[Multichapter] My Lovely Petto (Story 8)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Multichapter~
Chapter     : Delapan
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *^^*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 8 ~

“Ahh…sudahlah, dia sudah terlanjur tahu ..”kata Daiki

Saifu menatap Daiki yang memandang keluar jendela, hatinya entah kenapa begitu sakit.

“Yang aku inginkan sekarang adalah cepat kembali ke dunia peri…” kata Daiki dengan suara pelan.

Saifu tak bisa berkomentar apapun setelah mendengar apa yang keluar dari mulut Daiki itu, satu hal yang ada difikirannya.

Saifu tak mau Daiki meninggalkannya dengan alasan apapun, dan dia tak tahu kenapa.

Saifu hanya tak sadar, atau belum sadar dengan apa yang sekarang terjadi dengan perasaannya.

==========
“Sudah kenyang?” tanya Hikaru memandang Din yang baru saja selesai makan.

Din mengangguk, “Anou… Hikaru-chan.. arigatou..” ucap Din pelan.

Mereka berada di apartemen milik Hikaru. Memutuskan untuk membawa makanan itu ke apartemen saja, karena sepertinya akan turun hujan, sementara Hikaru tidak bawa payung.

Hikaru tersenyum dan mengacak pelan rambut Din, “Kenapa kau bisa ada di halte tadi?” tanya sang pemuda yang kini duduk di sebelah Din.

Din menoleh, tak mau menjawab dan hanya memandangi Hikaru dengan mata membulat, menahan tangisnya.

“Ada masalah dengan Yuya?” tanya Hikaru lagi.

Akhirnya gadis itu mengangguk, air matanya kembali meleleh. Hikaru dengan cepat menghapus air mata itu, “Sudahlah…nanti aku bicara dengan Yuya… kau lelah?”

Din tak menjawab lagi. Ia tahu jika ia mengeluarkan suara, pasti air matanya akan tambah deras mengalir, ia bisa menangis meraung – raung.

“Sebentar…”

Tak lama Hikaru kembali dengan membawa piyama dan handuk, “Kau mandi dulu saja… aku masih punya persediaan sikat gigi di lemari… setelah itu pakai saja ini… oke?”

Gadis itu hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang Hikaru katakan. Ia pun masuk ke kamar mandi. Di dalam pikirannya masih terbayang wajah marah Yuya pagi ini. Sambil berendam di dalam ofuro, segalanya menjadi sangat sesak, ia menangis lagi untuk alasan yang ia sendiri bingung, tapi ia tak mau Yuya marah padanya.
===========

“Saifu..”

Saifu tersentak, tersadar dari lamunannya. Dia menatap Ryutaro yang kini berdiri di depannya, lalu duduk disampingnya sambil menyodorkan sekotak susu strawberry di depannya yang langsung diterimanya.

“Kenapa melamun?” tanya Ryutaro sambil menatap Saifu, gadis itu menunduk dan menggeleng pelan.

“Daijobu…”

Hari minggu, Ryutaro mengajak Saifu berjalan –jalan. Daiki tak ikut dan juga tak mau ikut. Daiki sedikit berubah setelah kejadian waktu itu dan setelah Ryutaro tau identitas aslinya.

“Memikirkan Daiki?” tebak Ryutaro sambil menatap Saifu dengan tatapan yang intens, seolah ingin menginterogasi Saifu, Ryutaro begitu terganggu melihat Saifu melamun dan kemungkinan besar dia memikirkan Daiki.

“Tidak kok..”jawab Saifu sambil tersenyum.

“Lalu kau memikirkan apa?” tanya Ryutaro lagi.

Saifu menggeleng, meminum susu strawberrynya, “Aku tak memikirkan apapun..” Saifu berfikir sebentar, “Kita mau kemana?” tanya Saifu

“Kau ingin kemana?” Ryutaro balik bertanya.

Saifu tampak berfikir, “Terserah kau saja, kau yang mengajakku pergi kan?” kata Saifu.

“Hmm..” Ryutaro menimbang nimbang, “Baiklah..ayo..” Ryutaro bangkit sambil menarik tangan Saifu.

Saifu tersenyum mengikuti Ryutaro tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi Daiki mengawasi mereka dari jauh.

“Sebentar lagi nampaknya aku harus kembali ke dunia peri..” gumamnya pelan sambil menyenderkan tubuhnya ditembok.

===========

Yuya datang ke kampus dengan mata panda, lingkaran hitam menghiasi kedua matanya. Ia tak bisa tidur semalaman karena khawatir akan keberadaan Din. Daiki juga tak bisa membantu banyak karena Din sama sekali tak mau menjawab sambungan batin dari Daiki.

Ini memang hari minggu, tapi karena ia harus mengerjakan proyek filmnya, ia harus tetap berangkat ke kampus.

Total sudah dua hari Din tak lagi berada di rumahnya.

Hikaru menghampiri sosok Yuya yang duduk di taman kampus.

“Ohayou!!” sapa Hikaru.

Ia sendiri tak menyangka dengan apa yang diceritakan Din semalam. Sambil menangis gadis itu menceritakan segalanya. Ia suka pada peri cinta? Tapi peri cinta itu menyukai sahabatnya? Ada cerita yang lebih aneh dari ini?

“Kau kenapa begitu lemas? Ada yang salah?” tanya Hikaru, Din memintanya untuk tidak menceritakan apapun pada Yuya.

Yuya hanya menatap Hikaru malas, “Kalau kucingmu melarikan diri, apa dia akan kembali lagi?” tanya Yuya tiba – tiba.

Kucing yang Yuya maksud pasti maksudnya adalah Din.

“Tergantung…”

“Maksudmu?”

“Tergantung kenapa ia kabur darimu… ia bisa saja pulang…atau tidak akan pulang lagi…”

“Kalau aku…mengusirnya?”

“Ia akan kembali jika ia merasa pemiliknya sudah tidak marah lagi…” kata Hikaru memancing tanggapan Yuya.

Yuya menghembuskan nafas berat, “Aku sudah tak marah padanya…”

“Memangnya kau punya peliharaan?”

“Maa… begitulah…” Yuya menjawab canggung.

“Sebentar…sambil menunggu yang lain, aku mau ke gedung sebelah dulu…” ucap Hikaru segera berdiri dan meninggalkan Yuya. Din sudah bisa pulang sekarang, pikir Hikaru.

“Ohayou… Yuya-senpai…” sapa seseorang.

Yuya menoleh, ternyata sosok Aiko yang menghampirinya, “Ohayou…” jawab Yuya pelan.

Aiko duduk di sebelah Yuya, “Sepertinya senpai kurang tidur ya?” tanya Aiko memandang mata Yuya yang menghitam itu.

“Maa ne..”

“Yang lain belum datang?” tanya Aiko mengalihkan pembicaraan.

Yuya hanya menggeleng, “Hikaru tadi pergi dulu…” jawabnya.

“Sou ne…”

“Apa yang kau lakukan hari minggu seperti ini?” Yuya seakan baru sadar gadis itu harusnya libur.

“Aku tadi ada urusan di perpustakaan…” kata Aiko sambil menunjuk arah Perpustakaan, “Tapi lalu aku melihat senpai ada di sini…”

“Hmmm…” Yuya hanya mengangguk – angguk.

Aiko mengedarkan pandangannya, suasana kampus memang sedikit lebih tenang dari hari biasa. Hanya beberapa orang lalu lalang di sekitar mereka. Ia melihatnya sebagai kesempatan.

“Yuya-senpai…” panggil Aiko pelan.

“Apa?” tanya Yuya masih memandang ke depan, mengirimkan isyarat putus asa di dalam benaknya sendiri.

Aiko tiba – tiba berdiri, dan dengan gerakan cepat Aiko menunduk lalu menyentuhkan bibirnya di bibir Yuya.

Tak butuh lama, Yuya mendorong pelan, “Aiko….” ucap pemuda itu kaget.

“Suki desu….” kata Aiko.

Kali ini Yuya tak menolak ciuman Aiko, ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana? Gadis yang selama ini menjadi obsesinya menyatakan perasaan padanya, tapi sebagian hatinya tidak begitu menikmati perasaan itu.

=============

“Saifu..jangan jauh –jauh dariku..” kata Ryutaro sambil mengenggam tangan Saifu erat, Saifu mendongak menatap Ryutaro. Ia jadi ingat, dulu tangan Daiki yang selalu mengenggam tangannya erat agar tak terpisah dikeramaian seperti sekarang ini, tapi sekarang malah tangan Ryutaro yang mengenggam tangannya.

“Kenapa melamun lagi?”

Suara Ryutaro menayadarkan Saifu dari lamunannya, lagi.

“Eh? Daijobu Ryutaro-kun..” gumam Saifu pelan.

Ryutaro berdecak pelan,mempererat genggaman tangannya ditangan Saifu.

“Ryutaro-kun?” Saifu merasa tangannya sedikit sakit karena digenggam dengan erat oleh Ryutaro.

“Jangan melamun lagi…aku tau siapa yang kau fikirkan dari tadi,” Ryutaro menatap Saifu.

“Eh?”

“Dia hanya peri cintamu kan?” tanya Ryutaro.

“Tapi..”

“Tapi kau menyukainya?” pertanyaan Ryutaro entah kenapa terasa lebih menghakimi, pemuda itu menatap Saifu, “Iya kan??”

“Bukan begitu..” Saifu menunduk, “Aku hanya…”

Ryutaro memeluk Saifu tiba-tiba, memeluk tubuh Saifu erat ditengah jalanan kota Tokyo yang ramai di hari minggu. Beberapa orang memperhatikan mereka berdua.

“Ryutaro-kun..” Saifu merasa sedikit risih diperhatikan oleh orang-orang, namun sepertinya Ryutaro tidak peduli.

“Saifu…aku menyukaimu..” gumam Ryutaro .

“Eh??” Saifu tercekat, tak pernah menyangka Ryutaro akan mengatakan hal itu padanya, harusnya dia senang mendengar hal ini dari Ryutaro.

Tapi entah kenapa, dia tak merasakan apapun saat Ryutaro mengatakan bahwa dia menyukai Saifu.

“Saifu..” Ryutaro menatap Saifu.

“Aku…”

Saifu bingung ingin mengatakan apa.

Belum sempat berbicara apapun lagi, Saifu hanya bisa terdiam karena kini bibir Ryutaro sudah menempel dibibirnya.

Daiki mengigit bibirnya kuat-kuat, hatinya sakit menatap apa yang dilihatnya sekarang. Saifu dan Ryutaro berciuman.

Tugas Daiki sudah selesai, setidaknya itu yang ada difikiran Daiki saat ini.

Daiki tersenyum getir, lalu berbalik pergi .

Berusaha menutupi wajahnya dengan topi yang kini dipakainya, topi pemberian Saifu.

Topi yang kini membantunya menyembunyikan air matanya yang terus mengalir dari mata indahnya itu.

“Tadaima..” Saifu bergumam pelan saat masuk ke kamarnya.

Namun tak ada jawaban dari anjing kecilnya, Saifu menghela nafas pelan.

“Daiki?” Saifu mencoba memanggil Daiki, namun tak ada yang menjawab.

Saifu menatap meja kecilnya, makanan yang tadi siang ditaruhnya untuk Daiki tak disentuh sama sekali.

“Dia..kemana?” gumam Saifu pelan, gadis itu menemukan sebuah kertas di meja kecil.

Saifu mengambilnya, dari Daiki.

Saifu へ

Fu-chan , aku pergi
Hanya ingin jalan-jalan di kota sebelum aku benar-benar kembali ke dunia peri
Jangan cemas ya…
^.^

-Daiki-

Saifu tersenyum getir, padahal dia begitu merindukan Daiki, walau hanya tak bertemu seharian. Padahal begitu pulang, orang yang paling ingin dilihatnya adalah Daiki, mendengarkan semua ocehannya, membelikannya pocky yang banyak karena setiap kali memakan cemilan itu wajahnya terlihat begitu manis. Namun kini dia hanya bisa tersenyum getir, karena sebentar lagi dia tak akan bisa melakukan itu semua lagi.

“Hiks..”

Saifu mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, entah kenapa dia menangis. Cairan bening itu berlomba-lomba keluar dari matanya dengan derasnya.

“Daiki..” gumam Saifu pelan sambil melihat keluar jendela, menatap satu bintang yang ada dilangit malam yang begitu gelap malam ini.

==============

Daiki mendongakkan kepalanya menatap bintang sambil duduk di sebuah ayunan yang ada di taman, sebatang pocky menempel dimulutnya, seiring dengan suara biskuit pocky yang dikunyah dan menjadi semakin pendek dimakan pemuda manis itu.

Dia harus kembali sebentar lagi, kembali dengan meninggalkan sesuatu.

Meninggalkkan perasaannya untuk Saifu yang mustahil itu.

Daiki tersenyum getir, “Kenapa..aku adalah peri? Tak bisakah..aku dilahirkan sebagai manusia biasa saja?” Daiki menunduk “Kami-sama…?”

“Tak bisa… ini sudah takdir kita…”

Daiki menoleh kaget, “Dinchaannn!!” tanpa berkata apa – apa lagi Daiki memeluk Din erat.

“Kau kemana saja?” tanya Daiki, “Kau tak menjawab panggilanku?!!” seru pemuda itu marah.

“Maaf Dai-chan… aku ada sedikit urusan,”

Din tak bisa menceritakan bagaimana ia bertemu Hikaru, setelah itu ia pergi menemui Aiko, membujuk Aiko agar bisa bersama Yuya.

“Kau sudah dengar kabar dari dunia peri?” tanya Din ketika mereka kembali duduk di bangku itu.

Daiki menggeleng, “Aku membiarkan koneksiku mati seharian ini,” ucap pemuda itu sambil menunduk.

“Aku sudah dihubungi…kita bisa pulang sebentar lagi… katanya tugas kita sudah selesai….kita berhasil dan bisa menjadi peri biasa lagi…” ucap Din.

Daiki memandang Din, “Benarkah? Kau senang?” tanya pemuda itu dengan ekspresi kesedihan yang sangat tampak.

Din menatap Daiki lama, “Aku masih bertengkar dengan Yuya-chan…” kini air mata itu kembali mengalir. Ia tak pernah menangis sesering ini sebelumnya.

Daiki tahu sejak tadi Din menahan air matanya. Ia sudah terlalu lama bersama Din, selalu berbagi apapun bersama. Daiki menarik Din ke dalam pelukannya, gadis itu membenamkan kepalanya di dada bidang Daiki, menumpahkan segalanya.

Titik demi titik salju turun, beberapa jatuh di kepala kedua peri itu. Daiki hanya menatap benda benda putih yang turun dari langit tersebut. Din juga tak rela meninggalkan Yuya, Daiki sudah menyadarinya sejak ia bertemu dengan Yuya dan Din di Kyoto tempo hari.

Sementara itu Saifu menatap keluar jendela sambil berbaring ditempat tidurnya.

Salju turun dengan lebat.

“Semoga…Daiki memakai pakaian yang hangat” gumamnya pelan, lalu berusaha memejamkan matanya.

===============
“Kau harus berbaikan sebelum kau pergi…” ucap Daiki yang membawa Din ke rumah keluarga Takaki.

Din mengangguk.

Ia mengetuk pintu di hadapannya dengan Daiki menungguinya di belakang, “Kau akan baik – baik saja…” bisik Daiki lagi ketika Din kembali menoleh menatap partnernya itu.

Pintu terbuka, Yuya tertegun melihat sosok Din di depan pintunya.

Untuk beberapa detik keduanya hanya saling menatap. Yuya tak percaya ia benar – benar melihat Din.

“Master…” panggil Din, menyadarkan Yuya kalau itu memang Din.

Kata – kata seakan tak lagi bisa mengutarakan perasaan lega yang dirasakan Yuya sekarang. Seolah hanya pelukan yang bisa mewakilkan segalanya. Ia memeluk Din erat, tak mampu mengatakan apapun, terlalu sulit untuk ia ungkapkan semuanya.

“Anou… master…gak bisa nafas…” keluh Din.

“Gomen….” kata itu meluncur cepat, diteruskan dengan sebuah senyuman khas dari seorang Yuya.

============

“Saifu, cepat siap-siap, jangan lupa pakai syalmu. Dingin sekali diluar, temanmu sudah datang menjemput,” kata ibu yang sibuk menyiapkan bekal untuk Saifu.

Saifu buru-buru bersiap, lalu langsung menyambar kotak bentounya.

“Hei..Fu, siapa laki-laki itu??” tanya Yuya

Namun Saifu tak mengubris kakaknya itu, “Ittekimasu..” seru Saifu lalu langsung buru-buru pergi.

“Hei~!Saifu!” panggil Yuya lagi.

“Nii-chan berisik!” seru Saifu lalu menghilang di balik pintu rumahnya.

“Ryutaro-kun..gomen lama” ucap Saifu pelan sambil menghampiri Ryutaro yang berdiri di depan pagar rumahnya.

Ryutaro tersenyum menatap kekasihnya itu, “Daijobu…” kata Ryutaro lembut, lalu membetulkan syal Saifu yang sedikit berantakan karena gadis itu memakainya terburu –buru.

“Dingin sekali..jangan sampai kau sakit” kata Ryutaro, “Nah ikou..” kata Ryutaro lalu menggenggam tangan Saifu erat, berjalan menuju sekolah.

Tapi bukannya malah Ryutaro yang adalah kekasihnya yang dia fikirkan sekarang, dia malah memikirkan Daiki.

“Natal nanti mau kencan?” tanya Ryutaro tiba – tiba, membuyarkan lamunan Saifu.

“Eh?”

“Mau? Atau tidak? Atau mungkin kau punya acara lain?” tanya Ryutaro sambil menatap Saifu.

“Bukannya begitu..” Saifu menunduk, “Aku hanya belum pernah kencan saat natal..” kata Saifu sedikit malu.

Ryutaro terkekeh pelan, “Malam natal, kujemput jam 7 yah..” kata Ryutaro

Saifu mengangguk, tersenyum pada Ryutaro.

==========

24 desember

Daiki duduk ditepian kasur Saifu, gadis itu sedang mandi. Bersiap untuk kencan, Yuya sedari tadi sudah melarang Saifu untuk pergi tapi toh orang tuanya malah menyuruh Saifu untuk pergi.

“Saifu sudah besar ya..” ibu hanya berkomentar begitu, beda dengan Yuya yang melarang Saifu.

Daiki menunduk, hari ini hari terakhirnya bersama Saifu, namun dia belum mengatakan itu pada Saifu.

Saifu keluar dari kamar mandi, sudah dengan bajunya. Dia hanya tinggal mengeringkan rambutnya dan sedikit berdandan.

“Saifu…” panggil Daiki pelan.

“Ya? Kenapa?” tanya Saifu sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.

“Tidak..” Daiki merasa lebih baik Saifu tak tahu.

“Daiki..” Saifu mendekatkan dirinya ke Daiki, “Apa yang ingin kau katakan? Katakan saja..ne?” kata Saifu lembut.

Daiki mengehela nafas, “Maafkan aku…aku kembali hari ini… tepat jam dua belas malam nanti…” kata Daiki pelan.

“Ehh??”

Din menatap Yuya yang duduk membelakanginya, sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, sesekali melihat ke arah bundel kertas di sampingnya.

“Master…” panggil Din.

Malam ini seharusnya ia dan Daiki akan segera kembali ke dunia peri, begitulah yang dijanjikan oleh Raja mereka.

“Apa?” Yuya menghentikan kegiatannya, lalu membuka kaca matanya.

“Gak kencan dengan Aiko-chan? Ini…malam natal kan?” tanya Din masih duduk di kasur Yuya.

“Tidak… Aiko ada acara dengan keluarganya…” jawab Yuya, “Kenapa? Kau ingin aku pergi?”

Iya.

Ia ingin Yuya pergi sehingga ia tak perlu repot berpamitan, terlalu sedih rasanya.

“Hmmm..” Din menggembungkan pipinya.

“Ada beberapa undangan pesta sih… tapi aku banyak tugas, lagipula aku tak mood kemanapun…” jawab Yuya.

Tidak seperti biasa, tahun – tahun sebelumnya ia pasti keluar setiap malam Natal seperti ini, tapi tidak malam ini, lagipula Band nya manggung esok hari, jadi hari ini ia berfikir untuk bersama Din saja, sambil menyicil tugasnya yang menumpuk.

“Master…” panggil Din lagi.

“Hmm?”

“Kalau aku kembali ke dunia peri… apa Master akan melupakanku?”

Yuya kaget dan menghampiri Din, “Apa maksudmu?!”

“Karena tugasku sudah selesai… masa hukumanku sudah berakhir, aku harus kembali ke sana…”

“Itu dimana? Aku bisa kesana juga?” tanya Yuya.

Din menggeleng, “Dunia itu tak terlihat oleh manusia…” ucapnya pelan.

“Kapan kau pulang?”

Din menatap Yuya lama, “Malam ini…tepat jam dua belas malam…”

Mata Yuya segera menatap ke arah jam dinding di kamarnya, waktunya kurang dari empat jam lagi.

Wajah Yuya berubah panik, “Kenapa kau baru bilang sekarang??!!” seru Yuya.

Air mata Din mengalir, “Aku tak mau memberi tahu master…sebenarnya…” kata Din sambil menghapus air matanya, ia tak mau cengeng di hadapan Yuya.

“Jangan pergi…” Yuya mengusap air mata Din, menatap gadis itu lama.

Din menggeleng, air matanya malah jadi semakin deras mengalir.

“Kenapa kau terus melihat jam tanganmu?” tanya Ryutaro, mereka sedang kencan namun sedari tadi Saifu nampak gelisah dan terus melihat jam tangannya.

“Tak apa…” kata Saifu pelan, bagaimana dia tak gelisah? Daiki akan pergi malam ini dan dia mungkin tak akan pernah melihatnya lagi.

“Saifu..”Ryutaro melepaskan genggaman tangannya ditangan Saifu.

Saifu menatap Ryutaro, dia tahu Ryutaro marah, dia tahu dari tatapan Ryutaro kini.

“Sebenarnya ada apa??” tanya Ryutaro.

Saifu mengigit bibir bawahnya, “Daiki..dia akan pergi malam ini… kembali ke dunia peri…” Saifu mulai menangis, “Aku…”

Ryutaro memandang gadisnya yang terlihat panik itu.

“Lalu kau mau mengantarnya?”

Saifu memandang bingung ke arah Ryutaro, ia tak yakin apa yang harus ia katakan pada kekasihnya itu. Ini kencan malam Natal yang pertama untuk mereka berdua.

Ryutaro tak berkata apapun lagi, lalu menarik Saifu cepat.

“Ryuu….” ucap Saifu lirih.

Ternyata Ryutaro membawa Saifu ke sebuah halte, ia menatap jadwal bus di tempat itu, “Lima menit lagi ada bus ke dekat rumahmu…” gumam pemuda itu.

“Ryuu…apa maksudnya ini?”

Sang pemuda yang ditanya sama sekali tak menjawab.

Ketika bus itu datang, Ryutaro mendorong pelan bahu Saifu, “Pergilah… kau ingin pamitan dengan Daiki kan?”

Saifu memandang Ryutaro dengan bingung, “Tapi…”

“Tapi… aku akan menunggumu… Takaki Saifu…”

“Ryuu…”

Ryutaro tersenyum menatap Saifu yang semakin menjauh dengan bisnya.

“Daiki!!!” Saifu langsung memanggil nama Daiki begitu dia masuk ke kamarnya, namun dia tak menemukan sosok pemuda itu.

Lutut Saifu lemas, “Kenapa kau sudah pergi?!” ucap Saifu lirih sambil menangis, Saifu terisak kuat, “Kau bohong? Katanya jam dua belas?!” isaknya lagi.

Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Daiki pergi.

“Daiki..” gumamnya lagi.

“Saifu??”

Saifu mendongak menatap Daiki yang ada dihadapannya, menatapnya cemas.

“Kenapa menangis?” tanya Daiki cemas.

“Daiki!!!” Saifu memeluk Daiki erat.

“Eh? Kenapa??” tanya Daiki bingung.

“Cinta..”

“Eh??”

“Aku mencintaimu, jangan pergi” isak Saifu sambil memeluk Daiki.

Saifu kaget dengan apa yang ia katakan. Apa ini perasaannya yang sebenarnya?

Daiki entah harus senang atau sedih, dia tak bisa berbuat apapun. Dia harus pergi sekarang.

Selama dua jam itu, keduanya tak saling bicara lagi, hanya sebuah genggaman tangan dari Daiki dan air mata Saifu yang terus mengalir. Selebihnya ruangan itu hening, keduanya tak punya kata – kata untuk melukiskan segala perasaan yang kini mereka rasakan.

“Arigatou Fu..” akhirnya hanya itu yang bisa diucapkan Daiki.

“Daiki tetaplah bersamaku..” pinta Saifu sambil terisak-isak.

Daiki ingin.

Tapi dia tak bisa.

“Maafkan aku..”

Daiki memakaikan sesuatu ke leher Saifu, sebuah kalung dengan bandul sebelah sayap peri.

“Hadiah natal untukmu….”

Daiki mendekatkan wajahnya ke wajah Saifu, menempelkan bibirnya ke bibir Saifu, gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Daiki .

Mereka berciuman lama, Daiki tak pernah merasa sebahagia ini, namun juga tak pernah merasakan sesedih ini. Mereka tak mungkin bisa bersama.

Daiki melepaskan ciumannya, Saifu menatap Daiki.

“Jaga dirimu baik – baik,” Daiki tersenyum, mencium kedua pipi Saifu lembut, dahinya lalu mengecup bibir Saifu pelan, “Aku juga mencintaimu..” pengakuan itu meluncur mulus dari mulut Daiki.

Daiki tersenyum sebelum akhirnya tubuhnya menghilang di depan Saifu yang terus menatap ke langit malam itu.

Yuya memeluk Din, keduanya berbaring, berbagi di kasur milik Yuya. Din merasakan hangat tubuh Yuya yang memeluknya dengan sikap protektif. Keduanya berbincang seolah Din tidak akan kemana – mana, akan selalu disini.

“Jadi, impianmu kencan di taman bermain?”

“Aku melihat sebuah brosur tentang taman bermain…sepertinya mengasyikan…” ucap Din.

“Un… nanti kita kesana ya…” Yuya sedari tadi terus menoleh ke arah jam dinding, tak rela Din akan segera pergi.

Waktunya kurang dari lima menit lagi, Yuya semakin erat memeluknya.

“Master… sesak…” ucap Din.

“Gomen…” ia tak pernah jadi cengeng seperti ini, tapi air matanya tak mau kompromi dengan rasa gengsinya.

“Kenapa nangis?” tanya Din bingung.

“Jangan pergi… jangan pergi…” ucap Yuya.

“Kenapa? Master kan sudah punya Aiko-chan…”

Yuya menghapus air matanya, “Aku mau kamu…” kini Yuya jadi egois, tapi ia tak peduli lagi. Perasaannya meluap – luap.

“Eh?”

Yuya tak lagi berkata apapun, mengecup pelan dahi gadis itu.

“Yuya-chan…”

Pemuda itu masih memeluk Din erat, seakan tak mau gadis itu pergi.

Din merasa tubuhnya semakin ringan, ia berbisik pelan, “Sayonara… Yuya-chan,”

Yuya memeluk ruang kosong, Din sudah benar – benar pergi. Ia belum sempat mengatakan satu hal, bahwa ia, jatuh cinta pada Din, kini ia menyadarinya, setelah gadis itu pergi.

=============

To Be Continued~

Hehehe~
Chapter ini ceritanya begini…aneh gak sih??hahaha~
Terutama bagian YuyaDin… LOL
Well, well… kami sudah berusaha…semoga pada suka aja.. XP
COMMENTS ARE LOVE…
Please leave some comments after you read this… 🙂
That’s precious for us..
🙂


Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 8)

  1. dinchan

    @lisa : kalo ada ff q, ol aja say… #Plakk #maksa yeee~ sankyu…

    @thalia : jangan nangis neng… cup cup~ 😛

    @tsuza : waaah~ sankyu.. 🙂 siip…ditunggu aja…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s