[Multichapter] My Lovely Petto (Story 6)

Title        : My Lovely Petto
Type          : Multichapter~ 😛
Chapter     : Enam
Author    : Dinchan Tegoshi & Fukuzawa Saya
Genre        : Romance *we both LOOOVVVVEE IT!!*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Morimoto Ryutaro (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Din (OC), Takaki Saifu (OC), Matsuda Aiko (OC), and other HSJ’s member as an extras~ 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Arioka Daiki, Takaki Yuya, Yaotome Hikaru and Morimoto Ryutaro are belongs to JE, Din, Saifu, Aiko are our OC. It’s just a fiction, tough it’s inspired by Kimi wa Petto (dorama). COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

My Lovely Petto
~ Story 6 ~


Yuya terbangun dengan badannya yang terasa sakit. Din masih memeluk Yuya dengan erat, sepertinya gadis itu memang kelelahan setelah menangis semalaman.

“Dinchan…” bisik Yuya lirih.

Bukan ide bagus tidur bersender pada jendela dengan beban berat di tubuhnya. Tapi ia tak tega membangunkan gadis itu karena terlihat sangat lelap. Alih – alih membangunkan, Yuya malah memerhatikan dengan seksama setiap lekuk wajah Din. Bekas air mata masih tersisa di pipi gadis yang masih terlelap itu.

“Hmmmm….” Din bergumam karena merasakan sentuhan tangan Yuya di pipinya.

Tak lama ia menggeliat dan terbangun dengan mata menyipit, “Sudah pagi ya Yuya-chan?” Din bertanya sambil masih memeluk tubuh Yuya.

“Un….Un~” Yuya menjawab dengan gugup karena merasa tertangkap basah menyentuh Din.

Ponsel Yuya berbunyi sehingga ia harus melepaskan pelukan Din.

“Moshi – moshi?” angkat Yuya cepat.

“YUYAAAANN!!!!”

Ia sampai harus menjauhkan telinganya dari ponsel, “Apa sih Hikka? Ribut banget…” protes Yuya seketika.

“KITA LOLOS!!! KITA LOLOS AUDISIIIII!!!” Hikaru berteriak penuh semangat.

“Hah? Maji ka yo??!!”

“Benar!!! Minggu ini kita akan ke festival utamanya….hahahaha~”

Yuya meloncat dan memeluk Din, “YATTAA!!!”

“Master… kenapa?” tanya Din bingung.

“Aku lolos audisi Band…hahahaha….” Yuya tak menyangka bahwa mereka bisa lolos ke festival utama di Kyoto.

“Ada Dinchan disana?” suara Hikaru tampak kaget.

“Eh… hmmm… dia kan memang sementara tinggal di rumahku..” jawab Yuya sambil merutuki diri sendiri karena gegabah seperti itu.

“Sou ne… ajak saja dia sekalian ke Kyoto… ne?”

Yuya memicingkan matanya. Ia tahu apa yang ada di benak Hikaru. Pasti cowok playboy itu ingin kembali mendekati Din.

Tapi tak ada pilihan lain. Ia pasti harus membawa Din. Perjalanan jauh dan gadis itu harus ditinggalkan di rumah, sepertinya tidak mungkin.

“Kita akan kemana lagi master?” Din membulatkan matanya dan menatap Yuya bingung.

Yuya menjauh dari Din untuk menyelesaikan pembicaraannya dengan Hikaru.

“Hmmm…kita akan ke Kyoto…dan kau harus ikut…oke?”

Din mengangguk, “Un!”

===========

Daiki memerhatikan Saifu yang sibuk membereskan barang-barangnya, dia menaruh beberapa bajunya dan beberapa barang kedalam sebuah tas, Daiki menatap Saifu dengan bingung.

Yang ada dipikirannya ‘Saifu mau apa dengan barang-barang itu? Kabur?’, tak ingin berasumsi lebih jauh Daiki memutuskan untuk bertanya pada Saifu yang nampak sibuk melihat catatannya.

“Anou..”

“Hmm?”

“Kau sedang apa sih?”,tanya Daiki bingung.

Saifu mengalihkan pandangnya ke Daiki, “Aku akan ikut karyawisata sekolah”, jawab Saifu lalu kembali menatap catatannya.

“Karya wisata? Apa itu?” tanya Daiki lagi.

“Itu acara sekolah rutin, jadi nanti aku dan teman teman sekolahku akan pergi ke suatu tempat lalu kami akan mengunjungi tempat – tempat wisata disana” jawab Saifu tanpa menatap Daiki.

Daiki mengangguk – angguk mengerti.

“Tapi kau tak bisa ikut, gomen ne… nanti aku akan menyimpan makanan untukmu kok..jadi kau tak perlu khawatir” kata Saifu lagi.

Daiki mengangguk – angguk, lalu tersadar dan menatap Saifu.

“HAH???AKU GAK IKUT??” serunya kaget.

Saifu menatap keluar jendela bus dengan sedikit tidak enak, dia sebenarnya tak tega meninggalkan Daiki dirumah sendirian terlebih lagi dia juga tak bisa menitipkan Daiki pada kakaknya yang juga sudah punya rencana pergi dengan anggota bandnya.

“Semoga dia baik-baik saja..” gumam Saifu pelan.

Saifu hanya tak tahu saja kalau sebenarnya Daiki ada di dalam tas sekolah yang kini ada di pangkuannya itu. Walau sedikit panas dan sesak, Daiki berusaha menahannya agar tak ketahuan oleh gadis itu.

“Aku harus tahan…” gumam Daiki dalam hati.

========

“Ahahahaha~ jalan – jalaaaann~” seru Hikaru heboh.

“Berisik!” protes Yabu sambil kembali mengecheck semua anggotanya.

“Ok desu… ayo naik bus..” ajak Yabu.

Yuya duduk di sebelah Din, tapi tak lama Hikaru menarik Yuya, “Onegai ne… aku disini…” kata Hikaru memohon.

Yuya menatap Hikaru dengan malas, “Naze na?”

Hikaru hanya terkekeh sekejap kemudian duduk tepat di sebelah Din. Yuya berjalan ke belakang dan ternyata kursi yang kosong adalah kursi yang di duduki Aiko. Ia menunduk sekilas dan akhirnya duduk di sebelah Aiko.

“Hehehe..” Yuya tersenyum canggung.

“Apa hari itu senpai menemukan Dinchan?” tanya Aiko sesaat setelah Yuya duduk di sebelahnya.

“Hmmm.. maaa~ begitulah..” jawab Yuya pelan.

“Aku khawatir karena senpai tidak kembali ke cafe itu…” kata Aiko.

Yuya menutup mulutnya karena kaget. Ia lupa sama sekali pada Aiko yang menunggunya di tempat itu.

“Anou…soal itu….” Yuya menunduk karena merasa bersalah, “Sumimasen deshita…” tambahnya dengan suara sepelan mungkin.

“Daijoubu yo… gak apa – apa kok senpai… Maaf juga aku tak menghubungimu setelahnya…” kata Aiko yang juga merasa tak enak dengan kejadian ini. Tapi jika mengingat kembali bagaimana ia menunggu Yuya dan pemuda itu tak juga muncul hingga acara hampir berakhir, tentu saja membuatnya marah.

“Gomen na…” Yuya kembali tersenyum canggung.

Aiko hanya mengangguk dan mengalihkan pembicaraan mereka karena rasanya tak nyaman membicarakan hal – hal seperti itu dalam mood yang seharusnya mereka bersenang – senang.

Sementara itu Hikaru sibuk memberi tahu Din apa saja yang mereka lihat di jalan. Din sangat bersemangat dan merasa senang karena Hikaru dengan sabar memberi tahunya semua hal yang baru ia lihat.

“Hikka-chan arigatou!!” seru Din senang.

“Dinchan manis sekali sih…aku jadi bersemangat juga!!hehehe..”

Din balas tersenyum atas apa yang Hikaru katakan.

“Tapi ne… Yuya-chan kadang suka sinis padaku… ia suka menunjukkan wajah seperti ini..” Din mempraktekan wajah marah Yuya, “jelek sekali…” tambahnya lalu merengut kesal.

“Sou ne? Dinchan dekat sekali ya dengan Yuyan?” tanya Hikaru. Mau tak mau ia merasa janggal juga dengan hubungan Din dan Yuya. Terlebih setelah Yuya mengejar Din di festival tempo hari.

Din melihat Hikaru dengan tatapan sedikit bingung, “Entahlah… aku tak pernah tahu apa yang Yuya-chan pikirkan tentangku…” gumam Din, seakan ia baru menyadari hal tersebut.

=========

Bus yang ditumpangi Saifu sebentar lagi akan sampai di tempat tujuan mereka di Kyoto. Mika yang duduk disebelah Saifu sedikit menguap karena mengantuk.

“Fu-chan..punya teh? Aku haus,” kata Mika pelan, Saifu mengangguk.

“Ada kok.” Saifu membuka resleting tasnya, dan sesaat terpaku melihat isi tasnya itu.

Mika yang nampak bingung melihat Saifu hanya diam saja, “Fu-chan..ada apa?”

Saifu buru buru menutup lagi resleting tasnya dan menggeleng cepat, ”be..betsuni..” katanya sedikit gugup.

“Mana teh nya?” tanya Mika.

“Go..gomen..aku lupa bawa” kata Saifu berbohong, tak lama bis berhenti, Saifu langsung berdiri dan bergegas keluar dari bis.

“Hei Takaki!! Mau kemana?” tanya Tanaka sensei.

Saifu menoleh menatap Tanaka sensei, “Anou… sensei..aku ingin ke kamar kecil..aku sudah tak tahan..” kata Saifu berbohong.

“Baiklah..cepat kembali” kata Tanaka sensei akhirnya.

“Hai!” jawab Saifu lalu segera berlari pergi.

Ryutaro yang duduk tak jauh dari Saifu menatap Saifu dengan bingung.

“Ngapain kau masuk kedalam tasku??! Aku sudah bilang kan untuk tetap di rumah???!!” seru Saifu kesal pada Daiki yang kini berdiri dihadapannya.

Daiki jadi salah tingkah, ia tak pernah melihat Saifu semarah ini, “anou aku hanya…”

“APA?!!” bentak Saifu, “Kau benar-benar..” Saifu tak tahu harus bicara apa, “Harusnya kau menurut padaku!” kata Saifu kesal dan entah kenapa membuat Daiki kesal juga, siapa Saifu pikirnya sehingga dia harus selalu menurutinya?

“Dengar Saifu..aku tahu mungkin kau menganggapku hanya peliharaanmu, tapi tak selamanaya aku harus selalu menuruti perkataanmu!!” balas Daiki kesal.

Saifu menatap Daiki kesal, “Kau!!”

“APA??!! Kau tak berhak memarahiku!” emosi Daiki meluap – luap, Daiki tak pernah dimarahi seperti ini oleh seorang manusia, apalagi manusia itu adalah manusia yang sekarang tengah dia bantu.

“Terserah kau saja!!” kata Saifu akhirnya lalu berlari meninggalkan Daiki yang masih berdiri di dekat toilet.

Daiki mengacak rambutnya pelan, “Haduh..sekarang bagaimana?!” umpatnya pelan.

“Takaki, kau lama sekali…” tegur Tanaka sensei saat Saifu sudah kembali dari toilet.

“Sumimasen sensei,” kata Saifu lalu masuk ke dalam barisan yang saat ini sedang diberi pengarahan.

Dalam hati Saifu terus mendumal kesal, ‘huh, biarkan saja… dia kan tak punya uang, kalau lapar masa bodo lah.biar dia rasakan sendiri!’.

Tak jauh dari Saifu, Ryutaro sedikit terkekeh pelan menatap wajah Saifu yang menurutnya nampak lucu karena nampaknya sedang memikirkan sesuatu membuat ekspresi wajahnya terus berubah-ubah.

=========

“Baiklah….sore nanti kita harus latihan… Aku sekamar dengan Kei-chan, lalu… Hikaru, Yuyan dan Yuto sekamar… Dinchan dengan Matsuda-san…ne?” Yabu menyerahkan kunci kamar pada mereka.

“Wakatta…”

Din terkagum – kagum melihat kamar yang dekorasinya di dominasi gaya Jepang asli. Ia duduk dan memandangi kamar itu dengan hebohnya berkomentar.

“Dinchan…nanti kita ke onsen yuk…” ajak Aiko sambil menyimpan barang – barangnya.

Aiko memerhatikan Din hanya membawa dirinya tanpa tas atau apapun itu. Ia ingin bertanya ketika pintu kamar itu diketuk oleh seseorang diluar.

Akhirnya Aiko beranjak ke pintu, dan mendapati Yuya berdiri di luar membawa sebuah tas gendong yang Aiko ingat tadi dibawa oleh Yuya.

“Gomen Aiko-chan… ada Dinchan?”

“Yuya-chaaann!!” seru Din yang ternyata sudah berada di belakang Aiko.

“Ini bajumu…” kata Yuya sambil menyerahkan tasnya pada Din.

“Arigatou Yuya-chaaann!!” seru Din ceria sambil mengambil tas itu.

Aiko mendelik ke arah keduanya dengan heran. Ia curiga ada apa – apa dengan Din dan Yuya. Kalau tidak, kenapa bisa baju Din ada di Yuya?

“Ehm…kenapa baju Dinchan ada di Takaki-senpai?” tanya Aiko ketika Din mengeluarkan sebuah baju kebesaran dengan tulisan ‘Nippon Ichi’ yang Aiko ingat pernah dipakai Yuya saat masih SMA.

“Errr…. aku gak bisa beres – beres, jadinya dibawakan oleh mast…err… Yuya-chan..” jawab Din terbata – bata.

“Sou ne…” Aiko melihat Din dengan tatapan kesal.

Sore menjelang. Ketika semua anggota band itu pergi ke tempat festival untuk latihan, Din serta Aiko memutuskan untuk masuk onsen.

“Waaaa…. kimochi ii naaa~” seru Din merasakan panasnya air membuatnya merasa sangat segar.

“Naaa…”

“Aiko-chan genki ka? Kenapa terlihat tak senang?” tanya Din menatap Aiko yang memang terlihat seidikit murung.

“Dinchan itu temanku kan?” tanya Aiko pada Din.

Din mengangguk bersemangat, “Mochiron!!”

“Karena Dinchan temanku, aku ingin Dinchan menyemangati aku…. kau tahu.. aku sedang menyukai seseorang…dan aku berfikir untuk bersamanya…”

“Aku akan mendukung Aiko-chan sepenuh hati!!aku janji!! Memangnya siapa yang Aiko-chan suka?” tanya Din ribut.

“Takaki-senpai..” jawab Aiko pelan.

Din terdiam sesaat. Sungguh kebetulan yang sangat baik. Dengan begini bukankah ia dan Daiki akan cepat kembali ke dunia peri? Tapi kenapa rasanya Din malah tak rela ya?

=========

Daiki memgangi perutnya yang kelaparan, bodoh juga dia karena tak membawa sedikitpun makanan.

“Lapar…” seru Daiki yang saat ini hanya jalan jalan tak tentu arah di Kyoto.

“Haaaa…..doushiyou?? Aku lapar sekali…” gumam Daiki lagi.

Daiki tak tahu ada dimana dia sekarang, yang pasti dia melihat sebuah banner besar bertuliskan ‘Festival Band’.

“Band ya? Seperti Nii-channya Fu…” Daiki bergumam pelan, lalu melihat – lihat festival band itu, dia hanya berkeliling melihat lihat festival yang ramai itu sampai dia mendapati sosok Din tengah duduk bersama beberapa orang, ada Yuya dan 4 orang laki laki lain dan ada seorang perempuan juga yang duduk di sebuah bangku café, Daiki bergegas menghampiri Din.

“DINCHAN!!” seru Daiki, sontak membuat semua orang yang duduk bersama Din menoleh menatap Daiki.

“Dai-chan!!” seru Din balik, berdiri dan menghampiri pemuda yang terlihat pucat itu, “Apa yang terjadi?! Kenapa kau ada disini?!” seru Din dengan nada khawatir.

Hikaru menatap Daiki dengan curiga yang lainnya menatap Daiki bingung, Yuya menghampiri Daiki.

“Kenapa kau ada disini??” tanya Yuya bingung.

Daiki memutar otaknya mencari alasan, namun tak menemukan alasan yang tepat, “Aku bertengkar dengan Fu-chan..” katanya menyerah mencari alasan dan memberi tahu yang sebenarnya.

“Hah?! Bertengkar?!” tanya Yuya bingung.

“Dia siapa?” tanya Hikaru tiba – tiba yang kini menatap Daiki, Yuya menoleh menatap Hikaru yang ini ikut berdiri disampingnya.

“Eh..itu…dia…” Yuya bingung menjelaskan siapa Daiki, “Dia kakaknya Din!” kata Yuya akhirnya.

Hikaru yang tadi menatap Daiki tak suka mendakak jadi tersenyum, “Ah begitu ya..kukira siapa..ayo gabung dengan kami..” kata Hikaru lalu langsung merangkul pundak Daiki dan mengajak Daiki duduk bersama dengan yang lainnya.

Yuya menggedikkan bahunya, “sudahlah..biar kutanya Saifu nanti..” gumam Yuya pelan lalu kembali duduk di bangkunya.

Sementara itu Saifu tak bisa benar – benar tak peduli, buktinya semalaman ini dia terus gelisah memikirkan Daiki. ‘Dimana dia sekarang? Apa sudah makan? Jangan – jangan dia tersesat?’ Saifu terus berasumsi macam macam hingga dia tak tidur semalaman karena memikirkan Daiki. Alhasil pagi ini dia sangat mengantuk, sepanjang pagi dia terus menguap.

Saifu dan teman – temannya sudah bersiap untuk mengunjungi sebuah kuil, saat baru saja akan keluar dari penginapan Saifu mendengar orang orang sedang ribut memindahkan mayat anjing yang baru saja tak sengaja tertabrak oleh mobil. Dengan panik Saifu menghampiri mayat anjing itu membuat teman temannya menatapnya bingung, sedikit lega karena anjing itu bukan Daiki.

Namun itu malah membuat Saifu makin khawatir saja dengan Daiki, ‘bagaimana kalau dia juga tertabrak seperti anjing tadi?’ pikirnya kalut.

Saifu menggeleng cepat, bagaimanapun dia harus cepat menemukan Daiki. Saifu menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Hei!!mau kemana?? Saifu!!” teriak Mika memanggil Saifu yang tiba tiba berlari pergi itu, Ryutaro buru – buru menghampiri Mika yang nampak bingung itu.

“Hei kenapa?” tanya Ryutaro.

“Itu Saifu..dia tiba – tiba saja pergi aku tak tahu kenapa” jelas Mika dengan panik.

Ryutaro tak berkata apapun lagi langsung mengejar Saifu.

“Daiki!!” panggil Saifu yang kini mencari Daiki di toilet tempat dia bertengkar dengan Daiki.

Nihil.

Daiki tak ada disitu.

“Aduh… kemana dia??” gumam Saifu panik.

“SAIFU!!”, panggil Ryutaro, Saifu menoleh menatap Ryutaro yang terengah – engah karena habis berlari.

“Ngapain kau disini? Ryutaro-kun?” tanya Saifu bingung.

“Kau yang sedang apa? Kenapa tiba – tiba pergi??” tanya Ryutaro.

“Anou..itu aku..”, Saifu tak bisa menjelaskan kepada Ryutaro apa yang sedang dia cari. Daiki dalam bentuk manusia atau Daiki dalam bentuk anjing.

“Biar kutemani mencari…” kata Ryutaro akhirnya, karena nampaknya Saifu bingung menjelaskan apa yang sedang dia cari.

“Tapi…”

“Ikou!!” Ryutaro menggenggam tangan Saifu, “Aku tak mungkin membiarkanmu mencari sendirian, bisa bahaya..” jelas Ryutaro.

“Arigatou…” kata Saifu pelan.

=========

Festival sudah mulai sejak tadi. Mereka kebagian sedikit siang sehingga mereka memutuskan untuk siap – siap sambil berjalan – jalan di sekitar tempat festival. Daiki juga ikut karena tadi bertemu dengan romobongan band itu.

Yuya berjalan di belakang Din dan Hikaru. Sejak tadi pagi mereka sampai di tempat festival, Hikaru terus menempel pada Din.

“Takaki-senpai..” Yuya menoleh dan mendapati Aiko berjalan di seelahnya.

Yuya tak menjawab, hanya tersenyum pada Aiko.

“Takaki-senpai…aku punya permintaan…” bisik Aiko tapi Yuya masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“Hmm? Ada apa?”

“Boleh aku memanggilmu Yuya-senpai?” ucap Aiko malu – malu.

Yuya dengan cepat memutar kepalanya menatap Aiko, “Hmm.. ii yo…” jawabnya tiba – tiba merasa gugup.

Din yang berjalan di depan sebenarnya sejak tadi mendnegarkan percakapan antara Yuya dan Aiko. Ia membatin pada dirinya sendiri.

“Dinchan…bagaimana kalau kita beli es krim?! Mau??!!”

Din mengangguk. Hikaru menarik lengan Din dan menjauh dari yang lain, “Se-jam sebelum manggung aku akan berada di backstage…” janjinya pada yang lain.

“Kau tunggu disini sebentar ya…” Hikaru berlari meninggalkan Din sementara dirinya beranjak dari keramaian.

Din diam dan memperhatikan lalu lalang orang disana. Ia melihat seorang pria membawa banyak sekali balon yang dipegangnya sambil berjalan melewatinya.

“Uwaaaa…kawaiii~” ucap Din sambil menatap balon berwarna – warni itu.

Tanpa sadar ia sudah mengikuti balon itu cukup jauh hingga ia tak tahu kini ia dimana. Sadar – sadar ia berada di tempat yang tidak ia ketahui.

“Dinchan??!!” Hikaru mengedarkan pandangan sementara jam di tangannya sudah menunjukkan bahwa ia harus segera kembali. Ia tak mungkin memberi tahu yang lain kecuali ia ingin semuanya jadi panik dan tidak konsentrasi.

“Dou shiyo??!!” gumam Hikaru bingung.

Ia kembali mencari – cari Din tapi tak juga ketemu.

Ponselnya berbunyi, ia segera mengangkatnya.

“Cepat kembali Hikka!! Tinggal setengah jam sebelum manggung dan kita harus segera melapor ke backstage!!” seru Yabu di telepon.

“Baiklah Kou-chan!!”

Hikaru kembali tanpa Din. Tapi ia menjelaskan kalau Din berada diluar bersama Aiko dan Daiki. Karena pihak penyelenggara tak ingin backstage menjadi penuh sesak, maka diputuskan yang berada di belakang panggung hanya anggota band saja.

“Baiklah..dalam sepuluh menit kita akan berada di atas panggung…. tenang saja… semuanya aman terkendali..” kata Yabu namun terdengar agak gugup.

“YO!!” yang lain menyahut.

Mereka naik ke atas panggung. Yuya mulai menyanyi dan semuanya berusaha menampilkan performa terbaik mereka hari itu. Ia mulai mencari sosok Din di tengah kerumunan penonton. Tapi ia tak menemukannya, ia yakin hari itu ia pakai kontak lens nya. Ia malah menemukan Aiko, tapi disebelahnya tak ada Din.

“APA??!!” Yuya berteriak ketika mereka sudah selesai manggung.

“Gomen Yuyan…au tak ingin konsentrasi kalian..”

BUGH!

Sebuah pukulan mendarat tepat di rahang Hikaru membuat pemuda itu terhuyung hampir jatuh.

Inoo menangkap badan Yuya, “Chotto! Jangan berantem kayak gini!!” serunya menenangkan temannya itu.

Daiki mencoba menghubungi Din, tapi hasilnya nihil. Din tak menjawab Daiki sama sekali.

“Dimana Dinchan?!” pikir Daiki kalut. Gadis polos itu kini diluar sendirian tanpa tahu apa – apa.

“Sekarang semuanya berpencar dan cari Dinchan…” kata Yabu memutuskan.

Semuanya mengangguk.

“Ai-chan…tunggu di penginapan saja!!” seru Hikaru ada Aiko.

Yuya gelagapan. Ia tak tahu pasti posisi Din dimana? Sebelum terlalu jauh, ia menghampiri Daiki dan membawa serta pemuda itu, “Coba terus hubungi Din!!” perintahnya pada Daiki.

Sambil berlarian Daiki terus mencoba menghubungi Din.

“Dai-chaaannn!!” akhirnya sambungan itu di gubris oleh Din.

“KAU DIMANA??!!” teriak Daiki sedikit lega.

“Aku…di…dimana ya? Ada kuil besar, ada sungai juga… hmmm.. apa ya ini?” gumam Din bingung.

Daiki segera menjelaskannya pada Yuya. Setelah mendnegar penjelasan itu ia segera berlari ke tempat yang Din maksud. Ia berharap hanya ada satu kuil di dekat tempat itu.

“DINCHAANNN!!” Yuya berteriak ketika mendapati Din berjongkok di depan sebuah kuil.

Daiki ikut berlari di belakang Yuya.

“Yuya-chan!! Dai-chan!!”

PLAKK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Din.

“Eh?” Din kaget karena Yuya menamparnya.

“KAU TAK TAHU SEBERAPA KHAWATIRNYA AKU!!” seru Yuya lalu menarik Din ke pelukannya.

“Yuya-chan…” ucap Din lirih, air matanya mengalir. Ia begitu lega bisa melihat Yuya dan Daiki.

“Bodoh! Jangan pergi seenaknya!!” seru Yuya lagi.

“Gomen na… Yuya-chan…”

“Maafkan aku Yuya…” Hikaru menghampiri Yuya yang duduk di sebuah cafe sambil menyesap secangkir kopi di hadapannya.

Hikaru tahu temannya itu menghindarinya, Yuya akan menyendiri saat merasa kesal, ia tak ingin berurusan dengan orang yang membuatnya marah untuk sementara waktu.

Yuya menoleh, “Aku sudah dengar ceritanya dari Dinchan… aku hanya masih sedikit kesal padamu..” jawabnya.

“Lain kali aku akan berhati – hati..” kata Hikaru tiba – tiba.

Yuya tak menjawab.

“Baiklah Yuyan… aku akan meminta dengan benar…”

“Hah?”

“Aku ingin mendekati Dinchan… ya, aku ingin memilikinya… jadi kuharap kau bisa menerima hal itu..” Hikaru memandang lurus pada Yuya.

“Apa urusannya denganku?” elak Yuya malas mendengar Hikaru.

“Hahaha.. aku tahu kau sangat mengkhawatirkan adik sepupumu itu kan? Jadi hitung – hitung aku meminta persetujuan dengan kakaknya kan?”

“Terserah kau saja…” Yuya menopang dagunya.

Ia selalu sukses menutupi perasaannya. Seperti sekarang juga. Yuya bukan orang yang bisa secara terbuka mengutarakan perasaannya.

“Yo! Kakak ipar… aku janji tak akan meninggalkannya lagi seperti tadi… untung kau menemukannya….”

“Hmmm..” jawab Yuya pelan.

==========

Seharian itu Ryutaro dan Saifu mencari Daiki, walau Ryutaro sebenarnya hanya menemani Saifu saja.

Sudah sore, Saifu dan Ryutaro sudah sangat capek. Mereka sekarang berhenti di depan sebuah café.

“Sebaiknya kita istirahat dulu..” kata Ryutaro.

Saifu ragu namun akhirnya mengangguk, saat mereka baru saja masuk Saifu langsung kaget melihat kakaknya bersama temannya-Hikaru.

“Nii-chan!” panggil Saifu sambil menghapiri Yuya dan Hikaru.

“Ngapain kau disini?” tanya Yuya.

“Daiki!.Daiki hilang!!” seru Saifu panik.

‘Daiki?’ pikir Ryutaro dalam hati.

“Daiki ada bersama Dinchan kok..” jawab Yuya. Karena terlalu panik tadi siang ia tak lupa mengabarkan pada Saifu perihal Daiki.

“HAH??”

“Kau kenapa sih? Kata Daiki kau bertengkar dengannya?” tanya Yuya lagi.

“Dimana dia?!” tanya Saifu masih panik namun campur lega.

“Di penginapan tempat aku menginap, dia sedang makan bersama Dinchan dan beberapa temanku” jelas Yuya.

“Antar aku kesana Nii-chan!” kata Saifu sambil menarik lengan kakaknya itu.

“Kau kenapa sih Fu??” tanya Yuya bingung, “Ya sudah ayo…” kata Yuya lalu mengantar Saifu ke penginapan tempatnya menginap diikuti Ryutaro dan Hikaru.

“DAIKI!!” seru Saifu begitu melihat Daiki tengah makan bersama Din dan teman teman band kakaknya.

“Fu-chan..” gumam Daiki pelan, namun buru-buru mengalihkan pandangannya mengingat mereka masih bertengkar.

“Fu-chan! Ayo ikut makan bersama kami, sudah lama kita tak bertemu ya..” kata Yabu sambil melambaikan tangannya kearah Saifu, namun Saifu tak mengubrisnya dan tetap menatap Daiki kesal, tangannya terkepal disamping tubuhnya.

“DAIKI!! KAU!!” bentak Saifu lagi, seketika seluruh orang di ruangan itu hanya diam, tahu kalau Saifu sangat marah sekarang walau mereka tak tahu Saifu marah dengan Daiki karena apa.

“Apa sih?? Kenapa marah – marah lagi?? Aku kan tak mengikutimu lagi” jawab Daiki enteng sambil menatap Saifu.

Saifu mendekat lalu menampar Daiki, seluruh orang diruangan itu kaget menatap adegan yang baru saja mereka saksikan sedangkan Daiki hanya diam tercengang karena Saifu menamparnya.

“BODOH SEKALI AKU MENGKHAWATIRKAN KAMU?!!” seru Saifu kesal, “Harusnya aku tak mencarimu!! Masa bodoh denganmu!! Aku tak peduli lagi!!” kata Saifu sambil terisak pelan.

“KAU SENDIRI YANG MARAH PADAKU KAN?? AKU IKUT KAN KARENA KHAWATIR DENGANMU!” seru Daiki tak kalah marah karena merasa dipojokkan oleh Saifu itu, bahkan sampai menamparnya.

“Hei kalian hentikan!” seru Yuya .

Tanpa berkata apapun lagi Saifu langsung pergi meninggalkan tempat itu diikuti Ryutaro yang berlari mengejar Saifu.

“SAIFU!!” panggil Yuya, namun percuma Saifu tak mendengarnya.

Daiki berdecak kesal, lagi – lagi dia bertengkar dengan Saifu bahkan membuat Saifu menangis.

“Sana minta maaf padanya!” seru Yuya.

“Tak mau…” Daiki merasa tak salah.

“Minta maaf!!”

“Tidak mau!!” Daiki bersikeras, yang lain menatap ngeri melihat kini Yuya yang menatap Daiki kesal, semua teman Yuya tahu bahwa Yuya sangat menyayangi adik semata wayangnya itu.

Yuya menarik kerah baju Daiki, “Minta maaf kataku! Kau membuatnya menangis!!” bentak Yuya geram .

Daiki menatap Yuya, lalu bangkit berdiri, “Ck..baiklah..aku tahu aku yang salah..” kata Daiki lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Daiki berlari mencari Saifu. Dia sebenaranya sangat menyesal karena membuat Saifu marah dan menangis, langkahnya seketika terhenti melihat Saifu yang kini menangis dipelukan Ryutaro. Hatinya tak rela menatap adegan itu,

“Harusnya aku yang memeluknya..” gumam Daiki pelan.

Namun Daiki sadar.

Saifu memang seharusnya bersama Ryutaro.

Bukan bersama dia, bukan seorang peri cinta sepertinya.

===========

TBC lagiiiiii~ hahahaha XP

Huwaaaa~ sebenarnya masih panjang…. tapi berhubung ini aja udah sepanjang jalan kenangan, jadi mending kita stop dan lanjut chapter depan..
Hahahaha..

COMMENTS are always LOVE for us!! ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] My Lovely Petto (Story 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s