[Multichapter] Happiness (Chapter 12)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Twelve
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 12 ~



Terik siang matahari membuat mata Saifu sedikit menyipit. Sudah lewat lima menit dari waktu janjian, tapi orang yang ditunggunya belum juga datang. Saifu mengetukkan tangannya di meja karena tak sabar.

“Gomen…” kini pemuda yang sejak tadi membuatnya tak tenang itu muncul, lengkap dengan senyuman khasnya.

“Sebentar lagi aku kan harus berangkat, Daiki…” keluh Saifu menatap Daiki dengan kesal.

“Gomen…aku…” Daiki tak ingin memberitahukan alasannya terlambat, “Aku ketiduran..” jawab Daiki akhirnya.

Saifu hanya mengangguk singkat, “Baiklah…”

Alasan Saifu kesal tentu saja karena kurang dari dua jam lagi ia harus pergi ke Bandara dan setelah itu ia akan meninggalkan Jepang, paling tidak untuk setahun hingga ia lulus SMA. Namun Satoshi bahkan menginginkan Saifu di Korea hingga ia lulus kuliah.

“Jangan marah gitu dong Fu-chan…” bujuk Daiki sambil menarik tangan Saifu pelan.

“Kamu gak sedih aku bakal pergi?” tanya Saifu mendelik ke arah pemuda itu cepat.

Daiki menghela nafas berat, “Bukankah aku sudah berapa kali membujukmu untuk tetap di Jepang? Siapa yang bersikeras ingin pergi?” pemuda di hadapan Saifu itu menggembungkan pipinya kesal.

Saifu tak menjawab. Ini semua memang sudah keputusannya. Dan baginya, tak ada pikiran untuk mengurungkan niatnya tersebut.

Daiki menarik tangan Saifu hingga tubuh gadis itu mendekat ke dirinya. Keduanya untuk beberapa saat menikmati kebersamaan mereka yang memang singkat. Berjalan berdampingan dengan jemari Saifu bertautan dengan jemari Daiki. Rasa sedih menggelayuti hati keduanya.

Hingga kini Daiki belum bisa sepenuhnya menerima keputusan Saifu yang mendadak itu.

“Kenapa akhir – akhir ini Dai-chan sulit sekali di hubungi?” tanya Saifu menoleh untuk melihat wajah Daiki.

“Aku sibuk dengan tugas dan kerjaku Fu-chan…” jawab Daiki menggenggam tangan Saifu lebih erat dari biasanya.

“Kau bisa meremukkan tanganku…” protes Saifu.

Daiki nyengir dan tersenyum lagi, mencoba membuat suasana hari ini lebih ceria dan tidak terasa menyedihkan seperti kenyataan sebenarnya.

Mereka menuju sebuah taman yang cukup dekat dengan jarak bandara, karena jika terlalu jauh, Saifu bisa tertinggal pesawat.

Suasana taman di siang hari ini cukup ramai dengan berbagai kegiatan manusia. Tak hanya mereka berdua yang ada di sana. Daiki mengajak Saifu ke sebuah bangku yang terbuat dari kayu ukiran yang cukup indah. Mereka duduk di sana dan selama beberapa saat, keduanya lagi – lagi tak mengeluarkan suara apapun, sibuk dengan pikiran mereka masing – masing.

Tubuh Saifu kemudian berada di pelukan Daiki. Saifu bersandar di dada Daiki yang bidang itu, membiarkan tangan Daiki melingkar di leher dan bahunya, memeluknya erat.

“Dai-chan…” panggil Saifu lirih.

“Gomen…biarkan begini…sebentar saja…” bisik Daiki tepat di telinga Saifu.

Air mata Saifu tak bisa ditahan lagi, begitupun dengan air mata Daiki. Berbagi air mata untuk satu alasan yang sama, yaitu berpisah.

“Aku tak akan melupakan Dai-chan..” kata Saifu di sela isak tangisnya.

“Aku bukan tak ingin dilupakan…aku ingin kau tetap bersamaku disini..” untuk kali pertama Daiki mencintai seseorang dengan sepenuh hati, dan kini orang itu malah harus pergi dari hidupnya.

“Aku benci Dai-chan yang seperti ini…” kata Saifu lirih, air matanya semakin membanjiri tangan Daiki yang berada di lehernya.

Daiki tak menjawab, ia menunduk dan mencium bahu Saifu, “Gomen…” hanya itu yang bisa ia katakan.

Beberapa saat kemudian, Daiki melepas pelukannya, membalik tubuh Saifu hingga menatapnya, tangannya bergerak ke pipi gadis itu, mengusap air mata Saifu.

“Jangan menangis lagi…maafkan keegoisanku..” ucap Daiki, lalu mengusap air matanya sendiri.

Saifu menatap Daiki lama. Ia tak menyangka bahwa Daiki bisa menangis untuknya.

Daiki mengeluarkan sebuah bungkusan besar dari tasnya, “Untukmu…tapi jangan dibuka sebelum kau naik pesawat ya…” katanya menambahkan.

Saifu menerimanya sambil masih berurai air mata, “Arigatou…”

Daiki kembali menarik tubuh Saifu ke dalam pelukannya, “Sudah kubilang jangan menangis lagi, bodoh!” Daiki mendekatkan wajahnya ke wajah Saifu, dan untuk menit berikutnya bibir mereka masih bertautan satu sama lain.

“Jaga dirimu baik – baik…” ucap Saifu setelah ciumannya dilepaskan oleh Daiki.

============

Satoshi memandang istrinya dan anaknya, “Sudahlah Rei…tiga bulan lagi kan aku pulang…”

“Otou-san, bawa oleh – oleh ya…” kata Hiroki pada Ayahnya itu.

“Sudah kubilang tiga bulan itu lama…” ucap Rei kesal.

“Aku tahu… aku akan meneleponmu setiap hari..” janji Satoshi akhirnya.

Satoshi memandang jam tangannya, tinggal satu jam sebelum take off, tapi adiknya sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.

“Fu-chan mana sih?” keluh Satoshi.

Tak lama adiknya itu datang bersama seorang pemuda yang Satoshi kenal sebagai Daiki.

“Ayo…sudah harus boarding..” kata Satoshi tanpa menoleh pada Daiki.

“Iya Nii-chan..maaf aku telat…” bisik Saifu yang matanya terlihat sembab.

Daiki menunduk pada Satoshi, “Maaf Ohno-san… Saifu telat karena aku..”

Satoshi berdehem, “Ingat Arioka-san…aku belum berencana menurunkan restuku pada hubungan kalian berdua…” lalu ia menoleh pada Saifu, “Ayo!”

Saifu melambaikan tangannya pada Daiki, merasa sedih karena kini mereka benar – benar berpisah.

“Matamu sembab…” kata Satoshi pada Saifu ketika mereka sudah berada di atas pesawat.

“Hmmm…aku kan sedih harus berpisah dengan Jepang…”

“Atau dengan pemuda bernama Daiki itu?” tanya Satoshi.

Saifu tak menjawab.

“Lulus lah dulu…baru setelah itu aku bisa memberikan restuku padamu dan pemuda itu…” kata Satoshi lagi.

Saifu tertawa pelan, “Nii-chan lucu…” ia tertawa karena melihat ekspresi wajah kakaknya yang serius.

“Berisik…aku khawatir padamu tahu! Makanya aku memutuskan untuk membawamu ke Korea..” jelas Satoshi.

“Iya Nii-chan…aku tak akan macam – macam sebelum aku lulus…” kata Saifu lagi.

Saifu memandang bungkusan besar yang tadi diberikan oleh Daiki, ia penasaran lalu membuka bungkusan itu.

“Eh?” Sebuah boneka penguin besar, lalu dilehernya ada sebuah kalung emas dengan ukiran huruf D.

Penguin ini untuk mengingatkanmu pada aku…
Kau selalu bilang aku seperti penguin kan?
Kalung itu…juga untukmu…pakailah..agar semua orang tahu
Kau itu pacarku.. 😛
Aku tak main – main Fu-chan…jangan sampai aku harus menyusulmu kesana
Hehehe
Jaga dirimu baik – baik, jangan lirik – lirik cowok lain.. =.=

-Daiki-

Saifu tertawa membaca surat itu. Kini ia tahu kenapa Daiki sulit dihubungi. Pasti untuk membeli kalung itu Daiki bekerja lebih keras dari biasanya. Ia tahu, hidup terus berubah dari hari ke hari, tapi ia ingin perasaannya pada Daiki tak akan pernah berubah. Ia yakin itu.

=========

“Okaa-san, terima kasih sudah mengundangku makan malam,” ucap Opi sambil menunduk dalam.

Ibu Sho tersenyum. “Nanti datang lagi. Okaa-san sangat kesepian kalau harus makan berdua bersama Shu. Itu pun dia jarang di rumah,” kata ibu Sho. “Padahal Sho dan Shu adalah anakku. Tapi mereka berbeda sekali,” desah ibu Sho.

“Baiklah. Nanti aku akan datang lagi untuk menemani Okaa-san,” balas Opi ramah.

“Ayo aku antar pulang,” ucap Sho sudah siap akan mengeluarkan mobilnya. Malam ini ia dan Reina memang akan menginap di rumah orang tua Sho.

“Sho-kun, kau tidak usah mengantarku. Aku akan pulang sendiri,” kata Opi membuat Sho tidak jadi mengeluarkan mobil.

“Nande?”

“Rumahku kan dekat dari sini. Hanya sekali naik bis,” jawab Opi dengan tersenyum lebar. Mungkin saja dengan begitu Sho tidak akan merasa cemas karena ia pulang sendiri. “Daijoubu..”

Sho akhirnya mengangguk. Ia sangat tahu kekasihnya itu tidak suka dipaksa. “Baiklah. Tapi kau harus meneleponku begitu sampai di rumah,” ucap Sho memperingatkan sambil menyentuh puncak kepala Opi lembut kemudian mengecup keningnya pelan.

Opi mengangguk. “Wakatta.” Kemudian ia berbalik dan pergi meninggalkan Sho yang tetap berdiri di depan pagar rumahnya.

Untuk kesekian kalinya Opi makan di rumah Sho, dan tentu saja walaupun ia masih memikirkan banyak hal, untuk Sho kedatangan Opi membantunya sedikit melupakan kejadian dengan Aiba beberapa waktu yang lalu.

Sho menarik nafas dalam-dalam. Ini masalah dan harus cepat diselesaikan. Ia ingin kehidupannya tenang bersama Reina dan juga Opi. Tapi apa yang harus ia lakukan?

Sho menengguk birnya hingga tandas dari kaleng. Berdiri di balkon dengan merasakan hembusan angin malam sedikit membuatnya tenang dan menghilangkan beban pikirannya walaupun hanya sedikit.

“Papa..”

Sho menoleh cepat saat Reina memanggilnya.

“Reina? Sedang apa di sini? Seharusnya kan sudah tidur,” ucap Sho sambil berlutut agar pandangannya sejajar dengan Reina.

“Papa, boleh Reina bertanya?”

“Hmm?”

“Paman yang bernama Masaki itu siapa?”

Sho terbelalak. Pertanyaan Reina yang dilontarkan praktis membuat Sho tidak dapat berkedip. Ia benar-benar kaget.

“Kenapa…bertanya seperti itu?” tanya Sho berusaha setenang mungkin.

“Aku pernah bertemu sebelumnya. Paman itu pernah datang ke sini mencari Papa” jelas Reina polos.

Jadi Masaki sudah mencarinya sejak hari itu, gumam Sho.

“Apa paman yang bernama Masaki itu…..Papa Reina?”

Tidak..jangan katakan itu..

Sho tak pernah berbohong soal dirinya adalah Ayah kandung dari Reina. Sejak dulu Reina selalu tahu ia hanya seorang paman yang sudah Reina anggap Ayah. Bagaimanapun ia tak mau merusak kenangan Reina tentang ibunya sendiri.

“Papa? Kenapa Papa diam saja?”

Sho menarik tubuh kecil Reina sehingga seluruh tubuhnya terbungkus oleh tubuh Sho. Sho merengkuh erat Reina seolah ia tidak rela melepaskannya.

“Kalau Papa bilang Masaki adalah Papamu, apa Reina akan percaya?”

Reina diam. Ia memiringkan kepalanya dan memainkan matanya.

“Reina tidak tahu,” kata Reina bingung.

Sebentar lagi mungkin kamu akan tahu jawabannya, kata Sho dalam hati.

==========

Telepon rumah keluarga Ninomiya berdering saat Opi sedang membereskan rumahnya. Dengan cepat ia melempar alat cleaner nya dan berlari menuju telepon yang tak jauh dari ia berdiri.

“Moshi-moshi..”

“Kenapa ponselmu tidak diangkat?” gerutu Daiki kesal.

“Oh kau, Dai. Aku pikir siapa. Kenapa? Merindukanku? Atau kesepian karena Saifu sudah pindah ke Korea?” tanya Opi asal dan ia tidak peduli walaupun pertanyaannya akan membuat Daiki emosi.

Terdengar Daiki menarik napas lalu menghembuskan pelan-pelan. “Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu keluar. Ada waktu?”

“Ow…kau mengajakku kencan?” tanya Opi lagi. Tentu saja masih asal bicara dan hanya ingin menggoda Daiki.

Opi kembali mendengar Daiki menarik napas lagi. “Hanya jalan-jalan biasa. Bukankah kita selalu melakukannya dan itu tidak disebut kencan kan?”

“Kau benar. Aku pikir kau sudah mulai menyukaiku ahahahaha..” Opi tertawa puas karena sudah menggoda sahabatnya.

“Itu tidak lucu,” gerutu Daiki tidak terima Opi mempermainkannya. “Jadi mau apa tidak? Kalau tidak aku akan mencari orang lain untuk menemaniku hari ini,” ancam Daiki kesal.

“Oke… Aku tidak akan membiarkan kau memburu perempuan lagi. Tunggu sebentar,” jawab Opi sambil cekikikan.

“Memburu perempuan? Apa maksudmu?”

“Ahahahhaa…Ya sudah kau tunggu sebentar. Atau kau ke rumahku saja. Bagaimana?” tawar Opi. “Kau tenang saja. Tidak ada An-chan yang akan merecokimu.”

“Ya sudah. 20 menit lagi aku sampai rumahmu.”

Klik. Opi meletakkan telepon ke tempatnya kemudian kembali mengerjakan tugas rumah tangganya yang sempat terpotong karena telepon dari Daiki.

Tak berapa lama, telepon rumahnya kembali berdering.

“Pasti Daiki lagi,” tebak Opi. “Moshi-moshi?”

“Kenapa ponselmu tidak diangkat?”

Pertanyaan itu sama seperti yang ditanyakan oleh Daiki saat Opi menjawab panggilan teleponnya. Tapi ia sangat yakin sekali itu bukan suara Daiki. Ia sangat tahu orang yang memiliki suara ini. Suara yang sangat ia rindukan.

“An-chan?”

“Iya ini aku. Bagaimana kabarmu?” tanya Kazunari.

Opi diam. Perasaannya bercampur aduk. Lidahnya kelu. Ia sama sekali tidak dapat memberi reaksi apapun.

“Kenapa kau diam saja? Tidak merindukanku?”

“Rindu? Setelah menghilang dan hanya meninggalkan surat lalu telepon dan menanyakan kabar kemudian dengan santai bilang apa aku merindukan An-chan? Ini tidak lucu An-chan…” teriak Opi yang praktis akan membuat telinga Kazunari berdenging.

“Kenapa kau berteriak?” Kazunari bergerutu.

Opi lalu terisak. Perasaan kesepiannya kini sedikit terobati hanya dengan hanya mendengar suara Kazunari. Tapi sekarang parahnya ia menjadi ingin bertemu dengan kakaknya lalu memeluknya erat.

“Kau menangis?” gumam Kazunari.

Opi menghapus air mata yang mulai jatuh melewati pipinya dengan punggung tangannya. “An-chan dimana? Kapan An-chan pulang? Aku tidak suka ditinggal sendirian seperti ini. Aku ingin An-chan cepat kembali,” ucap Opi di sela-sela isakan tangisnya.

“Gomen ne.” hanya kata-kata itu saja yang diucapkan Kazunari.

“Kenapa meminta maaf?”

“Aku tidak akan pulang dalam waktu dekat ini. Aku belum menyembuhkan hatiku. Aku belum melupakan perasaanku yang menganggapmu lebih dari seorang adik untukku.”

Opi tidak berkomentar apapun. Ia tetap diam menahan tangis. Ia membekap mulut dengan tangannya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh Kazunari.

“Kau tidak usah cemas. Aku baik-baik saja di sini. Aku sangat baik-baik saja. Kehidupan yang berbeda memang menyenangkan,” lanjut Kazunari lalu tertawa pelan.

“An-chan tidak merindukanku?” Kini Opi yang bertanya pada Kazunari.

“Tentu saja aku merindukanmu,” jawab Kazunari yakin. “Aku sangat merindukanmu sampai-sampai aku ingin memelukmu sekarang.”

Opi merasakan sesuatu yang sakit di dadanya. Ia merasa sangat senang sekaligus sakit karena mendengar pengakuan Kazunari.

“Tapi aku tidak bisa memelukmu sekarang. Kau harus bersabar sampai aku benar-benar menganggapmu adik,” lanjut Kazunari.

Hanya diam yang bisa dilakukannya. Ia takut jika ia menyela, itu akan menghancurkan pertahanannya untuk menerima kepergian Kazunari.

“Sepertinya aku banyak bicara hari ini. Aku masih ada pekerjaan. Jaga kesehatanmu.”

Tidak ada balasan apapun sampai Kazunari menutup teleponnya. Opi jatuh terduduk. Teleponnya praktis terlepas dari genggamannya. Sementara ia membiarkan dirinya menangis tersedu-sedu.

Karena terlalu sibuknya Opi dengan perasaannya yang tidak menentu, kehadiran Daiki yang sudah ada di rumahnya sama sekali tidak ia sadari. Laki-laki itu kaget saat melihat sahabatnya sudah terduduk sambil menangis.

“Opi, apa yang terjadi?” tanya Daiki cemas.

“An-chan….” ucap Opi pelan sampai-sampai Daiki nyaris tidak mendengarnya.

“Kenapa dengan kakakmu?”

“Tadi An-chan telepon. Dan dia bilang dia tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini,” jelas Opi sedikit terbata-bata karena masih menangis. “Apa An-chan membenciku? Kenapa An-chan melakukan ini?”

Daiki merangkul bahu Opi. Tidak ada gunanya ia melakukan itu tapi ia berharap yang dia lakukan akan membuatnya sedikit tenang.

========

“Menelepon siapa?” tanya Din pada Kazunari yang menyerahkan ponselnya pada Din.

“Opi…” jawab Kazunari sigkat.

Setelah beberapa hari bersama Kazunari, Din sedikit banyak tahu akan masalah yang dihadapi sahabat Aiba itu hingga ia melarikan diri ke tempat ini.

“Kenapa kau membuang ponselmu?” tanya Din lagi lalu membuka topi yang ia kenakan.

“Karena aku tak mau dihubungi siapapun…termasuk Opi… tapi… aku merindukannya..” gumam Kazunari sambil tersenyum ke arah Din.

“Hmmm…” Din menatap ponselnya sekilas, tak ada satupun telepon atau mail dari Aiba, walaupun memang dia yang melarang Aiba menghubunginya, tapi bohong besar jika ia tak merindukan pria itu.

“Masaki tahu kau disini?” tanya Kazunari, membuyarkan lamunan Din.

Din mengangguk, “Bodoh jika ia tak tahu…ini adalah tempat aku bertemu dengannya…hahaha..”

“Hahaha…iya..aku ingat hampir lima tahun lalu bocah itu melarikan diri, karena suatu masalah… ia kesini dan bertemu denganmu kan? Sepertinya aku sudah sering sekali mendengar cerita itu dari mulut Masaki…” kata Kazunari.

Din dan Kazunari lalu bergerak mengambil minum, masih sambil mengobrol.

“Dan sepertinya aku sudah tahu masalahnya apa..hahaha..” Din tersenyum pahit.

Kazunari tak mau menanggapi. Beberapa hari ini gadis itu menangis dan bercerita semua hal padanya. Ia tahu soal Aiba dan Yui yang putus, tapi mereka punya anak? Aiba tak pernah menceritakannya. Lebih mengejutkan buatnya, anak mereka adalah murid di TK miliknya.

“Ne… Kazu-Niichan..” Din tak menjawab, malah memanggil Kazunari.

“Hmm?”

“Bagaimana aku menghadapi Masaki-kun setelah ini? Ia bersama Reina-chan…lalu aku bagaimana?” Din menatap kaleng bir yang ia pegang dengan tatapan kosong.

Kazunari menoleh menatap Din, “Kau inginnya seperti apa?”

“Kenapa Niichan malah balik bertanya?” seru Din kesal.

“Aku menjawab pertanyaanmu…pada intinya semua ini adalah pilihanmu… baik kau bersama Masaki, ataupun dengan Jun….pada akhirnya kau harus memilih kan?” Kazunari mengacak pelan rambut Din yang kini dipotong pendek sebahu, “dan jika kau ingin bersama Masaki, hadapilah kenyataan kau harus berbagi juga dengan Reina-chan….bagaimanapun juga dia anak Masaki kan?”

Din tak menjawab, menunduk memandang pasir yang berterbangan di kakinya, ia tahu jawaban Kazunari pasti begitu, tapi ia masih sangat bingung akan semuanya.

“Jangan memaksakan diri…aku juga sedang dalam proses melupakan perasaanku… kau harus berdamai dengan dirimu sebelum memutuskan semuanya…” lanjut Kazunari.

“Lalu Kazu-niichan punya pilihan apa saja?” tanya Din, setelahnya meneguk bir yang ia pegang sejak tadi.

Kazunari terkekeh pelan, “Tidak punya pilihan selain melupakan perasaanku pada Opi…”

Din menatap Kazunari lama, keduanya lalu larut dalam pikiran masing – masing.

“Butuh berapa lama ya, hingga kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri?” tanya Din tiba – tiba.

“Walaupun harus bertahun – tahun, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak kembali ke hadapan Opi sebelum aku berdamai dengan perasaanku..” jawab Kazunari.

“Sou ne…”

“Kore kara mo…yoroshiku ne Dinchan…setidaknya kau bisa jadi adikku sekarang..hahaha..”

“Hahahaha….”

Mereka tak tahu untuk berapa lama mereka bisa berdamai dengan perasaan mereka, tapi untuk saat ini mereka menjalani kehidupan yang ada di hadapan mereka, mencoba belajar menjadi lebih dewasa agar saat kembali nanti, semuanya sudah terobati dan tak lagi ada yang melukai satu sama lain.

============

Sho merasa ini penampilannya yang terburuk. Sudah beberapa kali ia terlihat melamun saat membawakan berita dan mengharuskannya berkomentar. Beruntung dia masih dengan lancar berbicara saat rekan kerjanya memintanya berpendapat suatu berita. Tapi tetap saja ini membuatnya kecewa.

Jika ia sudah seperti ini, kebiasaan barunya adalah langsung menekan angka 4 di ponselnya dan tak berapa lama ada suara yang akan menjawab panggilannya di seberang sana.

“Moshi-moshi?”

“Sudah tidur?” tanya Sho tanpa basa-basi.

“Belum. Aku masih mengerjakan tugasku. Oh ya, Reina sudah tidur sejak tadi. Kau tidak perlu khawatir,” oceh seorang perempuan dengan semangat.

“Aku tidak menanyakan itu, Opi. Aku hanya ingin mendengar suaramu.”

Tidak ada jawaban. Tapi sesaat kemudian hanya terdengar suara “Eh?”

“Kenapa? Apa tidak boleh?” tanya Sho.

“Tentu saja boleh. Tapi kau aneh sekali. Ada apa?” tanya gadis yang bernama Opi itu.

“Daijoubu…sebentar lagi aku pulang. Aku akan menjemput Reina sebentar lagi,” ucap Sho memutuskan untuk tidak menceritakan masalahnya.

“Baiklah…”

Sho lalu menutup flip ponselnya sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Mengingat yang terjadi beberapa hari yang lalu.

-flashback-

“Aku mohon Sho. Aku ingin bertemu dengan Reina,” pinta Aiba saat mereka sudah berada di cafe dekat gedung tempat Sho bekerja. Aiba sengaja mendatangi Sho hingga ke tempat ia bekerja hanya untuk bertemu dengan anaknya yaitu Reina.

“Percuma saja kau memohon. Aku tidak akan membiarkan Reina bertemu denganmu,” balas Sho acuh.

Aiba mendesah. “Sho, aku ayahnya. Aku berhak bertemu dengannya.”

Mendengar kata-kata Aiba, Sho lalu mencengkram baju pria yang lebih tinggi darinya itu.

“Kau bilang hak? Apa aku berhak memberikan izin pada orang yang sudah menghancurkan hidup Yui? Jangan bercanda,” Sho tertawa menyindir.

Aiba yang tidak mau kalah lalu menggenggam kepalan tangan Sho yang berada di kerah bajunya. “Sudah aku bilang aku tidak tahu apa-apa soal itu. Kalau aku tahu, aku akan…..”

“Apa?” potong Sho berteriak di hadapan wajah Aiba. “Kalau kau tahu pun kau akan tetap menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya kan?” teriak Sho penuh amarah. Karena pertengkaran Sho dan Aiba, beberapa pengunjung cafe menonton mereka. Sho lalu melepaskan cengkramannya dan kembali duduk diikuti oleh Aiba yang melakukan hal yang sama.

“Aku tidak akan pernah menyerahkan Reina padamu,” tambah Sho bersikeras.

Aiba diam. Ia berusaha memikirkan cara lain agar hati Sho luluh dan mengijinkannya untuk bertemu dengan anaknya.

“Saat itu sebenarnya aku senang mendengar Yui mengandung anakku. Tidak ada yang paling membahagiakan saat orang yang kau cintai mengandung anakmu,” ucap Aiba mulai bercerita.

“Tapi aku belum bisa menghasilkan apa-apa, aku takut tidak dapat membahagiakan mereka.”

“Dan kau memilih untuk menyuruh Yui untuk menggugurkannya,” tambah Sho masih bernada ketus.

Aiba tertunduk dalam. Lalu Sho mendengar suara isakan. Aiba menangis.

“Aku menyesal sudah mengatakannya. Dan saat aku mendengar Yui meninggal karena mempertahankan anakku, aku sangat bersalah. Seandainya aku tidak pernah mengatakan untuk menggugurkannya, pasti Yui tidak akan menanggung beban seberat ini sendirian dan dia akan tetap bersamaku,” kata Aiba di sela-sela isak tangisnya.

Sho berpikir itu bukan sepenuhnya salah Aiba. Tubuh Yui memang sangat lemah sejak kecil. Walaupun hingga saat Yui melahirkan Aiba masih bersamanya, kemungkinan Yui meninggal masih tetap besar.

“Aku mohon Sho. Aku ingin membahagiakan Reina walaupun hanya sebentar.”

Sho tidak menjawab. Ia tetap diam menimang keputusan yang harus ia berikan untuk Aiba.

-flasback end-

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Sho berada di rumah Opi. Ia merasa lega karena sekarang Reina tidak perlu sendirian menunggunya untuk menjemput di TK atau di rumah. Opi sangat menyayangi Reina dan Reina sepertinya sangat menyukai Opi. Mengetahui kenyataan itu, Sho tentu sangat senang.

“Capek?” tanya Opi sambil membantu Sho untuk melepaskan jaketnya.

“Seperti biasa,” balas Sho sambil tersenyum. “Tadi aku tidak bisa berkonsentrasi. Itu membuatku pusing.”

“Kenapa?”

Sho lalu menceritakan apa yang terjadi kemarin bersama Aiba. Opi mendengarkan dengan seksama.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Opi begitu Sho menyelesaikan ceritanya.

“Aku tidak tahu.”

Opi menepuk bahu Sho pelan. “Tidak ada salahnya kalau mereka bersama kan. Mungkin hanya sekedar jalan-jalan atau bermain. Aku rasa Aiba-san berhak bertemu dengan Reina.”

“Tapi…”

“Jangan keras kepala, Sho-kun. Aku merasakan penderitaan Aiba-san. Dia tidak tahu kalau Yui melahirkan anaknya. Ini bukan sepenuhnya salah Aiba-san,” sela Opi.

Sho tahu itu. Ia sudah mengetahuinya. Tapi entah kenapa ia selalu menyangkal kenyataan itu.

“Beri Aiba-san kesempatan. Ini juga saat yang tepat untuk Reina mengenal ayahnya.”

Sho tidak menyela kata-kata Opi lagi. Gantinya ia menarik tubuh gadis yang berada di sampingnya itu. Sho memeluknya seolah meminta tenaga karena pikirannya yang berat hari ini.

“Sho-kun….” gumam Opi. Wajahnya sudah bersemu merah karena kaget dengan tindakan Sho yang tiba-tiba.

“Kau diam saja,” tegur Sho.

Opi lalu diam karena jantungnya berdetak sangat cepat dan nafasnya tercekat. Sho memang sering memeluknya tapi ia merasa pelukan Sho malam ini terasa berbeda.

Opi mendorong pelan bahu Sho agar laki-laki itu melepaskannya. “Sudah. Masih banyak yang harus kukerjakan. Kecuali kau mau mengerjakan semua tugasku,” ucapnya masih dengan pipi yang terlihat merah karena malu.

“Kalau aku mengerjakan semua tugasmu, kau akan memberiku apa?”

Opi menatap Sho sambil berpikir. “Makan malam istimewa buatanku. Bagaimana?”

Sho mengerucutkan bibirnya. “Tidak menarik.”

Opi mendorong tangan Sho dengan kesal. “Kau pikir masakanku tidak enak? Lagipula kenapa aku harus membuat penawaran? Memangnya kau akan mengerjakan tugasku?”

Sho tersenyum kecil lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Opi. Wajah memerah Opi yang sempat mereda kemudian memerah kembali.

“Kau mau apa?” tanya Opi gugup.

“Aku serius. Aku akan mengerjakan semua tugasmu.” Sho kemudian menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu dengan pelan. Opi terbelalak karena mendapatkan ciuman yang tiba-tiba. Tapi itu tidak berlangsung lama karena ia langsung membalasnya.

Sho terus menciuminya sehingga gadis itu merasa tubuhnya terdesak dan tanpa sadar ia sudah terbaring di sofa dengan Sho berada di atasnya.

“Kalau kau berbohong, aku akan memukulmu,” ucap Opi dengan suara terengah saat Sho melepaskan bibirnya sebentar karena kemudian Sho kembali mencium bibir bahkan sekarang ke lehernya.

Opi merasa ini sudah terlalu jauh. Ia takut. Tapi ia tidak bisa berhenti seolah tubuhnya menginginkannya.

Di saat mereka sibuk dengan yang mereka lakukan, tiba-tiba terdengar suara Reina. Praktis Opi mendorong tubuh Sho yang berada di atasnya lalu terduduk sambil merapikan rambut dan kaosnya yang berantakan. Sedangkan Sho ikut duduk dengan gugup seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri.

“Opi-chan, Reina haus, “ kata Reina sambil mengucek-ucek  matanya.

“Kau haus, sayang?” Sho kemudian menghampiri gadis kecil itu lalu menggendongnya. Sebelumnya ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena gugup.

“Papa sudah pulang?” tanya Reina yang baru saja menyadari kalau yang menggendongnya adalah papanya dengan suara parau karena baru saja bangun tidur.

Sho lalu membawa Reina ke dapur untuk mengambil segelas air, sedangkan Opi hanya tertawa pelan melihat kekasihnya salah tingkah di depan Reina.

“Kita pulang sekarang?” tanya Sho pada Reina yang sedang meneguk airnya dan dibalas anggukan dari gadis kecil itu.

Tapi bukannya bersiap akan pulang, Reina malah berjalan ke arah sofa lalu berbaring dan tidur kembali membuat Opi tertawa terbahak –tentu saja dengan suara kecil-.

“Sudahlah. Kalian menginap saja di sini,” ucap Opi pada Sho. “Lagipula kita masih harus melakukan sesuatu.”

Sho menatap Opi tidak percaya. “Maksudmu melanjutkan yang tadi?”

Opi meninju tangan Sho keras dengan kesal lalu menunjuk kertas-kertas yang berserakan di meja. “Dasar genit. Tadi kan kau yang bilang akan membantuku mengerjakan tugas-tugasku. Atau kau lupa yang baru saja kau katakan?” Opi mendelik dengan mata mengancam.

Sho menyengir. “Tentu saja aku tidak lupa. Ayo kita kerjakan.”

Dan malam itu mereka menghabiskan malam dengan mengerjakan tugas dan Reina yang tertidur di sofa dengan nyenyaknya.

Keesokan harinya, Sho memutuskan untuk mengijinkan Aiba bertemu dengan Reina. Aiba yang baru saja dihubungi oleh Sho tentu saja senang. Reina juga tidak keberatan saat Sho memberitahunya jika ia diajak pergi oleh Aiba.

“Kau yakin sudah melakukan hal yang terbaik?” tanya Opi saat mereka berada di mobil dan hanya menatap kepergian Aiba yang menggandeng tangan kecil Reina.

Sho mengangguk sambil menatap gadis di sampingnya. “Aku sudah memikirkannya semalaman. Dan yang kau katakan itu benar. Aku seperti orang jahat jika terus menerus membiarkan mereka tidak saling bertemu,” kata Sho.

Opi tersenyum. “Aku senang kau menyadarinya.” Ia lalu mencium pipi Sho lembut. “Itu hadiah untukmu.”

Sho terbelalak dan menatap Opi bingung. Tapi tentu saja dalam hatinya ia senang sekali.

“Kalau begitu bagaimana kalau hari ini kita kencan?” tawar Sho.

“Ayo…aku ingin ke pantai yang waktu itu,” seru Opi bersemangat.

“Baiklah. Sesuai dengan permintaanmu,” balas Sho sambil tersenyum lalu menjalankan mobilnya ke salah satu tempat bersejarah untuk mereka berdua.

==========

Aiba gugup memikirkan kenyataan bahwa putrinya yang selama ini tak bisa ia temui kini ada di jalan, menuju ke arahnya, menuju ke pelukannya. Ia tak bisa tidur semalaman memikirkan hal tersebut.

Ia tak tahu apa Reina akan mengenalinya? Atau hanya menganggapnya sebagai “Paman Masaki” yang selama ini adalah teman Papanya, Sakurai Sho. Apapun itu ia tak peduli, ia hanya peduli bahwa Reina bisa datang dan bertemu dirinya.

Terlebih sekarang ia ingin sekali membagi kebahagiannya dengan Din, tapi gadis itu menghilang, bahkan mengatakan Aiba tak boleh menemuinya sebelum Din yang mendatanginya.

Ia tahu kemana Din pergi, terlalu bodoh untuk tidak menyadarinya. Hanya ada satu tempat, tempat dimana mereka bertemu dan saling jatuh cinta. Aiba mengedarkan pandangan di sekeliling mansionnya. Terlalu sepi, ia tak terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Aiba melangkah menuju rak buku, tangannya mencari – cari sebuah buku dengan judul “Kamera”. Ia mengambil buku itu, perlahan membuka lembarannya satu persatu. Jarinya berhenti di sebuah halaman yang menyimpan beberapa foto, bukan fotonya dengan Din, tapi dengan Yui.

Beberapa tahun ini ia menyembunyikannya, sebagian besar barang milik Yui ia berikan pada Ibunya. Karena ia tak yakin bisa melupakan Yui jika barang – barang milik Yui masih berada di sekitarnya.

Tapi fotonya dengan Yui masih ia simpan, walaupun sudah hampir lima taun ini tidak ia lihat sama sekali.

“Arigatou… Yui…” bisik Aiba lirih ketika melihat fotonya bersama wanita itu.

Tak lama bel mansionnya berbunyi. Ia segera membuka pintu, dan mendapati Sho berdiri di depan pintu, bersama Reina.

Aiba menelan ludah, menarik nafas karena merasa gugup.

“Yo!” sapa Sho yang wajahnya terlihat ikut gugup.

“Reina-chan…” sapa Aiba pada Reina.

“Ohayou!!” sapa Reina ceria.

Setelah itu Sho meninggalkan Aiba dengan Reina berdua saja. Ia benar – benar gugup, tapi Reina ternyata gadis kecil yang cukup cerewet. Ia terus mengoceh soal hidupnya pada Aiba.

“Masaki-jiichan…tahu tidak… kemarin Reina dapat bintang dari sensei karena Reina sudah bisa membaca…” kata Reina bercerita di sebelah Aiba yang menatap Reina.

“Benarkah…Reina-chan pintar ya…” puji Aiba.

Reina mengangguk – angguk bersemangat, “Papa bilang Reina pasti pintar seperti Mama!!” seru gadis kecil itu lagi.

‘Papa’

Sungguh Aiba ingin sapaan itu ditujukan untuknya, bukan untuk Sho.

“Reina-chan mau minum susu? Paman ambilkan ya…” kata Aiba mengalihkan pembicaraan.

Reina mengangguk.

Aiba ke dapur untuk mengambil susu dan biskuit untuk anak perempuannya itu. Ketika kembali, Reina telah menggenggam fotonya bersama Yui.

“Eh…Reina-chan…itu…” Aiba menghampiri Reina dan menyimpan susu serta biskuit yang tadi diambilnya di meja makan.

“Paman Masaki itu…Ayah Reina ya?” tanya Reina, matanya membulat memandang Aiba.

“Ehmm…” Aiba bingung apa yang harus dikatakannya sekarang.

Reina menyerakan fotonya bersama Yui, “Iya kan?”

Aiba tak menjawab lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, “Maafkan aku…” bisik Aiba.

==========

Sebuah mobil berhenti di depan sebuah perkebunan. Pengemudi mobil itu turun dan membuka kaca mata hitamnya, mengedarkan pandangan sekilas ke seluruh area perkebunan itu.

Setelah beberapa lama, akhirnya sosok yang dicarinya ketemu, ia pun melambaikan tangannya dengan bersemangat.

“Dinchaaann!!” panggil pria itu.

Din menoleh, dan kaget melihat siapa yang datang, “Jun? ngapain kau kesini?!” seru Din menghampiri pria itu.

“Yo!”

“Yo~ jyanai yo…”

Jun hanya nyengir menanggapi Din.

“Dari mana kau tahu aku ada disini?” tanya Din ketika mereka sudah duduk di dekat perkebunan itu.

Jun tersenyum, “Koneksiku banyak tahu…”

“Tapi aku sudah bilang jangan mencari aku,” lanjut Din menambahkan.

“Aku hanya ingin memastikan kau baik – baik saja…” jawab Jun tak mau kalah.

Din menghela nafas, “Kau selalu saja keras kepala…”

Jun menatap Din, “Kau butuh waktu berapa lama hingga kau bisa menentukkan pilihan?” tanya pria itu serius.

Din menggeleng, “Tak tahu Jun-kun…aku tak berniat untuk terburu – buru… lagipula banyak yang harus aku selesaikan dengan hatiku..” jelas Din lagi.

“Hmmm…”

“Jadi lebih baik aku tak bertemu denganmu…ataupun Masaki-kun..kumohon kau mengerti Jun..”

“Aku mengerti…makanya aku datang kemari…aku sebenarnya mau pamit..” kata Jun tiba – tiba.

“Pamit? Maksudmu?” Din mengerenyitkan dahinya bingung.

“Aku akan ke LA bulan depan…”

“LA? Eeehh?? Kenapa?” tanya Din sambil menoleh menatap Jun.

“Aku mau belajar banyak hal disana…sebenarnya, aku berencana kabur saja…tapi, ternyata aku ingin pamit dulu denganmu..” ucap Jun.

“Souka… jaga baik – baik dirimu Jun…”

“Aku masih akan bulak – balik hingga kerjaanku di Jepang beres, tapi setelahnya mungkin aku juga harus melarikan diri sejenak…” Jun meraih tangan Din, menggenggamnya erat.

“Jun-kun…”

“Setelah semuanya beres, mungkin kita akan bertemu lagi… jikapun tidak, aku tak pernah menyesal jatuh cinta padamu…” kata Jun memandang Din dengan tatapan tanpa kebohongan.

“Arigatou…Jun…” hanya kata itu yang terfikirkan olehnya saat itu.

Semuanya tentang Jun adalah sesuatu yang menurut Din juga berharga. Ia juga menyukai Jun, walaupun tak pernah ia akui hal tersebut.

“Aku harap kita bertemu lagi…” tambah Din lirih.

========
masih TBC yaaaaa~ XP

COMMENTS are LOVE…please leave some comments after you read it.. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Happiness (Chapter 12)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s