[Oneshot] I Know I Love You, But…

Title        : I Know I Love You, But…
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot, SongFic
Song         : I’ll Be With You by. KAT-TUN
Genre        : Romance *I still LOVE it!!*
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    : Nakayama Yuma (NYC), Yanagi Riisa (OC), Koichi Yugo (Johnny’s Jr.), Kikuchi Fuma (Sexy Zone), Nakajima Kento (Sexy Zone), Nakajima Din (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Nakajima Kento, Koichi Yugo, Nakayama Yuma and Kikuchi Fuma are belongs to Johnnys & Association. Other character is my OC, dan pinjem dari yang ultah~ hha. Ini adalah purezento buat anak saia tercinta… maap bunda mu ini kere jadi cuma ngasih fic~ 😛  it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

I Know I Love You, But…


“Rii-chan… aku butuh handuk!!” seru seorang pemuda dari dalam kamar mandi.

“Chotto…” Riisa yang merasa dipanggil segera menuju lemari dan mengambilkan handuk untuk pemuda itu.

“Ini…”

Sebuah tangan keluar dari balik pintu kamar mandi, namun alih – alih mengambil handuk pemuda itu malah menarik tangan Riisa, “Mau sekalian mandi bareng?” tanya pemuda itu menggoda Risa.

“Kyaaaa!! Yumaaaa!!lepaasss!!” protes Riisa berusaha memberontak dari Yuma.

“Hehehe..” pemuda yang disebut Yuma itu hanya terkekah lalu mengambil handuk yang disodorkan.

Riisa menatap pintu kamar mandi yang tertutup itu dengan sedikit kesal. Ia dan Yuma sudah hampir lima bulan ini tinggal bersama. Bukan karena mereka sepasang kekasih, tapi lebih karena itu sebuah Share House atau Rumah yang di tinggali oleh beberapa orang walaupun mereka tidak saling mengenal pada awalnya. Selain Riisa dan Yuma, ada beberapa orang lain yang tinggal disana.

Seorang trainee di sebuah sekolah yang punya ide untuk membuat Share House ini, lalu ada tiga orang lain yang ke semuanya adalah murid SMA, namun tak satu sekolah.

Sebenarnya bukan keinginan Risa untuk tinggal di Rumah itu, tapi karena keadaan keluarganya yang jauh di Hokkaido mengharuskan dirinya pindah ke rumah itu. Ayah dan Ibunya memutuskan untuk pindah ke Hokkaido, padahal ia sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan lulus, sehingga tidak mungkin ia pindah sekolah dalam keadaan genting seperti ini.

“Kenapa Riisa?” tanya seseorang.

Riisa menoleh, “Eh.. Din-nee… tidak ada apa – apa..”

Din melihat muka Risa yang terlihat sedikit shock, maka memutuskan untuk bertanya.

Nakajima Din adalah trainee di sebuah sekolah, baru beberapa bulan ia lulus kuliah dan idenya untuk membuat Share House dengan alasan agar ia bisa membagi uang sewa karena ingin tempat kerjanya dekat dengan rumah.

“Wajahmu aneh sekali…” tegur Din lagi.

“Hehehe… tidak ada apa – apa…” jawab Risa gugup.

“Sou ne… aku berangkat duluan ya…” Din mengambil setangkup roti di atas meja dan segera menghambur ke pintu depan.

“Dinccchhhaaann!! Kok aku ditinggalin?” seru seorang pemuda yang menyusul Din.

“Nakajima-sensei! Panggil aku begitu…” tegur Din sambil memukul pelan kepala pemuda itu.

Pemuda itu manyun, “Gak mau… aku mau panggil Dinchan..”

“Ck~ sudahlah..aku tak punya waktu bertengkar dengan bocah…” cibir Din lalu segera keluar dari rumah.

“Fuma…tak baik begitu dengan Din-nee..” tegur Riisa saat Fuma kembali ke dapur dengan wajah masam.

Fuma duduk dan mengambil setangkup roti juga, “Walaupun dia guru di sekolahku, tapi aku kan benar – benar menyukainya…” keluh Fuma lagi.

“Eh?” Riisa kaget dengan pernyataan Fuma yang begitu jujur.

“Yumaaa!! Buruaaannn!! Nanti kita telat!!” seru Fuma.

Yuma muncul dari kamarnya lalu duduk juga di meja makan.

“Ohayou~ hehhee..maaf lama.. ayo berangkat Fuma…” kata Yuma lalu meneguk susu yang di siapkan oleh Riisa.

Itulah pekerjaan Riisa setiap pagi. Walaupun secara umur Din memang lebih tua, tapi sebagai perempuan hanya dia yang bersedia menyiapkan makan pagi bagi penghuni rumah itu. Beda dengan makan malam, biasanya mereka bergiliran mempersiapkannya.

Setelah kedua pemuda itu pergi, Riisa membereskan meja, sambil menunggu temannya yang masih siap – siap di kamar.

“Kento!! Ayo buruaaann!!” seru Riisa memanggil teman satu sekolahnya itu.

Kento muncul beberapa saat kemudian.

“Ponselmu mati ya?” tanya Kento tiba – tiba.

Riisa mengerenyitkan dahi, “Hah? Memangnya kenapa?”

“Pacarmu menggangguku sejak pagi….” keluh Kento sambil memperlihatkan layar ponselnya pada gadis itu, “Lihat ini…”

Beberapa pesan masuk dari nama yang sama, ‘Koichi Yugo’, kekasih Riisa sekaligus sahabat Kento di sekolah.

“Ah! Ponselku di kamar!!hahaha.. Maaf Kento-kun…” ucap Riisa lalu bergegas mengambil ponselnya.

Ternyata di ponsel milik Riisa pun telah berjejer beberapa missed call dan pesan dari Yugo.

============

“Ponselmu ketinggalan di kamar?” tanya Yugo memandang kekasihnya yang baru saja datang.

“Un! Gomen na…”

Yugo menggeleng, “Betsu ni…sejak lima bulan ini aku sedikit khawatir karena kau tinggal dengan banyak laki – laki di rumah itu..” keluh Yugo lalu menyenderkan punggungnya di tembok.

Mereka berbicara di sudut sekolah, sebelum masuk kelas.

“Hmmm… tapi di rumah ada Din-nee kok… dia juga kan cewek..” protes Riisa membela diri.

Yugo menghela nafas berat, “Maa ne~ terlebih aku tak suka dengan… siapa itu namanya? Yu… Yu…”

“Yuma?”

“Un! Dia tampaknya menyukaimu…aku tak suka caranya melihatmu…” kata Yugo lagi.

Riisa tahu, Yugo memang orang yang cemburuan. Sejak mereka berpacaran setahun lalu, memang beginilah sifat Yugo.

“Aku dan Yuma hanya teman. Lagipula ia memang suka menggodaku saja…” jawab Riisa.

“Sou ka… jauhi dia…” kata Yugo dengan nada tegas sambil melihat langsung ke mata Riisa.

Riisa hanya bisa mengangguk.

“Sebentar lagi bel masuk, ayo!” Yugo meraih tangan Riisa dan menariknya masuk ke dalam gedung sekolah.

Hiding your wounded heart
You smiled You are strong

“Baru pulang?” tanya Yuma ketika Riisa baru saja masuk ke ruang tengah rumah itu.

Riisa tersenyum, “Aku ada les hari ini…”

“Les karena pacarmu yang minta kan?” cibir Yuma lalu memindahkan channel TV yang sejak tadi ia pandangi.

Mata Riisa segera melihat ke arah Yuma, “Jangan sok tahu deh~”

“Pacarmu itu ada masalah ya dengan apa yang ingin kau lakukan? Apa kau harus selalu ada di dekatnya?” tanya Yuma lagi tanpa melihat ke arah Riisa.

PLAK!

Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi Yuma. Pemuda yang kena tamparan itu segera menatap gadis di hadapannya yang terlihat marah.

“Kau tak perlu menilai pacarku seprti apa! Kau tak tahu apa – apa!!” seru Riisa lalu meninggalkan Yuma.

“Cih! Apa semua gadis yang jatuh cinta itu harus buta seperti itu?” keluh Yuma sambil mengusap pipinya yang terasa perih.

=========

“Makan malam siap!” seru Din yang malam itu bertugas memasak makan malam.

Tidak ada satu pun yang menyahut hingga Fuma keluar dari kamarnya.

“Dinchaaann..” panggilnya dengan manja.

Din mencibir, “Mana yang lain?”

Fuma mendekat ke arah Din, “Suapin…” katanya lagi, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Din.

“In your dream..” kata Din menyentuh dahi Fuma dan menjauhkan wajah pemuda itu dari hadapannya.

Fuma manyun, lalu tiba – tiba mencium pipi Din.

“FUMMMMAAA!!!” seru Din kesal.

Kento tiba – tiba keluar dari kamarnya, “Ada apa? Ada apa?” tanyanya dengan wajah panik.

“Sudahlah…ayo makan malam..” Din menyiapkannya untuk dua orang itu, sementara dirinya sendiri naik ke lantai dua untuk menemui Risa.

“Rissaaa…” Din memanggil gadis itu sambil mengetuk pintu kamarnya.

Sebuah wajah muncul dari balik pintu itu, “Neechan…”

“Kamu kenapa?” tanya Din melihat ada bekas air mata di mata Riisa.

Riisa menggeleng, “Tidak apa – apa Neechan..”

“Jujur saja padaku…ada apa?hmm?”

“Hmmm..aku hanya kangen keluargaku di rumah… di tambah masalah pacarku…dan…” Riisa sepertinya enggan mengatakannya pada Din.

“Dan apa?”

Riisa menggeleng, memutuskan untuk tidak menceritakannya pada Din.

“Baiklah..tapi kau sebaiknya makan malam sekarang…”

Dan perasaannya pada Yuma, namun itu tak bisa ia ceritakan pada siapapun.

Riisa mengangguk dan mengikuti Din keluar dari kamarnya. Di meja makan tenryata penghuni rumah itu sudah lengkap semua.

“Waaa~ makanan buatan Dinchan selalu enak!” kata Fuma memuji Din.

Din mendelik ke arah Fuma malas menanggapinya.

“Ano ne… aku punya pengumuman…” seru Yuma dengan sedikit keras.

Semua orang langsung melihat ke arah Yuma.

“Aku dapat trip ke Okinawa loh!!minggu depan!!” seru Yuma lagi.

“Wah?! Aku ikut! Ikut!” seru Fuma heboh.

“Eitz… untuk dua orang yang beruntung saja…hehe” seru Yuma sambil terkekeh.

“Aku pass… minggu depan aku harus pulang…” kata Din.

“Baiklah… Rii-chan bagaimana?” Yuma sebenarnya masih canggung setelah kejadian tamparan waktu itu.

“Aku mau ikut…” katanya lalu tersenyum.

“Jya! Satu orang lagi!!”

“Curaaanngg!! Kenapa Rii-chan langsung boleh?!” seru Fuma.

Yuma menjitak kepala Fuma, “Berisik! Ayo Fuma, Kento… kalian harus bersaing demi mendapatkan tiket ini…” Yuma mengacungkan tiga buah tiket.

“Aku pass saja… banyak tugas..” keluh Kento.

“Hehehe..asyik…berarti tiketnya buat aku!” seru Fuma.

“Baiklah..baiklah..huuu~ kau itu..”

Fuma hanya nyengir karena senang.

“Ini…” sebuah tangan menyerahkan piring terakhir yang ada di meja.

“Arigatou Yuma-kun..” kata Riisa yang dengan sukarela membereskan meja makan serta mencuci piring.

Yuma bersender pada kitchen set sementara Riisa mencuci piring di sebelahnya.

“Soal kemarin…aku minta maaf…” kata Yuma, “Makanya aku tebus dengan trip itu…” tambahnya.

Riisa tersenyum simpul, “Sou ne…”

“Un… baikan ya?” Yuma menyodorkan tangannya pada Riisa.

Riisa menyambut tangan itu dengan tangannya yang basah karena sedang mencuci piring, “Hehehe…”

“Rii-chan…” Yuma berkata dengan wajah serius.

“Hmm??”

Yuma megambil sedikit air di kran itu lalu mencipratkannya ke wajah Riisa, “hahahaha…”

“Yummmaaa!!”

Keduanya hanya terbahak saat menyadari dapur menjadi sedikit kotor karena ulah mereka saling mencipratkan air.

Di dalam hati Riisa paling dalam, terbersit suatu perasaan nyaman ketika bersama Yuma, rasa yang tidak lagi ia rasakan bersama Yugo.

I hold you tightly
That moment the sadness melted away

===========

“Mana Fuma?” tanya Riisa ketika dirinya sampai di bandara sore itu.

“Entahlah…dia kemana ya? Padahal aku sudah bilang boarding itu sejam sebelum keberangkatan…mana sih bocah itu?” Yuma kembali menge check ponselnya.

Mereka memang tidak pergi bersama. Fuma bilang ia harus pulang ke rumahnya dulu sebelum berangkat. Sementara Yuma dan Riisa berangkat bersama.

Sebuah pesan datang ke ponsel Yuma tak lama kemudian.

From : Fuu-ma
Subject : hehe
Aku tahu kau mau berduaan saja dengan Rii-chan kan?
Aku gak ikut ya…
Gak asyik..abis gak ada dinchan..
😛
Selamat bersenang – senang!!

Yuma segera menutup flip ponselnya, ia merasa mukanya memerah.

“Kenapa Yuma-kun?” tanya Riisa bingung.

Yuma menggeleng cepat “Tidak ada apa – apa..” katanya cepat.

“Lalu mana Fuma-kun?” tanya Riisa lagi.

Yuma memandang Riisa, “Itu…dia bilang ada urusan mendadak…jadi dia tak bisa ikut…” jelas Yuma.

“Sayang sekali ya…jadi…hanya kita berdua?”

Yuma mengangguk sementara keduanya tanpa disadari berbagi perasaan gugup yang sama.

“Waaahh~ kita sudah sampai?” tanya Riisa ketika menginjakkan kaki di bandara Okinawa.

Yuma mengangguk lalu mengambil tas besar yang Riisa bawa.

“Eh?”

“Berat kan? Kau bawa dua tas…biar aku yang bawa satu..” kata Yuma lalu memimpin berjalan di depan.

Di dekat bandara itu lah mereka bertemu dengan beberapa orang lain yang mendapatkan paket trip yang sama. Selama tiga hari mereka akan berjalan – jalan di Okinawa.

From : Yugo-chan
Subject : kau dimana?
Ponselmu tak aktif, Kento bilang kau ke Okinawa..
Benarkah?
Cepat telepon aku ketika sampai!!
Aku kecewa padamu…

Riisa menatap layar ponselnya dengan perasaan sedih. Ia memang tidak minta izin pada Yugo. Karena selalu jawaban yang sama akan keluar dari bibir pemuda itu “Tidak”.

“Kenapa?” tanya Yuma.

Mereka sedang berada di bis menuju ke hotel tempat mereka akan menginap.

Riisa menggeleng, “Tidak ada apa – apa..”

“Bersenang – senanglah… jangan hiraukan apa yang sedang kau tinggalkan jika itu membuatmu sedih…” ucap Yuma lalu menggenggam tangan Riisa.

Yuma sudah putuskan. Tak ada lagi kebohongan, saat ini ia hanya berdua dengan Riisa, itu artinya saatnya juga ia mengutarakan perasaannya. Tak peduli Yugo itu pacar Riisa, ia tak ingin gadis yang ia cintai disakiti terus – menerus.

“Yuma-kun…” Riisa sedikit kaget karena gerakan Yuma yang terlalu tiba – tiba.

“Setidaknya tiga hari ini…kau dan aku akan jadi pasangan…ingat itu…” putus Yuma tegas.

Riisa tak mampu menjawab dan hanya terdiam, sementara jantungnya berdetak lebih keras daripada biasanya. Ia tahu, ini bukan perasaan yang seharusnya. Ia sudah punya Yugo, ia tak mau mengkhianati apa yang sudah ia punya dengan Yugo selama setahun ini.

Just let out all your tears now without saying anything
I’ll be with you
I’m worried These kind of times
I want to throw everything away

==========

“Waaa!! Suggoooii!!”

Mata Riisa dimanjakan oleh pemandangan bawah laut di akuarium Churaumi. Salah satu daya tarik wisata di Okinawa.

“Foto yuk..” Yuma mengeluarkan ponselnya dan menarik Riisa ke sebelahnya.

Riisa hanya menuruti apa yang Yuma inginkan.

“Kemarikan..” Yuma merebut ponsel Riisa dan mematikannya.

“Eh? Kenapa?!”

“Bukan kenapa….ponselmu itu ribut sekali…”

“Mode getar kok…” protes Riisa, berusaha mengambil kembali ponselnya.

Yuma mencibir, “Tetap saja ribut…”

Sejak kemarin ponsel Riisa memang selalu ribut dengan banyaknya pesan masuk serta telepon. Tak usah melihat namanya saja Yuma sudah tahu siapa pelakunya? Tentu saja Yugo.

Riisa tak mampu mengambil ponselnya karena Yuma segera memasukkannya ke dalam tas yang ia pakai.

“Yuma…”

“Ini kusita hingga trip kita berakhir…” jelas Yuma lagi.

“Dinchan…katanya pulang?” tanya Fuma melihat Din pulang dari suatu tempat.

Din menoleh ke arah Fuma sekilas, “Aku gak minat ikut trip ke Okinawa..” jawab Din singkat.

“Kenapa?”

“Karena kupikir kau ikut…heu..” keluh Din lalu merebahkan diri di sofa.

Fuma menghela nafas. Din selalu bersikap seolah dia sangat membenci dirinya. Sejak Fuma mengutarakan perasaannya. Mungkin Din menganggap Fuma hanya bocah ingusan yang tak mengerti apa – apa soal cinta. Ya, ia mengakuinya. Ia belum mengerti benar apa itu cinta? Tapi, ia tahu kalau perasaannya pada Din sama sekali tidak main – main. Ia bisa mendapatkan gadis seumurannya, bahkan seminggu lalu sudah dua gadis yang memintanya jadi pacar mereka. Tidak ada satu pun yang ia gubris karena ia ingin Din saja.

Fuma mendekati Din, “Kau benar – benar membenciku ya?”

“Iya.. kau tak perlu bertanya berulang – ulang…” jawab Din ketus.

Sudah terlanjur membenci. Fuma habis kesabaran menghadapi Din. Tanpa pikir panjang Fuma melumat bibir Din sambil menahan tangan gadis itu yang meronta dari ciuman itu.

“Mmm…mm…Fu..” Din terus berontak namun kekuatan Fuma tentu saja lebih besar darinya.

Kini ia beralih ke leher Din.

“FUMA!!”

Seketika gerakan Fuma terhenti. Din mendorong tubuh Fuma yang berada di atas dirinya sekuat tenaga.

“Kau tahu… aku semakin membencimu!!” Ia tak pernah merasa se-tak dihargai seperti sekarang, ia sungguh sakit hati.

“Bodoh!” maki Fuma pada dirinya sendiri.

No matter how long night is
morning will definitely arrive

“Kau suka membuat harapan saat bintang jatuh?” tanya Yuma pada Riisa yang duduk di sebelahnya.

Malam ini merupakan malam terakhir mereka di Okinawa sebelum pulang kembali ke Tokyo esok pagi. Seluruh peserta trip mengadakan pesta kecil – kecilan di pantai dengan barbekyu dan api unggun.

“Hmmm~ kadang – kadang..walaupun aku tak begitu percaya dengan hal itu…” jawab Riisa.

“Sou ne…” Yuma lagi – lagi menggenggam tangan Riisa dengan erat.

“Anou…Yuma-kun…itu…” Riisa ingin menanyakannya, tapi ia enggan.

Sejujurnya ia takut akan jawaban Yuma.

“Aku sudah pernah bilang aku menyukaimu kan? Jadi aku tak perlu mengutarakannya lagi…benar kan?”

Yuma sering bilang ia suka pada Riisa. Namun karena situasinya selalu saat Yuma menjahili Riisa, sehingga gadis itu selalu menganggap itu hanya bualan Yuma saja.

“Tapi…Yugo…”

“Menjauh dari keparat itu! Aku yakin kau akan lebih bahagia bersama aku..” Yuma menoleh menatap Riisa, tak lama bibir mereka bertautan satu sama lain.

Meninggalkan kebahagiaan di hati keduanya, tapi sekaligus rasa bersalah di dalam hati Riisa.

The tears will one day change into a smile
So don’t get lost
I’ll be with you
==========

Hari Senin yang cukup cerah. Sayang hati Riisa cukup mendung hari ini. Ia akan bertemu Yuga, dan tak tahu harus menjelaskan apa pada kekasihnya itu. Dua hari ponselnya mati dan sama sekali tak menghubungi Yugo.

Suasana kelas cukup ramai ketika Riisa masuk ke kelas. Ia tak melihat tanda – tanda Yugo di dalam sana. Mungkin ia belum sampai di kelas.

“Ohayou Koichi-kun!!” seru gadis – gadis yang memang selalu menyapa Yugo setiap hari ketika masuk kelas.

“O-ha~” jawab Yugo.

Namun langkah Yugo terhenti ketika melihat Riisa yang duduk di bangku dekat jendela itu dengan ekspresi gugup.

“Kita perlu bicara…” ucap Yugo sambil menarik lengan Riisa, “diluar…” setelahnya Yugo menyimpan tasnya dan segera menarik Riisa ke sebuah sudut sekolah, tempat mereka biasa bicara.

“Anou…gomen..Yu…”

Kata – kata Riisa behenti seketika karena tubuhnya kini berada di dalam pelukan Yugo.

“Aku sungguh mengkhawatirkanmu… dasar baka!! Kento sampai memarahiku karena terus menerornya. Aku tak bisa menghubungimu dan itu membuatku frustasi…” kata Yugo tepat di telinga Riisa.

“Yu..go…” semua kata – kata yang sudah ia siapkan sejak semalam sama sekali tak bisa terucapkan.

Kini rasa bersalahnya berlipat ganda di pikirannya. Ia sudah mengkhianati kepercayaan Yugo.

“Kau tak perlu menjelaskan apapun…aku sudah melupakan apapun yang kau lakukan kemarin…entah itu tak memberi kabar atau apapun…semuanya sudah kumaafkan…” kata Yugo lalu melepaskan pelukannya.

“Tapi Yugo…”

“Tidak ada tapi…aku hanya minta satu hal…”

Riisa memandang wajah Yugo yang serius saat itu.

“Apa?”

“Tetap di sampingku…tetap jadi milikku…itu saja..aku tak butuh yang lain…”

Tangis Riisa merebak. Seluruh denyut nadinya merasakan penyesalan atas apa yang ia lakukan kemarin. Tak seharusnya ia terhanyut dengan Yuma, walaupun harus ia akui beberapa bulan ini ia memang mulai menyukai pemuda itu.

Don’t lose your wishes
and the dream you were about to forget
Remember…
the important feeling
Happiness is next to you

==============

“Dinchan…maaf..” Fuma sudah seminggu ini tak berani mendekati Din.

Din yang sedang memasak makan malam itu menoleh menatp Fuma, “Sudahlah…aku sudah melupakannya… asal kau tak mengulanginya lagi…” kata Din.

Fuma tak ingin jawaban seperti itu. Tapi ia cukup puas bahwa Din sudah tak marah lagi padanya.

“Aku tetap boleh menyukaimu?” tanya Fuma lagi.

Din berfikir lama, “Hmmm… aku akan tambah tua dan semakin tak menarik…mungkin kau tak akan lagi menyukai aku nanti…carilah gadis seusiamu!” seru Din.

Fuma menggeleng, “Umur kita cuma beda lima tahun Dinchan…kau mendramatisir keadaan…” seru Fuma.

“Iya..dan kau seumur dengan adikku, Kento, jangan bermimpi aku bisa memacari adikku sendiri…” keluh Din mulai capek dengan sikap Fuma yang kadang terlalu memaksa.

“Tapi Dinchan!! Aku kan lebih dewasa daripada Kento…aku…”

“Hei! Umurmu saja lebih muda daripada Kento…”

“Tapi aku serius Dinchan!! Aku mencintaimu!!” seru Fuma lagi.

Din mengetuk panci dengan sedikit kesal, “Baiklah… jika dalam tiga tahun kau bisa jadi dewasa dan bisa membuatku jatuh cinta…aku akan menjadi pacarmu…bagaimana? Tapi kalau gagal, tinggalkan aku..cari gadis lain saja…”

Fuma bersorak dan tersenyum kepada Din, “Kau akan menyesal dengan kata – katamu itu…”

Fuma tak tahu harus berapa lama ia bisa menaklukan Din. Tapi berapa lama pun waktunya, ia ingin mencoba membuatnya jatuh cinta.

Just let out all your tears now without saying anything
I’ll be with you

“Kau mengajakku kemari? Ada apa?” tanya Yuma heran.

Tak biasanya Riisa duluan yang mengajaknya jalan – jalan seperti malam ini. Mereka berada di Menara Tokyo.

Riisa menunduk, “Ada yang ingin kubicarakan…”

“Sou ne…masalah apa?” Yuma tak ingin memandang Riisa.

Sikap Riisa yang menjauh darinya sebenarnya sudah menjadi jawaban dari semuanya.

“Aku tak bisa meninggalkan Yugo…”

“Kau mencintainya?” tanya Yuma memotong perkataan Riisa.

“Aku menyukai Yuma-kun…dan maafkan aku telah memberi harapan padamu… tapi,, yappari..”

“Aku tanya… kau mencintainya?” tanya Yuma lagi dengan tegas.

Riisa mengangguk, “Aku sangat mencintainya…dan…”

“Sudah cukup jelas dan menjawab semuanya… kau harus bahagia dengan Yugo…”

“Yuma-kun…” panggil Riisa, matanya berkaca – kaca.

Yuma tersenyum, “Kau pasti bahagia asal dengan orang yang kau cintai… tapi kesempatanku masih ada kan? Kau belum naik pelaminan…hahaha…”

“Maafkan aku…”

Yuma menunduk dan tertawa, “Kalau itu keputusanmu, aku menerimanya…”

“Aku menyukai Yuma-kun kok…”

“Aku tahu…” ucap Yuma pelan, “Sayangnya kau tidak mencintai aku…”

Tangis Riisa merebak lagi. Ia sungguh sulit melepaskan Yuma yang sudah menawarkannya cinta yang membuatnya nyaman. Tapi, Yugo adalah orang yang membuatnya mengerti apa itu cinta? Ia tak bisa melepaskan orang yang begitu berharga untuknya.

The tears will one day change into a smile
So don’t get lost
I’ll be with you

“Kita tetap sahabat, kita tetap teman Rii-chan…” bisik Yuma sambil memeluk Riisa yang masih menangis sesenggukan.

“Un…” jawab Riisa pelan.

I Know I Love You, But… I Love Him More~

=============
OWARIIIII~!!

Lisa….Lisaaaaa… HAPPY BIRTHDAAAYYY!!!
Maaf akhirnya ama Yugo…saia ingin bikin kau kaget aja…hahaha.. 😛
Demo, comments are LOVE… ^^
Selamat tujuh belas cantiiikkk~ hhe~

Advertisements

One thought on “[Oneshot] I Know I Love You, But…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s