[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 3) ~Heartbeat~

Title        : Jumping To My Heart ~Heartbeat~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter
Chapter     : Three~
Genre        : Romance *what else??haha~*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Chinen Yuuri (HSJ), Kujyo Aoi (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Chinen Yuuri is belong to Johnny’s & Association, Kujyo Aoi is Fanny’s OC yang saia pinjam. Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

JUMPING TO MY HEART
~ Chapter 3 ~
~ HEARTBEAT ~


 
=Flashback=

“Kenapa dengan perutmu?” tanya Yabu yang mengantarkan Chinen ke Rumah Sakit.

“Entahlah…sejak pagi sakit… tapi ku abaikan..” jawab Chinen.

“Lain kali sebelum terlanjur sakit kau harusnya ke Rumah Sakit…” kata Yabu yang menyetir di sebelahnya.

“Gomen Yabu-kun…”

Tak sampai dua puluh menit mereka sudah sampai di sebuah Rumah Sakit. Yabu mengantar Chinen ke Instalasi Gawat Darurat.

Chinen ditangani dengan cepat dan disuruh istirahat sebentar sambil menunggu obat yang akan diberikan padanya.

“Kenapa katanya?” tanya Yabu masuk ke bilik di mana Chinen berbaring.

“Aku kecapean, makan tidak teratur dan pencernaanku terganggu..” jawab Chinen singkat.

“Sudah kubilang…”

“Iya Papa… wakatta…” potong Chinen malas karena ia yakin Yabu akan mulai berceramah lagi.

“Aku ambil obatmu dulu…” kata Yabu akhirnya.

Ketika Yabu beranjak, tirainya tiba – tiba terbuka lagi. Ia kaget melihat seorang gadis masuk ke situ.

“Siapa kau??!” seru Chinen.

Gadis itu mendekati Chinen dan menutup mulut laki – laki itu cepat, “Jangan berisik!!nanti aku ketahuan…” bisiknya sangat pelan.

Chinen memperhatikan gadis itu memakai baju pasien.

“Ngapain kau disini?” tanya Chinen setelah melepaskan tangan gadis itu dari mulutnya.

“Hehehe.. aku sedang kabur… jangan bilang – bilang ya…” bisiknya lagi.

“Kujyou-san!! Kujyo-san!!!” seru suster yang ada di luar.

“Mereka mencarimu?” tanya Chinen.

“hehehe… Kujyo Aoi desu…” jawab gadis itu sambil tersenyum manis.

“Oh… Chinen Yuuri desu…” ucap Chinen juga, merasa dirinya harus memperkenalkan diri pada gadis di hadapannya.

“Maaf ya aku main masuk saja..” katanya lagi.

Baru kali ini Chinen merasa senyum di hadapannya sangat tulus dan manis kepadanya, membuat jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya. Ia tak percaya cinta pada pandangan pertama hingga hari ini ia merasakannya sendiri.

 =Flashback End=

“Chinen!!” sebuah suara membuyarkan lamunan pemuda itu.

“Yama-chan….”

“Kenapa pasang tampang gak asik kayak gitu?” tegur Yamada sambil menyentuh pipi milik Chinen, “Nanka atta no? (Ada sesuatu yang terjadi?)”

Chinen menggeleng. Dalam kehidupannya selama delapan belas tahun, baru kali ini ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan karena gadis itu luar biasa cantik. Bisa dibilang dia biasa – biasa saja, tapi sikap dan pembawaannya sukses membuatnya terpana seketika melihat gadis itu di Rumah Sakit.

“Na!!” Yamada mengguncang bahu Chinen dengan cukup keras, “Nilaimu ada yang B?”

“Hah?” Chinen bingung dengan perkataan sahabatnya itu, “Maksudmu?”

“Ya… kau kan selalu punya nilai A…siapa tahu karena nilai B senyummu itu bisa hilang? Hahaha..” Yamada menepuk – nepuk bahu Chinen.

“Ahahaha…” tawa Chinen miris, “Baka…” cibir Chinen pada Yamada.

Setelah pertemuan singkat itu Chinen jadi penasaran, bahkan ingin sekali kembali bertemu dengan gadis itu. Ia bertanya – tanya apa gadis itu sudah pulang ke rumah?

“Sore ini mau ke rumahku?” tanya Yamada, “Yang lain berencana main ke rumah…”

Chinen menggeleng. Ia tahu tempat yang ingin dia datangi sore ini.

“Maaf…bisa saya tahu ruangan Kujyo Aoi-san?” Chinen bertanya di meja resepsionis.

“Tunggu sebentar tuan…” suster itu mencari nama yang dimaksud, lalu tak lama memberi tahu Chinen dimana kamar gadis itu berada.

Ia melihat tanda di depan pintu itu. Kelas satu, dan isinya ada tiga orang lain selain Aoi. Seorang suster mengantar Chinen ke kamar tersebut.

“Kujyo-san… anda mendapat tamu…”

Aoi yang sedang membaca lalu menutup bukunya.

“He?” itulah suara pertama yang dikeluarkan Aoi setelah Chinen datang ke tempat itu.

“Yo!”

“Yo??!! Anou… Chinen-san… apa yang kau lakukan disini?” tanya Aoi bingung.

Dalam hati Chinen bersyukur gadis itu ternyata masih ingat namanya.

“Hmmm… betsu ni… hanya ingin tahu apa kau berhasil benar – benar kabur atau tidak…hehe..” Chinen merasa alasannya terlalu dibuat – buat. Tapi ia tak bisa memikirkan alasan yang lebih bagus daripada hal tersebut.

“Hehehe.. mereka menangkapku setelahnya…hehe..” Aoi tersenyum.

Chinen menatap senyuman itu cukup lama, rasanya ia benar – benar jatuh cinta. Sungguh hal aneh ini terjadi padanya.

“Chinen-san…” panggil Aoi.

“Eh? Ya??” Chinen gelagapan karena tertangkap basah sedang melamun.

“Ada sesuatu?”

Chinen menggeleng, “Aku hanya ingin menjengukmu…” jawab pemuda itu akhirnya.

“Teman – temanku pasti iri mengetahui aku dijenguk oleh Chinen Yuuri…hahaha..” Aoi menutup tawanya.

Senyum Chinen mengembang, “Kenapa memangnya?”

“Anak SMA sekarang kan suka Hey! Say! JUMP… siapa yang tidak tahu??hehe..” Aoi kembali tertawa.

Chinen ikut tertawa. Ia begitu penasaran dengan Aoi.

“Anou… maaf sedikit tak sopan… kau sakit apa?” tanya Chinen sedikit berbisik.

“Hmmm.. untuk sementara hanya flu biasa kok..” jawabnya sambil tersenyum manis, “Flu nya parah… sehingga aku harus di rawat…” tambahnya.

“Sou ne…” anggapannya bahwa Aoi sakit keras ternyata hanya pikirannya saja.

“Kau…tinggal dimana?”

“Apa ini sesi wawancara di majalah Popolo?” Aoi mendekatkan diri pada Chinen.

“Eh…itu…hmmm…” Chinen jadi salah tingkah karena gerakan Aoi yang terlalu mendadak.

“Hehehe….”

“Aku…aku…” ucapnya masih terbata – bata, “Aku hanya ingin lebih tahu tentang dirimu…. dame na no?”

“Ii yo…ayo kita berteman…” Aoi mengulurkan tangannya pada Chinen.

Sedetik kemudian Chinen hanya memandang tangan itu dengan sedikit takjub. Gadis itu ceria sekali. Aoi mengambil tangan milik Chinen dan menjabatnya.

“Yoroshiku ne… kita sekarang teman…” kata Aoi lagi.

Chinen hanya mengangguk sambil ikut tersenyum.

=========

Latihan hari ini baru saja selesai. Chinen masih berada di ruang latihan bersama member JUMP yang lain. Besok mereka harus ke Yokohama untuk lanjutan dari konser mereka.

“Ponselmu akan mengeluarkan sesuatu?” tanya seseorang yang ternyata Ryutaro.

“Hah?” Chinen mendongak menatap Ryutaro yang sedang berdiri.

“Dari tadi dipelototin mulu…” tambah Ryutaro.

“Hah? Hahaha…” ya, jatuh cinta bisa membuatmu jadi orang bodoh kadang – kadang.

“Maa… aku sedang menunggu sesuatu…hehehe..” jawab Chinen akhirnya.

“Sou ka… jya… aku pergi dulu… syuting dorama..” ujar Ryutaro sambil menunjukkan wajah capeknya.

“Hati – hati..” pesan Chinen, dibalas acungan jempol oleh member termuda itu.

Chinen memang menunggu telepon dari Aoi. Gadis itu berjanji akan meneleponnya, dan mengizinkan Chinen untuk berkunjung lagi atau bertemu dengannya jika ia sudah keluar dari Rumah Sakit.

Aoi bilang ia tak bawa ponsel. Karena memang pihak Rumah Sakit melarang pasien membawa ponsel. Sehingga tempo hari Aoi hanya mencatat nomor milik Chinen agar ia bisa menghubunginya dari telepon umum di sana.

Sudah tiga hari, dan telepon dari Aoi belum juga datang.

“Ada masalah apa Chii?” Yuto duduk di sebelahnya lalu merangkul Chinen.

Chinen menatap Yuto lama, menimbang apa bijak menceritakan semuanya pada Yuto.

“Hmmmm~” Akhirnya Chinen menceritakannya, ia ingin meminta pendapat terhadap Yuto.

“Aku tahu! Pasti nomor ponselmu hilang, jadi dia tak bisa menghubungimu!” kata Yuto bersemangat.

Chinen membulatkan matanya tak percaya, “Jenius! Itu pasti yang terjadi!!” serunya sambil mengangguk – angguk takjub kepada temannya itu.

“Darou?!!” seru Yuto menanggapi.

“Jya… aku akan kesana lagi untuk memastikan… semoga dia belum keluar dari Rumah Sakit…” gumam Chinen.

Di depan kamar yang sama, Chinen masih menemukan gadis itu ada di ranjanganya dengan sebuah novel tebal di pangkuannya. Gadis yang sama, tempat yang sama. Sudah lebih dari seminggu berarti gadis itu di Rumah Sakit, mustahil jika hanya sekedar sakit flu.

“Kujyo-san…anda dapat tamu..” kata suster yang mengantar Chinen.

“Ah…iya..” Aoi menanggapi dengan tersenyum lalu menutup bukunya, “Eh? Chinen-san….” gumamnya lirih.

Kini mereka berada di taman Rumah Sakit keduanya masih saja diam hingga mereka duduk di sebuah bangku.

“Genki ka?” tanya Chinen memulai.

Aoi terdiam sesaat, “Genki…”

“Kau bohong? Hmm?” Chinen enggan menatap Aoi, karena pasti ia tak dapat menahan emosinya.

“Tidak…aku tidak bohong. Minggu kemarin aku memang sedang flu berat…” jawab Aoi.

“Kita teman kan?” tanya Chinen lagi.

Aoi kini hanya sanggup mengangguk.

“Kalau begitu…kau harusnya tak bohong padaku…”

“Aku sakit jantung…sejak kecil jantungku lemah dan sekarang…penyakit ini sering kambuh…aku tak bisa terlalu kecapekan… dokter bilang, jika aku tak segera mendapat donor jantung…mungkin hidupku tak akan terselamatkan..” jelas gadis itu lalu tersenyum menatap Chinen.

Demi apapun di dunia ini. Aoi sedang membicarakan kematian, kenapa ia harus tersenyum seperti itu?

“Kenapa kau malah tersenyum?” tanya Chinen yang kini menunduk, mencoba menjadi kuat walaupun hatinya kini terasa sakit.

Aoi masih saja tersenyum, “Karena jika aku mati, maka orang tua ku tak harus merasa selalu bersalah, atau khawatir setiap saat penyakitku kambuh…itu hal menyenangkan kan?” tanyanya polos.

Tanpa berfikir lagi Chinen mendekap tubuh Aoi dengan erat, “Bodoh…” bisiknya.

“Chinen-san…kena…pa?” Aoi merasa dadanya sakit karena jantungnya berdetak terlalu cepat saat Chinen memeluknya.

“Aoi-chan no koto…sukida..” bisik Chinen lagi.

Aoi melepaskan dekapan Chinen lalu berdiri dan menjauh dari Chinen, “Berhenti…” nafasnya tersengal, Aoi mencengkram dadanya, “Kau bisa membuatku kena serangan jantung..” seru Aoi lalu meninggalkan Chinen.

“Aoi!!”

Gadis itu tak peduli. Satu – satunya hal yang selalu ia hindari adalah jatuh cinta. Ia tak siap dengan hal macam ini.

=========

Beberapa hari kemudian Chinen kembali ke Rumah Sakit yang sama. Bukan sifatnya untuk cepat menyerah hanya karena Aoi menolaknya sekali.

“Kujyo-san sedang melakukan pemeriksaan…mungkin akan selesai sebentar lagi..” kata seorang suster pada Chinen.

Chinen mengangguk sopan dan berjalan menuju tempat tunggu. Bagaimanapun ia harus bertemu dengan Aoi. Sebagaimanapun sulitnya, jikapun ia harus diusir oleh gadis itu.

Setelah beberapa lama menunggu, sosok Aoi muncul di ruang tunggu. Tak seperti biasanya Aoi memakai baju biasa, bukan baju pasien seperti biasanya. Selain itu ia juga didampingi seorang wanita paruh baya yang Chinen tebak sebagai Ibu dari Aoi.

“Aoi…” secara refleks Chinen berdiri dan menatap Aoi yang berjalan ke arahnya.

“Chinen-san…” Aoi sedikit kaget dengan kedatangan Chinen saat itu.

“Ah… Chinen Yuuri desu…” Chinen menunduk pada wanita paruh baya yang berdiri di sebelah Aoi.

“Baiklah Aoi… Okaa-san tunggu di mobil…” kata wanita itu.

“Un!” jawab Aoi cepat.

“Jadi kau akan pulang?” tanya Chinen setelah mendengar penjelasan Aoi.

“Un…paling tidak kondisiku membaik…jadi dokter membolehkan aku pulang…” jawab Aoi sambil tersenyum.

“Anou…soal…” Chinen hendak mengungkitnya, namun terpotong oleh ucapan Aoi.

“Bisa kita berteman saja dulu… Chinen-san??”

Chinen menatap Aoi, “Ya… kita sepertinya harus memulainya dari berteman dulu…” jawab Chinen.

“Ya sudah… aku harus pulang..” Aoi beranjak dari kursi ruang tunggu tersebut.

“Aoi!!” panggil Chinen saat sosok itu mulai menjauh, Aoi menoleh, “Hubungi aku ya…kita teman kan?!” tanyanya lagi.

Aoi mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

===========

From : Aoi-chan
Subject : Ok desu~

Baiklah Chinen-kun…^^
Nanti sore di dekat stasiun shibuya kan?
Wakatta…

Chinen tersenyum pada ponselnya ketika mendapat balasan dari Aoi. Ia memang mengajak gadis itu jalan – jalan pada sore hari ini. Kebetulan ia beres cukup cepat, sekitar pukul empat. Tepat sekali dengan jadwal pulang sekolah Aoi.

“Yabu-kun!” panggil Chinen pada pria jangkung yang berdiri tak jauh darinya, “Boleh aku ikut mobil Yabu-kun nanti sore?”

“Ii yo..” jawab Yabu lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

“Tumben kau lewat sini?” tanya Yabu menoleh ke Chinen yang duduk tepat di sebelahnya.

“Hehehe..” Chinen tak menjawab.

“Kencan yaaa??” ledek Yabu sambil masih konsentrasi pada jalan di hadapannya.

Chinen tak menjawab, hanya terkekeh karena ia memang menganggapnya kencan, entah bagaimana presepsi Aoi.

“Sial…kenapa ponselnya mati ya?” keluh Yabu ketika mereka berhenti di lampu merah.

Chinen menatap Yabu, “Kenapa Papa?” ia senang menggoda Yabu dengan sebutan itu.

“Thalia-chan marah padaku semalam, dan hingga hari ini ia tak menjawab teleponku…” keluh Yabu lagi, “Dame ka na… hufft..”

“Kenapa Yabu-kun?”

“Aku membohonginya soal tak bisa datang ke acara sekolahnya…” jawab Yabu masih sibuk dengan ponselnya.

“Kenapa kau berbohong?”

“Karena dia akan excited dan akan membicarakannya sepanjang hari, dan tak akan bisa konsentrasi pada pelajarannya… aku tak mau dia seperti itu..”

Chinen membatin dalam hati. Lalu kenapa Aoi membohonginya ya?

Stasiun Shibuya ramai sekali karena ini jam pulang sekolah. Chinen berdiri menunggu Aoi di depan sebuah toko dengan perlengkapan perangnya. Topi, syal dan jaket agar ia tak dikenali oleh siapapun.

“Chinen-kun..” panggil seseorang.

Chinen tersenyum ketika melihat siapa yang datang, “Aoi-chan..”

Aoi datang masih dengan seragam sekolahnya. Menurut Chinen itu sangat manis.

“Ayo…” ajak Aoi sambil tersenyum kepada Chinen.

Mereka pergi ke beberapa toko karena Chinen ingin membeli sesuatu. Beberapa toko mereka lewati hingga melewati sebuah toko mainan.

“Kawaaaiii…” seru Aoi ketika melihat sebuah boneka kelinci yang terpajang di etalase toko tersebut.

Chinen memperhatikan wajah Aoi yang berbinar ketika melihat boneka itu. Ia memutuskan untuk membelikannya.

“Ah! Aku tahu…”

“Apa?” Chinen bingung karena Aoi tiba – tiba berseru.

“Kelinci itu mirip Chinen-kun!!” seru Aoi sambil terkekeh.

Chinen tertawa dan mencubit pipi Aoi dengan gemas, “Dasar….” protes Chinen kesal.

“Hehehehe…” Aoi hanya terkekeh sambil mengelus pipinya yang memerah karena dicubit oleh Chinen.

“Baiklah…sekarang ke bioskop?” tanya Chinen pada Aoi, setelah Chinen mendapatkan barang yang ingin ia beli.

Aoi mengangguk, “Boleh…”

“Aoi…bisa kau beli tiketnya dulu? Aku lupa harus membeli sesuatu..” kata Chinen.

Aoi menatap Chinen, “Baiklah…”

Selesai membeli tiket Aoi menunggu Chinen di tempat tunggu. Pemuda itu belum juga muncul padahal film akan segera diputar. Dengan tak sabar Aoi mencoba menghubungi ponsel milik Chinen, tapi tidak juga diangkat.

“Gomen!! Ada sesuatu tadi… maaf..” Chinen terlihat tersengal – sengal karena berlari.

“Tak apa – apa.. ayo masuk…” ajak Aoi lalu berdiri.

Chinen beruntung hari ini ia bawa tas yang cukup besar sehingga boneka yang tadi ia beli bisa ia sembuyikan di tas nya.

Daerah rumah Aoi ternyata cukup sepi pada malam hari. Chinen bersikeras untuk mengantar gadis itu hingga ke depan rumah. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Aoi.

“Chinen-kun… terima kasih hari ini sangat menyenangkan…” kata Aoi tepat di depan pagar rumahnya.

Chinen mengangguk, “Un… hari ini memang sangat menyenangkan…”

“Aku masuk dulu ya…” Aoi melambaikan tangan, namun Chinen menangkap lengan Aoi dengan gerakan cepat.

“Sebentar…” kata Chinen lalu mengambil boneka yang sejak tadi ia sembunyikan, “Untukmu…”

“Eh?? Ini kan boneka yang tadi…” mata Aoi membesar karena kaget.

Chinen tersenyum lembut, “Karena kelinci ini mirip aku… kau jadi bisa selalu mengingatku…”

Aoi seketika mencengkram dadanya dan tersengal – sengal.

“Aoi!! Kenapa?!” Chinen kaget dan menangkap tubuh Aoi yang hampir jatuh.

“Chinen-kun…ini gak adil… aku… sepanjang hari ini aku berusaha menjaga agar jantungku berdetak dengan stabil, walaupun itu sangat sulit jika aku berada di dekatmu…” keluh Aoi masih tersengal – sengal.

“Moshikashite…” otak Chinen bekerja cepat memikirkan kata – kata bias yang diucapkan gadis yang kini berada di dekapannya.

Aoi mencium pipi Chinen sekilas, lalu berlari masuk ke pekarangan rumahnya, “Suki dakara..” kata Aoi, “Aku harus masuk atau aku rasa jantungku akan meledak…” serunya lalu masuk ke rumah.

Sementara itu Chinen masih terpaku di depan pagar rumah itu, ia masih tak percaya Aoi menerima cintanya.

“YATTA!!!” seru Chinen.

Malam itu keduanya saling tahu bahwa mereka tak mau saling melepaskan.

==========

Tiga bulan yang sangat menyenangkan bagi Chinen dan Aoi. Sebagai sepasang kekasih yang baru saja bersama, mereka selalu ingin bertemu. Walaupun sedikit sulit mengingat jadwal Chinen yang menjadi padat setiap harinya.

Hari ini Chinen sedikit heran karena tak satupun e-mail masuk dari Aoi. Tak biasanya gadisnya itu tak mengirimkan pesan pada pagi hari seperti yang biasa ia lakukan.

Sayangnya ia berada di luar kota sehingga tak bisa datang ke rumah Aoi malam ini untuk memastikan gadis itu baik – baik saja.

Hingga hari berikutnya Aoi sama sekali tak ada kabar, Chinen mulai putus asa karena ponsel milik Aoi pun tak diangkatnya. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada gadisnya.

“Ponselmu matikan dulu…” tegur Ryutaro yang duduk tepat di samping Chinen dalam perjalan pulang dari Hokkaido.

“Ah… gomen.. aku lupa..” kata Chinen lalu segera mematikan ponselnya.

Sepanjang perjalanan Chinen tak bisa istirahat sama sekali. Otaknya penuh oleh pikiran terjadi sesuatu pada Aoi.

Ponselnya berbunyi saat Chinen sudah tiba kembali di Tokyo. Ia segera menyalakannya sesaat setelah pesawat mendarat di Tokyo.

“Moshi – moshi?”

“Aoi desu kedo… Chinen-kun?”

“Aoi!!” Chinen hampir berteriak ketika mendengar suara Aoi di telepon.

“Gomen aku membuatmu khawatir…hehehe… aku hanya check up biasa kok… sekarang di Rumah Sakit…” ucap Aoi di seberang sana.

Firasat Chinen terbukti. Pasti terjadi sesuatu. Kalau tidak, kenapa Aoi tiba – tiba ke Rumah Sakit?

“Aku segera kesana..” putus Chinen cepat.

Ruangan berbeda dari biasanya. Kali ini Aoi berada di ruangan VIP, sehingga hanya ada Aoi di ruangan itu. Chinen melihat beberapa alat di sekitar ranjang milik Aoi. Ia mengedarkan pandangannya dengan sedikit heran, namun tak berani bertanya apapun pada Aoi.

“Sudah kubilang aku baik – baik saja Chinen-kun…” ujar Aoi.

Chinen menatap Aoi lama, “Kau tidak baik – baik saja… kau mau cerita ada apa ini?” tanya pemuda itu serius.

Aoi membuang pandangannya dari Chinen, “Aku tak apa – apa..”

“Kumohon jangan berbohong lagi Aoi-chan…” seru Chinen lalu mendekat ke arah Aoi, membelai kepala Aoi dengan lembut, “Aku sudah bilang aku akan berada di sampingmu terus kan?”

“Kenapa Chinen-kun datang pada saat yang tidak tepat?!” tangis Aoi merebak.

“Hah?” Chinen kaget dengan pernyataan dari Aoi.

“Sejak dulu aku bilang aku sudah siap jika nyawaku diambil… tapi sejak bertemu Chinen-kun… aku takut… aku takut kehilangan kesempatanku bersamamu… aku takut sekali dengan kematian…” isak tangis Aoi semakin keras terdengar.

Chinen duduk di ranjang Aoi dan menarik gadis itu kepelukannya. Tangis Chinen juga merebak. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa.

“Aku…aku tak akan membiarkanmu mati…tidak…” bisik Chinen lirih.

“Aku takut Chinen-kun….takut….” Aoi balas memeluk Chinen dengan erat, tangisnya pun tak mau berhenti.

“Maafkan aku…” bisik Chinen.

Chinen menatap tubuh kurus yang terbaring dengan bantuan alat – alat penopang kehidupannya di depan sana. Sebuah kaca menghalanginya untuk menyentuh tubuh itu.

Kekasihnya terbaring di sana. Dengan segala alat medis yang membantu ia tetap hidup. Sudah sebulan kondisi Aoi semakin buruk, ia harus segera mendapatkan donor jantung atau hidupnya tak terselamatkan. Walaupun dengan donor juga tak menjamin hidup Aoi bisa kembali normal.

Rasa pedih yang mendalam terasa di hati Chinen. Seakan nafasnya tercekat dan jika saja ia bisa sedikit meringankan beban Aoi, orang yang sangat ia cintai.

Tubuhnya lemas, ia berjongkok di depan ICU itu dengan isak tangis yang tak henti.

“Aoi….” gumam Chinen lirih.

Ia tak siap kehilangan Aoi. Baru empat bulan mereka bersama, dan sekarang gadis itu harus diambil? Isak tangis Chinen terdengar semakin pilu, orang tua Aoi yang duduk di dekat Chinen un menangis tersedu – sedu.

“Nande… Aoi-chan…” bisik Chinen.

Jika bisa, ia mau memberikan jantungnya untuk Aoi. Tapi, kemungkinan jantung mereka cocok dibawah lima persen. Ini yang membuat Chinen semakin sedih, ia tak bisa berbuat apapun untuk Aoi.

==========

Chinen kembali membenarkan letak dasi yang ia pakai. Ia yakin jasnya juga sudah benar – benar rapi.

Setelan pemakaman. Hari ini ia akan mengunjungi makam seseorang.

“Baru saja pulang dari Saitama kau langsung ke makam? Tidak capek?” tanya Yabu yang sedang menyetir di sebelahnya.

“Harus hari ini Yabu-kun…” jawab Chinen singkat.

“Sou…”

Sudah tiga tahun yang lalu kejadian itu terlewati. Setiap tahunnya ia tak pernah absen mendatangi makam itu. Tapi tahun ini lain daripada biasanya.

Sepeninggal Yabu, Chinen membeli sebuket bunga dan mengambil air untuk menyiram makam itu. Tapi seseorang yang sejak tadi ditunggunya belum juga datang.

“Maaf aku telat Chinen-kun… kuliah padat..” ucap gadis itu menghampiri Chinen yang berdiri dan tersenyum menyambutnya.

“Daijoubu… aku juga baru sampai kok…”

Chinen meraih tangan gadis itu dan menuntunnya ke makam yang setiap tahunnya selalu ia kunjungi itu.

“Jadi ini makamnya?” tanya gadis itu lirih.

Chinen mengangguk, “Sebenarnya aku sedikit memaksa pada pihak Rumah Sakit, akhirnya mereka memberi tahu aku…”

“Arigatou Chinen-kun…”

“Aku ingin tahu… orang yang menyelamatkan nyawa kekasihku sendiri kan…” kata Chinen menatap gadis di sebelahnya itu lama.

Tanizawa. Nama itu terukir jelas di nisan itu.

“Arigatou… Tanizawa-san…” gadis itu menunduk dalam.

“Arigatou sudah menyelamatkan Aoi-chan…” Chinen ikut bergumam di sebelah Aoi.

Baru kali ini ia mengunjungi makam itu. Selama tiga tahun ia beradaptasi dengan jantung donornya, dan walaupun selama beberapa tahun ke depan ia masih akan terus dipantau keadaannya, tapi ia berhasil bertahan selama tiga tahun ini.

Jalan pulang dari pemakaman itu dibagi berdua oleh Chinen dan Aoi. Chinen begitu bersyukur ada donor yang cocok untuk Aoi, sehingga gadis itu bisa diselamatkan.

“Ne…mana oleh – oleh dari Saitama? Kemarin konser kan?” tanya Aoi menatap Chinen yang kini menggenggam tangannya dengan erat.

“Ada di rumah… mau kau ambil?” tanya Chinen meggoda gadisnya itu.

Aoi mencibir, “Chinen-kun harusnya membawakannya untukku…..” keluhnya.

Chinen tertawa, “Ini oleh – olehnya..” pemuda itu berhenti dan menarik wajah Aoi sehingga kini bibirnya menempel pada bibir Aoi, mereka berciuman.

“Mou…kau bisa buat aku kembali kena serangan jantung jika gerakannya tiba – tiba seperti tadi..” keluh Aoi namun semburat merah terlihat jelas di wajah Aoi.

“Hehehe… aku punya oleh – oleh sebenarnya…” Chinen merogoh saku jasnya, “Kore…” sebuah kotak merah.

“Apa ini?” Aoi mengambil kotak itu dengan sedikit heran.

“Ini janji yang harus kau pegang sedikit lebih lama… aku tahu kita tak bisa menikah dalam waktu dekat… tapi, kau mau menghabiskan sisa hidupmu denganku?” tanya Chinen serius, mereka masih berjalan, namun seketika Aoi berhenti.

“Eeeehh??”

“Aku serius… Kujyo Aoi-san…” kata Chinen sambil menoleh menatap gadisnya yang kini menatap dirinya dengan tidak percaya.

“I do….” bisik Aoi sambil memeluk erat tubuh Chinen.

“Kau harus menunggu hingga sembilan tahun.. kau siap?” tanya Chinen sambil masih memeluk Aoi.

“Berapa lama pun itu…” jawab Aoi mantap.

Semburat jingga di ufuk barat menandakan hari sudah mulai malam. Mereka berbagi peluk dan harap untuk selanjutnya bersama. Chinen yakin ia akan bisa jatuh cinta setiap harinya pada wanita yang sama, hingga bertahun – tahun kemudian. Ia yakin itu.

==============

Jumping To My Heart ~Heartbeat~ END

To Be Continued….

Hahaha~ lanjutannya nih kawan – kawan…
Yang sekarang muncul Chii..hehehe…
Ada ide buat chapter selanjutnya siapa??^^
COMMENTS are LOVE…
Please komen ya teman – teman…
Mau lempar flames juga boleh….
Tapi komeeeennn~ hehehehe…

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Jumping To My Heart (Chapter 3) ~Heartbeat~

  1. debbi natalia

    bun,kalo udah 3 tahun, cerita berikutnya gimana?
    Jenny ama Yama dong bun, aku pengen baca. Kalo gak inoo ama opichi aja bun, gimana?
    Yabu jahat deh, bohong sama aku. Biar aja Thalia marah terus ama Yabu. Biar Yabu tau rasa. hahahaha….

    Reply
  2. dinchan

    @uci : hahaha…pada tertipu gini sih…LOL siip2.. sankyu… 🙂

    @thalia : ini kan cuma bagian Chii aja..ga ada sangkut paut ama yang lain say…hahaha..
    kan Kou sayang Thalia ceritanya…#Plakk

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s