[Minichapter] I Just Haven’t Loved You Yet (Chapter 2)

Title        : I Just Haven’t Loved You Yet ~I Know I Love You, But side story~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Minichapter
Chapter    : 2 (end)
Genre        : Romance *ah yeaaahh!!*
Ratting    : PG-15 nyerempet dikit
Fandom    : JE
Starring    : Kikuchi Fuma (Sexy Zone), Nakajima Kento (Sexy Zone), Tegoshi Yuya (NEWS), Nakajima Din (OC), Nakayama Yuma (NYC), Arioka Daiki (HSJ), Yanagi Riisa (OC), Arioka Saifu (OC).

Disclaimer    : I don’t own all character here. Nakajima Kento, Tegoshi Yuya, Nakayama Yuma, Arioka Daiki and Kikuchi Fuma are belongs to Johnnys & Association. Other character is my OC, dan pinjem dari Lisa dan Saifu… 😛 sebenarnya ini adalah side story, tapi jadinya ber chapter karena sepanjang jalan kenangan… T.T
it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

The first story : I Know I Love You, But
And then the sequel : I Know I Love You, But ~ After Story~

I Just Haven’t Loved You Yet
~ Chapter 2 ~ END 

Din’s POV

Perkataan Kento mengusikku. Semalaman aku benar – benar tak bisa memejamkan mataku. Aku memang sudah menjadi guru, tapi apa semuanya sudah tercapai? Apalagi mengingat orang tua Yuya ingin aku berhenti bekerja setelah menikah dengan Yuya.

Aaaarrrgghhh!!

Aku mengacak – acak rambutku yang sudah berantakan ini. Tapi, menikah dengan Tegoshi Yuya, siapa yang menolak?

‘You’ve got a mail…’

“Ah!! Mengagetkanku!!” seruku lalu meraih ponselku yang tersimpan di meja sebelah kasur.

From : Tegoshi Yuya
Subject : (no subject)
Sleep well… 🙂
Aku hanya mencoba mengirimu e-mail..
Sampai jumpa di sekolah besok…

-Yuya-

Siapa yang menolak pria semanis dirinya? Wanita bodoh pastinya.

“Ohayou gozaimasu…” sapa Yuya ketika aku baru saja datang ke sekolah, suasana sekolah memang masih sangat sepi.

Aku memilih untuk pergi duluan sebelum yang lain muncul, terutama Fuma.

“Ohayou…Tegoshi-sensei…” jawabku sambil tersenyum ke arahnya.

“Din-chan…aku punya kabar baik…”

“Eh? Ada apa?” tanyaku sedikit heran.

“Nanti saja ya… sepulang sekolah, kita bisa minum kopi bersama?” tanyanya, menunduk tepat di hadapanku.

Aku mengangguk, “Baiklah…Tegoshi-sensei…”

“Mou…gak ada orang kok…” bisiknya pelan.

“Ehem…” aku mengedarkan pandanganku, “Yuya…”

Ia tersenyum puas dan meninggalkan mejaku. Sungguh bukan awal yang baik di pagi hari ketika seluruh badan terasa panas dan jantungku berdetak tak karuan.

Maka sore itu aku duduk berhadapan dengan calon suamiku, di sebuah restauran yang bisa dibilang cukup mahal, dengan melihat menunya saja aku tahu kalu restauran ini adalah tempat yang mewah.

“Kenapa mengajakku ke tempat seperti ini?” tanyaku, sedikit heran dengan pilihannya, padahal kita pulang dari sekolah, bajuku sama sekali tidak cocok untuk tempat semewah ini.

“Karena…kali ini beritanya sangat bagus…” kata Yuya lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari tasnya.

“Hah?”

Mati aku.

Kini ia benar – benar melamarku?

“Bulan depan…aku akan ke Amerika untuk melanjutkan studi S2 ku… karena itu, aku ingin kau menemaniku… aku ingin… kita menikah sebelum aku berangkat kesana,” tidak ada kebohongan di mata itu.

Seketika rasanya aku ingin pingsan saja. Segalanya dengan Tegoshi Yuya adalah kejutan. Setiap apa yang dilakukannya adalah sebuah hadiah, tanpa harus bersabar ia memberikan segalanya padaku.

Kecuali kebebasan.

=============

Fuma’s POV

Sepertinya sudah hampir seminggu ini Din terlihat sangat sibuk. Entah apa yang dikerjakannya, dan seperti yang Kento katakan padaku, Din tidak akan berbicara hingga ia sendiri yang memutuskan untuk memaafkanku atau tidak.

Sayangnya hal itu belum terjadi. Din sama sekali tidak pernah menyapaku, tidak lagi menganggapku ada di rumah ini sepertinya.

Aku sungguh ingin minta maaf, tapi aku juga takut ia malah akan semakin kesal padaku.

“Hei!” aku menyapa Yuma yang tampak sedikit melamun di mejanya.

“Hmm..” jawabnya pelan.

“Riisa sudah punya pacar…cari cewek lain saja..” ucapku lalu mencibir padanya.

“Din juga sudah punya calon suami…”

Aku mencibir ke arah Yuma, menatap keluar jendela dengan putus asa. Kenapa juga cinta pertamaku harus wanita itu?

Sial.

Itu memang kenyataan. Aku curiga, jangan – jangan ia akan menikah secepatnya? Masa aku harus berlari ke altar dan bilang bahwa aku keberatan dengan pernikahannya? Itu tidak mungkin. Hidup ini tak seperti film – film atau dorama yang sering aku tonton.

“Huh…”

Aku dan Yuma melepaskan nafas berat secara bersamaan. Walaupun kita baru tinggal tiga bulan saja dengan penghuni Share House, Yuma menyukai Riisa, aku bahkan menyukai Din, dan sialnya keduanya sudah ada yang punya.

“Dou shiyo…aku masih bingung…”

Secara refleks aku menyembunyikan diriku dari Din yang sedang menelepon sore itu ketika aku pulang.

“Kau yang kesiniiii…onegai…”

Terdengar beberapa menit Din berhenti bicara, mungkin lawan bicaranya sedang menjawabnya.

“Aku binguuunngg…”

Isak tangis terdengar, aku mengintip sekilas, Din berjongkok masih sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

“Iya…aku tunggu…” Din menutup ponselnya, duduk di sofa sambil menyeka air matanya, namun kentara sekali tangis Din masih terus mengalir.

“Tadaima…” ucapku pelan.

Din tampak panik lalu segera beranjak dari sofa ruang tengah, “Okaeri…” jawabnya, membelakangi aku.

“Anou… kau baik – baik saja?” tanyaku sedikit takut Din tak lagi menggubrisku.

“Betsu ni…” jawabnya, tangannya mengusap air matanya, lalu sedetik kemudian ia berbalik dengan mata sembab, “Kau…baru pulang?”

Ia sudah memutuskan untuk berbicara lagi denganku!! Aku menjawabnya dengan senyuman. Seandainya aku bisa memeluknya juga.

==========

Din’s POV

“Baiklah…tenang dulu…jangan panik…” Opi langsung memelukku saat melihat mataku sudah sembab, lingkaran hitam pastinya sudah menghiasi mataku, khas jika aku sednag terserang penyakit stress.

“Gomen membuatmu harus kesini…”

Padahal jarak Share House dari rumahnya cukup jauh. Aku dan Opi sudah bersahabat sejak SMP, walaupun saat SMA dan kuliah hingga kini bekerja kami tidak pernah satu sekolah lagi, tapi masih tetap bersahabat hingga kini.

“Jadi…kau mengiyakan ajakannya? Tapi sebenarnya kau masih bingung? Begitu?” tanya Opi sambil duduk di hadapanku.

“Kau baru pulang kerja?” tanyaku melihat ia masih memakai pakaian kantor lengkap.

“Tak usah mengkhawatirkanku!! Kau kenapa, bodoh?!”

Aku menceritakan semuanya.

Menumpahkan lagi tangisku yang masih tersisa, segala kebingunganku, segala hal yang membuatku terganggu selama seminggu ini.

“Lalu sekarang kau sudah mempersiapkan pernikahanmu? Cuma sebulan saja?” Opi menggeleng, tampak tak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Terakhir sih Yuya sudah memesan gedung dan membeli gaun pengantin…”

“Chotto!! Din-chan!! Harusnya kau memantakan dulu pilihanmu sebelum mempersiapkan macam – macam…” Opi mencubit pipiku, “Kau selalu saja memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang…”

“Jadi gimana dooonngg??!!” seruku sambil memeluk Opi, kembali menangis.

Opi menghembuskan nafas berat, “Sekarang pikirkan semuanya. Mulai dari yang paling mudah, kau benar – benar ingin menikah atau tidak?”

Sebuah pertanyaan paling dasar yang hingga sekarang belum bisa aku jawab.

============

Fuma’s POV

“Kentooo!! Kentoooo!!”

Ugh~

Suara apa sih? Pagi buta begini udah teriak – teriak?

Aku mengerjapkan mataku, beranjak dari kasur dan mengintip ke luar kamarku.

“Kento? Dia dimana sih?” Din tampak mencari – cari Kento.

“Semalam kan dia bilang akan pulang ke rumah Ibunya?” ucapku masih dengan mata setengah tertutup.

“Hah? Kalau Rii-chan mana?!”

Aku menghampiri Din, menyentuh bahunya, “Stop! Jangan panik gitu…”

Seketika Din berhenti, menatapku.

“Rii-chan mana ada di rumah hari sabtu begini?” ucapku mengingatkan Din.

“Ah iya…dia pasti ada kencan ya?”

“Memangnya kenapa sih?”

“Fuma… antar aku ya?”

“Eh? Kemana?” hari sabtu yang tenang ini, aku harus keluar rumah? Bukan ide yang bagus.

“Kumohon…”

Stop menatapku seperti itu!

Karena aku tak mampu menolakmu jika kau menatapku dengan mata penuh harap.

“Baiklah…” jawabku cepat, “Aku siap – siap dulu,”

“Kita mau kemana?” sepertinya aku sudah menanyakannya lebih dari tiga kali, tapi Din sama sekali tidak mau menjawabnya.

“Jangan bawel… ikut saja…” pasti selalu begitu jawaban darinya.

Kita sampai di sebuah restauran keluarga di dekat pusat pertokoan. Suasana di dalam restauran itu cukup ramai mengingat hari ini adalah hari sabtu.

“Kau…tunggu disini ya…pesan apa saja…pokoknya tunggu disini…” katanya berbisik – bisik padaku.

Aku mengerenyitkan dahiku. Tak mengerti apa maunya Din saat ini, namun saat Din beranjak ke meja lain, dan kulihat ada seorang pria membelakangi kami. Aku tahu sekarang, Din menemui Tegoshi-sensei, tapi untuk alasan apa ia harus mengajakku segala? Aku makin tak mengerti jalan pikiran cewek itu.

Sayangnya jarak mejaku dengan meja mereka tak cukup dekat untuk aku bisa mendengar percakapan itu.

Yang kulihat, Din menyerahkan sesuatu, keduanya berbicara dengan suasana yang tak terlalu menyenangkan.

Beberapa menit kemudian, Din beranjak, meninggalkan Tegoshi-sensei yang juga sama sekali tak menoleh.

“Ayo…pergi…”

Gadis itu berjalan cepat sekali. Keluar dari restauran dan menyusuri jalan pertokoan hingga menemukan sebuah jembatan yang cukup jauh dari lokasi tadi.

“Din-chan… daijoubu?” tanyaku takut – takut.

“Berbalik…jangan lihat aku…” ucapnya dengan suara bergetar.

Aku membalikkan badanku, membelakanginya. Tiba – tiba kurasakan Din merebahkan kepalanya di punggungku, suara isakan terdengar sangat jelas.

“Din…”

“Jangan bicara apa – apa…” hardiknya pelan.

Aku mengunci mulutku, membiarkan gadis itu menangis, menumpahkan segalanya.

===========

Din’s POV

-Flashback-

“Kau…tunggu disini ya…pesan apa saja…pokoknya tunggu disini…” ucapku lalu berjalan menuju kenyataan yang harus kuhadapi sekarang.

“Maaf…aku terlambat…” kataku pada Yuya yang sudah menungguku.

Pria di hadapanku itu tersenyum manis sekali, rasanya malah membuat dadaku semakin sesak saja.

Hubunganku dengan Yuya belum ada dua bulan. Namun semuanya terasa sudah begitu banyak kenangan.

“Boleh tahu kenapa?” tanyanya lalu meminum kopinya.

“Hmmm..hanya sedikit gugup..hehe,” tepatnya aku mencari teman untuk kesini. Aku tak yakin bisa pulang sendirian setelah ini.

Tapi Kento tak ada, ia malah ke rumah Ibu tanpa memberi tahuku. Riisa juga pastinya ada kencan, dan aku tak mungkin pergi dengan Yuma. Untunglah Fuma bersedia menemaniku, walaupun ia tak tahu apa – apa.

“Jadi, kau mau membicarakan apa? Sampai – sampai harus mengundangku ke tempat ini?”

Tanganku gemetaran, serasa segala beban di pundak ini membuat gravitasi tak lagi bermakna, membuatku sulit bernafas. Kotak itu kini tersimpan di meja, setelah susah payah aku keluarkan dari tas ku.

Kotak cincin pertunangan yang diberikan Yuya saat melamarku.

“Maksudnya?”

Aku menunduk, mengisyaratkan penyesalanku, “Yuya… selama seminggu ini aku terus berfikir akan pernikahan kita. Aku tahu waktunya tinggal seminggu, tapi saat aku memikirkannya, yappari… aku belum siap untuk menikah…”

Senyum itu hilang.

Berganti dengan wajah kebingungan.

“Din-chan…”

“Bukan karena Yuya tidak pantas jadi suamiku… bukan itu…” rasanya air mata ini akan segera jatuh, “Tapi… ini terlalu cepat. Memang rasanya seperti mimpi… tapi aku takut saat terbangun, aku baru akan menyadari bahwa ini terlalu mendadak dan bahkan akal sehatku tak bisa menerimanya,”

“Tak cukup jelas bahwa aku mencintaimu?” pertanyaan itu, aku tahu ia butuh kejelasan lebih.

“Yuya… kita baru saja memulainya, lalu kau secara tiba – tiba memintaku menikahimu, mengikutimu ke Amerika. Aku… ingin jadi guru dan berjuang sendiri dulu sebelum aku bisa hidup bersama orang lain…” jawabku dengan menahan tangisku.

“Kau…takut kehilangan dirimu sendiri karena saat ini kau merasa belum menggapai cita – citamu?”

Apa Yuya itu cenayang? Kenapa ia bisa membaca pikiranku dengan sangat jelas?

Aku mengangguk, menunduk dalam.

Ia menghela nafas, mengambil kotak itu, “Aku akan simpan cincin ini hingga aku kembali dari Amerika. Saat itu, aku akan mencoba melamarmu lagi…”

“Yuya…”

“Gapailah cita – citamu dulu… aku bisa menunggu…”

-Flashback end-

“Uwaaa~ burger disini enak!! Thanks Fuma…” kataku setelah menghabiskan dua porsi besar hamburger.

Fuma mengajakku berjalan – jalan, mungkin ini caranya untuk menghiburku. Apapun itu, aku bersyukur yang kuajak adalah Fuma, kalau adikku mungkin akan ribut sekali meminta penjelasan.

“Kau suka es krim juga?” tanya Fuma.

“Sukaaa!!”

“Aku tahu tempat es krim yang enak… kesana yuk…makannya udah beres, kan?” Ia beranjak dan keluar mendahului aku.

“Kau tukang makan ya?” cibirku sambil berjalan di sampingnya, menikmati sore yang teduh dan tak terlalu dingin itu.

“Aku tahu makanan enak tapi murah… sudah seumur hidup aku begini…” ucapnya sambil terkekeh pelan.

“Hahaha…”

“Syukurlah…kau tersenyum lagi…”

“Eh?”

“Nani mo nai…”

Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi aku akan hanya pura – pura tak dengar. Aku tak boleh terhanyut dengannya. Ia muridku. Selalu hanya akan jadi muridku, kataku meyakinkan diriku sendiri.

============

Fuma’s POV

“Makan malam siap!” seru Din yang malam itu bertugas memasak makan malam.

Aku segera keluar untuk makan. Setelah beberapa bulan lewat, rasanya kehidupan kami sudah berjalan normal kembali. Din juga tampaknya tak lagi memikirkan bagaimana ia terkena amukan dari keluarga Tegoshi-sensei, aku bersyukur akan hal itu.

“Dinchaaann..” panggilku.

Din mencibir, “Mana yang lain?”

Tak mengindahkan pertanyaannya, aku mendekat ke arah Din, “Suapin…”

“In your dream..” kata Din menyentuh dahiku dan menjauhkan wajahku dari hadapannya.

Dengan iseng aku mencium pipi Din, entah kenapa aku senang sekali membuatnya marah.

“FUMMMMAAA!!!” seru Din kesal.

“Hahaha…”

Makan malam itu di tutup dengan pengumuman Yuma soal trip ke Okinawa. Aku memang ingin ikut, namun karena Din tak ikut, entah kenapa rasanya aku jadi malas.

“Din…” aku menghampiri Din yang duduk di balkon, dengan sekaleng bir terletak di pinggirnya.

“Kenapa? Menemani gurumu minum bir?” ucapnya sambil meneguk bir itu, kembali menoleh menatap taman kecil di belakang rumah itu.

“Tak apa… aku hanya ingin kesini…” ucapku gugup.

“Sou ne… Terima kasih…”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya. Ternyata kau bisa juga jadi sedikit dewasa…” ucapnya, mengacak pelan rambutku.

“Anou… Din-chan…”

“Hmm?” pandangannya tetap ke depan, aku memandangi profil wajahnya dari pinggir, sekali lagi aku mengakui ini bukan rasa biasa. Aku mencintainya.

“Kalau…aku memintamu melihatku tak hanya sebagai seorang murid, kau mau mencobanya? Aku bisa jadi dewasa juga kan? Seperti yang kau bilang…” kataku dengan suara pelan tapi jelas.

Din menggeleng, “Jangan buat aku membencimu, Fuma..”

Rasanya tak adil.

Kenapa Din tak mau melihatku sebagai seorang pria?

============

“Tadaima…”

Aku mendongak, rasanya mendengar suara Din. Bukankah dia akan pulang ke rumah Ayahnya hari ini?

“Dinchan…katanya pulang?” tanyaku.

Din menoleh ke arahku sekilas, “Aku gak minat ikut trip ke Okinawa..” jawab Din singkat.

“Kenapa?”

“Karena kupikir kau ikut…” keluh Din lalu merebahkan diri di sofa.

Aku hanya bisa menghela nafas. Din selalu bersikap seolah dia sangat membenciku.

Aku mendekati Din, “Kau benar – benar membenciku ya?” lama – lama aku bisa kehabisan kesabaran juga.

“Iya.. kau tak perlu bertanya berulang – ulang…” jawab Din ketus.

Apa dia sedang dalam mood yang buruk?

Tanpa pikir panjang aku melumat bibir Din sambil menahan tangan gadis itu yang meronta dari ciuman itu.

“Mmm…mm…Fu..” Din terus berontak namun kekuatanku tentu saja lebih besar darinya.

Aku beralih ke leher Din.

“FUMA!!”

“Kau tahu… aku semakin membencimu!!”

“Bodoh!” umpatku bermonolog. Membuatnya tambah membenciku? Apa aku masih bisa mendapatkan hatinya jika seperti ini keadaannya?

==========

Din’s POV

Sikap Fuma semakin lama semakin jelas saja. Ia memang salah satu pemuda yang mungkin bisa membuatku nyaman. Tapi mungkin sebagai adik, tidak lebih dari itu.

Bohong kalau aku tak terpengaruh dengan ciumannya, atau peristiwa dahulu saat ia pertama kali menyerangku. Tapi, ia seumuran dengan adikku sendiri, tak mungkin aku melihatnya sebagai pria biasa.

“Dinchan…maaf..” Fuma yang sudah seminggu ini tak berani mendekatiku.

Aku menoleh menatap Fuma, “Sudahlah…aku sudah melupakannya… asal kau tak mengulanginya lagi…” kataku, malas berlama – lama punya musuh. Lagipula kita satu atap, tak ada yang lebih buruk daripada punya musuh di tumah sendiri kan?

“Aku tetap boleh menyukaimu?” tanya Fuma lagi.

Hah? Bocah ini apa maunya sih?, “Hmmm… aku akan tambah tua dan semakin tak menarik…mungkin kau tak akan lagi menyukai aku nanti…carilah gadis seusiamu!” seruku.

Fuma menggeleng, “Umur kita cuma beda lima tahun Dinchan…kau mendramatisir keadaan…” seru Fuma.

“Iya..dan kau seumur dengan adikku, Kento, jangan bermimpi aku bisa memacari adikku sendiri…” keluhku, mulai capek dengan sikap Fuma yang kadang terlalu memaksa.

“Tapi Dinchan!! Aku kan lebih dewasa daripada Kento…aku…”

“Hei! Umurmu saja lebih muda daripada Kento…”

“Tapi aku serius Dinchan!! Aku mencintaimu!!” seru Fuma lagi.

Aku mengetuk panci dengan sedikit kesal, “Baiklah… jika dalam tiga tahun kau bisa jadi dewasa dan bisa membuatku jatuh cinta…aku akan menjadi pacarmu…bagaimana? Tapi kalau gagal, tinggalkan aku..cari gadis lain saja…”

Fuma bersorak dan tersenyum kepadaku, “Kau akan menyesal dengan kata – katamu itu…”

Demi apapun, kurasa aku yakin aku tak akan jatuh cinta padanya.

===========

A Year After~

“Berita hari ini, sebuah pesawat menuju Hokkaido yang berangkat pukul 10.00 hari ini mengalami ledakan parah, keadaan pesawat saat ini hancur terbakar, diperkirakan tidak ada korban selamat. Dan sampai saat ini petugas pemadam kebakaran masih mencoba memadamkan api yang membakar pesawat tersebut,”

Aku yang hendak masuk ke kamar, berhenti mendengar berita tersebut.

“Chotto!!” aku berlari ke depan televisi, berharap apa yang kulihat hanyalah khayalanku saja.

Yuma bergerak menuju telepon rumah, menelepon pihak terkait.

Fuma dan Kento ikut duduk depan televisi.

Nama itu muncul.

Yanagi Riisa.

Otakku rasanya kosong, sekelebat kenangan yang baru saja kita lalui berhamburan di memoriku. Aku baru saja mengantar Riisa ke bandara untuk kembali ke Hokkaido.

Memang Riisa melanjutkan kuliahnya di Hokkaido, namun kemarin ia kembali karena pacarnya, Yugo, meninggal dunia. Lalu sekarang? Apa ini?

Air mataku tumpah ruah, “Uso da yo!! Uso!!” teriakku, menoleh ke arah Yuma yang kini terduduk lemas di lantai, telepon itu masih menggantung tanpa ia pedulikan lagi.

“Uso…jyanai…” ucap Yuma sambil bercucuran air mata.

Isak tangisku semakin menjadi, Kento menghampiriku, memelukku dengan erat. Tak ada yang bicara. Fuma menghindar dan menjauh dari tempat itu. Kento juga menangis, namun memelukku lebih erat, mencoba menenangkan aku tampaknya.

==========

Fuma’s POV

Keadaan tak pernah lagi sama sejak kepergian Riisa selama – lamanya. Yuma pamit, tak lagi tinggal bersama kami di Share House. Aku masih berteman dengannya, karena kami satu kampus, dan tentu saja ia masih teman terbaikku.

Padahal, sebelum peristiwa itu, walaupun sudah kuliah, akhirnya kami tetap tinggal di rumah itu. Namun dengan hanya tinggal kami bertiga, rasanya sedikit sulit untuk mempertahankan rumah itu.

“Nee-chan… tinggal kita bertiga disini… yakin masih mau mempertahankan rumah ini?” tanya Kento pada Din, saat akhirnya kita bisa makan malam bersama.

Din menatap Kento, “Kau boleh pergi juga… aku akan mencari penyewa baru..” ucapnya dengan dingin.

Kento menghela nafas, “Nee-chan…”

“Ini tempat terakhir kita punya kenangan dengan Riisa… jangan macam – macam deh…”

“Tapi Din-chan… kurasa Kento benar…”

“Pintu itu…” Din memotong omonganku, menunjuk ke arah pintu keluar, “Selalu terbuka jika kau ingin keluar dari rumah ini… aku tak akan kemana – mana…”

Din beranjak, meninggalkan makanannya yang masih belum habis dimakan.

Sejak itu, kami tak pernah mengusik Din soal kepindahan. Namun beberapa minggu kemudian, datang dua orang yang menurut Din akan tinggal di rumah itu. Sepertinya sepasang suami istri, tapi mereka terlalu muda untuk menikah.

“Ini… Arioka Daiki-san dan Arioka Saifu-san…” ucap Din ketika malam itu mengumpulkan aku dan Kento di ruang tengah bersama pasangan Arioka itu.

“Yoroshiku onegaishimasu…” Pria muda bernama Daiki itu menunduk sopan padaku dan Kento.

“Ini…adikku… Saifu…”

Oh, ternyata mereka kakak adik. Tapi ada sesuatu yang aneh antara mereka berdua. Bukan seperti adik kakak biasanya. Makanya aku mengira mereka memang sepasang kekasih, ternyata dugaanku salah besar.

============

“Di rumah ada penghuni baru loh…” kataku pada Yuma, di sela makan siang itu.

Yuma menoleh, “Oh ya? Aku belum bisa pulang kesana…semuanya masih terlalu rumit buatku…” ucapnya, lalu memandang kosong ke arah lapangan bola di bawah.

Aku mengangguk – angguk mengerti, “Aku tahu… tapi, kita tetap ingin Nakayama Yuma kembali ke rumah itu…”

“Kalau pulang, aku akan terus teringat akan Rii-chan…dan itu menyakitkan,”

Jika Din yang pergi, bahkan mungkin aku bisa gila. Aku tak mungkin bisa bertahan seperti Yuma.

“Eh!! Ikemen…ikemen…” seru beberapa gadis menunjuk seorang pria yang ada di halaman kampus.

Aku dan Yuma mendongak untuk melihat siapa yang ada di bawah.

“Kudengar itu Tegoshi-senpai… ia juga lulusan Universitas ini kan? Tapi sudah lama lulus…” seru seorang gadis, “Kata Miyako-senpai, dia itu memang terkenal disini!!”

“Waaa…dia memang tampan…” kata gadis yang lain.

Aku tak menyadari situasinya hingga Yuma menyenggol bahuku, “Sainganmu pulang tuh…”

“Eh?” aku menatap Yuma tak mengerti, “Eeehh??!! Tegoshi??!!” seruku lantang, membuat seisi kelas menatapku dengan wajah bingung.

PLAK!

Tangan Yuma mampir di kepalaku, “BAKA! Gak usah teriak – teriak gitu,”

============

Din’s POV

“Aku tak menyangka kau pulang secepat ini?” tanyaku pada Yuya yang kini sudah duduk di sebelahku. Tiba – tiba saja hari ini Yuya menghubungiku, berkata bahwa ia ingin bertemu, membuatku kaget saja.

“Aku sedang liburan…mengambil sedikit sample data yang aku butuhkan di kampus…” katanya tenang.

“Oh…sou ka…”

Tiba – tiba saja pandangan mata kita bertemu. Yuya mengusap pelan rambutku, “Din-chan…tidak berubah ya…”

“Mou!” aku menepiskan tangannya, “Kita hanya tidak bertemu setahun… bukan sepuluh tahun,”

“Hahaha… iya ya…eh.. tawaranku masih berlaku loh…mau ke Amerika bersamaku?”

“No way Mr. Tegoshi…Thank you very much…” kataku sambil menggembungkan pipiku.

“Hahaha…kau menemukan orang yang kau sukai ya?” tebaknya sambil mengacak rambutku pelan.

Aku selalu berharap Yuya itu bukan cenayang, tapi ia selalu bisa membaca pikiranku.

“Betsu ni…” jawabku acuh.

“Sial…harusnya aku tak meninggalkanmu setahun disini…”

Aku hanya tertawa menanggapi Yuya.

Akhirnya aku pulang ke rumah sudah sangat malam, namun kulihat ruang tengah masih menyala lampunya.

“Tadaima…”

“Okaeri Din-chan…”

“Ah… kau belum tidur Dai-chan?” tanyaku sambil membuka mantel dan duduk di sofa sebelah Daiki.

“Belum… aku baru saja makan malam…lapar lagi..hehe..”

Arioka Daiki ini adalah teman kampusku dulu. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan design.

“Anou..Din-chan…”

“Hmm?”

“Terima kasih sudah mau menerimaku dan Saifu disini…”

Aku menepuk bahu Daiki, “Tak usah sungkan..kau juga dulu banyak membantuku kan?”

“Dengan keadaan kami…tak ada yang mau menerimaku dan Saifu… padahal kami kakak-adik…apa begitu kentara ya?”

“Mungkin hanya kau yang merasa pandangan orang padamu itu berbeda…padahal mereka mungkin tidak tahu…”

“Entahlah…aku memang mencintainya…tapi rasanya semuanya menjadi serba salah ketika orang tua kami tahu…” Daiki terkekeh pelan, aku tahu itu hanya menutupi rasa sedihnya saja.

Demi cinta mereka, sepasang adik-kakak ini melarikan diri dari rumah. Dibenci orang tuanya sendiri, aku tak bisa membayangkannya jika aku menjadi Daiki dan Saifu.

“Semua orang bilang kami menjijikan…tapi kenyataannya aku dan Saifu memang saling mencintai…” ucapnya lagi.

Aku mengangguk, “Iya Dai-chan… aku tahu… tak ada yang salah ketika kalian saling mencintai kan?”

Percintaan sedarah yang dipandang orang menjijikan. Itu yang sedang mereka berdua hadapi.

“Tapi…aku kadang merasa bersalah pada Saifu…harusnya tak boleh begini…”

“Kalau kau mencintai Saifu, kau pasti tahu apa yang akan membuatnya bahagia..pikirkanlah itu…” ucapku, “Aku tidur ya Dai-chan… oyasumi…”

=============

“DINCHAAANNN!!”

Aduh. Suara bising apa sih pagi – pagi begini? Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya menyadari pintu ku di ketuk kencang sekali.

“BERISIK!!” teriakku pada orang di depan pintu.

Fuma berwajah sangat serius, ia juga sepertinya baru bangun tidur.

“Semalam aku menunggumu, tapi malah ketiduran…jadi aku tak sempat bicara padamu!!” katanya dengan lantang.

“Terus? Apa maumu?” tanyaku sambil menguap, sepertinya ini masih pagi sekali, ditambah lagi ini hari sabtu.

“Jangan ikut Tegoshi!! Kau sudah berjanji memberikan aku waktu tiga tahun… dan aku masih punya waktu dua tahun!! Jangan kemana – mana!!”

“Hah?”

Sebentar.

Bocah di depanku ini ngomong apa sih?

“Kau berisik sekali Fuma…ngomong apa sih?” keluhku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Tiba – tiba saja seisi Share House keluar dari kamarnya masing – masing.

“Pagi – pagi begini ada apa sih?” tanya Kento yang juga baru bangun.

Bahkan Daiki dan Saifu pun bangun karena berisiknya suara Fuma.

“Din-chaann!!” Fuma mengguncang tanganku, “Jangan pergi!!”

“Mou…pergi kemana? Aku tak akan kemana – mana…” jawabku dengan malas.

“Aku akan membuktikan bahwa aku bisa membuat Din-chan jatuh cinta padaku!!” serunya lagi.

Aku menoleh ke sekeliling ruangan, semuanya menunjukkan wajah – wajah tak percaya pada Fuma.

“Sudahlah Fuma…”

“Din…aku serius!!” ya. Aku juga bisa melihat kesungguhan di matanya, “Aku kan sekarang bukan muridmu lagi!!”

“Hmmm… wakatta!! Wakatta!!”

Sepertinya Fuma bertambah tinggi? Atau hanya perasaanku saja? Karena ketika aku menecup pipinya, aku sedikit berjinjit.

“Eh?” Fuma melihatku dengan bingung, “maksudnya?”

“Aku tak akan kemana – mana Kikuchi-san…dan kau tak butuh waktu dua tahun lagi…” aku segera masuk ke kamar dan menutup pintuku.

Bertemu Daiki dan Saifu mungkin adalah turning point dalam kehidupan asmaraku. Dulu aku tak pernah mau mengakui bahwa sebenarnya Fuma sudah merebut hatiku. Butuh keberanian besar untuk mengakuinya, bahwa aku sebenarnya sudah jatuh cinta padanya sejak dulu. Hanya, saat itu aku gengsi, hanya memikirkan bahwa jika bersama Fuma, aku akan malu.

“Din…buka pintunya…” lamunanku terhenti karena suara Fuma diluar sana.

Dengan gugup aku membuka pintu kamar itu, kulihat Kento, Daiki dan Saifu tersenyum dan terkekeh – kekeh seakan menggodaku.

Saat pintu terbuka sepenuhnya, tangan Fuma menarikku ke dalam pelukannya. Aku tak punya alasan untuk malu lagi, aku memang mencintainya.

Riisa pernah berkata padaku, “Nee-chan… jujurlah pada hatimu…” karena memang hanya gadis itu yang tahu bahwa aku menyimpan perasaan yang sama pada Fuma. Ku ceritakan sehari sebelum keberangkatan Riisa ke Hokkaido.

Lihatlah Riisa, aku akan bahagia bersama Fuma. Aku janji.

===========

OWARIIII!!

Ayey~ ternyata bisa jadi 2 chapter walopun aku merasa ini gak begitu bagus dan agak sedikit maksa… =.=
Hahaha…
Tak apa ya?? #maksa
COMMENTS ARE LOVE LOVE LOVE…
Mohon di komen setelah dibaca ya kawan… because that’s precious for me… yang ngasih jempol makasih…tapi kalo komen pasti lebih cakep..hehehe.. 🙂
Thanks… :-*

Advertisements

6 thoughts on “[Minichapter] I Just Haven’t Loved You Yet (Chapter 2)

  1. Nirmala

    fanficnya bagus… akhirnya sama yang lebih muda lagi…. hahahaha… tapi beneran bagus lho neechan.. aku nggak pernah bisa buat yang kayak gini… hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s