[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 6) ~Am I Dreaming?~

Title        : Jumping To My Heart ~Am I Dreaming??~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter
Chapter     : Six 🙂
Genre        : Romance *always~*
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Suzuki Saifu (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Arioka Daiki is belong to Johnny’s & Association, Suzuki Saifu is Saifu’s OC yang aku pinjam. Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

JUMPING TO MY HEART
~ Chapter 6 ~
~ Am I Dreaming? ~

Saifu tersentak ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.

“Kau kenapa?” pemuda itu tersenyum, senyum paling manis yang bisa selalu membuat Saifu berteriak di hadapan laptopnya.

“Kenapa…kenapa?” Saifu linglung.

Ia selalu meng idolakan Arioka Daiki, tapi kenapa orang itu kini ada di hadapannya? Lengkap dengan senyum nya yang menawan, lengkap dengan segalanya.

“Fu-chan… daijoubu?”

‘DIA TAHU NAMAKU!!NAMAKU!!’ Saifu makin tak mengerti apa yang terjadi?

Seketika rasanya badannya lemas tak berdaya. Kenapa ini bisa terjadi? Arioka Daiki mengetahui namanya?

“Ano ne… jangan berwajah seram begitu… aku kan tidak menggigit..” kata Daiki lagi.

Makin sesak nafaslah dia, Saifu hanya ingin berteriak karena Daiki berada di hadapannya.

“Fu-chan!! Fu-chan!!”

Saifu setengah tak percaya ketika ia terbangun, “Aku dimana?”

“Di kelas lah…” Mika memandang sahabatnya itu tak mengerti, “Kau kenapa sih?” dahi Mika berkerut.

“Aku…” mimpinya terasa sangat nyata. Ia tak merasa bahwa itu adalah mimpi.

“Kau kenapa?” desak Mika lagi.

“Aku memimpikan Arioka Daiki…” kata Saifu dengan suara serak.

Mika mencibir, “Kenapa harus dia sih? Lagipula dia sudah lulus dari sekolah ini…” ungkap sahabatnya itu.

Mika memang tak pernah suka dengan boyband yang selama ini membuat Saifu tergila – gila. Apalagi anggota boyband itu memang lulusan dari sekolah mereka, Horikoshi. Saifu hanya tersenyum kecut, kalau saja Mika tahu alasannya masuk ke sekolah ini memang karena Hey! Say! JUMP, pasti Mika akan memarahinya.

Sementara Mika masuk ke sekolah ini karena memang ia mendapat beasiswa.

“Sawatari Mika ditunggu di ruang OSIS sekarang…” suara itu menggema di seluruh kelas.

“Pasti si ketua OSIS mangkir lagi…” umpat Mika kesal.

Saifu tak membalas, dirinya masih terus memikirkan mimpi tadi, “Kenapa terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi ya?” keluhnya, berharap peristiwa di mimpi tadi bukan sekedar bunga tidurnya.

==========

Gegap gempita suara di dalam Tokyo Dome begitu terasa oleh Saifu. Berarti ini kali ketiganya menonton pertunjukkan langsung dari Hey! Say! JUMP.

Sambil mengacungkan uchiwa Daiki, Saifu bernyanyi mengikuti lirik lagu – lagu yang dibawakan oleh grup idola nya itu.

“Fighting for my dream!! Setsunai kono kokoro de…” seru Saifu asyik dengan dirinya sendiri.

Setelah lagu JUMP beres, tibalah saat bagian member JUMP berbicara pada penonton, atau biasa disebut MC Talk. Saifu tertawa karena beberapa lelucon yang dilontarkan oleh para member JUMP, ditambah Daiki sering sekali menjadi objek penderita jika ada sebuah lelucon.

“Apa yang akan kalian lakukan liburan sekarang?” tanya Yuya pada semua member.

“Hmmm… apa ya? Aku berharap bisa menghabiskannya bersama keluarga…” kata Yabu menjawab dengan cepat.

Yang lain menjawab hal – hal lain seperti belajar ber ski, atau hanya di rumah saja.

“Aku ingin menghabiskannya dengan orang yang spesial untukku…” jawab Daiki sambil tersenyum.

“Hooooo~” penonton dan member lain serentak menanggapi apa yang dikatakan Daiki.

“Ano kata ne~” timpal Ryutaro sambil tersenyum.

“Un…kekasihku tentu saja… Fu-chan!!”

Lampu besar seketika menyorot ke arah Saifu yang sangat kaget karena namanya disebut di hadapan ribuan penonton yang memadati Tokyo Dome sore itu.

“Kenapa bengong? Ayo naik!” seru Daiki sambil menghampiri Saifu. Tanpa gadis itu sadari ternyata ia cukup dekat dengan panggung, bisa dibilang VIP.

BRUKK!!

“Ah Ittaiii…” Saifu mengeluh karena tangannya terasa sakit.

Ketika ia mengerjapkan matanya, ia merasa sedikit pusing, “Are?” kini ia berada di dalam kamarnya sendiri, masih memakai piyama nya.

“Hah? Mimpi lagi? Usssoooo~”

Saifu yakin sekali tadi itu bukan mimpi. Semuanya terasa sangat nyata, bahkan ia masih merasa sedikit silau karena sorotan lampu besar tadi.

“Fu!!! Ayo makan malaaaammm!!!” seru Ibunya dari lantai bawah.

Dengan bersungut – sungut Saifu turun ke bawah. Ia yakin tadi bukanlah mimpi, tapi kenyataannya kini ia ada di rumahnya, bukan naik ke panggung ditemani seorang Arioka Daiki.

“Kuso! Kenapa bisa cuma mimpi?” ucapnya kesal sambil masih mengelus tangannya yang terasa sakit.

==========

“Ohayou Fu-chan!!” sapa Mika yang membawa setumpuk berkas lagi.

“Lagi?” tanya Saifu dengan wajah kusut karena semalam ia justru jadi sulit tidur.

“Ini gak adil…kenapa aku harus ngerjain semua tugas OSIS? Hufft~” keluh sahabatnya itu lagi, tapi masih tetap mengerjakannya karena tuntutan sebagai sekretaris OSIS.

“Wajahmu kenapa?” tanya Mika seakan baru sadar akan mata Saifu yang berkantung dan terlihat pucat.

“Aku tak bisa tidur semalaman…” ungkap Saifu sambil menopang dagunya.

Mika hanya mengangguk – angguk sambil membuka sebuah berkas, mulai mengerjakan tugasnya. Sementara Saifu memandang keluar, ke gedung seberang yang merupakan tempat kelas artis.

Ia tahu Daiki tidak lagi menjadi murid di sekolah ini, namun bayangan akan pemuda itu sempat berada di kelas itu membuatnya sedikit bangga bisa bersekolah di Horikoshi.

“Hari ini bawa bekal apa?” sebuah suara membuyarkan lamunannya.

“Ah! Daiki!! Eh…maksudku… Arioka-san..” ia sadar telah memanggil Daiki dnegan nama depannya.

Daiki tersenyum, “Daiki boleh juga… ne? Fu-chan…”

DEG.

Lagi – lagi Daiki memanggilnya dengan nama itu.

“Bawa bekal apa?”

Saifu memperlihatkan sekotak bentou buatan ibunya tadi pagi, lalu tersenyum ke arah Daiki, “Mau?” ucap gadis itu dengan ramah menawarkannya pada Daiki.

Pemuda manis itu mengangguk dan segera duduk di sebelah Saifu. Mengambil sepotong sosis berbentuk gurita mungil hasil karya Ibunya.

“Mmm… enak…” puji Daiki sambil mengunyah sosis itu.

“Ibuku yang membuatnya…” kata Saifu menambahkan.

Daiki hanya tersenyum, “Lihat langitnya cerah ya…” mereka memang sedang berada di atap gedung sekolah, tempat Saifu biasa makan ketika ingin menyendiri.

“Anou…kenapa Arioka-san bisa ada di sini?” tanya Saifu takut – takut.

“Betsu ni… aku rasa aku sedang ingin menyendiri saja…” jawab Daiki enteng.

“Sou ne…” Saifu tak lagi berani menjawab.

Tiba – tiba Daiki mengeluarkan sebuah iPod dan memasang headset kiri di telinganya, dan sebelahnya lagi ia berikan pada Saifu, ia pasangkan di telinga gadis itu. Sebuah lagu mengalun dari iPod itu, keduanya tak mengatakan apa – apa lagi, menikmati tiap nada yang keluar dari lagu tersebut.

“Fu-chaaaannn!!”

Saifu segera membuka matanya dan menatap Mika yang memandanginya dengan aneh.

“Kau tidur lagi? Aduh….sebentar lagi masuk nih…” tegur Mika lalu duduk di bangku depan.

Saifu menyentuh telinganya, ia memang sedang mendengarkan lagu dari iPod nya ternyata. Tapi, sosok Daiki tadi begitu nyata. Mana mungkin tadi juga hanya sebuah mimpi? Ia tak bisa mempercayai apa yang sudah terjadi selama beberapa hari ini.

Apa obsesinya pada Daiki sudah berlebihan?

Tapi ia tak pernah merasa mimpinya se-nyata ini.

Secara pasti ia tahu itu tidak mungkin terjadi, Daiki sudah tidak di sekolah ini lagi, lalu buat apa Daiki ada di sekolah? Saifu menggeleng tak percaya ia bisa merasa nyata duduk berdua dengan idolanya.

============

“Dengar ada fansigning gak?” tanya Reiko. Seorang teman fandomnya yang ia kenal dari sebuah jejaring sosial.

“Maji ka yo?” Saifu menghindari berita fandom akhir – akhir ini. Akibat mimpinya yang terlalu terasa nyata.

Ia takut obsesinya pada seorang Daiki Arioka sudah berlebihan.

“Iyaaa!! Ayo ikutan!! Kapan lagi kita bisa bertatap muka dengan member JUMP!!” seru Reiko lagi di telepon sore itu.

“Kapan acaranya?” tanya Saifu mulai tertarik.

“Minggu depan… kita ambil barisan paling depan, jadi harus datang pagi – pagi… bagaimana?!!” tanya Reiko bersemangat.

Saifu menimbang – nimbang, namun ia memang ingin sekali album miliknya di tanda tangani langsung oleh Daiki.

“Baiklah…aku ikut….” kata Saifu akhirnya.

“Yatta!! Minggu depan kita ketemu depan stasiun Shibuya ya…”

Saifu menutup telepon itu, kini otaknya kembali dipenuhi sosok Daiki. Memikirkan akan bertatap muka membuatnya sedikit deg – degan.

Saifu menatap sekelilingnya. Ia merasa sedikit asing, apa ia kembali bermimpi?

“Ini es krimnya..” kata Daiki yang tiba – tiba duduk di sebelanhnya.

Ia tahu ini di sebuah taman bermain. Pasti ia bermimpi lagi.

“Kita… dimana?” tanya Saifu sambil menerima es krim yang di sodorkan oleh Daiki.

“Kita kan sedang kencan nona cantik…kau lupa?”

HAH?

Saifu mengucek matanya, berharap ini bukan lagi mimpinya.

“Ini…mimpi ya?” tanya Saifu pada Daiki.

Daiki hanya mengangkat bahu lalu menarik lengan Saifu, berjalan berdua dengan pemuda itu melewati beberapa pemainan.

Mereka pun segera menuju ke bianglala. Daiki menuntun Saifu yang masih kerepotan dengan es krimnya.

Hari sudah malam, cahaya lampu dari gedung – gedung membuat suasana di dalam bianglala menjadi lebih indah.

“Fu-chan…” panggil Daiki.

“Hmm?”

“Kau belepotan…” tegur Daiki.

“Eh?” Saifu hendak mengelap bibirnya ketika tiba – tiba Daiki menyentuhkan bibirnya di bibir Saifu.

Ciuman itu hangat, dan sangat lembut.

Ia ingin ini bukan mimpi. Ia tak ingin bangun dari mimpi ini.

“Fuuuu!!! Sudah pagi ayo bangun!!”

Saifu merasakan guncangan hebat di tubuhnya, ketika melihat ibunya sedang membangunkannya.

Tiba – tiba ia merasa ingin menangis, kenapa Tuhan begitu membuatnya frustasi dengan semua mimpi yang tak mungkin terwujud ini?

==========

Maka hari minggu itu Saifu menunggu Reiko di depan stasiun Shibuya. Mereka sepakat memakai baju kuning. Walaupun Saifu tidak mood, tapi ia sudah berjanji pada Reiko, maka ia memutuskan untuk datang.

“Fu-chan!!” seseorang memanggilnya.

“Reiko-chan?” ucap Saifu memastikan.

Gadis di hadapannya itu mengangguk, “Ayo!! Kita harus dapat tempat di depan!!” ajak Reiko menarik tangan Saifu.

Sampai di tempat fansigning ternyata banyak orang yang sudah datang lebih pagi dari mereka berdua. Sehingga mereka hanya dapat antrian di tengah – tengah.

“Fu-chan bawa apa saja yang mau di tanda tangani?” tanya Reiko sambil repot mengeluarkan kamera digital dari tasnya.

“Ini… album…” jawab Saifu.

“Ah…souka.. aku juga bawa album dan single mereka… waaahhh~ tak sabar!!”

Acara tanda tangan ini akan berlangsung beberapa jam lagi, sehingga mereka berinisiatif untuk mengantri sambil duduk terlebih dahulu. Tak disangka antrian pun semakin memanjang memenuhi pinggir gedung.

Beberapa jam kemudian acara itu pun dimulai. Ke sepuluh member Hey! Say! JUMP sudah duduk di meja panjang itu dengan setumpuk foto mereka di pinggir masing – masing. Antrian itu di atur kembali berdasarkan member, maka mereka pun mengantri di barisan Daiki. Satu persatu orang mulai menemui member JUMP, Saifu pun semakin deg – degan. Entah kenapa dadanya berdebar sangat kencang.

Daiki tersenyum dan tak segan menghadapi pertanyaan dari fans nya.

Tinggal satu orang lagi, dan Saifu akan bertatap muka dengan Daiki. Reiko berada di belakangnya.

Tiba waktunya.

Saifu dengan canggung mengambil albumnya, “Anou…aku mau albumku juga di…”

Daiki yang sedang menandatangani fotonya sesaat kemudian mendongak, menatap Saifu lalu membulatkan mata tak percaya. Seketika ia berdiri, mundur beberapa langkah.

“Dai-chan… doushita no?” tanya Yamada yang duduk tepat di sebelahnya.

Akhirnya Daiki kembai ke bangkunya dan mengambil album yang dipegang oleh Saifu. Sementara matanya masih menatap Saifu tak percaya.

“Dai-chan…” Yamada kembali menyenggol bahu temannya itu.

“Ah iya…” Daiki tersenyum ke arah Saifu dan langsung menanda tangani album itu.

Tanpa ragu ia menuliskan nama itu, ‘Fu-chan’.

===========

“Kau kenapa tadi?” tanya Yamada lalu duduk sambil meminum sebotol air mineral.

“Aku…bertemu dengannya…” ucap Daiki terbata – bata.

“Siapa? Ngomong yang jelas dong Dai-chan…” protes Yamada lagi.

Daiki menatap Yamada, “Ingat aku penah cerita soal gadis yang mampir di mimpiku?”

Yamada mengangguk – angguk, “Oh…yang kau bilang kalian seperti sudah mengenal sebelumnya?”

“Tadi…orang tadi…maksudku gadis itu yang muncul di mimpiku!!” seru Daiki histeris.

“Hah? Itu kan cuma mimpi Dai-chan…”

“Tapi aku jatuh cinta pada gadis di mimpiku itu…” gumam Daiki lirih, ia merasa putus asa.

Daiki yakin sekali. Itu gadis yang muncul di mimpinya. Bahkan mereka seakan sudah mengenal satu sama lain. Daiki ingat bagaimana ia membawa gadis itu ke panggung, mengenalkannya sebagai kekasihnya.

Ia ingat mimpinya yang berbagi headset serta bentou. Ia ingat semuanya, dan ia tak mungkin salah orang. Itu gadis yang selama ini muncul di mimpinya.

“Mungkin kau merasa orang itu mirip saja?” ucap Yamada.

“Tidak mungkin!! Aku yakin itu gadis yang kucari!!” seru Daiki lagi.

Daiki tanpa pikir panjang keluar dari ruangan.

“Dai-chan!! Kemana??!” seru Yamada.

Daiki tak menjawab, ia ingin sekali bertemu gadis itu lagi, untuk kembali meyakinkan dirinya kalau ia tak salah lihat. Dengan cepat Daiki menyambar topinya dan keluar dari pintu belakang. Gedung itu kini terlihat sedikit sepi karena acara tanda tangan memang sudah berakhir.

Walaupun ia menganggap dirinya sendiri itu bodoh, karena siapa tahu gadis itu sudah pulang sejak tadi, mengingat ia ada di barisan tengah, bukan di barisan belakang. Tapi ia penasaran jika belum menemukannya.

“Fu-chan jadinya naik bis saja?”

Suara itu membuat Daiki segera menyembunyikan dirinya. Ternyata dua gadis berpakaian kuning itu baru saja keluar dari sebuah restaurant siap saji.

“Ya sudah… aku duluan yaaa!!” seorang gadis yang tak Daiki kenal melambai dan menjauh.

Saifu duduk di halte sambil melihat jadwal bis selanjutnya, “Masih dua puluh menit lagi…” gumam Saifu.

“Anou… Fu-chan…desu ka?” Daiki menghampiri Saifu.

Secara cepat Saifu berdiri dan mundur beberapa langkah, “Kalau ini mimpi, aku ingin cepat bangun!!” seru gadis itu sambil memejamkan matanya, namun tidak ada yang terjadi.

“Kau…Fu-chan kan?” tanya Daiki sambil menghampiri gadis yang terlihat ketakutan itu.

Akhirnya Saifu dengan takut – takut membuka matanya, “Eh?”

“Kau tak berbohong kan?” tanya Saifu setelah agak tenang dan Daiki mengajaknya duduk di bangku halte.

“Aku juga bingung bagaimana hal itu bisa terjadi… tapi, aku benar – benar memimpikanmu…” kata Daiki canggung.

Saifu mengalihkan pandangannya, ia tak bisa percaya begitu saja.

“Fu-chan…hanya itu yang aku tahu dari dirimu…” kata Daiki, sebenarnya ia ingin mengetahui nama gadis itu.

“Suzuki Saifu desu…” ucap Saifu pelan.

“Ah! Suzuki-san… aku… kau tahu siapa aku,” kata Daiki tampak sangat canggung.

Saifu mengangguk – angguk.

“Aku berharap mimpi itu tak usah datang lagi. Aku takut sekali… maksudku… terasa begitu nyata,” ujar gadis itu menunduk menatap kakinya.

“Setelah kita bertemu seperti ini, mungkin mimpinya tak akan datang lagi. Mungkin,” Daiki sebenarnya ingin mengungkapkan perasaan sebenarnya, bagaimana ia ingin sekali bertemu gadis itu.

Saifu merasa dadanya akan bocor sebentar lagi, dadanya bergemuruh dan seakan ia tak bisa mendengar apapun lagi.

“Baiklah…aku pamit dulu… Suzuki-san..” Daiki berjalan menjauhi Saifu.

Sementara gadis itu hanya bisa terpana tak mampu berkata apapun.

Seluruh otaknya bekerja cepat, Daiki merasa ini tak seharusnya seperti ini.

“Fu-chaaannn!!” Daiki tiba – tiba berbalik dan berteriak pada Saifu.

Saifu secara otomatis berdiri dari tenpat duduknya. Menatap Daiki dengan wajah heran. Tak samai beberapa detik kemudian Daiki berjalan kembali ke arah Saifu dan memeluk gadis itu.

“Aku….ingin sekali bertemu denganmu… walaupun hanya lewat mimpi, tapi sosokmu sangat nyata…aku mati – matian berusaha mencarimu, tapi tak berhasil juga…” ucap Daiki sambil memeluk gadis itu dengan erat.

Bibir Saifu kelu, ia tak mampu berkata – kata.

“Ini….mimpi juga kah?” tanya Saifu sambil berurai air mata.

Daiki melepaskan pelukannya, menatap Saifu, “Kita jalani mimpi itu di dunia nyata… bagaimana?” tanya pemuda itu dengan nada sama sekali tak bercanda.

“Hah?” Saifu menatap Daiki dengan bingung.

“Aku memintamu jadi kekasihku… Suzuki Saifu…”

Kali ini memang bukan mimpi, Saifu menyentuhkan telapak tangannya di wajah Daiki dan mencubit pipi Daiki.

“Kyaa..sakit…” keluh Daiki sambil mengelus pipinya.

“Aku tidak mimpi?”

Daiki membalas cubitan Saifu, “Bukan…”

“Tapi…”

“Aku jatuh cinta padamu sejak melihatmu di mimpiku…memang alasan yang aneh…tapi siapa peduli?!” seru Daiki kembali memeluk Saifu.

=========

Jumping To My Heart ~Am I Dreaming?~ END
To Be Continued….

Sumpah ini cerita gaje yaaaa???
Buat Saifu…maap ceritanya jadi aneh gini…
Ini setengah fantasi gitu deh…
Yaaa~
COMMENTS ARE LOVE deh… haha..
Gomenasai… *bow*
Please leave some comments after you read this…
It’s precious for me… 🙂
Thaaannnkksss~~

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 6) ~Am I Dreaming?~

  1. debbi natalia

    bun,bgs ceritanya…romantis banget deh…aku jadi iri sama saifu nih.
    Bun,abis ini jenny,ya????onegai ne… Aku penasaran banget sama Michiko dan Yama…gomen kalo aku teralu cerewet
    v^-^v

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s