[Multichapter] Happiness (Chapter 13)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Thirteen
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ), Masami Nagasawa (Actress), Inoue Mao (Actress), Akanishi Jin (Johnny’s)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 13 ~

5 Years Later

Opi menggelengkan kepala saat melihat seorang pria masih terbaring di tempat tidur. Sekarang sudah pukul 8.30 pagi dan sepertinya tidak ada tanda-tanda pria itu akan bangun.

“Sho!!Kau mau tidur sampai pukul berapa? Nanti kau terlambat,” omel Opi sambil membuka gorden yang berwarna biru muda itu.

Opi hanya mendengar suara erangan dan kemudian pria itu membalikkan badan membelakangi dirinya.

Opi mendecak kesal.

“Sho bangun!!!” Opi mengguncang-guncangkan tubuh Sho sehingga tempat tidurnya bergetar.

“Biarkan aku tidur, Opi-chan. Aku baru pulang pukul 3 pagi,” ucap Sho beralasan.

“Bukankah siaranmu berakhir pukul 12? Kenapa baru pulang pagi?” tanya Opi.

“Aku minum bersama teman-temanku,” jawab Sho tanpa membuka matanya.

Opi mendecak lagi. Kebiasaan kekasihnya itu memang tidak berubah sejak dulu.

“Pokoknya kau harus bangun sekarang,” ucap Opi sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Sho. “Aku akan membuatkan sarapan.”

Mau tidak mau, akhirnya Sho membuka matanya dengan malas. Selain karena hawa dingin yang menusuk-nusuk kulitnya, yang dikatakan oleh Opi ada benarnya. Ia tidak boleh terlambat siang ini.

“Kau tidak bekerja?” tanya Sho begitu ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Opi yang berada di dapur.

“Sebentar lagi. Oia, bajumu sudah aku siapkan. Dan bento-mu ada di atas meja,” jelas Opi tanpa mengalihkan perhatiannya dari masakan di depannya.

Sho menatap bento-nya yang masih terbuka lalu bergantian menatap bajunya yang sudah tergantung rapi.

“Sugoii…belum menjadi istriku saja sudah seperti ini,” batin Sho lalu tersenyum senang. Ia merasa sangat beruntung kekasihnya itu adalah Opi.

Sho lalu menopang dagu sambil menatap Opi dan berkata, “Sudah kubilang lebih baik kau tinggal di sini. Jadi tidak akan kerepotan seperti ini.”

“Dan sudah kubilang juga, kalau aku tinggal di sini, An-chan pasti akan membunuhku,” balas Opi.

“Terserah kau lah. Tapi ini sudah pukul 9 loh, Opi-chan,” ujar Sho mengingatkan. Ia tahu Opi harus berada di tempat kerjanya tepat pukul 10.

“Uso? Yabai…” Dengan segera Opi mematikan api kompor lalu berlari menyambar tasnya. “Ambil saja sendiri sarapanmu. Aku sudah sangat terlambat. Ja~.”

“Ini tertinggal.” Sho menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam pada Opi.

“Ah….arigatou. Ja ne, Sho-kun.”

Dan dalam sekejap Opi sudah menghilang dari hadapan Sho. Sebenarnya ia sendiri terlambat bangun pagi ini. Semua gara-gara Daiki yang terus menerus bercerita dan laki-laki itu tidak mengizinkannya untuk pulang. Alhasil ia sampai rumah pukul 2 pagi.

Opi datang tepat waktu. Saat dirinya sampai di halte, bis akan datang 2 menit lagi. Ia duduk di kursi dengan sangat lega. Selagi menunggu, ia mengecek barang bawaannya. Dan ia mengerutkan kening saat melihat apa yang ada di tangannya.

“Kotak apa ini? Perasaan aku tidak membawa ini dari rumah,” gumam Opi heran.

Karena penasaran, gadis itu membuka kotak dengan hati-hati. Setelah melihat apa isinya, Opi menjadi ketakutan karena isi kotak itu adalah sebuah cincin yang sangat indah.

“Ini punya siapa?” Opi mencabut cincin itu dari tempatnya dan saat memperhatikan cincin itu dengan seksama, ia melihat ada ukiran dengan tulisan namanya.

“Punyaku?”

Bertepatan dengan itu, ponselnya bergetar.

“Moshi-moshi?”

“Sudah melihatnya?”

“Sho-kun? Melihat apa?”

“Isi kotak itu.”

Opi lalu teringat. Saat ia terburu-buru pergi, Sho menyerahkan kotak padanya yang ia sendiri tidak tahu apa isinya. Ia hanya asal mengambil.

“Sudah. Isinya sebuah cincin. Dan ada namaku,” jawab Opi. Ia lalu terdiam sebentar. “Apa artinya, Sho-kun?”

Sho tidak langsung menjawab. Tiba-tiba suara yang terdengar oleh Opi menjadi hening.

“Opi Ninomiya, maukah kau tetap bersamaku? Tidak hanya untuk hari ini. Ataupun besok. Tapi selamanya,” ucap Sho dengan hati-hati.

Mendengar ucapan Sho, jantung Opi serasa berhenti berdetak. Semua terasa jelas karena hanya suara Sho yang terdengar oleh telinganya.

“Tengok ke kanan,” perintah Sho.

Opi menoleh ke sebelah kanannya seperti yang Sho bilang. Di sana sudah ada Sho yang menghampirinya dengan masih memakai T-shirt dan celana training dan ponsel yang menempel di telinga kanannya.

“Sho-kun?” Opi berjalan menghampiri Sho. “Ada apa?”

Sho menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku. Tangan kanannya mengambil kotak cincin yang masih dipegang oleh Opi.

“Mungkin kau tidak mengharapkan yang seperti ini. Restoran yang mewah dan romantis. Alunan musik klasik dengan lilin yang mengelilingimu.” Sho lalu menyematkan cincin di jari manis Opi. “Tapi perasaanku sekarang, tidak kalah dengan jika kita berada di restoran mewah itu.”

Opi diam. Ini untuk pertama kalinya ia mendengar seorang pria mengatakan itu padanya.

“Menikahlah denganku..”

Opi menutup mulut dengan tangan kanannya. Apa ia sedang bermimpi?

“Jadi jawabanmu?” tanya Sho karena Opi tidak mengucapkan satu katapun.

Opi melepas tangan dari mulutnya dan mendesah. “Aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini. Tapi kau tahu, Sho-kun adalah orang yang paling romantis untukku.” Opi lalu memeluk Sho. “Meskipun kau melamarku di pinggir jalan seperti ini,” lanjutnya pelan yang hanya dapat di dengar olehnya dan Sho.

Sho tersenyum meringgis. Tapi kedua tangannya lalu merengkuh gadis itu. “Apa aku boleh menebak jawabanmu adalah ‘iya’ ?”

Opi menahan tawa. Apa ada di dunia ini yang mendapat lamaran dari seorang pria yang dicintainya dengan cara seperti ini? Jawabannya mungkin tidak.

Opi melepaskan diri dari pelukan Sho dan menatap mata laki-laki itu.

“Un~,” Opi mengangguk.

Sho tersenyum lega lalu mengecup bibir Opi. Hanya sebentar karena gadis itu lalu mendorong tubuhnya.

“Ini di tempat umum, Sho-kun!” gerutu Opi.

“Ahahaha..tidak ada yang memperhatikan. Tapi…” Sho menggantungkan ucapannya.

“Tapi apa?”

“Bukankah itu bismu?”

Opi melihat arah yang ditunjuk oleh Sho.

“Ah…aku ketinggalan bis,” seru Opi lalu mendelik pada Sho. “Ini semua gara-gara Sho-kun. Aku bisa terlambat.”

Sho yang jelas-jelas mendapat amukan dari Opi hanya tertawa kecil melihat kepanikan kekasihnya. Ah tidak…calon istrinya.

Sho mengacak-acak rambut Opi dan berkata, “Aku yang antar.”

Wajah Opi yang panik lalu tersenyum. “Kenapa tidak menawarkan sejak tadi? Kalau kau melamarku di mobil kan lebih romantis.”

Sho menggenggam tangan Opi lalu mereka berjalan untuk kembali ke tempat Sho. “Benar juga yah? Akan aku pikirkan.”

“He? Memangnya Sho-kun akan melamarku lebih dari sekali?”

“Kalau kau mau,” jawab Sho sambil tersenyum.

Opi mendecak. “Mana ada yang seperti itu? Sho-kun aneh.”

“Tapi kau menyukaiku yang aneh kan?”

“Itu….hmm…ya..mungkin,” sahut Opi terbata-bata. Ia malu mendengar Sho mengatakannya secara terang-terangan seperti itu.

“Mungkin? Kau tidak yakin? Lalu kenapa menjawab lamaranku?” Sho terdengar kesal.

“Sudahlah itu tidak penting lagi.”

“Tapi…”

“Sssttt..diam.”

Selama perjalanan mereka menuju rumah Sho, Opi tersenyum bahagia. Setelah 5 tahun mereka berpacaran, akhirnya Sho benar-benar melamarnya. Kebahagiaannya pasti lengkap jika kakaknya, Kazunari, mengetahui jika dirinya akan segera menikah. Tapi hingga sekarang keberadaan kakaknya saja ia tidak tahu. Walaupun kadang Kazunari menghubunginya beberapa kali. Ia berharap kakaknya itu akan cepat kembali.

============

“Katou-san, boleh aku izin keluar sebentar?” tanya Sho pada salah seorang staff.

Pria yang dipanggil Katou itu melihat jam tangan nya. “Boleh. Hanya 30 menit. Memangnya mau kemana?”

“Aku perlu menghubungi seseorang.”

Setelah pria yang bernama Katou mengangguk, Sho lalu pergi ke atap gedung, suatu kebiasaannya jika ingin mengobrol dengan tenang tanpa diganggu.

Sho menghubungkan ponselnya pada sebuah nomor dan dalam beberapa saat hanya terdengar suara tanda panggilannya sudah tersambung.

“Moshi-moshi?”

“Moshi-moshi. Bisa saya berbicara dengan Ninomiya Kazunari?”

“Tunggu sebentar. Ninomiya-san…”

Sho menunggu cukup lama sampai orang yang ia maksud berbicara padanya.

“Moshi-moshi? Ninomiya desu..”

“Kazu, ini aku. Sho.”

“Ah…Sho.”

“Genki?”

“Genki da yo. Doushita no?”

Sho menarik napas. Ia tidak tahu akan sesulit ini berbicara dengan sahabatnya itu tentang rencana pernikahannya dan Opi.

“Kau…bisa kembali ke sini bulan depan?” tanya Sho.

“He? Itu…..”

“Aku dan Opi akan menikah bulan depan,” lanjut Sho memperjelas.

“Ah? Souka…”

“Aku harap kau bisa datang.”

Tidak ada jawaban dari Kazunari. Hal ini membuatnya sangat khawatir Kazunari tidak akan datang.

“Dia pasti mengharapkan kedatanganmu,” lanjutnya.

Terdengar Kazunari mendesah. “Akan aku pikirkan.”

“Baiklah. Aku hanya ingin memberitahumu tentang hal itu. Ja~.”

“Sho..”

Sho yang baru saja akan menutup ponselnya lalu mengurungkan niatnya. “Nani?”

“Omedetou…”

Sho tersenyum. “Arigatou.”

Sho tidak puas dengan jawaban Kazunari. Tapi lebih baik karena dia akan memikirkannya. Ia tidak dapat membayangkan wajah sedih Opi jika kakaknya tidak datang.

“Sakurai-san! Sudah waktunya,” panggil seorang staff membuyarkan lamunan Sho.

Sho mengangguk. “Hai.”

Sementara itu, Kazunari sedikit shock setelah mendengar bahwa adiknya akan menikah dengan Sho. Ia turut bahagia untuk adiknya. Tapi di hatinya, ada perasaan tidak rela karena Opi akan menjadi milik orang lain.

“Telepon dari siapa?”

Kazunari menoleh pada gadis manis yang bertanya padanya.

“Dari temanku,” jawab Kazunari. “Baru belanja?” Kazunari menunjuk barang bawaan gadis itu.

“Un. Persediaan di dapur sudah habis. Jadi tadi sekalian aku membeli beberapa bahan,” jawab gadis itu. “Kalau begitu aku ke dapur dulu.”

‘Ano..Masami-chan,” panggil Kazunari membuat langkah gadis yang bernama Masami berhenti.

“Nani?”

“Mau kubantu?”

Masami mengangguk. Terlihat jelas ia senang saat Kazunari menawarinya bantuan.

“Ne Masami-chan..” panggil Kazunari.

“Hmm?”

“Sepertinya, aku akan pulang bulan depan,” kata Kazunari masih sambil membereskan belanjaan.

“He?” Masami berhenti memasukkan sayuran setelah mendengar perkataan Kazunari. “Kau yakin? Bagaimana dengan adikmu?”

“Cepat atau lambat, hariku untuk pulang pasti akan datang. Dan soal perasaanku, aku yakin akan segera melupakannya,” jawab Kazunari.

“Lalu sekarang?”

“Entahlah. Aku tidak tahu.”

Masami diam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Tapi mendengar dia akan menikah, aku ikut senang. Aku mengharapkan kebahagiaannya,” lanjut Kazunari tersenyum pada Masami.

“Apa tidak ada tempat untukku?”

“He?”

“Apa aku tidak bisa menggantikan posisi Opi?” tanya Masami tegas.

“Itu……” Kazunari menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung saat menghadapi situasi ini.

“Aku selalu berpikir Kazu-san akan cepat melupakan Opi setelah 5 tahun tinggal di sini. Tapi setiap Kazu-san berbicara denganku, selalu Opi yang ada dipikiranmu. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku yang menyukaimu,” Masami mulai terisak. Perasaan yang terus ia pendam membuatnya jadi hilang kendali.

Kazunari terbelalak. Sejak ia datang ke tempat ini, Masami adalah tempatnya bercerita selain Din. Gadis itu tahu tujuannya ia berada di sini. Dan ia selalu memberitahu apa yang ia rasakan pada Masami, terutama tentang kerinduannya pada adiknya. Kali ini, ia tidak menyangka akan mendengar pernyataan dari Masami yang ternyata menyukainya.

Perlahan, Kazunari menghampiri Masami yang tertunduk.

“Gomen ne.” Kazunari lalu merengkuh tubuh Masami. “Aku tidak tahu tentang perasaanmu. Masami-chan adalah orang yang baik. Aku menyukaimu. Tapi…..”

“Wakatteru. Orang yang terpenting untukmu hanya Opi,” potong Masami.

“Itu karena dia adalah adikku,” ralat Kazunari. “Kadang aku berpikir, seandainya kita bertemu lebih cepat.”

“He?”

Kazunari melepas pelukannya lalu menatap Masami yang masih bingung dengan perkataannya. “Bisakah kau menungguku?”.

Masami diam. Ia tidak tahu harus berkata apa sekarang.

“Aku akan memikirkannya. Tidak akan lama. Sampai aku dapat melepas Opi, apa kau akan tetap menungguku?”

Wajah Masami yang sedih, berubah cerah. Ia tersenyum lalu mengangguk. “Aku akan menunggumu di sini.”

Kazunari tidak yakin dengan ucapannya. Tapi bukan suatu kebohongan jika ia memang tertarik dengan Masami. Sampai ia dapat meyakinkan dirinya bahwa ia hanya menganggap Opi adiknya, ia tidak bisa dengan gegabah menerima Masami. Mungkin dengan kembalinya Kazunari sebulan lagi, ia akan mendapat jawabannya.

=============

“Kazu-Nii!! Ambilkan itu…” Din berteriak kecil pada Kazunari yang berdiri tak jauh dari dirinya.

Kazunari mengangguk dan mengambilkan sekop kecil itu pada Din.

“Semoga Shiro lebih bahagia disana…” Din berdo’a di depan sebuah gundukan kecil.

“Sudah nangisnya?” tanya Kazunari lalu terkekeh melihat air mata Din sejak kemarin malam.

Din mendelik ke arah pria itu, “Kazu-Nii jahat…aku kan sayang sekali pada Shiro…” katanya lagi.

Kucingnya yang ia beri nama Shiro, karena bulunya putih. Ia temukan setahun lalu dan mati semalam karena sakit.

Selama lima tahun hidup di kota kecil itu, membuat Din dan Kazunari sudah seperti saudara kandung. Mereka bekerja setiap harinya di perkebunan yang sama. Baik Kazunari maupun Din sama sekali tidak pulang ke Tokyo selama lima tahun ini.

“Soro soro Kaerou ka?” tanya Kazunari pada Din.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berdampingan, “Maa na… aku harus pulang sih… Rei-neechan bilang ia akan merayakan sepuluh tahun pernikahannya dan aku harus pulang kalau tak mau dipecat sebagai adik..hahaha..” jelas Din sambil terkekeh.

“Sou na…”

“Kazu-Nii kapan pulang?” Din balik bertanya.

“Secepatnya… tidak hadir di pernikahan adikmu sama saja dengan aku tak menganggapnya adik..dan itu tak boleh terjadi…”

“Eeehh?? Opi-san akan menikah?”

Kazunari mengangguk lalu tersenyum, “Ia bahkan mendahului aku…hahaha..”

Din ingat lima tahun lalu ia juga hampir menikah dengan Aiba. Segera setelahnya ia ingin tahu keadaan kekasihnya itu. Mantan mungkin lebih tepatnya. Apa pria itu baik – baik saja? Ia memutuskan segala hal yang berhubungan dengan Aiba, ia tak mau terganggu dengan hal semacam itu.

“Lima tahun cukup untukmu?” tanya Kazunari tiba – tiba bertanya.

Din tertawa, “Kita tahu kita melakukan hal yang salah bersamaan…”

Ya, mereka tahu pada akhirnya melarikan diri tak akan pernah menyelesaikan apapun. Seharusnya mereka menghadapi masalah mereka dan menyelesaikannya saat itu juga.

“Maa na…hahaha…”

“Kapan pulang?” tanya Din.

“Bulan depan…. kau?”

“Seminggu lagi juga pulang…” jawab Din.

Warna merah di ufuk barat menandakan hari sudah sore menjelang malam. Keduanya hanya tersenyum menatapnya. Saatnya pulang. Menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya memang sedikit menyakitkan. Saatnya menghadapi ketakutan mereka masing – masing.

==========

“Reina…bangun…”

Gadis berumur sepuluh tahun itu menggeliat dan menyipitkan mata untuk melihat siapa yang membangunkannya dari mimpi indah.

“Ah Otou-san… kan masih jam delapan…” keluhnya melihat jam dinding yang ada di kamarnya.

“Jam mu itu rusak!! Cepat bangun!!”

“HAH?” Reina secepatnya bangun, “Memangnya sekarang jam berapa?!”

“Jam setengah sembilan!!” seru pria itu ikut kalut.

“KYAAA~ Kenapa Otou-san baru membangunkan aku sekarang?!” seru Reina lagi.

Aiba tertawa ketika putrinya itu membanting pintu di hadapannya. Tentu saja ia bohong. Kalau tidak begitu, Reina pasti telat lagi seperti kemarin. Alhasil dia kena marah Sho yang mengetahui Reina sering telat.

“Mou~ Otou-san…jangan bohongi aku lagi dong..” Reina manyun sambil menyuap makanan ke mulutnya.

“Karena putriku ini gak akan bangun kalau gak dibohongi…” Aiba mengambilkan segelas susu dan menyimpannya di hadapan Reina.

“Hehehe… ah iya! Hari ini aku pulang ke rumah Papa ya…” kata Reina lalu meneguk susu di hadapannya.

“Un! Papa mu itu akan menikah kan sebentar lagi?” kini Aiba duduk di hadapan Reina.

“Iya…akhirnya Papa punya istri…waaaa~” gumam Reina membayangkan Sho bersama calon istrinya.

Sudah selama hampir empat tahun ini, Reina hidup bersama Aiba dan Sho. Tidak ada aturan yang mengharuskan Reina pulang ke rumah yang mana. Namun sudah setahun ini gadis itu mantap tinggal bersama Aiba. Ia sudah bisa menerima sepenuhnya Aiba adalah ayah kandungnya.

“Otou-san…” panggil Reina tiba – tiba.

“Hmm?” Aiba yang sedang berada di dapur menoleh sesaat pada Reina.

“Kalau Otou-san…kapan akan menikah?” tanyanya polos.

Nafas Aiba seketika tercekat. Ia ingin sekali menjemput Din. Bertahun – tahun ini yang bisa ia lakukan hanya mendengar kabar gadis itu dari Kazunari. Selebihnya ia belum siap bertemu Din.

Lebih tepatnya gadis itu tak mengizinkannya untuk bertemu.

Din pasti sekarang sudah lebih dewasa, dan selama ia beranjak dewasa, yang di sampingnya adalah Kazunari bukan Aiba.

“Otou-san…” panggil Reina membuyarkan lamunan Aiba.

“Maa ne… entahlah…” jawab Aiba pelan.

Ia mengantarkan Reina ke sekolah. Gadis itu kini sudah kelas empat, tingkahnya juga makin aneh – aneh saja. Mungkin karena faktor lingkungan, Reina tumbuh menjadi gadis yang lebih cepat dewasa dibandingkan dengan gadis seusianya.

“Ini berkasnya senpai…” Daiki menyerahkan beberapa file di hadapan Aiba.

“Ah! Sankyu!! Ngomong – ngomong Daiki… kurasa kau harus ikut lomba fotografi yang kemarin aku perlihatkan brosurnya..” kata Aiba mengingatkan Daiki.

Daiki menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, “Aku tak punya keberanian untuk ikut bagian di kompetisi seperti itu..” jawabnya terbata – bata.

“Coba saja dulu…aku juga memulainya dari nekat, namun akhirnya aku bisa jadi seperti sekarang…” kata Aiba menyemangati.

“Un! Senpai! Aku akan memikirkannya!” Daiki membungkuk dalam, “Ah… iya… besok malam lemburku diganti oleh Yuto-kun… aku..tak bisa lembur…” ujar Daiki pelan.

“Sou… oke…”

=========

Saifu naik ke mobil yang dikendarai oleh kakaknya, Ohno Satoshi.

“Besok langsung pulang kau tak capek?” tanyanya ketika Saifu duduk di sebelahnya.

Saifu menggeleng, “Tak ada masalah… memangnya kenapa?”

“Lalu pacar barumu itu gimana?” tanya nya lagi sambil menunjuk seorang pemuda yang berdiri di luar.

“Jonghyun? Pacarku? Hahaha… bukan Nii-chan… dia cuma teman biasa… teman satu jurusan..” jawab Saifu lalu melambai ke arah Jonghyun.

“Oh…” Satoshi hanya menjawab sekilas.

“Besok ualng tahun pernikahan Nii-chan dan Rei-nee kan? Makanya kau ingin cepat pulang…” ucap Saifu menggoda kakaknya itu.

“Berisik…anak kecil tahu apa?!” seru Satoshi tapi wajahnya terlihat sedikit memerah.

Saifu hanya terkekeh sesaat ketika melihat wajah Satoshi yang malu – malu.

“Atau kau masih memikirkan pemuda Jepang itu?” Satoshi sepertinya belum menyerah untuk membicarakan hal ini dengan Saifu.

“Hah?” Saifu membuang mukanya dari kakaknya yang usil itu.

Tentu saja hingga lima tahun ini, masih nama Daiki yang penting untuknya. Walaupun e-mail darinya semakin hari semakin berkurang, tapi paling tidak dalam sebulan Daiki akan mengabarinya begitu juga dengan dirinya.

Apa kabar pemuda itu kini? Pikiran Saifu terus dihantui ketakutan Daiki akan berubah setelah lima tahun. Walaupun sebelum pergi ia pernah berjanji untuk tetap setia, tapi seseorang bisa saja berubah setelah lima tahun tak bertemu kan?

To : Dai-chan
Subject : ashita~
Besok aku pulang loh Dai-chan…
^^
Narita Airport jam 5 sore….

-Fu-

Saifu menghembusakan nafas panjang, ia gugup akan bertemu Daiki besok. Semoga semuanya baik – baik saja, pikir Saifu.

Daiki menerima e-mail itu dan tersenyum, besok Saifu-nya akan pulang. Bukan hanya sekedar e-mail yang datang, tapi gadis itu akan benar – benar datang.

“Hei! Kenapa kau malah tertawa gak jelas gitu?” teguran Opi membuatnya sadar.

“Hehehe… maaf Opi-chan… ya… kau bagus pakai baju itu..” kata Daiki sambil menyentuh rok tile itu.

Opi masih mematut dirinya di depan kaca, “Baju ini tak berlebihan kan?”

Daiki menggeleng, “Sama sekali tidak…” pemuda itu memperhatikan gerakan Opi, “Tak kuduga sahabatku akan menikah duluan… hahaha..” katanya sambil terkekeh.

Wajah Opi memerah, “Ssshh!” serunya malu.
==========

Daiki kembali menoleh ketika suara pengumuman menggema di bandara. Sekerumunan orang keluar dari pintu kedatangan. Ia mendongak mencoba mencari sosok yang sejak tadi ia tunggu.

Namun orang yang ia cari sama sekali belum kelihatan.

Tak sampai lima menit kemudian, sosok itu kelihatan berjalan dengan seorang pria.

Daiki seakan tak percaya Saifu berada di hadapannya.

Mata Saifu mencari – cari dan akhirnya melihat Daiki yang melmbaikan tangan padanya.

Saifu menoleh pada kakaknya, “Aku…”

“Aku mengerti… Nii-chan tunggu di mobil dengan Rei-chan…” kata Satoshi seakan tahu apa yang ingin dikatakan oleh Saifu.

Keduanya berdiri berhadapan saling melihat satu sama lain.

“Fu…” hanya kata – kata itu yang mampu Daiki lontarkan.

“Genki?” tanya Saifu memandang Daiki lekat – lekat seakan takut kekasihnya itu akan menghilang seketika dan semuanya ini hanya mimpi saja.

Daiki tak menjawab lalu menarik tubuh Saifu ke dalam pelukannya, “Aitakatta….” kini air mata bahagia pun jatuh, baik Saifu dan Daiki kini kembali berbagi tangis.

Namun kali ini, air mata itu air mata bahagia.

Saifu akhirnya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia begitu merindukan Daiki sehingga rasanya sayang sekali jika ia langsung pulang. Walaupun tubuhnya cukup letih setelah penerbangan.

“Lima tahun tanpa pulang itu jahat sekali Fu-chan..” kata Daiki menggenggam tangan Saifu erat.

Kini mereka berada di sebuah cafe dekat bandara.

Saifu menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang tidak digenggam Daiki, “Aku gak mau ganggu Dai-chan…”

“Jangan bercanda..bagaimana bisa kehadiranmu menganggu diriku?!” Daiki manyun karena kesal.

“Hehehe…aku kan belajar yang benar di Korea sana Dai-chan..”

“Padahal kakakmu pulang hampir tiga bulan sekali kan?” Daiki mencubit pipi Saifu pelan, “Kau tidak merindukan aku memangnya?”

Saifu tertawa pelan, “Memangnya harus aku jawab?”

“Fu-chan….” kini tatapan Daiki menjadi lebih intens dari sebelumnya, tak lama Daiki menarik Saifu dan mencium gadis itu lama. Lima tahun tanpa bertatap muka membuat Daiki sungguh rindu pada gadisnya itu.

“Dai-chan…” gumam Saifu lirih ketika Daiki melepaskan ciumannya, “kenapa?”

“Aku tak mau kehilanganmu lagi….” suara Daiki menjadi tegas, “Menikahlah denganku…” ucap pemuda itu mantap.

Wajah Saifu seketika memerah, “Hmmm… aku mau menikah dengan Dai-chan… tapi tunggu aku lulus master dulu ya?”

Daiki mencibir, “Fu-chan…. bisa kau berhenti membuatku menunggu?” kini wajah Daiki terbenam di meja makan itu.

Saifu menyentuh rambut Daiki pelan, “Ba~ka…” ucap Saifu sambil terkekeh pelan.

===========

“Tadaima~”

“Dinchaaaannnn!!” Rei berlari dari dalam dan memeluk Din yang masih berdiri di pintu masuk.

“Kyaa! Nee-chan!!” Din kaget karena kakaknya itu tiba – tiba saja memeluknya dengan erat.

“Anak nakal! Kenapa selama lima tahun tidak pernah pulang?!” bentak Rei kesal.

“Hehehe.. maaf Nee-chan…” Din tertawa karena wajah Rei terlihat lucu saat marah seperti itu.

“Sudahlah…ayo masuk..”

Din masuk dan mendapati kakak iparnya dan Saifu juga sudah pulang.

“Fu-chan.. yo!” sapa Din.

“Din-Nee..” sambut Saifu lalu memeluk Din.

“Tante Din!!” seru Hiroki yang datang dari lantai dua.

Din menggetok kepala Hiroki, “Sudah kubilang jangan panggil tante!” protes Din.

Anak laki – laki berusia sepuluh tahun itu tertawa.

Din mencubit pipi Hiroki, “Kau sudah besar ya…hehehe..”

“Bagaimana di pegunungan? Cukup membuatmu memikirkan semuanya?” tanya Satoshi sambil mengacak rambut Din.

“Begitulah Nii-chan..”

“Pegunungan?” Rei bergumam pelan, “Kau ke rumah kakek?!!” seakan baru sadar hal tersebut.

“Iya…” jawab Din enteng.

Rei tiba – tiba tertawa, “Kok aku gak kepikiran kamu bakal kesana ya? Hahaha…”

“Istriku masih air head seperti biasa..” cibir Satoshi disambut cubitan keras di pipinya oleh Rei.

“Baiklah…semuanya sudah lengkap…ayo makan malam…” kata Rei

Suasana makan malam itu cukup menyenangkan. Setelah lama tidak berkumpul, rasanya banyak sekali yang harus diceritakan satu sama lain.

“Nee-chan…Nii-chan… selamat ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh…” kata Din sambil menyerahkan sebuah kotak hadiah.

“Waaa.. arigatou… kau tak usah repot – repot..” seru Rei sumringah, “Hadiah dari kakakmu yang satu itu juga sudah datang, tapi karena penelitiannya belum beres, ia bahkan tak bisa menyempatkan diri untuk datang…” tambah Rei dengan kesal, Toma memang belum sempat pulang.

“Sudahlah Nee-chan…” Din menegur Rei agar tidak merusak suasana malam ini.

“Omedetou Nii-chan… Nee-chan…” Saifu juga menyerahkan sebuah bungkusan kado.

“Waaa.. arigatou…” ucap Rei lagi.

“Sekarang Nii-chan punya hadiah tidak untuk Nee-chan?” tanya Din pada Satoshi.

Satoshi mengambil sebuah kotak kecil, “Terima kasih sudah bersamaku selama sepuluh tahun… Rei-chan..” ucapnya sambil menyerahkan kotak itu.

Rei langsung membuka kotak itu, “Waaa…” sebuah kalung dengan liontin sederhana, “Arigatou!!”

Satoshi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku tidak pandai pilih hadiah…hehehe..”

Rei hanya tertawa, “Aku punya hadiah untukmu…tunggu sebentar..” Rei beranjak ke dalam lalu membawa sebuah bungkusan yang kecil.

“Apa ini?” Satoshi bingung, semua yang ada di meja makan memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sebuah alat tes kehamilan yang bergaris dua sebagai hasilnya.

“EEEHH??! Maji ka yo??!!” serunya kaget.

Rei mengangguk cepat, “Kita akan memberi Hiroki adik baru…hehehe..”

“Aku punya adik??! Waaa!!” Hiroki ikut sumringah ketika mendengarnya.

Satoshi terkekeh lama, “Hehehehe…. Hehehe… hadiah yang sempurna…” ucap Satoshi lalu mencium pelan puncak kepala Rei.

“Omedetou!!” semuanya tersenyum bahagia menyambut berita itu.

Din memperhatikan semuanya sangat bahagia. Ia bergumam dalam hatinya, kapan kebahagiaan itu akan jadi miliknya juga?

=========

“Papa….”

Sho berhenti melangkah saat mendengar suara yang sangat ia kenal.

“Reina?” Sho kaget melihat Reina berada di tempat kerjanya. “Sedang apa di sini?” tanyanya saat ia menghampiri gadis itu.

“Bertemu Papa,” jawab Reina santai sambil tersenyum manis.

Sho memukul pelan kepala Reina. “Kau naik bis sendirian lagi? Bagaimana kalau terjadi apa-apa, hah?” omel Sho cemas. Jarak sekolah Reina dan tempatnya bekerja cukup jauh. Wajar kalau Sho tampak cemas pada Reina yang kadang-kadang selalu melakukan hal yang nekat. Sama seperti Mama nya, Yui dulu.

“Aku sudah berani kok pergi sendiri. Aku kan bukan anak kecil lagi,” protes Reina sambil mengusap kepalanya yang tadi dipukul oleh Sho.

“Kau ini…”

“Papa, ayo cepat pulang. Aku lapar,” pinta Reina.

Sho mengerutkan keningnya. Ia melihat sifat Reina lama-lama persis seperti Yui.

“Hai..hai..” Sho mengangguk. “Papa ganti baju dulu.”

Sho menggeleng-gelengkan kepala saat memikirkan Reina yang makin mirip dengan adiknya. Selain wajahnya, sifat pemberaninya pun mirip sekali dengan Yui. Jarang mengeluh dan sangat peduli terhadap teman-temannya. Tapi dari semua sifat-sifat itu, keceriaan Reina lah yang paling membuatnya teringat pada Yui.

“Ne Papa, boleh aku bertanya?”

Sho yang sedang mengemudi mobilnya melirik Reina. “Nani?”

“Kalau Papa menikah dengan Opi-chan, apa aku masih boleh tinggal bersama Papa?”

“He? Kenapa bertanya seperti itu?”

Reina menunduk. “Papa menikah berarti Papa akan mempunyai keluarga baru. Aku takut mengganggu kehidupan baru Papa. Tapi aku belum terbiasa kalau harus kehilangan Papa,” jelas Reina polos.

Sho sedikit terkejut mendengar ucapan itu langsung dari mulut Reina. Tapi ia senang gadis itu berpikiran seperti itu.

“Tentu saja boleh,” sahut Sho. “Walaupun Papa menikah, tidak akan ada yang berubah. Kau tetap anak Papa yang paling manis.”

Reina lalu mendengus. “Usotsuki. Kalau Papa nanti mempunyai anak perempuan, pasti Papa tidak akan mengatakan itu padaku lagi.”

Sho tertawa. “Itu tidak benar. Kalau Papa punya anak perempuan, pasti mereka akan semanis kamu.”

Wajah Reina berubah tersenyum setelah mendengar ucapan Sho.

Tak berapa lama, mereka tiba di rumah Opi. Gadis itu langsung mengajak mereka makan di rumahnya setelah diberitahu kalau Reina akan tinggal di rumah Sho malam ini.

Reina sudah tidak merasa canggung saat memasuki rumah Opi. Ia sangat sering bermain di rumah itu karena sahabatnya, Hiroki adalah tetangga Opi. Secara bergantian mereka akan bermain di tempat Opi atau tempat Hiroki dan jika mereka selesai bermain, pada akhirnya akan diomeli oleh Sho karena sudah mengacak-acak rumah.

“Reina-chan, aku punya kejutan untukmu,” ucap Opi saat mereka bertiga mulai menyantap makan malam mereka.

“Nani? Nani?” tanya Reina penasaran.

“Taraaaa….” Opi menunjukkan sebuah baju yang sangat manis pada Reina.

“Kireii~,” seru Reina.

“Ini untukmu,” ucap Opi.

“Hontou ni?”

“Pakai ini saat acara nanti,” lanjut Opi.

“Arigatou,” balas Reina lalu beranjak dari kursi dan mengambil baju itu dari tangan Opi. “Ini bagus sekali, Opi-chan.”

Opi hanya tersenyum senang saat melihat Reina mencoba baju itu.

“Seharusnya aku yang membelikannya,” gumam Sho pelan.

“Daijoubu. Aku hanya ingin membeli itu saat melihatnya karena aku pikir sangat cocok dipakai Reina.”

“Arigatou sudah memperhatikan Reina,” ucap Sho lalu tersenyum pada Opi.

“Doitashimashite,” balas Opi. “Nanti setelah kita menikah kan Reina menjadi bagian dari keluargaku juga.”

Sho terdiam lalu tiba-tiba tersenyum jahil. “Reina,” panggilnya. ”Setelah kami menikah, kau akan memanggil Opi ‘Mama’ kan?”

“He?” Opi dan Reina berseru bersamaan.

“Kau tidak akan terus menerus memanggilnya ‘Opi-chan’ kan?” Sho lalu melirik Opi.

“Sho-kun! Yamete…” protes Opi.

“Kenapa? Itu benar kan?” tanya Sho masih menggoda Opi.

“Tapi…”

“Baiklah,” seru Reina. “Mulai sekarang aku akan memanggil Opi-chan dengan sebutan ‘Mama’,” putusnya bersemangat.

Tepat setelah itu, Opi lalu memukul bahu Sho berkali-kali. “Ini salahmu.”

“Kenapa aku?”

“Kalau mulutmu diam, pasti Reina tidak akan seperti itu,” gerutu Opi kesal.

“Bukankah itu bagus?”

Opi kembali memukul Sho sedangkan laki-laki itu hanya tertawa sambil menahan sakit. Reina yang seperti mendapat hiburan baru, ikut tertawa dan terus berlanjut hingga mereka selesai makan.

===========

Jun terdiam sesaat ketika menerima e-mail di ponselnya. Cuaca LA siang ini cukup ndah untuk bersantai di luar rumah. Sehingga ia memutuskan untuk berjalan – jalan.

From : Sho Sakurai
Cc : Kazunari Ninomiya, Satoshi Ohno, Aiba Masaki
Subject : Invite!!
Hei! Kalian semua!!^^
Aku akan menikah bulan depan…awas kalau tidak datang…hahaha~
😛
Aku kirimkan undangannya, disitu nanti ada alamat gedung, dll.
Aku benar – benar ingin kalian datang~
^^

P.S : Jun, jika kau tidak datang, aku bersumpah akan menghantuimu terus..
😛

“Apa orang itu masih se-baka yang dulu?” gumam Jun dalam bahasa Jepang.

“Apa yang kau baca?” tanya seseorang menghampirinya.

“Jin… tidak ada… aku harus pulang bulan depan…” kata Jun pada sahabatnya yang duduk di sebelahnya kini.

“Sou ne.. sudah saatnya pulang?”

“Sahabatku di Jepang akan menikah bulan depan…hehe..”

Jun hendak mengunci ponselnya ketika matanya tertumbuk pada wallpaper ponsel layar sentuh itu. Masih foto yang sama hingga kini sejak lima tahun lalu. Foto Din bersamanya saat ke Paris dulu.

Apa kabar gadis itu?

Ia berbohong jika ia bilang sudah melupakan Din.

Masih sama. Rasa itu masih sama hingga hari ini. Ia mungkin bisa bermain dnegan gadis mana saja. Punya hubungan lebih dengan beberapa gadis. Tapi, masih gadis yang sama yang ia pikirkan di hatinya.

“Aku bosan lihat wallpaper mu sama terus… sudah ganti berapa ponsel dan wallpapernya tak pernah ganti..” protes Jin yang melihat ponsel milik Jun.

Jun segera mengunci ponselnya, “Berisik!” kata Jun sebal.

“Ngomong – ngomong, kau belum menjawab Mao-chan dengan benar… dia sudah menunggumu lama kan?”

Jun bernafas berat. Ia malas jika harus membicarakan hal ini. Mao mungkin memang gadis yang manis, ia bahkan rela mengejar Jun hingga ke LA. Tapi, Jun belum bisa sepenuhnya melupakan Din.

“Aku akan menjawabnya saat pulang…” putus Jun akhirnya.

Jin tak menjawab lalu menepuk bahu Jun, “Kau tahu kadang apa yang kita harapkan itu tak sesuai dengan kenyataan… Reality is cruel, you know?”

“Ahahaha… I know…”

Jin meninggalkan sahabatnya di meja bar itu. Sementara Jun mau tak mau memikirkan kemungkinan ia akan bertemu dengan Din di pesta pernikahan Sho.

“Sial…hingga lima tahun aku masih saja merindukanmu..” rutuk Jun pada gambar ponselnya.

============

TBC~

Waaaaaa…ternyata gak bisa beres di chapter ini…
Abis udah sepanjaaaaannngggg jalan kenangan… #plakk
Panjang banget soalnya… =.= tapi, comments are love… chapter selanjutnya gak akan lama kok… 🙂 hehehe….
Yooooo!! COMMENTS ARE LOVE….hehehe

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Happiness (Chapter 13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s