[Oneshot] All Happened In My Birthday

Title        : All Happened In My Birthday
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Oneshot, SongFic
Song         : Niji (Rainbow) by. Ninomiya Kzunari
Genre        : Romance *again and again~ LOL*
Ratting    : PG ajaaa~
Fandom    : JE
Starring    : tak bisa ku sebutkan, baca aja ya~ hehehe.. 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Saia buat untuk hadiah ultah mbak mel, walopun ceritanya sungguh gaje sekali…maap ya mbaaakkk~ Hahahaha.. it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^
Note : alur cerita maju-mundur, bagian Merusa’s POV terjadi pada satu waktu, sementara yang Author terjadi di berbagai waktu… my new way of writing~ hahaha.. enjoy it.. please bear with it… 🙂 don’t forget to comments~

All Happened In My Birthday

“Berisik!! Jangan panggil aku seperti itu!!” protes seorang gadis yang digoda oleh pria yang jelas lebih tua darinya, tapi kelakuannya perlu diragukan kedewasaannya.
“MeruMeru-chan…” panggil pria itu lagi, menyenderkan kepalanya di bahu sang gadis yang telrihat semakin terganggu.

“Sho-chan!!” teriak gadis itu marah.

Sho menegakkan badannya, “Gomen yo Meru-chan…”

“Jangan panggil aku Meru-meru… namaku Merusa…” protes Merusa kesal.

Sho hanya tertawa lalu mengacak pelan rambut Merusa dengan sayang.

“Meru-chan…” panggil pria itu kembali.

“Hmm?” Merusa tak mau berbalik dan menanggapi Sho dengan senyuman sebelum pria itu minta maaf padanya.

“Otanjoubi Omedetou…” bisik Sho tepat di telinga Merusa.

“Heee??” wajah Merusa seketika memerah karena kaget dengan apa yang ia dengar.

“Sho-chan…” bisik gadis itu lirih, menahan malu karena terlihat senang dengan apa yang Sho lakukan.

“Aku sibuk jadi cuma bisa kasih ini…”

Gadis bernama Merusa itu kini tersenyum memandang sebuah sweater berwarna abu – abu dengan corak sederhana.

“Kenapa sweater Sho-chan?”

“Karena musim dingin segera tiba…” jawab Sho lengkap dengan senyuman khasnya.

Tahun pertamanya mengenal Sakurai Sho, ia mulai percaya apa yang namanya cinta.

You’re always like that.
When you’re sulking

Merusa’s POV

Tak lagi kudengar sapaan MeruMeru-chan sekian lama ini. Tak ingin lagi kudengar. Semuanya terlalu sulit dilupakan sehingga aku pribadi meminta pada Tuhan jika saja aku bisa amnesia akan kenangan tentang Sho, Sakurai Sho mantan kekasihnya.

Malam ini hampir saja pukul 12 malam, mataku sama sekali tidak terpejam. Pada jam segini, tahun – tahun yang lalu pasti tepat pukul dua belas, walaupun Sho tak bisa datang maka sebuah telepon akan membangunkanku, mengganggu tidurku yang nyenyak.

Tapi tidak tahun ini.

Dan tidak tahun – tahun sleanjutnya.

Aku harus melanjutkan hidupku walaupun harus tanpa sosok itu menemaniku.

Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk ke alat komunikasi itu, tak butuh lama hingga aku membaca pesan singkat itu.

Otanjoubi Omedetou~
Honey…
^^

Pesan singkat. Sungguh singkat dan hanya sebaris kata manis dari seorang pemuda lain.

Setidaknya, pesan singkat itu bisa membuatku tersenyum lebar untuk malam ini.

You hide the things that are important to me.
It’s the same place as always,
So today I’ll go there first and wait for you.

Author’s POV

“Hi Meru-chan..” panggil Sho dengan sok imutnya, menghampiri sosok Merusa yang berdiri tak jauh dari studio.

“Hi jyanai… kenapa harus aku yang datang setiap kali kau dapat masalah?” mendokusai…” keluh Merusa pelan.

“Karena kau pacarku..” jawab Sho seenaknya.

Gadis itu mendelik malas, “Hufft~ yang benar saja?! Mimpi mu terlalu jauh, bung!” dengan gerakan cepat Merusa menyerahkan file yang tertinggal oleh Sho di meja kerjanya.

“Tersenyum dong~” goda Sho lalu mendekat ke wajah Gadis yang tak lebih tinggi dari dirinya itu.

Merusa menoleh cepat, “Sudahlah… aku harus pergi..” dengan wajah yang memerah ia berbalik meninggalkan Sho yang masih berdiri menatapnya menjauh.

“Meru-chaaann!!”

Gadis itu berhenti, lalu menoleh, “Apa?”

“Nanti ku traktir…aku janji!!”

Karena komunikasi itu berjalan dari tempat yang agak jauh, sehingga keduanya harus saling berteriak satu sama lain.

“Aku traktir ke taman bermain ya…” seru Sho lagi.

“Eh?”

Sho melambai lalu berbalik masuk kembali ke dalam studio dengan setengah berlari.

The seasons bring the evening sunlight
The shadows find me and stretch toward me…

“Errr…Sho-chan…kayaknya berlebihan deh…”

Kaca mata hitam, syal dan jaket tebal. Bersyukur pria itu tak menggunakan double parka.

“Apanya yang berlebihan?” kini bahkan Sho menambahkan sebuah topi di kepalanya.

“Tak sekalian kau pakai jas hujan saja?” tanya gadis itu kesal.

“Hah?”

“Kalau kau berkamuflase dengan menggunakan pakaian seperti ini, yang ada kau akan makin dikenali!!” seru Merusa kesal, lalu menarik syal yang dikenakan Sho.

“Demo… Meru-chan…” Sho panik seketika.

Merusa menutup mulut Sho dengan tangan kanannya ketika membuka topi yang dipakai Sho, “Nah…begini sih sedikit lebih normal..”

Gadis itu lalu melinkarkan syal milik Sho di sekeliling lehernya.

“Eh…” wajah Merusa seketika memerah ketika aroma khas Sho merebak di hidungnya sesaat setelah ia memakai syal itu.

“Kenapa?”

“Hmmm..wangi Sho…” jawab Merusa dengan wajah merah, membenamkan hidungnya pada syal tersebut.

“hahaha…” Sho hanya tertawa.

“Jangan tertawa! Aku hanya kaget!!” seru Merusa kesal.

Sho tak menjawab lalu menarik tangan gadis itu, menggenggamnya erat.

“Kau hari ini adalah pacarku…” kata Sho seperti sedang memberikan pengumuman resmi.

“Kenapa kau bisa memutuskan seperti itu?” protes gadis itu.

“Setelah ini pun, kau akan jadi pacarku…”

“Hah?” Merusa ingin mengorek kupingnya sekali lagi untuk mendengarkan apa yang barusan terucap dari bibir Sho.

“Suki da…” bisik Sho tegas, tak ada kebohongan di mata pria itu.

Setelah dua tahun, kini ia benar – benar mendengar pernyataan cinta dari Sho, hadiah indah di ulang tahunnya.

You look at me with a surprised face
Then you suddenly purse your lips and turn to look outside.

Merusa’s POV

“Maaf… tadi sedikit banyak urusan…” aku meminta maaf.

Ada saja yang harus urusi di rumah. Punya banyak adik memang sedikit merepotkan ketika kita harus melangkahkan kaki keluar. Semuanya harus beres sebelum aku keluar rumah.

“Tak apa..” jawab pemuda itu sambil memamerkan gigi – giginya yang rapi, ia tersenyum.

Aku tak boleh membandingkan pria di hadapannya ini dengan Sho. Bagaimanapun Sho hanyalah masa lalunya, tapi kini yang dihadapannya adalah masa depannya.

“Kenapa melamun?” tanya pemuda itu padaku, mungkin melihatku sedikit tak fokus.

Aku menggeleng cepat, “Tak ada apa – apa…”

Pemuda di hadapanku itu tersenyum.

Sejak melihat senyum itu aku memantapkan diri melupakan Sho. Melupakan cinta pertamaku untuk menjalani hidupku yang baru.

“Kita makan dulu? Atau kemana?” tanya pemuda itu.

“Hmmm..terserah…aku ikut saja..” jawabku singkat.

“Ya sudah, kita makan dulu, setelahnya kita ke bioskop ya..”

Deg.

Satu lagi tempat yang membuatnya selalu ingat tentang Sho Sakurai.

When I say “I’m sorry”
And “Then come over here”
Hey, look, look
Our shadows are overlapping…

Author’s POV

“Kenapa harus bioskop?” tanya Merusa memandang Sho yang berada di hadapannya.

“Tak ada alasan khusus…” jawab pria itu singkat.

“Tapi aku malas berangkat kemanapun..” tolak Merusa.

Malam hari, dengan menggunakan kaca mata hitam pria itu berada di hadapannya mengajaknya untuk menonton bioskop.

Tak ada hal yang lebih konyol daripada ini.

“Jangan konyol… kau besok harus berangkat ke Hokkaido kan?” Merusa ingat jadwal konser Sho di luar kepala.

Semuanya tercatat bagaikan sebuah PDA canggih. Jatuh cinta bisa membuatmu menjadi mahluk yang agak mengerikan jika demi orang yang kau cintai.

“Justru karena besok aku akan ke Hokkaido…onegaaaii~” Sho membuka kacamatanya dan menatap Merusa dengan tatapan penuh harap.

“Errr… tapi…”

Jika saja ia bisa menolak saat itu, tapi wajah Sho yang begitu memelas membuatnya tak tega menolaknya.

Ditengah perjalanan hujan turun cukup lebat. Sesampainya di parkiran mereka harus jalan menuju bioskop cukup jauh.

“Tuh kan….hujaaann~” kata Merusa pada Sho yang duduk di sebelahnya.

Sho tertawa jahil, “Sudahlah jangan manyun gitu…” Sho menyerahkan sebuah payung dan membawa payung lainnya.

Keduanya berjalan menyusuri parkiran, berjalan bersebelahan menggunakan payung berbeda.

“Aku pengen pegangan tangan…” kata Sho jahil.

“Jangan macam – macam, nanti kita malah kebasahan!” seru gadis itu.

Sho tertawa – tawa melihat ekspresi wajah Merusa, “hehehe..”

“Apa ketawa?!”

“Kamu lebih manis jika tersenyum..”

Our umbrellas bump together so I can’t walk straight.
You’re watching me like this and laughing.

Sampai di gedung bioskop keduanya sudah setengah basah karena kehujanan. Lah Sho berhasil, membuat Merusa kesal setengah mati pada si pemilik ide aneh ini.

Tiket bioskop ternyata sudah dibelinya secara online, untuknya mengantri tiket bukanlah hal yang mudah. Jika ketahuan tentu saja ia akan menjadi repot.

Masuk di gedung bioskop, Sho tak melepaskan genggamannya dari tangan Merusa.

“Kamu ini kenapa sih?” sebenarnya gadis itu merasa malu, tapi sebagian lagi dirinya merasa senang dengan sikap Sho.

Selama dua jam ke depan, baik Sho maupun Merusa sama sekali tak bicara, menikmati apayang mereka lihat di layar bioskop. Tangan gadis itu masih berada di genggaman tangan Sho.

“Otanjoubi omedetou…” bisik Sho beberapa menit sebelum film usai.

Merusa kaget, ternyata Sho ingat kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya.

“Kau ingat?”

“Kenapa aku lupa ulang tahun pacarku sendiri?!” bisik Sho, manyun karena ia merasa tak dianggap pacar yang baik.

“Bukan itu…maksudku..”

“Shhh~ kau berisik sekali..” Sho mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu lama.

“Itu kadonya ya.. hehehe..” kata Sho setelah melepaskan ciuman itu.

I’ll show you that I can do it too.
I can purse my lips the same way…

Tahun keempatnya bersama Sho Sakurai.

Setiap hari ia semakin merasa Sho menjauh darinya, tapi ia tak tahu kenapa? Mungkin kesibukan Sho yang semakin menggunung membuat Sho sulit bahkan hanya untuk mengatakan selamat padanya.

Ia tak pernah protes. Baginya Sho masih menjadi pacarnya saja sudah membuat dirinya bahagia, anggap saja itu kado dari Sho.

Hingga pukul dua belas malam, tanggal 4 oktober ini sudah lewat, namun tak ada kabar dari Sakurai Sho sama sekali.

Merusa menutup telinganya dengan lagu – lagu milik boyband pacarnya itu, berusaha tak memikirkan kenyataan mungkin saja kekasihnya itu lupa hari ulang tahunnya, ketika pintu apartemennya diketuk dari luar.

Gadis itu dengan enggan membuka pintu, mendapati Sho berada di luar.

Tapi, ekspresi wajah Sho bukan ekspresi wajah biasa yang ia tahu. Bukan ekspresi jahil atau lembut yang biasa ia tampakkan.

“Kau kenapa?” tanya gadis itu to-the-point

“Kita bicara di dalam..”

Semuanya jelas sudah.

Hubungan mereka tercium media. Resiko yang selama ini Sho katakan kini terjadi di hubungan mereka yang menginjak tahun ketiga.

“Jadi, intinya?” air mata sudah di pelupuk mata, tapi bukan Merusa namanya jika tak bisa menahan air mata itu.

“Kita harus berpisah untuk sementara waktu… manajerku menginginkan begitu…” nada sesal sangat kentara dari suara Sho.

Semuanya sudah jelas, dan sudah saatnya untuk Merusa membuat pria itu lebih bahagia, bukan malah membuatnya terbebani.

“Kita berpisah saja selamanya..” kata gadis itu tegas.

“Ini untuk sementara… hanya sementara..” protes Sho tak terima.

“Lebih baik selamanya saja…”

Sejak malam itu, semuanya tentang Sakurai Sho masih terus terngiang di ingatan Merusa, tapi tentu saja ia harus melupakannya. Setiap telepon, mail tak pernah ia jawab, setiap Sho datang pun gadis itu terus menolaknya.

Demi Sho.

Your gentle smile
This time, this space
They’re so important to me
That I could start to cry.
I’m pursing my lips on purpose…
Without waiting for a response to my apology
I softly kissed you…

Merusa’s POV

“Sudah sampai di bioskop Meru-chan…” aku tersadar dari lamunan dan tersenyum pada pemuda di sampingku itu.

“Ah..ya.. ayo turun…” ajakku.

Malam ini hujan tak lagi turun seperti waktu itu.

“Kenapa seharian ini kau selalu melamun? Ada yang salah?”

Aku menggeleng, “Tidak ada… aku baik – baik saja…” jawabku.

“Kau yakin? Kau mau sesuatu yang bisa membuatmu lebih baik?” tanyanya lagi.

Aku kembali menggeleng, “Sungguh aku baik – baik saja..”

“Mungkin kau kecapekan karena persiapan pernikahan kita?” tanya pemuda itu lagi.

Ya,

Pemuda di sebelahku kini adalah calon suamiku. Kami bertemu beberapa tahun lalu, memulai pertemanan sebagai jalan terbaik. Tapi, pemuda itu bilang mencintaiku, dan selama itu aku juga berusaha mencintainya.

Hingga beberapa bulan lalu pemuda itu melamarku.

From now on, if you want to say selfish things,
You can if you want.
But only to me.

“Sudahlah…setelah nonton kita pulang saja ya…”

“Eh…bukankah kau bilang ingin ke tempat peneropongan bintang?” tanyaku mengingatkan.

“Tak usah jika kau lelah..” kata pemuda itu padaku.

Maka setelah nonton, ia membawaku pulang. Seperti biasa ia selalu memikirkan segalanya tentang aku.

“Padahal tak apa jika kau ingin ke tempat itu..” kataku sambil menoleh padanya.

“Tak apa…kau harus istirahat…”

Aku hanya menunduk.

“Oh yaa… di dashboard ada makanan…buatmu..” katanya sambil menunjuk ke arah dashboard.

Aku membukanya, mendapati sebuah kotak berbungkus rapi.

“Sekali lagi..otanjoubi omedetou..” katanya manis.

“Apa ini?” aku merasakan pipiku panas, rasa bahagia menjalar di setiap sendi tubuhku.

“Buka saja… ngomong – ngomong, maaf aku tak meneleponmu semalam, aku tak ingin membangunkanmu..”

“Tak apa…aku mengerti..”

Aku membuka bungkusan kado itu, sebuah buku dengan sampul coklat.

Ketika kubuka halamannya, foto – foto indah menanti di dalamnya, bukan karya seorang yang sangat profesional, tapi cukup indah dan mengandung banyak arti baginya. Semuanya adalah tempat – tempat yang ia sukai, hal – hal yang ia sukai pula.

“Arigatou..”

“Bukan apa – apa.. aku kan masih belajar memotret..” ucapnya lagi.

Because it’s aggravating
Because it’s not honest
Why can’t you say it?
I love you.
Just those three words?

“Oh ya… soal nama belakang itu…kau sudah memikirkannya?”

“Tak usah dipikirkan… aku akan memakai nama belakangmu… Merusa Katou.. tidak buruk..” kataku lalu tersenyum pada si pemuda.

Pemuda yang kini harus terus menjadi sandaranku, kenangan tentang Sakurai Sho seharusnya memang aku lupakan, biarkan selamanya menjadi kenangan indah bagiku.

Pemuda itu tersenyum, pemuda bernama Shigeaki Katou, calon suamiku kelak.

I want to hear it now and then.
Today is the day you and I
Put our family names together.
The day our love bloomed.

==========

OWARI~
Sumpah geje…maafkan aku mbak mel.. *bow*
Tapi…tetep komen yaaaa~ =.=
Hehehe~



Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] All Happened In My Birthday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s