[Minichapter] On The Way To Find You (Chapter 1) ~Sequel of ‘My Lovely Petto’~

Title       : On The Way To Find You (Sequel from My Lovely Petto)
Type      : Minichapter
Chapter    : 1
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre     : Romance 😛
Ratting    : PG
Fandom   : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Kitayama Hiromitsu (Kis-My-Ft2), Ikuta Din (OC), Takaki Saifu (OC),  and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru, Morimoto Ryutaro and Kitayama Hiromitsu are belongs to JE, Din, Saifu are our OC. It’s just a sequel of ‘My Lovely Petto’.
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

On The Way To Find You
~ Chapter 1 ~


Daiki menopang dagunya sambil menatap lurus kedepan, dia memikirkan sesuatu.

Dia memikirkan Saifu.

“kalung itu…” Daiki bergumam pelan, dia teringat lagi bagaimana dia membuat kalung yang saat dia berpisah dengan Saifu diberikannya sebagai hadiah natal sekaligus hadiah perpisahan.

-Flashback-

“ARGGGHHH…!!!”, Daiki mengerang keras, keringat  bercucuran dari sekujur tubuhnya.

Lengan sebelah kanannya terus mengeluarkan darah, karena dirinya sendiri menusuknya lengannya dengan sebuah pisau kecil.

Daiki terlihat sangat kesakitan, namun malah terus membiarkan darahnya itu mengalir dari lengannya sampai akhirnya dia merasa darahnya sudah cukup.

Daiki menatap darahnya yang dia taruh di dalam sebuah botol kaca kecil, “sepertinya cukup…” kata Daiki pelan sambil tersenyum.

“Akhh..” Daiki benar-benar ingin berteriak rasanya, lukanya benar – benar  terasa sakit.

Darahnya bukan darah seperti darah manusia biasa, itu darah peri.

Dia harus tahan sakit karena mengambil darahnya sendiri.

Wajah Daiki sedikit pucat, wajahnya penuh keringat darah dari lengannya tak mengalir lagi.

Daiki memejamkan matanya, air matanya mulai turun dimasukkannya air matanya kedalam botol kaca yang berisi darahnya.

Darah dan air matanya bercampur, Daiki mulai berkonsentrasi, mengeluarkan cairan yang sudah bersatu itu dari dalam botolnya.

Cairan itu melatang dihadapannya, Daiki menghela nafas.

“UAKHHHHH…!!!”

Daiki merasa dia benar-benar tak tahan, dia merasa sangat sakit saat dia tengah membentuk darahnya tadi menjadi sebuah kalung.

“Se..dikit..lagi…” Daiki berusaha menyemangati dirinya, darahnya mulai berbentuk sebuah kalung.

“Yokatta…” Daiki tersenyum saat kalung itu sudah jadi.

“Ah…” Daiki sekali lagi mengeluarkan beberapa tetes air matanya dari kelopak matanya, air mata itu melayang kearah untaian kalung yang juga melayang dihadapan Daiki.

Air mata itu membentuk dirinya sendiri menjadi sebuah bandul kalung kristal berbentuk sayap peri.

Daiki tersenyum lemah, menengadahkan tangannya .

Kalung itu jatuh kedalam telapak tangannya, dan Daiki langsung mengenggamnya erat.

Daiki memejamkan matanya, dia butuh istirahat.

Flashback End

Daiki tersadar dari lamunannya, tersenyum, “Semoga…dia menjaga kalung itu dengan baik…” Daiki menunduk, “Walaupun kami tak dapat bersama…” gumamanya lagi pelan.

“Lebih baik aku ketempat Din-chan…” kata Daiki lalu terbang menuju rumah Din.

Daiki mendapati Din tengah melamun, lalu berjalan menghampirinya.

“Yuya-chan sedang apa ya?” gumam Din menatap keluar jendela. Dengan bersikeras ia menyimpan baju yang diberikan oleh Yuya walaupun itu melanggar aturan.

Din menopang dagunya, matanya menatap lurus ke depan dengan tak fokus.

“Dinchan…

Suara Daiki membuyarkan lamunan Din, pemuda itu terbang ke sebelahnya, menatap Din dengan seksama.

“Merindukan Yuya lagi?”

Daiki tak pernah salah menebak bagaimana perasaannya. Seumur hidupnya mereka selalu bersama. Din mengangguk, matanya menatap Daiki.

“Aku juga merindukannya…Saifu maksudku…” wajah Daiki tak kalah murung.

“DAIKI!! DIN!!! Kalian dipanggil Dewa Cintaaa!!” seorang peri terbang mendekati mereka berdua dengan tergesa – gesa.

“Hah?” Daiki bingung.

“Cepaaatttt!!” seru peri itu lagii

Daiki segera menarik tangan Din dan membawa Din ke ruangan besar, aula biasa mereka mengadakan pertemuan.

Dewa Cinta duduk di singgasananya, terlihat marah dan tidak bersemangat. Baik Daiki dan Din tahu cepat lambat mereka akan menghadap Dewa Cinta lagi.

Tanpa banyak bicara Daiki dan Din duduk di dua kursi yang sepertinya memang disiapkan untuk mereka berdua. Dikelilingi para peri lain yang saling berbisik satu sama lain, penasaran apa lagi yang telah mereka perbuat sehingga membuat seorang Dewa Cinta bisa terlihat semarah itu.

“Aku tak menyangka setelah kalian dihukum… prestasi kalian malah semakin menurun!!!!” suara Dewa Cinta menggelegar hingga Din meremas tangan Daiki yang menggenggamnya dengan kuat.

Daiki menoleh, mencoba membuat Din lebih tenang.

“Maafkan kami…” ucap Daiki pelan.

“Aku tak punya pilihan lain…. hukuman paling buruk akan kalian terima!!”

“Jangan Dewa!! Jangan!! KUMOHON!!” Air mata Din mengalir, ia sangat takut. Kehilangan semua keluarganya, kehilangan Daiki, tak ada yang lebih buruk dari itu.

“Aku tidak dalam posisi saling tawar – menawar!!” bentak Dewa Cinta lagi. Sukses membuat Din semakin mengkeret

“Kumohon Dewa…biarkan aku saja yang menanggung semuanya…” ucap Daiki, mencoba menyelamatkan Din

Din menatap Daiki tak percaya, lalu menggeleng putus asa. Tak rela sahabatnya mengorbankan dirinya.

“Ini sudah keputusan final…” seketika itu Dewa Cinta mengangkat tongkatnya.

Beberapa detik kemudian, Daiki dan Din merasa dunianya gelap. Semuanya memudar, gelap, segalanya hilang.

=========

“DAIKI !!OKIRO !!kau kira sekarang jam berapa??cepat bangun dan berangkat kuliah..!!”

‘eh?’

“kenapa kau?” tanya orang yang baru saja membangunkan Daiki  dengan suara kerasnya, tubuh Daiki  berkeringat .

‘Mimpikah  tadi?’pikir Daiki .

“Daisuke..?” gumam Daiki  pelan sambil menatap laki-laki yang masih menatapnya bingung.

“kau sakit ya?” tanya Daisuke khawatir sambil memperhatikan wajah Daiki  dari dekat, “Ibu….Daiki kayaknya sakit!!” seru Daisuke keras.

Daiki  buru-buru bangun lalu menggeleng,”A…aku tak sakit kok..kalau begitu aku siap – siap sekarang..” kata Daiki  sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

“Dasar adik aneh…..” gumam Daisuke lalu pergi meninggalkan kamar adiknya itu.

Daiki menyenderkan tubuhnya di pintu kamar mandi. Daiki merasa familiar dengan semua ini, dengan rumah ini dengan Daisuke.

Tapi entah mengapa Daiki juga merasa asing dengan semuanya, dan Daiki tak tahu kenapa.

“Daiki..hayaku!kau hampir terlambat lagi..” seru ibu dari lantai bawah.

“Hai..Okaa-san..” seru Daiki cepat .

==========

Seakan sudah tertidur lama sekali, Din mengerjapkan matanya, orang – orang di sekelilingnya melihatnya dengan harap – harap cemas.

“Ayah!! Dia banguuunn!!” seorang ibu separuh baya begitu terlihat lega setelah gadis yang sedang berbaring itu membuka matanya

Mata Din mengerjap sekilas, mengangkat tangannya dan memperhatikan tubuhnya. Ia tak terlalu ingat ia ada dimana, tapi sepertinya ia kenal bau ini.

“Aku.. dimana??” tanya Din bingung.

Seorang Ibu yang ia kenal sebagai Ibunya pun memeluknya dengan bahagia, “Anakku kembali…ia kembali…” isak tangis bahagia memenuhi ruang perawatan itu.

Setelahnya Din tahu, namanya Ikuta Din, ia kecelakaan dua minggu lalu di sebuah kereta bawah tanah. Sejujurnya, ia tak begitu ingat, namun dokter menjelaskan bahwa sebagian memorinya memang terganggu setelah kejadian itu, dan mungkin akan sulit baginya untuk mengingat kembali semuanya.

Ia tak terlalu memikirkannya, disampingnya kini orang tuanya ada, begitu pula dengan keluarganya, dan sahabatnya. Memang tak adil bahwa ia melupakan mereka semua, tapi tak ada lagi pilihan, ini adalah kehidupannya yang sekarang.

“Din-chan… seseorang ingin menemuimu..” kata Ibu, sore itu ia baru saja menjalani terapinya.

“Siapa?”

Ibu tak menjawab, pintu terbuka dan seraut wajah muncul di pintu ruang perawatan itu.

Pemuda itu cukup tampan, dengan pipi chubby dan perawakan sedang.

“Selamat…. siang.. Din-chan..” panggilnya, lalu menghampiri Din dengan sebuah buket bunga lili, kesukaan Din, sepengetahuan pemuda itu.

“Konnichiwa..” jawab Din sambil sedikit menunduk, “Kau? Siapa?” tanya Din bingung.

“Mungkin kau lupa denganku… aku… Kitayama Hiromitsu… kakakmu…”

============

“Daiki~!,kenapa kau melamun terus daritadi?” seru Tokiwa teman satu jurusan Daiki yang lalu duduk disamping Daiki.

“Eh?…Daijobu..loh? yang lain mana?” tanya Daiki bingung sambil mengedarkan pandangannya ke seisi kelas yang sudah mulai kosong.

“Baka..sudah bel!! Tentu saja mereka sudah pergi dari kelas ini. Kuliah hari ini sudah selesai Daiki, makanya jangan melamun terus…” kata Tokiwa sambil menyedot teh kotaknya.

“Ah..sou..”

“Hari ini kau aneh, terjadi sesuatu?” tanya Tokiwa, “Atau kakakmu ngerjain kamu lagi?” tebak Tokiwa

“Chigau…” Daiki menaruh kepalanya dimejanya, “Aku hanya merasa sedikit asing…entah mengapa,” gumam Daiki pelan.

“Hah?? Apa sih maksudmu?” tanya Tokiwa bingung.

“Betsu ni..sudahlah, aku lapar..” gumam Daiki lagi, lalu beranjak dari bangkunya diikuti Tokiwa dibelakangya.

“Kau aneh, tapi sudahlah. Aku juga lapar, ke kantin saja yuk…” kata Tokiwa dan Daiki menuruti perkataan Tokiwa mereka ke kantin yang sudah lumayan sepi karena sudah sangat sore.

“Makan apa?” tanya Tokiwa sambil melihat lihat menu di papan menu.

Daiki menatap salah satu cemilan yang dipajang dietalase kantin, “Aku ingin ini…” kata Daiki sambil menunjuk sekotak pocky rasa coklat.

“Hah???? Kenapa kau makan pocky terus sih? Sesekali makan nasi dong..kau sudah kurus begitu juga… lagian…pocky itu bukan makanan pokok, bodoh!” keluh Tokiwa yang memang cerewet .

“Sudahlah..aku hanya ingin makan ini, tolong ini 2 buah…” kata Daiki kepada staff kantin.

“Oh ya Daiki..” kata Tokiwa ketika dia sudah duduk disebuah bangku bersama Daiki, di depan Tokiwa sepiring Kare dan segelas Jus jeruk mulai dilahap oleh Tokiwa, sedangkan Daiki terus memakan pockynya sambil meneguk teh botolnya.

“Dua hari lagi mau ke festival sekolah? Lumayan kan kalau kita dapat pacar anak SMA? Mereka terlihat manis dengan seragam mereka..” seru Tokiwa bersemangat.

“Sou ne,” jawab Daiki yang tak begitu tertarik, “Memangnya SMA apa?” tanya Daiki.

“Sakura Gakuen..murid disana kan terkenal manis-manis. Bagaimana?” kata Tokiwa masih membujuk Daiki untuk ikut dengannya, “kita gak cuma berdua kok, ada Makoto, Yumi sama yang lainnya..sudahlah ikut saja,”

“Sakura…Gakuen..?” gumam Daiki pelan.

Tokiwa mengangguk, “Baiklah sudah kuputuskan kau akan ikut..” kata Tokiwa lalu konsentrasi memakan Karenya.

‘Sakura..Gakuen…?’ gumam Daiki dalam hati, entah kenapa perasaannya menjadi aneh setelah mendengar nama sekolah itu. Dia tak tahu kenapa , dan mengapa bisa begini.

==========

“Hatchi!!” Yuya menggosok hidungnya yang sungguh gatal, cuaca sedang tidak bersahabat dengannya.

“Hei kawan… ayo ke dokter… aku tak mau sutradaraku sakit sebelum film selesai dibuat..” ucap Hikaru sambil menari jaket yang dipakai oleh Yuya.

“Aku… tak apa – apa… hatchi!!”

“Kau apa – apa!! Sudah menurut saja.. bukan perkara sulit, kita ke rumah sakit, makan obat, tidur, lalu kita bisa meneruskan syuting ini… bagaimana?” Hikaru kini duduk di sebelah Yuya.

“Kita masih ada beberapa scene yang harus diambil…” protes Yuya lalu melihat ke story line yang ia buat di buku catatannya sendiri.

Hikaru berdiri dan mengambil pengeras suara yang tersimpan di dekat kaki Yuya, “Semuanya!! Perhatian!! Syuting hari ini selesai sampai sini… besok kita mulai lagi!! Terima kasih…”

“Hikka!!” Yuya hendak marah, tapi Hikaru hanya tersenyum jahil.

“Kau tahu Yuya… ada satu kelemahanmu dibalik semua kelebihanmu…”

Yuya malas menanggapi.

“Kau harusnya tahu kapan berhenti, dan punya waktu untuk dirimu.. ayo! Aku antar ke rumah sakit..”

Setelah berteman dengan Hikaru lebih dari empat tahun, ia tahu kalau sudah begini, ia hanya harus menuruti Hikaru.

Din belajar sesuatu hal baru. Ia punya kakak laki – laki. Tidak se-ibu dan tidak se-ayah. Namun pemuda itu dulunya adalah anak yang dibawa oleh istri Ayahnya saat masih menikah dengan wanita lain. Setelah bercerai, ayahnya menikah dengan Ibunya, namun Ayahnya masih menjalin komunikasi dengan pemuda itu, tapi pemuda itu kini telah hidup sendiri, dengan nama aslinya, Kitayama Hiromitsu, tidak lagi memakai nama belakang ayah Din. Kitayama yang ternyata adalah kakaknya itu menceritakan bahwa ia kecelakaan saat akan bertemu dengannya.

“Aku menyesal memintamu berangkat sore itu Din-chan…”

Keduanya kini berada di lobby Rumah Sakit, hanya saling bertatap muka, Din masih takjub melihat Kitayama, rasanya memang hangat dan nyaman bersama pemuda itu.

“Maaf Nii-chan.. aku jadi lupa padamu…”

“Sama sekali tak apa – apa…”

“Nii-chan… waktu itu kenapa aku ke rumahmu?” tanya Din penasaran.

“Kau bilang ingin tinggal bersamaku… itulah kenapa… Ibumu sangat membenciku…”

Din tak perlu tahu bahwa mereka pernah menjalin hubungan lebih dari saudara, bagaimana seharusnya ia mengaku sebagai kekasih Din, bukan sekedar kakaknya. Tapi, baginya melihat Din sadar saja sudah membuatnya lega, dan itu berarti saatnya ia membenarkan segalanya, ia akan menganggap Din hanyalah adik semata wayangnya saja.

“Sou ka…”

“Daftar disini…” kata Hikaru setengah berteriak pada Yuya.

“Ssshhhtt!! Ini Rumah Sakit, gingsul!! Jangan berisik…” kata Yuya mendekat pada Hikaru sambil menggosok hidungnya yang sejak tadi memang sangat gatal.

Hikaru hanya manyun dan mendaftarkan nama Yuya di meja pendaftaran.

Yuya bersandar pada meja itu, dan melihat siluet seorang gadis yang tengah berbicara dengan seorang pemuda.

“Din-chan..” panggil Yuya lirih, siluet itu sungguh sama seperti milik Din, tapi mana mungkin peri itu sekarang ada di dunia?

Apa ia mulai behalusinasi lagi?

“Ayo baka!!” suara Hikaru dan tarikan tangan Hikaru di jaketnya menyadarkan Yuya.

“Un!!”

==============

“Daiki kau makan terus, lihat anak anak SMA ini…kawaiii..” seru Tokiwa sambil memerhatikan murid murid perempuan Sakura Gakuen yang tengah mengadakan festifal sekolah. Tokiwa sibuk menggoda siswi SMA yang terlihat manis, yang digoda hanya tersenyum bingung namun tetap berusaha ramah.

Daiki sibuk mencoba makanan-makanan yang ada di stand – stand yang menjual makanan, lagi-lagi Daiki merasa tak asing dengan semua ini.

“Daiki…daujobu?” tanya Yuko yang menatap Daiki yang memegang kepalanya sambil nampak berfikir keras.

“Eh? kau baik -baik saja?” Makoto ikut melihat Daiki dengann khawatir .

“Ah..iie..” Daiki menggeleng , “Aku hanya…sedikit ..kepanasan..” elak Daiki.

“Kalau begitu kita masuk ke gedung sekolah saja.. cuaca hari ini memang agak panas..” kata Makoto.

“Kalian disini saja kalau masih ingin lihat-lihat di luar, aku ke dalam sendiri… nanti ketemu disini lagi ya..” kata Daiki lalu berjalan menjauhi teman-temannya memasuki gedung sekolah, suasana ramai.

Tentu saja, ini kan festival sekolah dan tentu saja ramai dengan para murid sekolah ini dan juga para pengunjung.

Daiki merasa tak asing dengan lorong sekolah ini. Daiki terus berjalan menyusuri lorong sekolah itu, sampai akhirnya dia sampai disebuah ruang kelas yang membuka stand cafe ,

‘Moe moe Cafe’ tertulis jelas dipapan depan stand itu .

Daiki menatap lama papan nama cafe itu, dia ingin masuk tapi entah mengapa dia juga merasa tak ingin masuk .

Daiki menatap kakinya lalu menggeleng, “Aku sebaiknya pulang..” gumam Daiki pelan.

“Saifu tolong buang sampah ya..” seru Yumi yang bertugas menjadi staff dapur stand yang mereka buat tahun ini, mereka membuat stand yang sama seperti tahun lalu mengingat stand mereka lumayan disukai oleh pengunjung.

Saifu menghampiri Yumi lalu mengambil sebuah kantong sampah, “Aku buang dulu..” kata Saifu sambil berjalan keluar kelas.

“Un..” jawab Yumi yang masih sibuk membuatkan pesanan bersama teman – teman yang lainnya yang juga bertugas di dapur.

“Uh..berat juga..” gumam Saifu

‘Eh?’

Saifu membulatkan matanya, “Daiki….?”, gumam Saifu pelan sambil melihat punggung  sesosok pria yang tengah berjalan pergi ke arah tangga, Saifu ragu, namun terus mengikuti laki – laki dengan jaket hijau yang memakai syal dilehernya itu.

Saifu terus mengikuti laki-laki itu sampai akhirnya dia melihatnya dihampiri beberapa temannya.

Saifu berhenti menatap laki-laki itu, menggelengkan kepalanya pelan.

“Gak mungkin itu dia..” gumamnya pelan.

“Saifu..ngapain berdiri disini?” tanya Ryutaro sambil menyentuh pundak Saifu pelan.

Saifu menoleh menatap Ryutaro, “Iie…aku mau buang sampah..” kata Saifu sambil menunjuk kantung sampah yang dia pegang.

Ryutaro mengambil alih kantung sampah ditangan Saifu, “Kalau begitu ayo..” kata Ryutaro lalu menggandeng tangan Saifu dan berjalan pergi.

Saifu menatap pemuda yang masih berdiri berbicara bersama temannya, lalu menggeleng meyakinkan dirinya kalau itu hanyalah orang lain.

Bukan seseorang yang terus diharapkannya kembali .

“Ya sudah kita pulang, Daiki nampaknya sakit sih…” kata Tokiwa sedikit kecewa karena dia belum dapat satupun siswi SMA tapi sudah harus pulang.

“Gomen…” Daiki merasa tak enak, “Ah..begini saja..aku pulang sendiri saja, kalian nikmati festivalnya…” kata Daiki

“Eh??daijobu?” tanya Tokiwa.

Entah mengapa Daiki menolehkan kepalanya kebelakang, matanya terpaku pada sesosok gadis yang memakai baju maid yang tengah digandengan oleh seorang pria yang juga memakai seragam maid.

Matanya terus terpaku pada sosok gadis itu sampai akhirnya sosok itu menghilang dibalik tembok.

“Daiki???” seru Makoto sambil menatap Daiki yang kini kembali menatap teman-temannya.

“Aku baik-baik saja… hanya kepanasan, aku pulang ya?” Daiki mengelap peluh dipipinya, “Nikmati festivalnya,” kata Daiki lalu berlari pergi sambil melambaikan tangannya menjauhi teman-temannya.

Daiki merasa perasaannya sesak, entah kenapa.

Daiki menyenderkan kepalanya ke jendela bis yang dia naiki, dia tak bisa berfikir apapun sekarang. Dirinya terlalu bingung dengan semuanya , dan tak seorang pun dapat membuatnya lebih tenang sekarang.

==============

Pulang ke rumah tak membuat Din ingat semuanya, masih terlalu asing dan membuatnya sedikit mual. Ia tak suka perasaan penasaran yang berlebihan, membuat otaknya penuh dengan memikirkan segala kemungkinan.

“Ini… kamarku?” tanya Din pada Ibunya yang mengantar putrinya ke dalam sebuah kamar khas cewek, penuh pernak – pernik.

“Iya nak…”

Din tersenyum dan duduk di meja belajarnya, sementara Ibunya pamit untuk mengambilkannya segelas air minum. Ia melihat buku di meja itu, membacanya walaupun sedikit sulit. Beruntung tak semua memorinya hilang, dokter bilang kecerdasan Din tidak berubah sama sekali.

“Pengantar bahasa Inggris… ah! Aku jurusan bahasa Inggris ya?” gumamnya pada diri sendiri.

“Un! Benar sekali..”

“Nii-chan!! Kau mengagetkanku…” kata Din sambil menoleh ke pintu, Kitayama tersenyum ke arah Din.

“Mungkin kau harus coba membaca bukumu, pasti kau akan ingat semuanya…” kata Kitayama sambil duduk di kasur Din.

“Hahaha.. baiklah… nanti akan kucoba..”

“Dinchan!! Kesini sebentar!!” seru Ibunya dari dapur.

“Sebentar ya Nii-chan…” Din beranjak dan menghilang dibalik pintu.

Kitayama segera berdiri dan membuka laci meja belajar Din, mengambil dua buku diary milik Din. Gadis itu tak boleh tahu, inilah mengapa ia diperbolehkan ke rumah keluarga Ikuta sore ini, untuk mengamankan diary milik Din.

Kitayama membuka halamn demi halaman, namanya tertulis hampir di tiap halaman itu.

‘Hari ini aku pergi dengan Hiro-kun…’ atau ‘Hiro-kun bilang kita adik – kakak… bagaimana bisa? Aku mencintainya..’

Air mata Kitayama hampir jatuh, namun ia menutup buku itu, tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, membakar buku itu secepat ia bisa.

============

TBC~

As what we thought, akhirnya kita bikin sequel dari Petto..
Sebenernya masih satu rangkaian ama yang kemaren sih.. 🙂
Semoga pada gak bosen bacanya… sekarang dah gak ‘petto’ lagi sih mereka..
Hahaha…
😛
As usual… COMMENTS ARE LOVE…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s