[Multichapter] My Lovely Petto (Story 7)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Multichapter~ 😛
Chapter     : Tujuh
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *as usual~ na??*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 7 ~


“Fu-chan…sudah jangan menangis…” Ryutaro bergumam lirih sambil mendekap Saifu didalam pelukannya, Saifu sendiri masih menangis dipelukan Ryutaro, dia masih merasa sangat kesal dengan Daiki, apa-apan dia? Kenapa bersikap begitu? Tak taukah bahwa Saifu sangat khawatir padanya?

Di kepala Ryutaro sekarang begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Saifu, namun Ryutaro ragu karena Saifu belum juga berhenti menangis.

“Maaf..bajumu kotor kena air mataku..” ucap Saifu lirih, masih sambil menunduk menyembunyikan wajah sembabnya.

“Daijobu..” Ryutaro berfikir keras, dia ingin sekali bertanya siapa itu Daiki, dan bukannya Daiki itu nama anjing Saifu?, “Anou..Daiki itu..” Ryutaro ragu untuk meneruskan perkatannya.

Saifu memandangi Ryutaro, menunggu apa yang akan dikatakan pemuda itu.

“Bisa kau jelaskan siapa Daiki itu..Fu?” tanya Ryutaro akhirnya, Saifu menatap Ryutaro yang kini menatapnya serius.

Tak ada pilihan lain, Saifu menceritakan siapa Daiki dan Ryutaro hanya bisa tercengang mendengar apa yang dikatakan Saifu.

“Kau..kau tak bohong??!” seru Ryutaro, Saifu menggeleng.

“Dia..peri cinta???” tanya Ryutaro lagi, dan Saifu hanya mampu menganggukkan kepalanya.

=========

“Huuah….” untuk kesekian kalinya Daiki menghembuskan nafas berat sambil menatap keluar jendela kereta yang tengah berjalan, disampingnya Din tampak sibuk dengan jus kalengnya.

“Dai-chan..kenapa lesu?karena bertengkar dengan Fu-chan ya?” tanya Din

“Aku hanya..” Daiki mendesah, hatinya sakit mengingat Saifu dipeluk Ryutaro, “Aku hanya merasa bersalah karena membuatnya menangis…” Daiki kembali menatap keluar jendela.

Din berfikir sebentar, “Ah..Dai-chan..aku punya ide!!” seru Din tiba-tiba.

Daiki menoleh menatap Din, “Apa?”

Din mendekatkan diri ke Daiki lalu membisikkan sesuatu ke kuping Daiki.

“Kau yakin kalau aku begitu dia akan memaafkanku?” tanya Daiki,

Din mengangguk, “Un! Aku yakin Saifu juga akan menyukai itu..jadi berikan saja dia..dia pasti akan senang kok..ne?” kata Din lagi.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Yuya yang baru saja kembali dari toilet lalu duduk di bangku depan Din.

“Betsuni..” jawab Daiki tanpa menatap Yuya.

Yuya mendengus, “Daiki ingat… masalah kau dengan Saifu harus cepat selesai…minta maaf lah padanya…” kata Yuya tajam lalu memasang headphonenya.

‘aku tau..dasar manusia cerewet..’ gumam Daiki dalam hati.

==========
“Kau pulang duluan saja…kita masih harus menyimpan peralatan…” kata Yuya pada Din dan Daiki.

Din menggeleng, “Aku mau pulang dengan Yuya-chan…”

Yuya menatap Din yang melihatnya dengan wajah memelas, “Kau capek…sudah sana pulang….”

Din manyun namun akhirnya menuruti apa yang Yuya katakan.

“Kok Dinchan pulang?” tanya Hikaru yang baru sadar Din siap – siap akan turun dari kereta.

“Ia harus pulang…sudah malam…” jawab Yuya singkat.

“Tapi…”

“Dia pulang dengan kakaknya…kau tak perlu khawatir..” potong Yuya pada Hikaru.

“Hmm..baiklah…” Hikaru kembali bersender pada kursinya, merasa bahwa Yuya sengaja tidak membawa Din ke pesta setelah kemenangan mereka. Walaupun tidak juara satu, bagi mereka mendapat juara tiga saja rasanya sudah cukup membanggakan.

“Anou…Dinchan…kita harus beli dimana ya hal yang kau bilang tadi?” tanya Daiki ketika mereka berjalan dari stasiun menuju rumah keluarga Takaki.

“Hmmm… dimana ya?” Din memperlihatkan uang yang diberikan Yuya tadi siang, “Pakai ini mungkin bisa…kita ke toko itu saja!” Din menunjuk sebuah tempat terang yang Din tahu sebagai toko.

“Itu apa?” tanya Daiki menunjuk uang yang di genggam oleh Din.

“Kata Yuya-chan ini uang…jadi kalau kita mau membeli sesuatu, harus pakai ini…”

Daiki hanya mengangguk – angguk. Selama jadi peri ia tak pernah harus membeli apapun. Segala kebutuhannya tentu saja bisa langsung terpenuhi.

“Sou ne… ayo…”

“Ne…Dai-chan… Yuya-chan bisa segera bersatu dengan orang yang ia sukai…” kata Din pelan.

Daiki menatap Din, “Oh ya? Siapa?”

“Itu… Aiko-chan…”

“Kok wajahmu malah sedih begitu?” tanya Daiki memperhatikan ekspresi wajah Din yang kecewa.

Din menggeleng, “Tidak apa – apa kok…” ia memaksakan diri untuk tersenyum, “Kita akan segera kembali ke dunia peri, Dai-chan!” seru Din senang.

Daiki mengangguk, “Iya…tentu saja… Fu-chan juga segera bisa bersama orang yang ia sukai…” kata Daiki menambahkan, bayangan Saifu dipeluk oleh Ryutaro kembali teringat olehnya.

“Tapi Dai-chan tetap harus berbaikan dengan Fu-chan, ya!” Din menarik tangan Daiki masuk ke toko.

Daiki mengangguk, “Un!”

============

“Jya ne Ryutaro-kun..” kata Saifu kepada Ryutaro saat dia akan turun dari kereta, sudah agak malam dan Saifu baru saja pulang dari karyawisatanya.

“Chotto..” Ryutaro menahan lengan Saifu.

“Nande?” tanya Saifu

“Kuantar ya..sudah malam..” kata Ryutaro, namun Saifu menggeleng.

“Tak usah… kau juga pasti sangat lelah kan? Aku akan baik – baik saja kok…”

“Tapi…”

“Sudahlah..tak apa kok..” tolak Saifu lagi, “Nah aku duluan..sampai besok !” kata Saifu sambil melambaikan tangannya ke arah Ryutaro yang balas melambai dari dalam kereta.

Entah sejak kapan, Ryutaro selalu merasakan hal yang berbeda jika bersama Saifu hal yang sudah tak pernah dirasakannya saat bersama pacarnya sendiri. Dan lagi perasaan cemburu saat Saifu begitu mengkhawatirkan Daiki, Daiki yang adalah peri cinta. Ryutaro dapat melihat dari mata Daiki, pemuda itu menyukai Saifu.

Drtt.

Ryutaro merasakan ponselnya bergetar, dia merogoh saku celananya lalu membuka email tersebut.

From: Lovely Sora
Subject : doko?
Ryu…kau dimana??aku lapar sekali,
bisa belikan aku sesuatu?ibu tak ada dirumah ,
ayah juga tak ada dirumah persediaan makananku habis

-sora-

Ryutaro menghela nafas, mulai lelah dengan sikap Sora yang begitu kekanakan. Ryutaro akhirnya tak membalas e-mail sora, langsung memasukkan ponselnya kedalam sakunya, yang ada dikepalanya cuma satu, Saifu.

“Tadaima…”seru Saifu pelan sambil membuka pintu pagar rumahnya, sedetik kemudian dia langsung kaget.

Balon berbagai warna tiba – tiba muncul di hadapannya membuatnya hanya bisa diam terperangah menatap kumpulan balon itu.

Saifu masih membeku menatap kumpulan balon itu, sampai Daiki menampakkan wajahnya dari balik balon – balon itu, lalu menyodorkan Saifu tali tali pengikat balon yang kini tengah dia pegang.

“Anou…”Daiki nampak bingung ingin bicara apa, terlebih lagi Saifu hanya diam masih menatap balon – balon tadi.

“Saifu gomen ne…aku salah padamu soal yang kemarin..hmm…untukmu..” kata Daiki kini mendekatkan diri ke Saifu, gadis itu segera tersadar langsung mundur beberapa langkah.

“Kyyaaaaaaaaaaaaa……!!” Saifu berteriak keras .

“Eh?” Daiki tampak bingung melihat Saifu yang malah duduk memeluk lutut.

“Jauhkan dariku! Jauhkan dariku!!” teriak Saifu histeris membuat Daiki semakin bingung.

“Fu..kau kenapa??” tanya Daiki sambil menghampiri Saifu masih memegang tali tali balon ditangannya, membuat Saifu langsung bangkit dan berlari menjauh mau tak mau Daiki mengejarnya dengan bingung hingga taman dekat rumah Saifu.

Daiki berusaha mengatur nafasnya, sedangkan balon yang tersisa kini ditangannya hanya tinggal satu ..balon – balon yang lain berterbangan tak beraturan dibawa angin saat dia berlari mengajar Saifu tadi.

Saifu meringkuk dibawah air mancur taman, wajahnya sedikit ketakutan, Saifu memandang Daiki takut takut sedangkan Daiki terlihat sangat lelah.

“Fu..kau kenapa?” tanya Daiki dengan wajah khawatir.

“Balon..aku..” Saifu menggigit bibirnya, “Aku takut..” kata Saifu pelan.

Daiki diam sesaat menatap Saifu, lalu terkekeh pelan, dia melepaskan tali balon yang dia pegang membiarkan balon putih itu terbang ke udara.

Daiki mendekat lalu mendekap Saifu, “Balonnya sudah tak ada kok..” kata Daiki sambil menepuk pundak Saifu, entah dengan alasan apa, tapi Saifu merasa sangat nyaman berada didalam pelukan Daiki.

“Maaf ya…hehe, kau jadi ketakutan begini…” kata Daiki sambil membereskan rambut Saifu yang sedikit berantakan.

Saifu menatap Daiki, “Maaf ya..aku marah marah padamu… aku hanya khawatir..” kata Saifu pelan.

“Un..gomen ne… aku juga egois” kata Daiki sambil tersenyum manis, senyum yang paling Saifu sukai, Saifu pun ikut tersenyum.

Daiki menatap Saifu, lalu mencium pipi Saifu pelan.

Saifu menatap Daiki bingung karena Daiki tiba-tiba menciumnya,

“Hadiah karena kau memperlihatkanku senyummu yang begitu manis malam ini…ah sudah malam, ayo pulang..aku bisa dimarahi kakakmu, untung orangtuamu sedang tak dirumah, ayo pulang..” kata Daiki sambil menarik Saifu bangkit berdiri .

Dan entah dengan sadar atau tidak, mereka pulang sambil bergandengan tangan erat, seolah tak ingin saling melepaskan.

“Hahaha..jadi karena dulu kau pernah jatuh diantara balon makanya kau takut balon?” tanya Daiki sambil terkekeh pelan menatap Saifu yang berbaring disebelahnya.

Saifu yang merasa ditertawakan sedikit manyun, ‘dasar laki – laki… gak ngerti perasaanku, kalau aku takut ya takut..malah ditertawakan’ pikir Saifu dalam hati.

“Ah ya..besok aku libur..mau jalan – jalan?” tanya Saifu

Daiki tersenyum senang, dia memang paling suka jalan – jalan bersama Saifu, terlebih Saifu suka membelikannya makanan yang enak, “un..tentu saja,”

“Sudah malam..ayo tidur..” kata Saifu lalu membagi selimutnya untuk Daiki yang berbaring disampingnya, mereka seperti sudah terbiasa tidur dalam satu ranjang.

“Oyasumi..” kata Saifu pelan, Daiki tersenyum

“Oyasumi..Saifu…”

“Awas kalo berani pegang – pegang!!!” seru Saifu sebelum menutup matanya.

Daiki hanya terkekeh pelan.

===========

“Dinchan…aku pulang…” bisik Yuya saat membuka pintu kamarnya.

Sudah hampir tengah malam, untung saja orang tuanya sedang pergi ke luar kota.

Tidak ada jawaban.

Yuya masuk dan melihat Din terbaring di kasurnya, memeluk guling dengan wajah damai yang biasa Din tampakkan ketika tertidur pulas.

“Aku pulang, kucing nakal…” bisik Yuya lagi, tanpa sadar ia tersenyum melihat wajah Din yang begitu polos saat tertidur.

“Yuya-chan…” gumam Din lalu menggeliat membuat tubuhnya kini tak lagi tertutup selimut.

Yuya menghampiri Din, “Kau mimpi apa?” tanya Yuya lalu terkekeh dan menutupi tubuh Din dengan selimut lagi.

Ia tiba – tiba saja tak lagi merasa lelah. Walaupun perjalanan tadi cukup melelahkan, disambung dengan pesta kemenangan, dengan melihat wajah Din saja ia merasa kantuknya hilang sepenuhnya.

Ia duduk di pinggir kasur, menatap wajah Din lama, tak butuh waktu lama hingga Yuya mendekatkan wajahnya ke wajah Din, mengecup dahi Din pelan.

“Apa yang kulakukan?!” gumam Yuya kaget dengan apa yang ia lakukan.

==============

“Ohayou master!!!” Din membangunkan Yuya yang tertidur dibawah ranjang.

Yuya mengerjapkan matanya, terganggu dengan sinar matahari yang begitu terang masuk ke jendela kamarnya.

“Dinchan….jangan disitu…berat tau!” gumam Yuya.

Din duduk di atas tubuh Yuya, mengguncang – guncang tubuh Yuya, “Aku lapaarrr!!” seru Din lagi.

Kini Yuya sudah terbiasa dengan kelakuan Din saat membangunkannya, gadis itu pasti berada di atasnya, mengguncang tubuhnya dengan keras.

“Baiklah…sebentar…kau jangan disitu.”

Din beranjak dan kembali duduk di dekat Yuya, “Ayo bawa makanan!!hehehe…”

Yuya beranjak lalu akhirnya mengambil makanan ke lantai bawah.

“Ini…” kata Yuya sambil menyodorkan sepotong roti, dan membawakan Din segelas susu coklat.

“Ibu tak ada di rumah…jadi belum ada yang masak…” jelas Yuya.

Din mengangguk mengerti lalu memakan roti itu.

“Ah iya! Hari ini aku harus mengerjakan proyekku…aduh…malasnyaaaa~” seru Yuya sambil menggeliat.

Ia beranjak menuju laci dan mencari naskah yang susah payah ia kerjakan selama beberapa bulan. Memang belum selesai benar, namun itu hasilnya berdiskusi dengan teman sekelompoknya, sehingga masih belum sempurna benar.

“Are? Naskahku mana ya?” Yuya yakin betul ia menyimpannya di laci itu.

Yuya mengeluarkan seluruh isi laci, namun naskah itu tidak ketemu juga. Ia menunduk, kalau – kalau naskah itu jatuh.

Matanya menangkap gundukan kertas di sudut kamarnya, “Itukah?” gumamnya lalu mengambil buku naskahnya.

Tampak sangat menyedihkan. Selain kotor, tulisannya dan coretan – coretannya pun banyak yang terhapus.

Din sadar Yuya menemukan buku yang tempo hari ia siram dengan air karena terkena susu kotak yang ia minum.

“Kenapa bisa begini ya?” Yuya bergumam sendiri. Ia tau naskah ini begitu berharga untuknya. Sehingga tak mungkin ia menelantarkannya.

“Master….” panggil Din pelan.

Yuya menoleh, “Hmm?”

Din menunduk, “Anou…itu…tempo hari aku merusak buku itu…gomen…”

“APA?! Kau apaaa??!” Yuya merasa darahnya mendidih karena kesal.

Gadis itu masih menunduk, “Gomen na…aku…aku…”

Yuya membanting naskah itu ke meja dengan suara sangat keras, lalu dengan sinis ia berkata, “Mendokusai…kenapa sejak ada kau disini hidupku tak pernah tenang?!”

Din menatap Yuya yang kini dalam keadaan sangat marah.

“Aku…”

“Terserah kau!” Yuya mengambil bajunya dan bergerak keluar kamar sambil membanting pintu kamar itu dengan keras.

“Yuya-chaaann…” beruraian air mata, Din melangkah keluar kamar dalam wujud kucingnya.

Yuya marah.

Ia sangat marah. Bagaimana tidak? Itu naskah pertamanya, yang rencananya akan dipakai untuk proyeknya bersama teman sekelompoknya. Ini bukan main – main karena menyangkut nilainya di tugas akhirnya kelak.

“Mana Dinchan?tumben dia tak ikut?” tanya Hikaru mengedarkan pandangan.

Yuya mendesis kesal, “Jangan bicarakan dia…”

Hikaru kaget dengan ucapan Yuya. Tidak biasanya sahabatnya itu terdengar sangat marah.

“Oh ya… proyek kita bisa mulai minggu depan…segala porperti sudah kita dapatkan…cast juga sudah oke kan?” Hikaru duduk di sebelah Yuya lalu mengeluarkan buku naskah dari tasnya.

“Chotto!!” Yuya segera merebut buku itu.

Persis sama dengan miliknya, lengkap dengan berbagai coretan tangannya. Bedanya, milik Hikaru itu foto kopian.

“Kau punya kopian naskahku?” tanya Yuya bingung.

“Kau ini bagaimana sih…bukannya kau yang meminta kita memfoto kopi nya?” Hikaru geleng – geleng sendiri.

“Yabai!”

Ia berharap Din masih di rumah.

============

“Panas….” keluh Daiki sambil menyipitkan matanya, matahari siang ini nampaknya membuat Daiki sangat kesal karena dia merasa sangat kepanasan sekarang. Saifu merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sebuah topi.

“Ini… pakai, setidaknya kepalamu tidak panas..” kata Saifu sambil memakaikan topi tersebut ke kepala Daiki yang sedikit menunduk karena Saifu memakaikan topi ke kepalanya.

“Arigatou..” kata Daiki pelan.

Saifu tersenyum, “Nah ayo..kau haus?”

Daiki mengangguk, “Aku haus sekali…aku ingin sesuatu yang dingin” kata Daiki dengan wajah manisnya.

“Wakatta..” Saifu tersenyum lalu menggandeng tangan Daiki, “Ayo… agar kita tidak terpisah di keramaian, Shibuya hari ini ramai sekali,” kata Saifu .

Daiki mengangguk, walau sebenarnya di dalam hatinya dadanya terus bergemuruh namun dia terus berusaha menahannya.

‘aku peri cinta…aku tak boleh merasa seperti ini kepada seorang manusia,” gumam Daiki dalam hati.

“Maaf…aku telat…”

Ryutaro menoleh, mendapati kekasihnya menghampirinya, yah hari ini mereka memang punya janji untuk kencan tapi entah kenapa, Ryutaro merasa sedikit malas bertemu Sora, yang dipikirannya malah Saifu, dia ingin bertemu Saifu dan bukan bertemu dengan Sora.

Ryutaro sebenarnya sudah mulai lelah dengan sikap Sora yang terlalu mengekangnya juga sikap kekanakannya. Ryutaro ingin mengakhiri semuanya,  secepatnya, karena dia tidak mau Saifu dan Daiki, dia tidak mau memikirkan hal buruk tentang hubungan Saifu dan Daiki sebenarnya. Tapi Ryutaro tak mungkin bisa tenang karena Daiki dan Saifu sangat dekat terlebih mereka tinggal bersama.

“Ryu-kun..kenapa diam? Ayo…” ajak gadis itu, bingung kenapa kekasihnya malah melamun saja sejak tadi.

Ryutaro tersadar dari lamunannya, dia menatap Sora yang juga tengah menatapnya.

“Maafkan aku..” gumam Ryutaro pelan.

Ia harus mengatakannya sekarang, ia tak bisa terus bersama Sora, padahal di pikirannya ada orang lain. Tak adil bagi Sora jia ia seperti itu.

“Hah?? Apa maksudmu?” Sora mengerutkan dahinya bingung.

“Aku tidak bisa… bersamamu lagi..” kata Ryutaro sambil menatap Sora

“Hah?? Apa sih maksudmu? Jangan bercanda… sudah ayo… disini panas sekali” kata Sora sambil menarik lengan Ryutaro yang masih duduk dibangku taman yang sedari tadi dia duduki, namun Ryutaro tak juga beranjak.

Dia malah menatap Sora seolah meminta Sora mengerti.

“Ayo Ryu-kun!! Aku lapar juga…” rengek Sora.

Gadis itu masih saja terus mencoba menarik lengan Ryutaro, namun alih – alih tertarik, tangan Ryutaro justru lepas dari genggaman Sora, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.

“Kenapa?” tanya Sora lirih, dia berusaha menahan air matanya.

“Aku hanya lelah..maafkan aku..”

“Ada seseorang yang kau sukai?” pertanyaan Sora itu seolah langsung menampar Ryutaro.

“Maafkan aku..aku..” Ryutaro sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

“Dia… Saifu kan?” tebak Sora

Dan lagi – lagi Ryutaro hanya bisa diam, terlebih karena Sora menebaknya dengan tepat.

“Gomen…”

PLAKK

Ryutaro hanya bisa diam saat tangan Sora menampar wajahnya, dan lagi Sora menangis.

“Padahal aku sangat menyangimu…tak bisakah hanya aku yang kau lihat??” kata Sora sambil terisak, beberapa orang yang ada ditaman kini memperhatikan mereka sambil berbisik pelan.

“Jangan salah paham Sora… aku juga menyayangimu… tapi…aku.. maaf aku..”, Ryutaro berusaha menarik lengan Sora namun Sora malah menepis tangan Ryutaro.

“Jangan menyentuhku!!” kata Sora lalu berlari pergi, Ryutaro hanya bisa menatap Sora yang berlari menjauh.

“Enak?” tanya Saifu sambil menatap Daiki yang nampak asik menjilati es cream cone nya.

“Un..ini enak sekali” kata Daiki masih sambil melahap es ceramnya, Saifu terkekeh pelan mengambil tisue dari dalam tasnya lalu mengelap pipi Daiki yang belepotan es cream, Daiki hanya mampu diam sambil menatap wajah Saifu yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya, dia berusaha sekuat tenaga menahan perasaannya yang bergemuruh keras karena Saifu berada sangat dekat dengannya.

“Selanjutnya  mau kemana?” tanya Saifu

“Hmm?” Daiki melahap suapan terakhir es creamnya, “Terserah Fu-chan saja..” kata Daiki akhirnya.

“Kalau begitu…” Saifu nampak berfikir, “Kita jalan – jalan dulu saja  berkeliling..” kata Saifu sambil tersenyum.

Daiki mengangguk, “Un..”

“Nah ayo..” kata Saifu sambil beranjak berdiri, Daiki ikut bangkit dan dengan refleks menggenggam tangan Saifu, mereka kembali berjalan sambil bergandengan tangan erat.

Ryutaro berjalan tak tentu arah, dia menghela nafas berat. Setelah dia putus dengan Sora tadi hal yang diinginkannya sekarang adalah bertemu Saifu, dia tak mau Daiki sampai merebut Saifu darinya entah kenapa dia hanya takut terlebih melihat Saifu yang begitu panik saat Daiki hilang di Kyoto, Ryutaro merasa Saifu menyukai Daiki juga namun dia hanya tak menyadarinya saja .

Ryutaro masih berjalan tak tentu arah sampai dia melihat orang yang sangat dia kenal diantara kerubunan orang yang lalu lalang.

Saifu dan Daiki berjalan bersama sambil bergandengan tangan, tertawa bersama. Ryutaro entah mengapa langsung berjalan menghampiri Daiki dan Saifu dan dengan cepat melepaskan pegangan tangan Daiki dan Saifu, Saifu menatap Ryutaro kaget.

“Ryutaro-kun..” seru Saifu kaget, sedangkan Daiki hanya menatap Ryutaro yang menatapnya sinis.

“Kalian sedang kencan?” tanya Ryutaro masih sambil melirik Daiki.

“Hah? Tidak..kami hanya jalan – jalan saja…” kata Saifu, “Memangnya kenapa? kau tak bersama Ayukawa-san?” tanya Saifu.

“Kami sudah tak punya hubungan,”

“Hah? Kau putus dengannya? Kenapa??” tanya Saifu

“Hmm…tidak penting, lalu bagaimana denganmu?apa hubungan kalian?” tanya Ryutaro sambil menatap Saifu serius.

Daiki kini menatap Ryutaro tak suka.

“Apa maksudmu?” tanya Saifu bingung.

“Aku tanya apa hubungan kalian??apa hanya sekedar manusia dan seorang peri cinta??” tanya Ryutaro sediki kesal, Daiki menatap Ryutaro dan Saifu bergantian sedangkan Saifu terlihat panik karena Ryutaro membahas tentang peri cinta.

“Saifu..kau? Memberitahunya tentang…aku?” tanya Daiki tak percaya.

“Maaf aku…” Saifu tak tahu harus bicara apa.

Ryutaro masih menunggu jawaban Saifu, “Saifu..kau menyukainya?” tanya Ryutaro

Daiki menatap Ryutaro, “Jangan mengatakan hal bodoh..aku pergi” kata Daiki lalu langsung pergi meninggalkan Ryutaro dan Saifu yang masih terdiam.

“Aku…” nafas Saifu tercekat. Ia ingin bilang tidak, tapi rasanya sangat sulit.

Ryutaro menoleh menatap Saifu, ekspresi wajah Saifu sulit ditebak.

“Daiki…”

Saifu masuk ke kamarnya,mendapati Daiki sedang duduk sambil menatap keluar jendela kamar Saifu.

“Maafkan aku soal…”

“Soal kau memberitahu Ryutaro tentang aku yang seorang peri cinta?” Daiki menatap Saifu, “Kau harusnya tak memberitahunya, harusnya kau tahu itu” kata Daiki kesal.

“Gomen ne… bukan maksudku..”

“Ahh..sudahlah, dia sudah terlanjur tahu..” Daiki kembali menatap keluar jendela, “Yang aku inginkan sekarang adalah cepat kembali ke dunia peri…” kata Daiki dengan suara pelan.

“Eh..?”

===============

“Aku pulang…” Yuya membuka pintu kamarnya pelan.

Kamarnya kosong. Tak ada sapaan manis dari Din seperti biasa. Atau wajah Din yang tertidur pulas di kasurnya.

Kini kamarnya benar – benar kosong.

Kemana kucing itu?

Yuya memikirkan segala kemungkinan keberadaan Din, tapi ia juga tak bisa benar – benar mengetahui dimana Din.

“Ah! Daiki!” seru Yuya mendapatkan ide.

Ia segera menuju ke kamar Saifu, “Fu…buka pintu…”

Saifu membuka pintu kamarnya, “Ya? Ada apa Nii-chan?”

Yuya membuka pintu itu dan masuk ke kamar Saifu, “Daiki… Dinchan dimana?”

Orang yang ditanya malah melihat Yuya dengan bingung, “Eh? Aku tak tahu… Dinchan kenapa?!” Daiki malah balik bertanya.

Yuya tak bisa menjelaskannya, apalagi alasan dia marah pada Din sungguh sepele.

“Beri tahu aku jika ia menghubungimu…” putus Yuya lalu memutuskan untuk mencari Din sendiri.

Daiki menahan Yuya, “Katakan padaku! Din kenapa?!! Sejak pagi aku tak bisa menghubunginya!!” seru Daiki.

“Aku….” Yuya menatap Daiki, “mengusirnya…” jawab Yuya pelan.

BUGH!

Sebuah pukulan mendarat tepat di rahang Yuya. Daiki tak lagi bisa sabar dengan Yuya yang sering seenaknya pada Din.

“Gomen… aku tak tahu kalau akan jadi begini…” Yuya sungguh menyesal, tapi ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.

==========

“Mendokusai…kenapa sejak ada kau disini hidupku tak pernah tenang?!”

Din hanya bisa terduduk di halte yang sama, memikirkan apa yang Yuya katakan barusan. Sejak ia datang, hidup Yuya tidak lagi tenang seperti dulu, berarti dia membuat Yuya tidak tenang.

“Gomen…” sejak tadi air mata Din terus mengalir.

Sejak pagi tadi Daiki terus mencoba menghubunginya, tapi ia tak mau menggubris Daiki. Nanti Yuya tahu kemana ia pergi, dan untuk sekarang Din takut mengganggu kehidupan Yuya.

“Aku lapaaarrr..” keluh Din. Apalagi roti yang tadi pagi juga tidak sempat dia habiskan.

“Dinchan? Sedang apa disini?”

Din menoleh, “Hikka-chaaannn!!” karena terlalu senang bertemu orang yang ia kenal, Din segera memeluk Hikaru, “Huhuhu…”

“Kau kenapa?” Hikaru kaget karena Din tiba – tiba memeluknya.

Din tidak menjawab dan hanya memeluk Hikaru sambil terisak. Sebenarnya ia sangat takut sejak tadi. Walaupun itu halte dekat kampus Yuya, tapi karena tak punya tempat untuk pulang, ia sangat ketakutan.

“Kau tersesat?”

Din menggeleng.

“Lalu? Kenapa kau ada disini?”

Din tetap tak menjawab, malah menggeleng lagi. Tiba – tiba terdengar suara perut Din berbunyi.

Hikaru terkekeh pelan, “Kau lapar ya?”

Din mengangguk malu – malu.

“Ya sudah…kau boleh menjelaskannya setelah makan…” Hikaru menarik Din dari tempat itu.

Din menghapus air matanya dan menuruti langakh Hikaru.

==============

To Be Continued

Wuah~ entahlah…kenapa bagian Aiko jadi gak muncul..tapi udah panjang abisnya…hahahha… but still COMMENTS ARE LOVE for us!!
Di komen di komen ya kawan – kawan… THANKS yang masih pada mau baca… ^^

-dinchan & Saifu-

Advertisements

One thought on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s