[Oneshot] Change Me ~Feel Gate side story~

Title        : Change Me (“Feel Gate” side story)
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot, SongFic
Song         : Zutto by. D*DATE
Genre        : Romance *ah yeeeaaa!!*
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    : Nikaido Takashi (Kis-My-Ft2), Kitayama Hiromitsu (Kis-My-Ft2), Ikuta Din (OC) , Ikuta Riisa (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Nikaido Takashi and Kitayama Hiromitsu are belongs to Johnnys & Association. Other character is my OC. Ini adalah side story dari fict milik Lisa Wulan Novianti… yeah!! Hahahaha.. it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Read the first part here : Feel Gate
P.S : Sebenernya ini justru kejadian sebelum fict yang Lisa buat..hehehe.. 😛 begitulah~

Change Me

Salju turun di pelataran parkir tempat gadis itu menunggu. Bukan lagi sebuah hal yang aneh jika gadis itu selalu menunggu orang di tempat itu. Tempat yang sama selama setahun ini. Ia cukup kedinginan karena hanya memakai satu lapis mantel, sementara dibaliknya ia memakai seragam sekolahnya.

“Gomen…aku telat lagi…” wajah pemuda yang menghampirinya tampak khawatir, “Sudah kubilang kau tak usah menungguku…” tambahnya lalu dengan refleks membersihkan salju yang menutupi sebagian rambut gadis itu.

“Tak apa – apa Hiro-kun.. aku sudah berjanji untuk menunggumu kan?” gadis itu tersenyum walaupun memang merasa kedinginan, jika saja ia mendengarkan apa yang adiknya bilang tentang payung tadi pagi.

“Din-chan…maafkan aku…” tangan pemuda itu membelai pelan pipi gadisnya yang memerah karena dinginnya cuaca, “Baiklah..ayo kita cari cafe…kita minum kopi dulu sebelum pulang, ya?” seru pemuda itu bersemangat.

Din mengangguk dan merasa senang karena pacarnya menggenggam tangannya. Kitayama Hiromitsu, setahun lalu mereka bertemu karena Kitayama merupakan pegawai di tempatnya les tambahan. Awalnya karena sering mengobrol, Din merasa Kitayama seperti kakaknya. Namun lama – lama mereka merasa cocok dan pemuda itu pun memberanikan diri untuk meminta Din menjadi kekasihnya.

“Hiro-chan… tahun ini aku lulus dan tak akan les lagi..” ucap Din dengan nada sedih.

“Memangnya ada hubungannya?” tanya Kitayama menatap gadisnya yang kini menunduk.

Din melihat Kitayama dengan seksama, “Tapi aku ingin kita tetap bisa saling bertemu…” rengek Din.

Hanya dengan Kitayama ia bisa bersikap semanja itu. Kalau adiknya lihat, ia pasti ditertawakan.

“Kita tetap bisa saling bertemu… kau tak perlu khawatir..” nada suara itu menenangkan bagi Din, maka ia percaya pada Kitayama.

Tak lama mereka sampai di sbeuah cafe yang biasa mereka datangi. Kitayama membantu Din membuka mantelnya, lalu mereka pun duduk di dekat jendela.

Sudah lama Din menunggu saat ini. Ia harus segera menceritakannya pada Kitayama, bagaimanapun pemuda itu berhak mengetahuinya.

“Hiro-kun…” panggil Din pelan.

“Hmm?” Kitayama yang sedang menyesap kopinya, menatap Din, “Ada apa?”

Din menimbang – nimbang kata yang pas untuk memberi tahu kekasihnya itu, “Itu…aku…”

“Kau kenapa?” Kitayama mulai khawatir karena Din terlihat sedikit gugup.

“Aku dijodohkan dengan seorang anak teman ayahku… tapi aku tak mau!!” bantah Din cepat.

Kitayama menyenderkan punggungnya di kursi. Ia tahu hari ini akan datang. Memacari seorang anak bangsawan seperti Din berarti siap akan hal – hal seperti ini. Apalagi Din merupakan anak dari pengusaha kaya, pasti orang tua nya ingin anak pertamanya itu menikah dengan orang yang bisa membuat perusahaan mereka lebih maju.

Tak bisa menjawab, ia hanya menatap Din dengan bingung.

“Aku pokoknya tak mau dijodohkan dengannya!!” seru Din kesal.

Kitayama beranjak dan duduk di sebelah Din, “Semuanya akan baik – baik saja…” bisiknya, walaupun ia sendiri tak yakin dengan kata – katanya sendiri.

Unexpected seeing footprints of you
who went ahead on the snow-covered road
Being faced by your back, I feel lonely and feel like crying

Din menunjukkan tampang bosan, menatap ke sekeliling ruangan yang sebenarnya sangat indah, namun menurutnya tak lebih dari sekedar topeng – topeng berjalan, meminta perhatian dari Ayahnya.

“Merengut itu gak baik loh..”

Suara itu!

“Apa sih? Berisik tau!” Din menarik gaunnya dan menjauh dari tempat pemuda tadi.

“Dengar…satu – satunya alasan aku mau dijodohkan denganmu adalah masalah perusahaanku…” pemuda itu berbisik pada Din.

Malam ini memang pesta pertungannya dengan anak pengusaha teman dekat ayahnya, Nikaido. Sejak lama perusahaan milik ayahnya dan perusahaan milik keluarga Nikaido memang berpartner. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin kerja sama yang lebih lagi, salah satunya menjodohkan putri pertama keluarga Ikuta, yaitu Din dan putra pewaris tunggal keluarga Nikaido, Takashi.

“Kita tak akan pernah berjodoh..” umpat Din lalu beranjak menuju ke tempat lain.

Nikaido bohong.

Ia jatuh cinta pada Din sejak pertama melihatnya di sebuah pesta. Dulu ia bukanlah pemuda yang bisa bicara dengan wanita. Walaupun kaya, ia bukan tipe pemuda yang mudah menaklukan wanita. Bahkan berbicara saja sulit buatnya.

Tapi gadis itu mengajaknya bercengkrama saat itu. Dua tahun lalu mungkin, saat keduanya baru saja masuk SMA. Pasti Din sudah lupa padanya, dulu ia pemuda berkaca mata yang ringkih dan tidak percaya diri.

Dua tahun ini ia banyak berubah, tapi Din tidak berubah, namun sepertinya ia lupa pada Nikaido. Maka saat mendengar rencana perjodohan ini, tentu saja Nikaido menyetujuinya.

I can’t say all my feelings
It’s embarrassing to speak of them
I want you to except my feelings
This is my selfishness

“Kenapa juga kita harus kencan begini?” keluh Din sambil menoleh menatap Nikaido yang berdiri di sebelahnya.

“Karena kini kita adalah pasangan…” jawabnya enteng.

Pesta itu memang dihadiri oleh anak – anak pengusaha di Jepang, bahkan ada yang datang dari luar negeri. Pesta ulang tahun seorang anak pengusaha memang selalu diadakan berlebihan seperti ini. Menyewa seluruh cottage lalu diperuntukan untuk pesta mewah di malam hari.

Din mendengus kesal, ia merasa kecewa karena menjadi anak pertama di keluarganya, kalau tidak ia bisa seperti Riisa, hidupnya bebas dan tidak terikat hal – hal menyebalkan seperti ini.

Din mengambil ponselnya di tas, dan mengetik cepat, satu – satunya orang yang ingin ia temui sekarang adalah Kitayama.

To : Hiro-kun
Subject : dimana?
Ne~
Hiro-kun… sedang apa disana?
Aku mati bosan disini.. 😦

Biasanya tak butuh waktu lama sebelum balasan datang dari kekasihnya itu. Karena ini belum waktunya kekasihnya itu bekerja, tapi balasan tak juga datang, ia hanya memandangi layar ponselnya yang menunjukkan fotonya bersama Kitayama.

“Tambah juice nya nona?”

Din mendongak karena kaget mendengar suara yang sangat familiar, “HIRO-KUN!!”

Kitayama mundur beberapa langkah, menatap Din juga dengan pandangan heran. Ia tak pernah melihat Din dengan gaun santai seperti sekarang yang Din pakai. Bersamanya Din benar – benar menjelma jadi murid sekolah biasa.

“Jadi, ini tempat kau baito?” Din dan Kitayama memutuskan untuk berbicara di pinggir gedung cottage itu.

“Iya… karena tempat les sedang libur, aku ambil pekerjaan ini… tak sangka bertemu dengan Din-chan..” ucap Kitayama sambil meraih tangan Din.

Tempat les tambahannya memang sedang libur karena tahun ajaran sudah berakhir. Din juga sudah resmi menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi.

“Kenapa Hiro-kun?”

“Kau cantik…hehehe.. aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya…” ucapnya sambil terkekeh pelan.

Gaun santai untuk pesta kebun siang itu membalut tubuh Din, warna hijau toska yang cocok sekali dengan kulit Din yang putih, begitu pikir Kitayama.

“Aku harus kembali kerja…”

“Temui aku setelah kerja? Kau selesai jam berapa?” tanya Din menahan lengan Kitayama yang hendak beranjak dari tempat itu.

“Jam empat aku ganti shift… nanti malam baru ada kerjaan lagi…”

Din menatap Kitayama penuh harap.

“Baiklah..jam empat ya…” Kitayama beranjak, sebelum meninggalkan Din, pemuda itu mencium kening Din cepat, “Sampai jumpa nanti!!”

Because you always take care
I can smile
This here which is no specific place
Next to you is my special place

“Wah…tunanganku berjanji dengan pria lain…” ucap Nikaido yang ternyata sejak tadi memperhatikan keduanya.

“Kau yang pria lain!” protes Din lalu menjauh dari Nikaido.

Nikaido hanya menggeleng melihat Din menjauh lagi darinya. Ia sudah habis cara untuk mendekati Din.

Malamnya mereka menghadiri lagi puncak pesta yang kini diadakan di sebuah aula besar. Alih – alih konsentrasi pada pesta, Din mencari sosok Kitayama yang juga akan menjadi pelayan malam ini.

“Sebentar lagi dansa…kau jangan jauh – jauh..” Nikaido menarik lengan Din agar mendekat padanya.

Din menoleh malas namun akhirnya menurut, tapi matanya tetap mencari sosok Kitayama, namun sulit sekali ia mencari pemuda itu di tengah keramaian macam ini.

“Maaf…kau lihat Kitayama-kun?” tanya Din pada seorang pelayan yang lewat di dekatnya.

“Kitayama? Sepertinya tadi ia izin… katanya ada urusan mendadak…” jelas pelayan itu.

“Sokka.. arigatou…”

Suara alunan musik menggema, Nikaido menarik Din dan mengajak Din berdansa. Walaupun dalam keadaan kaget, Din melangkah dengan sempurna, hasil latihannya selama ini.

“Tersenyum Din…” bisik Nikaido.

Din menuruti apa yang Nikaido inginkan walaupun ia mengkhawatirkan Kitayama.

===========

Setelah pulang, Din sama sekali tidak mendapat kabar dari Kitayama. Din berusaha untuk menghubunginya, namun hasilnya nihil.

“Nee-chan..kenapa?” Riisa menegur Din yang terlihat sedikit melamun.

“Tidak apa – apa…” mereka sedang di tengah makan malam.

Di rumah ini hanya ada dirinya dan adiknya yang berbeda empat tahun darinya. Kini adiknya itu baru saja masuk SMA.

“Nee..kenapa sih?” ternyata adiknya itu masih penasaran dengan sikap aneh kakaknya sejak pulang kemarin.

“Hiro-kun tak ada kabar…” ucap Din singkat.

Riisa hanya mengangguk – angguk tak menanggapi perkataan kakaknya. Sejak dulu ia tak suka kakaknya berpacaran dengan Kitayama.

Siang ini Din memutuskan untuk mendatangi tempat les nya. Ia yakin Kitayama pasti ada disana seperti biasanya.

Tapi kenyataannya Kitayama sudah keluar dari tempat itu. Katanya ia berhenti, dan bekerja di tempat lain. Din merasa aneh karena tidak biasanya Kitayama seperti ini, bahkan hingga menghilang dari hadapannya, sama sekali tak ada kabar.

Ia mulai khawatir terjadi sesuatu pada keksaihnya itu, padahal sebelumnya mereka baik – baik saja.

“Sudah selesai? Kita harus ke kantor ayahku..” Nikaido berdiri di depan mobil sportnya menjemput Din di depan tempat les itu.

“Ngapain kau disini?!” seru Din malas.

“Menjemput tunanganku yang menghilang dari rumah..” kata Nikaido ringan.

Din mendengus kesal, “Pasti Riisa yang bilang aku disini kan?”

Nikaido tak menjawab, lalu membukakan pintu untuk Din, “Ayo cepat…kita hampir telat nona Ikuta…”

Gadis itu mundur dan menjauh dari Nikaido, “Aku masih ada urusan!!”

Nikaido tak mengejar Din, ia segera menelepon Ayahnya untuk bilang jika ia dan Din tak bisa makan siang sekarang.

“Kau mau kemana sih?” gumam Nikaido.

Berbekal informasi dari teman Kitayama, Din mencoba mencari rumah orang tua Kitayama. Karena ia tak yakin Kitayama ada di apartemennya.

Din kembali menatap kertas di tangannya dan yakin bahwa itu adalah alamat yang benar, baru saja ia bermaksud mengetuk pintunya, Kitayama keluar dari rumahnya dengan seorag perempuan yang Din tak pernah lihat.

“Hiro-kun…” panggil Din pelan.

Pemuda itu mendengarnya, menoleh dan melihat Din dengan pandangan tak percaya, “Din-chan…” gumamnya lirih.

“Kenapa Hiro-kun tiba – tiba menghilang?” tanya Din ketika mereka sudah berada di sebuah kedai dekat rumah itu.

Kitayama terdiam, ia tak mau bertemu Din. Ia begitu takut menghadapi gadis itu saat ini.

“Ne… Hiro-kun… nande?” tanya Din lagi.

“Gomen na…” lalu Kitayama pun menceritakannya. Ia tak bisa berbohong lagi pada Din. Kesalahannya semalam itu telah membuatnya harus mempertanggung jawabkan segalanya.

Air mata Din jatuh tak tertahankan, ia menangis sesenggukan karena tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Sudah empat bulan, dia baru memberi tahuku…” ucap Kitayama sambil menunduk.

Din tak mampu membalas apa yang dikatakan kekasihnya itu.

“Gomen Din-chan… kita harus putus…aku…”

“Iyada yo!! Aku gak mau!!”

“Din!! Aku harus tanggung jawab atas apa yang aku perbuat!!” seru Kitayama sedikit berbisik pada Din.

“Gak mau!!! Aku gak mau kehilangan Hiro-kun!!!” tangis Din makin keras.

Kitayama menarik Din keluar agar tak mengganggu pelanggan lain di kedai itu.

Din memeluk Kitayama dengan putus asa, ia benar – benar tak rela kehilangan Kitayama. Ini memang egois, tapi ia tak peduli ia hanya ingin bersama Kitayama.

“Din…ada kehidupan lain yang harus aku hidupi… kita tak bisa bersama..kau tau hal itu kan?” Kitayama menepuk pelan punggung Din, mencoba membuat gadis itu mengerti posisinya sekarang.

“Kenapa?! Kenapa Hiro-kun gak milih aku aja?!”

“Din-chan… aku tak bisa meninggalkan anakku dan bersikap seolah tak terjadi apapun… semuanya sudah terjadi dan aku harus menerimanya!!”

Din terdiam sesaat, isakan tangisnya masih terdengar.

“Kau boleh membenci aku…tapi aku tak bisa meninggalkannya… saat ini mereka berdua adalah hal terpenting buatku…”

“Hiro-kun tak mencintai aku lagi?”

“Aishiteru yo… aku sangat mencintaimu…tapi…bukan itu point nya Din-chan…”

Din masih saja menangis, Kitayama hanya bisa memeluknya, ia juga tak tega melihat Din seperti ini.

“Kau akan mengerti suatu hari…” bisik Kitayama, tangisnya juga kini pecah.

I want to be close to you
I want to be close to you forever because
I want to share the sadness

“Nii-chan… kayaknya Nee-chan gak bakalan keluar deh… dari kemarin gitu terus…” Riisa mengadu pada Nikaido yang datang siang itu.

Nikaido hanya tersenyum menanggapi Riisa, “Jadi dia masih mengurung diri di kamar?”

Riisa mengangguk – angguk, “Dari kemarin juga gak makan…udah aku ancam macem – macem tetep gak mau keluar…” keluh gadis itu.

“Baiklah…kucoba sendiri…”

Nikaido naik ke lantai dua rumah itu, mengetuk pelan kamar Din, “Din-chan…”

Tak ada jawaban.

“Hei gadis lemah!! Keluar kau!!” seru Nikaido dari luar.

Din hanya memandang pintu itu dengan gamang, ia tak ada selera menanggapi Nikaido, apalagi untuk bertengkar.

“Jadi kau mau mengasihani dirimu terus menerus?!”

Din mulai kesal dengan apa yang dikatakan Nikaido.

“Ayo keluar… menangisi dirimu sendiri? Iya?!”

Brakk

Pintu akhirnya terbuka.

Din menatap Nikaido dengan pandangan marah, “Apa maksudmu?!”

“Kau… baik – baik saja?” kini wajah Nikaido terlihat melembut.

Ternyata kata – kata itu hanya untuk memancing Din keluar, gadis itu memandang Nikaido, matanya berkaca – kaca, siap menangis kembali.

Air mata itu jatuh lagi.

Nikaido menarik Din ke dalam pelukannya, ia tak punya kata – kata untuk menenangkan gadis itu.

I want to share it with you
Whatever it is, I want to make it our memories
I don’t want to leave you even for a short time
Always together is great

Frekuensi pertemuan Din dengan Nikaido menjadi lebih sering setelahnya. Itu mungkin salah satu cara Din untuk sedikit melupakan kejadiannya dengan Kitayama. Tentu saja ia masih sangat sedih. Sulit sekali menerima kenyataan bahwa Kitayama tak lagi ada di sekelilingnya. Tapi bersama Nikaido setidaknya ia bisa sedikit melupakan kenyataan pahit itu.

Seperti siang itu, mereka akan berangkat ke Hokkaido. Sebenarnya itu adalah perjalanan bisnis, namun Din diminta ikut karena akan bertemu dengan beberapa kolega dari keluarga Nikaido.

“Mau susu atau Juice?” tanya Nikaido sambil meneyrahkan dua kaleng di hadapan Din.

Din mengambil kaleng susu, lalu membukanya. Pesawat mereka akan datang dua puluh menit lagi.

“Nika sudah tahu ngapain pake nanya?” ucap Din.

“Siapa tahu bayi besar ini mau ganti minuman kesukaan?” kata Nikaido dengan nada bercanda.

“Eh Nika… kenapa ya orang bisa berubah?” tanya Din tiba – tiba.

Panggilan ‘Nika’ itu kini melekat padanya. Hanya Din yang memanggilnya seperti itu. Din tak pernah memanggilnya dengan nama depannya.

“Karena keadaan?” jawab Nikaido.

“Keadaan?”

“Setiap orang punya alasan sendiri ketika mereka berubah, atau terpaksa berubah…”

“Sou ne…”

“Kalau begitu…Din-chan juga mau berubah?”

“Hah?” Din menoleh menatap Nikaido, “Berubah?”

“Mencintaiku misalnya?”

Din mengerenyitkan dahinya bingung, seingatnya Nikaido pernah bilang jika hubungan mereka tak lebih dari sekedar tunangan karena terpaksa.

“Pikirkan saja dulu…” Nikaido beranjak, “Ayo…kita harus boarding…” pemuda itu menggenggam tangan Din, menuntunnya berjalan.

Sementara gadis itu kini hanya bisa terbengong – bengong.

The warmth of holding hands is showing me
I’m not alone
No matter how far separated
Will you be my support…?

“Capeknyaaa~” keluh Din sambil meregangkan otot – ototnya. Duduk selama beberapa jam memang bukan ide bagus.

“Otsukare…” kata Nikaido yang memang tadi membawa Din ke balkon ini.

“Hmm..” sejujurnya Din masih memikirkan apa yang Nikaido katakan kemarin, sebelum mereka naik pesawat.

“Kalau kau mau bertanya soal kemarin… aku serius…” ucap Nikaido seakan bisa membaca pikiran Din.

“Bukannya kau membenciku? Maksudku…kita hanya bertunangan karena keluarga kita kan? Kau sendiri yang bilang…” kata Din pada Nikaido yang memandang ke arah pemandangan di depan.

“Tidak juga… aku meminta pertunangan ini. Ayah hanya menawarkannya padaku…”

“Hah?!” Din menoleh cepat memandang Nikaido, “Kau? Bercanda?”

Nikaido kini menatap Din yang berada tepat di sebelahnya, menggeleng.

When you aren’t there
Anxiety is pressing me
I’ll get afraid
Although I know that it’s no good and
I want to become a person who can protect

Walaupun tak sepenuhnya mengerti, Din mencoba untuk benar – benar menjalani hubungannya dengan Nikaido. Pemuda itu menawarkan pelukannya, membuat Din nyaman walaupun awalnya ia menolak segalanya.

Ia baru ingat bahwa Nikaido adalah pemuda ringkih yang beberapa tahun lalu ia ajak bicara di sebuah pesta setelah pemuda itu sendiri yang mengatakannya.

“Kuliahmu sudah beres?!” tanya Nikaido yang sudah menunggu Din di depan kampusnya.

Din mengangguk.

“Makan dulu? Langsung pulang saja?” tanya Nikaido sambil menggengam tangan Din, menuju ke mobilnya.

“Makan dulu juga boleh…” jawab Din.

“Baiklah…”

Keduanya meluncur ke sebuah restaurant Sushi karena hari itu Din ingin makan sushi.

“Tolong ambilkan kaca mataku di situ..” ujar Nikaido menunjuk laci dashboard.

Din membuka laci itu.

“Apa – apaan ini? Kau mencoba romantis?” tanya Din mengambil sebuah kotak dari dalam laci sambil terkekeh pelan.

“Tidak juga… aku memang ingin kau mengambilkan kaca mataku,” elak Nikaido.

Din menyerahkan kaca mata hitam itu, “Lalu?”

“Lalu… mungkin dengan melihat kotak itu, kau bisa memikirkannya… kau mau menikah denganku atau tidak?”

“Hah?”

“Itu… ambil dokumen itu…” kata Nikaido lagi.

Din mengambilnya, ternyata sebuah dokumen pernikahan.

Nikaido menepikan mobilnya.

“Bagaimana?”

Din tertawa, “hahaha… kau itu…”

“Mungkin aku juga bisa bilang kalau aku mau menikah denganmu… tuan Nikaido…” jawab Din.

Nikaido menarik wajah Din dan mencium gadis itu, “Jadi…kau sudah berubah juga?”

Din mengangkat bahu, “Entahlah…hahaha..”

Cincin itu kini melingkar di jari manis Din. Ya, kini ia berubah. Karena keadaannya dengan Nikaido.

Someday I’ll say it
I’ll become strong and tell you “It’s ok, I’m next to you!”
I’m close to you
I’m always next to you
I’ll erase your sadness
I’m close to you I’m always next to you
I’ll embrace you with joy
I won’t leave you even for a short
Let’s always be together
==============

OWARI~

Entah kenapa ceritanya jadi begini??hahaha..
Maap Lisa…hahahaha~
*bow*
Tapi COMMENTS still LOVE!! 🙂
Mungkin karena ngebut mungkin ceritanya agak aneh…
Biarkan ya?? #Plakk
COMMENTS ARE LOVE~ ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Change Me ~Feel Gate side story~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s