[Oneshot] Feel Gate

Fanfiction
Title       : Feel Gate
Genre   : Romance
Ratting  : PG+
Author  : Lisa Wulan Novianti
Cast       : Ikuta Riisa (OC), Ikuta Din (OC), Miyata Toshiya (Kis My Ft.2), Nikaido Takashi (Kis My Ft.2)
Song Fict : Kis My Ft.2- 3D Girl
This is my Frist FF about KISUMAI. Jadi saya nga tau benber2 sifat mereka gimana. maaf ya kalo OOC. Heappy Reading Minna san. Comment are love *loncat bareng miyata*
FEEL GATE

The reason you were born in this planet. Actually you might already have realized it.
“Nani? FEEL GATE? Maksud mu apa? Jadi selama ini?” Din terlihat sangat geram saat dia melihat isi laptop yang digunakan oleh adik satu-satunya itu.

Dugaan din selama ini benar, kalau ada yang selalu Riisa sembunyaikan dari keluarganya. Riisa adalah gadis yang sering dibilang aneh oleh Din, walau tidak secantik dan seanggun Din, Riisa cukup manis sehingga membuat banyak lelaki yang menyatakan perasaannya, tapi Riisa selalu saja menolak dengan alasan yang sama ‘Aku mencintai Lawliet’ Lawliet adalah karakter detective dari komik dan anime Death Note, Riisa memang senang sekali dengan Death Note. Walau dikamar Riisa tidak ada satu barang pun yang berbau otaku, tapi dirumah keluarga Ikuta yang cukup besar itu Riisa mempunyai ruangan tersendiri untuk koleksinya itu, dan ruangan itu terisolasi dari siapapun. Hanya Riisa yang bisa masuk kedalam ruang tersebut.
Din semakin menggila ketika melihat tumpukan game online yang dimainkan oleh adiknya itu. Riisa memang penggila game online, hingga dia kuat berlama-lama didepan computer.
“Rii-chan itu apa-apan sih?” Din jengkel melihat beberapa chat yang dikirim Riisa untuk Miyacchi dalam Feel Gate, Feel gate adalah sebuah situs chating atau forum yang bisa diakses dari seluruh computer di Jepang. Feel Gate biasanya digunakan sebagai sarana transaksi jual beli barang online, penawaran jasa secara online samapi ajang mencari pacar.
“Riichan baka” Seru Din kesal sambil mematikan laptop milik adiknya itu, dengan cepat Din keluar dari kamarnya karena ingat ini adalah waktunya dia untuk pulang.
“Tadaima” Suara nyaring Riisa terdengar dari luar rumah. Seiringan dengan suara dibukanya pintu.
Setiap hati Riisa tak pernah memperdulikan orang rumah, karena yang selalu dia lihat adalah Din, yang lain jangan harap bisa dilihat saat dia bangun pagi atau menjelang tidur, kedua orang tua mereka sangat sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing.
Miyacchi : Kau sudah pulang ya?
Risachu : Hai. Kau juga?
Miyacchi : Ya. Aku merasa sepi tanpa mu tadi
Risachu : Saat makan siang pun aku ingn bersama mu.
Riisa tersenyum menatap layar laptopnya, semuanya terjadi satu tahun yang lalu, saat dia bermain disebuah game online yang dimainkan hampir semua anak didunia. Point Blank, saat itu Riisa menadapt misi, dan dimisi tersebut dia mendapat rekan kerja. Dari situlah Riisa mengenal Miyacchi, karena account yang lisa pakai bergenre wanita, suatu saat Miyacchi mengirim bunga dan coklat tentunya secara virtual antara account gamenya dengan account game milik Riisa.
Setelah itu, Miyacchi meminta account milik Riisa untuk menikah dengan account milik Miyacchi, dan Riisapun menyetujui, selayaknya kehidupan manusia, game online juga memiliki hubungan sosial.
Awalnya hubungan mereka hanya sebatas game online, namun setelah muncul sebuah situs bernama Feel Gate, hubungan Riisa dan Miyacchi berlanjut.
Awalnya mereka membuat room rahasia yang hanya bisa diakses mereka berdua. Tiga bulan kemudian mereka saling membuka identitas masing-masing. Disitulah Riisa tau cirri-ciri Miyacchi dan Miyacchi tentunya juga tau bagaimana cirri-ciri Riisa. Mereka saling kenal. Dan tiga bulan kemudian Miyacchi menyatakan perasaan sukanya pada Riisa.
Walau belum pernah ketemu secarang langsung, Riisa merasa selalu nyaman saat bersama dengan Miyacchi, menurut Riisa Miyac hi adalah sosok yang sangat romantis baginya, sosok yang selalu mengerti bagaimana keadaanya oleh karena itu pernyataan suka Miyacchi oleh Riisa diterima dengan senang hati.
From : Miyacchi
Sub : 6 bulan
Lusa adalah 6 bulan kita jadian. Kebetulan hari sabtu. Aku ingin merayakannya dengan mu, bagaimana kalau kita ketemu? Di moe moe kyun café akihabara ya jam 10.
Riisa mulai mengetik balasannya, selain melalui feel gate mereka juga berkomunikasi melalu email, hanya secara email,feel gate dan game online, hanya itu tidak pernah lebih. Tapi Riisa merasa sangat senang dengan itu. Dan enam bulan sudah berlalu hubungan online mereka.
“Ah, aku akan membelikan hadiah untuk Miyacchi. Aku akan ke Akihabara besok” Riisa membatin sambil tersenyum sendiri. Dia merasa sangat bahagia, setelah waktu yang cukup lama akhirnya dia akan bertemu dengan Miyacchi.
Brrrrraaaakkkkk.
Din membuka pintu kamar Riisa dengan keras dan penuh amarah.
“Sampai kapan kau akan seperti itu?” Tanya Din marah. Riisa yang tak mengerti hanya diam tak mampu berkata-kata, dia hanya menunduk ketika kakaknya itu mendekat.
“Siapa Miyacchi itu? Kau pacaran secara online dengannya kan? Aku membaca semua email kalian”
“Miyacchi itu pacarku. Aku menyukainya. Dan aku bahagia dengannya” Ucap Riisa sambil terisak.
“Mana bisa pacaran tanpa bertemu? Cepat akhiri” Bentak Din didepan wajah Riisa.
“CHIGAUUUU” Riisa mendorong tubuh Din keluar dari kamarnya, lalu dikuncinya pintu itu.
Air mata Riisa terjatuh, tanpa dia sadari, bahkan dia juga tidak mengerti meengapa dia bisa menangis hanya karena Din berkata seperti itu.
“Riisa, kau itu hanya anak umur 17 tahun yang belum mengerti cinta. Jangan main-main dengan cinta” Teriak Din dari luar kamar Riisa.
Riisa hanya diam, dia masih terus menangis dibalik pintu itu.
=====================================================================================
RIISA POV
Ucapan Din-Neechan menyebalkan sekali, aku tau dia itu lebih dewasa dariku, dan dia juga lebih mengerti segalanya. Tapi ini kan kehidupanku, ini dunia ku. aku yang harus mengaturnya dan aku juga yang harus menanggung akibatnya. Din-Neechan menyebalkan.
Hari ini sepulang sekolah aku langsung meluncur ke surganya para otaku, Akihabara, tempat yang sangat mengasyikan bagiku dan bagi banyak otaku yang berkeliaran di Jepang. Walau sebenarnya aku jarang menemukan wanita yang otaku. Din-Neechan juga sering memarahiku saat aku terus-terusan membaca manga, mau dibilang apa lagi. Aku tak akan bisa hidup tanpa komik.
“Ah, sudah ada yang terbaru” Aku memegang komik Naruto vol. terbaru yang ada ditoko ini.
Aku mencari ponselku yang berdering. “Eh, itu milikku” Teriakku pada seorang laki-laki yang membawa kabur komik milkikku.
“Aku yang ambil duluan kok” Ucapnya santai.
“tapi aku yang temukan duluan. Kembalikan” Aku merampas komik itu dari tangannya.
Dan perebutanpun terjadi, kebisingan yang kami timbulkan mengundang banyak sekali orang berdatangan untuk melihat, membuat aku malu. Tapi demi komik ini akan ku perjuangkan segenap raga ku.
“Kyyaaaaaa” Komik itu terpental jauh diantara kami, aku dan lelaki itu berusaha untuk mencarinya. Tapi naas, komik tersebut menghilang bagai ditelan bumi.
“Ini semua salahmu” seruku kesal sambil menatap tajam lelaki yang berhidung berlebihan itu. Baru kali ini ada bigsale 50% all item dan aku bisa berbelanja komik dua kali lipat, tapi sekarangmalah aku tidak bisa mendapatkan komik itu.
“Ini salah mu ya anak kecil” Seru laki-laki itu dengan nada kesal juga.
“Apa kata mu? Aku ini sudah 17 tahun tau” aku menghembuskan nafas berat. Seenaknya saja dia menngataiku anak kecil.
“Hahaha. Aku sudah 23. Jelas sekali kau masih anak kecil” Dia tertawa dengan senang. Menyebalkan sekali laki-laki ini. Aku membencinya. “Lagi pula kau sedang apa? wanita seperti mu ditugaskan pacarmu untuk membeli komik ya? Pacarmu payah ya?”
“Eh? Sembarangan. Aku ini memang menyukai komik kok. Enak saja mengatai pacaraku sembarangan. Pacarku itu orang yang sangat romantis tau”
“Jadi kau punya pacar? Ku kira kau tidak punya. Kok ada ya yang mau dengan gadis seperti mu?”
Pllleeetttaaaaakkkkk
Sebuah gatakan kencang mendarat di kepala laki-laki itu. Laki-laki dewasa yang bodoh, tingkahnya seperti anak kecil orang dewasa yang meledek anak kecil itu bukanya lebih seperti anak kecil?
“Rii-chan” Aku mencari asala suara yang memanggilku. Ah, aku melihat Din-Neechan yang memanggil. Sedang apa dia disini?
Din-Neechan menarik lengan ku dengan kasar dan menyeretku kedalam mobilnya. Aku tau sepertinya Din-Neechan membuntuti ku.
Din-Neechan menyuruhku masuk kedalam mobilnya. Dan aku hanya bisa menurut padanya. Sepanjang perjalanan Din-Neechan tidak bicara apapun padaku. Dia benar-benar tidak suka dengan sifatku yang katanya berbeda jauh sekali dengannya.
“Memangnya salah ya jatuh cinta dengan Miyacchi? Kita sudah 6 bulan jadian Nee-chan” Ucap ku kesal sembari menatap Din-Neechan.
“Kau tidak tau dia yang sebenarnya Riisa. Kau hanya mengenalnya secara online kan?” Tanya Din-Neechan sambil terus mengemudi.
“Iya, tapi aku yakin kalau pembicaraan di internet itu merupakan sosok asli seseorang” Aku mencoba untuk menjelaskan pada Din-Neechan.
Aku yakin, kalau itu adalah watak asli dari Miyacchi, begitu juga dneganku, walau banyak yang bilang aku itu aneh, tapi disisi batinku yang kecil aku ingin menjadi wanita yang wajar seperti wanita yang lain, seperti Din-Neechan.
=====================================================================================
Love only me. Look, look only me. Come here and hold me.
Riisa berjalan menyusuri jalan Akihabara yang panjang, dia menuju kesebuah café, moe moe kyun café, tepat dia membuat janji dengan Miyacchi.
Dengan yakin Riisa masuk kedalam café tersebut, dan dia terlihat mencari bangku nomer 2. Mata Riisa menyusuri semua sudut café yang tidak terlalu ramai kali ini, café yang cukup besar. Riisa melihat sebuah nomer kecil dimejanya ‘2’ dengan cepat Riisa menuju bangku tersebut. Rupanya Miyacchi sudah menunggu disana, hanya ada dua bangku yang saling bersebelahan dibangku itu.
“Miyacchi-kun” Panggil Riisa. Dan lelaki yang dipanggil Miyacchi itu menoleh.
“Are? Kau kan yang kemarin?” Lelaki itu berteriak dengan kerasa hingga membat beberapa pengunjung yang ada disana meilihat kearah mereka.
Riisa memutar otak, mencoba mengingat yang sedang terjadi kemarin. “Kau yang ku gatak itu ya?” Tanya Riisa dengan keras.
Lelaki itu menutup mulut Riisa yang cempreng. “Jadi kau ini Miyacchi?” Tanya Riisa sembari duduk dibangku yang ada disebelah laki-laki itu.
“jadi kau ini Risachu?” Tanya balik lelaki itu.
“Ahhh. Kenapa sifatmu seperti ini? Aku kecewa” Ucap Riisa dengan sebal dan kesal.
To : Neechan
Sub : you’r right
Nee, maafkan aku. Kau benar soal sifat Miyacchi, dia tak seromantis yang kau bilang. Bisa jemput aku di moe moe kyu café di Akihabara?
Riisa menekan tombol send dan meninggalkan Miyacchi sendiri dibangkunya. Riisa berjalan menjauhi meja tempat Miyacchi duduk, wajah Riisa tampak sangat sedih sekali. Yang diucapkan Din memang benar, kalau sifat seseorang belum tentu sepenuhnya seperti saat kita mengenalnya didunia maya.
From: Miyacchi
Sub : gomen
Gomen nasai. Kau terlihat sangat manis dengan dress mu. Aku suka. Oiay aku punya sesuatu untuk mu
Riisa membacanya. Dan menerka seseuatu “Jangan-jangan dia berkribadian ganda?” Tanya Riisa dalam hati.
Riisa berjalan menuju meja nomer 2 itu lagi. “Apa? ada apa? cepat berikan? Huh” Riisa memalingkan wajahnya kesal. Dia benar-benar tak habis pikir kalau Miyacci yang dia kenal itu bersifat seperti anak kecil, dia hanya bisa romantic saat di email saja.
“Boleh ku buka sekarang?” Tanya Riisa ketika dia menerima sebuah bingkisan berwarna biru muda.
Miyacchi mengangguk dengan pasrah lalu duduk kembali dikursinya dengan cuek.
“Ehhhh????? Ini kan? Kalung L le? Kau dapat dari mana? Aku saja sudah kehabisan” Riisa berteriak senang, karena mendapatkan aksesoris death note yang terbatas penjualannya. Hanya ada 50 diseluruh Jepang. Dan system pembeliannya dengan cara dilelang, benar-benar menyulitkan.
“Kau suka?” Miyacchi menatap Riisa yang sedang sangat senang mendapatkan kalung itu.
Riisa mengagguk dengan yakin “Arigatou” Ucapnya senang.
“Anou, kau kenapa jadi memperhatikan itu hah? Kau ini. Kembalikan saja kalau gitu” Miyacchi menarik kembali kalung itu. Dia merampasnya.
“Ihh. Kan sudah diberikan padaku” Ucap Riisa mencoba mengambilnya lagi.
Miyacchi menarik Riisa kedalam dirinya, lalu dipeluknya tubuh kecil Riisa, “Ini” Tangan Miyacchi bergerak memakaikan kalung tersebut dileher Riisa. “Jaga, jangan sampai hilang. Aku sangat sulit mendaptkannya” Ucap Miyacchi dengan cuek lagi.
Perlahan Riisa menatap Miyacchi dengan tatapan bingung, dibenak Riisa sekarang ada keyakinan kalau sifat Miyacchi itu sebenarnya sama seperti saat mereka ber email, tapi kenyataan yang ada didepan Miyacchi adalah lelaki yang tingkahnya tak lebih baik dari seorang bocah.
Miyacchi pun sedikit bingung melihat tatapn Riisa. Miyacchi menarik wajah Riisa mendekat, kini bibir Miyacchi sudah menempel di bibir Riisa.  Ciuman yang lembut dan manis itupun terjadi.
“Are? Dia berani mencium Riisa dihari pertama mereka bertemu?” Din sudah naik pitan. Setelah menerima email dari Riisa dia langsung meluncur untuk menjemput adiknya itu bersama Nika.
“Tidak bisa dibiarkan” Din bangkit dari duduknya. Tapi Nika menahannya.
“Kau mau kesana dan merusak keindahan cinta mereka? Din, kita itu tidak bisa menilai seseorang hanya dari sekali lihat. Cobalah untuk percaya pada Riisa” Ucap Nika dengan bijak.
Din menahan dirinya, bagaimanapun dia kapok bertindak dengan tergesa-gesa. Selama ini dia tidak pernah bertindak dengan berpikir panjang, gtapi setelah mengenal Nika, Nika selalu menahannya.
Awalnya Din benar-benar menolak kalau harus dijodohkan dengan Nika, ayah Nika adalah partner kerja Ikuta-san, ayah Din dan Riisa. Sejak kecil din sudah menyukai Nika, begitu juga dengan Nika. Tapi saat besar Din mempunyai kekasih lain, sedangkan Nika tetap menunggu Din. Akhirnya kedua sahabat itu sepakat untuk menjodohkan Din dan Nika. Tentunya din menolak keras atas keputusan ayahnya itu, tapi Din tak bisa menolak, atau semua fasilitas yang ada akan dicabut.
Hari demi hari Din sering bersama dengan Nika, mereka adalah pasangan yang seimbang. Jadi saling menutupi kekurangan yang lain. Dan akhirnya mereka merasa cocok satu sama lain.
“Jadi kau mendukung Riisa dengan lelaki itu?” Tanya Din kesal menatap calon suami yang ada dihadapannya itu. Din dan Nika memang sudah bertunangan.
Nika memeluk tubuh Din “Kau memang selalu seperti itu” bisik Nika ditelinga Din.
Nika menyuruh calon istrinya itu untuk duduk dan menyantap makanan yang sudah mereka pesan. Saat keadaan sudah mulai tenang, barulah Nika menceritakan yang dia maksud dengan lebih jelas dan rinci.
“Are? Neechan? Nika-Oniichan? Sedang berkencan juga?” Riisa menghampiri pasangan itu. Din dan Nika.
Din dan Nika terlihat kaget dengan kedatangan Riisa dan Miyata arah mereka. Namun mereka mencoba untuk menyembunyikan perasaan kaget mereka.
“Un. Kami sedang kencan juga. Rii-chan. Kareshii desu ka?” Tanya Nika basa-basi.
“Un. Miyacchi desu”
“Miyata Toshiya desu” Miyata membungkuk di hadapan keduanya. Lalu Din dan Nika juga memperkenalkan diri mereka.
Riisa duduk dibangku sebelah Din dengan Miyata. Namun Din mengusirnya, dengan alasan dia tidak mau diganggu oleh Riisa dan Miyata tentunya. Karena sebenarnya Din dan Nika sedang memata-matai mereka.
“Yasudah aku pergi. Ayo Miyacchi” Riisa menarik lengan Miyata dengan cepat. Dan Miyata hanya mengikuti kekasihnya yang masih anak kecil itu.
“Aku mau pulang saja kalau begini” Riisa menyetop taksi yang lewat dihadapannya. Dan dia pergi meninggalkan Miyata sendiri.
Miyata tak sempat menarik lengan Riisa dan diapun pasrah ditinggal olehnya. “mengapa aku dan dia tidak bisa seromantis saat di email atau feel gate ya?” Miyata membatin, lalu dia melangkahkan kakinya pulang dengan lunglai.
=====================================================================================
Let’s stop all the clock in the world. let’s play forever, just the two of us.
Din menatap adiknya dari luar kamar yang sebelumnya jarang sekali terbuka itu. Tapi kali ini pintu kamar Riisa terbuka lebar, dan dia tentunya tidak sadar kalau Din sudah memperhatikannya yang sedang stay didepan laptop kesayangannya itu.
“Kau menangis ya?” Din masuk tanpa permisi dan membuat Riisa kaget tentunya.
“Keluar Nee-chan. Kau ini tidak sopan” Riisa mendorong Din untuk keluar. Tapi Din sudah membaringkan Dirinya dikasur milik Riisa yang bisa juga menatap kelayar laptop itu.
“Doushita? Kau ada masalah?” Tanya Din sambil membaca semua isi chat antara Riisa dan Miyata.
Tiga bulan sudah mereka berpcaran dengan normal, walau setiap mereka kencan yang terjadi adalah hal yang sama. Selalu berkutik dengan email dan chat. Walau bertemu secara offline, tapi untuk berkomunikasi mereka selalu berbicara secara online. Membuat hubungan mereka terkesan semakin aneh dan tidak wajar.
“Kalian romantis ya” Komentar Din sambil terus membaca laptop Riisa.
Riisa membalikan tubuhnya yang sedari tadi membelakangi Din. “Nee-chan” ucapnya dengan berlinang air mata.
“Hahahahaha. Kenapa kau?” tawa Din melihat adiknya berwajah lucu dengan air mata dan mimic wajah yang sangat lucu, membuat Din tertawa tebahak.
“Aku. Aku ingin memiliki pacar yang normal?” Ucap Riisa sambil terus sesegukan karena menangis.
“eh? Memangnya Miyata-kun tidak suka pada perempuan? Bukan kah kalian pernah berciuman? Sudah ku bilang sejak awal kan. Segera akhiri hubungan kalian. itu sudah menjadi deritamu” Din bangkit dan meninggalkan Riisa yang menunduk dalam tangisnya.
Din tersenyum simpul melihat adiknya yang tampak berpikir, merenungi kelanjutan cerita cintanya dengan Miyata, lelaki yang umurnya jauh lebih tua dari Riisa, yang seharunya bisa lebih dewasa dari Riisa. Tapi kenyataannya sikap mereka sama-sama seperti anak kecil. Dan Otaku akut mereka yang sangat sulit untuk bisa disembuhkan. Membuat mereka sama-sama menomer dua kan cinta.
=====================================================================================
Din memflip ponselnya, berharap Nika yang mengirimnya pesan. Karena dia sudah hampir setengah jam mennunggu di depan kampusnya. Nika sudah berjanji untuk menjemputnya usai kuliah. Karena mereka ingin membicarakan acara yang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh kedua belah pihak keluarga mereka.
From : miyata-kun
Sub : –
Din, kau lebih dewasa dari pada Riisa. Boleh kah aku mengenalmu lebih jauh?
Din tercengang melihat isi pesan yang dikirim oleh Miyata. Tangannya mengepal dengan keras. Sejak awal dia memang tidak pernah suka pada sosok Miyacchi ataupun Miyata. Din hanya ingin yang terbaik untuk adiknya itu, agar Riisa ridak salah langkah. Penilaian Din benar tentang Miyata.
“Din-chan. Gomen nasai” Sebuah mobil berhenti mengampiri Din yang sudah berdiri ditepi jalan. Dan dengan cepat Din masuk kedalam mobil itu, mobil milik Nika.
“Gomen ne” ucap Nika sambil menyetir.
“Baca ini” Ucap Din sembari menunjukan ponselnya pada Nika.
“EH?” Nika membuat laju mobilnya lebih pelan dari sebelumnya “Aku percaya padamu Din. Do the best for your little sister ne” Saran Nika. Nika tidak marah, karena Nika percaya Din tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak dibelakangnya.
“Nika-chan juga bantu aku juga ya” Pinta Din dengan manis.
Nika hanya mengangguk dengan pasti. Tidak mungkin dia menolak permintaan Din yang diibarakan bagaikan malaikat kebahagiaan olehnya itu.
=====================================================================================
Din mencoba untuk membuka pintu kamar Riisa. Setelah pulang sekolah dia memang selalu masuk kedalam kamarnya dan tentunya kembali kedunia mayanya yang selalu mengasyikan untuknya.
“Sebenarnya ku tak mau bilang ini. Tapi kutasa kau harus tau Riisa” Din masuk kedalam kamar Riisa tanpa permisi lagi. Dan Nika juga mengikuti Din. Bagi Nika keluar masuk rumah ini dengan atau tanpa permisi itu sudah hal yang biasa, penghuni rumah itu sudah sangat kenal dengan Nika.
Din memeluk Riisa sambil memperlihatkan ponselnya. Perlahan namun pasti air mata Riisa menetes.
“Kau sepertinya benar Nee-chan” ucap Riisa dengan pelan. Kesesalan yang begitu memuncak ada didalam dirinya. Din seperti bisa membaca kelanjutan ceritanya.
Menurut Din, perilaku seseorang kadang berbeda dengan kenyataannya, karena dulu dia pernah mengalami pengalaman yang pahit dengan seorang otaku.
“Rii-chan. Aku envy” ucap Nika dengan wajah lucu.
Din tertawa begitu juga dengan Riisa. Untuk sesaat perasaannya bisa lebih tenang karena dia sudah tau siapa Miyata yang sebenarnya.
=====================================================================================
Hari ini, dan ini adalah hari dimana Riisa harus memperbarui komiknya. Seperti biasa dia jalan sendiri ke Akihabara untuk membeli komik-komik yang memang selalu dia beli per minggu itu.
Dijalan dia merenung, sejak tiga bulan yang lalu, saat hari minggu tiba dia pasti ditemani belanja komik oleh Miyata. Tapi hari ini tidak. sejak melihat pesan yang dikirim oleh Miyata untuk Din, Riisa tidak mengaktifkan ponselnya. Dia juga tidak membuka feelgate. Dia hanya bermain game offline, itulah cara terampuh dia untuk sedikit melupakan Miyata.
Riisa melangkahkan kakinya, mencari toko yang kiranya ada diskon. Bau komik tercium dari keauhan. Membuat dirinya tenang dan nyaman.
“Huahh. Diskon lagi?” Teriak Riisa sambil dengan cepat measuki sebuah toko yang sedang diskon walau hanya 30%
Riisa membeli banyak komik. Dan kali ini wlaau sedang diskon dia masih kebagian stok komik yang masih sangat segar baginya.
“Rii-chan” Seseorang memanggilnya dai kejauhan. Riisa berlari menghindari seseorang yang memanggilnya itu.
“Chotto mate” Orang itu mengejarnya.
“Rii-chaaannn” Teriak orang itu memperingati.
Tubuh Riisa terhempas jauh, tubuh kecilitu tertabrak mobil yang sedang malju dengan keceptan yang tinggi. Komik yang dibawanya berjatuhan tak tentu arah. Kepala dan tangan Riisa berdarah. Dirinya tak sadarkan diri.
=====================================================================================
Pllllaaaaaakkkkkk
Sebuh tamparan mendarat dipipi Miyata. Din datang bersama Nika ketika tau adiknya tertabrak mobil dan sekarang sedang koma dirumah sakit.
“Gomen ne Din. Aku tak bisa menjaganya” Miyata membungkuk dalam dihadapan Din dan Nika.
Buuuugggghhhhhh
Sebuah tinjuan dari tangan Nika mendarat dipipi Miyata yang satunya. Membuat dia meringit atas perlakuakn yang mereka berdua lakukan.
“Kau melukainya dan melukai hatinya” Ucap Din kesal.
“Maksudmu?” Tanya Miyata bingung.
“Sudah tak usah banyak bicara. Kau ini keterlaluan Miyata-kun” Din meninggalkan Miyata yang terlihat bingung.
 
Air mata Din menetes melihat Riisa yang sedang koma terbaring lemas dikasur kamar ICU dirumah sakit itu. Nika memeluk tubuh Din. “Jangan sedih. Kau harus bisa membuatnya tenang” Ucap Nika.
Din mengangguk. Dan mencoba untuk tegar demi adiknya. Penyesalan yang besar ada didalam hati din. Harusnya dia bisa menuntun adiknya kearah yang benar.
=====================================================================================
Feel only me. Confuse, confuse only me. Come Here and make sure, That’s right You are my 3D girl.
Taburan bunga mengiringi Din yang terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang sudah dipersiapkan sejak lama itu. Dikejauhan sana terlihat Nika yang juga tak kalah tampan dengan jasnya yang berwarna hitam.
Hari ini memang pernikahan Din dan Nika. Janjipun terucap dengan sakral, dan ciuman pertanda syahnya pernikahan tersebut mewarnai indahnya hari ini. Dan pernikahan suci itu ditutup oleh lemparan bunga dari pengantin perempuan untuk para hadirin yang datang disana.
Pesta pernikahan Din dan Nika diadakan malam harinya ditempat yang berbeda, tempat yang sangat romantis. Walau didalam gedung, tapi ada juga beberapa meja dan bangku yang ada diluar taman. Terlihat sangat indah karena ada banyak bintang yang menghiasi langit malam ini.
“Rii-chan” Din memanggil Riisa yang sedang duduk disebuah kursi taman ditemani segelas tek hangat dihadapannya.
“eh? Nee-chan? Kau tidak didalam?” Tanya Riisa.
Din duduk dihadapan adiknya itu lalu tersenyum. “Aku ingin menemanimu” ucap Din sambil tersenyum menatap adiknya itu.
“Nee-chan. Kau tau tidak, kalung ini dari siapa?” Tanya Riisa.
Sebulan yang lalu, saat Riisa sadar. Dokter menyatakan kalau Riisa kehilangan sebagian ingatan, memori ingatannya terhapus akibat benturan yang sangat keras saat tabrakan itu dan juga akibat koma yang cukup lama.
“Ah. Kau juga lupa tentang itu? Chotto matte” Din bangkit, dan meninggalkan Riisa.
Din berjalan dan menarik lengan Miyata yang sedang asik dengan laptopnya. Miyata memang diundang oleh Din untuk mengahiri pernikahan Din dan Nika.
Seminggu setelah Riisa tertabrak, Miyata menemukan siapa penyebab perpecahan itu terjadi. Namanya Fujigaya, teman dekat Miyata. Fujigaya adalah teman curhat Miyata, oleh sebab itu dia satu segalanya tentang Miyata. Dan karena factor tersendiri, Fujigaya melakukan hal yang memecah belah hubungan Riisa dan Miyata.
“Rii-chan. Kau ingat dia?” Tanya Din sembari menunjukan Miyata dihadapan Riisa.
“Dare ka?” Tanya Riisa, tidak tau.
Wajah Miyata yang tadinya senang berubah menjadi sedikit sedih. Dia mengerti, Mungkin hanya kejadian yang terpenting dalam hidupnya yang masih dia ingat, dan Miyata juga mengerti dirinya bukanlah salah satu bagian terpenting dalam hidup Riisa.
“Orang ini yang memberimu kalung indah itu. Miyata Toshiya” Seru Din. “Ku tinggal ya” Din meninggalkan Miyata dan Riisa berdua ditaman itu.
“Anou, boleh aku duduk Rii-chan?” Tanya Miyata.
Riisa menangguk. “Yoroshiku” Ucap Riisa. “Maaf kalau aku tidak mengingatmu. Aaaaaa” Riisa merasakan kepalanya terasa sakit . kejadian ini memang sangat sering terjadi saat dirinya mencoba mengingat sesuatu hal yang dulunya terjadi.
“Kono kuchibiru” Riisa memegang bibirnya dan menatap Miyata dengan bingung.
“Boku wa Miyacchi desu. Kau ingat?” Ucap Miyata. Tak terasa mata Miyata berkaca-kaca.
Miyata merasa sangat takut, takut kalau Riisa tidak bisa mengingat hal-hal indah yang mereka bicarakan saat didalam dunia maya, takut kalau Riisa jatuh cinta pada lelaki lain, Miyata juga merasa dia menyesal karena kebodohan dirinya yang selalu bertingkah seperti anak kecil itu.
Riisa menatap Miyata dengan bingung. “Miyacchi?” Tanyanya lagi.
“Rii-chan. Kau ingat ini?” Miyata menunjukan sebuah profil game online dengan mana Risachu.
Riisa melihatnya dengan bingung. “Dulu kau itu pemilik akun ini, saat itu kita bermain bersama secara online, dan akun kita pun menikah. Saat itu aku berkhayal, aku ingin memiliki kekasih seperti Risachu. Dia baik, dia sangat dewasa, dia manis, dia mengerti diriku, dia selalu ada untukku. Tapi sesaat setelah itu aku menghempaskan jauh-jauh khayalan itu, karena aku tau Risachu itu hanya 2D bagiku. Aku tak bisa menyentuhnya,aku tak akan bisa memeluknya, aku tak akan bisa merasakannya. Tapi saat aku bercerita padamu kau memberiku semangat. Kau pernah berkata ‘sikap seseorang didunia maya itu adalah sikap asli orang itu’ aku jadi percaya kalau Risachu itu benar-benar seperti itu. Mulai saat itu, aku benar-benar menyukai sosok itu. Dan ketahuilah, aku mempercayaimu. Aku mencintaimu. Maafkan aku membuatmu seperti ini. Sekarang aku hanya ingin kau menjadi 3D bagiku. Bukan hanya 2D yang tidak bisa kusenduh, tapi 3D yang akan selalu ada untukku. Ikuta Riisa. Would you be my 3D girl?”
Air mata Riisa terjatuh. Ingatannya mungkin memang hilang. Tapi didalam hatinya ada perasaan percaya dan yakin pada seorang lelaki dihadapannya itu. “Miyacchi” Ucap Riisa dengan pelan.
Miyata tersenyum mendengarnya. Dia memeluk tubuh Riisa sambil mencium kening Riisa. “Percayalah. Kau akan menjadi Gadis yang nyata bagiku. Riisa. Aishiteru yo”.
==============================END==============================
OWARI~~~
ASLI GAZE BANGET.
COMMENT ARE LOVE MINNA~
HAPPY READING MINNA SAN~~
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s