[Multichapter] My Lovely Petto (Story 9) ~End~

Title        : My Lovely Petto
Type          : Multichapter~
Chapter     : Sembilan (End)
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance 😛
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 9 ~ (End)



“Ohayou..”

Saifu menatap Ryutaro yang kini tersenyum ke arahnya di depan pagar rumahnya, perasaannya tidak begitu baik hari ini, membuatnya hanya bisa tersenyum simpul menanggapi sapaan Ryutaro.

Daiki sudah pergi, kembali ke dunianya tadi malam. Itu kenapa Saifu merasa sedih, dan Ryutaro mengerti itu.

“Fu-chan…” Ryutaro menggenggam tangan Saifu, “Aku tahu kau sedih..karena Daiki sudah tak disini, tapi ada aku kan? Jangan sedih ya..aku gak suka lihat wajah sedihmu..” kata Ryutaro mencoba menghibur Saifu.

Saifu tersenyum, “Un…wakatta, arigatou ne..” kata Saifu lembut.

Ryutaro mengangguk, “Nah ayo,kita hampir telat..” kata Ryutaro lalu berjalan sambil mengenggam tangan Saifu erat, gadis itu mendongak menatap langit, berharap suatu saat nanti dia dapat bertemu dengan Daiki lagi.

==========

“Tadaimaa…” Saifu masuk kedalam kamarnya.

Hening, tak ada anjing kecilnya atau sosok pemuda manis yang duduk sambil mengunyah cemilannya menyambutnya pulang dikamarnya. Tak ada rengekan manja minta dibelikan pocky lagi.

Saifu meletakkan tasnya dilantai, menyenderkan tubuhnya di pintu kamarnya.

Dia menatap kamarnya yang rapi itu, entah sejak kapan dia terbiasa melihat kamarnya berantakan. Yang membuatnya berantakan tentu saja Daiki, lalu Saifu pasti akan memarahi Daiki dan menyuruhnya membereskan kamarnya. Tapi sekarang, pemuda manis itu sudah tak ada bersamanya lagi.

Saifu berjalan menuju meja kecil dimana biasanya dia meletakkan beberapa kotak pocky untuk Daiki, kotak pocky itu masih ada. Tersimpan rapi diatas meja kecil itu, tanpa ada yang memakannya.

Saifu duduk, membuka salah satu kotak pocky, mengambilnya sebatang dan mulai mengunyahnya.

“Fu-channnn..itu punyakuuu!!” teriak Daiki marah setiap kali Saifu membuka pocky yang belum dimakan Daiki, Saifu hanya terkekeh saja setiap kali Daiki ngambek seperti itu.

Menikmati wajah imut Daiki yang mengembungkan pipinya karena pockynya dimakan Saifu.

Saifu tersenyum menginggat kenangannya bersama Daiki, tanpa disadari Saifu, air matanya jatuh lagi. Seiring dengan batang pocky yang dimakannya habis.

Entah kenapa Saifu terus menangis, dia merasa begitu merindukan sosok Daiki.

Sore itu dihabiskan Saifu sambil menatap langit dari jendela kamarnya, menatap dengan penuh harap , seseorang akan kembali lagi bersamanya.

============

Tidak ada yang berubah dari hidupnya. Yuya tahu itu. Semuanya harusnya masih sama. Tapi ia tahu, kenyataan bahwa Din kini sudah tidak ada di sampingnya merupakan pukulan yang cukup telak untuknya. Terlebih ia baru menyadari perasaannya.

“Yo!!” sapa Hikaru menghampiri Yuya yang menyesap kopinya di cuaca dingin akhir tahun.

“Hikka… properti beres?”

Hikaru memperlihatkan jempolnya di hdapan Yuya, “Oke bos!! Murung sekali…kenapa? peri cintamu sudah pergi?”

Yuya terbatuk dan memandang Hikaru, “Apa maksudmu?”

Pemuda gingsul di hadapannya itu hanya terkekeh dan menepuk pelan bahu Yuya, “Wake up Yuyan!!”

“Hei!! Hikka!! Kau tahu dari mana?” seru Yuya ketika Hikaru sudah menjauh.

Hikaru berbalik dan kembali menghampiri Yuya, “Ketika ia bermalam di apartemenku… hahaha..” bisiknya.

Yuya tak mampu menjawab. Kini bayangan Din malah semakin kuat berada di benaknya. Apa setelah kembali ke dunia peri gadis itu melupakannya? Lalu jika iya, kenapa ia tak bisa amnesia tentang Din?

Yuya menghembuskan nafas berat.

“Yuya-senpai!!” Aiko menghampirinya, Aiko yang kini bisa dibilang pacarnya.

“Tadi kulihat Yaotome-senpai disini?” tanya gadis itu sambil menoleh mencari Hikaru.

“Sudahlah jangan dipaksakan… Aiko-chan…”

Aiko menatap Yuya, “Maksud senpai?”

Yuya tertawa pelan, “Kau masih menyukai Hikaru kan? Jangan memaksakan diri denganku…”

“Aku kan sudah bilang akan berusaha menyukai Yuya-senpai!” elak Aiko.

Yuya tak menjawab, lalu beranjak, “Kita putus saja…Aiko-chan…”

Aiko memanggil namanya, tapi ia tak mau mendengar. Baginya kini kepura – puraan antara mereka harus segera berakhir. Aiko hanya seorang obsesi untuknya, dan ternyata memang hanya obsesi tak bisa lebih dari itu. Ketika ia mendapatkannya, ia baru sadar ia tak mencintainya.

==========

1 years later

“Saifu, hari ini pengumuman kelulusanmu kan?” tanya Yuya saat mereka sekeluarga sedang sarapan pagi.

Saifu meneguk susunya, lalu mengangguk, “Un..kenapa Nii-chan?”

Yuya menyodorkan Saifu sebuah boneka anjing kecil kehadapan Saifu, entah kebetulan atau apa. Tapi bentuk anjing itu sama persis dengan wujud Daiki dalam bentuk anjing.

Saifu terpaku sebentar menatap sosok boneka itu.

“Saifu?? Tak mau? Padahal aku sudah sengaja beli sebagai hadiah..” kata Yuya.

Saifu segera tersadar dari keterpakuannya, tersenyum, “Arigatou … Niichan,”

Hanya itu yang bisa diucapkan Saifu, bohong jika selama setahun ini Saifu tak memikirkan Daiki. Hampir setiap hari Saifu selalu memikirkan Daiki, mungkin jika Ryutaro tahu, dia akan berfikir ini tak adil untuknya. Ryutaro kekasih Saifu, mereka sudah berpacaran setahun lebih.

Tapi kenapa yang ada dibenak Saifu hanya Daiki? Saifu tak mengerti kenapa. Tapi satu hal.

Gadis itu sudah menyadari perasaannya.

Saifu mencintai Daiki.

“Saifu…selamat atas kelulusanmu..” Ryutaro tersenyum memberikan Saifu sebuket bunga mawar pink untuk Saifu yang diterima Saifu sambil tersenyum manis. Teman teman Saifu yang tadinya tengah ngobrol bersama Saifu meninggalkan Saifu dan Ryutaro berdua di halaman belakang sekolah.

“Arigatou…kau juga, selamat juga atas kelulusanmu.” kata Saifu sambil tersenyum, “Maaf..aku tak menyiapkan hadiah apapun,”

Ryutaro menggeleng, “Daijobu…kau jadi ambil jurusan fotografi?” tanya Ryutaro.

Saifu mengangguk mantap, “Ryuu-kun jadi ambil jurusan Kedokteran? Sasuga, kau memang pintar..” kata Saifu sambil tersenyum.

Ryutaro tersenyum, nampak sedikit ragu, namun akhirnya mengeluarkan sebuah kotak putih dari sakunya.

“Untukmu..” kata Ryutaro sambil memberikan kotak itu ke Saifu.

“Eh?”

Ryutaro membuka kotak itu, sebuah kalung dengan bandul bentuk hati.

Sederhana, tapi terlihat manis.

“Aku sengaja kerja part time untuk beli ini, semoga kau suka..” kata Ryutaro.

“Eh..aku…”

Saifu tak tahu harus bicara apa.

“Kupakaikan ya..” Ryutaro mengambil kalung tersebut dari kotaknya, Saifu ragu dia memegang kerah seragamnya, sambil menggigit bibir nya keras – keras.

Sampai saat ini, dia masih memakai kalung pemberian Daiki.

Kalung yang dipasangkan Daiki, hadiah dari Daiki yang tak pernah dilepaskannya dari lehernya sejak petama kali Daiki memakaikannya di lehernya.

“Saifu?” Ryutaro terlihat bingung.

“Gomen ne..” Saifu menunduk, entah kenapa dia malah menangis, dia tak mau kalung itu lepas dari lehernya.

Saifu tau dengan bersikap begini hubungannya kemungkinan besar akan berakhir dengan Ryutaro.

Ryutaro menarik tangan Saifu yang menggenggam kerah bajunya, Ryutaro melihat sebuah kalung dengan bandul sebelah sayap peri.

“Kalung ini darinya?” kata Ryutaro sambil menyentuh kalung yang dipakai Saifu.

Saifu yang menangis hanya mampu mengangguk.

Ryutaro mengepalkan tangannya, sejak awal dia memulai hubungannya dengan Saifu, dia sudah merasakannya, bahwa hati Saifu bukan miliknya lagi.

Saifu tanpa sadar pasti sudah jatuh cinta pada Daiki.

Ryutaro tersenyum getir, hatinya begitu sakit. Lebih dari satu tahun, perasaannya sia – sia terhadap gadis yang kini amat dicintainya itu.

“Ryuu..gomen aku..aku mencintainya..” kata Saifu lirih.

Ryutaro mengangguk, “Un..wakatta… aku tahu…aku hanya terlalu takut untuk mengakuinya” Ryutaro menatap Saifu, memaksakan dirinya agar tersenyum.

Ia harus terlihat baik – baik saja.

“Tapi  aku sangat mencintaimu Takaki Saifu …jika kau tak bisa bertemu lagi dengannya, kau harus kembali padaku…” Ryutaro tersenyum lirih, mengenggam tangan Saifu erat.

“Aku tak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu..” Ryutaro menunduk, “Tapi aku tau…hatimu tak lagi untukku, sejak dia selalu bersamamu..”

“Gomen aku…”

“Daijobu..” Ryutaro bangkit, mengacak rambut Saifu dengan sayang, “Jangan menangis lagi, ne? Semoga kau bertemu dengannya lagi. Ah…aku harus pergi..jya nee!”

Saifu hanya bisa menatap punggung Ryutaro yang berlari pergi meninggalkannya sendiri di bangku halaman sekolah. Saifu tau dia sudah menyakiti Ryutaro, tapi ini lebih baik daripada Saifu harus membohongi perasaannya sendiri dan menyakiti Ryutaro lebih lama lagi.

===========

“Omedetou Yuyaaaa!!” Yabu menghampiri sahabatnya itu sambil menjabat tangan Yuya.

Pemuda itu hanya tersenyum. Usaha membuat filmnya kini berbuah sebuah penghargaan film indie di kampusnya, dan menjadi lulusan terbaik di jurusannya. Itu karena Yuya menyibukkan dirinya dengan proyek ini, ia ingin segera lulus.

“Akhirnya kerja keras kita terbayar…” kata Yuya pada Yabu, sahabatnya itu ikut tersenyum.

“Setelah lulus, ada rencana bikin film lagi?” tanya Hikaru yang tiba – tiba saja muncul di sebelah Yabu.

Yuya teringat naskah yang baru saja ia selesaikan, “Aku punya proyek…tapi… jika kalian mau membantuku tentunya,”

“Bukankah itu memang impian kita?! Bodoh!!” seru Hikaru sambil mengacak rambut Yuya.

Yuya tersenyum, dan mengeluarkan sebuah naskah dari tasnya, memberikannya pada Hikaru dan Yabu.

“My lovely petto?” baca Yabu terbata – bata.

Hikaru hanya tersenyum melihatnya, “Aku yakin naskah ini pasti bagus…” kata pemuda itu menambahkan.

Yuya tak menjawab, ia tahu Hikaru mengerti apa maksudnya.

“Hikka!! Ayo pulang!!” sebuah suara terdengar disambung dengan derap langkah kaki sebuah higheels ke meja itu.

“Bentar deh…kau ikut rayakan saja ya?” rayu Hikaru pada gadis itu.

Gadis itu menatap Yuya sekilas.

“Ikut saja…aku tak keberatan kok.. Aiko-chan..”

Sudah beberapa bulan ini Aiko akhirnya jadian dengan Hikaru. Ternyata sikap Aiko yang gigih mengejar Hikaru meluluhkan hati pemuda playboy itu. Aiko tersenyum pada Yuya. Walaupun Yuya merasa sudah tidak peduli lagi, namun Aiko masih menjaga jarak dengannya.

“Ayo berangkat!!” ajak Yabu sambil beranjak.

=========

“Yuya-chan sedang apa ya?” gumam Din menatap keluar jendela. Dengan bersikeras ia menyimpan baju yang diberikan oleh Yuya walaupun itu melanggar aturan.

Din menopang dagunya, matanya menatap lurus ke depan dengan tak fokus.

“Dinchan…”

Suara Daiki membuyarkan lamunan Din, pemuda itu terbang ke sebelahnya, menatap Din dengan seksama.

“Merindukan Yuya lagi?”

Daiki tak pernah salah menebak bagaimana perasaannya. Seumur hidupnya mereka selalu bersama. Din mengangguk, matanya menatap Daiki.

“Aku juga merindukannya…Saifu maksudku…” wajah Daiki tak kalah murung.

“DAIKI!! DIN!!! Kalian dipanggil Dewa Cintaaa!!” seorang peri terbang mendekati mereka berdua dengan tergesa – gesa.

“Hah?” Daiki bingung.

“Cepaaatttt!!” seru peri itu lagi.

Daiki segera menarik tangan Din dan membawa Din ke ruangan besar, aula biasa mereka mengadakan pertemuan.

Dewa Cinta duduk di singgasananya, terlihat marah dan tidak bersemangat. Baik Daiki dan Din tahu cepat lambat mereka akan menghadap Dewa Cinta lagi.

Tanpa banyak bicara Daiki dan Din duduk di dua kursi yang sepertinya memang disiapkan untuk mereka berdua. Dikelilingi para peri lain yang saling berbisik satu sama lain, penasaran apa lagi yang telah mereka perbuat sehingga membuat seorang Dewa Cinta bisa terlihat semarah itu.

“Aku tak menyangka setelah kalian dihukum… prestasi kalian malah semakin menurun!!!!” suara Dewa Cinta menggelegar hingga Din meremas tangan Daiki yang menggenggamnya dengan kuat.

Daiki menoleh, mencoba membuat Din lebih tenang.

“Maafkan kami…” ucap Daiki pelan.

“Aku tak punya pilihan lain…. hukuman paling buruk akan kalian terima!!”

“Jangan Dewa!! Jangan!! KUMOHON!!” Air mata Din mengalir, ia sangat takut. Kehilangan semua keluarganya, kehilangan Daiki, tak ada yang lebih buruk dari itu.

“Aku tidak dalam posisi saling tawar – menawar!!” bentak Dewa Cinta lagi. Sukses membuat Din semakin mengkeret.

“Kumohon Dewa…biarkan aku saja yang menanggung semuanya…” ucap Daiki, mencoba menyelamatkan Din.

Din menatap Daiki tak percaya, lalu menggeleng putus asa. Tak rela sahabatnya mengorbankan dirinya.

“Ini sudah keputusan final…” sekitak itu Dewa Cinta mengangkat tongkatnya.

Beberapa detik kemudian, Daiki dan Din merasa dunianya gelap. Semuanya memudar, gelap, segalanya hilang.

===========

1 years later, 24 december

“Saifu..malam natal nanti bagaimana kalau kita… kencan?”

Laki laki di hadapan Saifu itu sedikit malu nampaknya mengajak Saifu kencan, kentara sekali dari wajahnya yang sekarang memerah.

“Eh? Gomen ne… Gonchan oppa, aku tak bisa,” tolak Saifu halus.

“Kenapa kau selalu menolak aku ajak untuk kencan dimalam natal? Tahun lalu kau juga menolak kan..ayolah~” rengek senpai Saifu itu sambil memasang wajah manis khas orang Korea itu.

Saifu menggeleng, “Gomen ne..jangan saat natal, hari itu aku menunggu seseorang datang..” kata Saifu sambil tersenyum.

Orang yang tak akan pernah datang lagi.

“Siapa?”

“Peri cintaku..” jawab Saifu enteng.

“Hah??”

Saifu terkekeh, “Nah, aku duluan ya…” kata Saifu lalu berlalu pergi meninggalkan wajah bingung senpainya itu.

Saifu memang selalu menolak jika diajak teman-temannya atau senpainya itu untuk pergi merayakan natal bersama. Saat Natal, Saifu pasti akan duduk di depan meja kecilnya, menatap keluar jendela dengan beberapa kotak pocky yang diletakkannya dimeja kecilnya itu.

Berharap seseorang akan kembali ke hadapannya

Lagi

Seseorang yang sangat dia cintai

Saifu takut, sangat takut kalau penantiannya terhadap Daiki akan sia – sia, namun selama Saifu belum bisa melupakan Daiki, dia akan terus menunggunya.

Menunggu seseorang yang tak pasti.

“Semuanya sudah siap?” tanya Yuya mencoba membuat tangannya tidak dingin dengan menggosok – gosokkan keduanya.

Cuaca dibawah nol derajat bukan saat yang tepat untuk berada di luar rumah. Namun karena malam ini, film terbarunya akan tayang perdana di pelataran kampusnya. Tempat ini di siapkan oleh adik kelas mereka. Sambil merayakan malam natal, memang tempat paling cocok adalah diluar, ditambah hiasan pohon natal, lampu – lampu indah. Sungguh cocok.

Hikaru mengangguk mantap, “Semuanya sempurna…”

Yuya mengangguk dan duduk dengan perasaan campur aduk. Ia takut film ini tak se-sukses film pertamanya. Apalagi setelah ini ia berencana untuk mengikut sertakannya di forum yang lebih besar, festival film indie yang bersaing dengan negara lain.

Setelah semuanya siap, semua orang yang diundang, dan penonton lainnya mulai menonton filmnya. Yuya hanya bisa meringis melihat semua yang terputar dihadapannya adalah kisahnya dengan Din.

Semuanya

Bukan hanya sebuah fiksi yang biasa ia tulis, bukan sebuah cerita khayalan yang dipikirkan semua orang.

Malam ini adalah tepat dua tahun Din menghilang.

Pikiran itu membuatnya memikirkan Din lagi, apa kabarnya gadis itu? Apa ia sudah sukses menjadi peri cinta?

Mendekati akhir film, hampir semua penonton terlihat menitikkan air mata, bahkan terdengar beberapa isakan dari bangku – bangku di tempat itu.

“Menyedihkan sekali…” Hikaru mengelap ingusnya, tersedu – sedu. Yabu juga tak mau kalah.

Yuya hanya tertawa kecil, dengan gerakan cepat ia beranjak dari tempat itu. Berbalik ingin mencari udara segar. Reaksi penonton yang ia inginkan sudah tercapai. Baginya ini adalah suatu pencapaian tersendiri.

Sebuah siluet ikut beranjak dari tempat itu dan meninggalkan bangku penonton. Yuya menatap siluet itu. Tempat ini terlalu gelap untuk melihat wajah gadis itu, secara refleks Yuya mengikuti bayangan itu.

Saifu menghela nafas, sambil menyusuri jalan kerumahnya.

Jalan tempat dimana dia pertama kali bertemu Daiki dalam bentuk anjing.

Saifu tersenyum, sambil menggenggam bandul kalung yang dia pakai.

“Daiki…” gumamnya pelan sambil mengecup pelan bandul kalung tersebut.

Saat dia menatap kejalan lagi, dia terpaku menatap apa yang dilihatnya dengan matanya kini.

Seorang laki laki tengah berjongkok menatap sebuah kardus berisi sebuah anjing yang dibuang pemiliknya.

Tanpa pikir panjang Saifu berlari menghampiri laki – laki itu, pemuda yang tengah berjongkok itu mendongak menatap sosok Saifu yang berdiri terengah – engah disampingnya.

“Daiki…” kata Saifu sambil tersegah engah.

“Eh..” laki – laki itu nampak bingung, “Saifu?” laki – laki itu bergumam pelan, walau sebenarnya dia tak mengerti kenapa dia bisa bergumam seperti itu. Dia tak ingat sama sekali gadis yang kini tengah berdiri dihadapannya itu.

“Yokatta…” lirih Saifu yang langsung menghambur kepelukan Daiki.

Daiki nampak bingung, tapi entah kenapa.

Dia merasa begitu merindukan gadis yang sekarang tengah ada dipelukannya itu, tangannya terulur membalas pelukan erat Saifu.

Perasaannya begitu lega, entah kenapa.

“Maaf aku tak ingat kau siapa..” kata Daiki saat mereka sudah saling mepaskan pelukan masing – masing.

“Gomen…” air mata Saifu mengalir, perasaannya begitu lega melihat Daiki berada di hadapannya.

“Tapi… aku merasa sangat mengenalmu, dan entah kenapa..aku merasa lega sekaligus sangat rindu padamu..”Daiki memegang bagian dadanya, “Entah kenapa, dadaku terasa sangat hangat melihatmu..”

Saifu tersenyum, “Kau pasti akan mengingatku..”kata Saifu sambil memeluk Daiki lagi “My Lovely petto..”, gumam Saifu pelan sambil memeluk Daiki erat , dan Daiki yang juga memeluk Saifu erat.

Seolah tak ingin berpisah lagi.

Yuya terpaku melihat gadis yang kini duduk di halte, tampak menunggu sesuatu. Mungkin bis selanjutnya. Bis terakhir malam itu.

Seakan sesuatu menghantamnya tepat di jantung. Dadanya bergemuruh melihat gadis itu.

Ia tak mungkin salah lihat.

Matanya tak akan berbohong padanya.

Ia tidak mabuk

Tidak juga dalam keadaan bermimpi.

“Dinchan…” suara Yuya begitu pelan.

Tubuhnya mematung menatap lurus – lurus ke arah gadis itu.

Beberapa detik yang begitu terasa sangat lama bagi Yuya. Ia ingin berlari memeluk Din. Ia ingin sekali mengatakan semuanya yang kini berada di benaknya.

Gadis itu akhirnya menyadari kehadiran Yuya.

“Yuya… Takaki kan?”

Jantung Yuya seakan berhenti saat Din memanggil namanya.

“Kau sutradara sekaligus penulis naskah film tadi kan?!” serunya bersemangat.

‘Tentu saja bodoh!’ semua orang yang datang ke tempat itu pasti tahu siapa dirinya. Sebelum menonton semuanya diberikan Guide Book, dan fotonya beserta profilnya terpampang di halaman depan guide book tersebut.

“Filmnya bagus sekali!!”

Din tersenyum dan menjabat tangan Yuya dengan sikap ceria.

Ini Din nya.

Ia tak akan salah orang.

“A…rigatou…” jawab Yuya menjawabnya dengan terbata – bata.

“Pulang kesana juga?” tanya Din sambil menunjuk sebuah arah.

Yuya mengangguk, lega sekali bisa melihat Din, tapi gadis itu tak ingat apapun. Ia bersikap seolah – olah tak mengenalnya.

Din balas tersenyum.

Semuanya mulai dari awal. Baginya tak masalah, bagi Yuya yang penting Din sudah kembali.

=========

Hukuman terberat bagi seorang peri adalah turun ke bumi sebagai manusia. Hal tersebut sama saja dengan sebuah kutukan bagi seorang peri. Kutukan yang sangat mengerikan. Karena dengan begitu ia akan kehilangan segala kekuatannya, kehilangan seluruh ingatannya. Semuanya akan digantikan dengan ingatan baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalu mereka.

Keluarga, teman masa lalu akan terhapus sepenuhnya.

==========

OWARI~

Comments are really welcome..
And means LOVE for us!!
COMMENTS ARE LOVE kawaaaannn!!
Akhirnya bereeesss!! *tebar confeti*
Ditunggu kesan dan pesannya.. 🙂
Terima kasih yang dah baca terus selama ini dari chapter 1 ampe beres..
Love you All!! 🙂
Yang mau kirim flames silahkan message saia… LOL
Please leave some comments after you read it…
Hehehe~

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 9) ~End~

  1. Nirmala

    waahhhhhh… keren neechan,, kupikir endingnya yuya nggak bakal bareng sama Din begitu juga dgn saifu dan daiki,,, hahahhh,, kirain cuma smpe chapter 8,,, tapi kerennn kok,,, bagus banget,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s