[Multichapter] A Day In Our Life (chap 2)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Dua
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, sedikit Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Tegoshi Yuya, Shigeaki Kato (NEWS), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC), Aoi Miyazaki dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Tegoshi Yuya, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 2 =

“Kita mau kemana, sensei?”

Sejak tadi Din hanya duduk manis di dalam mobil Tegoshi-sensei tanpa tahu tujuannya kemana.

“Diam saja. Nanti juga kau tahu..”

Din seperti mempunyai firasat buruk.

“Sensei tidak berniat menculikku kan? TIDAAAAAAAAAAAKKKKK….aku hanya gadis yang miskin. Tidak cukup untuk minta uang tebusan pada orang tuaku,” teriak Din pura-pura panik.

Tegoshi-sensei menoleh pada Din dengan geram. “Bisakah kau tenang sedikit? Aku tidak pernah berpikiran untuk menculikmu. Seperti yang kau katakan. Tidak ada yang bisa aku dapatkan kalau aku menculikmu.”

Din kembali duduk tenang sambil mendelik pada Tegoshi-sensei dengan kesal.

Tak berapa lama, Tegoshi-sensei membelokkan mobilnya di sebuah pekarangan rumah.

Rumah yang bagus, batin Din.

“Din, bawakan kotak itu,” perintah Tegoshi-sensei. Din mencari-cari kotak yang dimaksud olehnya yang ternyata di simpan di kursi belakang.

“Ini rumah siapa, sensei?” tanya Din saat ia baru saja turun dari mobil.

Tegoshi-sensei tidak menjawab. Begitu turun, ia langsung menuju pintu masuk. Din sebal sekali pertanyaannya tidak didengar oleh dosennya itu.

“Menjawab saja memang kenapa sih?” rutuk Din sambil bergumam.

Din akhirnya mengikuti langkah Tegoshi-sensei menuju pintu.

Tegoshi-sensei mengetuk pintu beberapa kali, sedangkan Din hanya menatap sekelilingnya yang cukup indah karena di dekatnya ada sebuah taman yang asri.

“Hai…ah? Yuya? Kau datang?”

Saat pintu itu terbuka, Din melihat seorang laki-laki muncul.

“Yo, Katou.” Tegoshi-sensei menyapa sambil mengangkat tangannya.

“Masuklah.”

Din mengikuti Tegoshi-sensei dari belakang. Saat masuk ke dalam rumah, Din merasakan perasaan rindu pada keluarganya. Karena rumah bergaya Jepang itu sangat mirip dengan rumahnya. Tapi tentu saja dengan ukuran yang lebih kecil. Sangat kecil.

“Douzo..” laki-laki itu mempersilahkan mereka untuk duduk. “Ada apa kau datang ke sini, Yuya?”

“Tidak ada sesuatu yang penting. Hanya ingin memberi salam. Dan ini ada sedikit oleh-oleh dari okaa-san.” Tegoshi-sensei menyerahkan kotak yang Din pegang.

“Are?” Laki-laki yang bernama Katou itu tersadar. “Siapa gadis manis ini? Pacarmu Yuya?”

“Chigau…” Din meralat. Ia tidak sudi dikira pacar orang yang menyebalkan seperti Tegoshi-sensei.

“Dia hanya muridku,” jawab Tegoshi-sensei santai.

“Ikuta Din desu..” ucap Din memperkenalkan diri.

“Senangnya mempunyai murid manis seperti Din-chan,” seru Katou.

Din hanya tersipu malu karena sudah dua kali dipuji oleh Katou.

“Sebenarnya aku ke sini sengaja membawanya, “Tegoshi-sensei menunjuk Din. “Agar dia mempelajari sesuatu darimu.”

“Apa yang bisa kuberikan?” tanya Katou.

“Apapun.”

Katou terlihat berpikir dan suasana menjadi sunyi sesaat.

“Sensei, sebenarnya dia siapa?” bisik Din pada Tegoshi-sensei.

“Kenapa tidak tanyakan langsung saja pada orangnya?” jawab Tegoshi-sensei.

Din menatap tegas pada Tegoshi-sensei tanda ia tidak ingin berbelit-belit dan ingin segera tahu jawabannya.

“Namanya Shigeaki Katou. Dia sepupuku,” jawab Tegoshi-sensei lalu menyeruput minumannya.

“Shigeaki Katou?” Din sepertinya pernah mendengar nama itu. Tapi ia lupa dimana ia mengetahuinya.

“Baiklah,” ucap Katou tersadar dari pikiran panjangnya. “Kalau begitu kau ikut denganku saja.”

Katou sudah beranjak dari duduknya saat Din berseru dan membuat kaget Tegoshi-sensei dan Katou.

“Ah….Shigeaki Katou. Kau penulis buku kan? Aku ingat sekarang sensei,” ujar Din pada Tegoshi-sensei.

Katou terlihat menahan tawa. Ternyata sejak tadi gadis itu memikirkan dimana ia pernah mendengar namanya.

“Kau membuatku kaget saja, Din-chan.” Katou menghampiri Din. “Dan benar sekali. Aku adalah penulis buku seperti yang kau katakan.”

——————-

Opi menatap tempat di hadapannya. Sebuah salon terkenal yang sering ia dengar dari gadis-gadis di kampusnya.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Opi pada Jun.

“Ayo masuk.”

Opi tidak dapat menolak karena tangannya di tarik oleh Jun. Saat ia masuk ke tempat itu, ada beberapa orang pengunjung dan karyawan salon itu sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Satoru-san..” Jun memanggil seseorang.

“Jun? Kenapa kau tidak bilang akan ke sini?”

Opi melebarkan matanya saat melihat laki-laki yang tadi dipanggil oleh Jun. Tidak seperti bayangan Opi tentang laki-laki yang bekerja di salon, Satoru yang ada di hadapannya itu tidak bergaya seperti perempuan. Perawakannya sangat laki-laki. Tapi yang membuatnya kaget, kenapa laki-laki ini harus memakai tuxedo?

“Aku memang mendadak ingin ke sini. Karena dia,” Jun menunjuk Opi. “Aku ingin kau membuatnya berbeda.”

“Jun..” Opi ingin sekali menolak.

“Aku tidak menerima penolakan. Duduklah di sini. Kau akan ditangani oleh orang yang benar,” ucap Jun menenangkan.
Tapi tentu saja kata-kata Jun sama sekali tidak membuatnya tenang.

“Baiklah. Kau akan kaget setelah melihat mahakaryaku,” ucap Satoru bangga.

Ya. Aku pasti akan kaget jantungan karena melihat penampilanku yang diobrak-abrik, batin Opi.

Opi hanya menutup mata saat Satoru memulai perombakannya. Ia tidak tahu apa yang laki-laki itu lakukan padanya. Ya jelas, ia siap membantai Jun jika ia menjadi terlihat aneh.

“Yap. Sudah selesai.” Satoru mengakhiri setelah sekitar 30 menit mengurusi rambutnya.

Opi masih menutup mata. Ia tidak siap melihatnya.

“Kenapa kau masih menutup mata seperti itu? Ayo buka mata.” Satoru menggelitiki Opi.

“Yamate yo..” teriak Opi sambil tertawa geli. “Baik..baik. Aku membuka mataku.”

Opi nyaris tidak mengenali gadis yang ada di cermin itu. Apakah itu memang dirinya?

“Bagaimana Jun? Bagus kan?” tanya Satoru pada Jun yang ternyata masih ada di sana.

“Kau memang jenius, Satoru,” puji Jun.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA RAMBUTKU???” teriak Opi lagi.

Jun lalu membekap mulut Opi karena suaranya sudah membuat keributan. “Urusai. Ini bagus menurutku. Terlihat lebih manis.”

“Kembalikan rambutku…kembalikan rambutku..” Opi mengguncangkan tubuh Satoru dengan wajah memohon.

“Opi? Itu kau?”

Kedatangan Sho membuat Opi terkejut. Kenapa orang yang sekarang tidak ingin ia temui harus berada di sini?

“Jun…” Ia tahu pasti ini rencana sepupunya itu.

Si pembuat masalah hanya menyengir tanpa dosa.

“Kau apakan rambutmu?” Sho menatap wajah baru Opi. Sedangkan gadis itu menutup rambutnya dengan kedua
tangannya agar Sho tidak melihat rambut yang menurutnya aneh.

“Jangan lihat..”

Sho tersenyum. “Kenapa? Bagus kok. Kau manis.”

Opi menurunkan tangannya perlahan lalu menunduk.

“Ahahahhaa…artinya dia senang dengan pujianmu, Sho,” tambah Jun semakin membuat Opi malu.

“Kau sombong sekali Sho. Sudah lama kau tidak datang kemari. Kau tidak merindukanku?” ucap Satoru menghampiri Sho.

“Gomenasai. Akhir-akhir ini aku sibuk sekali,” balas Sho dengan senyuman yang sanggup membuat siapapun terpana.

“Usotsuki…”

Opi mengerutkan keningnya lalu berbisik pada Jun.

“Jun, Satoru-san itu jangan-jangan…”

“Satoru itu menyukai Sho,” Jun meneruskan tebakan Opi.

Opi mengangguk. Tebakannya sejak awal itu benar. Satoru memang seorang gay.

“Kau tidak usah cemas seperti itu ahahhaa..” tambah Jun.

Opi merenggut. Bukan itu yang ia cemaskan.

“Kau datang sendirian?” tanya Jun pada Sho.

Sho hendak menjawab tapi tiba-tiba ada seorang wanita memanggil Sho dari arah pintu masuk.

“Sho-kun..”

Sho menoleh sebentar pada Jun sambil berkata, “Aku datang bersamanya.” Lalu ia menghampiri wanita itu.

Opi terpaku. Siapa wanita itu?

“Hai Jun..” wanita itu menyapa Jun.

“Hai Aoi..”

Wanita bernama Aoi itu menatap Opi.

“Siapa dia, Jun? Pacar barumu?” tebak Aoi.

“Jangan asal menebak. Dia sepupuku,” ralat Jun.

Aoi tersenyum pada Opi. “Aoi Miyazaki desu..”

Opi terdiam sebentar sebelum ia membalas. “Opi Yamashita desu..”

“Kau manis sekali. Aku jadi ingin memiliki adik perempuan,” ucap Aoi.

Opi tersenyum kecil. Ternyata hari ini datang juga. Hari dimana ia bertemu dengan Aoi Miyazaki, kekasih Sho.

——————–

Riisa memulai hari pertamanya dengan sempurna. Selain kuliahnya yang sangat menyenangkan, ia juga bertemu orang-orang baru yang tidak pernah ia temukan di tempat tinggalnya dulu. Hebatnya sekarang ia sudah mempunyai teman.

Tapi tiba-tiba ia duduk lemas ketika ingat ponselnya tidak ada di tangannya.

Riisa bukan gadis yang tidak bisa apa-apa hanya karena ponselnya tidak ada. Tapi ponsel itu adalah hadiah dari kakaknya sebelum ia pergi ke Tokyo. Ia merasa bodoh karena tidak dapat menjaga dengan baik pemberian dari kakaknya.

“Gomenasai, nii-chan,” gumam Riisa sedih.

Riisa kemudian bangkit. Ia tidak boleh merasa putus asa. Ia yakin bisa menemukan ponselnya dengan petunjuk dari dompet yang ia temukan.

Ia mengeluarkan kartu mahasiswa yang ada di dalam dompet tersebut dan membaca dengan seksama.

“Nakayama Yuma..jurusan sastra?”

Riisa kebingungan karena ia tidak tahu dimana gedung tempat jurusan sastra itu berada.

“Riisa-chan, ayo kita pulang,” ajak salah seorang temannya.

“Anou, Yuuki-san, kau tahu dimana gedung jurusan sastra?” tanya Riisa.

“Kalau tidak salah di sebelah sana,” temannya itu menunjuk ke salah satu gedung. “Memangnya ada keperluan apa?”

Riisa menggeleng. “Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian duluan saja. Matta ne..”

Riisa berjalan menuju gedung yang ditunjuk oleh temannya itu. Tapi ia tetap kebingungan karena orang-orang di sana sangat banyak. Ia tidak dapat mengenalinya satu persatu.

Di saat dirinya kebingungan terdengar suara ribut dari arah belakangnya. Riisa menggerutu pelan karena itu sangat mengganggunya. Mereka seperti tidak ada kerjaan lain saja, omel Riisa dalam hati.

“Ahahaha..kau ini bodoh sekali. Kenapa bisa sampai seperti itu?” suara seorang laki-laki terdengar oleh Riisa dengan jelas.

“Itu semua karena Matsumoto-san yang menyuruhku membawa buku-bukunya. Sial sekali. Di dalamnya ada uang terakhirku di bulan ini,” kata seorang laki-laki yang lainnya.

“Kau tidak perlu khawatir. Kau bisa menjual itu kan, Yuma?”

Kepala Riisa otomatis berputar saat mendengar ada yang menyebut nama Yuma. Ia menyipitkan matanya dan benar yang dilihatnya. Itu Nakayama Yuma. Wajahnya mirip sekali dengan yang ada di foto. Bergegas, Riisa menghampiri
kumpulan pemuda itu yang salah satunya merupakan orang yang ia cari.

“Menjualnya? Mungkin bisa untuk tambahan uang jajanku. Atau mungkin bisa untuk makan-makan ahahahhaa…”

“Jangan seenaknya,” bentak Riisa sambil menarik ponselnya yang ternyata berada di tangan Yuma. Yuma terlalu kaget sehingga ia tidak sadar ponsel itu sudah lenyap di tangannya.

“Kau tidak tahu bagaimana aku mendapatkan ini. Ini punyaku. Dan jangan seenaknya kau akan menjualnya,” ucap Riisa kesal. “Aku ambil kembali.” Dan Riisa pun berlalu.

“Enak saja mau menjualnya. Dia pikir dia siapa ingin menjual ponselku?” omel Riisa sambil berjalan keluar gedung.

Karena asyik menggerutu, saat Riisa keluar dari gedung jurusan sastra dan berjalan cukup jauh, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ah……aku lupa mengembalikan dompetnya,” serunya.

—————-

“Ini..” Tegoshi-sensei memberikan sekaleng minuman pada Din. “Bagaimana setelah bertemu dengan Katou?”

Din yang duduk beralaskan rumput menoleh pada Tegoshi-sensei. “Apanya yang bagaimana?”

“Apa yang kau dapat?”

Mata Din berputar. “Hmmm..ceritanya mengesankan. Aku cukup mengerti bagaimana seorang penulis dalam membuat bukunya sampai buku itu memang layak untuk dibaca,” jelasnya.

Tegoshi-sensei mengangguk.

“Anou…apa Tegoshi-sensei selalu melakukan ini pada mahasiswa yang lain?” tanya Din.

“Tidak..”

Din terpaku. Ia cukup terkesan Tegoshi-sensei yang selama ini menyebalkan ternyata peduli padanya.

“Aku melakukan ini karena menurutku kau sama sekali tidak ada kemajuan. Kalau aku biarkan, kapan kau bisa lulus?”

Din terdiam. Ingin sekali ia mencakar wajah sensei-nya itu.

“Walaupun kata-kata sensei itu menyebalkan, tapi aku berterimakasih karena sudah mengajakku untuk bertemu dengan Katou-sensei. Sepertinya aku mempunyai ide untuk laporanku nanti.”

Tegoshi-sensei menoleh datar pada Din. “Oke. Kutunggu.”

Din hanya tersenyum meringgis mendengar tanggapan sensei-nya tersebut. Tapi hari ini ia sedikit terkejut setelah melihat sisi lain Tegoshi-sensei. Kejutan yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya laki-laki itu memperlakukannya dengan benar.

—————-

Saifu duduk di bangku panjang lusuh di atap sekolah sambil menikmati bekalnya. Bekal yang baru saja di belinya di kantin tepatnya. Ia sendirian di sana. Tidak ada teman yang menemaninya. Tapi tidak masalah untuknya. Karena ia sudah terbiasa.

“Ha..aku lupa membeli minum,” gumam Saifu sebal. Ia malas harus kembali ke kantin karena jarak kantin cukup jauh.

“Ini minuman untukmu.” Tiba-tiba di hadapan Saifu ada seseorang yang menyodorkan sebotol minuman. Saat ia menoleh, ternyata ada Daiki di sampingnya.

“Kau lagi…” desah Saifu.

“Kenapa mendesah seperti itu? Kau tidak senang melihatku?” gerutu Daiki.

“Tidak.”

“Terserah apapun jawabanmu. Kau mau tidak minuman ini? Kalau kau tidak mau biar aku….”

Belum selesai Daiki berbicara, Saifu langsung menyambar minuman itu dari tangan Daiki.

“Arigatou..”

Daiki tersenyum. Kadang-kadang gadis itu bisa bersikap manis walaupun lebih sering sinis padanya.

“Kenapa makan sendirian di sini? Mana teman-temanmu?” tanya Daiki.

Saifu tidak menjawab karena ia sedang meneguk minumannya.

“Kau ini seperti korban penindasan sampai-sampai makan sendirian di sini,” tambah Daiki.

“Betsu ni,” jawab Saifu singkat.

Saifu bukan orang yang merupakan korban penindasan seperti yang Daiki katakan. Justru sebaliknya, semua orang sangat menghormatinya karena dirinya yang merupakan dari keluarga orang kaya. Hanya sedikit orang yang mau berbicara padanya. Biasanya orang yang berbicara padanya adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tak jauh darinya. Seperti Daiki.

“Atau kau tidak punya teman?” tebak Daiki.

“Aku punya.” Saifu menampik.

Tepat setelah itu, pintu atap terbuka dan muncul pasangan laki-laki dan perempuan masuk.

“Ryu..kita di sini saja,” seru gadis itu sambil menarik teman laki-lakinya.

“Iya Sachi-chan..”

Saifu terpaku saat melihat siapa laki-laki itu. Laki-laki yang tidak pernah ingin dilihatnya.

“Saifu..” Laki-laki itu bergumam. Sepertinya dia sama-sama terkejut saat melihat Saifu.

“He? Temanmu?” tanya Daiki.

“Ah..Suzuki-san. Gomenasai. Aku tidak tahu kau ada di sini,” ucap gadis bernama Sachi itu sambil menunduk. Seolah ia sedang meminta maaf pada seorang penguasa sekolah.

“Daijoubu. Aku sudah selesai. Kalian bisa memakainya,” ucap Saifu sambil membereskan sampah-sampahnya. “Ayo Dai.”

“He? Kau mengajakku?” Daiki terkejut. Tidak biasanya Saifu mengajaknya.

“Terserah kau saja,” balas Saifu cuek lalu berjalan menuju pintu.

Saat ia sudah mencapai pintu, dengan otomatis Sachi dan laki-laki bernama Ryu itu lalu membuka jalan untuknya. Tanpa menoleh sedikitpun, ia terus berjalan melewati mereka. Daiki yang berada di belakang Saifu, hanya tersenyum pada Ryu.

“Kenapa kau tidak bergabung saja dengan mereka?” Daiki bertanya.

Saifu kembali tidak menjawab. Dan Daiki baru menyadari jika wajah Saifu berubah sedih dan seperti melamun memikirkan sesuatu.

“Doushite?”

Saifu tersadar lalu menggeleng.

“Aku kembali ke kelas.”

Daiki tidak mencegah Saifu pergi. Ia membiarkan gadis itu berlalu meninggalkannya. Apa yang dipikiran gadis itu? Daiki selalu terbayang saat ia melihat wajah sedih itu untuk yang kesekian kalinya sejak ia pertama kali bertemu dengan Saifu.

——————-

“Tadaima…” ucap Opi lemas begitu ia masuk ke dalam rumah.

“Okaeri..Are? kau apakan rambutmu?” Din sedikit terkejut melihat perubahan pada penampilan Opi. Terlihat lebih segar dan manis.

“Jangan tanya apa-apa dulu,” ucap Opi cuek. Ia berjalan ke arah dapur diikuti Din dibelakangnya.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Din penasaran.

“Apanya?”

“Tiba-tiba kau memotong rambutmu. Apa kau baru saja ditolak?” tebak Din sekenanya.

Opi yang baru saja meneguk minumannya, tiba-tiba menyemburkan isi air di dalam mulutnya.

“Ikh….Opi jorok…” Din lalu mengelap lantai yang basah.

“Itu gara-gara kau menebak yang bukan-bukan,” gerutu Opi sambil menghapus sisa-sisa air di bibirnya.

“Lalu apa?”

Opi menghela napas. “Ini gara-gara sepupuku yang tiba-tiba mengajakku ke salon. Aku sudah menolak tapi dia tetap
tidak mau tahu,” jelas Opi.

Din mengangguk. “Souka.”

“Tapi kau cocok dengan rambutmu yang sekarang ehehehe…” tambah Din.

Opi tidak merespon walaupun di dalam hatinya ia sedikit senang dengan pujian itu.

————————

Riisa berjalan lemas menuju rumah. Ia tidak menemukan pemuda pemilik dompet yang ia temukannya lagi setelah ia tiba-tiba pergi. Selain itu, hari ini ia tidak mendapatkan baito yang pas untuknya. Ternyata kehidupan di Tokyo tidak mudah, pikirnya.

Tak jauh dari posisinya, ia melihat seorang gadis yang sedang berjalan di arah yang sama dengannya. Itu Saifu.

“Saifu-chan…” panggil Riisa saat dia sudah berada tak jauh jaraknya dengan gadis itu.

Saifu hanya menoleh tanpa tersenyum.

“Baru pulang?” tanya Riisa.

“Kelihatannya?” tanya Saifu balik.

Riisa tersenyum meringgis. Ia merasa teman serumahnya itu tidak menyukainya.

“Kau sekolah di Midoriyama yah? Itu kan sekolah yang terkenal di sini. Pasti kau pintar,” kata Riisa.

“Begitulah.”

Untuk kedua kalinya Riisa tersenyum meringgis.

Riisa tidak melanjutkan basa-basinya lagi karena mereka sudah sampai di depan rumah.

“Tadaima…” seru Riisa yang lalu diikuti Saifu. Mereka kemudian berjalan menuju ruang tengah dan di sana sudah ada Opi dan Din yang sedang memasak.

“Tadaima..” ucap Riisa lagi. “Kalian sedang apa?”

“Tentu saja sedang masak. Apalagi?” jawab Opi tanpa menatap Riisa karena dirinya sedang memasak.

Riisa mengangkat alisnya. Ia bingung kenapa hari ini orang-orang menjawab sinis padanya?

“Nanti kita makan bersama, ne?” ucap Din bersemangat. Ia sangat senang makan ramai-ramai.

“Haaaiiii…” jawab Riisa riang.

“Aku tidak ikut,” balas Saifu.

“He?” Din terlihat kecewa. “Nande?”

“Aku sudah kenyang.”

“Tapi..”

“Kau tidak usah memaksanya kalau dia tidak mau,” potong Opi.

Din diam. Benar yang dikatakan oleh Opi. Tapi ia merasa penasaran, kenapa dengan Saifu? Saat pertama kali bertemu dengan gadis itu, Din merasa dia memiliki masalah. Terbukti dia tidak pernah ramah dengan siapapun.

“Menurut kalian kenapa dengan Saifu?” tanya Din pada Opi dan Riisa saat mereka sedang menyantap makan malam.

“Aku tidak tahu,” jawab Riisa. “Aku juga penasaran kenapa dengannya. Din-san merasakannya?”

Din mengangguk. “Rasanya dia seperti itu pada semua orang. Kau pasti tahu sesuatu kan, Opichi?”

Opi yang sedang melahap makanannya hanya mendesah. “Aku tidak tahu. Untukku dia hanya orang yang menyewa salah satu kamar di rumahku. Aku tidak peduli dengan masalah-masalahnya,” jawab Opi.

Din maupun Riisa lalu diam. Meskipun mereka penasaran dengan Saifu, tapi mereka lebih penasaran dengan apa yang terjadi dengan si pemilik rumah mereka karena sebenarnya sikapnya tak jauh berbeda dengan Saifu. Dan mereka melanjutkan makan malam mereka tanpa berbicara lagi hingga makanan mereka habis.

————-

Saifu masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya terasa lelah karena ia harus mengikuti kegiatan klub terlebih dahulu.

“Mandi dulu, setelah itu tidur..” gumam Saifu kemudian menyambar handuknya dan mengambil beberapa baju yang akan ia pakai.

Di dalam kamarnya memang tidak ada kamar mandi seperti di kamarnya terdahulu. Di rumah barunya hanya tersedia 2 kamar mandi yang ada 1 kamar mandi di setiap lantainya. Cukup membuat dirinya kesal tapi Saifu menerima dengan
terpaksa.

Saat Saifu membalikkan tubuhnya menuju pintu, tiba-tiba tidak sengaja tangannya menyenggol tumpukan buku yang ada di mejanya.

Saifu mendesah. Di saat tubuhnya ingin istirahat, kenapa kebodohannya membuatnya menambah pekerjaan?

Dengan malas gadis itu membereskan barang-barangnya dan kegiatannya berhenti saat ia melihat selembar foto yang berada di tumpukan kertas yang berantakan.

“Foto ini..”

Ia menatap foto itu. Foto dirinya dan 2 orang lainnya yang salah satunya adalah Daiki Arioka.

Saifu tertunduk. Kenangan yang tidak pernah ia harapkan kembali terbuka. Tanpa peringatan apapun, air matanya mengalir. Hatinya terasa sakit dan sesak. Luka yang perlahan mulai sembuh, kini mulai menyakitinya lagi.

========

To Be Continued~
agak aneh? emang aneh…
otak nya lagi aneh jadi ide nya ga jelas..
tapi tetep komen yah..
jelek atopun bagus tetep komen yah…
🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s