[Oneshot] 2.2.2222

Title     : 2.2.2222
Genre  : Romance and a bit of fantasy
Ratting            : PG
Author : Lisa Wulan Novianti
Cast     : Nakayama Yuma (NYC), Morimoto Riisa (OC), Segelintir orang lewat.
Warning : Please follow this blog, and follow my twitter @morimosa
Tokorode, Fanficition ini jauh dari kata sempurna, jadi mohon untuk komentarnya. Read the real post in : Http://morimotolisa.wordpress.com
2.2.2222

Aku merasakan tubuhku bergetar dengan cepat, semakin lama getaran itu semakin cepat membuat tubuhku tidak terkendali, perlahan tatapan mataku rabun, aku tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap dan aku……
Perlahan Riisa membuka matanya, tergambar jelas dari raut wajahnya kalau dia merasakan kesakitan yang amat sangat.

“Ohayou, kau sudah bangun ya. Kau jangan banyak bergerak dulu ya. Sel mu belum pulih seutuhnya. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Mengerti” Seorang laki-laki berparas tampan dengan senyum yang mempesona menyandarkan lagi tubuh Riisa kedalam kasur kecil milik Riisa. Semenjak tahun 2200 kehidupan manusia berubah, seseorang menemukan populasi alien yang sangat banyak dan membuat alien itu harus hidup bersama dibumi, banyak sekali spesies alien yang ada dibumi 20% dari mereka memiliki bentuk yang mirip dengan manusia.

“Aku kenapa? Tuan melakukan apa padaku?” Tanya Riisa terbata, tangannya memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Riisa adalah jenis homoliensia, dia memiliki 30% gen manusia, dari bentuk dan rupanya jenis homoliensia sangat mirip dengan manusia namun tidak dengan kerja otak dan cara bicara mereka yang sangat lambat dari manusia normal.
“Sudah jangan banyak Tanya. Kau istirahat ya” Yuma beranjak dari sisi tempat tidur Riisa lalu meninggalkannya.
Yuma berjalan menuju lab kerjanya yang tidak jauh dari kamar tidur Riisa. Riisa sudah 5 tahun tinggal bersama dengan Yuma, berawal karena Yuma menemukan dia ditepi jalan. Alien dibumi tidak hanya tinggal sia-sia, biasanya merka mengerjakan pekerjaan berat yang tidak mampu dilaksanakan oleh manusia, bahkan alien sepeti Riisa malah lebih bisa dibilang sebagai pembantu dirumah Yuma.
Yuma mulai mengaktifkan panel selularnya, dengan layar touch yang sangat canggih dia mulai merancang satu persatu rancangan yang sudah terlibat diotaknya.
Praaaaaaaaayyyyyyyy
Yuma tersentak mendengar suara pecahan beling dari arah dapur, dia tahu itu pasti Riisa.
“Kan sudah ku bilang, kau harus banyak istirahat” Jelasnya pada Riisa.
“Tapi aku haus” Protes Riisa dengan wajah manyun.
“Kau bisa memanggilku, dan aku akan mengambilkan air minum itu untukmu. Kau masih sangat lemah” Jelas Yuma.
“Tuan” ucap Riisa lirih.
“Iya?”
“Apa tuan menyayangi ku?” Tanya Riisa terbata.
“Ya, sangat. Aku sangat menyayangimu. Sangat sangat sangat menyayangimu” Bisik Yuma lalu mengendong tubuh Riisa menuju kamarnya lagi.
Yuma berjalan dengan pelan, saat sampai dikamarnya Yuma meletakkan Riisa perlahan diatas kasurnya, lalu mencium kening Riisa.
“Aku harus bekerja lagi. Kalau ada apa-apa teriaklah. Aku akan melakukan apapun perintahmu. Oyasumi”
Yuma kembali lagi menuju labnya. Mengunakan lagi baju kerjanya.
“Seandainya ada Negara yang tidak memiliki aturan seperti disini aku akan pergi kenegara itu dan membawa Riisa” Protes Yuma lalu bermain lagi dengan tabung dan alat-akat kimia kesayangannya.
“Oh hukum dunia, kenapa kau melarang manusia menikah dengan alien? Apa salah mereka? Mereka juga punya hati bukan? Walau saat keadaan terdesak mereka akan menjadi buas” Keluh Yuma lagi sambil terus fokus pada pekerjaannya.
Semenjak ada kejadian beberapa tahun lalu, saat manusia menikah dengan alien dan memiliki anak yang tidak karuhan bentuknya, pemerintahan seluruh dunia melarang manusia menikahi alien.
“Ah, aku membutuhkan sampel darah Riisa agar aku bisa menyelesaikan project ku” Ucap Yuma sambil memegang tabung kosong yang sesaat lagi akan diisi dengan darah Riisa.
Yuma membuka perlahan pintu kamar Riisa. Riisa tidak sedang tertidur, dirinya hanya sedang menonton tv yang ada disudut atas kamar.
“Riisa chan, bolehkah aku meminta darahmu sedikit saja?” Tanya Yuma pada Riisa dengan sangat lembut.
“Baiklah tuan, apapun akan ku lakukan” Balasanya.
Dengan cepat Riisa mengigit jari telunjuknya, tak lama cairan berwarna biru keungu-unguan itupun keluar, dia meneteskannya kedalam tabung yang sudah Yuma bawa.
“Arigatou” Ucap Yuma, “Ini plaster, pakai ya. Agar tidak infeksi” Jelasnya lalu meninggalkan Riisa lagi.
Yuma menghabiskan banyak waktu didalam labnya, siang dan malam bahkan sering kali Yuma sampai lupa makan, dia memang ahli kimia, lagi pula Yuma memiliki tujuan yang dia rasa harus dia dapatkan.
“Aku tidak akan berhenti sampai kapanpun, mugkin sampai kau matipun aku tidak akan berhenti sebelum aku mencapai tujuanku” Ucap Yuma dalam hati, dia memang sangat berambisi untuk bisa menemukan hal itu.
“Tuaaaaannnnnn aku bosaaaannn” Teriak Riisa dari tuangan yang tak jauh dari lab tempat Yuma bereksperimen.
Yuma menghela nafas berat, dengan perlahan dia melangkahkan kakinya menuju kamar itu.
“Baiklah, kau temani aku dilab tapi janji jangan sentuh apapun” Jelas Yuma pada Riisa yang sudah duduk ditepi kasurnya.
Riisa tersenyum dan mengangguk, walau tubuhnya terasa sangat sakit dia mencoba berjalan dengan sekuat tenaga agar tidak menyusahkan Yuma.
“Jangan sentuh apapun, duduklah disana” jelas Yuma sambil menunjuk bangku yang ada disudut lab itu.
Riisa duduk dengan tenang dibangku kecil itu, tatapannya tidak teralihkan, terpaku pada satu titik yaitu Yuma.
“Tuan, aku ingin selalu bersama dengan tuan, walau nanti tuan akan menikah dengan seorang manusia dan mempunyai anak, aku akan selamanya bersama dengan tuan, aku menyayangi tuan” Ucap Riisa dengan lirih dan pelan.
Yuma membalikkan tubuhnya menghadap Riisa, tangan Yuma kini sudah ada dipipi Riisa.
“Jangan bicara seperti itu lagi. Itu membuatku sangat sakit. Mengerti?” Ucap Yuma dengan sangat lembut.
Riisa mengkerutkan keningnya, merasa susah untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Yuma. Jelas, ucapan Yuma tentunya membuat dia bingung, terlebih lagi kalau otak para alien tidak sebaik otak para manusia.
“Kau tidak mengerti ya? Hahahaha. Sudah lupakanlah. Aku membuatmu berfikir terlalu keras. Gomen na” Ucap Yuma sambil mencubit pipi Riisa.
Riisa tersenyum, lalu kembali datar, tidak menanggapi ucapan Yuma sedikitpun. Lebih tepatnya tidak mengerti.
==============================================================================
“Yatta” Teriak Yuma dipagi yang sangat sepi dan dingin ini. “Semoga ini berhasil” Ucapnya lagi dengan senyum yang sumringah.
Setelah sekitar satu minggu dia berkelut dengan eksperimennya, akhirnya dia membuat zat yang dia anggap dapat mengubah gen alien menjadi gen manusia.
Perlahan Yuma memegang tubuh Riisa, mengikat tangannya dengan pengikat yang sudah ada dikasur kecil itu. Persiapan jikalau alien manis itu mengamuk.
Dengan sangat pelan dan lembut Yuma menyuntikkan cairan bening itu kedalam tubuh Riisa
“Itaaaaaaaaaaaiiiii” Teriak Riisa, saat sadar sesuatu telah menembus jaringan tubuhnya.
Selang beberapa detik kemudian tubuh Riisa bergetar dengan hebat, tangannya yang semula mulus perlahan berubah menjadi kecil dan kulitnya yang kenyal menjadi keriput seketika. Wajah manis Riisa berubah seperti manusia berumur 100 tahun.
“Astaga. Riisa. Kau kembali ke wujud asalmu” Yuma panik, merasa bersalah. Atau ini adalah percobaannya yang gagal. Yuma semakin panik ketika Riisa sudah benar-benar berubah 100% kebentuk aliennya.
Yuma memeluk tubuh Alien itu, kini dihadapannya bukanlah Riisa, tapi seorang Alien yang terbujur tak bergerak.
Perlahan Air mata Yuma menetes didada Riisa, Yuma menangis menyesali perbuatan baiknya yang berujung dengan keburukan. Dia tak menyangka kalau dia telah gagal.
“Tuan, tuan” Suara Lirih Riisa terdengar ditelinga Yuma dan menggema diruang kecil itu.
“Tuan, aku lapar” Seru Riisa sambil menatap nanar wajah Yuma.
Yuma shock, melihat sosok alien menyeramkan tadi sudah berubah lagi menjadi sosok Riisa yang manis dimatanya.
“Aku berhasil?” Tanya Yuma pada dirinya sendiri.
“Berhasil apa? Aku lapar. Aku ingin makan” Rengek Riisa sambil mengguncang tubuh Yuma.
Yuma berlari menuju dapur dirumahnya, dengan cepat dia membuka kulkas dan mengambil sepotong daging segar. Diletakkannya daging itu diatas piring.
“Ini. Makanlah. Kau lapar kan?” Yuma menyodorkan sepiring daging segar yang tadi dia ambil. Daging segar tanpa apapun adalah makanan kesukaan alien, semua jenis alien menyukainya bahkan dalam keadaan kekurangan makanan mereka mampu memakan sesama jenisnya.
“Aku tidak mau makan makanan seperti ini. Aku mau nasi kare” Rengek Riisa lagi.
Yuma semakin terbelalak melihatnya “Iya, aku berhasil. Yatta” Ucapnya sambil tersenyum dan memeluk Riisa.
“Ano, Riisa chan, aku boleh meminta darahmu lagi?” Tanya Yuma sambil tersenyum manis kearah Riisa yang bingung dihadapannya.
“Untuk apa?” Tanya Riisa bingung. “Kau kan tidak mau aku terluka. Kok sekarang kau mau meminta darahku?” Tanyanya lagi.
Yuma tersenyum tak percaya mendengarnya. Usahanya selama kurang lebih 3 tahun tidak sia-sia kini kemampuan bicara Riisa sudah tidak lambat dan daya berfikirnya juga sudah seperti manusia normal.
Yuma mengigit jari Riisa dengan cepat Matanya terbelalak, melihat cairan berwarna merah segar mengalir.
Riisa meringis, namun Yuma tersenyum dengan puas.
“Kau berubah Riisa. Dengan begini selamanya kita akan bersama” Ucap Yuma dengan gembira.
“Hah? Memangnya aku kenapa?” Tanya Riisa sedikit bingung.
Yuma menjelaskan semuanya dengan tenang, kali ini menjadi hari yang sangat bersejarah untuk Yuma selain dia bisa menemukan zat untuk mengubah gen alien menjadi gen manusia dia juga akan bisa menikah dengan Riisa karena Riisa sudah menjadi manusia seutuhnya.
Yuma memeluk Riisa dengan erat membuat Riisa sedikit sakit menerima pelukannya. Tak lama Yuma melepaskan pelukannya lalu mengambil suntikan yang ada dimeja dekat tempat tidur itu. Dengan sekali tarik Yuma sudah mendapatkan sampel darah Riisa.
Tangan mereka bertautan, berjalan dengan pelan menuju lab kecil pribadi milik Yuma. Dengan cepat Yuma mempersiapkan perlengkapannya untuk mengecek sample darah Riisa. Keringatnya menetes, membasahi kening Yuma yang sedang sangat serius dengan pekerjaannya.
Yuma meneteskan kedalam darah Riisa kedalam tabung panjang dengan menggunakan pipet, lalu menggoyang sedikit tabung kecil itu.
“Positif 100%” Teriak Yuma dengan senyum yang sumringah. Sesegera mungkin Yuma memeluk tubuh Riisa dan mencium keningnya.
“Aku akan menikah denganmu Riisa, secepatnya aku akan mengurus pernikahan kita. Kita akan bersatu” Teriak Yuma ditelinga Riisa, Riisa hanya tersenyum dan membalas pelukan Yuma.
Penantian panjang Yuma segera berakhir. Riisa adalah sosok yang selalu ada disisinya, selalu ada untuknya. Seiring berjalannya waktu akhirnya Yuma pun jatuh cinta pada Riisa. Semenjak Yuma merasakan kalau dirinya jatuh cinta pada Riisa mati-matian Yuma berjuang membuat serum pengubah gen, dan sekarang tujuannya tercapai.
Satu bulan berlalu setelah Riisa menjadi manusia normal, kehidupan mereka pun lebih berwarna, bahkan sekarang Riisa memanggil Yuma dengan panggilan Yuma chan. Bukan tuan Yuma lagi seperti dulu. Dan besok akan menjadi hari yang paling indah bagi mereka berdua. Hari pernikahan mereka.
“Aku bersumpah” Ucapan Yuma terhendi ketika beberapa orang membuka dengan keras pintu gereja besar itu.
“Pernikahan ini harus dihentikan!” Mereka adalah agen Stop Loving Alien. Sebuah organisasi besar dunia yang menetang adanya alien dibumi. Beberapa agen SLA sudah mengepung gereja itu.
“Apa alasanmu untuk mengentikan pernikahan ini hah?” Protes Yuma yang melindungi Riisa dengan belakang tubuhnya.
“gadis itu adalah alien. Gennya telah kau rubah menjadi manusia. Ini melanggar hukum dunia. Gadis itu harus dimusnahkan” jelas salah seorang agen SLA.
Selang beberapa detik kemudian setelah menerima syarat dari komandonya para agen SLA menyeruak masuk kedalam gereja itu.
Yuma memeluk Riisa, tidak membiarkan calon istrinya direnggut oleh manusia keji itu. Air mata Riisa mengalir deras, membasahi jas indah yang Yuma kenakan. Dekapan Yuma semakin menunjukan kalau Yuma tidak ingin Riisa pergi darinya. Namun sayang seorang agen SLA menarik Riisa dengan paksa dan membawa Riisa keluar dari gereja tersebut.
“Kau tidak bisa mengambil Riisa dariku” Teriak Yuma yang kini tubuhnya dikekang oleh dua orang agen SLA.
Sesaat gereja tersebut hening, lalu kemudian ricuh oleh banyak mata yang menatap sinis kearah Yuma. Dengan sekuas tenaga Yuma melepaskan tubuhnya dari dua orang agen SLA itu.
Yuma berlari mengejar Riisa, namun kecepatan kaki manusia tidak sebanding dengan jet turbo yang ada dalam mobil SLA.
“Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssssssssaaaaaaaaaaaaaaaaa” Teriak Yuma dalam keramaian jalan membuatnya ditatap oleh banyak orang.
==============================================================================
“Sesuai dengan ketentuan hukum, YR1994 harus dimusnahkan dan sang pemilik harus dihukum” Ucap salah seorang utusan SLA ditengah-tengah ruang eksekusi.
Tubuh kecil Riisa duduk dengan tenang dibangku eksekusi, matanya telah tertutup dengan kain hitam berplat baja ringan agar dia tidak dapat melihat apapun sebelum dieksekusi.
“Bagaimana YR1994 apakah kau memiliki pembelaan?” Tanya hakim agung pada Riisa.
Riisa terdiam sesaat. Sekilas dia tersenyum.
“Kalau kalian mau membunuhku, bunuhlah aku. Tetapi jangan kalian hukum Yuma” Jelasnya singkat.”
“YR1994 dinyatakan bersalah” putusan hakim diiringi oleh banyak kegaduah disana dan disini.
Selang beberapa detik kemudian pengeksekusi datang dengan membawa senapan laser ditangannya.
San…
Ni….
“Kalau kau mau membunuhnya, lewati aku dulu” Teriak Yuma sambil menutupi tubuh Riisa dengan tubuhnya.
Dooooooooooooooorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
Dengan sekali tembakan tepat mengenai jantung Yuma. Yuma pun terjatuh dihadapan Riisa. Dengan sigap Riisa membuka penutup matanya dan memapah Yuma. Yuma memegang jantungnya. Lalu tersenyum pada Riisa.
“Yumaaaaaaa” Teriak Riisa sambil memeluk tubuh Yuma yang sudah berlumuran dengan darah.
“Gomen nasai. Riisa chan. Kimi ga daisuki” Ucap Yuma terbata. Perlahan mata Yuma tertutup dengan rapat dan nafasnya berhenti.
Air mata Riisa mengalir dengan deras sambil terus menatap tubuh Yuma yang sudah tidak bernyawa.
“Ehhhhhh” Satu tembakan melesat tepat dikepala Riisa, dan dalam hitungan detik tubuh Riisa terhempas keatas tubuh Yuma.
==============================================================================
5 Tahun Kemudian
“2.2.2222 Telah terjadi sejarah cinta terbesar disini. Seorang ilmuan yang mengubah alien menjadi manusia normal, monumen ini didirikan atas kebesaran cinta mereka berudua. Nakayama Yuma Dan Yanagi Riisa”
Tegoshi menatap Din dengan lekat, Din juga menatap Tegoshi dengan bingung.
“Din, percayalah nasib kita tidak akan seperti mereka” Ucap Tegoshi pada Din.
Din hanya tersenyum dan mengagguk mendengar ucapan Tegoshi.
Kini hukum memang sudah berubah, setelah kejadian tanggal 2 bulan 2 tahun 2222 yang lalu itu semakin banyak manusia bumi yang melakukan gerakan anti SLA. Bahkan seseorang berhasil mengembangkan serum pengubah gen tersebut. Karena cinta itu suci, bukan atas dasar siapa dia atau bagaimana dia.
===========================END==========================
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s