[Multichapter] A Day In Our Life (chap 4)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Empat
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Morimoto Ryutaro (HSJ), Tegoshi Yuya, Shigeaki Katou (NEWS), Nakayama Yuma (NYC), Aoi Miyazaki, Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC),  dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Morimoti Ryutaro, Tegoshi Yuya, Shigeaki Kayou, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 4 =

Din menopang dagunya sambil menatap kepulan asap dari secangkir kopinya. Matanya membuka menutup tapi lebih banyak menutup. Tadi malam ia tidak tidur karena mengerjakan tugasnya dan tanpa ia sadari matahari sudah naik dan pagi telah datang. Sebenarnya ia sangat mengantuk. Tapi hari ini ia harus ke kampus. Itu kenapa ia melawan kantuknya dengan secangkir kopi.

“Ohayou..” sapa Opi saat ia memasuki dapur yang sekaligus ruang makan.

Din membuka matanya. “Ohayou..Opi-chan…” balasnya lemas.

“Wajahmu mengerikan..” komentar Opi sambil memakai apron nya. Sepertinya ia akan memulai memasak.

“Aku tidak tidur. Baru mengerjakan tugas pukul 11 malam setelah pulang dari baito. Hidupku yang mengerikan..” jelas Din.

“Mau sarapan?”

Din mengangguk. Walaupun perutnya tidak karuan, tapi ia harus makan dan tetap sehat. Ia tidak dapat membayangkan dirinya sakit dan tidak dapat kerja. Ia harus membiayai hidupnya dari mana?

Opi memulai memasak. Din beruntung karena nona rumahnya itu selalu membuatkan makanan yang sehat dan tentu saja enak untuk para penghuninya. Jika Opi baru saja mendapat resep baru, dirinya dan penghuni lain lah yang bertugas mencicipinya. Din tidak keberatan karena semua yang Opi buat tidak pernah gagal.

“Douzo…” Opi meletakkan sepiring pancake dengan saus strawberry di depan Din.

“Waaaaww…baru pertama kali aku diberi sarapan semewah ini..” ucap Din lalu melahap sarapannya.

Enak..batin Din.

Selagi Din menikmati makanannya, datang Riisa dengan suaranya yang parau seperti baru saja operasi pita suara.

“O—ha—you ~,” sapa Riisa lalu duduk di kursi dan meletakkan kepalanya di atas meja.

“Ohayou, Rii-chan..” balas Din ceria. “Mau sarapan?”

Riisa menggeleng. “Aku ingin minum saja…”

“Kenapa dengan suaramu?” tanya Din yang sedang mengambilkan minuman untuk Riisa.

“Kemarin hari pertamaku bekerja. Awalnya kupikir tempat itu sepi. Tapi ternyata saat sore dan malam hari, toko itu seperti lautan manusia. Sangat penuh. Aku benar-benar capek meladeninya,” jelas Riisa. “Dan sekarang suaraku serak.”

“Souka..” Din mengangguk. “Ini minumanmu.”

Riisa menerima gelas yang disodorkan Din. “Sankyu..”

“Kau bekerja dimana?” tanya Opi. Din sedikit terkejut Opi yang memulai bertanya.

“Toko kue dan roti..” jawab Riisa.

Opi mengangguk lalu kembali ke kegiatannya.

“Menyenangkan sekali bisa bekerja di toko kue. Bisa memakan kue-kue itu dengan gratis.” Din membayangkan dirinya dikelilingi oleh kue-kue enak dan tentu saja gratis.

“Memang sih. Tapi ada tidak enaknya juga.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus bekerja di toko milik orang yang tidak menyukaiku.”

“Perempuan?”

Riisa menggeleng. “Laki-laki.”

Din lalu terbahak. “Mudah saja, Rii-chan. Kau kan manis. Taklukan saja dia..”

Riisa diam. Ia memang berpikir seperti itu sejak kemarin. Tapi sepertinya sulit. Lagipula dia bukan tipe perempuan yang seperti itu.

“Jangan mengajarkan hal-hal yang aneh, Din..” tegur Opi lalu menyodorkan secangkir minuman pada Riisa.

Riisa menatap isi minuman itu. “Apa ini?”

“Ginger milk tea..”

“Gin…apa?” tanya Riisa.

“Sudah minum saja..”

Riisa menyeruput minuman itu sedikit lalu tiba-tiba matanya terbelalak.

“Aaahhhh…hangatnya..” seru Riisa kemudian meminumnya kembali. “Enak..”

Tanpa disadari oleh Din dan Riisa, Opi tersenyum senang.

“Saifu mana? Dia sudah bangun atau belum?” tiba-tiba Din bertanya keberadaan penghuni terakhir itu.

“Biar aku bangunkan..” ucap Riisa lalu berlari ke lantai dua dimana kamar Saifu berada.

“Rasanya seperti mempunyai 2 orang adik perempuan..” ucap Din terkekeh.

“Aku sudah selesai,” Opi melepaskan apronnya. “Ini bento untukmu, ini untuk Saifu dan ini untuk Riisa.” Opi meletakkan masing-masing kotak di atas meja.

Din menatap bento lain yang ada di dekat oven. Ada dua bento di sana.

“Hai…arigatou..” ucap Din menutupi pikirannya yang menebak bento itu akan diberikan lagi pada Jun seperti tempo hari.

Din masih penasaran dengan hubungan Opi dan Jun tapi ia tidak berani untuk menanyakannya.

“Kau kenapa?” tanya Opi merasa ditatap oleh Din.

“Anou..” Din mencoba menenangkan diri. “Kau tahu dosenku yang bernama Matsumoto Jun?”

Kening Opi berkerut lalu menjawab. “Aku tahu. Kenapa?”

“Eeeehhhh…itu…” Din kelabakan. Ia bingung harus menjawab apa.

“Aku tahu karena Jun adalah sepupuku.”

Din terkesiap. Ia meyakinkan pendengarannya. “Sepupu?”

Opi mengangguk. “Dia anak dari kakak ayahku. Itu berarti dia sepupuku kan?”

Din menurunkan bahunya yang sempat menegang. Terulas senyuman dari Din dengan perasaan lega. “Souka…”

——–

Teng..teng..

Saifu mendesah pelan saat mendengar bel menyebalkan itu. Ia sangat tidak suka waktu istirahat.

“Pelajaran hari ini sudah cukup. Jangan lupa kerjakan tugas kalian..” kata Hiro-sensei, guru matematika mereka.

Setelah Hiro-sensei keluar, murid-murid lain pun mengikuti untuk membeli makanan atau menghilangkan kepenatan karena pelajaran tadi. Berbeda dengan Saifu. Ia hanya diam di kelas sambil menatap ke arah jendela. Kebetulan tempat duduknya memang berada di dekat jendela.

“Aku lapar…” batin Saifu. Perut memang tidak dapat berbohong.

Ia melirik isi tas nya. Di dalamnya ada sekotak bento yang dibuat oleh Opi. Sebenarnya ia tidak mau memakannya. Tapi ia juga malas harus pergi ke kantin untuk membeli makanan.

“Baiklah..” ucap Saifu akhirnya menyerah.

Ia mengambil kotak bentonya lalu membuka. Tanpa permisi, perutnya lalu keroncongan melihat isi kotak itu. Membuatnya semakin kelaparan.

“Hmm? Tidak buruk,” komentar Saifu saat mencicipi makanan itu.

Saifu terbiasa makan makanan yang dibuat oleh chef di rumahnya. Tentu saja makanan itu tidak sembarangan dan harga bahan-bahannya pun mahal. Ini pengalaman pertamanya memakan makanan yang dibuat oleh orang yang tidak profesional.

Selagi ia makan dengan tenang, tiba-tiba ada yang menghampirinya.

“Anou…Suzuki-san. Ada yang memanggilmu,” ucap salah satu teman sekelasnya.

Saifu melirik orang yang memanggilnya lalu mengeluh pelan.

“Bilang saja aku sibuk..” kata Saifu malas.

Gadis itu mengangguk lalu menghampiri orang yang memanggilnya dan menyampaikan pesan Saifu.

Setelah mendengar pesan Saifu, orang itu kemudian menghampirinya sendiri.

“Kau sibuk?” tanya pemuda yang memanggil Saifu tadi.

“Kau tidak lihat aku sedang makan?” tanya Saifu balik.

“Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar,” pemuda itu bersikeras.

Saifu mendesah. “Berbicara apa? Aku rasa kita sudah tidak ada urusan lagi. Sejak kita putus, Ryu.”

Pemuda bernama Ryu itu diam. Tapi ia tidak ingin menyerah.

“Ikut aku,” Ryu menarik tangan Saifu dengan paksa lalu membawanya ke atap sekolah yang memang tidak ada orang.

“Lepas..” Saifu menarik tangannya dari genggaman Ryu. “Kau sendiri yang bilang putus. Lalu apa urusanmu? Ingin menggangguku?” hardik Saifu.

“Aku tidak akan meminta putus kalau kau tidak dekat-dekat dengan Daiki-senpai. Selama ini aku yakin kalau kau hanya menyayangiku. Tapi yang kulihat…”

“Apa yang kaulihat?” potong Saifu berusaha tenang. “Aku yang kecewa padamu. Aku sudah menjelaskan semuanya. Aku dan Daiki tidak ada apa-apa. Dan kaulihat kan? Sampai sekarang pun aku tidak pernah berpacaran dengannya. Malah sebaliknya. Kau dengan cepat mempunyai penggantiku..”

Ryu menunduk.

“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku kembali ke kelas..” Saifu berjalan melewati Ryu. Dan saat akan menuju pintu, tiba-tiba Ryu berteriak.

“Aku hanya ingin bilang, kalau perasaanku belum berubah..”

Saifu terdiam sebentar lalu pergi meninggalkan Ryu yang hanya bisa menyesali semuanya.

———

“Din-chan…ayo kita pergi,” ajak temannya.

“Hai…”

Din dan teman-temannya akan pergi karaoke hari ini. Din biasanya tidak pergi ke tempat seperti itu. Karena ia tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak penting. Tapi kali ini berbeda karena teman dekatnya baru saja berulang tahun dan dirinya terkena bagian untuk ditraktir. Tentu saja Din bersedia. Apalagi hari ini ia libur baito.

“Kalau saja kau ulang tahun setiap hari, Karin..” canda Din.

Gadis yang bernama Karin tertawa. “Kalau setiap hari aku ulang tahun, bisa-bisa aku bangkrut karena mentraktirmu terus.”

Din menyengir.

Tiba-tiba dirinya berhenti melangkah karena ponselnya berbunyi. Ia sedikit kesulitan karena hari ini ia memakan tas ransel dan ponsel itu ada di dalam tasnya. Setelah dilihat, ternyata ada satu pesan.

From : Tegoshi Yuya
Subject : Urgent
Datang ke mejaku. Sekarang.

“Hah?”

“Kenapa Din?” tanya Karin.

Din diam sebentar lalu berkata pada Karin. “Karin, gomennasai. Aku dipanggil oleh Tegoshi-sensei. Lihat ini..” Din menunjukkan pesan dari Yuya pada Karin.

“Yah…kenapa Tegoshi-sensei selalu mengganggu acara kita?” Karin terdengar kecewa.

“Kalian pergi saja tanpaku. Aku tidak enak kalau harus merusak kesenangan kalian. Aku ikut lain kali saja.”

“Hounto?”

Din mengangguk. “Sudah kalian pergi saja,” katanya sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan membuat perhitungan dengan Tegoshi-sensei,” ancam Karin.

“Hahahahhaa…memangnya kau berani? Ya sudah. Kalian pergi. Matta ne…”

Din melambaikan tangan pada temannya itu sampai sosok mereka menghilang.

“Benar-benar deh..” rutuk Din kesal.

Selama perjalanannya menuju ruangan Yuya, Din terus menerus mengomel. Ini saat yang tepat untuknya menghibur diri. Tapi kenapa harus digagalkan karena dosen menyebalkan itu?

“Ada apa?” tanya Din kesal pada Yuya yang duduk di kursinya begitu dirinya sudah ada di hadapan Yuya. Kedua tanganya dilipat dan wajahnya ditekuk karena sebal.

“Kenapa kesal seperti itu?” tanya Yuya tenang.

“Betsu ni,” jawab Din. “Sebenarnya ada apa memanggilku? Dan kenapa nomor sensei ada di ponselku? Seingatku aku tidak pernah menyimpannya.”

“Memang aku yang menyimpannya,” jawab Yuya.

“Hah?” Din tidak percaya Yuya yang dengan seenaknya menyimpan nomor ponselnya sendiri tanpa seizinnya.

“Itu agar aku mudah menghubungimu,” jawab Yuya beralasan.

Din terlihat geram. Rasanya ia akan tenang jika sudah mencakar wajah mulus dosennya itu.

“Hari ini kau ikut denganku..” ucap Yuya sambil beranjak dari kursinya.

“Lagi?”

“Jangan protes dan ikut saja.”

“Kemana?”

“Rahasia.”

Din berdecak. “Kata-kata sensei itu seperti laki-laki yang mau membawa kabur anak gadis orang.”

Yuya mendekatkan wajahnya ke wajah Din. “Jangan bermimpi. Orang yang membawa kabur dirimu pasti akan sial.”

Untuk kesekian kalinya Din ingin mengutuk laki-laki di hadapannya ini menjadi manusia terburuk di muka bumi.

————-

“Kau dimana?”

Opi berkerut karena baru saja mengangkat ponselnya langsung diberi pertanyaan.

“Aku sedang di jalan. Mau ke toko buku. Doushita no, Jun?”

Tidak ada jawaban apapun dari Jun.

“Jun?” panggil Opi.

“Nande mo nai. Aku tadi ingin mengajakmu pergi. Ke rumahku. Okaa-san sepertinya khawatir denganmu,” jelas Jun.

Opi tersenyum. “Daijoubu. Bilang saja pada obaa-san aku baik-baik saja. Kalau waktuku senggang, aku akan ke rumah sendiri.”

“Souka. Kalau begitu kau hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam,” kata Jun.

“Hai…”

“Dan jangan mampir dulu ke bar. Kau tahu kan aku tidak suka kau terlalu sering ke sana,” ucap Jun lagi.

“Baiklah..kau ini bawel sekali.”

“Matta ne..”

Opi menutup ponselnya sambil tersenyum. Ia beruntung mempunyai kakak yang sangat perhatian seperti Jun. Walaupun dia bukan kakak kandungnya.

Opi melanjutkan perjalanannya menuju toko buku. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat orang yang dikenalnya.

“Saifu? Sedang apa dia?” gumamnya.

“Opi?”

Opi menoleh saat ada yang tiba-tiba memanggilnya.

“Sho-san?”

“Hai Opi..” tiba-tiba dari belakang Sho, muncul seorang perempuan.

“Aoi-san..”

Opi merasa kecewa saat melihat ternyata Sho bersama Aoi.

“Sedang apa?” tanya Sho.

“Aku…mau ke toko buku,” jawab Opi.

“Souka..”

Opi mengenal Sho sudah cukup lama yaitu dari sejak Jun dan Sho masih berkuliah. Kebetulan Jun adalah kouhai Sho. Tapi mereka sangat dekat karena mengikuti klub yang sama. Opi sering menginap di rumah Jun dan pada saat itu juga ia sering bertemu dengan Sho. Sejak itu, Sho dekat dengannya. Tapi sayang sekali perasaan yang Opi rasakan berbeda dengan yang Sho rasakan padanya.

“Oia, kami mau pergi ke toko kue di sana. Kau mau ikut?” ajak Aoi ramah.

“Arigatou. Tapi aku harus ke toko buku sekarang. Kalau tidak cepat, aku bisa dimarahi oleh Jun,” kata Opi.

“Souka..” Aoi terlihat kecewa. “Jun itu sudah seperti ayahmu saja.”

“Pengawal tepatnya,” ralat Sho.

Opi tersenyum miris.

Aoi memang sempurna. Selain cantik, dia juga baik sekali. Sangat cocok mendampingi Sho. Tapi mengetahui kenyataan itu justru membuat Opi semakin sedih. Kata-kata bijak yang mengatakan kita akan bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia itu sepertinya tidak berlaku untuknya.

“Sebentar saja tidak bisa?” bujuk Sho.

Opi memiringkan kepalanya. Sebenarnya antara bisa dan tidak. Ia sangat ingin pergi ke toko kue itu karena ia memang sangat suka makanan manis. Semangatnya berapi-api jika menemukan makanan yang enak. Tapi ia juga tidak mau menyakiti hatinya sendiri dengan melihat kemesraan Sho dan Aoi langsung di depan matanya. Ia bisa menangis di tempat.

“Sudah…aku tidak butuh penolakan. Ayo!” Tanpa menunggu persetujuan Opi, Aoi sudah menarik tangannya. Sho tidak berbuat apa-apa untuk membantunya.

“Sumimasen..” ucap Aoi begitu dia, Opi dan Sho masuk ke sebuah toko.

“Irrasshaimasen…Loh? Opi nee-chan?”

“Riisa?”

Opi tidak menyangka ia memasuki toko tempat Riisa bekerja.

“Douzo..” Riisa yang tadi duduk di kursi pengunjung lalu berlari menuju belakang konter.

Opi menatap seorang gadis yang duduk di meja yang sama dengan Riisa tadi.

“Riisa..” panggil Opi.

“Hmm?”

“Itu…Saifu?” Opi menunjuk ke arah gadis yang duduk itu.

Riisa mengangguk. “Sepertinya dia ada masalah. Tapi dari tadi dia diam saja. Aku sendiri kaget kenapa tiba-tiba dia muncul di sini. Seperti bukan Saifu saja.”

Opi mengangguk lalu kembali menatap Saifu yang tertunduk. Ternyata yang ia lihat tadi memang Saifu. Tapi ada apa dengannya?

“Aoi-san, Sho-san, gomennasai. Aku harus pulang sekarang..” ucap Opi.

“He? Kita kan belum makan,” kata Aoi heran.

“Lain kali saja..” Opi menunduk sebentar lalu berjalan ke arah Saifu.

“Saifu..” panggil Opi pada Saifu.

Gadis itu menengok ke arahnya dan terlihat kaget.

“Kaerimasho..” ajak Opi.

Tanpa di duga, Saifu mengangguk dan ikut pulang bersamanya.

—————

“Kenapa kita ke toko pakaian, sensei?” tanya Din saat dirinya memasuki toko pakaian. Ia terpana saat melihat banyak gaun disekelilingnya.

Yuya menghiraukan pertanyaan Din dan berbicara pada salah satu pegawai toko tersebut.

“Tolong carikan gaun yang pas untuknya.”

Gadis pegawai toko itu mengangguk. “Douzo..” ucapnya pada Din untuk masuk ke sebuah ruangan kecil.

“He? Chotto…sensei..”

Din bingung apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba Yuya mengajaknya pergi, lalu memaksanya masuk ke toko pakaian yang sepertinya mahal ini dan sekarang ia harus mencoba beberapa gaun yang sebelumnya tidak pernah ia pakai.

“Bagaimana?” tanya pegawai toko tadi pada Yuya.

Din sekarang memakai gaun berwarna biru muda dengan rok mengembang selutut. Din terlihat manis setelah memakainya.

“Anou…Tegoshi-sensei. Katakan sesuatu,” ucap Din yang merasa risih karena tidak terbiasa memakai gaun dengan bahu terbuka.

“Hmm…ya..tidak buruk…” jawab Yuya gelagapan.

Selanjutnya, selain ia dipakaikan gaun, Din juga didandani. Hanya dandanan sederhana yang tidak membutuhkan banyak bedak atau benda-benda lainnya yang juga tidak pernah Din pakai sebelumnya.
Dan hasil akhir, Din benar-benar berbeda dari biasanya. Terlihat manis dan anggun.

“Sensei, sebenarnya kita mau kemana?” tanya Din semakin penasaran. Ini bukan acara pertunangan yang diam-diam digelar untuk dirinya dan Yuya kan?

“Ke acara pernikahan..”

Din hampir saja pingsan. Ternyata itu lebih buruk daripada yang dipikirkannya.

“Jangan bercanda,” bentak Din. “Cepat keluarkan aku…turunkan aku..” Din mengguncang-guncangkan tubuh Yuya yang sedang menyetir.

Yuya panik karena membuatnya kehilangan keseimbangan. “Baka…apa yang kau lakukan? Aku sedang menyetir..Din..kau mencekikku..lepas…”

Din melepaskan tangannya dari leher Yuya.

“Kau mau membunuhku?” gerutu Yuya kesal. “Sebelum benar-benar membunuhku, sebaiknya kau melihatnya sendiri dulu.”

“He?”

Pertanyaannya terjawab saat Din dan Yuya sampai di sebuat hotel. Ternyata itu acara pernikahan Shigeaki Katou, sepupu Yuya yang sempat dikenalkan padanya.

“Kalian sudah datang?” Katou dan istrinya menghampiri mereka. Katou terlihat sangat tampan dengan jasnya.

“Omedetou, Katou-san, atas pernikahannya,” ucap Din.

“Arigatou. Kau pasti kaget karena tiba-tiba datang ke sini,” Katou lalu tertawa. “Yuya tidak melakukan hal yang macam-macam padamu kan?”

Din menggeleng.

“Justru aku yang hampir saja mati dicekik,” gumam Yuya yang hanya didengar oleh mereka berempat.

Katou menanggapinya dengan tertawa. “Kau bisa saja Yuya. Kalian nikmati saja pestanya. Kami masih harus menyapa orang-orang.”

Din mengangguk.

“Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi kalau ingin membawaku ke sini?” tanya Din pada Yuya setelah Katou pergi.

“Kalau aku bilang, kau pasti akan menolak. Sedangkan Katou ingin aku membawamu ke sini,” jelas Yuya.

Din diam. Apa yang dipikirkan Yuya memang benar. Ia pasti akan menolaknya.

“Tapi jujur saja aku terkejut melihatmu hari ini,” kata Yuya.

Din menoleh. “Nande?”

“Malam ini, kau berbeda. Terlihat lebih manis.”

Din merasakan pipinya memanas. Perasaannya menjadi aneh. Dan jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya ada apa dengannya?

——————

Riisa sedang mengelap meja saat Nakayama-san menghampirinya.

“Rii-chan..” panggilnya.

“Hai?”

“Anou..boleh aku meminta tolong?”

“Nani?”

“Tolong antarkan payung ini pada Yuma. Dia ada di halte dan tidak bisa pulang karena hujan lebat. Bisakah kau mengantarnya?”

Riisa mendengus di dalam hati. Gadis itu tidak keberatan dengan permintaan Nakayama-san, tapi ia hanya kesal karena Yuma selalu merepotkannya.

“Hai. Aku antar sekarang.”

Riisa lalu berjalan cepat sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Ia menyesal tadi ia pergi begitu saja tanpa mengambil jaketnya terlebih dahulu.

“Ini semua gara-gara anak itu,” rutuk Riisa.

Dari kejauhan, ia melihat Yuma sedang duduk di kursi halte. Tidak banyak yang ia lakukan. Hanya memandang air hujan yang jatuh di depannya.

“Aku datang..”

Yuma menoleh dan terlihat wajahnya kaget.

“Kenapa kau yang datang?”

“Kalau aku yang datang kenapa? Bisakah kau berhenti merepotkan ibumu?” ucap Riisa sambil menyerahkan payung lipat yang dibawanya untuk Yuma.

Yuma tidak memperdulikan sindiran Riisa karena ia sedang membuka payungnya.

“Ayo cepat. Aku sudah kedinginan..” perintah Riisa.

Yuma hanya mendecak lalu berjalan di samping Riisa.

Selama perjalanan pulang, Riisa maupun Yuma tidak saling bicara. Riisa bingung apa yang harus ia katakan pada orang yang tidak menyukainya. Kalau ia mengajaknya berbicara, pasti akan diakhiri dengan bertengkar.

Tak berapa lama, mereka sampai di toko. Ternyata Nakayama-san menunggu mereka sambil membereskan toko.

“Tadaima..” ucap Riisa dan Yuma bersamaan.

“Okaeri..” Nakayama-san menghampiri Riisa dan Yuma. “Rii-chan, arigatou sudah menolongku mengantarkan payung untuk Yuma.”

“Kochira koso..”

“Sebagai tanda terima kasih, ini..” Nakayama-san menyerahkan 2 lembar kertas pada Riisa.

“Apa ini?”

“Tiket untuk masuk ke taman bermain.”

“Okaa-san mendapatkannya dari mana?” tanya Yuma sambil meletakkan tas dan jaketnya yang sedikit kebasahan.

“Dari Iwaya-san. Mereka mendapatkan tiket gratis. Tapi mereka kan sudah tua jadi memberikannya pada okaa-san,” jelas Nakayama-san.

“Tapi…” Riisa merasa tidak enak.

“Bagaimana kalau kalian berdua saja yang pergi?” usul Nakayama-san.

“Hai?”

“Tiket ini untuk kalian berdua saja.”

Dan Riisa juga Yuma hanya dapat saling berpandangan.

————————

“Hai….” Opi menyerahkan semangkuk sup pada Saifu yang masih tertunduk di ruang makan. Mereka sekarang sudah ada di rumah.

“Nani kore?” tanya Saifu.

“Kau masih bertanya? Tentu saja itu sup..” jawab Opi.

“Maksudku..”

Opi memotong. “Kata obaa-chan, makanan enak dapat membuat perasaan menjadi lebih tenang.”

Saifu menatap sup itu sebentar lalu perlahan mengambil sendok yang ada di samping mangkuknya.

“Oishii~,” ucap Saifu saat mencicipinya.

“Yokatta. Habiskan selagi masih panas.”

Saifu mengangguk. Tapi baru saja beberapa sendok, ia kemudian berhenti.

“Nande?” tanya Opi.

“Kenapa membuatkanku sup? Padahal aku begitu menyebalkan kepada kalian. Kenapa kalian masih saja memperdulikan aku? Harusnya kalian membenciku,” Saifu bergumam.

Opi mendesah. “Sebelum aku, obaa-chan yang mengelola tempat ini. Dan sebelum kalian ada di sini, rumah ini pernah dihuni oleh beberapa orang yang menyenangkan. Obaa-chan menganggapnya semua penghuni adalah keluarganya. Dan setelah pergi pun, obaa-chan tetap menginginkan rumah ini dihuni oleh orang-orang yang menyenangkan.

“Aku hanya ingin membuat obaa-chan bahagia di sana. Dengan membentuk keluarga baru walaupun kita sama sekali tidak ada hubungan darah.”

“Maksudmu?”

“Maksudku, kita tinggal di satu atap. Bagaimanapun sifat dan karakter masing-masing penghuni, jangan menjadikan alasan untuk tidak saling peduli. Karena siapapun yang tinggal di sini, itu artinya kita satu keluarga,” tambah Opi.

Saifu terdiam.

“Jadi, tidak ada alasan untukku, Riisa maupun Din untuk membencimu.”

“Usotsuki..” ucap Saifu.

“Itu juga yang kupikirkan saat obaa-chan mengatakan hal sama. Kau tidak usah terlalu mempercayai kata-kataku kalau kau tidak mau.”

Saifu menatap Opi heran. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.

Saifu tertunduk. “Sebenarnya apa yang salah denganku?” Ia mulai berbicara. “Aku mempunyai teman laki-laki, apa itu salah? Akrab dengan pacar temanku, apa itu salah? Aku mempunyai kehidupan yang baik, apa itu juga salah?”

Opi menatap Saifu dengan diam.

“Emi menyalahkanku saat dia putus dengan Daiki. Lalu Ryu menuduhku sudah berselingkuh. Lalu teman-temanku, mereka semua menjauhiku karena menganggap aku yang terburuk.”

Saifu meluapkan semua perasaannya yang terpendam selama ini. Ia sudah lama menahannya sehingga tanpa sadar air matanya turun melewati pipinya.

“Aku sama seperti mereka. Aku hanya ingin teman. Aku tidak ingin ditinggalkan,” Saifu mulai terisak.

Opi yang dari tadi hanya menatap Saifu, lalu meraih tubuhnya dan memeluknya. Ia berharap dapat menenangkan Saifu walaupun ia tidak tahu harus berbuat apa agar tangisannya berhenti.

==========

Tsuzuku…^^

panjang dan aneh..tapi biarlah…
yang penting komen ahahahhaa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s