[Multichapter] A Day In Our Life (chap 1)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : satu
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, sedikit Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Tegoshi Yuya (NEWS), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC) dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Tegoshi Yuya, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 1 =

Aku menatap Obaa-chan yang terbaring lemas di atas tempat tidur. Wajahnya memucat tapi Obaa-chan masih saja berusaha untuk tersenyum padaku.

“O..pi…” bisik Obaa-chan memanggilku.

“Hai?”

Obaa-chan menggenggam tanganku erat. Tatapannya penuh harapan membuatku bertambah sedih melihat keadaan Obaa-chan.

“Rawatlah rumah Obaa-chan. Itu peninggalan satu-satunya dari Ojii-chan,” ucap Obaa-chan terbata-bata.

“Obaa-chan..” aku mulai terisak. “Jangan berkata seperti itu. Kita sudah janji kan akan tinggal bersama di rumah Obaa-chan. Merawat rumah itu bersama-sama.”

Obaa-chan tersenyum. “Gomenasai…mungkin ini sudah saatnya. Obaa-chan sudah tidak kuat lagi.”

Aku menggeleng keras seolah tidak ingin mempercayai kata-kata Obaa-chan. Aku yakin Obaa-chan akan sembuh.

“Obaa-chan sayang sekali padamu.”

Setelah mengatakan itu, Obaa-chan tidak bereaksi apapun. Aku mengguncang-guncangkan tubuh Obaa-chan. Tapi Obaa-chan tetap diam. Aku memanggil semua orang yang ada di dekatku dengan panik. Tapi tidak ada yang menanggapiku.

Aku tidak percaya ini. Aku tidak percaya kalau Obaa-chan benar-benar telah meninggalkanku untuk selamanya.

=======

3 bulan kemudian….

“Iya Okaa-chan. Hai? Chigau. Tempat itu bukan rumah setan, okaa-chan. Jangan asal menebak hanya karena harganya murah,” gerutu Riisa mendengar kata-kata ibunya di ponsel.

“Ya sudah. Aku sudah sampai di tempat tinggal baruku. Baiklah. Ja ne..”
Riisa menutup ponselnya dengan kasar. Ibunya memang terlalu mencemaskannya karena dia memilih untuk kuliah di Tokyo.

“Akhirnya sampai juga..” seru Riisa begitu tiba di sebuah rumah tua.

Yanagi Riisa. Untuk pertama kalinya gadis itu meninggalkan kota kelahirannya, Hokkaido untuk berkuliah di Tokyo. Sudah impiannya sejak dulu tinggal di Tokyo. Tapi hampir saja impiannya kandas karena ibunya melarangnya untuk ke Tokyo, apalagi tinggal sendiri. Dengan berbagai bujukan dan rayuan, akhirnya Riisa mendapat izin dari ibunya walaupun ia harus menerima berbagai syarat. Itu tidak masalah untuknya. Demi impiannya, ia rela mendapatkan syarat apapun.

Riisa mulai melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya. Suasana mencekam langsung terasa saat ia menatap sekeliling taman yang sepertinya sudah lama tidak terurus. Tanaman merambat mulai memenuhi salah satu bagian tembok rumah. Begitu juga dengan tanaman liar lainnya. Membuatnya sedikit merinding.

“Pantas saja murah. Kalau tempatnya seperti ini, siapa yang mau menyewa?” gumam Riisa.

Ia mempercepat langkahnya untuk masuk. Ia tidak ingin berlama-lama merasa ketakutan.

“Sumimasen..” sahut Riisa sedikit berteriak sambil mengetuk pintu berkali-kali.

Tidak ada jawaban dari dalam rumah.

“Sumimasen..” seru Riisa lagi.

Tak berapa lama, perlahan pintu mulai terbuka sedikit dan dari sela pintu, muncul kepala seseorang dengan penampilan aneh .

“Waaaa~,” seru Riisa kaget. Ia baru saja melihat ada seorang perempuan dengan rambut yang sangat berantakan dan bahkan menutupi matanya.

“Mencari siapa?” tanya perempuan itu dengan suara sedikit serak.

Riisa mengerjapkan matanya dan ia tersadar kalau perempuan itu bertanya padanya. “Anou..aku mencari Opi Yamashita pemilik rumah ini.”

“Kau…Yanagi Riisa?”

Riisa mengangguk pelan.

Pintu itu lalu terbuka lebar. “Masuklah…” perempuan misterius itu mempersilahkan Riisa masuk.

Awalnya Riisa ragu dengan tawaran perempuan itu, tapi keraguannya menghilang saat ia melihat isi rumah itu yang sangat berbeda dengan keadaan luarnya. Sangat rapi dan bersih.

“Jadi kau yang akan menyewa kamar di sini?” tanya perempuan itu lagi.

“Hai.” Riisa menatap berkeliling rumah itu. Sungguh ajaib.

“Anou..apa saya bisa bertemu dengan Yamashita-san?” Riisa mengulang pertanyannya lagi. Ia tidak akan tenang sebelum ia bertemu dengan pemilik rumah itu.

“Aku..” ucap perempuan itu tiba-tiba.

“He?”

“Aku Opi Yamashita. Yoroshiku..” perempuan yang bernama Opi Yamashita itu menunduk lemas.

“HEEEEEEEEEEEEEE~.”

==========

“Kenapa aku harus terdampar di rumah ini?” gerutu Saifu kesal.

Ia menatap rumah yang jauh dari kata layak yang ada di hadapannya. Ini benar-benar mimpi buruk.

“Aku tidak mau tinggal di rumah seperti ini..” rengek Saifu nelangsa. Nona muda sepertinya tidak mungkin tinggal di
rumah yang lebih mirip rumah anjingnya. Bahkan sepertinya rumah anjingnya masih lebih baik. Meskipun rumah itu terlihat besar, tapi keadaannya tidak meyakinkan setelah ia melihat bagian pekarangan rumahnya.

“Tapi aku harus tahan, “ ucap Saifu tegas. “Aku akan terima tantangan Papa dan Mama. Siapa takut kalau harus tinggal sendiri di Jepang sementara mereka ke Amerika?”

Saifu Suzuki. Nona muda yang mengalami kemalangan karena harus ditinggalkan orang tuanya ke luar negeri. Ini bukan tanpa alasan. Orang tuanya tidak mungkin mengajak Saifu ikut pindah karena sekolahnya yang masih tersisa 1 tahun lagi. Orang tuanya menyarankan agar ia lulus SMA di Jepang dan boleh ikut ke Amerika kalau dia sudah lulus. Tapi ia tidak bisa tinggal di rumahnya karena rumah terdahulunya sudah dijual. Sebagai gantinya, Saifu harus tinggal di sebuah tempat kost yang jaraknya tidak jauh dari ia bersekolah.

“Tapi tidak harus tinggal di tempat seperti ini juga kan?” keluh Saifu sebal.

Saifu berlari cepat menuju pintu untuk menghindari suasana menyeramkan yang ditimbulkan oleh keadaan di sekitar rumah tersebut. Rumah ini benar-benar bagaikan rumah hantu.

Belum sempat Saifu mengetuk pintu, tiba-tiba pintu dihadapannya terbuka dan muncul seorang perempuan menyeramkan dengan rambut yang menutupi hampir setengah wajahnya dan baju dress panjang yang agak lusuh.

“Kyaaaaaaaa~,” Saifu berteriak keras. Secara refleks ia mundur beberapa langkah.

“Ck..ribut sekali sih,” ucap perempuan aneh itu sambil menggaruk kepalanya. “Mencari siapa?” tanyanya kasar.

Saifu berhenti berteriak. Ia lalu merapikan bajunya dan mengembalikan kewibawaannya sebagai nona muda.

“Aku Saifu Suzuki. Aku yang sudah menyewa kamar di sini,” kata Saifu dengan gayanya yang angkuh.

“Hmm? Saifu Suzuki? Oh….Suzuki. Masuk saja ke dalam,” perempuan itu menyuruh Saifu untuk masuk.

Gadis itu sedikit tidak menyukai perempuan aneh itu. Untuk pertama kalinya ia diperintah seperti itu.

Saifu menarik kopernya dengan kasar. “Kamarku dimana?” tanyanya tanpa basi-basi.

“Di lantai 2 kamar ke 3,” jawab perempuan itu singkat.

“Oia,” Saifu berhenti melangkah. “Siapa namamu?”

Perempuan itu menatap Saifu sebentar lalu menjawab,”Namaku Opi Yamashita. Aku pemilik rumah ini.”

==========

Din melangkah dengan girang. Ia baru saja mendapatkan gajinya. Dengan begini ia tidak perlu memikirkan besok harus makan apa. Ia bisa makan apa saja selama uang ada di tangannya.

Tepat saat ia menikmati kesenangannya, ponselnya tiba-tiba bergetar dan ternyata ada panggilan masuk.

“Moshi-moshi? Hai? Besok? Tentu saja aku bisa. Hai..Hai..arigatou.”

Din menutup ponselnya dengan cepat lalu berteriak,”Yatta..besok aku lembur. Dengan begini gajiku bulan depan akan naik,” gumamnya senang.

Ikuta Din. Gadis yang sebenarnya manis, tapi kehidupan yang sulit membuatnya tidak mengurus dirinya. Baju yang seadaanya dan tas lusuh tanda sudah dipakai berkali-kali.

Dalam sehari ia bisa bekerja part time di 3 tempat yang berbeda. Bahkan di hari libur. Ia bisa seharian penuh melakukan kerja part time.

Din yang berjalan riang, lalu berbelok di sebuah rumah besar tua yang menurut pendapat orang adalah rumah hantu. Tapi bagi Din, rumah ini bukan rumah hantu. Tapi rumah ini adalah surga untuknya.

“Tadaimaaaaa~,” seru Din begitu ia masuk ke dalam rumah.

Tidak ada jawaban apapun. Tapi ia mendengar ada suara ribut dari arah dapur.

“Are? Siapa kamu?”

Din melihat ada seorang gadis berambut sebahu setelah ia berada di dapur. Gadis yang tidak ia kenal.

“Sumimasen..” gadis itu menunduk cepat. “Aku baru saja tinggal di sini hari ini. Yanagi Riisa desu,” kata gadis yang bernama Riisa itu.

“Ah…” Din teringat sesuatu. “Jadi kau penghuni baru di sini. Ikuta Din desu. Hajimemashite..” ucap Din.

“Ada apa sih? Bisakah tenang sedikit?”

Omelan itu keluar dari mulut seorang gadis dengan penampilan teraneh yang pernah ada di dunia. Dari pada di sebut manusia, gadis itu lebih mirip disebut hantu.

“Opi? Astaga…” seru Din kaget. “Apa yang terjadi dengan penampilanmu? Kau apakan rambutmu?” Din mengangkat rambut berantakan gadis yang bernama Opi itu.

Opi menepis tangan Din. “Jangan menyentuhku,” gerutunya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Opi pada Riisa.

“Anou..” Riisa terlihat kebingungan. “Aku hanya ingin membuatkan makanan. Karena aku tahu penghuni di sini bukan hanya aku, sebagai perkenalan aku ingin memasak makanan untuk kita malam ini.”

“Hounto? Ide bagus..” seru Din. “Aku sangat setuju. Tapi…..aku tidak harus mengeluarkan uang kan?” tambah Din.

“Tidak usah,” jawab Riisa cepat. “Malam ini aku yang teraktir.”

Din tersenyum lebar. “Itu yang kusuka.”

Opi mendelik malas dan terlihat tidak peduli.

“Terserah apa yang akan kau lakukan. Tapi jangan membuat keributan. Aku masih ingin tidur,” kata Opi lalu melengos pergi kembali ke kamarnya.

“Ikuta-san…”

“Panggil saja Din,” potong Din.

“Din-san,” ulang Riisa. “Sepertinya Opi-san tidak suka dengan keberadaanku.”

“Kita tepatnya,” ralat Din.

Riisa mengernyit bingung.

“Dia tidak mau tempat ini ada yang menghuni selain dia,” jelas Din.

“He? Nande? Kalau begitu kenapa tempat ini menjadi tempat kost? Bukankah dengan menjadikan tempat ini kost justru membuatnya semakin tidak suka?”

Din tidak menjawab pertanyaan Riisa. Dia hanya mengangkat bahu.

“Cari tahu saja sendiri,” jawabnya sambil tersenyum cuek. “Riisa-chan, panggil aku kalau sudah siap makanannya yah. Aku ingin mandi dulu.”

Riisa menatap punggung gadis yang bernama Din itu dan menebak akan terjadi sesuatu yang menarik di tempat tinggal barunya ini.

———–

Keputusan yang salah sudah membuat rumah ini menjadi sebuat tempat kost. Gadis berambut panjang dan berantakan itu berdecak kesal sejak tadi. Berharap mereka yang tinggal di sini akan pergi dengan sendirinya. Karena tentu saja ia tidak bisa mengusir mereka. Bisa-bisa ia dihantui setiap malam oleh neneknya.

“Kenapa obaa-chan harus mewariskan tempat ini untukku hanya untuk menjadikan tempat kost?” tanyanya lebih pada dirinya sendiri.

Di saat ia melamun, tiba-tiba pintunya terdengar ada yang mengetuk.

“Opichi…….makanan sudah siap.”

Itu suara Din, salah satu penghuni tempat itu.

“Aku tidak mau makan. Makan saja duluan,” teriaknya karena gadis yang bernama Opi itu tidak mau beranjak dari tempat tidurnya.

“Nande?” Din tiba-tiba membuka pintu kamar Opi tanpa permisi. “Kenapa kau tidak mau makan? Kau bisa sakit,” ucapnya cemas.

“Kenapa kau masuk tanpa seijinku?” tanya Opi sebal.

“Tapi aku kan sudah mengetuk pintu,” jawab Din santai.

Dia tidak menyukai Din. Selain cerewet, gadis itu selalu ingin dekat dengannya. Opi yang memang tidak suka dengan keributan, selalu berusaha menghindari Din. Tapi ternyata Din lebih gigih dari yang dia pikirkan.

Din adalah orang pertama yang menyewa kamar di tempatnya. Opi sudah akan menolaknya dengan memberikan berbagai macam kekurangan pada rumah itu. Tentu saja itu hanya akal-akalan Opi saja. Tapi justru Din semakin antusias dan ingin menempati kamar di rumah itu dengan alasan karena harganya murah. Opi kalah telak dan akhirnya menerima Din sebagai salah satu penghuni di rumahnya.

“Sudah berapa lama kau tidak keluar rumah?” tanya Din pelan sambil menatap Opi yang terbaring dan ditutupi dengan selimut.

Opi mengeluarkan jari telunjuk, tengah dan jari manisnya di sela-sela selimut.

“Tiga hari?”

“Tiga minggu,” ralat Opi.

“Astaga. Pantas saja penampilanmu tidak karuan. Bagaimana kau bisa mempunyai pacar kalau seperti ini?”

Opi menyibakkan selimut dengan kasar dan menatap tajam ke arah Din.

“Aku tidak membutuhkannya,” kata Opi tegas. “Aku mau tidur. Kalau tidak ada urusan lagi, kau bisa keluar.”

Din menurut. Kalau sudah seperti itu, dia tidak akan bisa melawan lagi. Din menebak, mungkin Opi memiliki pengalaman yang buruk tentang laki-laki. Terlihat dari reaksinya.

“Baiklah. Aku akan menyisakan makanan untukmu,” kata Din lalu keluar dari kamar Opi.

Opi tidak bermaksud untuk tidak ramah pada Din. Tapi suasana hatinya sedang tidak bagus. Apalagi kata-kata Din tadi mengingatkan dirinya pada laki-laki yang sudah membuatnya trauma berkepanjangan.

———

Saifu sedikit kesal pagi ini. Penyebabnya adalah karena tempat tinggal barunya. Karena ia sudah tinggal sendiri, ia harus mengerjakan semuanya sendiri. Tidak ada lagi pembantu yang menyiapkan bajunya, sarapannya bahkan mengantarnya.
Sekarang ia harus mengerjakan semuanya sendiri.

“Fu-chan…”

Saifu menoleh saat teman-temannya memanggilnya.

“Bagaimana tempat tinggal barunya?” tanya gadis berambut pendek.

“Pasti mewah dong..” Gadis berjepit menambahkan.

“Beruntung sekali tinggal di tempat mewah hanya untuk sendiri,” Gadis dengan rambut diikat ikut histeris.

Saifu mendelik. Ia tidak suka orang-orang menanyakannya. Tapi bukan Saifu Suzuki kalau tidak bisa menghadapinya.

“Tentu saja. Tempat yang menyenangkan.”

Itu semua bohong, batin Saifu. Mana ada tempat menyenangkan yang rumahnya sudah hampir dirambati tanaman?
Saifu tidak seharusnya berbohong. Tapi ia tidak ingin reputasinya jatuh hanya karena dirinya tinggal di sebuah rumah yang aneh seperti itu. Ia terpaksa.

“Ku dengar kau pindah rumah yah?” tanya seorang pemuda pada Saifu saat ia menyendiri di atap sekolah.

“Bukan urusanmu, Daiki.” Saifu tidak menatap pemuda itu. Tanpa dilihat pun ia tahu siapa yang berbicara dengannya.
Karena dia hapal dengan suara menyebalkan itu.

Daiki Arioka. Pemuda bertubuh pendek itu sebenarnya adalah senpainya yang sudah lulus. Tapi karena dia masih aktif di klub yang Saifu ikuti, pemuda itu masih datang ke sekolah hampir setiap hari.

“Aku kan hanya bertanya.”

Saifu dan Daiki tidak seakrab yang terlihat. Bisa dibilang mereka selalu bertengkar untuk urusan sekecil apapun. Saifu tidak menyukai Daiki yang selalu menggodanya. Ia menilai Daiki hanya mempermainkannya karena Daiki juga menggoda setiap anak perempuan yang lainnya. Itu yang membuatnya kesal.

“Kalau kau datang ke sini hanya untuk menggangguku, lebih kau pergi saja,” ucap Saifu.

“Siapapun bisa datang ke sini. Jadi urusanku bukan hanya kau saja, Fu-chan.” Daiki tersenyum jahil pada Saifu. “Tapi hatiku tergerak saat melihat kau berwajah sedih seperti itu.”

Saifu mendelik malas. “Jangan memulai…”

“Apa kau perlu asupan energi tambahan dariku?” Daiki sudah merangkul di bahu Saifu dan bersiap untuk menciumnya.
Saifu yang sudah terbiasa dengan Daiki, menempelkan telapak tangannya di wajah Daiki dan mendorongnya agar menjauh.

“Jangan macam-macam,” gerutu Saifu lalu pergi meninggalkan Daiki. Ternyata ia memang membenci Daiki.

———

Riisa merasa dirinya sangat bersemangat saat melihat kampusnya. Ini impiannya sejak dulu. Meninggalkan kota kelahirannya dan dapat berkuliah di Tokyo. Siapa yang menyangka impiannya akan terwujud seperti ini?

Riisa berkeliling untuk mencari kelasnya. Tapi langkahnya terhenti saat bahunya tersenggol dengan bahu orang lain. Dengan sekejap, barang bawaannya jatuh berserakan di tanah.

“Aahhh~ gomenasai..” seru seorang pemuda yang menabraknya tadi sambil membereskan barang-barang milik Riisa dan milik pemuda itu.

“Daijoubu.” Riisa ikut membereskan barangnya yang berserakan.

“Ini..” pemuda itu menyerahkan barang yang sudah ia kumpulkan. “Maaf aku buru-buru. Sekali lagi maaf.”

Terburu-buru sekali. Seperti di kejar setan, batin Riisa.

Gadis itu tidak begitu memperdulikannya. Tapi tiba-tiba ia tersadar saat ponselnya tidak ada di antara tumpukan barangnya.

“He? Mana ponselku?”

Dengan panik Riisa kembali memeriksa barang-barangnya. Dan hasilnya tetap sama.

“Jangan-jangan…terbawa oleh orang tadi?”

Riisa ingin sekali mengejar orang tadi, tapi ia urungkan karena dirinya harus ke kelas. Jam kuliahnya sebentar lagi.
“Bagaimana ini?”

Di saat dirinya panik, tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah benda di dekat kakinya.

“Dompet siapa ini?”

Riisa membuka dompet itu dan melihat ada kartu identitas dari pemilik dompet tersebut.

Nakayama Yuma.

Riisa menatap foto yang terpampang di kartu itu. Dan ia sangat yakin, orang yang di foto itu adalah orang yang menabraknya tadi.

“Hmm…setidaknya aku mempunyai ini,” ucap Riisa sedikit lega.

———–

Din menatap lurus ke depan sambil tersenyum-senyum. Ia tidak menggubis panggilan temannya untuk lebih memperhatikan kuliahnya. Ia sendiri tidak menyadari jika dosennya sudah memperhatikan dirinya yang siap menerkam dengan omelan-omelan.

“Ikuta-san…apakah anda mengerti dengan yang saya katakan?” tanya dosen itu langsung dihadapan Din.

Din sedikit terlonjak melihat seseorang berdiri di depannya.

“Yamada-sensei,” Din hanya menyengir polos.

Dan setelah itu dengan suksesnya Din diberikan omelan-omelan yang sanggup membuat kepalanya berputar.

“Kau kenapa sih? Hanya orang bodoh yang tersenyum-senyum saat kuliah Yamada-sensei,” kata gadis berambut ikal yang biasa dipanggil Hikari.

Din masih saja tersenyum. “Kau tahu, tadi pagi aku mengobrol dengan Matsumoto-sensei. Dan dia bilang akan meminjam buku lagi hari ini,” cerita Din bersemangat.

Din memang menghabiskan waktu baito-nya di sebuah tempat peminjaman buku. Dia menyukainya karena dengan begitu ia bisa membaca buku-buku kesukaannya dengan gratis. Apalagi dengan ia bekerja di tempat itu, sangat membantu dalam mencari bahan kuliahnya.

“Souka. Pantas saja kau senyum-senyum dari tadi.”

Din menyengir. Sudah hampir 2 tahun Din mengagumi sosok dosennya tersebut. Pertemuan mereka pertama kali saat Matsumoto-sensei meminjam buku di tempat ia bekerja. Sejak saat itu, mereka kadang bertemu untuk mengobrol atau membicarakan buku-buku yang menarik.

“Din, kau dipanggil Tegoshi-sensei..” salah satu temannya memberitahunya.

“Hah? Lagi?”

Din malas berurusan dengan dosen yang satu ini. Karena Tegoshi-sensei, laporannya tidak pernah selesai karena dia harus mengulang terus menerus. Selalu saja ada yang salah. Padahal Din sudah berusaha memperbaikinya.

“Ada apa, Tegoshi-sensei?” tanya Din malas.

“Hari ini kau ada waktu?” tanya Tegoshi-sensei tanpa menatap Din karena ia disibukkan dengan mengerjakan sesuatu.

“Sepertinya ada,” jawab Din tidak yakin. “Jangan bilang sensei mau mengajakku kencan,” tebaknya.

Tegoshi-sensei yang sejak tadi menunduk lalu menatap Din tajam. “Kalau kau ada waktu untuk bercanda, sebaiknya gunakan waktu itu untuk memperbaiki laporanmu yang tidak pernah benar.”

Din menggerutu. Dosennya ini memang tidak mempunyai selera humor.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Mungkin itu dapat menjadi bahan bagus untuk laporanmu,” Tegoshi-sensei melanjutkan.

Din tidak menjawab. Jika ia membalas pun tidak ada gunanya. Tegoshi-sensei tidak menerima penolakan.

Din menunduk lemas. Kalau saja dosen pembimbingnya itu adalah Matsumoto-sensei.

————

“Sanae-san, aku pergi dulu. Mungkin akan pulang agak malam,” ucap Opi pada seorang wanita setengah baya yang sudah ia kenal sejak lama.

“Hai..”

“Ittekimasu..”

“Itterashai..”

Ini pertama kalinya Opi keluar rumah setelah 3 minggu berdiam diri di rumah. Matanya menyipit saat bertemu kembali dengan matahari. Kulitnya sedikit tidak nyaman karena sudah lama tidak tersentuh oleh sinar matahari.

Ia berjalan lemas menuju kampusnya. Sudah lama sekali ia tidak kuliah karena ia memang sedang malas. Sampai-sampai ia dihubungi oleh dosennya karena absennya yang sangat parah.

“Dari mana saja?” tanya Matsumoto-sensei dengan senyum yang sangat dipertanyakan.

“Dari rumah,” jawab Opi santai.

Matsumoto-san menahan tawa. “Maksudku, 3 minggu ini dari mana saja?”

“Di rumah saja. Aku tidak kemana pun.”

“Kau di rumah Obaa-chan?”

Opi mengangguk.

Matsumoto Jun. Pemuda tinggi dan tampan itu sebenarnya adalah sepupu Opi. Jun orang yang paling dekat dengannya.
Hanya pada Jun lah Opi selalu bercerita apapun. Kesenangannya, kesedihannya, keputus asaannya. Hanya Jun yang tahu.

“Gomenasai, kau yang harus mengurus rumah Obaa-chan sendirian,” ucap Jun menyesal.

Opi tersenyum. “Daijoubu. Tidak ada satu pun orang yang peduli dengan rumah itu. Hanya aku yang peduli. Lagian, obaa-chan memberikannya untukku.”

“Tapi kau tidak lupa kan kalau Obaa-chan yang menyuruhku untuk menjagamu,” tambah Jun.

Opi hanya tersenyum kembali. Ia tahu sepupunya itu yang dapat ia andalkan.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, ada seorang laki-laki yang memanggil Jun dari jauh. Jun menoleh dan hanya mengangkat tangan saja.

“Aku mencarimu. Katanya mau ke toko buku. Eh…” laki-laki itu menyadari kehadiran Opi di dekat Jun. “Opi? Kau kemana saja? Kau tidak apa-apa kan? Tidak sakit kan?”

Mendengar laki-laki itu mencemaskannya, Opi hanya tersenyum simpul.

“Aku tidak apa-apa, Sakurai-sensei. Hanya perlu suasana baru,” jawabnya.

“Souka.” Laki-laki yang bernama Sakurai itu mengangguk. “Kalau ada apa-apa, kau bilang saja padaku.”

Opi mengangguk. Ia sangat senang mendengarnya, tapi ia tidak pernah memperlihatkannya.

“Kau duluan saja. Nanti aku menyusul,” ucap Jun pada Sakurai.

“Baiklah. Ja ne, Opi.”

Opi melambaikan tangan lalu menatap sebal ke arah Jun yang sudah tertawa pelan.

“Kenapa tertawa?”

“Melihatmu akting seperti tadi, sungguh lucu,” jawab Jun. “Sampai kapan kau akan seperti ini? Kau menyukainya kan?”

Seperti yang dikatakan tadi, Jun tahu segala tentang Opi. Bahkan ia juga tahu bahwa dia sangat menyukai Sakurai-sensei sudah lama. Tapi tidak pernah sekalipun ia mengatakannya pada Sakurai-sensei. Ia bukan penakut sampai tidak berani mengatakannya. Tapi ia tidak enak karena Sakurai-sensei sudah mempunyai seorang kekasih.

“Sepertinya tidak akan pernah mengatakannya.”

“Tapi kau terlihat dekat dengannya.”

Jun memang peka dalam soal cinta.

“Walaupun dia dekat denganku, tapi dia tidak akan pernah bisa melihatku,” kata Opi lemas. Entah kenapa hatinya sangat sakit setelah mengatakan itu.

“Oia..kau bilang sedang mencari suasana baru kan?” ucap Jun memastikan.

“Hah?”

“Ayo..” Jun menarik tangan Opi. “Aku mempunyai sesuatu yang menarik agar suasana hatimu lebih baik.”

======

To Be Continued~
Sankyuu yang udah baca…Silahkan komen yah…ehehehhehe…
kalo aneh, jangan timpuk saya…
>,
komen ok?komen ok?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s