[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 5) ~Love at First Kiss~

Title        : Jumping To My Heart ~Love at First Kiss~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter
Chapter     : Five ^^
Genre        : Romance *yeah~ right!! LOL*
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Morimoto Ryutaro (HSJ), Sugawara Ichiko (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Morimoto Ryutaro is belong to Johnny’s & Association, Sugawara Ichiko is Ucii’s OC yang aku pinjam. Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Jumping To My Heart
~ Chapter 5 ~
~ Love at First Kiss ~

“Ichiko… sore ini kau ada pemotretan…” kata manajernya sambil kembali mencatat apa saja yang dibutuhkan artisnya itu.

“Wakatta…” Ichiko meluruskan badannya yang sedikit sakit karena terlalu banyak berlatih siang ini.

Sebagai pendatang baru, dirinya memang dituntut bekerja lebih keras dari orang lain.

“Hey!Say! JUMP akan mengeluarkan single baru?” Ichiko bergumam membaca berita yang ia dapat di dunia maya itu.

Deg.

Mendengar nama boyband itu membuatnya sedikit malas. Salah seorang membernya adalah temannya. Tepatnya orang yang paling ia benci hingga sekarang.

“Oh iya… ada tawaran main dorama… kau mau ambil?” tanya manajernya lalu duduk di sebelah Ichiko.

“Hmmm..kenapa tidak?” gumam Ichiko.

“Aku akan rapat dengan pihak PH, setelah itu kau harus audisi..mengerti?”

Ichiko hanya mengangguk pelan.

“Pemeran utamanya katanya Ryutaro Morimoto dari Hey!Say!JUMP..”

Hah?

Ichiko hendak menolak ketika manajernya sudah berlalu ke ruangan lain. Mana tahan ia bersama orang yang sudah merebut ciuman pertamanya itu?

Buruknya lagi, orang itu tak ingat ia pernah mencium Ichiko. Membuatnya marah saja.

==========

“Tadaima~”

Tak ada jawaban. Tak pernah ada jawaban sebenarnya. Ichiko tahu, tapi itu hanya ritual yang biasa ia lakukan setiap pulang ke rumah.

Rumah bergaya Eropa itu benar – benar hening. Segalanya terlihat indah, semua perabotan menunjukkan ini rumah berkelas, tapi satu yang tak pernah ada, canda tawa dan hangatnya sebuah keluarga.

“Maaf Ichiko-sama…tadi saya dari belakang…” seseorang yang berbaju pelayan menghampiri Ichiko yang masih ada di pintu masuk.

Gadis itu hanya tertawa pahit, lalu menyerahkan tasnya pada pelayan itu.

“Aku mau makananku malam ini di antar ke kamar…” kata Ichiko sambil berlalu masuk ke kamarnya di lantai dua.

Karena bosan, Ichiko memutuskan untuk menyalakan TV setelah ia berganti baju. Hari ini memang jadwalnya tidak begitu padat.

Sebuah iklan muncul membuat Ichiko kembali mematikan TV nya. Sosok yang ia hindari muncul bagaikan hantu. Ia tak suka melihatnya. Segala yang ia kerjakan sekarang adalah karena orang itu, Ibunya.

Ya, mungkin ia Ibu biologisnya, yang memberikan dia tempat yang nyaman ini, tapi sejak kecil Ichiko bahkan lupa rasanya dipeluk oleh seorang Ibu.

Sugawara Ryouko. Cantik, berbakat, penyanyi sekaligus aktris terkenal. Siapa yang tak kenal dia? Pada umur Ichiko yang ke lima, Ayah dan Ibunya bercerai, namun sejak itu Ibunya sangat sibuk bekerja dan melupakan kenyataan ia punya anak dengan laki – laki yang menceraikannya. Jika ada satu malam Ryouko pulang dan makan malam bersama Ichiko, tak ada kata – kata diantara mereka berdua. Layaknya musuh yang tak ingin saling menyapa.

Lamunan itu lama – lama membuat air mata Ichiko jatuh. Ia rindu sekali pada Ibunya, tapi ia tak berani menelepon atau menghubungi Ibunya. Ia juga terlalu gengsi untuk melakukannya.

Ponselnya tiba – tiba saja bergetar hebat. Ia menghapus air matanya dan segera mengangkat telepon itu.

“Halo?”

“Ichiko… audisimu lulus… dua hari lagi kita akan bertemu pemain lain… mengerti?” suara manajernya yang menyebalkan.

Ichiko malas menanggapi, “Hmmm…”

“Ayolah! Bersemangat sedikit!!” seru orang itu.

“Kan sudah kubilang aku tak mau bermain di dorama ini… apa kurang jelas?!” balas Ichiko kesal.

“Ini penting untuk perjalanan karirmu… jadi kau harus menurut dengan apa yang kuputuskan!!”

Ichiko menutup ponselnya.

Kembali tenggelam bersama air matanya. Ia tak pernah mau jadi artis atau model, atau penyanyi. Semuanya hanya karena Ibunya ingin ia menjadi seperti dirinya.

===========

“Maaf saya telat….”

Suara itu membuat Ichiko mendongak dan menatap Ryutaro yang baru saja datang. Pemuda itu menunduk karena merasa tak enak sudah datang terlambat di hari pertama.

Setelah pertengkaran dengan manajernya, akhirnya Ichiko benar – benar bermain di dorama itu. Walaupun Ichiko tak ingin, tapi karena ia baru saja terjun di dunia entertainment, maka penting untuknya mengambil dorama dengan sutradara bagus seperti sekarang.

Wajah Ichiko berubah sekejap setelah Ryutaro masuk ke ruangan itu. Sudah hampir tiga tahun mereka tak bertemu. Mungkin saja pemuda itu sudah benar – benar lupa pada Ichiko.

Agenda hari ini adalah pembacaan skrip bersama pemain lainnya untuk pertama kali.

Selama pembacaan skrip, baik Ichiko maupun Ryutaro harus banyak berinteraksi, karena keduanya akan banyak adegan bersama.

“Huah~ capeknya…” keluh Ichiko setelah hampir dua jam berada di ruangan yang sama dengan Ryutaro.

Ia memutuskan untuk keluar dan membeli jus di mesin penjual otomatis di lorong kantor tersebut.

“Hisashiburi da ne… Ichiko-chan…” sapa Ryutaro yang ternyata punya pikiran yang sama, yaitu membeli minuman diluar.

Ichiko hanya memandang Ryutaro dengan sinis, “Gak usah sok kenal…” katanya dengan nada kesal dan segera meninggalkan tempat itu.

Dahi Ryutaro mengerenyit. Seketika ia bingung kenapa adik kelasnya waktu SD itu begitu sinis kepadanya.

“Bukannya kita memang kenal? Kau Sugawara Ichiko kan?” tanya Ryutaro lagi, kini ia menuju ke mesin penjual otomatis.

Ichiko tak menjawab. Ia sedikit kaget karena ternyata pemuda itu masih mengingatnya.

“Maa ne…” Ichiko memutuskan untuk meninggalkan pemuda itu.

“Ichiko!!” panggil Ryutaro ketika Ichiko sudah menjauh.

Gadis itu menoleh untuk melihat Ryutaro.

“Yoroshiku Onegaishimasu!!” serunya.

Ichiko tak menjawab, masuk kembali ke ruangan sebelumnya.

-Flashback-

“Sumimasen….sumimasen…” Ichiko masuk ke ruangan UKS itu, tapi tak ada yang menjawab.

Lututnya berdarah karena tadi terjatuh. Tepatnya dibuat jatuh oleh teman – temannya.

“Ugh…”

Ichiko kaget mendengar suara itu, ia mengintip sedikit pada sebuah tirai yang ditutup.

“Eh?” seorang bocah laki – laki terbaring dengan kompres menempel pada keningnya. Tampaknya ia mengigau.

Ichiko menghampiri bocah itu karena terlihat kesakitan.

“Ah! Morimoto-senpai…” bisik Ichiko kaget dengan siapa yang dilihatnya.

Setahu Ichiko, senpai nya itu sudah bergabung di sebuah agensi, membuatnya menjadi terkenal bahkan di antara teman – teman sekelasnya. Tapi tahun ini senpai itu akan lulus dari sekolah dasar.

Ichiko menyentuh kompres yang ada di dahi Ryutaro, ternyata kompres itu sudah kering, mungkin Ryutaro merasa tak nyaman. Ia mengambilnya dan membasuhnya kembali dengan air yang berada di dalam baskom tepat di sebelah tempat tidur itu.

Gadis kecil itu meletakkannya kembali di dahi Ryutaro ketika tangan anak laki – laki itu meraih tangan Ichiko. Dengan gerakan sangat lambat mata Ryutaro terbuka. Terlihat sedikit tak sadar.

“Gerah…” keluh Ryutaro sambil masih menggenggam tangan Ichiko.

Gadis kecil itu tak bisa berkata apapun.

Ryutaro bergerak duduk, sehingga menarik Ichiko duduk di kasur itu. Beberapa detik setelah itu, bibir Ryutaro sudah berada di bibir Ichiko. Karena shock, Ichiko awalnya tak bisa berbuat apapun, membiarkan bibir itu sedikit lebih lama berada di bibirnya.

“Kyaaa!!” Ichiko mendorong tubuh Ryutaro hingga tubuh anak laki – laki itu kembali terbaring.

Keesokan  harinya, Ichiko merasa takut datang ke sekolah, Ia takut bertemu Ryutaro dan tak tahu harus bersikap seperti apa.

Hari ini Ichiko sengaja membawa sebungkus kue untuk Ryutaro. Di pikirannya yang polos, Ichiko ingin berteman dengan Ryutaro.

Saat istirahat tiba, Ichiko memberanikan diri untuk menghampiri sebuah tempat yang ia tahu selalu menjadi tempat Ryutaro istirahat, di belakang sekolah, sebuah padang kecil.

“Morimoto-senpai…” panggil Ichiko.

Ryutaro yang sedang berbaring pun kaget serta merta terduduk menoleh ke belakang.

“Ya?”

Ichiko menghampiri Ryutaro, duduk di sebelah kakak kelasnya itu.

“Aku bawakan kue untuk Morimoto-senpai…” ucap Ichiko malu – malu sambil menyerahkan sebungkus kue itu.

“Ah… Sou ka… sankyu…” ucap Ryutaro tak kalah gugup.

“Anou…soal kemarin…”

“Kemarin? Ada apa ya?”

Ichiko menoleh cepat, “Senpai tak ingat?”

“Ingat apa?” Ryutaro menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

-Flashback end-
==========

“Ryuu-chan lagi jatuh cinta ya?” sebuah telunjuk mampir di pipi Ryutaro.

“Chii!!” ia memang sedikit kaget karena sejak tadi sedang melamun.

“Tidak juga…hehehe..”

“Ayo mengaku sajaaa…” goda Chinen lagi.

Ryutaro tak menanggapi, hanya tersenyum penuh arti pada Chinen.

“Aku bosan… ayo kita ngobrol..” kata Chinen lagi.

Mereka memang sedang perjalanan menuju Hokkaido, tempat konser selanjutnya.

Alih – alih mengobrol, beberapa menit kemudian Chinen sudah tertidur dengan pulasnya. Ryutaro hanya tertawa melihat Chinen tertidur, sementara dirinya hanya memandang layar TV mungil yang memang di sediakan pihak penerbangan. Sebuah film muncul dengan bintang Sugawara Ryouko.

Melihatnya membuat Ryutaro ingat akan pertemuan kembali dengan Sugawara Ichiko. Gadis mungil yang dulu saat SD adalah objek penderita dari teman – temannya yang senang menyiksa gadis itu. Statusnya sebagai anak dari Sugawara Ryouko yang terkenal sebagai artis yang dicintai sekaligus dibenci, membuat posisinya selalu menjadi bulan – bulanan temannya.

Tapi seingatnya, gadis itu selalu tersenyum setiap ia melihatnya. Yang tidak ia sadari, ternyata gadis itu juga terjun ke dunia yang sama dengan Ibunya, yaitu dunia Entertainment.

Sebuah iklan berbeda muncul di hadapannya, kini Ichiko yang muncul. Gadis pertama yang ia sukai saat sekolah dasar. Ia tak yakin gadis itu menyadarinya, sejak ia mencium gadis itu di hari yang panas itu, Ichiko tak pernah lagi tersenyum padanya.

============

Setelah beberapa persiapan, syuting pertama dorama baru itu akan dimulai. Ichiko datang lima belas menit sebelum persiapan syuting dimulai. Satu hal yang selalu ia pelajari dari Ibunya adalah disiplin waktu. Setidaknya begitu.

“Ohayou gozaimasu… yoroshiku onegaishimaaassuuu…” Ryutaro juga ternyata datang lebih awal, masih dengan seragam Horikoshi nya.

Melihat seragam itu mengingatkan Ichiko bahwa tahun ini, tepatnya dua bulan lagi ia juga harus masuk sekolah itu.

“Hai Ichiko-chan…” sapa Ryutaro sambil duduk di kursi kosong di  sebelah Ichiko.

“Hai…” jawab Ichiko pelan.

“Sudah siap hari pertama syuting?” tanya Ryutaro. Mencoba untuk sedikit beramah tamah dengan lawan mainnya itu.

Ichiko menatap Ryutaro dengan pandangan aneh lalu membuka botol air mineralnya, meneguknya karena merasa sedikit haus.

“Morimoto-kun! Ayo ganti baju dulu!” seru seorang staff pada Ryutaro.

Pemuda itu beranjak, “Aku kesana dulu ya Ichiko-chan…”

Lagi – lagi Ichiko menatap Ryutaro dengan aneh.

Tiba – tiba Ichiko merasa ponselnya bergetar. Sebuah E-mail masuk.

From : Sugawara Ryouko
Subject : (no subject)
Kudengar kau main dorama?
Ibu bangga padamu nak…
Mungkin kita bisa makan malam bersama?

Ichiko tak langsung menjawabnya. Ia menutup e-mail itu, menatap kosong pada layar ponselnya yang berwarna – warni terang. Ia tak yakin Ibunya serius dengan perkataannya. Beberapa kali janji itu hanya asal diucapkan, atau ia curiga e-mail itu sebenarnya hanya dari manajer Ibunya saja.

Namun akhirnya Ichiko memutuskan untuk membalasnya.

To : Sugawara Ryouko
Subject : re: (no subject)
Terimakasih bu…
Malam ini bisa….

Selalu seperti ini. Komunikasi yang tidak sehat antara Ibu dan anak ini entah sampai kapan akan berlanjut. Ia sudah muak, tapi tak bisa berontak. Untuknya seorang Sugiwara Ryouko hanyalah ibu biologisnya. Ia tak pernah merasakan kehangatan dari Ibunya sendiri.

Tanpa sadar Ichiko menghembuskan nafas berat.

“Ada apa Ichiko-chan?” ternyata Ryutaro sudah kembali dari ruang make up.

Ichiko segera menutup ponselnya, “Umm… tidak apa – apa…” jawab gadis itu cepat.

Belum sempat Ryutaro ingin kembali bertanya, panggilan untuk mereka syuting pun dimulai.

From : Sugawara Ryouko
Subject : (no subject)
Maafkan Ibu… malam ini ada pertemuan…
Mungkin lain kali kita bisa makan malam bersama…

Ichiko menatap balasan dari Ibunya setelah ia hampir selesai syuting. Ichiko segera mengganti bajunya, keluar dari ruangan itu. Kini ia harus menerima lagi kenyataan bahwa janji Ibunya memang tak pernah ditepati. Pesan yang Ibunya kirimkan hanya formalitas sebagai bukti ia adalah seorang Ibu, tak lebih dari itu.

Tanpa ia sadari, perasaan yang menyesakkan dada itu membuat air matanya kembali jatuh. Bersandar ke tembok, Ichiko terduduk sambil menutupi mukanya. Segala perasaan kecewa, sedih, tak terima pun berkumpul jadi satu, membuat dirinya terasa tak bisa bernafas.

“Ichiko-chan!! Kau kenapa?!” Ryutaro yang kebetulan lewat pun kaget melihat Ichiko menangis di depan pintu ruangan make up itu.

Ichiko mendongak menatap Ryutaro dengan air mata yang membuat pandangannya tak begitu jelas.

“Daijoubu?” tanya Ryutaro sambil membantu gadis itu berdiri, “Kau sakit?”

Ichiko menggeleng.

“Kau kenapa?” tanya Ryutaro masih panik.

Tangisnya bertambah keras, seakan semuanya yang sudah ia tahan bertahun – tahun pun meledak semuanya.

Ryutaro menarik Ichiko ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan gadis itu.

“Huwaaa!! Huwaaa!!” tangis Ichiko belum berhenti, namun ia sedikit lebih tenang sekarang.

===========

“Kau sudah baik – baik saja?” tanya Ryutaro ketika sore itu mereka kembali bertemu untuk syuting dorama.

Ichiko menoleh ke sumber suara. Matanya memang masih sedikit sembab, untungnya bisa diakali dengan make up.

“Gomen senpai… aku malah jadi menangis meraung – raung semalam…” kata Ichiko merasa sedikit malu karena kejadian semalam.

Ryutaro menggeleng, “Tidak masalah kok…”

Ichiko menunduk, “Senpai…ini…” gadis itu menyerahkan sebungkus kue pada Ryutaro.

“Eh… arigatou…”

Ichiko tersenyum, kembali membuka skrip yang sedang ia pegang.

“Kau sudah siap dengan adegan kissu? Katanya hari ini loh…” goda Ryutaro pada Ichiko.

Ichiko mendelik dan memukul pelan bahu Ryutaro, “Kan cuma terlihat seperti kissu… bukan ciuman beneran!!” protes Ichiko.

“Ahahaha… beneran juga gak apa – apa kan? Bukannya bakal jadi ciuman kedua kita?” tanya Ryutaro sambil membuka kue yang diberikan Ichiko, memakan sebuah dan menawarkannya pada Ichiko.

Seakan baru sadar apa yan Ryutaro katakan, Ichiko menoleh, “Senpai…ingat?”

Muka Ryutaro terlihat memerah, “Sebenarnya aku ingat… dengan sangat jelas… aku….” pemuda itu terlihat salah tingkah, “Saat itu aku hanya malu…”

Tiba – tiba saja Ichiko merasa dirinya ingin tertawa, “Hahaha….” entah kenapa kejadian ini terasa sangat lucu untuknya.

Ryutaro juga ikut – ikutan tertawa, “Sudahlah..jangan ditertawakan terus…”

Ichiko menutup mulutnya, “Orang bodoh nomor satu di dunia…” ejek gadis itu lagi.

“Sudahlah…kalau kau terus tertawa, nanti aku benar – benar menciummu loh…” ancam Ryutaro.

Ichiko menjulurkan lidahnya, “Huuu~ memangnya berani?”

Beberapa saat kemudian mereka pun dipanggil untuk mengambil adegan yang sejak tadi mereka bicarakan. Sebenarnya arahan dari sutradara hanyalah mereka akan terlihat seperti sedang ciuman, tak perlu benar – benar melakukannya. Toh ini memang bukan film dewasa, bahkan bisa dikategorikan sebagai dorama remaja tentang sekolah. Adegan romantis ini hanya selingan dari cerita sebenarnya.

“Hai! Stand by…. and… action!” seru sutradara.

Keduanya mengucapkan naskah dengan sempurna sampai mereka harus melakukan ciuman itu. Kamera hanya ada di belakang mereka, sehingga keduanya hanya harus terlihat saling mendekat saja.

Namun, seperti apa yang sudah Ryutaro katakan, pemuda itu benar – benar mencium Ichiko dengan lembut.

“Sudah kubilang…aku akan menciummu…” bisik Ryutaro setelahnya.

Ichiko yakin mukanya kini sudah semerah kepiting rebus.

=============

“Tidak masalah kita bertemu diluar seperti ini?” tanya Ichiko ketika Ryutaro mampir ke rumahnya malam itu.

Ryutaro menggeleng, “Memangnya aku gak boleh datang ke rumah pacarku sendiri?”

Mendengar kata ‘pacar’ membuat jantung Ichiko berdetak dua kali lipat dari biasanya. Setelah hari itu mereka memang semain dekat, malah akhirnya walaupun tanpa pernyataan apapun, keduanya sudah saling merasa mereka berdua memang pasangan kekasih.

“Lagipula aku mau kasih selamat…kau kembali menjadi adik kelasku kan?” kata Ryutaro sambil menyerahkan sebungkus coklat pada Ichiko.

Sejak beberapa hari lalu ia memang sudah diterima di SMA Horikoshi. Ryutaro baru saja naik kelas dua, sementara ia baru kelas satu.

Keduanya sengaja janjian untuk menonton bersama tayangan perdana dorama mereka.

“Aku ingin kasih tahu Ibu, tapi pasti dia sibuk…” keluh Ichiko ketika keduanya sudah duduk berdampingan di ruang keluarga kediaman Ichiko.

“Kirim e-mail kan tidak sulit Ichiko-chan… ini dorama pertamamu kan?” Ryutaro sudah tahu semuanya tentang masalah Ichiko dengan Ibunya.

Ichiko mengambil ponselnya dan mengetik cepat.

To : Sugawara Ryouko
Subject : dorama
Ibu, dorama ku akan tayang perdana malam ini..
Pukul sepuluh malam…
Kuharap Ibu bisa menontonku…

“Sudah?” tanya Ryutaro pada Ichiko.

Gadis itu mengangguk cepat, “Mungkin tak akan dibalas… ia kan sedang sibuk sekali…”

“Sudahlah… kan ada aku disini…” hibur Ryutaro.

“Padahal aku sempat berfikir untuk berhenti dari dunia entertainment…” ucap gadis itu sambil merebahkan kepalanya di bahu Ryutaro.

“Sayang sekali… kau berbakat loh…”

“Karena aku anak Sugawara Ryouko?”

“Kau dapat bakat itu darinya… iya kan? Akuilah saja hal itu…” tambah Ryutaro.

“Hmmm… aku hanya ingin Ibu sesekali ada di sampingku… rasanya seperti tak punya Ibu walaupun sebenarnya ia selalu terlihat di mana – mana…hahaha…” nada bicara Ichiko terdengar menyedihkan walaupun berusaha ia tutupi.

“Ibumu butuh waktu untuk itu…kau harus membuktikan padanya kau bisa juga bersinar seperti dirinya…” kata Ryutaro lalu menoleh untuk mencium dahi Ichiko pelan.

“Un… eh! Sudah mulai!!” seru Ichiko riang ketika dorama mereka dimulai.

Selama dorama itu diputar, mereka menontonnya dengan seksama. Sesekali memberikan pendapat tentang akting mereka.

“Yah…sudah selesai…tunggu minggu depan deh…” keluh Ichiko ketika lagu penutup berkumandang di ruangan itu.

“Haahha…” Ryutaro mengacak pelan rambut gadisnya itu.

Tak lama, sebuah pesan masuk di ponsel Ichiko. Setelah membaca isi e-mail tersebut, Ichiko secara refleks memeluk Ryutaro, “Kyaaaa!! Ibu menonton dorama kita!! Ia benar – benar menontonnya!!!” serunya sambil menyerahkan ponselnya pada Ryutaro agar pemuda itu membacanya.

Ichiko yakin karena tak hanya bilang sudah menonton, tapi beberapa kalimat mengomentari akting Ichiko yang dinilai masih sedikit kaku.

“Kau senang?” tanya Ryutaro melihat ekspresi Ichiko.

“Un!! Aku akan berusaha lebih keras agar Ibu bisa bilang ia bangga padakuuu!!”

Ryutaro mengembangkan tangannya, menyambut Ichiko ke dalam pelukannya lagi, “Ganbatte…”

“Ryutaro-kun…akan di sampingku kan?” tanya Ichiko seakan baru menyadari hal itu.

Ryutaro tersenyum, “Hmm… mochiron…”

Ichiko dan Ryutaro tahu, mungkin tidak mudah untuk mereka menjalani semuanya bersama. Tapi, keduanya tahu saat bersama, mereka punya orang yang bisa mendukung satu sama lain sepenuhnya.

Mencoba.

Hanya itu satu – satunya cara agar mereka tahu jawabannya nanti.

===========

Jumping To My Heart ~Love at First Kiss~ END
To Be Continued….

Baiklah~ saia rada ngebut nih sekarang – sekarang…
Kayaknya yang ini ceritanya lebh aneh lagi dari yang kemaren…
Need some inspiration…
Jadi yang ini rada2 gimanaaaa~ gitu…
Hahahaha…
COMMENTS ARE LOVE yaaaa~
Please leave some comments after you read this…
It’s precious for me… 🙂
Thaaannnkksss~~



Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 5) ~Love at First Kiss~

  1. debbi natalia

    bun, gak aneh kok ceritanya. Bagus aku bilang. Cuma, emang keliatan dikebut buatnya. Tapi, omedetou, na, bagus kok ceritanya.
    bun, abis ini kan BEST terus 7. Nah, yang 7 itu Yama-chan, ya?Penasaran loh dari dulu
    bun, kenapa yang berikutnya ini gak bunda sama yuyan aja? onegai ne~ mau, ya?
    Sori kalo aku kebanyakan maunya loh~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s