam berbagai hal. Mereka sudah nampak seperti pasangan kekasih. Namun, sebenarnya belum. Karena keduanya masih malu mengungkapkan perasaan satu sama lain.
“Zah. Kalian udah jadian belum sih? Kok lengket banget?” tanya Ichiko yang penasaran setelah melihat kekraban Zahra dan Yuto sewaktu di kantin sekolah.
“Belum. Memang seberapa lengketnya aku dengan Yuto? Perasaan kalian deh yang lengket” kata Zahra sambil menunjuk Ichiko dan ryutaro.
“Kami lengket itu wajar Zahra-chan. Karena kami sudah berpacaran dan terikat komitmen. Nah? Kamu? Sebaiknya kau katakana saja yang sebenarnya pada Yuto. Kelak dia akan melindungimu dalam keadaan apapun. Jangan menggantungkan keselamatanmu padaku terus” eluh Ryutaro yang sudah capai melindungi Zahra.
“Iya juga sih. Gomene Ryutaro membuatmu repot” kata Zahra merasa bersalah.
“Unn~ daijoubu. Itulah gunanya sahabat. Saling melindungi. Iyakan Ryutaro?” kata Ichiko
“Unn~  jadi, apapun yang terjadi, kami akan membantumu” tambah Ryutaro lalu tersenyum.
“Arigatou mina. Kalian memang sahabat yang baik” jawab Zahra.
“Aaaaww.. so sweet” kata Ichiko lalu memeluk Zahra.
Sepulang sekolah, ketiga sahabat itu dikagetkan dengan pengumunan yang terdengar dari speaker kelas.
“Pemberitahuan.. kepada Zahra Nafisa dipanggil untuk melihat kearah lapangan sekolah sekarang juga. Penting! Beserta teman-teman juga diharapkan datang ke lapangan. Terimakasih”
Lalu Zahra, Ichiko dan Ryutaro pun melihat kea rah lapangan sekolah melalui balkon.
Zahra nampak terkaget, lalu tersenyum setelah melihat kearah lapangan.
Ternyata dilapangan ada bunga-bunga mawar yang bertaburan membentuk pola hati.Æ.
Dan ditengah pola tersebut, berdirilah Yuto yang tersenyum manis pada Zahra. Lalu, ia berbicara dengan mic yang suaranya akan terdengar diseluruh tempat di sekolah, karena mic itu sudah terhubung dengan speaker yang dipasang di segala penjuru sekolah.
“Zahra Nafisa, kimi ga suki dayo” kata Yuto. Lalu terdengar suara histeris tak percaya dan tak rela dari segala penjuru sekolah.
“Wanna you be my girl?” lanjut Yuto yang sukses membuat para siswa-siswi berteriak.
“Kyaaa.. so sweeet” teriak Ichiko
“Tunggu apa lagi?” tambah Ryutaro
Lalu Zahra tersenyum pada kedua sahabtanya itu.
“Yes. I wanna be your girl Yuto” teriak Zahra dari atas balkon.
Lalu, terlihat sebuah senyuman bahagia dari sudut bibir Yuto.
“Tunggu aku disana” kata Yuto
“Eh?”
Lalu Yuto pun berlari menuju ke balkon untuk menjemput Zahra. Ia berlari secepat mungkin. Lalu, ketika sudah sampai balkon ia berhenti. Tersenyum pada Zahra. Lalu mengambil ancang-ancang.
Yuto pun memeluk gadisnya, Zahra. Lalu dengan lembut, Yuto mencium bibir Zahra dengan penuh perasaan.
“Kyaaaaaaa” teriak para penonton.
“So sweeeet” kata Ichiko.
“Kau juga mau?” tanya Ryutaro tiba-tiba
“Eh?”
Cup..
Ryutaropun mencium Ichiko.
“Kyaaaaa” teriak penonton bertambah heboh melihat dua siswa idaman sekolah Yuto dan Ryutaro sedang berciuman di balkon.
Saat mendapat hukuman karena bermesraan disekolah Zahra yang bertugas membawa buku-buku dari perpus-gudang-perpus-gudang bertemu dengan pacarnya, Yuto.
“Sini biar aku Bantu” kata Yuto sambil mengambil semua buku yang Zahra bawa.
“Eh?tidak usah. Memangnya tugasmu sudah selesai?”
Yuto nampak berfikir sejenak
“Mmm.. sudah kok” kata Yuto.
Padahal tugas membersihkan kamar mandinya belum selesai. Ia limpahkan pada adik kelas yang rela melakukannya. (Sebenarnya dipaksa.)
“Hmm.. baiklah kalu begitu.. terimakasih ya mau membantuku” kata Zahra ceria
“Unn~ douita. Apasih yang nggak buat kamu?” kata Yuto lalu mendekati wajah Zahra.
“EHEMM.. masih kurang tugasnya?” kata seorang guru yang melihat mereka berdua. Sontak, Yuto langsung menjauhkan wajahnya .
*
“Tadaima..” kata Zahra ketika memasuki rumah.
“Okaeri. Di antar lagi sama temennya?” jawab Ryosuke
“Unn~ Hari ini kita makan apa nii-chan?”
“Ceria banget ini anak. Nggak lagi jatuh cinta kan?” tanya Ryosuke menyelidiki
“Mau tau aja. Weeekk” kata Zahra sambil menjulurkan lidahnya.
“Dasar anak kecill!!!” kata Ryosuke sambil mengejar adiknya yang sudah berlari duluan..
“Kyaaaaa”
“Kena kau!” kata Ryosuke sambil menggendong dan mendekap Zahra.
Kini wajah mereka berdekatan. Lalu, Ryosuke menempelkan keningnya ke kening Zahra.
“Kau tau? Aku sangat menyayangimu” kata Ryosuke lalu mendekat lagi ke wajah Zahra. Kini hidung merekapun menempel satu sama lain.
“Aku juga sayang nii-chan kok” kata Zahra lalu memeluk kakaknya itu.
“Kalau begitu,, ayo kita makan” kata Ryosuke lalu mengubah posisi Zahra. Kini Ryosuke menggotong Zahra ke meja makan.
“Kyaaa.. turunkaaann!!!!!” berontak Zahra
“Tidak mau”
Tak terduga, ternyata mereka terjatuh. Ryosuke menindih Zahra. Seharusnya mereka sudah berciuman sekarang. Namun karena Zahra menutupi bibirnya dengan kedua tangannya maka yang ada Ryosuke mencium hanya mencium tangan Zahra.
Zahra panik.
“Kyaa. Menjauhlah dariku!!!”
“Tidak akan. Aku tak akan membiarkanmu dengan laki-laki lain.” Kata Ryosuke nakal. Lalu mengecup kening Zahra lalu kabur.
“Kyaaa!! Nii-chan nakal!!!” jerit Zahra lalu mengejar Ryosuke.
Beginilah keseharian mereka. Walaupun Zahra dan Ryosuke bukan saudara, tapi mereka tinggal bersama sejak 5 tahun lalu. Ketika orang tua Ryosuke koma sampai sekarang karena suatu tragedy. Ryosuke diperbolehkan tinggal bersama dengan Zahra kerena orang tua mereka juga sudah bersahabat sebelum merintis bisnis. Ryosuke sudah terlanjur menyukai dan menyayangi Zahra. Karena 5 tahun lalu, saat Ryosuke masih dalam keterpurukkan karena orang tuanya koma sampai tak tau kapan akan sadar, ia akan membalas dendam pada orang yang telah membuat orang tuanya koma. Tapi di gagalkan oleh Zahra. Zahra telah menyadarkannya bahwa balas dendam bukanlah hal yang baik. Kata-kata Zahra masih terngiang-ngiang di telinganya. ‘Ryo-nii, Ryo-nii tau kan kalau balas dendam itu tidak baik? Dendam itu tidak akan ada habisnya jika dendam dituriti terus. Lebih baik hidup saling memaafkan dan menyayangi kan? Pasti yang berbuat jahat juga akan dapat balasannya dari tuhan. Tenang saja Ryo-nii’. Rasa ingin balas dendam memang sudah tiada, namun rasa benci masih tertanam di hati Ryosuke.
“Ryo-nii” panggil Zahra ketika mereka sedang makan
“Ne?” tanya Ryosuke tetap sambil melahap makanannya.
“Bagaimana kalau aku sudah punya pacar?” tanya Zahra takut-takut.
Ryosuke yang tadinya sibuk makan, kini piring dan sumpitnya ia letakkan di meja.
“Kau sudah punya pacar?” tanya Ryosuke serius.
“Unn~ aku sudah punya pacar” jawab Zahra masih takut-takut
“Apakah kau menyukainya?”
“Tentu saja aku menyukainya. Pertanyaan yang aneh” jawab Zahra mulai santai
“Begitu ya? Apakah dia lebih tampan dariku?”
Zahra sok-sok berfikir.
“Hmm.. bagaimana ya? Nii-chan itu sangat tampan, tapi sayang sekali aku tidak menyimpan perasaan padamu”
“Hmm.. kau sangat merugi tidak menyimpan perasaan padaku”
“Justru jika aku menyimpan perasaan untukmu, aku jadi merugi. Kitakan adik kakak, mana mungkin menyimpan perasaan seperti itu. Lagi pula, laki-laki yang aku suka itu sudah menyelamatkan hidupku. Dia adalah orang yang menyelamatkan aku ketika angin ribut.”
“Kalau begitu kenalkan aku dengannya.”
“Baiklah. Kau tidak akan menyesal mengenalnya. Pasti kalian akan akrab.”
Tapi kenyataan berkata lain.
“Siapa namamu?” tanya Ryosuke memastikan
“Yuto Nakajima”
“Nakajima ya? Nama orang tua mu Aoi Nakajima dan  Ryonosuke Nakajima?”
“Hai. Kenapa kau bisa tau? Kita pernah kenal sebelumnya?” tanya Yuto kebingungan
Dengan sekejab Ryosuke menarik Zahra dari sisi Yuto.
Keadaan mulai tegang..
“Pergilah. Aku tak mau adikku berpacaran dengan turunan pembunuh dan penjahat sepertimu”
“Apa maksudmu? Jangan jelek-jelekkan orang tuaku. Jaga mulutmu” kata Yuto mulai naik darah
Dengan sekali pukulan yang diluncurkan Ryosuke, sudut bibir Yuto langsung berdarah.
“Gyaaa… hentikan! Salah apa Yuto padamu nii-chan!” kata Zahra lalu membantu Yuto berdiri.
Sekali lagi, Ryosuke menarik paksa Zahra. Kali ini Ryosuke mengurungnya ke dalam kamar tamu.
“Ini tak sebanding dengan apa yang orang tua mu perbuat. Pergilah! Mumpung aku masih punya kesabaran”
“Memangnya orang tuaku salah apa hah?”
Kali ini Yuto mencoba untuk melawan. Namun gagal. Tenaganya seperti menghilang begitu saja. Ia digeret paksa Ryosuke keluar rumah dan ia di lempar begitu saja di depan gerbang.
“Tanyakan saja pada orang tuamu apa yang telah mereka perbuat pada Namida Yamada dan Minato Yamada sampai membuat mereka koma sampai sekarang!” kata Ryosuke sinis dan tajam.
Terdengar suara tangis dari dalam kamar tamu. Zahra menangis.
“Doushita nii-chan? Doushitaaa.. apa yang Yuto perbuat sampai nii-chan marah besar dan sampai memukul Yuto seperti tadi?” kata Zahra sambil menangis.
“Buka pintunya! Buka pintunya nii-chan! Bukaaa!!” tangis Zahra sambil memukul-mukul pintu.
Lama-lama tangisan sudah tak terdengar.
Ryosuke pun membuka pintu.
Ia merasa sedih melihat orang yang disayanginya menangis demi anak seorang penjahat. kini Zahra duduk dipojokkan sambil memeluk kedua lututnya.
Ryosuke mendekatinya.
“Maafkan nii-chan” kata Ryosuke sambil memeluk Zahra
“Apa? Apa salah Yuto nii-chan?” tanya Zahra mulai menangis lagi.
Ryosuke tak tega untuk menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya.
“Pokoknya, mulai sekarang kau tak boleh berhubungan lagi ya dengan Yuto. Nii-chan takut akan kehilangan Zahra.” Kata Ryosuke lembut
Zahra melepas pelukan Ryosuke kasar.. lalu ia berdiri dan mulai menangis histeris lagi.
“Nande? Nande yo nii-chan? Apa salah Yuto? Yuto adalah orang yang sangat baik. Lebih baih daripada orang baik yang nii-chan kenal” bentak Zahra sambil menangis lalu mencoba kabur. Tapi gagal. Ryosuke menangkapnya. Ryosuke meremas kedua lengan Zahra emosi, ia menyudutkan Zahra ditembok.
“Kau dengar nii-chan? Sekali tidak tetap tidak!” bentak Ryosuke.
Zahra berkata dalam tangisnya
“Sakit.. aku benci nii-chan! Nii-chan jahat!”
Ryosuke pun tersadar bahwa ia keterlaluan pada Zahra.
“Gomen” kata Ryosuke
Lalu Zahra duduk sambil menangis. Ryosuke akhirnya menjelaskan alasan mengapa ia melarang Zahra dekat dengan Yuto.
“Dulu.. sewaktu ayah dan ibu ku masih ada, kami di ajak makan malam oleh keluarga Nakajima. Orang tua ku adalah atasan orang tua Yuto. Sebenarnya mereka sedang memperebutkan perusahaan. Orang tua Yuto ingin perusahaan itu menjadi miliknya, namun, orang tua ku tetap berusaha agar perusahaan itu tidak jatuh di tangan orang yang salah. Lalu..aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.”
“Apa yang nii-chan lihat?” tanya Zahra masih sambil menangis.
“Ketika itu, aku dan Yuto di suruh untuk berpindah di ruangan lain. Tapi diam-diam aku mengintip apa sebenarnya yang mereka lakukan. Lalu..semuanya terjadi.”
“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi nii-chan?” tanya Zahra histeris sambil menggoyang-goyangkan bahu Ryosuke.
“Sebelum itu terjadi,ibu Yuto, Aoi-san, menuangkan sesuatu pada minuman orang tua ku. Lalu, setelah orang tua ku tak berkutik, kulihat, orang tua ku kesesakkan nafas. Kemudian, ayah Yuto, Ryonosuke-san, mencekik ayahku, lalu ia membenturkan kepala kedua orang tuaku ke meja yang terbuat dari marmer. Itulah sebabnya aku tak ingin kau dkat dengan anak seorang pembunuh.”
Zahra tertegun mendengar penjelasan Ryosuke.
“Ile. Arienai. Nii-chan pasti bohong” kata Zahra sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Dan kau tau? Sewaktu kecil aku pernah ingin membalas dendam pada orang yang telah membuat orang tuaku koma. Tak sadarkan diri sampai waktu yang tidak pernah kita ketahui. Orang itu adalah orang tua Yuto.”
Zahra semakin tertegun. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Yang ia tahu hanyalah ia mencintai Yuto.
“Aku tak ingin kehilanganmu. Mulai sekarang jangan dekati dia” tambah Ryosuke.
“Tidak. Aku tak bisa begitu. Yuto berbeda dengan orang tuanya. Mereka berbeda” bantah Zahra
“Kau pernah dengar kalimat: ‘buah tak jatuh dari pohonnya.’ Itu berarti sama dengan sifat seorang anak tak jauh beda dengan orang tua nya. Kau mengerti?”
“Tidak. Aku tidak akan pernah mengerti.
*
Sedangkan keadaan Yuto..
Yuto menghampiri ibunya yang masih tinggal di Jepang. Ia hanya dapat bertanya pada ibunya. Karena ayahnya sedang berobat di Amerika yang terkena kanker otak.
“Ibu.. ibu kenal Namida Yamada dan Minato Yamada ?” tanya Yuto dingin.
“Tentu saja kenal. Kau masih ingatkan? Dulu kita pernah makan malam bersama dengan keluarganya” jawab ibu Yuto santai
“Apa yang telah ayah dan ibu perbuat terhadap mereka sampai mereka koma sampai sekarang bu?”
Ibunya terkaget mendengar pertanyaan  anaknya itu.
“Kau?! Kau ini apa-apaan bertanya seperti itu!” jawab ibunya dengan nada tinggi.
“Jawab bu! Jawab dengan jujur bu!” kata Yuto emosi.
“Kau benar-benar ingin tahu?”
“Katakan yang sejujurnya bu. Aku mohon”
Akhirnya semua kejadian malam itu diceritakan oleh ibu Yuto. Semuanya. Mulai dari rencana jahat, lalu pelaksanaan, sampai acting bahwa orang tua Ryosuke itu terpeleset sendiri dan membentur meja.
“Hh.. “ kata Yuto setelah mendengar pernyataan pahit.
“Lalu, apakah setelah mendapatkan perusahaan ibu dan ayah merasa bahagia?” lanjut Yuto
“Awalnya memang bahagia.. namun, saat terjadi perekonomian goyah, ayahmu tak dapat mempertahankan perusahaan itu. Ayahmu mencoba mempertahankan perusahaan itu susah payah. Namun, setelah kondisi perekonomian kembali baik, ayahmu justru jatuh sakit terkena kanker otak”
“Itulah balasannya dari tuhan. Dan apakah sekarang kalian tak merasa bersalah hah?!”
“Sangat”
“Beritahu aku dimana mereka di rawat”
“Baiklah. Besok akan ibu beritahu”
Malam itu Yuto sangat terpukul. Ia sangat heran, mengapa orang tuanya tega berbuat begitu. Ia tak dapat berfikir lagi. Hanya dua hal yang terfikirkan olehnya. Ia mencintai Zahra dan ia ingin menebus dosanya. Entah bagaimana caranya.
*
Keesokkan paginya, disekolah…
Zahra langsung menceritakan apa yang telah terjadi pada Ichiko dan Ryutaro. Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Yuto. Tapi Ryosuke benar-benar tak ingin melepaskan Zahra. Ia mengirim 2 bodyguard untuk Zahra. Tetapi Zahra tetap bisa bertemu dengan Yuto atas bantuan kedua sahabatnya.
“Yuto..”
“Zahra..”
Lalu merekapun berpelukkan. Wajah lega dan khawatir terlihat di wajah mereka.
“Daijoubu desu ka?” tanya Yuto
“unn. Daijoubu. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Daijoubu desu ka?”
“Aku baik-baik saja Zahra”kata Yuto lalu mencium leher Zahra dengan lembut.
“Aku menyayangimu. Aku tak ingin kehilanganmu” kata Zahra.
Matanya mulai berkaca-kaca. Yuto pun segera memeluk kekasihnya itu. Kini, Zahra menangis dalam pelukkan Yuto.
“Aku juga menyayangimu. Lebih dari apapun.” Kata Yuto.
“Berjanjilah, tidak menangis hanya untuk menangisiku. Air matamu terlalu berharga untuk kau teteskan demi anak seorang pembunuh ini”
“Tidak. Kau bukan anak seorang pembunuh”
“Tidak. Kau harus menerima kenyataan. Aku memang seorang anak pembunuh” kata Yuto sambil memegang kedua pipi Zahra.
“Aku tak peduli. Yang ku tahu hanyalah Yuto. Yuto orang yang baik. Sangat baik.” Kata Zahra sambil menangis
“Arigatou” kata Yuto sambil tersenyum sabar.
Yuto pun mencium bibir Zahra.
Ciuman itu terasa basah di bibir Yuto. Karena Zahra sehabis menangis.
Namun, ciuman itu terpaksa dihentikan karena ada seseorang datang. Bodyguard Zahra.
“Nona Zahra. Menjauhlah dari laki-laki itu” kata bodyguard iu.
“Tidak! Aku tidak akan menjauh darinya. Kau pergi sana!” kata Zahra sambil memeluk lengan kanan Yuto.
“Apa nona Zahra ingin dia tak selamat?”
“nampaknya, kau yang akan tak selamat” kata seseorang di belakangnya.
“Ryutaro..”kata Zahra
BUKK..
dengan sekali pukulan bodyguard itu langsung terjatuh.
“Dasar lembek. Baru sekali pukul saja sudah jatuh”
“A.. arigatou Ryutaro” kata Yuto.
“Douita. Ayo. Cepat pergi dari sini. Akan ku pastikan, hari ini hanya milik kalian berdua” kata Ryutaro
Ryutaro telah menghabisi kedua bodyguard itu. Dan kini, Ryutaro menolong mereka untuk berduaan saja. Rencana ini sudah diatur sebelumnya oleh pacarnya dan dirinya sendiri. Ichiko telah membelikannya tiket untuk pergi ke Universal Studio. Dengan menggunakan sedikit penyamaran, mereka berhasil pergi ke Universal studio.
Mereka ingin tetap bersama, walau hanya sebentar saja.
Yuto dan zahra mulai mendatangi satu permainan ke permainan lain. Mereka sangat senang sekali. Terlihat dari wajah keduanya. Mereka juga tak lupa mengambil foto. Dari banyak foto yang mereka ambil, ada 2 foto yang membuat hati Yuto sangat tenang. Foto Zahra yang sedang makan permen kapas dan Foto Zahra dengan senyum manis yang memunculkan lesung pipitnya.
Namun, kesenangan itu berakhir dengan cepat. 6 bodyguard pesuruh Ryosuke datang..
“Kau yang bernama Nakajima Yuto?” tanya seorang bodyguard dengan perawakan yang mengesankan. Tinggi, tegap, dan bertampang seorang penjahat.
“Iya. Benar” jawab Yuto sambil menarik Zahra kebelakang punggungnya untuk melindunginya.
“Ucapkan selamat tinggal pada dunia dan pada kekasihmu tercinta itu” kata bodyguard itu lalu melayangkan sebuah pukulan ke perut Yuto.
“Gyyyaaaaaaaaaa.. Yuto! Hentikan! Kau pasti suruhan nii-chan kan! Hentikan” kata Zahra sambil mencoba melindungi Yuto.
“Ya. Aku pesuruh Ryosuke. Pergilah dari hadapanku” kata bodyguard itu lalu melemparkan Zahra ke sisi lain.
Lalu, munculah 5 bodyguard lain. Dua bodyguard menjaga zahra, sisanya ditugaskan untuk menghabisi Yuto.
“Hiaaattt!” kata bodyguard besar itu sebelum meluncurkan pukulan ke wajah Yuto.
Tapi pukulan itu terhalang. Oleh tangan seseorang. Tangan orang itu meremas tangan bodyguard itu, dan sukses memelintirnya.
“Ryu.. Ryutaro” kata Yuto setelah mengetahui orang yang melindunginya adalah Ryutaro.
“Iya. Ini aku”
Ryutaro dan Ichiko memang sengaja membuntuti mereka.
Yuto dibantu Ichiko berdiri.
“Arigatou Ichiko” kata Yuto.
“Ichi-chan, menjauhlah. Yuto, mari kita perjuangkan bersama. Ayo lawan pesuruh-pesuruh Ryosuke itu bersamaku” kata Ryutaro meyakinkan
“Unn~” kata Yuto.
“Kyaa.” Teriak Ichiko. Ichiko ikut-ikutan di tangkap oleh salah satu bodyguard.
“Ichikoo!!” teriak Ryutaro
Lalu, para bodyguard itu mengelilingi Yuto dan Ryutaro.
“Ryu, mari kita rebut kembali orang yang kita cintai” kata Yuto.
“Unn. Aku akan bertempur habis-habisan untuk mendapatkannya kembali”
“Bersiaplah” tambah Yuto. Lalu kedua lelaki itu membentuk kuda-kuda dan siap menyerang para bodyguard.
“Berdoalah sebelum kalian benar-benar meninggalkan dunia ini” kata bsalah seorang bodyguard lalu mereka maju untuk menghajar Yuto dan Ryutaro.
Keduanya berjuang untuk mendapatkan orang yang mereka cintai. Yuto menghajar 3 bodyguard sekaligus. Sedangkan Ryutaro menghajar bodyguard yang paling besar dan sedikit membantu Yuto. Satu pukulan terakhir dari Ryutaro yang mendarat diwajah bodyguard itu terjatuh dan tak berdiri lagi melawan. Dan satu tendangan terakhir Yuto yang membuat bodyguard terakhir  itu terjatuh. Keduanya babak belur. Bibir berdarah, mata dan tangan lebam tak masalah bagi mereka. Lalu, saat mereka maju beberapa langkah untuk menyelamatkan Zahra dan Ichiko, datanglah Ryosuke dan 3 bodyguard bertubuh besar datang.
“kau belum puas ya” kata Ryutaaro lalu mengelap darah yang ada di sudut bibirnya.
“Ayo kita lanjutkan” lanjut Ryutaro.
“Tunggu.. ini adalah masalahku. Biar aku yang menyelesaikan” cegah Yuto
“Baiklah”
“Kalian. Majulah. Habisi aku” kata Yuto. Lalu, dua bodyguard maju menghajar Yuto. Yutopun melawannya. Ia berhasil mengalahkan satu bodyguard, tapi ia tak berhasil mengalahkan bodyguard yang satunya. Tenaganyahabis. Ryutaro kembali maju. Mereka berjuang kembali. Tapi apa daya, tenaga mereka sudah terkuras habis. Tangan Yuto&Ryutaro di ikat kebelakang dengan tangan  bodyguard yang besar itu. Lalu, munculah sosok Ryosuke.
“Kau! Matilah kau! Dasar kau orang jahat!” teriak Ryutaro. Ryosuke tersenyum mendengarnya.
“Kau tak ada urusannya dengan masalah ini. Kau ingin mengambil kembali kekasihmu? Ambil lah. Aku tak membutuhkannya” kata Ryosuke lalu menyuruh salah satu bodyguard yang menagkap Ichiko untuk memberikan Ichiko padanya. Dan kejamnya Ryosuke, ia melemparkan Ichiko pada Ryutaro.
“Kau! Benar-benar jahat! Kerasukan hantu apa kau Ryosuke-kun?!!!” teriak Ichiko
“Beginilah diriku apa adanya dan kau, nakajima Yuto. Akan mati di tanganku”
“Bunuhlah aku. Dan aku akan menghantuimu” jawab Yuto
“Hhh..”
Lalu Ryosuke memukul Yuto.
BUKK.. BUKK.. BUKK..
“Hentikan! Hentikaaannn!” teriak Zahra sambil menangis.
Tak di gubris.
Ryosuke tetap memukuli Yuto.
“Hentikaannn!  Hentikan nii-chan! Atau aku tak akan pernah memaafkanmu!” tambah Zahra
Ryosuke pun menghentikan pukulannya.
“Ini sudah cukup.” kata Ryosuke.
“Aku tau orang tua ku bersalah. Tapi aku tak sepantasnya begini terhadap kami. Jika aku mengganggu hidupmu. Maafkanlah aku.. dan juga kedua orang tuaku”kata Yuto
“Cih.. maaf? Kau pikir orang tua ku akan sadar jika kau meminta maaf?!”
“Sekali lagi aku minta maaf”
“Dengarkan baik-baik. Aku hanya minta satu hal. Jangan pernah muncul lagi dihadapanku dan Zahra. Camkan itu!”
Yutopun dilemparkan begitu saja. Ryosuke, Zahra dan segenap bodyguard nya itu melangkah pergi dari Universal Studio.
*
 “Sudah kubilang. Menjauhlah dari lelaki bernama Yuto itu. Jika kau menuruti apa kataku, pasti tidak akan begini jadinya” kata Ryosuke
“Jika aku tau akhirnya begini, lebih baik aku tak perlu mengenalmu”
“Tapi sayangnya kita sudah terlanjur saling kenal. Bahkan kita akan menikah.”
“Tidak! Aku tidak sudi menikah dengan orang jahat sepertimu!”
“kau harus menikah dengan orang yang mencintaimu dengan segenap hati ini” kata Ryosuke sambil mencoba mencium paksa Zahra
“Tapi aku tidak ada rasa sedikitpun terhadapmu!” kata Zahra setelah berhasil melepaskan bibirnya dari bibir Ryosuke.
“Dengarkan baik-baik. Aku tak perlu rasa cintamu. Yang terpenting adalah, kau menjadi milikku”
Berbulan-bulan kemudian tak ada tanda-tanda kemunculan Yuto. Sampai suatu hari Ryosuke mandapat telepon dari pihak rumah sakit, bahwa keadaan orang tuanya semakin memburuk. Ryosuke tidak bisa angsung datang ke rumah sakit karena harus mengurus Zahra. Baru setelah seminggu mendapat telepon dari rumah sakit lagi, Ryosuke baru menjenguk orang tuanya.
Sedangkan keadaan Yuto setelah kejadian Universal Studio memburuk. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah luka-lukanya sembuh, Yuto selalu menjenguk kedua orang tua Ryosuke yang sedang tak sadarkan diri selama 5 tahun terakhir.
Setiap hari, Yuto selalu membawakan bunga dan menaruhnya di vas sebelah ranjang . setiap hari pula Yuto meminta maaf pada mereka. Setiap hari pula Yuto menceritakan seberapa merasa bersalahnya dia atas yang di lakukan orang tuanya. Yuto juga bercerita tentang kejadian Universal studio. Bahkan, Yuto juga menceritakan kisah cintanya dengan Zahra. Yuto tahu, ia bercerita kepada orang yang tak sadarkan diri. Tapi ia tahu, bahwa mereka mendengarkan ceritanya. Sampai yuto mendapat kabar bahwa keadaan oang tua Ryosuke memburuk. Ia segera datang untuk menjenguk.setelah tahu apa yang terjadi, Yuto dengan rela mendonorkan ginjalnya untuk ibu Ryosuke. Entah mengapa, dokter juga tak tahu penyebab menurunnya kegiatan ginjal pada ibu Ryosuke.
Sebelum operasi, Yuto mengatakan suatu hal pada ibu Ryosuke.
“Namida-san, semoga dengan ginjalku ini, kau bisa sadar dan kembali hidup sehat. Maafkan orang tua saya yang telah berbuat khilaf saat itu. Kumohon ginjalku ini dapat membantu Namida-san” kata Yuto sebelum ia tak tersadarkan karena bius.
Seminggu kemudian, Ryosuke datang karena mendapat telepon lagi dari pihak rumah sakit bahwa keadaan orang tua nya membaik.
“Dokter. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan orang tua saya semniggu yang lalu? Maaf, saya tidak bisa datang, karena saya ada urusan” kata Ryosuke saat bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab atas orang tuanya.
“Unn, ternyata begitu ya. Sebenarnya ginjal Namida-san kinerjanya menurun. Sebelum benar-benar berhenti berfungsi kami sudah melakukan operasi. Untung saja ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya. Dan ia juga yang sudah membayar biaya operasi. Berterimakasihlah padanya. Dia sudah berbulan-bulan menjenguk orang tua Ryosuke-san setiap hati. Dia anak laki-laki yang baik. Dan sepertinya, dia seumuran denganmu” jelas sang dokter panjang lebar
“Boleh tahu siapa orangnya?”
“Kalu tidak salah, nama nya adalah Yuto Nakajima.”
“Apa? Yuto Nakajima?” tanya Ryosuke tak percaya.
“Iya. Yuto Nakajima. Ryosuke-san kenal?
“Unn. Saya mengenalnya. Terimakasih dokter atas informasinya.”
Ryosuke sangat tertegun mendengar penjelasan dokter tadi. Ia jadi teringat kata-kata Zahra: ‘Yuto adalah orang yang sangat baik. Lebih baih daripada orang baik yang nii-chan kenal’
Lalu Yama pergi ke ruang pasien tempat orang tuanya tak sadarkan diri.
Ryosuke terus menatap kedua orang tuanya itu.
“Oka-san, Otou-san, apakah aku terlalu jahat berbuat seperti itu pada mereka? Terutama Zahra dan Yuto” kata Ryosuke
“Oka-san, Otou-san. Aku menyayangi kalian. Kembalilah. Aku sangat merindukan kalian” tambah Ryosuke lalu memeluk ibunya.
Ia merasakan gerakan kecil. Tangan ibunya bergerak.
“Oka-san” kata Ryosuke tak percaya. Ia segera memencet tombol menanggil dokter.
Lalu dokter berdatangan untuk memerikksa ibunya. Ryosuke berdiri diluar, menunggu keterangan dokter.
“arigatou kamisama.. arigatou Yuto..” kata Ryosuke lirih. Kini ia merasa bersalah. Dan kini, ia juga merelakan Zahra.
*
Ketika Ryosuke pulang untuk memberitahukan kabar gembira pada Zahra bahwa orang tuanya telah sadar, Zahra tak ada dirumah. Sebenarnya ia tahu dimana zahra berada. Tapi ia ingin, yuto yang mencarinya. Maka dari itu ia menghubungi Yuto.
“Tolong carikan Zahra. Ia tak ada di rumah”
“Ryosuke?”
“Tolong carilah Zahra. Mungkin ia sedang berada di atap gedung pencakar langit di daerah 196.”
“Eh? 196? Itu gedung yang sangat tinggi”
“Aku takut kalau ia melakukan suatu hal yang bodoh disana. Aku takut ia meloncat terjun kebawah karena sudah tak tahan denganku”
“Apa? Tunggulah sebentar. Aku akan mencarinya kesana”
Benar dugaan Ryosuke. Zahra sedang berada di atap gedung 196. ia berdiri menatap ke bawah.
Yuto yang melihatnya dari bawah, ia langsung lari sekencang mungkin untuk menggagalkan Zahra untuk terjun kebawah.
“ZAHRA!!!! JANGAN! JANGAN MELONCAT!”teriak Yuto setibanya di atap gedung.
“Eh? Yuto?” kata Zahra begitu tau suara yang ia dengar adalah suara Yuto. Karena saking kagetnya, zahra tergelincir dan hamper terjatuh.
Beruntung. Yuto masih bisa menangkap Zahra.
“Kyaaaaa” teriak  Zahra saat tergelincir. Zahra menangis ketakutan.
“Bertahanlah. Aku akan menarkmu. Bertahanlah” kata Yuto sambil menangis.
Ia tak akan rela begitu saja membiarkan gadis yang ia cintai jatuh begitu saja.kalau ia tak kuat , yuto akan terjun bersama ke bawah bersama Zahra. Ia rela, meninggal bersama Zahra. Re: demi Zahra.
“Yutoo!!” teriak Zahra
“Zahra bertahanlah. Aaaaaaaa” kata Yuto sambil terus berusaha menarik Zahra ke atas.
Berhasil. Zahra selamat. Yuto berhasil mengangkat Zahra naik.
Yuto pun langsung memeluk Zahra. Ia lega, ia bisa menyelamatkan satu nyawa lagi. Terlebih, yang ia selamatkan sekarang adalah orang yang ia cintai.
Keduanya menangis haru.
“Doushita Yuto? Nande? Kenapa kau menghilang dariku selama ini” tanya zahra
“Zahra.. maafkan aku. Karena aku telah menghilang begitu saja. Maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu” kata Yuto masih memeluk kekasih tercintanya itu.
“Aku sayang Yuto. Aku cinta Yuto” kata Zahra sambil memeluk erat Yuto.
“Aku juga sayang Zahra. Lebih dari apapun. Aku tak tahu apa yang terjadi jika Zahra sudah meloncat tadi. Jangan berbuat seperti itu”
Zahra melepas pelukkan Yuto lembut.
“Aku nggak segampang itu menyerah Yuto. Aku hanya sedang berfikir” kata Zahra menjelaskan kesalah pahaman Yuto.
“Yokatta~ aku fakir Zahra akan terjun kebawah” kata Yuto lalu mencium bibir Zahra.
“Tau kah kamu? Aku tadi sedang berfikir bagaimana caranya agar dapat bertemu Yuto dan lepas daro Ryo-nii” jelas Zahra setelah Yuto melumat bibirnya lembut.
“Kau tak perlu berfikir bagaimana caranya agar kau terlepas dariku. Karena aku telah melepaskanmu terlebih dahulu” kata Ryosuke tiba-tiba
“Eh? Nii-chan ada disini? Sejak kapan?” tanya Zahra
“Sejak kapan kau berdiri disitu?” tanya Yuto
“Sejak tadi” jawab Ryosuke
“Nii-chan melihat?”
Ryosuke mengangguk. Kini wajah kedua sejoli itu mererah karena malu.
“Tak perlu malu begitu. Sekarang aku sudah merestui kalian berdua”
“Eh? Benarkah nii-chan?”
“Unn. Yuto, jagalah Zahra dengan segenap hatimu.”
“unn. Arigatou Ryosuke”
Setelah persetujuan ryosuke di hari itu. Kini Zahra dan Yuto hidup bahagia tanpa ada orang yang mengganggu,
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s