[Multichapter] Jumping To My Heart (chap 2) ~Love Me Like I Love You~

Title        : Jumping To My Heart ~Love Me Like I Love You~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter, Songfic
Chapter     : Two~
Song         : A Girl Meets Love by. K.Will feat. Tiffany (SNSD)
Genre        : Romance *yeah~*
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : Yabu Kouta (HSJ), Hinata Thalia (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Yabu Kouta is belong to Johnny’s & Association, Hinata Thalia is Debbi Natalia’ OC yang saia pinjam. Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

JUMPING TO MY HEART
~ Chapter 2 ~
~ LOVE ME LIKE I LOVE YOU~

Yabu’s POV

“Kou-chan… Kou-chan… kalau sudah besar, aku akan jadi pengantin Kou-chan yaaa…” seru seorang gadis manis, lengkap dengan gaun berenda yang dipakainya.

Aku hanya tersenyum, mengangguk untuk menyetujui apa yang gadis itu katakan. Tiba – tiba saja aku merasa seseorang mengguncang bahuku dengan keras.

BRUKK!!

“Kyaaa!!” aku jatuh hingga membentur lantai.

“Kou-chan apaan sih? Teriakanmu seperti perempuan…” Inoo mencibir dan tertawa terbahak melihatku jatuh.

Aku tak menjawab, mengelus tanganku yang rasanya mau copot karena tadi tertindih sebagian badanku.

“Berisik…” balasku pada Inoo.

Inoo hanya terkekeh dan mulai membaca buku yang bahkan judulnya pun tak mampu ku cerna dengan baik.

“Kau akhir – akhir ini kenapa sih?” Inoo menutup bukunya, menatapku seakan ada yang salah padaku.

Aku menggeleng, “Hanya masalah biasa..” jawabku sekenanya.

“Masalah cinta maksudmu?”

Aku mendelik ke arah pria sok tahu di hadapanku itu, “Sejak kapan aku punya masalah cinta? Memangnya Yuyan?” cibirku kesal.

Inoo tertawa, “Habis kemarin saat aku sekamar denganmu, kau menggumamkan nama cewek…”

“Hah? Aku… apa?”

“Ya…dari analisisku sih Thalia itu nama cewek kan? Gak mungkin cowok?” katanya lagi dengan yakin.

Seberapa kerasnya berfikir, aku sama sekali tak ingat pernah menggumamkan nama itu.

“Kok aku gak ingat?” gumamku bingung.

Inoo beranjak dan memukul kepalanku dengan buku tebal tadi, “Kalau kau ingat namanya kau tidak ngelindur bodoh!” serunya lalu tiba – tiba keluar dari ruangan.

Aku mengambil sekaleng mnuman soda untuk sedikit menjernihkan fikiranku. Beberapa hari ini rasanya sulit berkonsentrasi, padahal kejadiannya sungguh tak luar biasa, tapi efek yang diberikan oleh kejadian itu membuatku tak dapat fokus sama sekali.

-Flashback-

Hari Rabu yang begitu menyenangkan. Tak ada pemotretan, tak ada syuting, tak ada wawancara ataupun latihan. Liburan di sela – sela kegiatan yang begitu padat membuatku lega bisa seharian bersantai di rumah. Sejak semalam aku bilang pada Okaa-san untuk tak membangunkanku pagi – pagi seperti biasanya.

“Kou-chaaaaannn!!” sebuah teriakan membuatku membuka mata, aku memicingkan mata, ternyata baru saja pukul delapan pagi.

“Thalia-chan… urusai yo… sana pergi sekolah!!” bentakku pelan pada gadis itu.

“KOUUUU-CHHAAANNN!!”

Aku menarik lengan Thalia hingga kini badan gadis itu tepat berada di pelukanku. Aku tak pernah canggung dengan gadis itu. Sudah sejak kecil kami mengenal. Saat itu aku sudah berusia sepuluh tahun ketika keluarga Hinata pindah ke sebelah rumah. Sejak saat itu aku dan Thalia bagaikan adik kakak saja.

Hinata Thalia. Gadis ini berumur enam tahun lebih muda dariku. Karena aku tak pernah punya adik, maka kedatangan Thalia justru membuatku sangat senang.

“Kou-chan…” bisik Thalia, membuyarkan lamunanku.

“Hmmm..” aku bergumam sambil masih melingkarkan tanganku di badannya.

“Kou-chan lepaaaasss!!” Thalia mendorong tubuhku, tak lupa ia mendaratkan sebuah sikuan di perutku, cukup membuatku sadar sepenuhnya.

“Ittai…” keluhku lalu duduk di kasur dan menatap Thalia dengan setengah sadar.

Muka gadis itu memerah tanpa kumengerti sebabnya.

“Kau kenapa sih?” tanyaku bingung.

“Tidak apa – apa…” ia membalikkan tubuhnya, “kau dipanggil Oba-chan…”

“Aku sudah bilang pada Okaa-san untuk tidak membangunkanku pagi – pagi kok…” gumamku heran.

“Sudahlah…gimana Kou-chan saja!”

Ia beranjak, aku refleks menahan tangannya, “Kamu kenapa sih?”

“Kou-chan tak akan mengerti hati cewek!” bentaknya.

“Hei…jangan salah… aku ini playboy loh waktu SMA…” tentu saja bohong. Mana bisa jadi playboy kalau setiap hari kerjaanku hanya syuting bersama Hikaru?

“Aku… aku suka Kou-chan!!!” ia berteriak lantang, padahal di ruangan ini hanya ada aku dan dirinya.

Cewek itu memang aneh ya?

“Hah?” aku melongo lalu tangannya terlepas dari genggamanku.

“Aku suka Kou-chan…” ia berbalik sambil memejamkan matanya.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal itu, “Aku juga suka Thalia-chan kok… kau sudah seperti adikku sendiri..”

Thalia membuka matanya, lalu mengambil guling yang berada di atas kasurku.

“BAKA!!!” Thalia melemparkannya dengan keras ke arah wajahku.

I only saw you as a young child
And yet my heart lingered closer

-Flashback end-

======

Thalia’s POV

Apa pria selalu di takdirkan tidak sensitif?? Kenapa Kou-chan tak pernah sadar kalau aku menyukai dirinya?

Sejak kecil aku selalu mengagumi sosoknya. Mungkin bukan kelakuan cengengnya, tapi ia selalu melindungi aku walaupun sebenarnya dia sendiri juga takut. Ya, Yabu Kota mungkin cukup aneh.

Setahun setelah aku mengenalnya, ia masuk sebuah agensi dan setelah itu ia lumayan sibuk. Tapi, Kou-chan selalu mau meladeni diriku yang hanya manja dengan dirinya saja.

Tapi, Kou-chan ternyata hanya menganggapku sebagai adiknya saja.

Adik.

Tak lebih dari itu.

Aku bukan gadis cengeng yang mudah menangis, namun saat itu hatiku sakit sekali hingga aku meneteskan air mata.

Sial,

Apa karena cinta semua cewek harus jadi lemah?

Tapi, bagaimanapun aku sangat menyukai Kou-chan. Sejak kecil impianku adalah menjadi pengantin Kou-chan. Tentu saja saat itu pemuda itu hanya menganggap perkataanku adalah bualan saja, tapi sekarang aku serius, Kou-chan adalah cinta pertamaku.

MichikoLoveYama : Halo? Kau masih disana Thalia-chan?

ThaliaKouta : haa?? Maaf… aku tadi melamun.

Aduh, aku meninggalkan teman fan cafeku. Beberapa bulan belakangan aku ikut JUMP fan cafe. Sebenarnya bukan karena aku menggemari mereka, aku hanya ingin tahu apa saja yang fans tahu tentang Kou-chan. Sosok Kou-chan yang selama ini aku tahu, apakah sama dengan yang fans pikirkan.

MichikoLoveYama : daijoubu yo… tapi Thalia-chan tak apa – apa?

ThaliaKouta : aku baik – baik saja.. 😛

MichikoLove Yama : kamu member baru ya?aku baru liat kau disini.

ThaliaKouta : maaa~ begitulah…

MichikoLoveYama : pasti ichibanmu Yabu Kouta kan? Hehehe.. <- look at your name anyway~

ThaliaKouta : bingo!! Dan pasti kau fans Yama-chan ya?

Jika saja dia tahu kelakuan Yamada yang sebenarnya, prince charming? Jauh dari kata itu.

MichikoLoveYama : hehehe.. 🙂 sekaaaiii!! ^^ aku sudah bergabung di fan cafe sejak setahun lalu… hehe

ThaliaKouta  : sugoooii!!

MichikoLoveYama : ah tidak juga…

ThaliaKouta : pernah berfikir bisa kenal dengan member JUMP?

MichikoLove Yama : senang sekali jika bisa begitu… tapi aku tak berhaap sejauh itu… aku senang mensupport mereka walaupun dari jauh…

ThaliaKouta : sou da ne…

MichikoLoveYama : Yama-chan itu cinta pertamaku.. 😛

Untung aku sedang tidak minum, kalau tidak aku pasti tersedak karena kaget.

ThaliaKouta : Majissuka? Michiko-chan belum pernah jatuh cinta sebelumnya?

MichikoLoveYama : hehehe~ memangnya Thalia-chan pernah?

ThaliaKouta : hehehe~ begitulah…

“Kau sedang apa?”

Dengan refleks aku menutup layar laptopku.

“Kou-chan!!” teriakku kaget, “Apa yang kau lakukan disini?!!” kataku kesal.

Pasti koneksi internetku langsung hibernate seketika. Kenapa pemuda tu selalu datang tiba – tiba disaat yang tidak tepat sih?

“Mengunjungimu… gak boleh?” tanyanya sambil merebahkan diri di kasurku.

“Ini sudah malam Kou-chan…dan ini kamar gadis… kamu gak tau hal itu?” tanyaku lalu membalik kursi ku ke arah kasur yang berada di seberang meja belajar.

“Memangnya kenapa?” dia tetap acuh, bahkan mengambil boneka beruang yang berada di atas kasurku.

Bukan berarti aku suka boneka.

Itu pemberian Kou-chan saat aku ulang tahun.

“Tak sopan Kou-chan…”

“Tapi Mama sudah membolehkan aku masuk kok…”

Satu lagi, Kou-chan memanggil Mamaku dengan sebutan Mama juga, ia sudah mengaggapnya sebagai Mama sendiri.

“Aku mau tidur…sana cepat keluar!!” perintahku sambil menarik tangan Kou-chan.

“Ya udah tidur bareng aja yuk…” Kou-chan menepuk bagian kasur yang masih sedikit kosong, tentu saja karena tubuh Kou-chan kan tidak memenuhi kasur single itu karena kurusnya.

“Baka…” gumamku sambil masih mencoba menarik tangan Kou-chan agar turun dari kasurku.

“Dari kecil kan kita sering tidur bareng? Apa bedanya?”

PLAKK!

Tanpa sadar aku menampar pipi Kou-chan dengan keras. Ia terdiam dan terlihat kaget.

“KELUAR!!” teriakku kesal.

Kou-chan berdiri dan segera keluar dari kamarku, sedetik kemudian air ataku mengalir tanpa bisa kuhentikan. Rasanya kesal sekali, kenapa aku bisa jatuh cinta pada pemuda yang bahkan tak memikirkan perasaanku sama sekali?

=========

Yabu’s POV

Akhir – akhir ini gadis itu makin aneh saja.

Sebenarnya apa salahku sih? Bohong jika aku tak memikirkan perkataannya waktu itu. Ia bilang menyukaiku, tapi kenapa rasanya terlalu rumit?

Aku sudah bersama Thalia sejak aku berumur sepuluh tahun, selama sebelas tahun ini aku tak pernah memikirkan sedikitpun kemungkinan aku bisa pacaran dengannya. Dia terlalu muda, dan aku sendiri tak bisa melihatnya sebagai seorang pacar.

Aku mengelus pipiku yang tadi di tampar oleh Thalia. Rasanya tidak begitu sakit, justru hatiku yang rasanya sakit. Aku tak mau ada sesuatu yang membuatku dan Thalia bertengkar, dia terlalu berharga buatku.

Without me knowing
Little by little
I fell deeper

==========

Thalia’s POV

Setelah menampar Kou-chan rasanya aku juga merasa sakit hati sendiri. Bodoh sekali apa yang aku lakukan padanya.

Kenapa aku bisa se-gegabah itu?

Aku terdiam sejenak menatap tanganku yang tadi dipakai menampar Kou-chan. Bodoh! Aku merutuki diriku sendiri.

Keesokan harinya aku berniat mendatangi Kou-chan. Bagaimanapun aku ingin sekali meminta maaf padanya. Aku menunggu Kou-chan di kamarnya, seperti biasa Okaa-san membiarkan aku masuk ke kamar Kou-chan seenaknya. Mereka sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri, maka aku bebas menunggu Kou-chan walaupun sudah semalam ini.

Aku mendengar lagkah kaki Kou-chan sehingga aku bergegas menyembunyikan diriku di dalam selimut milik pemuda itu. Aku ingin mengagetkannya. Ternyata ia masih tersambung dengan telepon di kupingnya.

“Iya Yuyan… mou.. bisa sih… tapi gak besok.. kita kan ada pemotretan hingga malam..” pasti diseberang sana Takaki Yuya.

Kou-chan membuka jaketnya dan duduk di kasur tanpa curiga aku ada di balik selimut.

“Hahaha… kau bercanda? Memangnya ada cewek yang gimana aja sih?”

Seketika aku membuka selimut itu hingga Kou-chan mental beberapa senti dari situ.

“THALIA!!” teriaknya kaget, ia menutup flip ponselnya, “Ngapain kau disitu?!” teriaknya lagi.

“Kau janjian apa dengan Yuya – Nii??! Jawab aku!!” jika berhubungan dengan Yuya Takaki aku agak sedikit khawatir, ia terkenal dengan sikap playboy nya.

“Hmmm.. bukan urusanmu Thalia-chan…” ia menunduk, aku sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan pemuda kurus dihadapanku itu.

Aku berlari ke arahnya karena merasa sedikit frustasi. Aku mendorong Kou-chan dan memukuli dada bidangnya, “Atashi nara dame na no?!! Dame na no?!!” seakan sudah sangat kecewa, aku menangis sambil memukuli Kou-chan.

“Thalia!! Kau kenapa sih?!”

“Kenapa Kou-chan tak bisa melihatku?!! Aku selalu melihat Kou-chan… aku mencintai Kou-chan!! Kenapaaa??!!” air mataku menyeruak hingga aku bahkan tak bisa melihat Kou-chan dengan jelas.

“Gomen…” hanya kata itu yang terakhir kali kudengar dari mulutnya sebelum aku pergi dari kamar itu, membawa skait hati yang lebih dalam.

==========

Yabu’s POV

“Kou…besok libur kan?” Okaa-san berdiri tepat di depan pintu kamarku.

Besok aku libur, karena hari ini aku sudah menyelesaikan konser JUMP. Setidaknya ada jeda bebebrapa hari untuk latihan selanjutnya. Dan besok, sama sekali tak ada pekerjaan menungguku.

“Iya… ada apa Kaa-chan?” tanyaku.

“Baguslah kalau begitu…kau bisa piknik dengan keluarga Hinata besok..” kata Okaa-san sambil tersenyum padaku.

“Hah? Hmmm..” sejak sibuk, aku memang jarang ikut acara keluarga.

“Iya…besok kita akan pergi memancing…”

Aku hanya mengangguk walaupun malas sekali hari libur masih harus pergi, tapi tak tega juga bila harus menolak Okaa-san. Aku ini anak bungsu bagaimanapun juga.

Besok paginya Okaa-san membangunkan aku pagi – pagi sekali. Jam delapan, tap buat hari libur itu adalah jam yang sangat pagi. Kami sarapan terlebih dahulu, setelah itu keluar masuk ke mobil. Keluarga Hinata datang setelahnya.

Ada Thalia disitu.

Masuk ke mobil dan duduk di sebelahku.

Sudah seminggu sejak kejadian ia menangis dan berteriak mengutarakan perasaannya, dan sejak saat itu aku tak pernah menemuinya, begitu juga dengan dirinya. Thalia tak pernah seperti ini sebelumnya, aku jadi sedikit khawatir padanya.

“Wah…jarang – jarang ya anak – anak kita bisa ikut…” kata Mama pada Okaa-san.

Aku menatap Thalia yang duduk tepat di sebelahku. Pandangannya mengarah keluar jendela sepanjang perjalanan. Yang terdengar hanya gelak tawa dan pembicaraan antar orang tua.

Tak berani menegur Thalia yang sejak tadi terlihat sangat canggung. Aku bingung bagaimana harus berkomunikasi dengannya. Belum pernah aku punya masalah dengan Thalia seperti sekarang.

“Kou… Thalia… ambil air di sungai sebelah sana ya..” pinta Mama.

Aku yang sedang memancing dengan Otou-san pun mengangguk dan mengambil dua ember. Thalia mengikuti dari belakang.

“Lihat awannya bagus..” kataku refleks pada Thalia.

Thalia mendongak dan tersenyum ketika melihat awan dengan bentuk yang unik.

“Kou-chan!! Yang itu kayak hati..” seru Thalia bersemangat.

Seakan menyadari sesuatu, Thalia seketika terdiam ketika menatap wajahku yang sedang menatapnya.

“Gomen..” bisiknya lirih.

“Anou… Thalia-chan…apa kau masih marah padaku?” tanyaku ketika kita sudah sampai di sungai.

“Betsu ni… aku gak marah sama Kou-chan kok..” elaknya sambil menunduk.

“Tak usah bohong…”

Aku sudah mengenalmu selama sebelas tahun, asal kau tahu itu, tambahku dalam hati.

“Aku tak marah…hanya…” Thalia menunduk seolah berfikir, “Hanya bingung harus bersikap bagaimana pada Kou-chan…”

“Bersikap biasa saja…” jawabku lalu menyodok air yang ada di hadapanku.

“Kou-chan…” panggilnya lirih.

“Aku sebenarnya memikirkan apa yang Thalia-chan katakan…tapi, aku bingung…dan aku…”

“Kou-chan…kumohon lupakan apa yang sudah kukatakan.. anggap saja aku tak pernah mengatakan hal itu… yappa~ muri da ne… kita akan selamanya jadi adik kakak…” kata Thalia lalu tersenyum lebar padaku.

“Thalia…bukan itu maksudku..”

“Kumohon lupakan saja… ayo! Kalau kelamaan disini nanti Mama mencari kita..” kata Thalia lalu mendahuluiku berjalan menjauh dari tempat itu.

Kenapa rasanya aku jadi sedikit sakit hati ya?

Even though I couldn’t see it at first
I can’t deny that my heart
Is driving me crazy

“Yo! Ini ada pizza…” Hikaru menaruhnya tepat di depan mataku, lalu megambil sepotong dari dalam kotak pizza itu.

“Sankyu..” kataku lalu mengambil sepotong juga.

“Yang lain telat, atau kita kecepetan sih?” tanyanya mengedarkan pandangan ke penjuru ruang latihan, dan hanya ada kita berdua.

Aku menoleh menghadap Hikaru.

Sekotak pizza, dan jadwal yang tiba – tiba lebih cepat dari biasanya.

“Pasti kau pikir aku sedang ada masalah ya?”

Tadi pagi Hikaru bilang jika jadwal latihan dipercepat. Tapi nyatanya hanya ada dirinya dan aku di ruangan ini.

“Hehehe..”

Memang sudah kebiasaan Hikaru jika ingin membicarakan sesuatu denganku.

“Kau tahu Thalia-chan kan…”

“Memangnya sudah berapa lama kita kenal? Tentu saja aku tahu..ada apa dengannya?” tanya Hikaru sambil masih mengunyah pizza.

“Kau tahu selama ini aku selalu menganggapnya sebagai adikku saja… tapi, kemarin ia tiba – tiba menyatakan perasaannya, tapi setelah itu kemarin ia malah memintaku melupakannya…” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Mungkin dia bingung dengan sikapmu?” tanya Hikaru.

“Tapi aku tak bisa semudah itu menjawabnya…selama bertahun – tahun ia selalu jadi adikku.. mana bisa aku tiba – tiba menganggapnya lain?”

“Kau harus belajar lebih jujur pada dirimu sendiri…aku tahu mungkin yang bisa merasakannya cuma kau sendiri…tapi…pikirkan lagi dengan hatimu itu..” kata Hikaru, kembali mengambil pizza.

“Sou ne… aku bingung…benar – benar bingung..”

“Tak perlu bingung… kau hanya perlu jujur… dan jawab perasaan Thalia dengan benar…jangan sampai dia juga ikut bingung.. ne?”

“Sou da yo..”

Jika saja aku bisa lebih jujur?

Hmmm… jika jujur maka semuanya terjawab dengan sangat mudah…tapi apa aku masih punya keberanian untuk mengatakannya?

I know I’m bad
But, I can’t let you go
Let me have your name, the memories of you

Keheningan yang tak bisa membuatku terbiasa.

Selama beberapa minggu aku sibuk sekali, dan saat pulang ia tak ada menyambutku dengan senyuman seperti biasanya.

Sial.

Kenapa aku bisa merasa seperti ini? Padahal setelah apa yang kukatakan pada gadis itu.

Thalia jarang sekali muncul di hadapanku akhir – akhir ini. Sekali aku pernah menanyakannya pada Okaa-san, dan ia bilang mungkin Thalia sedang sibuk persiapan ujian masuk SMA.

Ya, gadis itu segera masuk SMA. Mungkin setelah ini ia akan tambah jauh denganku. Ugh! Aku tak suka perasaan ditinggalkan seperti ini.

Come into my heart
Please help me
I come to you with love

===============

Thalia’s POV

“Kou-chan… Kou-chan… kalau sudah besar, aku akan jadi pengantin Kou-chan yaaa…”

Kou-chan selalu bisa melindungiku. Makanya aku ingin jadi pengantin Kou-chan.

Aku ingat saat berumur empat tahun. Saat itu aku baru saja datang ke daerah sini, tinggal di sebelah rumah Kou-chan.

Saat bermain, aku dikejar anjing galak di sekitar rumah, karena panik aku menangis dan berlari sambil bersembunyi di sebuah gang. Kou-chan yang juga sebenarnya takut, memelukku dan berkata semuanya akan baik – baik saja, padahal dia sendiri menangis.

Atau saat umur tujuh tahun, ia berjanji akan membawakanku es krim sepulan ia syuting. Aku terkantuk – kantuk menunggunya pulang. Ketika sampai, Kou-chan lupa membelinya. Ia berlari ke toko 24 jam untuk membelikanku es krim. Sejak saat itu Kou-chan bilang ia tak akan melupakan janjinya padaku.

Jika diingat – ingat, Kou-chan memang mungkin hanya menganggapku sebagai adiknya. Bagaimana tidak? Caranya melindungiku memang bagaikan kakak pada adiknya sendiri.

You saw me only as a child
And yet I linger closer
Without me knowing my steps
Walk, little by little, to you

Persiapan ujian membuatku gila. Banyak sekali yang harus dipelajari dalam waktu singkat. Hufft~

Apa – apaan ini?

Tapi, setidaknya karena sibuk aku tak harus memikirkan Kou-chan terus menerus. Semuanya jadi lebih mudah saat aku menjauhinya.

Jujur saja, aku ingin sekali tetap bermanja dengan Kou-chan. Tapi sekarang, setelah apa yang kukatakan padanya, aku masih belum bisa menghadapinya. Masih terlalu sulit untuk bersikap biasa pada Kou-chan.

Pagi ini Mama menyerahkan berkas yang aku minta seminggu lalu. Untung saja pendaftaran masih dibuka.

“Arigatou Mama..”

“Kau yakin dengan pilihanmu?” tanya Mama menatap anak gadisnya ini dengan sedikit heran.

“Un!” aku mengagguk dengan mantap, “Aku akan mencoba beberapa sekolah kan Ma…jadi, setelah hasilnya keluar baru aku akan memikirkannya…” jawabku.

Besok aku akan menemui Kou-chan.

Aku ingin mengabarkannya.

“Ohayou Kou-chan..” sapaku ketika pemuda itu turun.

“Eh…Thalia-chan?!” wajahnya tampak bingung.

Kou-chan menghampiriku dan duduk di meja makan juga, “Ohisashiburi…” katanya menatapku lama.

“Hisashiburi da ne…aku sibuk belajar loh Kou-chan..” kataku lalu meneguk air teh dihadapanku.

“Sou ne…kata Okaa-san kau sedang ujian masuk SMA…” ujarnya.

Aku mengangguk, “Kalau lancar, aku akan asrama di daerah Chiba…”

“Hah? Asrama?”

Ya, aku akan melarikan diri dari Kou-chan. Jika itu satu – satunya cara agar aku bisa melupakannya.

Even though I try to stop myself
The heart that I can’t lie to
Is driving me crazy

Aku mengendap – endap ke dalam kamar Kou-chan. Seperti biasa sepagi ini pemuda itu pasti belum bangun.

Wajah tertidur Kou-chan adalah ekspresi Kou-chan yang paling aku sukai.

“Ohayou..” bisikku.

Sambil berkata demikian aku menyimpan sekotak susu dan sebuah surat mungil di bawahnya.

Kou-chan~
Ohayou!! Genki dazeeee!!hehehe..
Karena aku akan pergi sebentar lagi, besok aku tunggu Kou-chan di taman ya…
Kabari aku Kou-chan akan pulang sekitar jam berapa..
Anggap saja sebagai perpisahan..
-Thalia-
P.S : bawa es krim kesukaanku~ 🙂

I know I’m bad
But, I can’t let you go
Even though I know that
You only see me as a child

Aku menerima mail dari Kou-chan tadi pagi, dia bilang akan pulang sekitar jam sepuluh malam. Untung belum masuk musim dingin, tapi tetap saja lumayan dingin malam ini.

Sudah hampir pukul sepuluh malam, belum ada tanda – tanda Kou-chan akan muncul. Pasti sedikit terlambat seperti biasa.

Aku mengedarkan pandangan.

Taman di malam hari memang sangat sepi. Walaupun lampu taman berkelap – kelip, di tambah suara air mancur yang cukup membuatku tak merasa sepi.

Pukul sepuluh tepat.

Kou-chan belum muncul juga.

Hingga lewat setengah jam dia belum juga datang. Aku mulai mengantuk. Ini bukan jam biasa aku belum tidur.

Tiba – tiba dari kejauhan aku melihat seseorang berjalan.

“Yo!”

Kou-chan benar – benar datang.

“Maaf… tadi aku mengantar Chii dulu..” katanya lalu duduk di sebelahku.

Aku mengangguk.

Kou-chan menyodorkan es krim di depan mataku, “Kore ne? Aku tak lupa kok…”

Aku tertawa dan mengambil es krim itu, “Arigatou Kou-chan!”

“Sejak kau menangis malam itu karena aku lupa membelikanmu es krim, aku selalu berjanji jika aku tak akan melanggar janjiku padamu lagi…” Kou- chan menatapku sekilas, “Aku berjanji akan menjagamu…”

Even though I can’t speak, know of this day
When I came to your love
Again, come closer to me
Come again closer to me

“Sou ne…” aku tak bisa menjawab, bahkan tak mampu balas melihat Kou-chan.

“Kenapa kau menjauhiku? Apa kesalahanku sebegitu besarnya?” Kou-chan menatap lurus ke depan ketika aku menoleh, ekspresinya serius.

“Karena… aku harus melupakan perasaanku pada Kou-chan..” jawabku pelan.

Ia menoleh cepat ke arahku.

“Kalau kubilang jangan dilupakan?”

==============

Yabu’s POV

Thalia menatapku tak percaya.

“Kou-chan apaan sih?!” ia kembali menunduk, membuang pandangannya dariku.

“Hmmm…” aku jadi bingung sendiri harus menjawab apa.

Aku mengakuinya. Ketika Hikaru bilang aku harus lebih jujur pada diriku. Maka jawabannya mudah. Bohong jika aku tak menyukai Thalia. Sejak ia berumur tujuh tahun, hanya gadis itu yang selalu ingin aku lindungi, tak ada gadis lain selain dirinya. Walaupun beberapa kali aku berteman dengan gadis – gadis lain, bahkan berkencan. Pada akhirnya aku akan kembali pada gadis berumur enam tahun lebih muda ini. Aku menyadarinya, dan saat sadar gadis ini malah ingin menjauhiku.

Aku bodoh?

Sebut saja begitu. Sejak kapan aku pintar daam masalah asmara? Aku bukan Yuyan atau Hikaru. Bahkan Inoo pasti punya pengalaman lebih banyak dariku.

“Aku serius Thalia-chan…” aku menatapnya, menyentuh bahunya dan menariknya menghadap diriku.

“Kou-chan…” panggilnya lirih.

Kenapa ia begitu manis saat seperti ini?

“Hmmm… boleh aku bilang… jangan tinggalkan aku?”

“Kenapa?” tanya gadis itu lirih.

“Suki dakara…” dengan cepat aku menyentuh bibirnya dengan bibirku.

Ya… ini ciuman pertamaku dengan Thalia.

For us,
Now, let us forgot
Both our pain
So that I can smile

“Kou-chan…itu ciuman pertamaku loh..” kata Thalia setelah aku melepaskan ciumanku dengannya.

Aku salah tingkah, “Hmm.. kalau begitu ini yang kedua..” aku kembali menciumnya, kali ini lebih lama dari tadi.

Mukanya memerah ketika aku melihatnya lagi.

“Kenapa?”

“Suki dakara.. daisuki dakara..” Aku memeluknya lebih erat, “Saat kau bilang kau akan menjauh, entah kenapa rasanya aku tak rela…”

“Tapi Kou-chan…aku..”

“Jawab saja.. suki ka? Suki jyanai?”

“Daisuki desu.. Kou-chan no koto…. daisuki desu..” ia membalas pelukanku tak kalah eratnya.

“Demo…”

“Hmm?” aku melepaskan pelukanku, “Apa?”

“Kou-chan harus bersabar selama tiga tahun ya… sekolah di Chiba itu sekolah impianku.. aku akan tetap sekolah disana…” katanya terlihat sedikit menyesal.

“Aku berjanji kan akan selalu melindungimu… jadi karena itu mimpimu, aku akan membiarkanmu…tapi…”

“Tapi apa?”

“Ini milikku..” ia terlihat bingung, namun mengerti saat aku kembali menciumnya dengan lembut.

“Aku…milikmu juga?” tanyanya dengan wajah memerah.

“Tentu saja bodoh!” Aku kembali memeluknya.

Kupastikan ia akan tetap jadi milikku.

In your presence, next to you
Come into my heart
Be my everything
So that I can dream happy dreams
Be my love

=========
Jumping To My Heart ~Love Me Like I Love You~ END
To Be Continued….

Maap lama sodara – sodara.. mengalami kemalasan tingkat akut dan kebanyakan tugas serta acara yang berlangsung..hahaha~
Maap jika mengecewakan..
COMMENTS are LOVE…
Harap di komen..saia juga nerima flames dengan senang hati..
Ayo~ pairing selanjutnya mau siapa??hahaha.. 😛
Harap di KOMEEEENNN!! Karena COMMENTS are LOVE.. 🙂

 

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Jumping To My Heart (chap 2) ~Love Me Like I Love You~

  1. Yoshitaka Asuka

    fans lama fanfic din, sukoshi zutsu membaca kembaliii *nyampur gt deh bahasanya* XD

    aku kangen baca fanfic din… jadi pengen baca…

    bagus diiin… endingnya ga bisa kutebak bakal tetep pisah ternyata 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s