[Oneshot] Without Notice, I Fall For You

Title        : Without Notice, I Fall For You~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot
Genre        : Romance *just like it will change??”
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    : Yabu Kota (HSJ), Hinata Thalia (OC), dan beberapa cast yang lewat… 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Yabu Kota is belong to Johnnys and Associates, Hinata Thalia punyaan Debbi Natalia. Saia buat untuk hadiah ultah Thalia, walopun ceritanya sungguh gaje sekali…maap yaaaa~ Hahahaha.. it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Without Notice, I Fall For You

Musim gugur sudah lewat, dingin akan segera datang secepatnya. Thalia memakai syalnya sebelum ia berangkat ke sekolah.

“Mama.. aku berangkat!! Ittekimasssuuu!!” teriak Thalia dari depan pintu.

“Itterasshaii…” sahut Ibunya yang masih berada di dapur.

Thalia merasa tahun ini cuaca semakin dingin saja. Padahal baru awal bulan November, seharusnya musim dingin belum terlalu terasa.

“Thalia-chaann!!” Thalia menoleh karena panggilan itu, ternyata Michiko yang menyapanya.

“Michiko-chan…” sambut Thalia lalu tersenyum pada sahabatnya itu.

“Ano ne… sebentar lagi ujian… tapi aku tak yakin bisa mengerjakannya.. dou shiyo??” keluh Michiko yang berjalan di sampingnya.

Thalia hanya mengangguk – angguk mengerti akan perasaan Michiko. Ia juga harus segera belajar untuk ujian kenaikan kelas tahun ini. Jika ingin masuk kelas unggulan tentu saja.

Di sekolahnya terdiri dari empat kelas di setiap angkatan. Mereka dibagi ke dalam beberapa tingkatan kelas yang berbeda – beda. Kelas A merupakan yang paling baik, hingga kelas D.

“Tahun depan aku harus masuk kelas unggulan…” gumam Thalia pelan. Tahun kemarin karena ia ujian saat sakit, maka ia masuk ke kelas B. Tidak buruk, tapi ia ingin masuk kelas A.

“Michikooooo!!” sebuah suara lantang memecah pagi itu.

Baik Thalia maupun Michiko serentak menoleh ke belakang.

“Oha~ Michiko-nyan…” sapa seorang pemuda yang merangkul Michiko dengan mesra.

“Mou… Ryou-nyan… berhenti membuat keributan di pagi hari…” tegur Michiko pada pemuda itu.

Yamada Ryousuke, kekasih Michiko yang berstatus sebagai murid kelas tiga. Thalia mencibir melihat pasangan penuh cinta itu, ia tak suka roman picisan macam itu.

“Ohayou Thalia-chan..” sapa Yamada pada Thalia.

Thalia hanya membalasnya dengan tersenyum.

“Ohayou!!” sapa seseorang lagi.

“Arioka-senpai..” panggil ketiganya serempak.

Arioka Daiki adalah kakak kelas mereka, namun setelah lulus, kini ia kuliah dan sesekali mengajar di klub masak milik sekolah ini.

“Aku duluan..” pamit Daiki tampak sedikit tergesa – gesa.

Thalia menatap punggung yang menjauh itu dengan sedikit takjub. Ia sudah lama menyukai Arioka Daiki, ketika pertama kali ia bergabung dengan klub masak, tentu saja paksaan dari Michiko.

“Ehem..” Michiko menyenggol tangan Thalia.

“Sudahlah…ayo ke kelas..” seru Thalia yang menunduk menutupi rasa deg – degannya.

==============

“Hari ini Mama sudah panggilkan guru les untukmu…” kata Mama pada Thalia yang baru saja masuk ke rumah.

Thalia menoleh pada Ibunya, “Eh? Maji de? Arigatou Mama!” padahal Thalia baru saja mau meminta Ibunya mencarikan guru privat untuk dirinya.

“Iya…dia akan datang sejam lagi…kau ganti baju saja dulu…” kata Ibunya lagi.

Thalia mengangguk dan segera ke lantai dua untuk berganti pakaian.

Saat berganti pakaian ia merasa dirinya sungguh mengantuk, mungkin efek dari pelajaran olahraga tadi siang. Sehingga ia kecapekan dan mengantuk.

“Masih sejam… tidur dulu ah..” gumam Thalia dan langsung berbaring di kasur.

Thalia menggeliat dan mengerjapkan matanya, ia masih linglung ketika melihat seraut wajah yang asing.

“Hmmm? Dare?” pikir Thalia, nyawanya masih sebagian hilang setelah tertidur pulas tadi.

“Sudah bangun, tuan putri?”

‘Suaranya…. indah sekali… aku sedang bermimpi?’ batin Thalia masih berusaha mengingat siapa yang ada di hadapannya.

Thalia merasakan sebuah tangan membelai lembut rambutnya, “Ayo bangun… tuan putri..” bisiknya lagi.

“KYAAAAA!!” Seketika ia sadar bahwa itu bukan mimpi dan seorang pemuda berdiri di dekat kasurnya.

Pemuda itu tersenyum hingga matanya yang sipit terlihat hanya segaris saja.

“Si….siapa kau?!!” seru Thalia menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya, ia agak tenang melihat pakaiannya masih lengkap.

“Aku guru privatmu, Yabu Kota desu… yoroshiku onegaishimasu…” ujar pemuda itu sopan.

“Hah?!”

“Ayo kita mulai pelajaran privat hari ini…kita sudah telat setengah jam karena menunggumu bangun tidur… Thalia-chan..” kata Yabu lalu menarik selimut yang dipakai Thalia.

“Ehhh??” Thalia sedikit bingung dengan keadaan ini.

“Baiklah…pelajaran pertama kita… fisika…” kata Yabu sambil membuka buku paket tebal di hadapannya.

Thalia yakin kini ia benar – benar ingin pingsan.

==========

“Eeehh?? Kau dapat guru privat?? Aku juga mau…” seru Michiko di perjalanan menuju sekolah keesokan harinya.

“Dame!! Guru privatku menyebalkan sekali… ia tampan, tapi benar – benar membuatku sengsara…” keluh Thalia.

“Maksudmu?”

“Bayangkan saja… dalam dua jam aku privat, aku terus mengerjakan soal sangat banyak hingga rasanya ingin muntah saja…” Thalia menunjukkan wajah sebalnya pada Michiko.

“Hahaha… terus?”

“Terus kalau salah maka aku harus mengulanginya dari awal. Bayangkan saja…menyebalkan kan?” serunya berapi – api, “Sementara aku mengerjakan soal, dia hanya enak – enakkan baca komik atau main game di ponselnya… menyebalkan sekali…”

“Ohayou! Thalia-chan… Michiko-chan…” sapa seseorang.

“Eeehh… Arioka-senpai!” sambut Michiko sambil tersenyum.

“Panggil saja Daiki…” katanya, “Jangan lupa nanti sore kita akan belajar membuat cake lagi ya…” kata Daiki mengingatkan keduanya.

“Un! Wakatta senpai!!” jawab Michiko dengan gembira.

Thalia tak mau menjawab karena dadanya terlalu bergemuruh ketika melihat Daiki lewat di hadapannya tadi.

“Areeee~ mukamu merah Thalia-chan…” goda Michiko saat Daiki sudah berlalu dari tempat itu.

Thalia tak menggubris perkataan Michiko dan berjalan meninggalkan Michiko yang masih terkekeh melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.

Klub memasak sudah dimulai. Semua anggota yang ke semuanya adalah wanita itu sudah siap dengan celemek masing – masing. Kegiatan klub dilaksanakan di ruang kelas khusus memasak yang memang ada di SMA itu.

Sejak Daiki menjadi instruktur di klub memasak, anggota klub semakin bertambah saja. Bukan hanya tampan, Daiki yang manis itu juga jago memasak, tentu saja semakin banyak gadis yang suka pada pemuda itu.

“Kau bisa mengaduk adonannya? Thalia-chan?” tanya Daiki tepat di sebelah kirinya, membuat Thalia hampir melemparkan baskom berisi adonan tersebut.

“Hmm.. iya… senpai..” jawab Thalia terbata – bata.

“Nah… jangan menekan adonan terlalu kuat Thalia-chan…” tegur Daiki melihat hasil adonan milik Thalia.

“Ah… sumimasen Daiki-senpai..”

Daiki tersenyum lalu menepuk pelan kepala Thalia, “Ganbatte ne.. Thalia-chan..”

Demi apapun juga, saat ini ia ingin waktu terhenti seketika. Ketika Daiki menepuk kepalanya dnegan lembut itu, ia memohon agar waktu bisa berhenti beberapa detik saja.

“Un..” Thalia tertunduk sambil melihat ke lantai karena merasa pipinya memerah.

Saat pulang dari klub Thalia mencari – cari Michiko yang tiba – tiba saja hilang tepat setelah Thalia bilang akan ke kamar mandi dulu. Namun sebuah pesan menjelaskan semuanya.

From : Michiko
Subject : 😛

Aku duluan ya Thalia-chan..
Ryou-nyan menungguku..hehehe..
🙂
Hari ini kita akan kencan…
Pulang bareng Dai-chan saja??
Dou??

Thalia mencibir pada ponselnya. Kebetulan Yamada hari ini juga ada kegiatan klub bola, sehingga mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama.

“Kau belum pulang?”

“Eh… Daiki-senpai…iya.. aku baru mau pulang..” jawab Thalia lalu menutup flip ponselnya cepat.

“Sou… naik bis juga?” tanya Daiki sambil mengambil sepatunya di loker.

Thalia mengangguk.

“Kalau begitu… ayo…” Daiki berjalan duluan, Thalia mengikuti di belakangnya.

“Thalia-chan tidak suka memasak ya?” tanya Daiki.

“Sebenarnya… Michiko-chan yang ikut mendaftarkan namaku..” jawab Thalia jujur.

“Oh…pantas saja.. tapi Thalia-chan semakin hari semakin pintar memasak kok… hanya perlu lebih banyak latihan..” ucap Daiki sambil terkekeh pelan.

“Chotto… kau harusnya jangan asal memotong kukumu seperti itu!”

Thalia terkesiap mendengar suara itu. Suara yang dikenalnya. Ia menoleh mencari sumber suara.

Yabu Kota.

Tak salah lagi! Itu adalah guru privatnya yang kurang ajar.

Dahi Thalia seketika mengerenyit melihat adegan di hadapannya. Yabu Kota sedang memegang tangan seorang pemuda lain.

“Are?? Diaaaa???” Thalia hanya menggeleng – geleng tak percaya.

============

Thalia mencuri pandang pada Yabu yang dengan santai membaca komik di hadapannya. Ia begitu penasaran dengan adegan yang ia lihat tadi sore.

“Kau punya banyak waktu untuk melihatku? Satu menitmu sudah mau habis Thalia-chan..” tegur Yabu.

Kali ini Yabu memberikan tenggat waktu satu menit untuk setiap soal yang ia berikan.

“Eh…” Thalia terkesiap dan segera menunduk kembali melihat soal di hadapannya.

Ponsel Yabu tiba – tiba saja berbunyi. Pemuda itu segera mengangkatnya.

“Hmm?? Ya Kei-chan?? Iya.. aku pulang sebentar lagi kok… apa? Oke… nanti aku belikan di perjalanan pulang..”

Dengan cepat Thalia kembali memandang Yabu, Kei-chan pasti nama cowok kan? Batin Thalia terus bertanya – tanya.

“Hai! Waktu satu menitmu habiiss!!” Yabu menarik kertas yang sedang Thalia kerjakan.

“Aku belum selesai!!” protes Thalia berusaha menarik kembali kertas itu.

Yabu mengangkatnya tinggi, “Kau tahu, dalam ujian tidak ada kata melamun! Kau mau gagal?!” seru Yabu lagi.

Thalia manyun dan merebahkan kepalanya di meja, “Berisik…”

Yabu menyerahkan kertas itu lagi setelah semuanya ia hapus, “Kerjakan lagi! Kali ini 45 detik..” katanya.

“Gak mau…” tolak Thalia masih cemberut, ia mencibir pada guru privatnya itu.

Yabu seketika mendorong tubuh Thalia ke kaki – kaki ranjang yang tepat berada di belakang Thalia. Wajah Yabu hanya berjarak kurang dari dua senti dari wajah gadis itu.

“Kau mau kucium? Atau kerjakan sekarang?!” ancam Yabu, “Aku tak main- main…”

“Huuffftt!!” Thalia mendorong bahu Yabu dengan keras dan mengambil kertas soal itu, “Baiklah!” seru Thalia kesal.

“Tadaima…” Yabu masuk ke apartemen kecil itu.

“Okaerinasai…mana es krimku?!” seru orang di dalam.

Yabu melemparkannya pada pemuda kurus yang sedang berkutat di depan meja gambarnya.

“Tugasmu belum selesai? Kei-chan??” tanya Yabu pada teman se apartemennya itu.

Inoo beranjak dari tempat duduknya, membuka kacamata nya dan duduk di sofa tempat Yabu juga duduk.

“Belum…bahkan belum setengahnya… sial~” keluh Inoo lagi.

Sejak setahun yang lalu ia tinggal bersama Inoo. Yabu keluar dari rumah dan tak punya penghasilan apapun saat itu, akibatnya ia terpaksa menetap di apartemen sahabatnya itu.

Beberapa orang sering salah paham tentang mereka berdua. Mereka sering dianggap pasangan karena sikap bercanda Inoo yang kadang berlebihan. Padahal pemuda itu sudah punya pacar.

“Eh…kita ke bar yuk..” ajak Inoo tiba – tiba.

“Kei-chan…bisa berfikir lebih normal? Aku baru saja datang..” keluh Yabu.

Inoo beranjak dari sofa dan mengambil mantelnya, serta melemparkan mantel milik Yabu, “Ayolah…”

Yabu dengan malas mengikuti pemuda aneh itu keluar rumah. Mereka berjalan kaki menuju bar yang berada di sekitar pemukiman itu. Sedikit jauh, tapi Inoo tak mau naik kendaraan, ia memilih untuk berjalan kaki. Ciri – ciri pemuda itu sedang sedikit depresi dengan tugasnya.

Inoo dengan gerakan tiba – tiba melingkarkan tangannya di tangan Yabu, karena sudah terbiasa, Yabu membiarkan hal tersebut.

“Kau tahu… Opi-chan sudah jarang menggandengku seperti ini… apa dia tak suka lagi padaku?” Inoo mulai menceritakan masalahnya, ternyata ia ada masalah dengan kekasihnya.

Yabu terkekeh pelan, “Mungkin kau harus memberikan waktu lebih ekstra untuk memperhatikannya Kei-chan…” jawabnya.

“Kyaaa!!”

Baik Yabu maupun Inoo kaget mendengar suara teriakan itu. Sementara itu Thalia yang baru saja pulang membeli alat tulis di toko 24 jam kaget setengah mati melihat Yabu dan Inoo bergandengan macam orang pacaran.

“Yappari… dia itu…” Thalia menutup mulutnya tak percaya.

============

“Sudah selesai belum?” tanya Yabu pada Thalia.

Thalia tak menjawab, menatap Yabu dengan takut – takut. Buktinya sudah sangat kongkrit, harusnya mereka mungkin memang berpacaran. Itu orang yang sama yang Thalia lihat saat pulang sekolah.

“Kenapa melihatku seperti itu? Aku tanya kau sudah selesai belum?!” seru Yabu lagi.

Thalia menyodorkan kertas soal itu pada Yabu. Sejak dilatih untuk mengerjakan soal dengan metode di waktu, Thalia memang merasa kemampuannya mengerjakan soal dengan cepat meningkat drastis.

“Jya… kau sudah mulai ada peningkatan…” Yabu menyerahkan soal lainnya, “Kerjakan yang ini…”

Thalia menghembuskan nafas berat, namun akhirnya menerima soal itu.

“Ne…” panggil Yabu.

Thalia mendongak menatap Yabu, “Hmm?”

Yabu meraih dagu Thalia, menarik wajah Thalia mendekati wajahnya, “Kayaknya kalau senyum kau lebih manis deh…”

“Jangan panggil aku manis!” protes Thalia berusaha melepaskan diri dari Yabu.

“Hufft…seperti biasa kau selalu sinis…tapi…kau manis juga…” ujar Yabu dengan nada ringan.

Thalia melepaskan tangan Yabu dan menunduk pada kertas di hadapannya, ia tak butuh kata – kata itu dari seorang Yabu. Apalagi bukankah Yabu itu pacaran dengan laki – laki? Kenapa ia bisa bermulut manis pada seorang gadis? Pikir Thalia kesal, namun ia merasakan detakan jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

Ia tak mau mengakuinya, tapi jantungnya menjawab lebih dari apa yang ia ketahui.

===========

“Eeehh?? Hari ini kau kencan lagi dengan Yamada-kun?” Thalia menatap sahabatnya itu.

“Gomen Thalia-chan… hari ini kan hari jadi kita ke 479 hari…ya…”

“Eh? Kau hapal hari nya?? Sugeee..” perhatian Thalia teralihkan.

Michiko tertawa, “Tentu saja… daisuki na Ryou-nyan dan aku selalu ingat setiap harinya…hehehe..”

Thalia hanya tertawa menanggapi perkataan Michiko.

“Michiko-nyaaann~ ayo kencan!!” seru seseorang di depan pintu kelas Thalia dan Michiko. Tak perlu ditanya itu pasti snag pemuda yang sejak tadi mereka bicarakan, Yamada Ryousuke.

“Haaaii!!” serunya pada Yamada, “Gomen na Thalia-chan… jya na!! Nanti aku telepon…” kata Michiko lalu berlari ke arah Yamada.

Thalia melambai ke arah Michiko dan segera membereskan alat tulis serta bukunya. Ia berjalan keluar kelas, berpamitan dengan beberapa orang yang masih ada di kelas.

“Ah! Syalku kemarin ketinggalan di ruang masak..” Thalia ingat dia meninggalkan syal nya disana.

Akhirnya Thalia memutuskan untuk ke ruang masak terlebih dahulu. Thalia membuka pintu ruangan dengan sedikit hati – hati, namun gerakannya berhenti seketika. Daiki sedang berciuman dengan seseorang. Mata Thalia terbelalak kaget, ia tahu siapa gadis itu. Kakak kelasnya, murid kelas dua, Saifu-senpai.

“Hhmmpph..” Thalia segera menutup pintu dan berlari meninggalkan sekolah.

Kali ini ia tahu rasanya patah hati.

“Jadi kau mau terus diam disini? Atau ikut aku pulang dan belajar?!”

Thalia menoleh kaget mendengar suara Yabu tepat dibelakangnya. Ia memang berdiam diri di sebuah taman sejak tadi. Rasanya ia tak bisa bergerak dari situ.

Gadis itu tak menjawab.

“Ibumu bilang…jika sedih atau kecewa kau pasti berada di taman ini.. ternyata tapat sekali…” kata Yabu bermonolog, karena Thalia sama sekali tak menjawabnya.

Yabu duduk di sebelah Thalia, “Kau harusnya menangis saja jika sakit hati…” kata Yabu lagi.

Thalia tak suka terlihat lemah di hadapan siapapun, itu alasan utama kenapa ia tak pernah menangis di depan orang lain.

Seketika Yabu meraih pipi Thalia dan menyentuhnya dengan kedua telapak tangannya, “Hora! Kau kedinginan gadis nakal! Di malam sedingin ini kau tidak pakai syal!”

Thalia menatap Yabu, rasanya ia benar – benar ingin menangis sekarang.

Yabu melepaskan syalnya dan melingkarkannya di leher Thalia, “Baiklah..aku pinjamkan punggungku sehingga aku tak bisa melihatmu menangis…” tambahnya.

Yabu membelakangi Thalia, kini air mata Thalia tak terbendung lagi ia menyenderkan kepalanya di punggung Yabu, terisak hebat karena patah hati.

===========

“Baiklah…kau sudah siap untuk ujian minggu depan…” seru Yabu sambil menatap kertas soal yang baru saja dikerjakan oleh Thalia.

“Un! Arigatou Yabu-kun…” Thalia tersenyum mengambil kembali kertas tersebut.

“Jya… tugasku sudah selesai kurasa…”

“Hmmm… aku masih butuh bantuanmu hingga ujian selesai!! Aku bisa buktikan aku akan masuk kelas unggulan!” seru Thalia.

Yabu tersenyum, “Aku tahu kau pasti bisa… ne??”

“Aku ingin Yabu-kun memberikan hadiah padaku jika aku berhasil!!” pinta Thalia pada pemuda itu.

Yabu berfikir sejenak, “Baiklah…kita akan jalan – jalan di taman bermain… aku yang traktir.. dou?”

Thalia mengangguk cepat, “Un!!”

Setelah masa ujian lewat, akhirnya hari pengumuman pun tiba. Thalia harap – harap cemas melihat pengumuman tersebut. Ia ingin sekali berhasil, dengan begitu ia bisa menyatakan cintanya pada Yabu.

Ya, Thalia semakin suka pada Yabu setiap harinya. Walaupun Thalia tahu ia tak mungkin bisa bersama Yabu karena pemuda itu pasti tak tertarik padanya, tapi ia sudah bertekad untuk menyatakan cintanya sebelum ia berpisah dengan Yabu.

“Waaa!! Kita masuk kelas A!!” seru Michiko heboh.

Thalia menemukan namanya di daftar kelas A dan ikut merayakannya dengan Michiko, “Yatta!! Yatta!!” seru mereka senang.

Thalia memperlihatkan sebuah foto yang ada di ponselnya di hadapan Yabu, “Na… aku tak bohong kan?!” ia memotret namanya di daftar nama pemberitahuan.

Yabu tertawa, “Aku tahu kau memang pasti bisa…”

“Yabu-kun no okage de… karena Yabu-kun juga kan…” kata Thalia.

Hari ini mereka sepakat untuk pergi ke taman bermain. Yabu menunggu Thalia di gerbang depan dekat pintu masuk.

“Ayo…” ajak Thalia.

“Matte… temanku belum datang…” Yabu terlihat mencari – cari seseorang.

“Eh? Siapa?” tanya Thalia bingung.

“Ah itu dia! Kei-chan!!” panggil Yabu sambil melambaikan tangannya pada seorang pemuda, di sebelahnya ada seorang gadis juga.

Thalia ingat jika Kei-chan adalah orang yang menggandeng tangan Yabu malam itu, ia tak salah lihat lagi.

“Ini temanku… Inoo Kei..” kata Yabu sambil menunjuk Inoo.

“Inoo Kei desu… ini pacarku…”

“Yamashita Opi desu…”

“Hahahaha… kau kira aku apa?!” Yabu memegangi perutnya sambil terus menertawakan Thalia.

Mereka sedang berada di bianglala, Inoo dan Opi menghilang berdua sehingga mereka juga memutuskan untuk jalan berdua saja.

“Iya…habisnya malam itu… Inoo-san merangkulmu dengan mesra… aku pikir..”

Aku tahu…sudah banyak yang bilang begitu…tapi kami normal kok..hahaha.. hanya karena sudah setahun tinggal bersama, kami sudah terlalu dekat..” jelas Yabu.

“Souka…” gumam Thalia merasa bodoh berfikiran bahwa Yabu menyukai laki – laki juga.

“Jangan – jangan kau cemburu ya?” tanya Yabu tiba – tiba.

“Chigau yo!! Siapa yang cemburu?!!” wajah Thalia memerah karena tebakan Yabu tentu saja sangat tepat.

“Aku cemburu loh…”

Thalia menoleh, “Hah?”

“Aku cemburu pada pria yang kau tangisi malam itu… siapapun dia… kau pasti sangat menyukainya kan?”

Thalia tak bisa menjawab, segalanya terbaca oleh Yabu, pemuda itu bisa menebak semuanya dnegan tepat.

“Aku ingin kau menyukaiku juga…” Yabu tersenyum menatap Thalia yang terlihat sangat kaget dengan kata – katanya tadi.

“Tapi… Yabu-kun…”

“Tapi aku tak mau kau menangis karena aku…na? kita harus rukun selalu… gimana? Deal?!” seru Yabu menyodorkan tangannya pada Thalia.

“Mou… kau itu gak romantis ya…kita di bianglala loh…malah mengatakan hal seperti itu..sungguh tidak romantis..” protes Thalia.

“Jya… aku punya hadiah untuk keberhasilanmu saat ujian kemarin…”

Yabu menarik wajah Thalia dan mencium lembut bibir gadis itu.

Tanpa mereka sadari saat itu mereka tepat di tengah – tengah puncak tertinggi bianglala di tempat itu.

“Hadiahmu itu baru romantis…” kata Thalia sambil menutupi mukanya yang kini memerah karena malu.

“Yabu-kun…” panggil Thalia yang kini berada di pelukan Yabu.

“Hmm?”

“Daisuki…” rencananya menyatakan cinta pun berhasil dengan sukses.

“Aku tahu… aku lebih menyukaimu…” jawab Yabu pelan.

“Sejak kapan Yabu-kun tahu?”

“Sejak aku pertama kali bertemu denganmu…” jawab Yabu sambil mempererat pelukannya.

=============
OWARIIIII~

Oh gaje sangat….saia minta maaf jika tidak sesuai keinginan Thalia…
*bow*
Hadiah ultah buat dia…
Gomeeeennn jeleeekkk~ hahaha..
COMMENTS are LOVE


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s