[Multichapter] Happiness (Chapter 14) ~End~

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Fourteen (End)
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here. All ARASHI members are belong to Johnnys & Associates, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 14 ~


“Dai..” panggil Opi lirih.

“Hmm?” Daiki yang sedang membaca majalah hanya bergumam.

“Apa masih lama? Kenapa sejak tadi belum ada yang memanggilku?” keluh Opi sambil modar mandir tidak sabaran.

“Opi,” Daiki beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sahabatnya yang terlihat cemas. “Kau sudah berkata seperti itu 5 kali dalam waktu 15 menit. Aku bilang kau duduk saja dengan tenang di sini sampai ada yang memanggil,” lanjut Daiki kesal lalu membawa Opi ke kursi.

“Kau tidak merasakan Daiki, memakai baju seperti ini. Apalagi kepalaku sudah mulai pegal,” gerutu Opi.

“Itu karena kau tidak bisa diam. Dan kepalamu jangan tegang seperti itu. Santai saja,” sahut Daiki.

Opi mendecak kesal. “Aku tidak bisa tenang di acara seperti ini, Daiki.”

“Baiklah..baiklah..Opi Sakurai.”

Mendengar kalimat terakhir Daiki, Opi lalu terdiam. Pipi nya terasa panas dan ia yakin memerah juga.

Hari ini adalah hari yang paling penting untuknya. Tidak kurang dari beberapa menit lagi namanya akan berganti menjadi Opi Sakurai dan itu artinya ia telah resmi menikah dengan Sho. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti, membuatnya semakin tegang. Itu alasan kenapa sejak tadi ia tidak bisa diam.

“Hei Daiki, apa gaunku tidak terlalu merepotkan? Aku masih berpikir seharusnya kita memilih gaun yang satu lagi. Dan sepatu ini rasanya kurang nyaman. Kenapa kau memilihkan sepatu yang seperti ini? Lalu apa rambutku tidak berantakan. Rasanya ada yang……”

“Kenapa kau cerewet sekali?”

Suara yang sangat ia kenali itu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ia baru saja menyadari Daiki tidak ada di dalam ruangan dan digantikan dengan seseorang yang sangat ia rindukan.

“An-chan?” gumamnya pelan.

“Harusnya kan kau diam. Kenapa mengomel sejak tadi?”

Opi tidak menjawab apapun. Dengan gaun yang sedikit menghalangi langkahnya, gadis itu berjalan menghampiri Kazunari lalu memeluknya.

“An-chan…..”

Tidak dapat digambarkan bagaimana rindunya Opi pada Kazunari. Kakak satu-satunya yang menghilang 5 tahun, akhirnya muncul di saat hari terpentingnya.

“An-chan kemana saja? Aku pikir An-chan tidak akan datang. Sejak kemarin aku berpikir macam-macam kalau An-chan tidak datang hari ini,” kata Opi mulai terisak. Ia tidak dapat menahan untuk tidak menangis.

“Kenapa kau menangis? Nanti make up mu luntur,” Kazunari menghapus air mata Opi dengan tissu. “Kau merindukanku?” tanya Kazunari dengan senyum khasnya.

“Sangat,” jawab Opi tegas. “Selama 5 tahun An-chan pergi, aku kesepian di rumah. Padahal An-chan sudah janji tidak akan kemana-mana.”

“Gomen ne,” ucap Kazunari lalu meraih tubuh Opi ke dalam pelukannya. “An-chan janji tidak akan pergi lagi.”

“Usotsuki…” sergah Opi. “Asal An-chan tahu, An-chan sudah melanggarnya.”

Kazunari tertawa. “Sekarang An-chan tidak akan melanggarnya. An-chan tidak akan tahan harus meninggalkan adik manis sepertimu lagi.”

“Jangan memanggilku manis,” ucap Opi kesal.

Kazunari hanya membalasnya dengan tertawa. Ia baru saja menyadarinya. Adik kecilnya sekarang sudah berubah menjadi seorang wanita dan sebentar lagi akan meninggalkannya. Kazunari sedikit menyesal selama 5 tahun ini pergi begitu saja.

“Sedang apa kalian? Acara akan dimulai,” ucap Ayah mereka datang menghampiri Opi dan Kazunari.

Opi mengangguk dan menghampiri ayahnya. Mereka berjalan menjauh Kazunari yang masih tetap diam di depan pintu, menatap adik satu-satunya  itu.

“Opi..” Kazunari memanggil.

“Nani?”

“Omedetou..aku mendoakan kebahagiaanmu,” kata Kazunari.

Opi hanya tersenyum lalu berbalik menuju altar bersama ayahnya.

“Otou-san, apa aku pernah bilang kalau aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian?” tanya Opi saat ia dan ayahnya berada di balik pintu. Menunggu pintu di hadapan mereka terbuka.

“Sepertinya tidak,” jawab ayahnya yakin. “Tapi tanpa diucapkan, aku sangat beruntung memiliki anak-anak sepertimu dan Kazunari.”

“Aku juga. Sangat beruntung mempunyai keluarga seperti Otou-san, Okaa-san dan An-chan,” ucap Opi sesaat sebelum pintu itu terbuka dan mereka masuk berdampingan.

=======

“Pernikahan yang indah…” pikir Din sambil menelusuri setiap detail tempat itu. Diadakan di sebuah taman yang terbuka dan private sekali. Tidak banyak tamu yang di undang, namun menimbulkan kesan yang begitu indah.

Pernikahan sakral yang Din inginkan lima tahun lalu.

“Kau mau buah?” sebuah suara membuyarkan lamunan Din.

“Hmmm… boleh Kazu-Nii..” Din mengambil sepotong apel yang dipegang oleh Kazunari.

“Kau tahu, sejak tadi ada yang memperhatikanmu…” bisik Kazunari.

“Hah? Siapa?” Din tahu mata itu sejak tadi mengawasinya, ia hanya berpura – pura tak melihat.

Ia takut.

Sungguh takut.

Jika ia melihat mata itu lagi, ia akan kembali menangis, atau lebih parah, memohon untuk kembali.

“Lebih baik kau menemuinya… tidak baik seperti ini terus..” bisik Kazunari lagi.

Din menggeleng, “Aku takut Nii-chan…” gadis itu memejamkan matanya, berharap ini masih hanya sebuah mimpi.

Kazunari mencubit pipi Din dengan cukup kencang, “Ini kenyataan…sekarang hadapi dia…” Kazunari membalik tubuh Din dan mendorong bahu Din sedikit, “Aku ada disini…tenang saja…” katanya pelan.

Sambil menelan ludah Din berjalan ke arah orang itu. Pria di hadapannya tak kalah terlihat gugup.

“Genki…desu…ka?” tanya Din dengan nada yang sangat gugup.

Pria itu tersenyum, ia begitu ingin menarik gadis ringkih dihadapannya ke dalam pelukannya.

“Aku baik – baik saja… kau yang apa kabar?” tanyanya dengan mata terus memandang ke dalam mata Din yang terlihat sangat gugup.

Din tersenyum canggung, “Aku… baik – baik saja…”

Pria itu tersenyum. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama. Masih gadis yang sama, hanya kulitnya sedikit hitam terbakar matahari. Bukan lagi gadis dengan dandanan modis membawa PDA kemanapun ia pergi. Rambutnya masih panjang, atau bahkan lebih panjang dari lima tahun lalu. Begitu terakhir kali ia melihat gadisnya. Ralat, dulu adalah gadisnya.

“Din…chan… aku masih boleh memanggilmu begitu kan?” tanya pria itu hati – hati.

Din mengangguk, “Kalau Masaki-kun memanggilku Ikuta-san, rasanya malah aneh..” kata Din, “hahaha..” tawanya canggung.

“Aku bersyukur kau baik – baik saja…” kata Aiba.

Keduanya secara natural bergerak bersamaan, berjalan ke arah sebuah meja yang kosong. Mereka tahu, banyak hal yang ingin mereka obrolkan, banyak hal hingga mereka merasa otak mereka terlalu penuh untuk menentukkan mana dulu yang akan mereka ceritakan.

Satu hal yang Din dan Aiba tahu ketika keduanya bertatapan. Rasa itu masih sama.

Sementara itu Kazunari tersenyum di kejauhan, mengambil champagne nya dan berjalan ke tempat lain, mungkin ia kangen pada sahabatnya yang tukang mancing itu. Ia ingin mencarinya.

===========

“Omedetou, Sho!” Kazunari menghampiri Sho yang hari ini sudah menjadi adik iparnya.

“Arigatou. Aku senang kau datang. Entah sudah berapa kali Opi cemas karena tidak ada kabar darimu,” kata Sho.

Kazunari tertawa. “Aku tidak mungkin tidak datang di acara penting seperti ini. Mungkin saja kau pada akhirnya pergi meninggalkannya dan aku akan menggantikan posisimu.”

“Muriiii~…” Sho tahu Kazunari hanya bercanda.

“Itu memang tidak mungkin. Lima tahun aku mencoba melupakan perasaanku. Dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama,” kata Kazunari pelan.

“Kau pasti akan mendapatkan wanita yang baik, Kazu.”

“Tentu saja,” ucap Kazunari, “Setelah apa yang terjadi denganku. Aku pasti mendapatkan perempuan yang terbaik.”

Sho hanya tertawa sumbang. Ternyata kepercayaan diri Kazunari yang tinggi tidak pernah berubah.

“Aku tidak akan memaafkanmu kalau menyakiti Opi. Camkan itu,” ancam Kazunari.

“Mochiron. Aku akan menggantikanmu untuk menjaganya. Dan aku tidak akan pernah menyakitinya.”

Kazunari percaya dengan kata-kata Sho.

Sampai saat ini, Kazunari belum sepenuhnya percaya orang yang paling ia cintai sudah menjadi milik orang lain. Tapi kenyataan yang membuat ia sadar. Ia tidak pernah ditakdirkan bersama Opi. Harapannya sekarang hanya ingin adiknya bahagia.

======

Reina mengedarkan penglihatannya ke berbagai sudut. Ia sedang mencari ayahnya yang entah berada dimana.

“Sedang mencari siapa?”

“Ah Papa.” ternyata Sho yang bertanya padanya. “Aku mencari Otou-san. Tapi aku tidak menemukannya dimanapun.”

“Ah..aku tadi melihat dia sedang sibuk memilih-milih makanan. Mungkin masih di sana,” jawab Sho.

“Souka…” Sebentar Reina menatap papanya dengan perasaan senang. “Papa, aku senang akhirnya Papa menikah. Dan papa terlihat keren sekali.”

Sho tersenyum. “Hounto ni?”

“Papa tetap menjadi Papa Reina yang paling keren di dunia,” tambah Reina.

Sho memeluk Reina erat. Ia merasa terharu dengan apa yang sudah mereka lalui. Gadis kecilnya sekarang sudah tumbuh besar. Selintas ia sempat berpikir, apa dengan begini Yui akan memaafkannya?

“Ya. Papa akan tetap menjadi Papa-mu sampai kapanpun,” lanjut Sho.

Reina mengangguk. “Ah.. itu Otou-san.” Reina menunjuk Masaki yang sedang mengobrol dengan seorang perempuan cantik.

“Papa, bukankah itu tantenya Hiro-kun? Kenapa mereka terlihat akrab sekali?” tanya Reina.

“Tanyakan saja sendiri.” Sho tersenyum jahil pada Reina. Ia terlihat senang melihat Masaki bersama Din. Mungkin selain memiliki Mama baru, Reina juga akan mendapat ibu baru.

===========

“Aku ambil minuman dulu..” kata Rei pada Satoshi yang sibuk berbincang dengan Kazunari.

“Jangan alkohol..kau sedang hamil..” seru Satoshi pada istrinya itu.

“Bawel… untuk info ya tuan Satoshi, aku sudah pernah hamil sebelumnya…” rutuk Rei pada suaminya yang semakin protektif saja akhir – akhir ini.

Satoshi hanya nyengir.

Rei menuju ke meja tempat minuman di simpan. Sedikit terseok – seok karena gaunnya yang cukup merepotkan. Entah kenapa Satoshi membelikan gaun itu.

“Ini…aku baru ambil juga..”

Rei menoleh, “Wah… aku merasa tersanjung dilayani oleh pengantin pria…hahaha..” ia lalu mengambil gelas yang berada di tangan Sho.

“Hahaha.. aku dengar kau hamil anak kedua… benar?” tanya Sho sambil memperhatikan Rei.

Rei mengangguk, “Begitulah…hahaha…”

“Selamat ya…” ucap Sho tulus, sambil tersenyum pada Rei.

“Kau juga harus cepat punya anak…hehehe..” goda Rei.

Sho hanya terkekeh membayangkan ia benar – benar punya anak, “Aku sudah punya Reina…”

Rei tak menjawab.

“Baiklah…aku harus ke tamu yang lain… pengantinku juga kabur sepertinya..” kata Sho dengan nada bercanda.

“Hahaha…”

Sho menunduk sekilas lalu berbalik.

“Sho-chan!!” panggil Rei tiba – tiba.

Sho berbalik menatap Rei, “Hmmm?”

Rei tersenyum, “Ada satu hal yang ingin ku katakan padamu…”

“Apa?” alis Sho terangkat, menatap Rei dengan wajah bingung.

“Gomen… untuk semuanya… dan terima kasih… kau memang selalu berhasil membantuku…hahaha.. mr. Superhero…” kata Rei, senyum tulus terkembang di bibirnya.

Sho hanya mengangguk sekilas. Kenangannya bersama Rei kini menjadi kenangan indah sejak mereka berdua saling memaafkan satu sama lain. Tak ada yang perlu disalahkan, tak pernah ada yang salah dengan perpisahan mereka.

============

Saifu memainkan ponselnya, menunggu kekasihnya yang bilang padanya akan ke kamar mandi. Tapi sudah agak lama, Daiki tak kunjung kembali.

“Ehem… kau mau gaun seperti itu?” tanya Daiki tepat di telinga Saifu yang memang sedang membuka situs di ponselnya, melihat – lihat gaun pengantin.

“Kyaaa!! Dai-chan!!” Saifu segera menutup flip ponselnya.

“Hehehe…” Daiki hanya nyengir lalu duduk di sebelah Saifu.

“Aku mau gaun yang sederhana saja…” jawab Saifu lalu meraih pipi Daiki dan mencubitnya, “Kau bisa buat aku jantungan tahu!!” seru Saifu kesal.

“Aduh!!” Daiki melepaskan tangan Saifu yang berada di pipinya, “Apa itu jawabanmu berarti iya?” tanya Daiki sumringah.

“Kan aku sudah jawab iya… hanya kau perlu menunggu…hmmm..” Saifu berfikir, “dua tahun lagi mungkin…aku harus lulus master dulu..hehehe..”

Daiki mencibir, “Gimana kalau kita menikah dulu, kau masih boleh master kok!!” pemuda itu menganggap ide ini sungguh brilian.

Saifu menggeleng, “Tidak mau…weeekk~” gadis itu menjulurkan lidahnya.

“Fu-chaaann…” rengek Daiki sambil meraih tangan Saifu, “Aku serius…”

“Aku juga serius kok…” jawab Saifu menampakkan wajah seriusnya.

Daiki menghela nafas berat, “Kau tahu, sudah buruk aku merindukanmu selama lima tahun dan kau tidak juga pulang…sekarang tambah dua tahun??!!” pemuda itu manyun karena kesalnya.

“Hmmm…” Saifu hanya bergumam, masih ingin menggoda kekasihnya yang mudah marah itu.

“Aku cari cewek lain saja….” ancam Daiki.

Saifu terkekeh, “Memangnya bisa?”

Daiki tahu itu tidak mungkin. Ia yang seorang playboy cap jempol, yang dulu dengan mudah ganti pacar hanya karena ia merasa bosan dan hanya mencari kesenangan serta mengambil harta wanita, telah menunggu seorang gadis dengan sabarnya selama lima tahun. Ia tahu mustahil baginya mencari gadis lain. Itu hanya omongan asalnya saja.

“Lagipula…Nii-chan ku pasti tidak mengizinkan aku menikah sekarang…aku masih terlalu muda tahu…” kata Saifu lagi.

Daiki tiba – tiba beranjak dari tempat duduknya, menarik lengan Saifu. Otaknya berfikir cepat, ia masih terus menarik Saifu.

“Kemana Dai-chan?” tanya Saifu heran.

“Ohno-san!!” teriak Daiki kepada Satoshi yang sedang berbincang dengan Kazunari.

Rahang Daiki mengeras, genggamannya di tangan Saifu semakit erat, ia benar – benar serius kali ini.

“Ohok!” Satoshi sedikit tersedak karena ia sedang minum, dan tiba – tiba saja seorang pemuda berteriak di hadapannya.

“Ngapain Dai-chan?” tanya Saifu bingung, kaget karena pacarnya itu ternyata cukup nekat.

“Ohno-san!! Izinkan aku menikahi Suzuki Saifu!!” teriak Daiki lagi lalu menunduk sembilan puluh derajat pada Satoshi.

“Eeeehh??” kini giliran Satoshi yang kaget.

Saifu hanya menatap Daiki dengan pandangan setengah tak percaya. Sementara hampir semua orang di tempat itu menatap pada Daiki karena teriakan Daiki cukup kencang.

Ia sudah bertekad untuk melindungi Saifu. Bagaimanapun sulitnya, ia tahu ia akan melakukannya. Daiki sudah berjanji pada dirinya sendiri.

============

“Bisa lebih cepat sedikit?” tanya Jun pada pengemudi taksi yang membawanya ke pesta pernikahan sahabatnya.

Ia telat.

Macet terjadi di perjalanan, ia harus datang pada hari H karena ia masih ada pekerjaan hingga kemarin. Bahkan sebelum berangkat naik pesawat, ia masih sempat pemotretan sebentar.

“Ini macet pak…”

Tapi dia berangkat sendiri. Menolak untuk diantar antek – anteknya karena akan terlalu merepotkan, sementara ia ingin kehadirannya di pesta itu benar – benar pribadi.

Jun mengeluarkan ponselnya dan mengetik cepat, berharap Sho membaca e-mailnya. Tapi setelah menimbang – nimbang, ia memutuskan untuk menghubungi Satoshi saja.

“Anou… Satoshi…” ucap Jun sedikit canggung.

“Jun?! Kau dimana? Pesta sudah berlangsung sejak tadi…”

“Aku terjebak macet…” keluh Jun.

Sebuah suara terdengar mengambil ponsel itu, “Kau dimana? Biar aku jemput…”

“Kazu?!” tanya Jun ketika mendengar suara itu.

“Un… dimana kau? Aku bawa motor kok..”

Jun menyebutkan sebuah daerah. Kazunari langsung meluncur ke tempat Jun berada dengan sepeda motornya.

“Kau masih tetap tampan kok..” kata Kazunari melihat sahabatnya itu merapikan diri sebelum masuk ke gedung tempat resepsi.

“Bukan itu masalahnya..” cibir Jun.

“Hahaha… sudahlah…ayo masuk…”

Keduanya bergerak ke belakang gedung itu, tempat acara berlangsung.

Jun mencari – cari keberadaan Sho dan Opi, pasangan yang punya acara ini. Ia terus mengedarkan pandangannya ketika matanya tertumbuk pada Din dan Aiba yang sedang mengobrol.

Rasa rindu pada Din kini terasa sangat nyata ketika melihat gadis itu hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.

Jun memperhatikan Din, ia berbisik pada dirinya sendiri di dalam hati, “Yappari…aku masih tetap kalah ya, Dinchan?”

============

“Melelahkan sekali,” keluh Opi sambil melemparkan tubuhnya ke atas sofa di rumahnya. Pernikahan yang sempurna benar-benar membuatnya kelelahan. Tapi sebanding dengan kebahagiaannya saat ini.

“Opi, tidak apa-apa kita berada di sini?” tanya Sho sedikit berteriak dari dapur.

“Daijoubu. Okaa-san dan Otou-san sudah kembali ke Okinawa. Dan An-chan akan pergi bersama teman-temannya. Otou-san sendiri yang bilang kita tinggal di sini dulu,” jelas Opi. “Capeknya….”

“Kau pasti lelah setelah memakai gaun seperti tadi,” ucap Sho sambil memberinya segelas air.

Opi meneguk isi gelas tersebut hingga habis. “Dan tambahan sepatunya itu membuatku pegal.”

“Tapi kan itu hanya sekali dalam seumur hidup,” lanjut Sho. Ia lalu memeluk Opi dari belakang.

“Hmm..ya…” jawab Opi gugup lalu ia terdiam lama.

“Kenapa diam?” Sho terlihat tersenyum menggoda.

Opi menggeleng cepat.

“Kenapa tiba-tiba gugup seperti itu? Bukankah aku sering melakukan ini sebelumnya?” tambah Sho semakin membuat Opi malu.

Opi memukul pelan tangan Sho. “Jangan memperjelas. Situasinya berbeda.”

Sho tertawa. Ia seperti menemukan hiburan baru sekarang. “Karena sekarang kau sudah menjadi Opi Sakurai?”

Opi tidak menjawab. Ia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Lihat aku,” Sho menyentuh pipi Opi dan mengarahkan wajahnya agar menghadap dirinya lalu mengecup bibir gadis itu lembut.

Opi sedikit kaget dengan Sho yang tiba-tiba menciumnya. Tapi ia tidak bisa menolak dan memang ia menginginkannya.

“Rasanya tidak berubah yah?” ucap Sho begitu ia melepaskan bibirnya dari bibir Opi.

Opi mengerutkan keningnya. “Apanya?”

Sho menggeleng sambil tersenyum lalu kembali meraih bibir Opi dan menciumnya lagi.

Opi hanya memejamkan matanya dan ia tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Toh mereka sudah menikah. Segala hal bisa saja terjadi.

“Tadaimaaaaaa~ Opiiii~…”

“Chotto..” Opi mendorong bahu Sho sehingga bibir mereka terlepas. “Sepertinya aku kenal dengan suara itu.”

“Hah?” seru Sho tidak mengerti.

Opi beranjak dari sofa dan berlari menuju pintu yang diikuti oleh Sho di belakang.

“Satoshi-san? An-chan?”

Opi kaget melihat kakaknya dipapah oleh tetangganya, Ohno Satoshi. Dan parahnya ia melihat Kazunari dalam keadaan mabuk.

“Kenapa dengan An-chan?” tanyanya lalu mengambil alih tubuh Kazunari yang lemas karena minum.

“Bentuk kesedihan karena adiknya sudah menikah,” jawab Satoshi bercanda.

Opi mendecak kesal. “Sudah tahu dia tidak kuat minum banyak, masih saja nekat,” gerutunya.

“Sini aku bantu.” Sho lalu membantu Kazunari berjalan menuju kamar.

“Gomenasai, Satoshi-san. Dia masih saja merepotkanmu.” Opi menunduk berkali-kali dengan penuh penyesalan. “Besok dia akan menerima hukumannya,” gumamnya kesal.

Satoshi tertawa. “Daijoubu. Aku sudah sangat mengenal Kazu. Tapi dia sungguh keterlaluan membuatmu repot di saat seperti ini.”

“Di saat seperti ini?” tanya Opi bingung.

“Seharusnya kau dan Sho pergi yang jauh. Jadi Kazu tidak akan mengganggu kalian,” jelas Satoshi.

Opi yang mengerti arah pembicaraan mereka, langsung memerah pipinya.

“Tidak seperti itu,” sergah Opi cepat. “Untuk An-chan, tidak ada yang merepotkanku. Aku pernah mengecewakannya dan aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan An-chan,” lanjut Opi.

Satoshi mengangguk mengerti. “Kalau begitu aku pulang dulu. Kalian pasti kecapekan karena acara tadi.”

“Un. Arigatou Satoshi-san.”

“Satoshi sudah pulang?” tanya Sho yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

“Sudah. Bagaimana An-chan?”

“Dia tidur dengan sekejap. Tenang saja,” ucap Sho. “Tapi sepertinya kita harus menundanya.”

“Menunda apa?”

“Malam pertama…”

“Gyaaaa….” Opi menutup telinganya. “Jangan bicarakan itu.”

Sho tertawa puas. “Wakatta. Untuk malam ini aku tidak akan melakukan apa-apa.”

“Kenapa? Kenapa?” Opi terlihat panik. Ia menyesali reaksinya yang terlalu berlebihan.

“Hmm…kita lihat saja nanti,” kata Sho sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Opi yang masih kebingungan.

===========

To : Sakurai Sho
Cc : Ninomiya Kazunari, Aiba Masaki, Matsumoto Jun
Subject : reunion~
Aku sudah menghubungi pihak panti…
Besok sore datanglah kesana…
Aku serius..kita harus ketemu…
P.S : Ajak saja keluargamu…

-Ohno Satoshi-

Jun masih melihat ke ponselnya, setelah itu matanya beralih ke bangunan tua di hadapannya. Bangunan yang menjadi saksi kehidupannya masa kecil. Dimana ia mendapatkan empat sahabat kecil yang tanpa ia duga kembali bertemu dengannya.

“Jun-chan…” panggil seseorang, Jun menoleh.

“Masaki?!”

Aiba mendekati Jun, “Ayo masuk…yang lain sudah di dalam…” ajak Aiba.

“Anou…”

“Hmm?”

“Aku belum sempat minta maaf atas kejadian lima tahun lalu…tentang…Din…dan… aku…” Jun tahu ia harus meminta maaf pada Aiba sejak lama. Ia hanya tak punya keberanian untuk itu.

“Shoganai na… Dinchan mungkin sempat mencintaimu juga…tapi, aku sudah memutuskan untuk tidak melepasnya lagi… maaf Jun..” Aiba menepuk bahu Jun pelan sebelum akhirnya melangkah masuk ke gedung tua itu.

Jun terkekeh pelan, “Aku tahu… kali ini akhirnya aku kalah darimu…” selama ini, Jun tak pernah kalah oleh siapapun, tapi kali ini ia harus mengakui kekalahannya dari Aiba.

“Dinchan ingin bicara denganmu…aku masuk duluan..”

Jun kaget ketika Din menghampirinya, “Jun-kun… hisashiburi… kenapa kau tidak menyapaku waktu pernikahan Opi-chan?”

Pria itu terlihat salah tingkah, “Gomen…”

“Genki?”

Jun mengangguk, “Genki da… Dinchan wa?”

“Genki…”

“Omedetou ne… kau dan Aiba sudah kembali ber…”

“Kata siapa?”

“Hah?” kini giliran Jun yang bingung.

“Ia memintaku untuk menjadi istrinya….tapi aku masih bingung…semuanya terlalu cepat…” kata Din sambil memandang pasir di kakinya.

Jun meraih tubuh Din dan memeluknya erat, “Bodohmu itu permanen ya?”

“Eh? Maksudmu?”

“Kau terlihat paling bahagia saat bersama Masaki…you just have to admit that you always love him…”

“Jun….”

“Kau selalu tahu tempatmu pulang, kini kau hanya perlu mengakuinya….” bisik Jun lagi.

Jun mengetik pesan cepat ketika ia sudah melepaskan pelukan dari Din.

To : Mao-chan
Subject : (no subject)
We have to meet…
🙂
I decided to protect you from now on…

-Jun-

Saatnya ia mengejar kebahagiannya sendiri.

==========

Kelima pria dewasa itu berkumpul di sebuah taman kecil di belakang panti. Semuanya saling tersenyum satu sama lain.

“Hal tak terduga selalu terjadi di kehidupan kita…” kata Satoshi membuka pembicaraan ini.

“Iya… aku tak pernah menyangka aku jadi adik ipar Kazu…hahaha…”

Kazunari mendelik ke arah Sho dengan malas.

“Sho-chan… gomen atas kesalahanku… jika saja aku tahu Yui-chan…” Aiba meminta maaf sepenuh hatinya, sampai sekarang rasa bersalah itu masih ada.

Sho menggeleng, “Sudahlah…tidak ada yang salah dalam hal ini… yang penting Reina kini bahagia denganmu…”

Aiba mengangguk, seulas senyum tekembang di bibirnya.

“Kazu… terima kasih kau telah menjaga Dinchan…” kata Aiba menambahkan pada Kazunari.

“Ia juga kini adikku… berarti aku punya dua adik ipar disini?! Waaa!!” seru Kazunari kaget.

“Hahahaha…”

“Masaki…maafkan aku…” Jun menepuk pelan bahu sahabatnya itu.

“Kau tak perlu meminta maaf terus…”

“Semoga kita mendapatkan kebahagiaan masing – masing…” kata Sho sambil tersenyum memandnag langit.

“Ah… Sho-chan… maafkan istriku juga…”

“Istrimu itu pernah jadi cinta pertamaku…” balas Sho sambil terkekeh.

Semuanya hanya berbagi tawa saat itu. Masa lalu mereka, semuanya terjalin menjadi sebuah kisah mungkin karena mereka harus dipertemukan kembali. Hari – hari di panti asuhan, saat mereka harus berpisah memang kelimanya pernah berjanji akan bertemu lagi. Setelah hampir dua puluh lima tahun, semuanya menjadi sebuah cerita baru.

Kebahagiaan itu mereka raih dengan banyak kesulitan. Saling menyakiti karena egois, saling bertengkar karena kecewa. Pada akhirnya memaafkan adalah jalan terbaik bagi semua orang. Saat kita memaafkan seseorang, maka kita sudah memaafkan diri sendiri karena kesalahan di masa lalu itu, tidak mungkin hanya karena satu pihak.

I was thinking about finding the answer
but then my memories piled up again
From here on to a new place
Don’t be afraid of anything

Run on Run on
Let’s go and face our tomorrows
Let me hear only your sound I’m feeling everything
Don’t stop Don’t stop this feeling that’s moving the present
No matter how small a bud we are,
it’s our only Happiness

==============

“Jun bilang apa padamu?” tanya Aiba ketika mereka akan pulang.

Reina tak ikut mereka karena akan pulang bersama Sho dan Opi.

“Tidak ada…” jawab Din gugup, matanya masih sembab karena air mata.

Aiba menoleh, “Aku bilang pada Jun, aku tak mau melepaskanmu lagi…”

“Masaki-kun…” panggil Din lirih, kini rasanya air mata sudah siap jatuh lagi.

Selama perjalanan pulang itu keduanya tak saling bicara, sibuk dengan pikiran masing – masing. Hingga Din tak sadar kalau mereka menuju ke apartemennya bersama Aiba dulu.

“Eh?” Din sadar ketika mereka sudah sampai ke parkiran.

“Aku masih tinggal disini…belum pindah kemana pun…” kata Aiba pelan.

Din akhirnya ikut ke lantai atas, menuju ke kamarnya dulu bersama Aiba.

Semuanya terlihat masih sama persis dengan ketika ia meninggalkannya. Hanya saja, ruangan lain yang asalnya hanyalah sebuah kamar kerja milik Aiba kini disulap menjadi kamar Reina.

“Okaeri… Dinchan…”

Din menoleh, suara Aiba membuyarkan lamunannya. Pria itu berdiri di hadapannya dengan jaket motif macan berwarna pink muda.

“Masaki-kun…” itu oleh – olehnya dari Korea, lima tahun lalu.

Air mata yang tadinya ia tahan kini mengalir lagi, perasaan senang campur lega memenuhi setiap ruang hatinya, ia tahu, kini ia sudah pulang.

“Tadaima…. Masaki-kun…” bisik Din sambil menghambur ke pelukan Aiba.

Jun benar.

Ia selalu tahu tempat ia pulang adalah pelukan Aiba. Bagaimanapun sulitnya ketika ia diluar rumah, saat pulang ke rumah adalah waktunya yang paling ia sukai. Melihat senyum Aiba.

“Sudah kubilang…. aku tak akan melepasmu lagi…”

===========

Kembali ke Osaka tanpa sosok Din sebenarnya sedikit membuat Kazunari aneh. Taka da lagi ocehan random dari mulut Din.

Din meneleponnya dan bilang ia sudah kembali bersama Aiba.

Kazunari merasa senang, Din sudah menentukan pilihannya.

Opi juga sudah bahagia bersama Sho. Kedua adiknya yang manis, kini sudah dewasa dan bisa punya pilihan sendiri.

Perjalanan menuju Osaka itu cukup melelahkan. Walaupun pakai kereta api ekspress.

Kazunari melangkahkan kakinya keluar dari Shinkansen ketika ia melihat sosok Masami di kejauhan, terlihat mencari – cari seseorang.

“Masami-chan..” Kazunari menghampiri gadis itu.

“Kazu…”

“Ikut aku ke Tokyo ya?” ucap Kazunari langsung. Ia tak punya keraguan lagi saat ini.

“Eh?”

“Kita menikah dan punya anak…sepertinya itu lebih bagus jika adikku juga ada di sampingku…jadi, mau kan kita ke Tokyo?”

“Kazu!” Masami memeluk erat Kazunari, “Perasaanku…sudah tidak sepihak saja?”

“Tidak pernah sepihak… aku juga mencintaimu… aku pulang karena aku harus memastikan perasaanku pada Opi…itu saja…”

=============

OWARI~

Chapter 14 ½

Daiki’s side

“Fu-chaaaannn!!” seruku sambil mencoba menangkap Saifu yang terlihat sedikit marah.

Gaun birunya berkibar terkena angin sore itu. Saifu berbalik tiba – tiba membuatku kaget setengah mati.

“Kenapa bilang gitu sama Nii-chan!!??” seru Saifu menggembungkan pipinya.

“Aku serius!!” seruku sambil menggenggam tangan Saifu, “Aku benar – benar ingin kita menikah…” kucoba untuk memelankan suaraku agar sedikit terdengar berwibawa.

“Kenapa Dai-chan memaksa sih?! Atau… Dai-chan tidak percaya padaku?”

“Hah?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “Maksudmu?”

“Ya…. Dai-chan tidak percaya kalau hingga dua tahun kemudian pun aku masih mencintai Dai-chan…”

Aku menghela nafas berat, “Fu-chan… dengarkan aku… aku tak pernah meragukan itu… aku hanya ingin kita benar – benar bersama dan kau benar – benar milikku… itu saja…”

“Aku benar – benar milik Dai-chan… kenapa masih ragu sih?”

Aku mulai tak sabar dengan sifat kekanakan Saifu, aku merengkuh wajah Saifu dan menyentuhkan bibirku di bibirnya. Kami berbagi ciuman dengan lembut dan penuh perasaan.

“Dai-chan…percayalah aku akan tetap mencintai Dai-chan sampai kapanpun..”

“Aku percaya Fu-chan… tapi, kalau kita bisa mengikatkan hubungan kita di ikatan suci…kau mau kan? Hingga selamanya kita tak akan bisa terpisahkan..” aku mengeluarkan sebuah kotak yang sudah kusimpan sejak dua tahun lalu.

Hasil jerih payahku untuk membelikan Saifu sebuah cincin berlian, “Suzuki Saifu, maukah kau menjadi kebahagianku untuk selamanya hingga ajal menjemput kita?”

Saifu mengangguk, “Aku mengerti Dai-chan… I do…”

Aku telah menemukan kebahagiaanku dan tak mau lagi melepaskannya, “Jadi…kita rencanakan pernikahan kita ya?”

Saifu tampak enggan namun akhirnya mengangguk, “Bulan Juli sepertinya bagus untuk pernikahan kita…” jawabnya sambil tersenyum.

Aku kembali mencium bibirnya, memeluknya erat.

Jangan pernah pergi lagi, Suzuki Saifu, sumber segala kebahagiaanku sekarang, dan sampai nanti.

=============

OWARI lagiiii~ hehehehe

Asik akhirnya tamaaattt~ *tebar kembang tujuh rupa* *semedi di gunung*
Yeaaahh~ setelah empat belas chapter…hahaha~
^^

COMMENTS ARE ALWAYS LOVE…. 🙂
Otsukaresama deshita… Opichi~
Semoga ntar ada collab kita lagi…
Otsukare juga para pembaca…maap yang ini lamaaaa~ hehehe…
🙂
We LOVE COMMENTS!! Please leave some comments..

-Dinchan to Opichi-

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Happiness (Chapter 14) ~End~

  1. アユちゃん

    tu kan.. tu kan..
    q telat lagi..
    tapi akhir'a selese juga!!
    keren!
    keren!
    *pake toa masi teriak keren
    neechan juga keren!!

    Dai kere~~~n…
    mw deh dilamar kya gitu~~~
    *mupeng
    tapi bukan Dai yg lamar q..
    mw'a dilamar ma Ryosuke~~
    hehehe

    Reply
  2. Nirmala

    kereennn kereennn.. bagus banget.. aku baru nemuin blog ini atas rekomendasi opi-chan.. hehehe.. comentnya nunggu sampe habis bacanya.. bagus banget.. nggak nyesel deh udah baca…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s