[Minichapter] I Just Haven’t Loved You Yet (Chapter 1)

Title        : I Just Haven’t Loved You Yet
~I Know I Love You, But side story~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Minichapter
Chapter    : 1
Genre        : Romance *ah yeaaahh!!*
Ratting    : PG-15 nyerempet dikit
Fandom    : JE
Starring    : Kikuchi Fuma (Sexy Zone), Nakajima Kento (Sexy Zone), Tegoshi Yuya (NEWS), Nakajima Din (OC), Nakayama Yuma (NYC), Yanagi Riisa (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Nakajima Kento, Tegoshi Yuya, Nakayama Yuma and Kikuchi Fuma are belongs to Johnnys & Association. Other character is my OC, dan pinjem dari Lisa~ sebenarnya ini adalah side story, tapi jadinya ber chapter karena sepanjang jalan kenangan… T.T
it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

The first story : I Know I Love You, But
And then the sequel : I Know I Love You, But ~ After Story~

I Just Haven’t Loved You Yet
~ Chapter 1 ~

Din’s POV

Hari yang cukup melelahkan. Untung saja hari ini aku mendapatkan beberapa e-mail balasan dari orang yang tertarik untuk masuk di Share House ini. Aku tak mungkin membayar uang sewa rumah ini sendirian. Terlalu mahal, aku baru saja lulus sekolah guru dan baru akan mulai mengajar di sebuah sekolah.

Tiba – tiba terdengar bel rumah berbunyi, aku bergegas ke pintu, seingatku belum ada yang janji akan datang malam ini.

“Neechan!! Aku datang…” seru Kento di depan rumah.

“Kento…ngapain kamu disini?” adikku yang masih SMA itu tiba – tiba muncul di hadapanku.

“Aku mau tinggal dengan Neechan..” ucapnya masa bodoh.

Aku mendelik ke arahnya, “Sana pulang!! Kau tinggal dengan Ayah saja!!” teriakku gusar.

Orang tua kami memang sudah bercerai, aku dan Kento tinggal bersama Ayah, karena Ibu sudah memilih untuk menikah kembali.

“Gak mau…aku disuruh Ayah tinggal disini kok..”

Aku tahu, ini pasti ulah Ayah. Ketika mendengar aku ingin membuat rumah ini menjadi Share House, ia keberatan dan bertanya macam – macam masalah ini. Padahal aku sudah dewasa, dan tak ingin terus diatur oleh Ayah, makanya aku memutuskan untuk keluar dari rumah, tapi kenyataannya sekarang malah ia mengirimkan adikku ke rumah ini.

“Lagipula sekolahku dekat dari sini kaaann~ “ katanya lagi membela diri.

“Baiklah…terserah kau saja…”

Padahal, setelah Kento datang, semuanya malah menjadi kacau.

===========

Fuma’s POV

“Urusee naaa!!” aku menutup telingaku karena mendengar orang tua ribut lagi.

Aku tak betah di rumah ini, kenapa mereka gak cerai aja sih? Apa harus keduanya egois lalu mengorbankan anaknya? Kita bukan orang kaya, harusnya jika mau bertengkar cari tempat lain, sedangkan kami hanya punya apartemen kecil ini untuk tinggal.

“Aku berangkat kerja!” seruku sambil membanting pintu.

Sebenarnya waktu kerjaku masih dua jam lagi, tapi aku tak tahan di rumah. Dengan sembarangan aku mendial nomor Yuma. Mungkin karena terlalu lama bersama, aku hafal nomor bocah itu.

“Ya?” angkat suara di seberang.

“Kau dimana?”

“Kau lagi bete ya?” Yuma malah balik bertanya.

Aku tak menjawab. Yuma terlalu tahu tentang diriku tentu saja.

“Baiklah… posisimu dimana? Biar aku kesana…” putusnya.

Setelah memberi tahu tempat aku menunggunya, aku berjalan – jalan di sekitar taman tanpa arah yang jelas. Aku sedikit bosan dan melihat pengumuman di papan yang ada di sekitar taman itu.

“Hey!” suara Yuma mampir di telingaku.

“Yuma…” ucapku pelan.

“Lihat apa?”

Mataku menelusuri papan itu ketika kulihat sebuah pengumuman.

“Eh?! Share House??!! Nakajima Din?” aku bergumam hingga akhirnya aku ingat.

“Hooo….ada yang bikin share house…kenapa memangnya?” tanya Yuma.

“Nakajima DIN!! Nakajima DIN, Yumaaaa!!” seruku heboh.

Membuat alis pemuda di sebelahku itu mengerenyit, “Siapa sih?”

Tanganku secara refleks memukul kepala Yuma, “Ini kan guru baru di sekolah kita??!! Ingat tidak??!!”

“Ah… guru trainee itu ya? Yang ngajar Bahasa Inggris?” tanya Yuma lagi, akhirnya bocah itu ingat juga.

Aku segera mengangguk dan mengambil dua kupon yang tertera disitu, “Ayo kesana!!” seruku heboh.

“Ngapain sih??!!” keluh Yuma malas.

Terpaksa aku menarik lengan Yuma, menuju ke rumah yang tak jauh dari sekolah mereka itu.

Nakajima Din, baru masuk ke sekolah kami sebulan yang lalu. Ia memang masih muda, tapi cara mengajarnya sangat menarik. Karena masih muda, banyak sekali yang menggoda ia di sekolah. Ya, aku akui aku adalah salah satu murid yang suka mengganggunya, tapi apa salahnya? Buatku ia memang menarik.

Tak sampai dua puluh menit kami sudah berdiri di rumah yang dimaksud.

“Ayo!!” ucapku cepat.

Yuma menghentikan aku dengan menarik jaketku, “Sebentar tuan Kikuchi!! Kau yakin mau tinggal disini?” tanyanya.

Aku menoleh, “Hmmm.. kenapa tidak?”

“Ide bagus…” katanya lalu mendahului aku masuk ke rumah itu.

Yuma memang selalu ingin keluar dari rumahnya. Mewah, bergelimang harta, tapi tak ada siapa – siapa di rumahnya, membuat ia muak. Beberapa kali Yuma mengutarakan keinginannya untuk keluar rumah dan tinggal sendiri, atau mengajakku tinggal di satu apartemen yang sama.

“Eh… sebentar!” kali ini ini giliranku yang menarik jaket Yuma.

“Apa lagi?” tanyanya.

“Sepertinya kau saja…. aku…” aku tak punya uang untuk membayar sewa pertama, aku belum gajian.

“Aku yang bayar uang muka… kau tak perlu takut gitu…” ucap Yuma enteng lalu masuk ke pekarangan, memencet bel.

Aku berdiri di sebelah Yuma, menunggu pintu dibuka.

“Ya?”

“Nakajima-sensei…” ucap Yuma sedikit membungkuk.

Dia polos, tanpa make-up sama sekali. Bukan berarti jika ia di sekolah dandanannya berlebihan, tapi baru kali ini aku melihatnya dengan celana tidur dan kaos lusuh, muka polos tanpa ulasan make-up sama sekali.

Begitu berantakan, tapi aku suka.

===========

Din’s POV

Sepertinya aku terkutuk untuk tinggal bersama anak SMA. Setelah menyebarkan informasi tentang sewa kamar, akhirnya yang tinggal di rumah ini semuanya adalah murid SMA.

Adikku, dua murid sekolahku Yuma dan Fuma, dan satu teman adikku, Riisa. Setidaknya satu orang adalah perempuan. Tapi tetap saja, aku seperti punya asuhan baru setelah Kento.

“Ohayou neechan…” Riisa menyapaku dengan senyumannya.

Sepagi ini ia sudah berada di dapur, menyiapkan sarapan untuk kami.

“Ohayou Rii-chan…” jawabku sambil merapikan rambutku.

Pagi ini ada pertemuan dengan guru – guru terlebih dahulu, sehingga aku harus lebih pagi datang ke sekolah.

“Mana yang lain?” tanyaku.

Riisa menggeleng, “Tidak tahu nee.. mereka belum bangun tampaknya…” jawab Riisa.

“Sou ka…”

“Ohayou Dinchaaannn!!”

Suara Fuma.

Aku segera menjauh dari tempat itu, mengelak sepertinya lebih ampuh untuk menjauhi pemuda itu. Karena setiap pagi ia pasti memelukku, atau mencium pipiku, apapun nyang bisa ia perbuat untuk menggodaku.

“Panggil aku Nakajima-sensei…” ucapku kesal.

“Ih… Dinchan gitu deh…” ucapnya sambil mendekati aku.

Dengan gerakan cepat aku menjauhkan badan Fuma dariku, “Jangan macam – macam!” bentakku pelan.

Fuma manyun akhirnya mengalah untuk duduk tepat di hadapanku.

Riisa menyimpan dua sandwich di meja, untukku dan Fuma.

Aku mengambil tempat bekalku, “Aku bawa saja ya Rii-chan!! Buru – buru nih!!” ucapku lalu memasukkan sandwich itu.

“Ohayou… Nakajima-sensei?” aku yang sedang terkantuk – kantuk seketika membuka mataku.

“Eh… Ohayou… Tegoshi-sensei..” jawabku terbata – bata.

Tegoshi Yuya. Guru muda juga sepertiku. Namun ia sudah diangkat menjadi guru tetap beberapa bulan lalu. Tiga tahun lebih tua dariku, dengan penampilan menarik dan wajah tampan, mungkin beberapa murid di sekolah juga naksir pada guru seperti dirinya.

Tegoshi duduk di sebelahku.

“Kau kecapekan?” tanyanya tiba – tiba.

Aku hanya tersenyum canggung, tak pernah sedekat ini dengan seorang Tegoshi Yuya. Di ruang guru, sosoknya selalu dikelilingi guru – guru wanita, di luar ruang guru apalagi, murid – murid cewek sepertinya betah dekat – dekat dengannya.

“Hanya sedikit ngantuk, semalam begadang..” jawabku. Jangan sampai dia tahu aku menonton drama dan menangis tak jelas semalaman, “Anou… Tegoshi-sensei tinggal di sekitar sini juga?”

“Iya…disini rumah orang tuaku… sekarang aku tinggal di apartemen…”

Aku mengangguk – angguk mengerti.

“Semalam aku pulang ke rumah karena nenekku bilang ia merindukan cucunya…” tambahnya lalu tersenyum ke arahku.

Sekarang aku tahu kenapa ia digandrungi wanita, senyumnya memang sangat manis.

“Oh iya… nanti sore ada pesta perpisahan Kawashima-sensei kan? Nakajima-sensei ikut kan?” Ia juga ramah sekali ternyata.

“Tentu saja…” jawabku lagi – lagi dengan canggung.

Aku tak pernah pandai berbicara dengan pria menyilaukan seperti dirinya. Tak terasa kami sudah sampai di dekat sekolah, untung saja segera sampai, karena detak jantungku terasa lebih cepat dari biasanya.

Suasana pesta perpisahan itu cukup meriah. Dengan banyak hiburan dari yang akan segera pensiun, belum lagi beberapa pertunjukkan dari guru – guru yang lain. Aku juga baru tahu kalau Tegoshi-sensei punya suara yang bagus.

“Kenapa Nakajima-chan tidak minum sake?” tanya Kawashima-sensei padaku dengan tatapan mabuknya.

Aku hanya menggeleng. Jika aku minum beberapa teguk saja, aku pasti langsung tertidur dan itu tidak boleh terjadi. Jadi aku hanya beralasan kalau aku sedang tidak ingin minum.

“Ne… Nakajima-sensei…” Tegoshi tiba – tiba saja sudah duduk di sebelahku.

“Eh? Sudah berhasil kabur dari para wanita?” tanyaku dengan nada bercanda, karena sajak tadi Tegoshi memang dikerubuni oleh guru – guru wanita.

Ia hanya tertawa, “Anou… sehabis ini… mau ke bar?”

Aku menatapnya dengan sedikit kaget, “Tegoshi-sensei? Kenapa?”

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan…” ucapnya dengan wajah serius.

“Un..baiklah…”

Setelah pesta berakhir hampir pukul sebelas malam, aku dan Tegoshi pergi ke bar yang ada di dekat situ. Beberapa guru memutuskan untuk ke tempat lain, kami tidak ikut.

“Apa yang ingin dibicarakan?” tanyaku setelah beberapa saat kami hanya mengobrol kesana kemari tanpa tujuan yang jelas.

Tegoshi meneguk bir yang ada di hadapannya, “Mungkin ini akan sedikit terdengar aneh… tapi aku sungguh – sungguh…” Tegoshi tiba – tiba menghadap ke arahku, “Aku suka pada Nakajima-sensei!”

Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Kami jarang sekali berbicara di sekolah, paling hal – hal remeh yang tak penting. Ia juga tak pernah memperlihatkan tanda – tanda seperti itu.

“Mungkin tidak pernah merasa ya? Tapi aku selalu memperhatikan sensei… sehingga kali ini aku memutuskan untuk mengutarakannya…” kata Tegoshi masih membuatku shock.

===========

Fuma’s POV

“Gomen…terima kasih atas perasaanmu…aku tak bisa menjadi pacarmu…”

Kata – kata yang selalu kukatakan pada gadis – gadis itu. Lagi – lagi aku membuat seorang gadis menangis, tapi daripada harus berpacaran tapi sebenarnya aku tak suka? Bukankah itu lebih buruk?

“Nih…” aku menyerahkan sekotak coklat yang tadi diberikan oleh gadis yang menembakku tadi di meja, di hadapan Yuma.

“Lagi?” tanya Yuma sambil tertawa lalu membuka coklat itu.

Aku hanya mengangkat bahu.

“Yappari… aku lebih milih jadi cowok cool kayak kamu..” umpatku kesal.

Yuma juga populer, bahkan mungkin lebih populer dariku. Tapi gadis – gadis itu lebih senang memperhatikan Yuma dari jauh, tidak ingin menyentuhnya atau berdekatan karena Yuma terlihat ‘kakkoi’ di mata mereka.

“Tapi dapat coklat setiap minggu gak jelek juga…” ujar Yuma menambahkan.

“Mau tukeran?” tanyaku cepat.

Yuma menggoyang – goyangkan jari telunjuknya di hadapanku, “Thanks… aku gak minat liat cewek nangis tiap minggu…”

Secara refleks aku memukul kepala Yuma lalu merebut coklat yang ada di tangannya, “Huh! Menyebalkan!” umpatku.

“Hei..hei… denger gak? Katanya Tegoshi-sensei udah mau nikah loh!!” sekumpulan anak cewek tampak kaget mendengar Reiko yang baru saja datang dari luar.

“Hah?? Masa sih?? Kata siapa??!!” seru seseorang dengan histeris.

“Iya… aku dengar dari guru – guru yang tadi lewat….”

“Kyaaa~ gak relaaaa~” seru yang lain.

“Dan ternyata… calon istrinya itu… Nakajima-sensei…”

BRAKK!

Coklat ku jatuh, aku menoleh cepat menatap Reiko yang masih berdiri di meja sekumpulan cewek itu.

“Tadaima~”

Itu suara Din! Dia baru saja pulang selarut ini. Penghuni lain sudah ada di kamar masing – masing. Sementara aku masih di ruang tengah karena tak bisa tidur.

“Okaerinasai…” jawabku.

“Ah…kau belum tidur?” tanyanya.

Aku hanya menggeleng, rasanya ingin sekali bertanya soal kebenaran berita siang tadi.

Din membuka jaketnya namun tiba – tiba ia seperti mengingat suatu hal, lalu segera kembali keluar rumah.

“Tegoshi-sensei!! Jaketmu!!”

Aku melangkah menuju ke jendela dan mengintip ada siapa diluar, ternyata Tegoshi-sensei. Din menyerahkan jaket yang tadi ia pakai dan tampak berbicara pada pria diluar itu.

Sial.

Dia pasti lebih segalanya daripada aku.

Jadi gosip itu bisa dibilang benar? Lalu kenapa Din tidak pernah menceritakannya pada kami?

Din kembali masuk ke dalam rumah.

“Jadi gosip di sekolah itu benar ya?” tanyaku lalu duduk di kursi.

“Gosip apa?”

“Kalau Tegoshi-sensei akan menikah dengan Nakajima-sensei?”

Din terbatuk karena ia sedang minum, “Uhuk..apa maksudmu?”

“Ya… ternyata gosip itu benar kan?”

Dengan mata membulat ia menggeleng, “Kalaupun iya, ada masalah?”

Aku mencibir ke arahnya, lalu mendekatinya. Din mundur beberapa langkah, “Jangan macam – macam…”

Ia memang lebih pendek dariku. Juga pasti lebih lemah. Jika aku memaksa, dia pasti tak akan bisa mengalahkan aku. Bagaimanapun aku ini laki – laki kan?

Dengan gerakan lambat aku menarik pinggang Din, mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, “Kalau begini kau masih percaya aku ini hanya muridmu?”

Wanita muda di hadapanku ini menggigit bibir bawahnya, tampak terganggu dengan apa yang aku lakukan.

“Fuma… kau cuma muridku..akan selalu hanya jadi muridku…” tolak Din sambil mencoba mendorong bahuku agar menjauhinya.

“Kalau aku gak mau cuma jadi muridmu?” kini aku memberanikan diri untuk menciumnya, tapi tidak di bibir, aku menyerang lehernya.

“Fumaaaa~ Yamete….” Din kembali mendorongku, namun tenaganya tak lebih kuat dari tenagaku.

Aku masih di lehernya, meninggalkan bekas merah karena aku menggigitnya cukup keras, beralih ke telinganya.

Tiba – tiba aku merasakan dorongan yang kuat dan secara cepat tanpa kuduga, Din menamparku dengan kuat.

PLAKK!!

“BAKAAA!!!” serunya lalu meninggalkanku di ruang makan.

Terasa sangat hening ketika Din pergi. Aku tahu, aku sangat menginginkannya. Lebih dari siapapun di dunia ini.

==========

Din’s POV

“Ohayou…Nakajima-sensei…”

Aku menoleh dan mendapati seorang Tegoshi Yuya menghampiriku.

“Eh…Tegoshi-sensei…” ku pegang lagi syal yang sengaja kupakai hari ini untuk menutupi bekas gigitan Fuma kemarin.

Sial.

Aku malah jadi memikirkan bocah ingusan tak tahu diri itu lagi. Lebih buruk hari ini aku ada jadwal mengajar di kelasnya.

“Syalmu bagus…” puji Tegoshi padaku.

Aku hanya tersenyum canggung. Padahal aku snagat menghindari topik mengenai apa yang kupakai hari ini. Gara – gara bocah itu, sekarang aku jadi harus menutupi leherku seperti ini.

“Oh ya, mengenai makan malam kita? Sudah kau pikirkan?”

Kemarin Tegoshi memang mengajakku untuk makan malam bersama namun aku memang belum menjawabnya.

“Kenapa secepat ini Tegoshi-sensei?” aku bertanya karena memang makan malam yang Tegoshi maksudkan adalah makan malam bersama kedua orang tuanya.

“Karena aku serius denganmu…” tiba – tiba Tegoshi mendekatkan diri padaku, berbisik pelan dengan lembut, “Din-chan…”

Seakan mengerti apa yang kurasakan, jantungku berdetak cepat sekali ketika mendengar Tegoshi menyebut nama depanku tanpa canggung sama sekali. Ia berjalan menjauh, menuju kelas di gedung lain, “Aku duluan ya, Nakajima-sensei!!” serunya sambil menunduk sekilas padaku.

Malam ini datang, dan aku ternyata benar – benar terdampar di sebuah restauran klasik yang tampak mahal. Aku kembali melihat diriku di cermin, berharap dandananku cukup pantas malam ini.

Saat keluar dari toilet, senyum Tegoshi menyambutku.

“Kau sudah cantik…ayo…”

Tentu saja karena baju ini adalah pilihannya, tak salah kalau iya memang menyukai baju yang kupakai sekarang. Sebuah dress cantik berwarna pink muda lembut, ia bilang ia paling suka melihat seorang gadis memakai warna itu.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?”

Kurang dari sepuluh menit aku duduk di meja makan ini bersama kedua orang tua Tegoshi dan Neneknya, pertanyaan itu terlontar dari mulut Neneknya, membuatku sedikit sulit menelan apa yang sedang ku kunyah.

“Jangan buru – buru Nek, aku dan Din-chan kan baru saja pacaran…” jawab Tegoshi dengan tenang, senyum tak lepas dari wajah manisnya.

Melihat senyumnya itu aku agak sedikit lega, setidaknya berarti Tegoshi tidak terlalu terburu – buru dengan keputusan ini.

“Setelah menikah nanti, kau tinggal di rumah kami saja… Ibu senang jika ada yang menemani di rumah… berhenti bekerja juga tak apa – apa, iya kan anata?” tanya Ibunya Tegoshi sambil menatap suaminya yang juga sedang memperhatikan aku.

Ayahnya tersenyum, lalu mengangguk sekilas, “Biar kita cepat dapat cucu ya..”

Dengan sukses aku tersedak dan terbatuk – batuk karena kaget.

“Maafkan kejadian tadi ya Din-chan…aku anak tunggal, jadi mereka selalu bersikap seperti itu…” kata Tegoshi saat mengantarku pulang malam itu.

Aku hanya menggeleng, “Tidak apa – apa Tegoshi-sensei.. terima kasih atas makan malam ini… aku senang bisa mengenal keluargamu..” ucapku tulus.

“Yuya… panggil saja Yuya…seperti yang kubilang tadi, kita pacaran kan sekarang?” Tegoshi lagi – lagi tersenyum padaku, mungkin ia tahu bahwa aku lemah terhadap senyumnya.

Sial.

“Baiklah… Yu….ya?” ucapku pelan.

“Oyasumi…sampai ketemu besok..” tanpa aba – aba Tegoshi mengecup pelan dahiku, “Din-chan…”

“O…ya…su…mi..” jawabku masih setengah shock.

==========

Fuma’s POV

Sudah dua minggu sejak kejadian itu. Aku sama sekali tak berani menemui Din. Sepertinya Din juga masih marah denganku, sehingga ia sama sekali tak mencoba untuk mendekat atau setidaknya bertegur sapa denganku.

“Kau apa?” Kento menatapku dengan pandangan curiga ketika kubilang aku marahan dengan Din.

“Maksudku, ada salah paham antara aku dan kakakmu…” ralatku cepat. Jangan sampai Kento tahu aku berbuat macam – macam pada kakak semata wayangnya itu.

“Lalu?” tanyanya, kini matanya kembali pada majalah yang sedang ia baca.

“Lalu…gimana biar dia bisa maafin aku?” ucapku penuh harap.

Kento mendelik ke arahku, “Percuma… dia tidak akan bicara jika ia tak mau…jadi, kau tunggu saja emosinya mereda, ia akan baik dengan sendirinya…” jawabnya dengan santai.

Tidak banyak membantu, mungkin karena Kento tak tahu duduk permasalahannya, dan aku juga tak mungkin menceritakannya, kecuali aku sudah bosan hidup.

“Hmmm..baiklah..” jawabku menyerah, lalu mengintip siapa yang sedang ada di dapur.

Ternyata Riisa, namun Din juga disitu. Tadi Din tidak ikut makan malam, katanya ada acara di luar.

“Tadi nee-chan pakai gaun ya? Cantik loh..” puji Riisa.

Din yang baru saja keluar dari ofuro, memakai piyama dengan rambut masih basah, tertutupi handuk.

“Hahaha.. arigatou na… tentu saja, pilihan calon suamiku..”

“Hah?!”

Ternyata Kento sejak tadi ikut mendengarkan.

“Jangan bikin kaget deh..” umpat Din sambil memukul pelan kepala Kento, sedangkan aku merasa tak bisa bergerak di belakang tembok ini.

“Siapa? Calon suami apaaa??!!” seru Kento histeris.

“Ya calon suamiku, baka!! Gak usah teriak – teriak juga…” keluh Din memandnag Kento dengan gusar.

“Kok tiba – tiba kau punya calon suami?! Ini gak bener… kau… terjadi sesuatu?” Kento menatap perut Din, mungkin Kento memikirkan apa yang kupikirkan?

Din tampak kaget, lalu dengan refleks kembali memukul kepala Kento, “Baka!! Mana mungkin… ya, sebenarnya aku juga belum yakin, tapi memang benar aku dilamar seseorang…” ungkap Din.

“Boleh tahu siapa?” tanya Kento lagi.

“Tegoshi Yuya… dia sama – sama guru di sekolah… kalau Fuma atau Yuma pasti kenal…”

Tubuhku merosot. Kini Din benar – benar mengakuinya.

Cinta pertamaku, wanita pertama yang benar – benar aku cintai akan menikah dengan orang lain?

“Jadi, cita – citamu sudah tercapai?” tanya Kento. Sukses membuatku menoleh lagi menatap mereka.

Din tak menjawab, hanya menunduk.

“Kau melepaskan cita – citamu?” tanya Kento lagi.

“Bukan urusanmu!” Din beranjak dan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan keheningan. Riisa hanya menatap Kento, seakan ingin bertanya namun enggan.

“Nee-chan bilang, menjadi guru adalah cita – citanya… ia bahkan baru mulai… jika ia menikah sekarang, apa karena cita – cita nya sudah tercapai?” Kento bermonolog namun menjelaskan segalanya pada Riisa, dan aku sebenarnya yang sejak tadi menyimak.

“Rii-chan..” panggil Kento pada Riisa.

“Hmm?”

“Buatkan aku coklat panas dong…” pinta Kento.

Sementara aku hanya terdiam, tak bisa memikirkan apa – apa lagi, karena hatiku sakit sekali. Walaupun aku belum pernah meminta Din menjadi kekasihku, tapi rasanya sudah ditolak beratus – ratus kali dengan sikap Din.

Apa saatnya aku berhenti?

=============

To Be Continued

KYAAAA!! Tak bisa membuat side story ini jadi Oneshot.. #harakiri
Maafkan saia…malah terasa aneh chapter ini.. #bow..
But COMMENTS are always LOVE for me..
So, KOMEN yaaaa~ 🙂 Onegaishimaaasssuuu!!

Advertisements

One thought on “[Minichapter] I Just Haven’t Loved You Yet (Chapter 1)

  1. Nirmala

    bagus kok nee-chan Din…. ngomong-ngomong neechan seneng banget deh buat cerita yang ada tokohnya cowok suka sama cewek yang lebih tua dari dirinya.. hihihihihi.. tapi tetap bagus deh… 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s