[Oneshot] That`s All Happend to My Life (Jumping to my heart~Am I Dreaming Side story ~)


Title: That`s All Happened To My Life (~ Am I Dreaming Side Story~ )
Author: Fukuzawa Saya
Type: Oneshoot
Genre : Romance~
Ratting : nyerempet NC sih, hahahahaha
Fandom : JE
Starring: Arioka Daiki (HSJ), Saifu Suzuki (OC ) and some other character
Disclaimer : i just make another story of fanfict was made by Bunda , gomen na kalo jelek ~ ..but still leave some comment ❤

That’s All Happened To My Life


 
 
“Fu-chan !!”, sesosok laki-laki yang mengenakan baju yang menutupi sebagian besar wajahnya itu berlari menghampiri Saifu yang masih memandang sosok yang tengah berlari kearahnya itu dengan sedikit takjub.
 
 
Masih bermimpikah dia?
 
 
Atau ini hanya impian yang terlalu berlebihan lagi, sampai-sampai dia sekarang bermimpi melihat sosok yang selama ini dia sukai berlari kearahnya .
 
 
Dan kini sosok itu berada didepannya sambil sedikit terengah –engah.
 
 
“gomen….aku telat lagi..”, keluh pemuda itu.
 
 
Saifu hanya mengangguk canggung sambil menatap pemuda itu, berharap dia takkan pernah terbangun dari mimpi indahnya itu.
 
 
“kau kenapa sih? Menatapku seram sekali?”, pemuda bernama Daiki itu menatap wajah Saifu lebih dekat lagi.
 
 
“eh?”, Saifu tersadar , dia menggeleng cepat,” da..daijobu..”
 
 
“kau masih menganggap ini hanya mimpi ya Fu-chan?”, Daiki menebak dengan tepat apa yang difikirkan Saifu, dan membuat Saifu benar-benar malu.
 
 
“go…gomen ..”, Saifu hanya bisa mengatakan itu tanpa menatap Daiki.
 
 
“Fu-chan..”, Daiki mencubit pipi Saifu.
 
 
“aduh…sakit..”, Saifu melepaskan tangan Daiki yang mencubit pipinya, dan kini tangan itu menggenggam tangannya erat.
 
 
“aku ada disini sekarang…bersamamu, dan ini bukan mimpimu lagi Fu-chan…dan bukan mimpiku lagi, kita sekarang bersama  di dunia nyata. “, Daiki menatap Saifu sambil tersenyum seolah meyakinkan gadisnya itu,” kau tak perlau takut lagi..”, kata Daiki.
 
 
Saifu tersenyum , “un..wakatta , arigatou na…
 
 
“nah tak ada yang dikhawatirkan lagi kan? Sekarang ayo jalan-jalan…~!!” , kata Daiki bersemangat lalu menaraik Saifu yang berlari mengikuti Daiki yang menggeggam tangannya erat.
 
 
Bahkan jika ini benar –benar mimpi….Saifu bahkan rela tak terbangun lagi.
 
 
 
Saifu memegangi kepalanya yang pusing,Jet Coster memang bukan ide bagus untuknya.
 
 
Setelah menaiki wahana tadi dia merasa mual,Daiki pergi membelikan sesuatu untuk Saifu dia bilang agar Saifu merasa lebih baik.
 
 
“kemana dia?”, keluh Saifu karena Daiki belum juga kembali.
 
 
“Ini es krimnya..” kata Daiki yang tiba – tiba duduk di sebelahnya.
 
 
Saifu menoleh karena kaget Daiki tiba-tiba berada disampingnya.
 
 
“eh?”
 
 
Saifu mengigit bibirnya, ini mimpinya lagikah?? Kejadian yang sama persis dengan mimpinya ini.
 
 
“Kita… dimana?” tanya Saifu sambil menerima es krim yang di sodorkan oleh Daiki, Saifu kembali berusaha meyakinkan dirinya ini bukan hanya sekedar mimpi.
 
 

Daiki mengerutkan dahinya bingung, “Kita kan sedang kencan nona cantik…kau lupa?”

 
 
“Ini…mimpi ya?” tanya Saifu pada Daiki.
 
 

Daiki hanya mengangkat bahu lalu menarik lengan Saifu, merasa tak ingin meyakinkan Saifu lagi kalau ini kenyataan bukan lagi mimpinya.Saifu berjalan berdua dengan pemuda itu melewati beberapa pemainan.


Mereka pun segera menuju ke bianglala. Daiki menuntun Saifu yang masih kerepotan dengan es krimnya.


Hari sudah malam, cahaya lampu dari gedung – gedung membuat suasana di dalam bianglala menjadi lebih indah.


“Fu-chan…” panggil Daiki.


“Hmm?”


“Kau belepotan…” tegur Daiki.


“Eh?” Saifu hendak mengelap bibirnya ketika tiba – tiba Daiki menyentuhkan bibirnya di bibir Saifu.


Ciuman itu hangat, dan sangat lembut.


Ia ingin ini bukan mimpi. Ia tak ingin bangun dari mimpi ini.




“Saifu?”




“eh?”


Saifu menatap sekelilingnya, ini kamarnya.




“kau masih pusing?”, tanya ibunya sambil menatap putrinya itu khawatir.




Saifu menutup wajahnya dengan telapak tangannya ,”tadi itu mimpi lagi? Demi Tuhan aku…”




“Bibi..Saifu sudah bangun??”




“Daiki??”, Saifu menatap Daiki yang masuk kedalam kamarnya, masih baju yang sama seperti sosok Daiki yang dilihatnya tadi.




Daiki mendekat kearahnya ,”Fu-chan…sudah merasa baikan?”, tanya Daiki sambil duduk dipinggiran kasur Saifu sambil menatap Saifu.




“aku …”




“tadi kau pingsan di bianglala…”, jelas Daiki,”kau demam.., kenapa tidak bialng kalau kau sakit sih? Salahku juga memaksamu ikut naik jet cosster sih..gomen.”




Saifu menggeleng, dia benar-benar takut tadi itu hanya mimpi.




“kenapa menangis?”, tanya Daiki sambil menatap Saifu yang menunduk sambil menangis.




Saifu tak menajawab , hanya suara isakan yang terdengar dari mulutnya itu.




Daiki merasa tak perlu bertanya, karena dia tahu apa yang membuat Saifu setakut itu.




Daiki menaraik Saifu kedalam pelukannya, membiarkan Saifu menangis dipelukannya itu.




“tenanglah..”, Daiki mengelus punggung Saifu , menenangkan gadis itu.




“kau terlalu ketakutan..kenapa sih? Aku ada disini…”, Daiki menatap wajah Saifu , mengusap air mata yang keluar dari mata gadis itu.




“aku..aku hanya takut, takut kalau aku terbangun lagi..dan ini semua hanya mimpi”, kata Saifu sambil terisak isak.




Dia benar-benar mencintai Daiki, itu kenapa dia begitu takut ini semua hanya mimpinya lagi.






Daiki memeluk tubuh Saifu erat,entah berapa lama lagi hingga Saifu yakin bahwa Daiki benar-benar bersamanya sekarang.




Tapi satu hal, Daiki tak akan mau melepaskan gadis ini . Gadis yang hanya ditemuinya lewat mimpinya, dan Daiki yakin Saifu adalah gadis yang tepat untuknya.




Drttt..




Daiki melepaskan pelukannya, ada telpon .




“Kou-chan..”, kata Daiki saat melihat siapa yang menelponnya.




“hai? …iya, sekarang? “, Daiki menatap Saifu yang sudah agak tenang ,”baiklah..”




“Fu-chan…istirahatlah, aku harus pergi..”, Daiki mengecup dahi Saifu lembut.




“aku mencintaimu…”, kata Daiki berbisik dikuping Saifu .




“watashi mo…”




Daiki tersenyum,”oyasumi Fu-chan…”, kata Daiki sambil mengelus kepala Saifu pelan lalu beranjak pergi meninggalkan Saifu yang kini sendirian dikamaranya, menatap keluar jendela kamarnya.


Menatap sosok Daiki yang perlahan berjalan menjauh dari rumahnya.

 





Sejak pagi Daiki sudah berada diruang latihannya , berlatih sejak pagi.




Sebenarnya dia ingin pergi kerumah Saifu, memastikan Saifu baik-baik Saja karena mereka tak bertemu hampir seminggu karena Daiki sangat sibuk.




Tapi Daiki tak pernah lupa mengirimi Saifu e-mail.


To: Fu-chan ❤
Subject :   (no subject)


Hari ini latihan dari pagi.
Aku kangen sekali padamu, maaf ya
Aku belum sempat bertemu denganmu
Kalau aku sempat, walaupun sudah sangat malam
Aku akan kerumahmu, hanya untuk memastikan
Kau baik-baik saja


Aishiteru yo…Fu-chan


-Daiki-




Daiki menutup keitainya, kembali latihan bersama teman-temannya.






Saifu membuka matanya, ini hari minggu dan itu membuatnya bisa bermalas-malasan seperti sekarang ini.




Dia mengambil keitainya, Saifu terbiasa langsung menge-check keitainya begitu bangun tidur.


Ada 2 e-mail.




Dari Mika, dan dari Daiki ❤




Saifu tersenyum membaca e-mail itu, mengetik cepat balasan e-mail itu dan mengirimnya pada Daiki.




To: Daiki ❤
Subject : re (no subject)


Wakatta yo
Jaga kesehatanmu ya, kau kan gampang flu
Kau harus banyak istirahat
Wakatta?




Aishiteru mo ..Dai-chan ❤






Daiki tersenyum , rasa lelahnya menghilang ketika dia membaca e-mail dari Saifu itu. Dia sudah selesai latihan dan sedang istirahat sambil mengelap keringatnya.




“aku mau ke toilet..”, gumam Daiki,lalu beranjak dari lantai dan berjalan menuju toilet.




“Sudah kubilang hati – hati, kan?”


“Iya…tapi… bagaimana dong?! Aku bingung nih… kalau bertemu, ia pasti kaget… tapi aku juga ingin bertemu langsung dengannya…” keluh Yamada.




Daiki bersembunyi dibalik tembok, melirik Yuto dan Yamada yang tengah berbicara . Dan mereka nampak serius, Daiki diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka itu.






“Wakatta… hufft~ baka!! Baka!!” ucapnya pada diri sendiri, “Waaaaa!!” Yamada kaget karena ketika berbalik, ternyata Daiki sudah ada di belakangnya.


“Hei bocah!! Kau bikin masalah apa lagi?!” seru Daiki mencubit pipi Yamada yang kini tepat dihadapannya.


“Ittaaaiiiii!!” Yamada melepaskan tangan Daiki dari pipinya, “Sakit tau…” ucap Yamada menggosok – gosok pipinya dengan tangan.


Yamada akhirnya menceritakannya pada Daiki, percuma saja menyembunyikannya, toh Daiki pasti sudah mendengar sebagian percakapan mereka.


“Sebenarnya….” Daiki melihat sekilas pada Yamada. Kini mereka berada di balkon, tempat biasa mereka bicara.


“Ya?” tanya Yamada karena merasa Daiki terlalu lama menggantung pernyataan yang akan ia keluarkan.


“Aku pacaran dengan fansku…”


“APAAA??!!”


Daiki dengan cepat menutup mulut Yamada, “Baka!! Gak usah teriak – teriak!!”


“Jangan – jangan cewek yang datang di acara fansigning waktu itu ya?” seru Yamada heboh.


“Sssshhhtt!! Jangan keras – keras!!” protes Daiki lalu menoleh, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.


Yamada mengangguk – angguk, “Gomen…”


“Menurutku, lebih baik kau menemuinya.. apalagi kau sudah berkomunikasi dengannya kan? Dia pasti meyakini bahwa kau adalah teman dunia maya nya yang biasa…” ucap Daiki.


“Tapi… kalau dia malah kabur gimana?”


“Semuanya bisa saja terjadi, kalau sekarang kau tak bertemu dengannya? Bukannya gadis itu malah akan semakin tidak memercayaimu?” Daiki menoleh pada Yamada yang sedang tampak berfikir.


“Wakatta…” jawab Yamada lirih.


“Tapi…resikonya…kalau kau pacaran dengan fans… jangan sampai fans lain tahu..hahaha..” dengan keras Daiki memukul punggung Yamada.


“Dai-chan… memangnya masuk akal jatuh cinta hanya karena bertemu di dunia maya?”


“Masuk akal… karena aku jatuh cinta pada Fu-chan hanya lewat mimpiku…” Daiki terkekeh pelan lalu meninggalkan Yamada yang masih berfikir, Daiki tahu temannya butuh sendirian.






Dan Daiki juga tahu, dia butuh melihat Saifu sekarang.




Dia sangat merindukan Saifu.






“hai hai…chotto..”, Saifu berjalan kearah pintu rumahnya, lalu membukakan pintu menemukan sosok Daiki tengah berdiri sambil tersenyum dihadapannya.




“Daiki..”




“Fu-channnnnnn!! Aitakatta….”, kata Daiki lalu langsung memeluk Saifu erat.




“Dai-chan…”, Saifu bohong jika dia bilang dia tak merindukan Daiki, walaupun hampir tiap hari dia melihat sosok Daiki di Tv tapi sosoknya yang kini berada didepannya ini , benar-benar dirindukannya.






“kau baru pulang latihan? Kau terlihat lelah sekali…kenapa gak istirahat saja?”, kata Saifu sambil menyimpan segelas es jeruk di meja ruang tamu, kini mereka duduk diruang tamu rumah Saifu.




Ibu Saifu tengah pergi, sedangkan ayahnya masih kerja dan praktis hanya ada Saifu dan Daiki dirumah itu.






“aku sudah bilang kan? Walaupun sudah larut malam aku akan tetap kerumahmu, sekarang masih sore..jadi kurasa tak apa. Lagipula..aku sangat merindukan Fu-chan..”, kata Daiki .




“hahahaha….”






Daiki biingung menatap Saifu yang tiba-tiba tertawa,”kau kenapa sih?”, Tanya Daiki bingung.




Saifu menggeleng, “nani mo nai…kau manis sekali saat mengataan kau merindukanku..rasanya seperti mimpi “




“Dai-chan??”, Saifu kaget karena tiba –tiba  Daiki memeluknya Dari belakang saat dia baru saja akan beranjak ke dapur mengambilkan Daiki minuman.




“sudah kukatakan…jangan katakana tentang mimpi lagi..”,kata Daiki sambil makin mempereerat pelukannya itu.






Saifu merasa wajahnya sangat panas sekarang, dia malu karena Daiki tiba-tiba memeluknya begitu erat”maaf….”, gumam Saifu.






“Fu-chan…”, Daiki membalik tubuh Saifu dan kini mereka saling berhadapan, Daiki sedikit menunduk untuk mencium bibir Saifu yang hanya diam tak melawan.




“kau bisa merasakannya kan?ini bukan mimpi…”, kata Daiki lalu kembali mencium bibir Saifu, sambil memeluk tubuh Saifu erat.




Demi apapun Saifu merasa dia akan mati sebentar lagi, dadanya begitu bergemuruh kencang .




“aku mencintaimu…”, kata Daiki lagi ,lalu menyudutkan Saifu ketembok .




“Dai…”,




Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Daiki sudah menciumi leher Saifu.




Tangan Daiki menarik kaus yang dikenakan Saifu,melemparkannya kelantai, lalu kembali mencium bibir Saifu yang mengalungkan tanganya dileher Daiki, menikmati ciuman mereka.




“Saifu…..”, lirih Daiki,sambil mengigit leher Saifu,meninggalan bekas memerah .




Saifu tak bisa mengatakan apapun , hanya bisa diam membiarkan Daiki melakukan sesuatu terhadap tubuhnya.




“Fu..”, Daiki menatap wajah Saifu, mereka saling pandang.




Daiki mendekatkan wajahnya lagi ke wajah, Saifu, kembali mencium bibir Saifu  .




Daiki menggendong Saifu ,bibir mereka masih saling bertautan  satu sama lain. Daiki berjalan menuju kamar Saifu,lalu menguncinya dari dalam . Dengan lembut Daiki meletakkan Saifu di kasurnya,lalu mulai membuka pakaiannya sendiri.




“di dalam mimpimu tak ada yang seperti ini kan?”, Tanya Daiki sambil tersenyum jahil.




“Baka!”, seru Saifu dengan wajah memerah.




Daiki berada diatas tubuh Saifu, tersenyum menatap wajah Saifu yang memerah ,”sudah kukatakan…kita berada di dunia nyata, dan aku bersamamu…”, kata Daiki lalu mencium bibir Saifu lagi.












Daiki memeluk erat tubuh Saifu yang kelelahan , keringat bercucuran dari tubuh mereka.




“sekarang kau perayakan kalau ini semua nyata?”, kata Daiki sambil mencium kening Saifu yang berada dipelukannya.




“hai…sudah jangan dibahas, aku malu..”, kata Saifu .




Daiki tertawa lalu mengusap kepala Saifu dengan sayang,” begitu agencyku mengizinkan kita menikah…maukah kau menikah dengnku?”, Tanya Daiki sontak membuat Saifu kaget dan menatap Daiki .




“eh???”




“aku serius …”,kata Daiki sambil mengenggam erat tangan Saifu ,”kita menikah…,aku tau aku terdengar  bodoh , hubungan kita bahkan belum lama..tapi,aku sangat menyayangimu Fu-chan…”






Saifu tersenyum,”wakatta…aku mau..”,kata Saifu.






“arigatou…..!!!”,seru Daiki senang,”ah chotto….rasanya aku membawanya..”, kata Daiki sambil mengambil jaketnya yang ada dilantai,”ah..ini dia…”




“cincin??”




“ini benda murah yang kubeli dijalan, cincin aslinya nanti ya saat kita menikah…, ini hanya sebagai lambang saja kalau kita saling terikat” ,




 Daiki mengambil tali kalung berwarna hitam dari saku celananya,”aku akan kalungkan punyaku di leher, punya Fu-chan dipakai saja ya..”






Daiki memkaikan cincin kejari manis Saifu,”kawaii na…yappari, kau memang cocok pakai apa saja…”




“aku pakaikan kalung Dai-chan..”, kata Saifu lalu memakaikan kalung dengan bandul cincin di leher Daiki.




“hwaaaa….aku senang sekali..”, seru Daiki tiba-tiba sambil tersenyum,”Fu-chan arigatou..mungkin aku tak akan selalu bisa berada bersamamu karena pekerjaanku, tapi sebanyak apapun waktu luang yang kumili, maukah kau menghabiskannya bersamaku?”




“hai ..!”, kata Saifu lalu langsung menghambur kepelukan Daiki yang memeluknya erat.






Saifu kini percaya, semua yang dia alami
Memanglah terjadi didalam kehidupannya,
Dan sekarang dia bahagia karena disatukan dengan seseorang yang selalu diimpikannya untuk bisa bersamanya.


Kalian semua pun ingin kan mendapatan seseorang yang kalian impikan?






OWARIIII~
Diakhiri dengan pertanyaan gaje yang lebih kebuat diri saya sendiri!hahaha…bundaaa~gomen na, jadi rada NC gini..hihihihihihihihih*ketawa setan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s